BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu :

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian

LAMPIRAN 1 DATA ANALISIS PRODUK SABUN PADAT TRANSPARAN. Tabel 9. Data Analisis Minyak Jelantah

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1.1 Data Analisa Rendemen Produk Biodiesel Tabel 14. Data Pengamatan Analisis Rendemen Biodiesel

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari Februari 2014.

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

: Muhibbuddin Abbas Pembimbing I: Ir. Endang Purwanti S., MT

Blanching. Pembuangan sisa kulit ari

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi:

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair dari Minyak Goreng Bekas (Jelantah) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

PENGARUH TEMPERATUR DAN F/S TERHADAP EKSTRAKSI MINYAK DARI BIJI KEMIRI SISA PENEKANAN MEKANIK

Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Lampiran 1. Prosedur analisis sifat fisikokimia minyak dan biodiesel. 1. Kadar Air (Metode Oven, SNI )

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN II PERHITUNGAN

Mulai. Dihaluskan bahan. Ditimbang bahan (I kg) Pemanasan alat sesuai dengan suhu yang ditentukan. Dioperasikan alat. Dimasukkan bahan dan dipress

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN. 1. Data Pengamatan Ekstraksi dengan Metode Maserasi. Rendemen (%) 1. Volume Pelarut n-heksana (ml)

LAMPIRAN PERHITUNGAN. Lampiran 1. Perhitungan % FFA dan % Bilangan Asam Minyak Jelantah. = 2 gram + 3,5 gram. = 5,5 gram (Persamaan (2))

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

LAMPIRAN. Minyak sawit mentah (CPO) ditentukan kadar asam lemak bebas dan kandungan aimya

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu :

Penelitian ini akan dilakukan dengan dua tahap, yaitu : Tahap I: Tahap perlakuan awal (pretreatment step)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAMPIRANA DIAGRAM ALIR METODE PENELITIAN

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan determinasi tanaman.

BAB 3 METODE PENELITIAN. 1. Neraca Analitik Metter Toledo. 2. Oven pengering Celcius. 3. Botol Timbang Iwaki. 5. Erlenmayer Iwaki. 6.

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Pohon Industri Turunan Kelapa Sawit

LAPORAN TUGAS AKHIR. Disusun oleh : LINTANG ZETA FADILA

LAMPIRAN. Lampiran 1. Prosedur analisis sifat fisiko kimia tanah pemucat bekas. 1. Kadar Air (SNI )

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN

BABffl METODOLOGIPENELITIAN

Pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah kalium hidroksida 0,1 N, hidrogen

BAB III METODE PENGUJIAN. Rempah UPT.Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Jl. STM

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI

LAPORAN TUGAS AKHIR. Effect Of Preheating Temperature and Pressure on Nyamplung (Collaphyllum Inophyllum) seed s oil using press hidraulic

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

Yijk=^ + ai + )3j + (ap)ij + Iijk. Dimana:

BAB V METODOLOGI. Dalam pelaksanaan percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

kimia LAJU REAKSI 1 TUJUAN PEMBELAJARAN

UJICOBA PERALATAN PENYULINGAN MINYAK SEREH WANGI SISTEM UAP PADA IKM I N T I S A R I

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I VISKOSITAS CAIRAN BERBAGAI LARUTAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

PROSES TRANSESTERIFIKASI MINYAK BIJI KAPUK SEBAGAI BAHAN DASAR BIODIESEL YANG RAMAH LINGKUNGAN

PEMBUATAN MINYAK KELAPA SECARA ENZIMATIS MENGGUNAKAN RIMPANG JAHE SEBAGAI KATALISATOR

A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Karakteristik Bahan Baku Biodiesel. Propertis Minyak Kelapa (Coconut Oil)

LAPORAN TUGAS AKHIR GALUH CHYNINTYA R.P. NIM

HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Pembahasan Degumming

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif

LAMPIRAN 1 DATA BAHAN BAKU

Lapiran 1. Proses despicing minyak goreng bekas. Minyak Goreng Bekas. ( air : minyak =1:1) Pencampuran. Pemanasan Sampai air tinggal setengah

Ekstraksi Biji Karet

Hasil dari penelitian ini berupa hasil dari pembuatan gliserol hasil samping

Sunardi 1, Kholifatu Rosyidah 1 dan Toto Betty Octaviana 1

Lampiran 1. Skema pembuatan biodiesel. CPO H2S04 Metanol. Reaksi Esterifikasi. (^ao ( Metanol. Pencampuran. Reaksi Transesterifikasi

METANA. Juni 2017 Vol. 13(1):13-22 ISSN: EISSN:

STUDI KUALITAS MINYAK GORENG DENGAN PARAMETER VISKOSITAS DAN INDEKS BIAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, S.Si

III. METODOLOGI PENELITIAN

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA

BAB III. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak sawit mentah

III. METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EKSTRAKSI ASPHALTENE DARI MINYAK BUMI

Penentuan Bilangan Asam dan Bilangan Penyabunan Sampel Minyak atau Lemak

I. PENDAHULUAN. Metil ester sulfonat (MES) merupakan golongan surfaktan anionik yang dibuat

MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II

BAB III RENCANA PENELITIAN

Transkripsi:

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Pengaruh Variabel Terhadap Warna Minyak Biji Nyamplung Tabel 9. Tabel hasil analisa warna minyak biji nyamplung Variabel Suhu (C o ) Warna 1 60 Hijau gelap 2 60 Hijau gelap 3 60 Hijau gelap 4 80 Hijau gelap 5 80 Hijau gelap 6 80 Hijau gelap 7 100 Hijau gelap pekat 8 100 Hijau gelap pekat 9 100 Hijau gelap pekat Warna merupakan suatu parameter yang digunakan untuk menentukan kadar warna (rating color) dari suatu minyak dan lemak segar atau bekas. Semakin gelap warna minyak, maka kualitas minyak semakin menurun. Dari hasil analisa diatas menunjukkan kualitas minyak yang dihasilkan setiap variabel sesuai standard minyak nyamplung karena menghasilkan warna normal yaitu hijau gelap (Balitbang kehutanan, 2008). Minyak nyamplung tersebut harus melewati proses deguming ketika akan dijadikan biodiesel sehingga warna yang dihasilkan berwarna kuning. Warna yang dihasilkan dipengaruhi oleh suhu pada tahap perlakuan awal, dimana semakin naik suhu maka minyak yang dihasilkan semakin gelap. 1

2 6.2 Pengaruh Variabel Terhadap Rendemen Minyak Biji Nyamplung Tabel 10. Tabel hasil analisa rendemen minyak biji nyamplung Suhu Berat pemanasan Tekanan Variabel Berat Rendemen minyak bahan (gr) (gr) ( O C) (kg/cm 2 ) (%) 1 250 81,32 60 80 32,52 2 250 94,41 60 80 37,76 3 250 103,68 60 80 41,40 4 250 84,51 80 110 33,80 5 250 95,49 80 110 38,19 6 250 110,09 80 110 44,43 7 250 85,12 100 140 34,08 8 250 108,06 100 140 43,22 9 250 112,06 100 140 48,40 Gambar 6. Grafik Pengaruh Variabel Tehadap Rendemen Dari grafik menunjukkan bahwa rendemen minyak semakin naik seiring bertambahnya suhu. Pada percobaan ini dilakukan suhu pemanasan awal yang berbeda yaitu 60 o C, 80 O C, dan 100 O C. Rendemen terendah diperoleh pada suhu 60 o C dan tekanan 80 kg/cm 2 yaitu sebesar 32,52 %, Sedangkan rendemen tertinggi diperoleh sebesar 48,40 % dengan variabel suhu 100 0 C dan tekanan 140 kg/cm 2. Pada penelitian sebelumnya (Haryati, 2012) diperoleh rendemen minyak nyamplung sebesar 46, 57% dengan perlakuan pemanasan awal biji nyamplung menggunakan pemanasan sinar matahari selama 2-3 hari dan menggunakan tekanan 150 kg/cm 2. Hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda, namun pada praktikum ini % rendemen yang diperoleh jauh lebih tinggi daripada

3 penelitian sebelumnya. Pengaruh yang paling besar terhadap perolehan minyak biji nyamplung adalah pengaruh tekanan. Dimana tekanan yang diberikan akan mempermudah keluarnya minyak dan semakin tinggi tekanan maka minyak yang dihasilkan semakin banyak. Sedangkan faktor suhu,dimana semakin tinggi suhu maka kadar air dalam biji semakin rendah dan minyak akan semakin mudah untuk keluar. 6.3 Pengaruh Variabel Terhadap Kadar Air Biji Nyamplung Tabel 11. Tabel hasil analisa kadar air biji nyamplung Suhu pemanasan Berat cawan + sampel (gr) variabel 1 2 3 4 5 6 Sebelum Pemanasan Setelah Pemanasan Berat sampe l (gr) Kadar Air (%) 60,70 59,80 60 25,50 3,53 60,10 59,20 60 24,90 3,61 62,23 61,20 60 27,03 3,81 59,30 58,70 80 26,77 2,24 58,50 57,80 80 25,97 2,70 58,80 57,82 80 26,27 3,73

4 7 8 9 62,00 61,80 100 26,62 0,75 62,30 61,90 100 26,92 1,49 62,80 62,30 100 27,42 1,82 Gambar 7. Grafik Pengaruh Variabel Tehadap Kadar Air Kadar air yang terdapat pada minyak yang diinginkan adalah serendah mungkin karena kadar air yang tinggi dapat menyebabkan minyak mudah terhidrolisis sehingga membuat minyak mudah tengik dan rusak. Pada percobaan ini menggunakan variabel suhu 60 O C, 80 o C, dan 100 o C. Pada gambar 7 terlihat bahwa kadar air minyak biji nyamplung paling tinggi pada suhu 60 O C sebesar 3,53 % - 3,81 % sedangkan kadar air yang paling rendah diperoleh adalah pada suhu 100 O C dimana diperoleh kadar air sebesar 0,75% - 1,82 %. Hal ini disebabkan karena air akan banyak menguap pada temperatur titik didihnya. Pada penelitian sebelumnya (Haryati, 2012) kadar air pada biji nyamplung <15% diperoleh hasil rendemen minyak sebesar 46,57%. Sedangkan pada percobaan ini kadar air yang diperoleh paling rendah sebesar 0,75 1,86 % yaitu pada suhu 100 o C dengan perolehan rendemen sebanyak 48,40%. 6.4 Pengaruh Variabel Terhadap Densitas Minyak Biji Nyamplung Tabel 12. Tabel hasil analisa densitas minyak biji nyamplung Berat Berat Volume Variabel Piknometer Piknometer Isi Piknometer (ml) Kosong (gr) (gr) Densitas (gr/ml)

5 1 15,8 39,83 25 0,961 2 15,8 39,81 25 0,960 3 15,8 39,78 25 0,959 4 15,8 39,75 25 0,958 5 15,8 39,76 25 0,958 6 15,8 39,75 25 0,958 7 15,8 39,71 25 0,956 8 15,8 39,69 25 0,955 9 15,8 39,65 25 0,954 Gambar 8. Grafik Pengaruh Variabel Suhu Tehadap Densitas Dari hasil analisa menunjukkan bahwa densitas yang diperoleh dari seluruh variabel diatas berada pada range 0,954-0,961 gr/ml. Densitas tertinggi diperoleh pada variabel 1 (60 o C) yaitu sebesar 0,961 gr/ml sedangkan densitas terendah pada variabel 9 (100 o ) yaitu sebesar 0,954 gr/ml. Dimana standard densitas menurut Balitbang Kehutanan, 2008 adalah 0,944 gr/ml. Densitas yang diperoleh dari percobaan ini masih dalam nilai yang standard. Dari gambar 8 menunjukkan kecenderungan data bahwa densitas yang didapatkan semakin menurun seiring dengan bertambahnya suhu. Hal ini dikarenakan semakin tinggi suhu maka kadar air yang teruapkan semakin besar sehingga densitas mengalami penurunan.

6 6.4 Pengaruh Variabel Terhadap Viskositas Minyak Biji Nyamplung Tabel 13. Tabel hasil analisa viskositas minyak biji nyamplung Variabel Suhu ( 0 C) WaktuAlir (detik) Viskositas (Cp) 1 60 43,29 34,88 2 60 43,2 34,782 3 60 42,14 33,886 4 80 39,4 31,643 5 80 39,32 31,592 6 80 39,27 31,539 7 100 36,48 29,249 8 100 35,21 28,207 9 100 34,59 27,664 Gambar 9. Grafik Pengaruh Variabel Suhu Tehadap Viskositas Dari grafik diatas pada variabel minyak nyamplung yang dihasilkan memiliki nilai viskositas 27,664 34,88 Cp. Data hasil analisa viskositas pada variabel 1 sampai ke 9 mengalami penurunan. Menurut Balitbang Kehutanan, 2008 viskositas minyak nyamplung adalah 56,7 Cp. Menurut wahyuni, 2015 pengaruh suhu terhadap viskositas adalah semakin tinggi suhu maka viskositas semakin menurun dan menyebabkan cairan akan cepat mengalir. Viskositas sebuah cairan akan menimbulkan sejumlah gesekan antar bagian atau lapisan cairan yang bergerak satu terhadap yang lain. Gesekan atau hambatan yang terjadi disebabkan oleh gaya kohesi didalam zat cair sehingga kekentalan dari sebuah

7 cairan disebabkan karena adanya kohesi antar partikel atau molekul zat cair. Perubahan suhu reaksi menyebabkan gerakan molekul semakin cepat (tumbukan antara molekul pereaksi meningkat). 6.6 Pengaruh Variabel Terhadap Angka Asam Minyak Nyamplung Tabel 14. Tabel hasil analisa angka asam minyak nyamplung Variabel Suhu ( O C) Tekanan Masa minyak Angka asam (kg/cm 2 ) (gr) (mgkoh/g) 1 60 80 4,806 60,40 2 60 80 4,802 60,92 3 60 80 4,796 61,41 4 80 110 4,79 64,88 5 80 110 4,792 65,26 6 80 110 4,79 65,58 7 100 140 4,782 69,09 8 100 140 4,778 69,27 9 100 140 4,770 69,68 Gambar 10. Grafik Pengaruh Variabel Tehadap Angka Asam Berdasarkan grafik di atas, variasi suhu pemanasan awal 60 o C, 80 o C dan 100 o C dengan waktu pemanasan oven 40 menit diperoleh derajat asam yang semakin lama semakin naik. Bilangan asam terendah ada pada variabel 1 dengan suhu 60 o C yaitu 60,40 mg KOH/g serta bilangan asam tertinggi ada pada variabel 9 dengan suhu 100 o C yaitu 69,68 mg KOH/g. Menurut Balitbang Kehutanan, 2008 angka asam dari minyak nyamplung sebesar 59,54 mg KOH/gr. Angka tersebut tergolong tinggi karena ketika akan dijadikan biodiesel maka minyak nyamplung harus memenuhi SNI 04-7182-2006 yaitu mempunyai angka asam maksimal 0,8 mg KOH/gr. Oleh karena itu perlu adanya perlakuan terlebih

8 dahulu. Bilangan asam minyak menggambarkan banyaknya asam lemak bebas. Semakin tinggi bilangan asam, semakin tinggi pula kandungan asam lemak bebas dalam sampel tersebut. Nilai bilangan asam dapat digunakan untuk menentukan kualitas minyak, semakin tinggi bilangan asam yang dikandung dalam minyak, maka semakin tinggi tingkat kerusakan minyak (Ketaren, 1986). Asam lemak bebas secara alami akan terbentuk saat minyak keluar dari dalam membran sel. Asam lemak bebas ini akan meningkat akibat terjadinya reaksi hidrolisis selama proses pengambilan maupun penyimpanan minyak. Reaksi hidrolisis terjadi akibat reaksi kimia, pemanasan, proses fisika atau reaksi enzimatis. Hidrolisis minyak menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas yang mudah teroksidasi. Jadi semakin tinggi suhu, derajat asam yang diperoleh juga semakin tinggi. 6.7 Pengaruh Variabel Terhadap Angka Penyabunan Minyak Nyamplung Tabel 15. Tabel hasil analisa angka penyabunan minyak nyamplung Angka Variabel Suhu ( O C) Tekanan Masa minyak penyabunan (kg/cm 2 ) (gr) (mg KOH/g) 1 60 80 4,806 198,439 2 60 80 4,802 196,852 3 60 80 4,796 197,098 4 80 110 4,79 193,831 5 80 110 4,792 193,165 6 80 110 4,79 193,246 7 100 140 4,782 190,050 8 100 140 4,778 190,796 9 100 140 4,77 189,940 Gambar 11. Grafik Pengaruh Variabel Tehadap Angka Penyabunan

9 Dari grafik diatas menunjukan nilai angka penyabunan yang semakin menurun seirig naiknya suhu. Dimana angka penyabunan tergolong tinggi yaitu sebesar 189,940-198,439 mg KOH/g. Nilai angka penyabunan yang paling rendah ada pada suhu 100 o C dimana angka penyabunan sebesar 190,050-189,94 mg KOH/g. Sedangkan angka penyabunan tertinggi yaitu sebesar 197,098-198,439 mg KOH/g (suhu 60 o C). Penurunan angka penyabunan ini dikarenakan semakin tinggi suhu maka proses oksidasi meningkat sehingga angka asam meningkat dan semakin sedikit minyak yang tersabunkan. Menurut Balitbang Kehutanan, 2008 angka nilai angka penyabunan minyak nyamplung adalah 198,1 mg KOH/g. Pada percobaan yang didapat masih dalam batas toleransi sehingga minyak yang didapat memiliki kualitas baik. Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram minyak atau lemak.