TUGAS INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING MODEL STAKE

dokumen-dokumen yang mirip
A. Konsep Dasar. B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

A. Identitas : Nissa (Nama Samaran)

Psikologi Konseling Konseling Berbasis Problem

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

BAB II PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE THERAPY DALAM KELUARGA

PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI KONSELING

BAB IV ANALISIS DATA. yang diperoleh dari penyajian data adalah sebagai berikut:

BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY DALAM MENGATASI KESENJANGAN KOMUNIKASI SEORANG ADIK TERHADAP

BAB I PENDAHULUAN. untuk mempunyai karakter yang baik sesuai dengan harapan pemerintah. Salah

BAB I PENDAHULUAN. mengindikasikan gangguan yang disebut dengan enuresis (Nevid, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan bagian penting dalam pembangunan. Proses

The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem. Do you understand?

BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.

BAB IV BKI DENGAN TERAPI RASIONAL EMOTIF ANAK YANG TIDAK MENERIMA AYAH TIRINYA

Jounal Bimbingan Konseling, Volume 1 Nomer , pp Januari

TERAPI RASIONAL EMOTIF Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)

BAB IV ANALISIS DATA 1. Analisis Proses Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dengan

PEDOMAN PRAKTIKUM KONSELING

BAB I PENDAHULUAN. yang mana anggapan salah mengenai khalayak menjadi hantu yang menakutkan

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Pelaksanaan Intervensi Konseling (Data Pelaksanaan Penelitian)

PENGGUNAAN KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY (REBT)

PENGARUH RATIONAL-EMOTIVE BEHAVIORAL THERAPY TERHADAP PENINGKATAN STRATEGI COPING MENGATASI KECEMASAN MENGHADAPI PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. yang tak kunjung mampu dipecahkan sehingga mengganggu aktivitas.

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Rational Emotive Behaviour Therapy. dan Psikoterapi terapi rasional emotif behaviour adalah pemecahan masalah

BAB III METODE PENELITIAN. program intervensi konseling REBT dengan pendekatan naratif untuk

BAB I PENDAHULUAN. lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit

BAB II LANDASAN TEORI. Unconditional Self-Acceptance (USA). USA yang timbul dari penilaian individu

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING MERENCANAKAN TARGET. A. Topik : Merencanakan target ke depan. C. Jenis Layanan : Layanan Informasi

Rational-Emotive Therapy. Albert Ellis. ALBERT ELLIS (lahir 1913) lahir di Pittsburgh tetapi melarikan diri ke

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan

PENTINGNYA KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) UNTUK MENGENTASKAN KECEMASAN SISWA MENGHADAPI UJIAN

BAB I PENDAHULUAN. Tatang, Ilmu Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm.13. Ibid., hlm.15.

Reality Therapy. William Glasser

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan

Duduk saling membelakangi, salah seorang berperan sebagai konseli berbicara dan konselor mendengarkan dengan perhatian Duduk berhadapan.

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK

A. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya siswa, tujuan, dan. antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.

I. PENDAHULUAN. yang terjadi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

BAB IV ANALISIS DATA. data-data yang sudah diperoleh dan dijelaskan pada bab-bab sebelumnya. Analisis

KETERAMPILAN KONSELING. Rosita E.K.

PENYELENGGARAAN LAYANAN KONSELING PERORANGAN DENGAN PENDEKATAN KONSELING RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR

BAB IV ANALISIS DATA. Analisis dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) didalam Menangani

BAB I PENDAHULUAN. karena kesulitan belajar yang dialami peserta didik di sekolah akan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN DAN DATA

Penerapan Teknik Dispute Cognitive dalam REBT untuk Meningkatkan Resiliensi pada Mahasiswa

TINJAUAN PUSTAKA. yang spesifik dari takut yang muncul di situasi tertentu, tidak bisa dijelaskan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perasaan kurang percaya diri banyak terjadi pada remaja. Pada masa

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana

Small Groups in Counseling and Therapy. Sigit Sanyata 07 Juni 2009

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Tentang Proses Konseling Keluarga Dalam Mengatasi Perilaku

KONSELING. Oleh: Muna Erawati

BAB IV ANALISIS BIMBINGAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI KECEMASAN SEORANG AYAH

Jurnal Bimbingan Konseling

BAB IV ANALISIS TERAPI RASIONAL EMOTIF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KONFRONTASI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK KORBAN BULLYING

BAB II LANDASAN TEORI

TUGAS INDIVIDU PENGEMBANGAN INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING (KUESIONER BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR)

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Tentang Terapi Rasional Emotif Behavior. 1. Pengertian Terapi Rasional Emotif Behavior

TUGAS INDIVIDU PENGEMBANGAN SKALA PSIKOLOGIS DALAM BIDANG PRIBADI-SOSIAL

BAB II LANDASAN TEORI. merupakan hak setiap individu untuk menentukan sikap, pemikiran dan emosi

BAB I PENDAHULUAN. dan menjadi perilaku yang tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena

Oleh: Guru Besar Universita Riau

BAB I PENDAHULUAN. mental sehingga menghasilkan perubahan-perubahan dalam bersikap (Ihsan,

Konsep Diri Rendah di SMP Khadijah Surabaya. baik di sekolah. Konseli mempunyai kebiasaan mengompol sejak kecil sampai

Upaya Mengurangi Kecemasan Menghadapi Ujian Melalui Konseling Rasional Emotif Teknik Relaksasi Pada Siswa

KONSELING RASIONAL EMOTIF PERILAKU: SEBUAH TINJAUAN FILOSOFIS

Pengertian Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh individu, khususnya profesi (konselor, guru, relawan, rohaniawan) dalam membantu & mendampingi klien

LAYANAN KONSELING KELOMPOK

DRAFT PEDOMAN MIKRO KONSELING (2 SKS) DAN PRAKTIKUM KONSELING(4 SKS) SEMESTER GENAP 2012/2013

(Skripsi) Oleh SISKA WIYASA OKTORA

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, sehingga setiap

PROSES DAN TEKNIK-TEKNIK KONSELING

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan yang ada dikalangan remaja yang berada pada lingkungan sekolah

BAB I PENDAHULUAN. awal, dimana memiliki tuntutan yang berbeda. Pada masa dewasa awal lebih

STRATEGI GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM PENGEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK DI SMP AL ISLAM KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB II LANDASAN TEORI. merupakan zat psikoaktif yang bersifat adiksi atau adiktif. Zat psikoaktif adalah

BAB I PENDAHULUAN. keputusan dapat diambil sesuai kebutuhan yang diharapkan. keputusan, yaitu keputusan untuk tidak melakukan apa-apa.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keterampilan dalam berkomunikasi itu sangat penting untuk kehidupan kita

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

BAB I PENDAHULUAN. akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peran

PENERAPAN KONSELING RASIONAL EMOTIF DENGAN FORMULA ABC UNTUK MENINGKATKAN PERCAYA DIRI SISWAKELAS VIII 2 SMP LABORATORIUM UNDIKSHA2013/2014

Transkripsi:

TUGAS INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING MODEL STAKE Mata Kuliah Pengembangan Instrumen dan MediaBimbingan dan Konseling Dosen Pengampu Prof.Edi Purwanta, M.Pd & Dr.Ali Muhtadi Oleh: Liza Lestari (16713251041) PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2017

A. Pengertian Konseling REBT Menurut Winkel & Hastuti (2004:42), ng REBT atau yang lebih dikenal dengan rational emotive behaviour therapy adalah ng yang menekankan interaksi berfikir dan akal sehat (rational thingking), perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Teori ini menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. B. Konsep Teori Kepribadian dalam Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) Menurut Ellis (dalam Corey, 2005:242) untuk memahami dinamika kepribadian dalam pandangan terapi rational emotive behaviour perlu memahami konsep-konsep dasar, berikut ini: Ada tiga hal yang terkait dengan perilaku, yaitu 1. antecedent event (A), belief (B), dan emotional consequence (C) yang kemudian dikenal dengan rumus A-B- C, sebagai berikut: a. Antecedent event (A) merupakan keberadaan suatu fakta, suatu peristiwa, tingkah laku atau sikap seseorang. Seperti perceraian, kelulusan bagi siswa, dan ujian skripsi juga dapat menjadi antecedent event bagi seseorang. 2. b. Belief (B) merupakan keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam yaitu keyakinan yang irrasional (rational belief atau rb) dan keyakinan yang tidak rasional (irrational belief atau ib). 3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecedent event (A). 16 Kalau digambaran hubungan antara peristiwa, sistem keyakinan dan reaksi, Kerangka A-B-C Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional Consequence (C) A Fakta B Kepercayaan C Konsekuensi Kerangka A-B-C menduduki posisi sentral dalam teori dan praktek REBT. A adalah keberadaan fakta, suatu peristiwa atau perilaku atau sikap seseorang individu. C adalah konsekuensi emosi dan perilaku ataupun reaksi individu, reaksi itu bisa cocok dan bisa juga tidak. A (peristiwa yang sedang berjalan)

tidak menjadi penyebab C (konsekuensi emosi). Melainkan B, yaitu keyakinan si pribadi A, banyak menjadi penyebab C, reaksi emosi. Misalnya apabila seseorang mengalami depresi setelah bercerai dengan suami/istrinya mungkin bukan perceraian itu sendiri yang yang menjadi penyebab reaksi dalam bentuk depresi itu, tetapi keyakinan si individu bahwa ia gagal, merasa ditolak atau kehilangan pasangannya. Dengan menunjukan kepada seseorang cara ia bisa mengubah keyakinan irasional yang secara langsung menjadi penyebab terjadinya konsekuensi terganggunya emosii merupakan inti dari teori rasional emotive. Reaksi emosi yang terganggu seperti depresi dan kecemasan dimulai dan dilanggengkan oleh sistem keyakinan menggagalkan diri sendiri yang didasarkan pada ide irasional yang telah ditemukan serta dikembangkan sendiri. Setelah A-B-C maka muncullah D, yang meragukan atau membantah. Pada esensi D merupakan aplikasi dari metode ilmiah untuk menolong menentang keyakinan irasional mereka. Kemudian lanjut ke E dan juga F. D mengalihkan pikiran irasional E setelah peristiwa terjadi kita tahu apa yang baik untuk kita F new felling (tahu mana yang benar dan salah) G goals (tujuan tercapai). 1. Tujuan terapeutik. Tujuan umum mengajarkan bagaimana mengevaluasi perilaku dari diri, bagaimana menerima diri, dari ketidak sempurnaan diri. Tugas konselor adalah untuk membantu membedakan antara tujuan yang realistis dan tidak realistis dan juga merugikan diri sendiri. Konselor membantu koseli agar dapat meningkatkan tujuan diri. Konselor membantu meminimalisir gangguan emosi dan perilaku Tujuan dasar adalah untuk memberikan cara mengubah emosi dan perilaku menjadi lebih sehat. 2. Hubungan terapeutik. Untuk bisa mencapai sasaran yang telah disebutkan diatas, konselor memiliki tugas khusus. Langkah pertama adalah menunjukkan kepada bahwa mereka telah menggunakan banyak hal-hal seharusnya, harus yang irasional. Konseli belajar untuk memisahkan keyakinan mereka yang irasional dan yang rasional.

Langkah kedua dalam proses ng adalah membawa melampuai tahap kesadaran. Ditunjukkan disini bahwa mereka membiarkan gangguan emosiaonal mereka tetap aktif dengan terus berfikir tidak logis dan dengan mengulang-ngulang makna serta falsafah menggagalkan diri sendiri. Untuk bisa melampaui kenyataan sekedar mengakui pikiran dan perasaan yang irasional dari si maka konselor mengambil langkah selanjutnya. Langkah ketiga adalah menolong memodifikasi pemikiran mereka dan meninggalkan ide yang irasional. Konselor REBT berasumsi bahwa keyakinan mereka tidak logis itu sudah sedemikian dalamnya tertanam hingga biasanya tidak mau mengubahnya sendiri. Oleh karena itu konselor membantu untuk bisa memahami lingkaran setan dari proses menyalahkan diri yang ada dalam diri. Langkah keempat atau langkah terakir diproses ng adalah dengan menantang untuk mengembangkan sebuah filosofi hidup rasional sehingga di masa mendatang mereka dapat menghindari menjadi korban dari keyakinan lain irasional (Corey 2013: 246). PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY Tabel Kisi Kisi Instrument Variabel Indikator Deskriptor Pernyataan Proses ng REBT Keterampilan konselor Attending Keterlibatan postur tubuh konselor terhadap Gerak tubuh secara tepat Empati Kontak mata konselor terhadap Lingkungan/ruangan yang nyaman Memahami pribadi sebaik dia memahami dirinya sendiri Turut merasakan apa yang dihayati oleh

Menunjukan ekspresi emosi yang tepat mengidentifikasi persaan-perasaan Bertanya Memahami apa yang dirasakan dan dialami yang diungkapkan melalui verbal Pengunaan pertanyaan terbuka Pengunaan pertanyaan tertutup Menggali permasalahan Mengali dengan bertanya lebih lanjut tentang ekspresi emosi Memberkan respon pertanyaan setelah menjawab pertanyaan Mendorong untuk menjawab pertanyaan konselor Konfrontasi Merangkum Genuine Konselor mendorong untuk memperjelas apa yang dirasakan, dipikirkan, dialami oleh Konselor mengkonfirmasi kembali mengenai perasaan yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan. Konselor menjelaskan kembali berbagai isi hati yang telah di ceritakan Konselor menanggapi penjelasan Mengekspresikan secara verbal perilaku genuine Memahami secara jujur perasaan-perasaan yang secara umum muncul dalam respon

Klarifikasi Konselor berkata dan bertingkah laku apa adanya kepada dalam mengungkapkan kejujuran/keaslian dirinya Konselor mendorong untuk memperjelas apa yang dirasakan, dipikirkan, dialami oleh Konselor mengkonfirmasi kembali mengenai perasaan yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan. Lembar Pengamatan (Instrumen Evaluasi Proses Konseling) Lembar Observasi Mikrong (Keterampilan Dasar Konseling) Nama Subjek Nama Observer Hari, Tanggal Observasi Petunjuk : : : : berikanlah tanda check ( ) pada kolom yang tersedia jika perilaku yang tercantum dalam kolom indikator perilaku, dimunculkan oleh subjek No Perilaku/Keterampilan (v) Kriteria Jumlah Skor Kriteria Jumlah Skor Attending A. Attending (v) (75%- 100%) Cukup (41%- 74%) Belum (0%-40%)

1. 2. 3. 4. 6. Keterlibatan postur tubuh konselor terhadap Gerak tubuh secara tepat Kontak mata konselor terhadap Lingkungan/lingkungan yang nyaman Menatap mata secara lembut 7. Menjaga lingkungan dengan tdak menghadirkan hal-hal/ barang yang mengganggu 8. Menganggukan kepala secara luwes B. Empati 1. 2. Memahami pribadi sebaik dia memahami dirinya sendiri Turut merasakan apa yang dihayati oleh (v) Kriteria Jumlah Skor Empati (75%- 100%) Cukup (41%- 74%) Belum (0%-40%) 3. 4. Menunjukan ekspresi emosi yang tepat mengidentifikasi persaanperasaan Memahami apa yang dirasakan 5. dan dialami yang diungkapkan melalui verbal C. Bertanya Kriteria Jumlah Skor Bertanya Cukup Belum

1. Pengunaan pertanyaan terbuka (v) (75%- 100%) (41%- 74%) (0%-40%) 2. Pengunaan pertanyaan tertutup 3. Menggali permasalahan 4. Mengali dengan bertanya lebih lanjut tentang ekspresi emosi Memberkan respon pertanyaan 5. setelah menjawab pertanyaan 6. Mendorong untuk menjawab pertanyaan konselor E. Perilaku Genuine (v) Kriteria Jumlah Skor Genuine (75%- 100%) Cukup (41%- 74%) Belum (0%-40%) 1 Ketidak jujuran atau menutupnutupi berbagai perasaan yang berkecamuk dalam diri konselor harus dihilangkan. 2 3 4 Mengekspresikan secara verbal perilaku genuine Memahami secara jujur perasaan-perasaan yang secara umum muncul dalam respon Konselor berkata dan bertingkah laku apa adanya kepada dalam mengungkapkan kejujuran/keaslian dirinya F. Klarifikasi Kriteria Jumlah Skor Klarifikasi

(v) (75%- 100%) Cukup (41%- 74%) Belum (0%-40%) Konselor mendorong 1 untuk memperjelas apa yang dirasakan, dipikirkan, dialami oleh Konselor mengkonfirmasi 2 kembali mengenai perasaan yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Mengemukakan kembali dua 3 pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan. G Merangkum (v) Kriteria Jumlah Skor Bertanya (75%- 100%) Cukup (41%- 74%) Belum (0%-40%) Konselor menjelaskan kembali 1 berbagai isi hati yang telah di ceritakan 2 Konselor menanggapi penjelasan

Evaluasi Menurut Stake Tahap Dekripsi Judgement Antecendent Transaksi 1. Tujuan (merupakan tujuan/sasaran dan efek-efek yang diinginkan) 2. Mengumpulkan data tentang aktivitas dan kejadian selama tahap ini; mendiskripsikan kondisi yang ada 1. Tujuan (melaksanaan program) 2. Observasi (perilaku nyata sehari-hari dari peserta, pelaksana termasuk penggunaan media, tes, dst) Outcomes 1. Tujuan (hasil-hasil apakah yang dirumuskan atau diramalkan) 2. Observasi mengumpulkan data pencapaian tujuan) 1. Standar kreteria yang antecedent (persiapan) digunakan sebagai dasar perbandingan) 2. Judgment (proses membandingkan tujuan, observasi dan standar) 1. Standar kriteria yang digunakan sebagai dasar perbandingan) 2. Judgment (proses membandingkan tujuan, observasi dan standar) 1. Standar kriteria yang digunakan sebagai dasar perbandingan) 2. Judgment (proses membandingkan tujuan, observasi dan standar) A. ATENCEDEN No Aspek Indikator Pernyataan 1 Karakter Kepribadian suka rela Dalam proses ng. Konseli harus ini siatif untuk datang sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain. Dapat menyesuaikan diri dengan konselor. Mudah terbuka. Mengikuti proses dengan kesungguhan hati. Konseli dapat menyesuaikan diri dengan konselor daam proses ng Konseli harus terbuka dengan masalah apa yang dia alami, agar proses ngnya berjalan dengan lancar Konseli mengikuti proses ng dengan kesungguhan hati tanpa

Bersedia mengungkapkan rahasia walaupun menyakitkan keterpaksaan dalam proses ng Konseli harus bersedia mengungkapkan masalahnya, baik itu masalah yang memang dianggap tertutup, agar konselor bias memahami apa yang sebenarnya dialami 2 Karakter konselor Kehangatan (Warmth) ramah, penuh perhatian, dan memberikan kasih sayang. Melalui ng klien ingin mendapatkan rasa hangat tersebut dan melakukan Sharing dengan ng. Bila hal itu diperoleh maka klien dapat mengalami perasaan yang nyaman. B. TRANSACTION No Aspek Indikator Pernyataan 1 Teknik REBT 1. Teknik-teknik Kognitif ng secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselormengajari cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata harus 2. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) 3. Teknik-teknik Behavioristik dalam dirinya. Konseli didorong untuk membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya dan mebayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya. eknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral standar, seperti

2 Keterampilan dasar ng 1. Teknik Kognitif Dispute Kognitif (cognitive disputation) 2. Analisis rasional (rational analysis) 3. Dispute standard ganda (doublestandard dispute) pengkondisian operant, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan. mengubah keyakinan irasional melalui philosophical persuation, didactic presentation, socratic dialogue, vicarious expenriences, dan berbagai ekspersi verbal lainya. Eknik untuk menggunakan cognitive disputation adalah dengan bertanya (questioning). mengajarkan k bagaimana membuka dan mendebat keyakinan irasional Mengajarkan melihat dirinya memeiliki standar ganda tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar C. OUTCAME No Aspek Indikator Pernyataan 1 Hasil ng Secara Praktis Siswa dapat meningkatkan percaya diri dengan melalui ng rational emotive behaviour therapy (REBT). Sehingga, siswa mampu menjalani kehidupannya jauh lebih baik lagi tanpa dipengaruhi dengan rasa kurang percaya diri. Keyakinan rasional Ada peningkatan pada diri siswa, melalui REBT ini, sehingga siswa tersebut dapat memilihara keyakina rasionalnya dari pikiran-

pikiran irasional.