Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan

dokumen-dokumen yang mirip
Hemolisis Eritrosit Babi Landrace Jantan yang Dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

HASIL DAN PEMBAHASAN

Waktu Retraksi Bekuan Darah pada Sapi Bali

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma

Kata kunci: Fascioliosis, total eritrosit, kadar hemoglobin,pakced cell voleme, Sapi Bali

ABSTRAK. Kata kunci : kambing kacang, eritrosit, Denpasar Barat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2. : ISSN : Agustus 2011 GAMBARAN SEL DARAH MERAH SAPI BALI (STUDI RUMAH POTONG)

GAMBARAN HEMATOLOGI DOMBA SELAMA TRANSPORTASI : PERAN MULTIVITAMIN DAN MENIRAN

BAB I PENDAHULUAN. benar sehingga memberikan hasil yang teliti dan akurat dengan validasi

III. METODE 3.1. Waktu dan Tempat 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Tahap Persiapan Hewan Percobaan Aklimatisasi Domba

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. laboratorium dituntut untuk memberikan hasil yang tepat, cepat dan akurat.

Praktikum II UJI OKSIHEMOGLOBIN & DEOKSIHEMOGLOBIN

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH CARA WESTERGREN MENGGUNAKAN DARAH EDTA TANPA PENGENCERAN DENGAN CARA OTOMATIK

BAB 1 PENDAHULUAN. mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. Fungsi dari

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Peralatan Prosedur

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Mei sampai dengan Juli 2016,

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PERSETUJUAN... HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI... ABSTRAK... ABSTRACK... v KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN. Tuak merupakan hasil sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren

BAB I PENDAHULUAN. Semakin tingginya tingkat pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan

BAB III MATERI DAN METODE. Diponegoro, Semarang. Kegiatan penelitian berlangsung dari bulan Mei hingga

KORELASI KADAR HEMOGLOBIN BEBAS DAN F 2α -ISOPROSTAN PLASMA PACKED RED CELL SELAMA PENYIMPANAN DI BANK DARAH

MATERI DAN METODA Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan Vaksin AI-ND Pakan Kandang dan Perlengkapannya

Apa itu Darah? Plasma Vs. serum

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 di kandang peternak di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2014 di kandang ayam petelur Varia Agung

Pengaruh Pemberian Susu Skim dengan Pengencer Tris Kuning Telur terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi pada Suhu Penyimpanan 5ºC

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli Oktober Pembuatan ekstrak

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c

MATERI DAN METODA. Kandang dan Perlengkapannya Pada penelitian ini digunakan dua kandang litter sebesar 2x3 meter yang

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian analitik.

PRAKTIKUM ISOLASI DNA DAN TEKNIK PCR

PERBEDAAN FRAGILITAS ERITROSIT ANTARA SUBYEK YANG JARANG DENGAN YANG SERING TERPAPAR SINAR MATAHARI

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Darah merupakan salah satu komponen yang paling penting di dalam tubuh

BAB I PENDAHULUAN. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH

3. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian 3.2. Hewan Coba dan Pemeliharaannya 3.3. Alat dan Bahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Selama proses pencernaan, karbohidrat akan dipecah dan diserap di dinding

Tujuan Praktikum Menentukan waktu beku darah (waktu koagulasi darah) dari seekor hewan/manusia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2015.

SURYA AGRITAMA Volume 2 Nomor 1 Maret PROFIL DARAH KAMBING JAWARANDU PENGARUH SUBTITUSI ARAS DAUN PEPAYA (Carica Papaya Leaf)

GAMBARAN KADAR TRIGLISERIDA (METODE GPO- PAP) PADA SAMPEL SERUM DAN PLASMA EDTA

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Energi Protein Ransum terhadap Total Protein Darah Ayam Lokal Jimmy Farm

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. primitive sampai manusia. Darah dalam keadaan fisiologik selalu berada dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2009

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian pengaruh penambahan kolin klorida pada pakan terhadap kadar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat penting bagi dokter yang bertugas di laboratorium, dokter

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Kandang dan Peralatan Ransum

Waktu Beku Darah Sapi Bali

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(4): , November 2016

BUKU PANDUAN KERJA KETERAMPILAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH DAN GLUKOSA URIN

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Kandang Penelitian

DAYA HIDUP SPERMATOZOA EPIDIDIMIS KAMBING DIPRESERVASI PADA SUHU 5 C

PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT... PERIODE LAKTASI TERHADAP BERAT JENIS, KADAR LEMAK DAN KADAR BAHAN KERING SUSU SAPI

BAB VII DARAH A. SEDIAAN NATIF DARAH.

PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH (LED) SEBAGAI INDIKATOR TERHADAP ABNORMALITAS ORGAN HATI KAMBING LOKAL

MATERI DAN METODE. Materi

PENGARUH PENUNDAAN PEMERIKSAAN TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN PARAMETER ERITROSIT MENGGUNAKAN HEMATOLOGY ANALYZER SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Analitik, mengingat

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksperimental yang dilakukan untuk

3. METODE PENELITIAN

Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK:

BAB 3 METODE PENELITIAN

Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III MATERI DAN METODE. ransum terhadap profil kolesterol darah ayam broiler dilaksanakan pada bulan

III. METODE PENELITIAN

III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah puyuh (Coturnix coturnix

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai

Lampiran 1. Prosedur Pengukuran Kadar Kolesterol dan Trigliserida Darah Itik Cihateup. a. Menyiapkan itik Cihateup yang akan diambil darahnya.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul performans darah kambing peranakan ettawa dara

Hubungan Umur, Bobot dan Karkas Sapi Bali Betina yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan Temesi

BAB I PENDAHULUAN. lain. Salah satu fungsi darah adalah sebagai media transport didalam tubuh, volume darah

kalsium dengan menggunakan plasma darah yang ditambahkan pereaksi TCA pada berbagai ternak. Bahan Bahan yang digunakan meliputi : (1) Larutan Stronsiu

BAB I PENDAHULUAN. darah rutin yang sering dilakukan di laboratorium( Dep Kes RI Th1995 ).

BAB III METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi Semen Segar

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian Post Test. Randomized Control Group Design.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berbentuk cakram dan mengandung granula. Terdapat keping

KAJIAN KEPUSTAKAAN. besar pasang gen yang masing-masing dapat berperan secara aditif, dominan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung elektrolit. (Muttaqin Arif, 2009) trombosit, dan komponen lainnya. (A.V. Hoffbrand dan J.F. Pettit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian-bagian darah yang berasal dari donor kepada seorang penderita (resipien).

BAB I PENDAHULUAN. pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi meliputi kadar hemoglobin,

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Pertanian ISSN Volume 2 Nomor 1, April PENGARUH VITAMIN B 2 (Riboflavin) TERHADAP DAYA TAHAN SPERMATOZOA DOMBA PADA SUHU KAMAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan ERYTHROCYTE MEMBRANE OSMOSIS PRESSURE ON MALES BALI CATTLE Ardi Apriandi 1), Siswanto 2), I Nyoman Sulabda 2) 1 Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Hewan, 2 Laboratorium Fisiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jalan PB. Sudirman, Denpasar, Bali; Telp/Fax : (0361-223791) Email: ardiapriandi@ymail.com ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan. Materi yang digunakan yaitu 30 ekor sapi dewasa ( kondisi klinis sehat, tanpa memperhatikan asal, dan pakan yang diberikan) yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran, Denpasar. Metode penentuan tekanan osmosis yang dipakai menggunakan metode Swenson (2005), 2 ml darah sapi (diambil dari vena jugularis/saat disembelih), ditaruh dalam tabung reaksi yang telah diisi antikoagulan EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic). Kemudian disimpan dalam termos dingin dan segera diuji di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa tekanan osmosis membran eritrosit darah sapi bali sebagai berikut : hemolisis awal terjadi pada rata-rata 0,94 Osm/L (± 0.06) dengan rentang 0,85 Osm/L 1,03 Osm/L. Rataan total hemolisis 0,51 Osm/L (± 0,037) dengan rentang 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L. Kata Kunci :Tekanan osmosis, eritrosit, sapi bali. ABSTRACT The purpose of research to determine erythrocyte membrane osmosis pressure in bali cattle. The materials used were 30 adult cows (healthy clinical condition, regardless of origin, and the feed given) were slaughtered in Abattoirs Pesanggaran, Denpasar. The method of determining the osmotic pressure used method Swenson (2005), 2 ml of cow blood (taken from jugular vein / when slaughtered), placed in a test tube which has been filled anticoagulant EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic). Then stored in a cold thermos and immediately tested in the laboratory. The results showed that the osmotic pressure of the blood erythrocyte membrane bali cattle as follows: initial hemolysis occurred at an average of 0,94 Osm/L (± 0:06) with a range of 0,85 Osm/L-1,03 Osm/L. Mean total hemolysis 0,51 Osm/L (± 0.037) with a range of 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L. Keywords : Osmosis pressure, erythrocytes, bali cattle. 9

PENDAHULUAN Sebagai hewan yang diunggulkan, sapi bali mempunyai nilai mutu yang tinggi, dan nilai mutu ini ditentukan oleh faktor fisik dan genetik (Ismed, 1990). Faktor genetik menentukan fisiologis sapi itu sendiri. Nilai fisiologis dapat dilihat dari profil darahnya, misalnya jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokritnya (Siswanto, 2011). Status kesehatan hewan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratoris. Pemeriksaan laboratoris sangat penting dan berperan dalam membantu menetapkan diagnosis suatu penyakit. Oleh karena itu, dewasa ini kebutuhan pemeriksaan laboratoris terhadap material yang berasal dari hewan sakit atau diduga sakit sudah menjadi keharusan (Dharmawan, 2002). Pemeriksaan hematologi sering digunakan untuk mengetahui kelainan darah pada hewan dan manusia. Pemeriksaan darah pada hewan meliputi antara lain PCV (pocket cell volume), kadar Hemoglobin, pemeriksaan eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (keping darah) (Kerr, 2002). Salah satu pemeriksaan eritrosit adalah uji tekanan osmosis membran eritosit. Pentingnya mengetahui tekanan osmosis membran eritrosit adalah berkaitan dengan therapy infuse pada hewan apabila diperlukan pada hewan yang sakit (misalnya kekurangan cairan). Tekanan osmosis juga dapat digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya hemolisis, adapun data tentang tekanan osmosis membran eritrosit sapi bali belum banyak di teliti dan dipublikasikan. Oleh karenanya penting kiranya untuk dilakukan penelitian tentang tekanan osmosis membran eritrosit darah sapi bali jantan, sehingga akan diketahui dan dipelajari berapa besar tekanan osmosis membran eritrosit pada sapi bali jantan tersebut. Dari data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan informasi data fisiologis tentang tekanan osmosis membran eritrosit darah sapi bali jantan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan 30 sampel darah sapi bali jantan yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran, Denpasar. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah larutan NaCl 5%, EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic), dan aquades. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi dan raknya, pipet ukur kapasitas 1 ml dan 5 ml, termos/ cold box, labu ukur kapasitas 100 ml dan pipet tetes (dropper disposable pipet). 10

Metode penentuan hemolisis merujuk pada Swenson (2005) yaitu dengan cara mengambil 2 ml darah yang baru keluar dari luka pemotongan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang mengandung EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic) sebagai antikoagulan, dalam hal ini darah diambil dari sapi bali jantan. Kemudian dibolak-balik agar tidak menggumpal, selanjutnya dimasukkan ke dalam termos dingin, dan segera dibawa ke laboratorium untuk ditentukan hemolisisnya dan total hemolisis dengan menggunakan seri larutan NaCl. Prosedur penentuan hemolisis yaitu diambil larutan NaCl 5% berturut-turut sebanyak 0,9 ml; 0,85 ml; 0,8 ml; 0,75mL; 0,7 ml; 0,65 ml; 0,6 ml; 0,55 ml; 0,5 ml; 0,45 ml; 0,4 ml; 0,35 ml; dan 0,3 ml, masing-masing dimasukkan ke dalam seri tabung reaksi. Kemudian ditambahkan aquades ke masing-masing tabung tersebut sampai volumenya 5 ml. Dengan demikian akan diperoleh larutan NaCl dengan kadar 0,9%; 0,85%; 0,8%; 0,75%; 0,7% 0,65%; 0,6%; 0,55%; 0,5%; 0,45%; 0,4%; 0,35%; dan 0,3%. Langkah berikutnya adalah menambahkan lima tetes darah sapi bali jantan ke dalam masing-masing tabung tersebut dengan menggunakan pipet tetes lalu dibolak-balik agar bercampur secara merata. Kemudian ditaruh pada rak tabung ditunggu sampai tiga jam untuk menunggu terjadinya proses hemolisis. Pengamatan hemolisis dilakukan pada lapis bagian atas (cincin plasma), bila bagian plasma berwarna merah berarti eritrosit telah mengalami hemolisis. Titik fragilitas eritrosit (initial hemolisis) terlihat warna merah di bagian atas (plasma) pada urutan tabung yang paling pertama (kadar NaCl terbesar dalam seri larutan). Sedangkan bila pada tabung terbentuk warna merah jernih tanpa adanya endapan eritrosit, menunjukkan terjadinya pecah eritrosit secara keseluruhan (hemolisis total). Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis secara diskriptif dengan satuan tekanan osmosis menggunakan osmolar (Osm) (Urip, 2012). Untuk menentukan osmolar menggunakan rumus : Untuk mencari mole dengan rumus : 11

Solute : Berat mol NaCl = berat atom Na = 23 g/mole dan Cl = 35.5 g/mole Solvent : berat aquades = 100 ml = 0.1 L Contoh : Larutan 0.9% NaCl bila dikonversi ke dalam osmolar adalah sebagai berikut: /L HASIL Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai tekanan osmosis membran eritrosit sapi bali jantan di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar, didapatkan hasil bahwa hemolisis awal terjadi pada rata-rata 0,94 Osm/L (± 0,06) dengan rentang 0,85 Osm/L 1.03 Osm/L. Sedangkan total hemolisis pada rata-rata 0,51 Osm/L (± 0,037) dengan rentang 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L. Gambar Uji Hemolisis dengan Konsentrasi 0.90 % - 0.30 % NaCl. 3 Keterangan : 1. Menunjukkan darah masih dalam larutan isotonis, sehingga tidak terjadi hemolisis. 2. Menunjukkan mulai terjadinya perubahan warna kemerahan pada plasma yang mengindikasikan hemolisis awal. 3. Menunjukkan terjadinya hemolisis total, terlihat dari larutan berwarna merah jernih dan dapat ditembus oleh cahaya 2 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata awal hemolisis eritrosit sapi bali jantan adalah 0,94 Osm/L dan total hemolisis pada rata-rata 0,51 Osm/L, hasil tersebut bila dibandingkan dengan peneliti lain tidak jauh berbeda, seperti yang didapatkan Swenson (2005) bahwa tekanan osmosis membran eritrosit sapi jenis FH adalah 0,77 Osm/L terjadi initial hemolisis, dan pada 0,51 Osm/L terjadi hemolisis total. Sedang Toshiaki, M dan Yasushi I (1979) melaporkan 12

bahwa eritrosit sapi FH pada 0,60 Osm/L terjadi haemolisis total (100%) dan 0,77 Osm/L lisis 95 %, pada 0,85 Osm/L terjadi initial hemolisis. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan osmosis membran eritrosit secara fisiologis, menurut Swenson (2005) dan Adenkola (2011), status nutrisi, temperatur lingkungan, dan genetik dapat mempengaruhi tekanan osmosis membran eritrosit. Status nutrisi akan mempengaruhi komposisi penyusun membran eritrosit, seperti pendapat Tortora dan Graboeski (2006) bahwa penyusun eritrosit terdiri dari fosfolipid, glikolipid, kolesterol, dan protein (glikoprotein), dimana komponen tersebut sangat tergantung pada status nutrisi yang dikonsumsi oleh hewan. Negrete et al (1996) melaporkan bahwa makanan yang mengandung biji kapas dapat meningkatkan fragilitas eritrosit (menurunkan tekanan osmosis membran eritrosit). Keadaan lingkungan (misalnya suhu lingkungan), contohnya hewan onta di padang pasir akan mempunyai tekanan osmosis membran eritrosit lebih tinggi dari pada hewan yang hidup di daerah basah, ini terjadi karena pada tempat yang mempunyai temperatur tinggi, seekor hewan akan lebih banyak menghemat air tubuh dan sering kekurangan cairan. Akibatnya kekentalan darah akan meningkat, sehingga akan meningkatkan tekanan osmosis membran eritrosit, dan pada gilirannya akan menurunkan fragilitas eritrosit. Diperkuat oleh pendapat Oyewale, (1991) bahwa darah kambing pada daerah temperatur lingkungan yang tinggi dan ph asam menurunkan fragilitas eritrosit. Sementara itu Oyewale (1993) berpendapat bahwa penyimpanan darah domba dalam refrigator pada suhu 10 0 C selama 24 jam dapat meningkatkan tekanan osmosis membran eritrosit, dan penggunaan antikoagulan (EDTA = Ethyline Diamine Tetra Acetic) juga dapat meningkatkan tekanan osmosis membran eritrosit. Dikatakan juga bahwa penggaruh EDTA lebih besar dari pada heparin. Adanya perbedaan tekanan osmosis dinding ertrosit sapi Bali dengan jenis sapi lainnya adalah karena faktor ras, genetik, makanan dan daerah (lingkungan). SIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara fisiologis titik fragilitas (hemolisis awal) terjadi pada rata-rata 0,94 Osm/L (± 0,06) dengan rentang 0,85 Osm/L 1,03 Osm/L dan total hemolisis pada rata-rata 0,51 Osm/L (± 0.37) dengan rentang 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L. 13

SARAN Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tekanan osmosis dinding eritrosit sapi bali yang dipelihara oleh masyarakat dengan metode spectrophotometer seperti yang dilakukan oleh Matsuzawa dan Ikarasi (1979) dan apabila melakukan infuse pada sapi bali jantan dapat dilakukan dengan konsentrasi larutan NaCl diatas 0.6% sampai 0.9% (1.03 Osm/L sampai 1.5 Osm/L). DAFTAR PUSTAKA Adenkola, A.Y., Agbendeh, J., Okpe, J (2011). Comparative Assessment of Erythrocyte Osmotic Fragility of Apperently Healthy Goat and Cattle During the Hot-Dry and Harmattan Season in Makurdi. Nigeria. Dharmawan, N. S. (2002). Pengantar Patologi Klinik Veteriner, Hematologi Klinik. Universitas Udayana. Denpasar. Ismed, P. (1990). Upaya Peningkatan Mutu Genetik Sapi Bali di P3 Bali. Kumpulan Makalah Utama dan Abstrak. Fapet, Unud. Denpasar. Kerr, M. G. (2002). Veterinary Laboratory Medicine Clinical Biochemistry and Haematology. Blackwell Scince Ltd. Oxford. London. Matsuzawa, T and Y. Ikarashi (1979). Haemolysis of Various Mammalian Erythrocyte in Sodium Chloride, Glucose and Phosphate-buffer Solutions. Laboratory Animals (1979) 13, 329-331. Negrete, JC., HE Kiesling, TT. Ross, JF. Smith (1996). Effect of Whole Cottonseed on Serum Constituent, Fragility of Erythrocite Cells and Reproduction of Growing Holstein Heifers. Journal of Dairy Science. Vol : 79, Issue 11. Nop 1996. P. : 2016-2023. Oyewale, JO (1991). Osmotic Fragility of Erythrocyte of West African Dwarf Sheep and Goats : Effect of Temperature and ph. Britist Veterinary Journal. Vol. 147, Issue 2, March-Aprile 1991, p. 163-170. Oyewale, JO (1993). Effect of Storage of Blood on the Osmotic Fragility of Mammalian Erythrocyte. Journal of Veterinary Medicine Series A, Vol. 40, p. 258-264. Siswanto. (2011). Gambaran Sel Darah Merah Sapi Bali (Studi Rumah Potong). Buletin Veteriner Udayana. Vol. 3 No. 2 Hal. 99-105. ISSN 1411-8327. Denpasar. Swenson, M.J. (2005). Duke s Physiology of Domestic Animals. Comstock Pub., Asso. A Division of CornellUniv. Press Itacha and LA. 14

Torrtora, G. J and B. Derrickson. 2006. Principles of Anatomy and physiology 11 th ed. New Jersey : Wiley Urip. 2012. Perhitungan Molaritas Dan Molalitas Larutan Dari Massa Dan Densitas. http://urip.wordpress.com/2012/11/02/perhitungan-molaritas-dan-molalitas-larutan-darimassa-dan-densitas/?relatedposts_exclude=5788. Tanggal akses 15 desember 2012 pukul 14.22 wita. 15