III. KERANGKA PEMIKIRAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

III. METODE PENELITIAN

KERANGKA PEMIKIRAN. dengan membangun suatu tempat pengelolaan sampah, tetapi yang dapat

III. KERANGKA PEMIKIRAN

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

IV. METODE PENELITIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

III. METODE PENELITIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Pemanfaatan potensi perikanan laut di Sulawesi Tengah belum optimal

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN

A. Kerangka Pemikiran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

IV METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

IV METODE PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini penulis menjelaskan tinjauan teori-teori yang terkait yang

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

III. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV. METODE PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi

VII. ANALISIS FINANSIAL

IV. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL

III. METODE PENELITIAN. Petani buah naga adalah semua petani yang menanam dan mengelola buah. naga dengan tujuan memperoleh keuntungan maksimum.

IV. METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden

III. KERANGKA PEMIKIRAN. dengan penelitian kelayakan pengembangan usaha akarwangi (Andropogon

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran. 3.2 Metode Penelitian

VII. RENCANA KEUANGAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Internet

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN. (Desa Cogreg dan Desa Ciaruteun Ilir), Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan

IV. METODE PENELITIAN

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya pola hidup masyarakat secara global yang semakin hari

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

IV. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang

BAB II TINJUAN PUSTAKA

IV. METODE PENELITIAN

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

9 Universitas Indonesia

Transkripsi:

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Konsep Dasar Analisis Manfaat Biaya Untuk Proyek Pertanian Konsep analisis manfaat biaya menunjukkan bagaimana menentukan suatu investasi apakah mampu memberikan keunggulan pada suatu proyek. Artinya, harus bisa memilih diantara alternatif yang memberikan keuntungan atau manfaat bersih yang terbesar bagi pelaksana proyek. Pemilihan alternatif terbaik merupakan alternatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan individu maupun masyarakat. Dalam teori ekonomi, tambahan kesejahteraan individu dicerminkan oleh adanya tambahan utilitas yang maksimum sebagai akibat adanya tambahan investasi dalam proyek. Menurut Pearce and Nash (1981) persoalan ekonomi dasar yang dihadapi adalah masalah pengalokasian sumberdaya yang tersedia namun terbatas yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bersih maksimal bagi masyarakat. Kebutuhan dasar yang diperlukan untuk menduga proyek-proyek sesuai dengan preferensi individu konsumen adalah mengukur kekuatan preferensi konsumen terhadap manfaat dari proyek yang relatif terhadap manfaat yang mana sumber daya dapat dihasilkan dalam penggunaan terbaik berikutnya. Selain memberikan kepuasan bagi konsumen, pada dasarnya suatu proyek pembangunan dibuat oleh pemerintah atau swasta sebagai suatu kebijakan untuk mengubah suatu keadaan di suatu daerah. Jadi, bagaimana para pengambil kebijakan bisa memutuskan apakah proyek yang akan dibuat layak atau tidak untuk dilaksanakan. Untuk menilai hal tersebut, maka digunakan kriteria pareto. Ellis (1992) dalam bukunya menuliskan kriteria pareto menyatakan suatu

28 kebijakan layak untuk dilaksanakan jika perubahan yang terjadi mengakibatkan ada pihak yang diuntungkan dan tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Misalnya, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengembangkan nipah menjadi bioetanol. Berdasarkan pareto, apakah kebijakan pengembangan nipah ini layak. Berdasarkan pareto, pengembangan menjadi layak jika ada yang diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan. Artinya semua pihak merasa nyaman dengan adanya pengembangan tersebut. Proyek didefinisikan sebagai cara untuk menggunakan sumber daya, artinya sebuah keputusan antara melaksanakan dan tidak melaksanakan proyek adalah pilihan antara cara-cara alternatif untuk menggunakan sumber daya. Penilaian proyek adalah suatu proses jika penyelidikan dan penalaran yang dirancang untuk membantu pengambil keputusan untuk mencapai suatu informasi dan pilihan rasional (Sugden and Williams, 1978). Jadi, dalam penilaian proyek dilengkapi dengan analisis manfaat biaya, sehingga bisa mencakup tiga aspek, yaitu manfaat finansial, manfaat ekonomi, dan manfaat sosial proyek. Mempersiapkan proyek bukan hanya sekedar menyangkut aspek perencanaan atau pembangunan pertanian saja. Pengidentifikasian tujuan-tujuan pembangunan pertanian nasional, pemilihan daerah-daerah prioritas untuk investasi, perencanaan kebijaksanaan-kebijaksanaan harga yang efektif, dan pemobilisasian sumberdayasumberdaya merupakan masalah yang harus diperhatikan (Gittinger, 1986). Proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumberdaya-sumberdaya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Berbagai ragam kegiatan-kegiatan pertanian dapat dimasukkan dalam kerangka proyek. Bank dunia dalam memberikan pinjaman kepada proyek-proyek pertanian

29 dilakukan secara terpisah-pisah seperti irigasi, peternakan kredit pedesaan, pemukiman tanah, pemetikan hasil pohon, mesin pertanian, pendidikan pertanian, dan juga untuk proyek-proyek pembangunan pedesaan multisektoral dengan komponen pertanian sebagai masalah utama. Berdasarkan konsep diatas dan tujuan penelitian yang dibuat, maka ada dua teori yang bisa digunakan sebagai dasar untuk penilaian penelitian yang dilakukan, yaitu pertama teori yang menyangkut berbagai aspek-aspek penilaian kelayakan non finansial, seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek sosial, ekonomi, dan budaya, aspek lingkungan, dan aspek pola kemitraan. Sementara teori yang kedua menyangkut perbedaan konsep finansial dan ekonomi, pengukuran shadow price dan penilaian kelayakan finansial dan ekonomi, seperti Net Present Value, Internal Rate of Return, Net B/C Ratio, dan Payback Period. 3.2. Kelayakan Aspek-aspek Non Finansial Kegiatan merencanakan dan menganalisa proyek perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang secara bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman investasi tertentu, dimana aspek-aspek ini saling terkait satu dengan yang lainnya (Gittinger, 1986). Aspek-aspek tersebut penting dalam pengambilan keputusan keberlanjutan proyek atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Artinya walaupun secara finansial atau ekonomi suatu proyek layak dilakukan, tetapi harus mempertimbangkan berbagai aspek yang turut mendukung pelaksanaan proyek. Aspek-aspek tersebut mencakup aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek sosial, ekonomi, dan budaya, aspek lingkungan, dan aspek pola kemitraan.

30 3.2.1. Aspek Pasar dan Pemasaran Pasar terdiri dari semua pelanggan potensial yang sama-sama mempunyai kebutuhan atau keinginan yang mungkin ingin dan mampu terlibat dalam pertukaran untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan (Kotler, 1993). Sementara pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produkproduk yang bernilai. Beierlein and Michael (1991) menuliskan pengertian pasar sebagai suatu kelompok atau konsumen potensial dengan mempertemukan antara kebutuhan dan kemampuan membeli. Sedangkan pemasaran adalah semua kegiatan yang membantu memuaskan kebutuhan konsumen dengan mengkoordinasi aliran barang dan jasa ke konsumen atau pengguna. Gittinger (1986), menuliskan aspek pasar termasuk dalam aspek-aspek komersial dimana didalamnya termasuk rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek. Selain itu aspek-aspek komersial suatu proyek juga termasuk masalah pengaturan usaha-usaha untuk memperoleh peralatan dan perbekalan proyek (supplies). Jadi, beberapa hal yang dipelajari aspek pasar dan pemasaran, yaitu : 1. Permintaan Permintaan merupakan jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh konsumen atau rumah tangga dalam jangka waktu tertentu. Penilaian aspek pasar untuk permintaan adalah baik secara total ataupun

31 diperinci menurut daerah, jenis konsumen, perusahaan besar pemakai. Perlu juga diperkirakan tentang proyeksi permintaan tersebut. 2. Penawaran Penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu disediakan oleh produsen dalam jangka waktu tertentu. Jadi penawaran dalam aspek pasar adalah baik yang berasal dari dalam negeri atau impor. Bagaimana perkembangannya di masa lalu dan bagaimana perkiraan di masa yang akan datang. Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ini seperti jenis barang yang bisa menyaingi, kebijakan dari pemerintah, dan sebagainya perlu diperhatikan. 3. Harga Harga merupakan faktor penting dalam aspek pasar. Harga diciptakan di pasar melalui interaksi antara produsen dan konsumen sehingga perlu perbandingan dengan barang-barang impor, produksi dalam negeri lainnya. Apakah ada kecenderungan perubahan harga dan bagaimana polanya. 4. Saluran Pemasaran Saluran pemasaran penting sebagai usaha untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Saluran pemasaran tersebut mencakup kegiatan produktif yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang ada dalam sistem komoditas tersebut, baik secara vertikal berdasarkan urutan penambahan maupun secara horizontal berdasarkan tingkatan kegiatan produktif yang sama (Frandho, 2010). Proses penyaluran produk sampai ke tangan konsumen akhir dapat menggunakan saluran yang panjang ataupun pendek sesuai dengan kebijaksanaan saluran distribusi yang ingin

32 dilaksanakan perusahaan. Keputusan memilih saluran pemasaran adalah salah satu keputusan penting dalam pemasaran karena melalui pemasaran dapat ditetapkan harga produk yang ditawarkan. Studi pasar dan pemasaran perlu dilakukan dengan harapan harga, kualitas, dan kuantitas produk yang akan dijual dapat diproyeksikan. Berdasarkan proyeksi pemasaran ini pula dapat diproyeksikan produk yang akan dihasilkan calon investor. Adanya rencana produksi dan pemasaran, maka akan diketahui kebutuhan dana investasi dan modal kerja, termasuk kebutuhan kredit yang sesuai dengan penambahan produksinya. Dalam penelitian ini, penilaian kelayakan aspek pasar dilakukan secara deskriptif tanpa adanya proyeksi mengenai potensi pasar dan harga produk. Hal ini dilakukan karena tidak tersedianya data pendukung yang dapat digunakan untuk melakukan proyeksi terhadap potensi pasar tersebut. 3.2.2. Aspek Teknis Analisa secara teknis berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasa-jasa. Aspek-aspek lain dari analisa proyek hanya akan dapat berjalan bila analisa secara teknis dapat dilakukan (Gittinger, 1986). Analisa ini akan menguji hubungan-hubungan teknis yang mungkin dalam suatu proyek pertanian yang diusulkan : keadaan tanah di daerah proyek dan potensinya bagi pembangunan pertanian, ketersediaan air baik secara alami dan pengadaan, varietas benih tanaman dan bibit ternak yang cocok dengan areal proyek, pengadaan produksi, potensi dan keinginan pengguna mekanisasi, dan pemupukan areal, serta alat-alat kontrol yang diperlukan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, analisa secara teknis akan

33 menentukan hasil-hasil yang potensial di areal proyek, menentukan koefisien produksi, pola penanaman yang potensial, dan kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan beberapa kali penanaman. Analisa teknis ini juga akan menguji fasilitas-fasilitas pemasaran dan penyimpanan yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan proyek, dan pengujian sistem-sistem pengolahan yang dibutuhkan. Analisa secara teknis akan dapat mengidentifikasikan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam informasi yang harus dipenuhi baik sebelum perencanaan proyek atau pada tahap awal pelaksanaan. Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam aspek teknis, sebagian atau seluruhnya, dapat tercermin dalam perhitungan benefit dan biaya, namun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis ini saja sudah dapat diperoleh gambaran, apakah calon proyek harus ditolak atau studi lebih lanjut dapat dilakukan (Gray et al., 2007). Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam aspek teknis adalah penilaian dan penentuan lokasi. Tujuan penilaian lokasi adalah untuk memaksimalkan keuntungan pemilihan lokasi. Lokasi sangat mempengaruhi biaya, baik biaya tetap maupun variabel. Lokasi berpengaruh besar pada laba keseluruhan perusahaan. Sejumlah faktor yang mempengaruhi keputusan lokasi diantaranya adalah tenaga kerja, valuta asing, perubahan sikap terhadap industri, serikat pekerja, penetapan zona, dan pajak (Subagyo, 2007). 3.2.3. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya Berbagai aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang akan dinilai adalah seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial, ekonomi, dan budaya terhadap masyarakat keseluruhan. Pada aspek sosial yang dipelajari adalah penambahan

34 kesempatan kerja atau pengurangan pengangguran. Selain itu aspek ini mempelajari pemerataan kesempatan kerja dan bagaimana pengaruh bisnis tersebut terhadap lingkungan sekitar lokasi bisnis seperti semakin ramainya daerah tersebut, lalu lintas yang semakin lancar, adanya penerangan listrik, telepon, dan sarana lainnya. Jadi aspek sosial memperhatikan manfaat dan pengorbanan sosial yang mungkin dialami oleh masyarakat di sekitar lokasi bisnis. Pertimbangan-pertimbangan sosial lain harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek yang diusulkan tanggap (responsive) terhadap keadaan sosial tersebut (Gittinger, 1986). Karena alasan-alasan sosial, banyak pihak pemerintah ingin menekankan pertumbuhan pada daerah-daerah tertentu dan menginginkan proyek-proyek yang dapat dilaksanakan di daerahdaerah tersebut. Analis proyek akan selalu ingin mempertimbangkan secara teliti pengaruh yang akan merugikan suatu proyek pada golongan-golongan tertentu dalam daerah-daerah tertentu. Misalnya, suatu proyek M yang memberikan tambahan pendapatan bagi segolongan orang-orang miskin dapat dianggap lebih bermanfaat daripada proyek N yang memberikan tambahan pendapatan yang sama besarnya bagi segolongan orang-orang yang sudah kaya. Suatu proyek tertentu dapat dianggap lebih bermanfaat bila proyek itu berada di Provinsi X yang masih tertinggal dalam hal pembangunan ekonominya daripada di provinsi Y yang sudah lebih maju (Gray et al., 2007). Aspek-aspek ekonomi persiapan dan analisa proyek membutuhkan pengetahuan mengenai apakah suatu proyek yang diusulkan akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pembangunan perekonomian secara keseluruhan

35 dan apakah kontribusinya cukup besar dalam menentukan penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan. Sudut pandang yang diambil dalam analisa ekonomi adalah masyarakat secara keseluruhan (Gittinger, 1986). Aspek ekonomi suatu bisnis dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat, Pendapatan Asli Daerah (PAD), pendapatan dari pajak, dan dapat menambah akitvitas ekonomi (Nurmalina et al., 2009 a ). Aspek budaya mengkaji tentang dampak keberadaan peroyek terhadap kehidupan masyarakat setempat, kebiasaan adat setempat apakah dapat mengubah budaya masyarakat setempat atau budaya masyarakat yang mempengaruhi pembangunan proyek (Wikipedia, 2009). Perubahan dalam teknologi atau peralatan mekanis dalam bisnis dapat secara budaya mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat. Aspek budaya dalam penelitian ini diuraikan secara deskriptif dengan melihat dari sisi kebiasaan produksi nipah dan hak ulayat. 3.2.4. Aspek Lingkungan Aspek ini mempelajari bagaimana pengaruh bisnis tersebut terhadap lingkungan, apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan semakin baik atau semakin rusak. Pertimbangan tentang sistem alami dan kualitas lingkungan dalam analisis suatu bisnis justru akan menunjang kelangsungan suatu bisnis itu sendiri, sebab tidak ada bisnis yang akan bertahan lama apabila tidak bersahabat dengan lingkungan (Hufschmidt et al., 1987 dalam Nurmalina et al., 2009 a ). Penelitian ini menilai aspek lingkungan berdasarkan dampak yang timbulkan dari produksi nipah maupun bioetanol terhadap lingkungan sekitar baik kehidupan masyarakat, biota laut, dan dampak lainnya.

36 3.2.5. Aspek Pola Kemitraan Kemitraan pada dasarnya mengacu pada hubungan kerjasama antar pengusaha yang terbentuk antara Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan usaha besar. Kemitraan yang baik dilaksanakan dengan pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumberdaya manusia, dan teknologi. Menurut Hafsah (1999), kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Pengertian kemitraan berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 dan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997, yaitu kerjasama usaha antar usaha kecil atau usaha menengah dengan usaha besar dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, memperkuat, dan saling menguntungkan. Tujuan dibentuknya kemitraan berdasarkan aspek ekonomi, yaitu kemitraan dapat meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional, dan memperluas kesempatan kerja. Salah satu pola kemitraan yang digunakan dalam kegiatan usaha kecil menengah adalah pola inti plasma. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 dalam pasal 27 tentang usaha kecil menjelaskan bahwa pola inti plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai inti yang membina dan mengembangkan usaha kecil yang menjadi plasmanya melalui penyediaan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi, perolehan penguasaan dan

37 peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha. 3.3. Kelayakan Finansial dan Ekonomi Perhitungan benefit dan biaya proyek pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua pendekatan, tergantung pada pihak yang berkepentingan langsung dalam proyek. Suatu perhitungan dikatakan perhitungan analisis finansial atau privat, bila yang berkepentingan langsung dalam benefit dan biaya proyek adalah individu atau pengusaha. Dalam hal ini, yang dihitung sebagai benefit adalah apa yang diperoleh orang-orang atau badan-badan swasta yang menanamkan modalnya dalam proyek tersebut. Sebaliknya suatu perhitungan dikatakan perhitungan ekonomi, bila yang berkepentingan langsung dalam benefit dan biaya proyek adalah pemerintah atau masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal ini, yang dihitung adalah seluruh benefit yang terjadi dalam masyarakat sebagai hasil dari proyek dan semua biaya yang terpakai terlepas dari siapa saja yang menikmati benefit dan siapa yang mengorbankan sumber-sumber tersebut (Gray et al., 2007). Perhitungan dalam analisis finansial dan ekonomi berbeda menurut lima hal, yaitu dalam penggunaan harga, pajak, subsidi, biaya investasi dan pelunasan peminjaman, dan bunga. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa analisis finansial dan ekonomi akan memberikan hasil yang berbeda. Perbedaan akan menjadi makin besar kalau terdapat berbagai distorsi dalam pembentukan harga (misalnya proteksi). Namun, perlu disadari bahwa proyek mungkin saja

38 memberikan manfaat yang lebih besar kepada ekonomi nasional daripada kepada perusahaan yang menjadi pelaksana proyek tersebut. Tabel 5. Perbedaan Analisis Finansial dan Ekonomi Indikator Perbedaan Analisis Finansial Analisis Ekonomi Harga Pajak Subsidi Biaya Investasi dan Pelunasan Peminjaman Bunga Harga Pasar, tidak menggambarkan nilai ekonomi yang sebenarnya karena adanya perubahanperubahan yang cepat dalam perekonomian. Biaya yang dibayarkan kepada instansi pemerintah. Penerimaan subsidi berarti pengurangan biaya yang harus ditanggung oleh si pemilik proyek (subsidi mengurangi harga). Biaya investasi hanyalah yang dibiayai dengan modal saham si penanam modal sendiri. Beban penanam modal adalah arus pelunasan pinjaman tersebut beserta bunganya pada tahap produksi. Bunga atas pinjaman, dari dalam atau luar negeri merupakan biaya proyek. Bunga atas modal sendiri yang ditanamkan dianggap sebagai bagian dari benefit yang diterima penanam modal. Shadow Price, yaitu harga-harga yang disesuaikan sedemikian rupa untuk menggambarkan nilai ekonomi yang sebenarnya dari barang dan jasa. Transfer, yaitu bagian dari benefit proyek yang diserahkan kepada pemerintah. Jadi, tidak dikurangi dari benefit. Subsidi dianggap sebagai sumber-sumber yang dialihkan dari masyarakat untuk digunakan dalam proyek (subsidi adalah beban masyarakat, tidak mengurangi biaya proyek). Seluruh biaya investasi, baik modal sendiri atau pinjaman dianggap sebagai biaya proyek pada saat dikeluarkannya. Pelunasan pinjaman yang digunakan untuk membiayai sebagian investasi diabaikan. Bunga atas pinjaman dalam negeri tidak dimasukkan sebagai biaya, karena merupakan modal masyarakat. Pembayaran bunga merupakan transfer payment dari satu pihak kepada pihak lain.

39 Analisis ekonomi penting terutama untuk proyek-proyek yang berskala besar, yang sering kali menimbulkan perubahan dalam penambahan penawaran dan permintaan akan produk tertentu. Jadi, analisis ekonomi dilakukan dengan alasan adanya ketidaksempurnaan pasar, adanya pajak dan subsidi, dan berlakunya konsep surplus konsumen dan surplus produsen (Husnan dan Suwarsono, 1994). 3.3.1. Pengukuran Shadow Price Shadow price dari suatu produk atau faktor produksi merupakan social opportunity cost, yaitu nilai tertinggi suatu produk atau faktor produksi dalam penggunaan alternatif yang terbaik. Dalam analisis proyek terdapat arus manfaat dan biaya yang akan dihitung shadow pricenya. Shadow price dari manfaat (output) yang dihasilkan dari adanya proyek adalah menggunakan kombinasi input tradeable maupun nontradeable. Tradeable output dinilai berdasarkan harga paritas (border price), yaitu harga Cost Insurance Freight (CIF) untuk produk yang menjadi sasaran impor andaikata tidak dihambat oleh kebijaksanaan resmi, dan harga Free on Board (FOB) untuk produk yang dapat diekspor. Shadow price yang digunakan adalah border price itu, sedangkan terhadap barang non tradeable, shadow pricenya adalah harga yang ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran di pasar, dikurangi pajak tidak langsung dan ditambah subsidi (Gray et al., 2007). Shadow price sarana produksi juga ditentukan berdasarkan jenis barang tersebut, apakah tradeable atau non tradeable, sementara faktor produksi ditentukan berdasarkan tenaga kerja dan modal. Balas jasa bagi tenaga kerja adalah upah, gaji, dan tunjangan, sedangkan balas jasa bagi modal terdiri dari

40 bunga dan keuntungan. Jadi, shadow price dari tenaga kerja adalah upah, dan modal adalah social opprtunity cost modal yang dipergunakan untuk mendiskonto arus manfaat dan biaya suatu proyek. Beberapa pendekatan teori yang dapat digunakan sebagai dasar penggunaan shadow price seperti dibawah ini : 1. Shadow Wage (Harga Bayangan Tenaga Kerja) Awalnya, gagasan shadow wage khusus di negara berkembang terpusat pada masalah pengangguran, baik pengangguran terbuka maupun pengangguran terselubung (orang yang aktif mencari penghasilan tetapi produktivitasnya rendah. Artinya karena penganggur tidak berproduksi, maka shadow wage sebenarnya adalah nol. Dengan kata lain, mempekerjakan seorang penganggur tidak mengorbankan produksi apa pun di tempat lain. Namun, timbul pemikiran bahwa walaupun sekelompok penganggur dalam suatu kegiatan tertentu mungkin tidak mempengaruhi tingkat produksi dalam jangka pendek, tetapi untuk program pembangunan secara keseluruhan yang tersebar selama beberapa tahun, adalah kurang wajar bila diasumsikan bahwa penggunaan faktor produksi yang begitu penting seperti tenaga kerja tak terdidik tidak mempunyai opportunity cost apa pun. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa munculnya pengangguran di sekitar perekonomian modern berhubungan erat dengan penciptaan kesempatan kerja melalui kegiatan itu. Artinya, yang menarik tenaga kerja untuk datang dari daerah pedesaan dan menetap di kota lain atau daerah pembangunan lainnya bukan karena tawaran tempat kerja yang baik, melainkan kemungkinan mendapat pekerjaan yang memberikan tingkat pendapatan riil diatas tingkat

41 penghasilan di pedesaan. Jadi, dengan menciptakan kesempatan kerja melalui proyek pembangunan, kita meningkatkan probabilitas mendapat pekerjaan bagi tenaga kerja yang menunggu, sehingga akan terjadi migrasi dari pedesaan. Jadi, tenaga penganggur secara tidak langsung mempengaruhi tingkat produksi di pedesaan. Pengorbanan produksi tersebut diambil sebagai social opportunity cost faktor produksi tenaga kerja tak terdidik (Gray et al., 2007). Harga tenaga kerja dalam pasar persaingan sempurna akan ditentukan oleh nilai produk marjinal tenaga kerja, yaitu upah akan sama dengan jumlah produk yang dapat dihasilkan oleh seorang tenaga kerja tambahan. Ini karena apa yang akan dibayarkan petani untuk menyewa tambahan buruh untuk panen misalnya selama pekerja tambahan itu menaikkan jumlah output dengan suatu nilai yang lebih daripada nilai upah yang harus dibayarkan oleh petani kepadanya (Gittinger, 1986). 2. Shadow Price Lahan (Harga Bayangan Lahan) Lahan merupakan faktor produksi atau aset tak bergerak dalam proses produksi pertanian. Berbeda dengan tenaga kerja dan modal yang bersifat bergerak dan bisa berpindah kepada aktivitas lainnya, lahan bersifat tetap atau tak bergerak. Kecuali lahan tersebut di dekat pusat kota, menjadi pusat perumahan atau perindustrian, opportunity cost dari lahan yang ditanami satu komoditas adalah pendapatan yang diperoleh dari komoditas terbaiknya (Pearson et al., 2005). Petani akan menggunakan lahannya untuk suatu komoditas sesuai dengan keuntungan yang akan diperoleh dari berbagai komoditas. Nilai lahan di pasar lahan tergantung kepada tingkat produktivitas lahan tersebut, dan dengan sendirinya juga tingkat keuntungan yang akan

42 diperoleh petani pembeli atau penyewa lahan tersebut. Bila cara ini tidak praktis karena rumit dan juga mahalnya menganalisis komoditas alternatif terbaik, maka dapat digunakan pendekatan nilai sewa lahan. Gittinger (1986), juga menuliskan biaya opportunitas lahan adalah nilai bersih dari produksi yang hilang bila penggunaan tanah diubah dari penggunaan tanpa proyek menjadi penggunaan dengan proyek. Hal yang termudah untuk menilai biaya itu adalah jika tanah berubah penggunaannya tetapi bukan berubah kontrol manajemennya, baik karena pemilik mengolah tanahnya sendiri atau penyewa meneruskan pengolahan tanah tersebut. 3. Shadow Price Input (Harga Bayangan Faktor Produksi) Harga bayangan input atau faktor produksi bisa diartikan sebagai biaya yang diperhitungkan atau bisa juga sebagai opportunity cost. Pada pasar tidak sempurna, harga input atau harga output yang dihadapi rumahtangga tidak lagi mengacu kepada harga pasar, tetapi ditentukan secara internal oleh rumahtangga sebagai harga bayangan (Sadoulet and de Janvry, 1995 dalam Kusnadi, 2005). Pada persoalan optimasi terkendala, harga bayangan input mempunyai arti berapa nilai tambahan fungsi tujuan setiap tambahan satu satuan input. Jadi, dalam hal ini besaran pengganda lagrange juga diartikan sebagai harga bayangan. Berarti harga bayangan diartikan sebagai nilai satu unit sumberdaya diukur dengan kontribusinya terhadap tambahan nilai fungsi tujuan. Semakin langka ketersediaan sumberdaya relatif terhadap jumlah yang dibutuhkan, harga bayangan sumberdaya tersebut makin tinggi. Dalam teori ekonomi produksi, tambahan nilai output yang disebabkan oleh tambahan satu satuan sumberdaya disebut nilai produktivitas marjinal, yaitu

43 P*Fi, dimana p adalah harga produk dan Fi adalah produktivitas marjinal input ke-i. Jadi, nilai produktivitas marjinal ini juga dapat diartikan sebagai harga bayangan faktor produksi. Oleh karena itu, pendugaan terhadap harga bayangan faktor produksi, termasuk tenaga kerja bisa dilakukan dengan menduga nilai produktivitas marjinal. Berdasarkan pendugaan ini, besarnya harga bayangan ditentukan oleh penggunaan input, produk, dan harga produk. 3.3.2. Kriteria Kelayakan Investasi Prinsip analisis manfaat biaya adalah untuk mempertimbangkan antara keuntungan dan kerugian, biaya dan manfaat dari setiap proyek (Pearce and Nash, 1981). Secara umum, manfaat dan biaya dinyatakan dalam bentuk uang. Setiap individu akan mempunyai bentuk biaya dan manfaat, i, dan mempunyai jumlah barang q i c dan q i b, dan harga p i c dan p i b (sebaiknya harga bayangan). Dalam satu tahun total biaya ditulis seperti : C t = q c i. t * p c i. t. (5) dan manfaat seperti : B t = q b i. t * p b i. t... (6) dimana t adalah periode waktu (tahun), C menunjukkan biaya, B adalah manfaat, q i adalah jumlah barang tertentu, dan p i adalah harga tertentu. Perhitungan biaya dan manfaat hanya dapat dilakukan hingga pada periode waktu tertentu (T) yang ditentukan berdasarkan umur ekonomis proyek atau faktor lainnya. Jika kita menambahkan biaya dan manfaat untuk memperoleh manfaat bersih, maka dapat dirumuskan sebagai berikut : t = T N(B) = (Bt Ct). (7) t = 0

44 Rumus diatas mengabaikan faktor penting, yaitu harus mempertimbangkan preferensi individu, sehingga harus dimasukkan dalam formula seperti pada persamaan 7. Fakta menunjukkan bahwa individu konsumen akan lebih menyukai mengkonsumsi suatu barang dengan nilai saat ini dibandingkan nilai pada masa depan. Manfaat bersih baru diperoleh di kemudian, namun konsumen menginginkan nilai sekarang maka harus ada suatu tingkat diskonto tertentu yang akan menilai konsumsi masa depan terhadap nilai saat ini, yang disebut dengan preferensi waktu (Pearce and Nash, 1981). Relevansi terhadap keberadaan preferensi waktu adalah bahwa kita tidak bisa memperlakukan biaya dan manfaat sebagai nilai yang sama tanpa memperhitungkan kapan hal tersebut terjadi. Jadi, kita harus mendiskontokan waktu yang akan datang (t i ) terhadap waktu saat ini [t i /(1+r)] dengan mempertimbangkan tingkat suku bunga seperti pada persamaan : t i (1 + r) 1 + r = t i Jadi secara umum, nilai t i untuk manfaat maupun biaya dalam tahun tertentu harus didiskonto dengan (1 + r) t, sehingga bentuk persamaan 7 dapat dinyatakan sebagai berikut : 1 (1 + r) 1 (1 + r) N(B) = (B 0 C 0 ) + (B 1 C 1 ) (1 + r) 0 (1 + r) 1 1 (1 + r) 1 (1 + r) + (B 2 C 2 ) + + (B T C T ) (1 + r) 2 (1 + r) T secara sederhana dapat ditulis :

45 t = T 1 N(B) = (Bt Ct).. (8) t = 0 (1 + r) t atau t = T N(B) = (Bt Ct). dt. (9) t = 0 dimana 1 dt =. (10) (1 + r) t dt merupakan faktor diskonto yang ditentukan oleh periode waktu dan tingkat bunga. Seperti telah dijelaskan diatas, penggunaan faktor diskonto adalah untuk melihat manfaat dan biaya pada saat ini, sehingga nilai manfaat bersih pun harus dinilai pada periode saat ini. Penilaian manfaat bersih pada saat ini disebut dengan Net Present Value (NPV). Secara sederhana dapat ditulis sebagai berikut : NPV = GPV(B) GPV(C) (11) yaitu, nilai manfaat bersih saat ini sama dengan nilai manfaat kotor saat ini (Gross Present Value Benefit) dikurangi nilai biaya kotor saat ini (Gross Present Value Cost). Dengan kata lain NPV suatu proyek adalah selisih present value arus benefit dengan present value arus biaya. Net Present Value atau nilai kini manfaat bersih dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh penanaman investasi. Dalam analisis finansial, nilai ini merupakan nilai sekarang dari arus tambahan pendapatan untuk individu atau harta ditilik dari segi mana analisis dibuat (Gittinger, 1986). Suatu proyek dapat dinyatakan layak jika jumlah seluruh manfaat yang diterimanya melebihi biaya yang dikeluarkan. Selisih antara

46 manfaat dan biaya disebut dengan menafaat bersih atau arus kas bersih. Suatu proyek dikatakan layak jika NPV lebih besar dari nol (NPV > 0) yang artinya proyek menguntungkan atau memberikan manfaat. Dengan demikian, jika suatu bisnis mempunyai NPV lebih kecil dari nol (NPV < 0), artinya proyek tersebut tidak layak untuk dijalankan. 3.3.2.1. Net B/C Ratio Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C ratio) merupakan angka perbandingan antara jumlah present value dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang negatif. Hasilnya menunjukkan besarnya manfaat tambahan yang diterima dari setiap tambahan biaya yang dikeluarkan. Proyek dinyatakan layak apabila Net B/C bernilai lebih dari satu. Seperti dalam perhitungan IRR, Net B/C akan terdapat apabila paling sedikit salah satu nilai Bt Ct adalah negatif. Jika tidak, maka Net B/C adalah tak terhingga (Gray et al., 2007). 3.3.2.2. Internal Rate of Return (IRR) Pendekatan alternatif lain untuk penilaian investasi adalah menghitung tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return (IRR) dan membandingkannya secara langsung dengan tingkat diskonto sosial. IRR merupakan nama lain untuk efisiensi marjinal modal dari Keynes (Pearce and Nash, 1981). IRR adalah tingkat rendemen atas investasi bersih. IRR adalah tingkat i yang memenuhi ketiga syarat berikut : 1. Rendemen implisit dalam tiap tahun sama dengan hasil i kali nilai investasi pada akhir tahun sebelumnya yakni :

47 Rt = if t-i 2. Nilai investasi pada akhir tahun t sama dengan nilai pada akhir tahun sebelumnya ditambah sisa pengurangan manfaat bersih dari rendemen implisit, yakni : Ft = F t-1 + Rt (Bt Ct) = F t-1 + if t-i - (Bt Ct) = (1 + i) F t-1 (Bt Ct) 3. Manfaat bersih pada akhir umur proyek (tahun t) adalah jumlah (a) nilai investasi yang masih berlaku pada akhir tahun sebelumnya, ditambah (b) rendemen implisit. Akibatnya, nilai investasi pada akhir tahun t menjadi nol. Rumusnya : Bt Ct = F t-1 + if t-1 = (1 + i)f t-1 (12) atau dapat ditulis : Ft + Bt - Ct Ft-1 = (13) 1 + i Substitusi t dalam persamaan 13 dengan n 1, sehingga didapatkan : F(n-1)-1 = Fn-2 = = Fn-1 + Bn-1 Cn-1 1 + i (Bn Cn/1+i) + Bn-1 Cn-1 1 + i Bn Cn = + (1+i) 2 Bn-1 Cn-1 (1+i) Proses ini dapat diteruskan hingga memperoleh F n-n = F 0, yaitu nilai investasi semula yang sama dengan C 0 B 0, sehingga diperoleh rumus :

48 n C 0 B 0 = Bt Ct t=1 (1 + i) t n Bt Ct 0 = + B 0 C 0 t=1 (1 + i) t n Bt Ct = 0 (14) t=0 (1 + i) t persamaan 14 tidak lain adalah Net Present Value proyek berdasarkan tingkat diskonto sosial sebesar i. Jadi, dapat disimpulkan IRR adalah nilai tingkat diskonto sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Dalam menghitung IRR diasumsikan bahwa setiap manfaat bersih tahunan secara otomatis di tanam kembali dalam tahun berikutnya dan memperoleh rate of return yang sama dengan investasi-investasi sebelumnya. Besarnya IRR tidak ditemukan secara langsung dan harus dicari dengan coba-coba, mula-mula digunakan discount rate yang diperkirakan mendekati besarnya IRR. Jika hasil perhitungan NPV positif maka harus terus dicoba discount rate yang lebih tinggi dan seterusnya sampai diperoleh NPV yang negatif. Kalau ini sudah dicapai, maka diadakan interpolasi (penyisipan) antara discount rate yang tinggi dan discount rate terendah sehingga diperoleh NPV sebesar nol. Berdasarkan istilah aljabar, penilaian IRR berdasarkan interpolasi dapat dihitung dengan rumus : NPV 1 IRR = i 1 + (i 2 i 1 ) NPV 1 NPV 2 Hubungan antara Net Present Value dan Internal Rate of Return dapat dilihat pada Gambar 1.

49 NPV IRR 0 X i Sumber : Pearce and Nash (1981) (dimodifikasi) Gambar 1. Hubungan Antara NPV dan IRR 3.3.2.3. Payback Period Payback period adalah jangka waktu kembalinya keseluruhan investasi modal yang ditanamkan, dihitung mulai dari permulaan proyek sampai dengan arus nilai neto produksi tambahan sehingga mencapai jumlah keseluruhan investasi capital yang ditanamkan (Gittinger, 1986). Metode ini mempunyai dua kelemahan utama, yaitu (1) diabaikannya nilai waktu uang (time value of money), dan (2) diabaikannya cashflow setelah periode payback. Untuk mengatasi kelemahan yang pertama, maka kadang dipakai discounted payback period. Metode payback period ini merupakan metode pelengkap penilaian investasi. 3.4. Kerangka Pemikiran Operasional Indonesia sedang menggalakkan penggunaan bahan bakar nabati sebagai substitusi bahan bakar minyak fosil yang selama ini digunakan. Kebijakan ini dilakukan karena kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia untuk

50 berbagai sektor cukup besar dan semakin langkanya sumber bahan bakar fosil yang selama ini digunakan. Dalam upaya mendukung pengembangan bioenergi di dalam negeri, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang antara lain menetapkan sasaran penggunaan bahan bakar nabati (BBN) lebih dari 5 persen terhadap konsumsi energi nasional pada tahun 2025. Pada saat ini, melalui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, pemerintah sedang gencar memasyarakatkan penggunaan biofuel untuk penghematan energi dan penyelamatan lingkungan di seluruh provinsi di Indonesia. Penjelasan mengenai kerangka pemikiran operasional dapat dilihat dalam bentuk bagan seperti pada Gambar 2. Kelangkaan dan mahalnya harga bahan bakar minyak di Kabupaten Teluk Bintuni membuat pemerintah berupaya untuk mengkonversi penggunaan bahan bakar minyak berbasis fosil ke bahan bakar nabati yang bersumber dari tumbuhan. Nipah merupakan salah satu tumbuhan yang ada di Teluk Bintuni yang bisa digunakan sebagai penghasil bioetanol. Berdasarkan potensi sumberdaya alam dan lahan yang cukup melimpah, maka perlu adanya pengembangan nipah dalam rangka mendukung desa mandiri energi di Teluk Bintuni. Dengan demikian sangat dimungkinkan bila hutan nipah dapat dikembangkan dengan penerapan teknologi yang yang sesuai dengan budidaya tanaman nipah agar produktivitas meningkat. Berdasarkan hal tersebut, maka perencanaan pengembangan nipah mulai dari subsistem usahatani hingga subsistem industri pengolahan perlu dilakukan dengan baik melalui analisis kelayakan investasi. Dalam penelitian ini, analisis

51 1. Kebutuhan BBM di Indonesia cukup besar dan ketersediaan semakin langka 2. Perpres No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional 3. Inpres No. 1 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. 4. Potensi nipah sebagai penghasil bahan bakar nabati di Kabupaten Teluk Bintuni. Bioetanol Bahan Baku Nipah Subsistem Usahatani (Produksi Nipah) Subsistem Industri Pengolahan (Produksi Bioetanol) Analisis Kelayakan Investasi Aspek Non Finansial 1. Aspek Pasar dan Pemasaran 2. Aspek Teknis 3. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya 4. Aspek Lingkungan 5. Aspek Pola Kemitraan Aspek Finansial 1. NPV 2. Net B/C 3. IRR 4. Payback Period Aspek Ekonomi 1. NPV 2. Net B/C 3. IRR 4. Payback Period Analisis Sensitivitas Layak/Tidak layak Alternatif Kebijakan Pengembangan Nipah Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional

52 kelayakan investasi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu analisis non finansial, analisis finansial, dan analisis ekonomi. Analisis finansial dan ekonomi menggambarkan manfaat yang diperoleh secara finansial maupun sosial. Sementara analisis non finansial dijelaskan berdasarkan aspek-aspek yang terdiri dari aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek sosial, ekonomi, dan budaya, aspek lingkungan, dan aspek pola kemitraan. Aspek pasar menggambarkan karakteristik produk yang dihasilkan, potensi pasar yang dilihat dari permintaan dan penawaran, harga dan saluran pemasaran. Sementara dalam aspek teknis akan dijelaskan mengenai lokasi produksi nipah dan pabrik bioetanol, luas produksi dan proses produksi, dan penggunaan teknologi dalam memproduksi baik nipah maupun bioetanol. Aspek sosial, ekonomi, dan budaya menggambarkan dampak adanya pengembangan nipah terhadap kehidupan petani, masyarakat, dan daerah. Berdasarkan aspek lingkungan dapat dilihat apakah dengan adanya pengembangan nipah akan membuat kualitas lingkungan menjadi meningkat, baik yang terkena dampak langsung maupun tidak. Aspek pola kemitraan melihat hubungan kerjasama antara penyadap nipah, pihak perusahaan, dan pemerintah didalam pengembangan nipah. Setelah ketiga analisis dilakukan, selanjutnya akan dibuat simulasi alternatif kebijakan melalui analisis senstivitas untuk melihat dampak perubahan yang terjadi ketika ada goncangan (perubahan-perubahan) variabel tertentu terhadap kelayakan investasi. Variabel-variabel yang akan diubah adalah harga bioetanol, harga pupuk, dan upah tenaga kerja. Dengan demikian dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan dalam pengembangan nipah mendukung desa mandiri energi.