UPAYA ASEAN DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK LAUT CINA SELATAN TAHUN Abstract

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Samudera Pasifik, yang meliputi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Situasi politik keamanan di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun

DAFTAR ISI. I.6.1 Kelemahan Organisasi Internasional secara Internal I.6.2 Kelemahan Organisasi Internasional dari Pengaruh Aktor Eksternal...

2 dunia. Kerjasama yang terjalin diantara negara-negara menjadikan status antar negara adalah partner bukan musuh sehingga keinginan untuk saling bers

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP TIONGKOK DALAM SENGKETA KEPEMILIKAN LAUT CINA SELATAN TAHUN Abstract

BAB I PENDAHULUAN. Asia Tenggara merupakan suatu kawasan di Asia yang memiliki sekitar

KONFLIK LAUT TIONGKOK SELATAN [DEWI TRIWAHYUNI]

BAB III KONFLIK LAUT CINA SELATAN. itu bernama Cina memproduksi peta LCS dengan 9 garis putus-putus dan

sebagai seratus persen aman, tetapi dalam beberapa dekade ini Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang cenderung bebas perang.

91 menganut prinsip penyeleasaian sengketa dilakukan dengan jalan damai maka ASEAN berusaha untuk tidak menggunakan langkah yang represif atau dengan

BAB I PENDAHULUAN. kini mulai memanas kembali dan mulai mengancam persatuan ASEAN. Konflik ini

BAB I PENDAHULUAN. oleh United Nations Security Council yang menyebabkan berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. 1

MUHAMMAD NAFIS PENGANTAR ILMU TEKNOLOGI MARITIM

BAB I PENDAHULUAN. makhluk individu, negara juga memiliki kepentingan-kepentingan yang harus

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat masih berupa non-intervensi. Namun ketika Perang Dunia Kedua

BAB V PENUTUP. diatur oleh hukum internasional yakni okupasi terhadap suatu wilayah harus

JURNAL. Disusun oleh: REIGER MAHULE JELA JELA NPM : Program Kekhususan : Hubungan Internasional. Dosen Pembimbing I : H.

KONFLIK & MANAJEMEN KONFLIK DI ASIA TENGGARA PASKA PERANG DINGIN DALAM PERSPEKTIF KEAMANAN TRADISIONAL DEWI TRIWAHYUNI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. juta km² dan mempunyai kedalaman sekitar meter. 1 Laut China Selatan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

BAB V KESIMPULAN. penangkapan bertanggung jawab. Illegal Fishing termasuk kegiatan malpraktek

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV KESIMPULAN. Perkembangan pada konstalasi politik internasional pasca-perang Dingin

JURUSAN SOSIAL YOGYAKARTA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Organisasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Namun tidak semua negara memiliki wilayah lautan. Wilayah lautan hanya

BAB V KESIMPULAN. Laut China Selatan sebagai perairan semi tertutup telah berstatus konflik. Konflik yang

HUBUNGAN INTERNASIONAL DI ASIA TENGGARA PADA ERA PERANG DINGIN. Dewi Triwahyuni

BENTUK KERJA SAMA ASEAN

UU 9/1997, PENGESAHAN TREATY ON THE SOUTHEAST ASIA NUCLEAR WEAPON FREE ZONE (TRAKTAT KAWASAN BEBAS SENJATA NUKLIR DI ASIA TENGGARA)

BAB I PENDAHULUAN. ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah organisasi

BAB I PENDAHULUAN. adanya pengaturan mengenai perjanjian (treaties), hak dan kewajiban raja, hukum

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

PERAN INDONESIA DALAM ORGANISASI REGIONAL

KERJA SAMA KEAMANAN MARITIM INDONESIA-AUSTRALIA: TANTANGAN DAN UPAYA PENGUATANNYA DALAM MENGHADAPI KEJAHATAN LINTAS NEGARA DI PERAIRAN PERBATASAN

BAB I PENDAHULUAN. yaitu di daerah Preah Vihear yang terletak di Pegunungan Dangrek. Di

BAB I PENDAHULUAN. J. Suatma, Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015, Jurnal STIE Semarang, vol.4 no.1, 2012.

BAB I PENDAHULUAN. Berakhirnya Perang Dingin membawa perubahan-perubahan besar. dan terjadi dengan sangat cepat dalam sistem internasional.

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN UMUM PERTAHANAN NEGARA PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. tidak boleh menyimpang dari konfigurasi umum kepulauan. 1 Pengecualian

Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, III

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN UMUM PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011

LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

AKTOR NEGARA DAN NON NEGARA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL. Pengantar Hubungan Internasional FISIP UMJ 2017

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 184 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu

BAB I PENDAHULUAN. Laut memiliki peranan penting baik itu dalam sudut pandang politik,

BAB I PENDAHULUAN. geografis. Kecenderungan inilah yang sering dinamakan regionalisme.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada zaman Romawi, penguasaan laut belum menimbulkan persoalan

BAB I PENDAHULUAN. yang melimpah membuat beberapa Negara di Eropa mempunyai niat untuk

BAB 5 KESIMPULAN. Kebijakan nuklir..., Tide Aji Pratama, FISIP UI., 2008.

BAB V KESIMPULAN. wilayah, tindakan atas hak dan kewajiban yang dilakukan di laut baik itu oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

Upaya ARF Dalam Penyelesaian Konflik Klaim Kepulauan Spratly. M.Khalil Afif 1 NIM Abstract

memperoleh status, kehormatan, dan kekuatan dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, serta pengaruhnya di arena global.

BAB 4 KESIMPULAN. 97 Universitas Indonesia. Dampak pengembangan..., Alfina Farmaritia Wicahyani, FISIP UI, 2010.

Kompleksitas Sengketa Celah Timor

PENGARUH TIONGKOK DAN AMERIKA SERIKAT DI LAUT CHINA SELATAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP INDONESIA BAB I PENDAHULUAN

TOPIK KHUSUS DIPLOMASI INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. yang akan diancam kemungkinan kemusnahan yang belum pernah terjadi

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB IV KEBIJAKAN PEMERINTAHAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO TERHADAP KONFLIK LAUT CHINA SELATAN

SENGKETA KEPEMILIKAN KEPULAUAN SPRATLY DI LAUT CHINA SELATAN BERDASARKAN UNCLOS III (UNITED NATIONS CONVENTION ON THE LAW OF THE SEA) TAHUN 1982

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional 4. Kedaulatan

BAB V PENUTUP. Akhir-akhir ini masalah yang menjadi keprihatinan umat manusia di seluruh dunia dan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 1988 (4/1988) TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN UMUM PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengenai dilaksanakan atau tidaknya kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam

Ketika Capres bicara Kedaulatan, Batas Maritim dan Laut China Selatan. I Made Andi Arsana, Ph.D.

BAB I PENDAHULUAN. internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu,

ASIA PACIFIC PARLIAMENTARY FORUM (APPF)

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

RENCANA AKSI KEBIJAKAN KELAUTAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

Kerja sama ekonomi internasional

KEPENTINGAN NASIONAL CHINA DALAM KONFLIK LAUT CINA SELATAN

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IUU FISHING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA. Oleh Prof. Dr. Hasjim Djalal. 1. Wilayah perbatasan dan/atau kawasan perbatasan atau daerah perbatasan

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah laut dalam perkembangannya kini tidak lagi berfungsi hanya

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan

KERJASAMA ASEAN DALAM BERBAGAI BIDANG

BAB I PENDAHULUAN. anggota masyarakat itu juga membutuhkan hubungan satu sama lainnya, lainnya untuk memenuhi kebutuhan negaranya.

PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI INTERNASIONAL LAN (2006) 1

TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL TERHADAP REKLAMASI PULAU-PULAU YANG DIPERSENGKETAKAN DI LAUT CHINA SELATAN OLEH REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK JURNAL

BAB III ISU PERBATASAN LAUT CINA SELATAN CINA-ASEAN. ASEAN secara komprehensif, konflik ini sebenarnya lebih terpusat pada tumpang tindih

LAUT TIONGKOK SELATAN: PROBLEMATIKA DAN PROSPEK PENYELESAIAN MASALAH 179 Ahmad Almaududy Amri 180. Abstrak

BAB II KLAIM TIONGKOK TERHADAP LAUT CHINA SELATAN DAN NATUNA. Dalam bab ini akan dijelaskan alasan Tiongkok mengklaim wilayah Laut China Selatan

DILEMA KEAMANAN ASEAN DALAM KONFLIK LAUT CINA SELATAN. Oleh : Dewi Triwahyuni

Transkripsi:

UPAYA ASEAN DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK LAUT CINA SELATAN TAHUN 2010-2015 Oleh: Anugerah Baginda Harahap Email: anugerahbaginda@yahoo.com Pembimbing: Afrizal, S.IP M.A Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Riau Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru, 28293 Abstract This research describes roles of ASEAN in resolution conflict of South China Sea in 2010-2015. South China Sea are one of High Seas in International seas that have a 3,5 million mil. South China Sea has a big potency in a mineral resources and as a international matirim ways. Since 1974 Tiongkok has claim South China Sea as a their territory and it s make a complain from the ASEAN member state especially Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam, Vietnam and Filiphina. The writer collects data from books, encyclopedia, journal, mass media and websites to analyze the roles of ASEAN in resolution conflict of South China Sea. The theories applied in this research are pliralism perspective with the international organization theory by Clive Archer. The result of this research shows that the roles of ASEAN in resolution conflict of South China Sea are used by diplomacy ways approach and instrument of international law. Some effort of ASEAN are in 2011 ASEAN has implemented code of Conduct dan Declaration on the Conduct (DOC) of Parties in the South Tiongkok Sea, ASEAN member has optimaled ASEAN Regional Forum ways and ASEAN Political Security Community in resolution conflict of South China Sea and ASEAN members held a ministrial meeting to create a peacefull in South Cina Seas territory. Key words: roles, ASEAN, conflic, South China Sea. JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 1

PENDAHULUAN Penelitian ini merupakan sebuah kajian diplomasi yang menganalisa mengenai upaya ASEAN dalam menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan. Secara geografis Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Samudera Pasifik, yang meliputi sebagian wilayah dari Singapura dan Selat Malaka hingga ke Selat Taiwan dengan luas sekitar 3,5 juta km². Berdasarkan ukurannya, Laut Cina Selatan ini merupakan wilayah perairan terluas atau terluas kedua setelah kelima samudera. Laut Cina Selatan merupakan sebuah perairan dengan berbagai potensi yang sangat besar karena di dalamnya terkandung minyak bumi dan gas alam dan selain itu juga peranannya sangat penting sebagai jalur distribusi minyak dunia, perdagangan, dan pelayaran internasional. Negara-negara dan wilayah yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan adalah (searah jarum jam dari utara) Republik Rakyat Cina (RRC) termasuk (Makau dan Hongkong), Republik Cina (Taiwan), Filiphina, Malaysia, Singapura, Brunei, Indonesia, dan Vietnam. Adapun sungai-sungai besar yang bermuara di Laut Cina Selatan antara lain sungai Mutiara (Guangdong). Min, Jiulong, Red, Mekong, Rajang, Pahang, dan Pasig. Secara geografis Laut Cina Selatan terbentang dari arah barat daya ke timur laut, yang batas selatan- nya 3,lintang antara Sumatera Selatan dan Kalimantan (Selat Karimata), dan batas utaranya ialah Selat Taiwan dari ujung utara Taiwan ke pesisir Fujian di Cina daratan. Laut Cina Selatan terletak di Sebelah Selatan Republik Rakyat Cina (RRC) dan Taiwan; di sebelah barat Filipina; di sebelah barat, Laut Sabah (Malaysia), Sarawak (Malaysia), dan Brunei; di sebelah utara Indonesia; di sebelah Timur Laut Semenanjung Malaya (Malaysia) dan Singapura; dan di sebelah Timur Vietnam. Kawasan Laut Cina Selatan bila dilihat dalam tata Lautan Internasional, merupakan kawasan yang memiliki nilai ekonomis, politis, dan strategis. Sehingga menjadikan kawasan ini mengandung potensi konflik serkaligus potensi kerja sama. Dengan kata lain, kawasan Laut Cina Selatan yang memiliki kandungan minyak bumi dan gas alam yang terdapat di dalamnya, serta peranannya yang sangat penting sebagai jalur perdagangan dan distribusi minyak dunia, menjadikan kawasan Laut Cina Selatan sebagai objek perdebatan regional selama bertahun-tahun. Kerangka dasar pemikiran diperlukan oleh penulis untuk membantu dalam JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 2

menetapkan tujuan dan arah sebuah penelitian serta memiliki konsep yang tepat untuk pembentukan hipotesa. Teori bukan merupakan pengetahuan yang sudah pasti tapi merupakan petunjuk membuat sebuah hipotesis. Dalam melakukan penelitian ini, dibutuhkan adanya kerangka pemikiran yang menjadi pedoman peneliti dalam menemukan, menggambarkan dan menjelaskan objek penelitian sekaligus menjadi frame bagi peneliti. Penulis menggunakan pendekatan pluralisme. Menurut Diana L. Eck, pluralisme merupakan suatu sistematika serta kerangka dimana terdapat beberapa kelompok atau bagian dari sistem lainnya dan saling berhubungan dengan basis saling menghargai dan menghormati antar sesama. Dalam perspektif pluralisme dijelaskan bahwa aktor non negara merupakan aktor penting dalam hubungan internasional. Hal ini berarti bahwa negara tidak selalu menjadi aktor utama. Organisasi internasional sebagai contoh, dapat menjadi aktor mandiri berdasarkan haknya. Lembaga ini memiliki pengambil kebijakan, para birokrat, dan berbagai kelompok yang dapat dipertimbangkan pengaruhnya terhadap proses pengambilan kebijakan. Terdapat empat asumsi penting dalam perspektif pluralisme, yaitu: 1. Aktor non negara (non state actors) merupakan salah satu unsur penting dalam dunia politik, seperti organisasi internasional, baik pemerintah maupun non pemerintah, MNCs, kelompok, ataupun individu. 2. Menurut kaum pluralis, negara bukanlah aktor tunggal (unitary actor), karena aktor-aktor lain selain negara juga memiliki peran yang sama pentingnya dengan negara. Dalam hal ini, negara terdiri dari individu (rakyat), kelompok kepentingan, dan birokrat lainnya. 3. Berbeda dengan kaum realis, kaum pluralis beranggapan bahwa negara bukanlah aktor rasional. Dalam pembuatan keputusan, aktor politik akan cenderung saling berkompromi, tergabung dalam sebuah forum atau kelompok lainya yang menggunakan posisi tawar (bargaining power), dan kepentingankepentingannya. 4. Agenda internasional bagi kaum pluralis lebih bersifat ekstensif. Masalah-masalah JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 3

yang dibahas tidak lagi terpaku pada masalah power atau national security, tetapi sudah meluas pada masalah-masalah sosial ekonomi, lingkungan, dan budaya. ASEAN adalah forum komunikasi tingkat regional negaranegara di kawasan Asia Tenggara. Saat ini fokus ASEAN dikenal dengan tiga pilar yaitu pilar keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Dengan adanya perspektif pluralis yang telah dikemukakan, maka tingkat analisis yang digunakan penulis adalah tingkat analisis perilaku kelompok. Tingkat analisis ini mengasumsikan bahwa yang menjadi fokus utama adalah mempelajari perilaku kelompokkelompok dan organisasi-organisasi yang terlibat di dalam hubungan internasional. Individu umumnya melakukan tindakan internasional dalam kelompok. Hubungan internasional sebenarnya adalah hubungan atau interaksi antar berbagai kelompok kecil di berbagai negara. Dengan demikian, dalam memahami hubungan internasional, kita harus mempelajari perilaku-perilaku kelompok kecil atau organisasiorganisasi yang terlibat dalam hubungan internasional. Pada penelitian ini penulis menggunakan teori organisasi internasional. Organisasi internasional dapat didefinisikan sebagai sebuah struktur formal yang berkesinambungan yang pembentukannya berdasarkan pada perjanjian antar anggota-amggotanya (pemerintah dan atau bukan pemerintah) dari dua atau lebih negara berdaulat dengan tujuan mencapai tujuan bersama dari para anggotanya. Menurut Leroy Bennet, fungsi utama dari organisasi internasional yaitu untuk mengadakan upaya-upaya kerjasama antarnegara dalam bidangbidang tertentu dimana kerjasama tersebut memberikan keuntungankeuntungan bagi seluruh maupun sebagian besar anggotanya. Selain itu penulis juga menggunakan teori peranan dalam organisasi internasional yaitu Peranan merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan dari seseorang atau dari struktur yang menduduki suatu posisi dalam sistem. Peranan dari struktur tunggal, maupun bersusun ditentukan oleh harapan orang lain atau perilaku peran itu sendiri, juga ditentukan oleh pemegang peran terhadap tuntutan dan situasi yang mendorong dijalankan perannya tadi. Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 4

suatu peranan. Clive Archer mengklasifikasikan organisasi internasional berdasarkan keanggotaan, tujuan, aktivitas, dan strukturnya. Jika dilihat dari keanggotaannya, organisasi internasional dapat dibagi lagi berdasarkan tipe keanggotaan dan jangkauan keanggotaan. Berdasarkan tipe keanggotaan, organisasi internasional dapat dibedakan menjadi organisasi internasional dengan wakil pemerintah negara-negara sebagai anggota atau Intergovernmental Organization (IGO), serta organisasi internasional yang anggotanya bukan mewakili pemerintah atau International Non-governmental Organization (INGO). Berdasarkan jangkauan keanggotaan, organisasi ada yang keanggotaannya terbatas dalam wilayah tertentu saja, dan ada yang keanggotaannya mencakup seluruh wilayah dunia. Dalam permasalahan upaya Negara anggota ASEAN dalam menyelesakan konflik Laut Cina Selatan atas klaim Tiongkok ini, maka ASEAN berperan sebagai organisasi internasional dengan wakil pemerintah negara-negara sebagai anggota atau Intergovernmental Organization (IGO) yang memiliki tugas dan fungsi sebagai forum komunikasi antar pemerintah negara dalam satu kawasan. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara historis, Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Samudera Pasifik, yang meliputi sebagian wilayah dari Singapura dan Selat Malaka hingga ke Selat Taiwan dengan luas sekitar 3,5 juta km². 1 Berdasarkan ukurannya, Laut Cina Selatan ini merupakan wilayah perairan terluas atau terluas kedua setelah kelima samudera. Laut Cina Selatan merupakan sebuah perairan dengan berbagai potensi yang sangat besar karena di dalamnya terkandung minyak bumi dan gas alam dan selain itu juga peranannya sangat penting sebagai jalur distribusi minyak dunia, perdagangan, dan pelayaran internasional. Negara-negara dan wilayah yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan adalah (searah jarum jam dari utara) Republik Rakyat Cina (RRC) termasuk (Makau dan Hongkong), Republik Cina (Taiwan), Filiphina, Malaysia, Singapura, Brunei, Indonesia, dan Vietnam. Adapun sungai-sungai besar yang bermuara di Laut Cina Selatan antara lain sungai Mutiara (Guangdong). Min, Jiulong, 1 www.anneahira.com, Laut Cina Selatan, 2011, diakses tanggal 24 Mei 2013 JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 5

Red, Mekong, Rajang, Pahang, dan Pasig. 2 Secara geografis Laut Cina Selatan terbentang dari arah barat daya ke timur laut, yang batas selatan- nya 3,lintang antara Sumatera Selatan dan Kalimantan (Selat Karimata), dan batas utaranya ialah Selat Taiwan dari ujung utara Taiwan ke pesisir Fujian di Cina daratan. Laut Cina Selatan terletak di Sebelah Selatan Republik Rakyat Cina (RRC) dan Taiwan; di sebelah barat Filipina; di sebelah barat, Laut Sabah (Malaysia), Sarawak (Malaysia), dan Brunei; di sebelah utara Indonesia; di sebelah Timur Laut Semenanjung Malaya (Malaysia) dan Singapura; dan di sebelah Timur Vietnam. Kawasan Laut Cina Selatan bila dilihat dalam tata Lautan Internasional, merupakan kawasan yang memiliki nilai ekonomis, politis, dan strategis. Sehingga menjadikan kawasan ini mengandung potensi konflik serkaligus potensi kerja sama. Dengan kata lain, kawasan Laut Cina Selatan yang memiliki kandungan minyak bumi dan gas alam yang terdapat di dalamnya, serta peranannya yang sangat penting sebagai jalur perdagangan dan distribusi minyak dunia, menjadikan kawasan Laut Cina Selatan sebagai objek perdebatan 2 Ibid. Hlm 21 regional selama bertahun-tahun. 3 Penemuan minyak dan gas bumi pertama di kepulauan ini adalah pada tahun 1968. Menurut data dari The Geology and Mineral Resources Ministry of the People s Republic of Tiongkok (RRC) memperkirakan bahwa kandungan minyak yang terdapat di kepulauan Spratly adalah sekitar 17,7 miliar ton (1,60 10 10 kg). Fakta tersebut menempatkan Kepulauan Spratly sebagai tempat tidur cadangan minyak terbesar keempat di dunia. Pertama, wilayah kawasan Laut Cina Selatan punya potensi ekonomi terutama kandungan minyak dan strategi militer terletak di pilihan laut internasional. Kedua, negara-negara yang bersengketa sangat membutuhkan minyak untuk kelangsungan industri maupun kelangsungan ekonomi nasionalnya. Sengketa teritorial di Laut Tiongkok Selatan (South Tiongkok Sea, atau SCS) ini diawali oleh klaim Tiongkok atas Kepulauan Spratly dan Paracel pada tahun 1974 dan 1992. 4 Hal ini dipicu oleh Tiongkok pertama kali mengeluarkan peta yang memasukkan kepulauan Spratly, Paracels dan Pratas. Pada tahun yang sama Tiongkok 3 http://militaryanalysisonline.blogspot.com/201 3/09/sengketa-kepulauan-spratly-potensi.html, 4 Ibid. Hlm 12 JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 6

mempertahankan keberadaan militer di kepulauan tersebut. Tentu saja klaim tersebut segera mendapat respon negara-negara yang perbatasannya bersinggungan di Laut Tiongkok Selatan, utamanya negara anggota ASEAN 5 (Association of Southeast Asian Nations). Adapun negara-negara tersebut, antara lain Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, dan Malaysia. Di Laut Cina Selatan terdapat empat kepulauan, dan karang yaitu: Paracel, Spratly, Pratas, dan kepulauan Maccalesfield. Meskipun sengketa teritorial di Laut Tiongkok Selatan tidak terbatas pada kedua gugusan kepulauan Spratly dan Paracel, (seperti perselisihan mengenai Pulau Phu Quac di Teluk Thailand antara Kamboja dan Vietnam), namun klaim multilateral Spratly dan Paracel lebih menonjol karena intensitas konfliknya. Sejak klaim Tiongkok atas kepulauan di Laut Tiongkok Selatan pada tahun 1974, Tiongkok menganggap Laut Tiongkok Selatan sebagai wilayah kedaulatan lautnya. Pada tahun 1974 ketika Tiongkok menginvasi kepulauan Paracel (yang diklaim Vietnam). Pada tahun 1979, Tiongkok dan Vietnam berperang sengit di perbatasan dan 5 www.eia.gov, US Energy Information and Administration, South Tiongkok Sea, 2008, diakses tanggal 24 Mei 2013. angkatan laut kedua negara bentrok di tahun 1988 yang menelan korban tenggelamnya kapal Vietnam. Pada tahun 1992, 1995, dan 1997, bersamaan dengan Filipina, Vietnam mengganggap Kepulauan Spartly dan Paracel adalah bagian dari wilayah kedaulatannya. 6, klaim kepemilikan atas kawasan Laut Cina Selatan yang dilakukan oleh Tiongkok sejak dekade 1970-an didasarkan pada tiga hal pokok yakni kemajuan ekonomi, politik dan kebutuhan akan pertahanan dan keamanan. Pertumbuhan penduduk yang tergolong cepat memungkinkan adanya peningkatan pemanfaatan energi minyak. Bagi Tiongkok, dalam jangka panjang cadangan minyak Laut Cina Selatan meskipun dalam jumlah yang belum pasti tetap akan digunakan untuk menopang kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan akan cadangan minyak berlebih dari sumber baru sudah dirasakan sejak pertengahan tahun 1970-an yakni ketika produksi minyak Tiongkok mengalami penurunan. Faktor eksternal yakni krisis minyak dunia juga turut memengaruhi perekonomian dalam negeri akan pentingnya cadangan 6 Evelyn Goh, 2005, Meeting the Tiongkok Challenge: The U.S. in Southeast Asian Regional Security Strategies, East-West Center Washington, hal. 31 JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 7

minyak. Kemerosotan ini terus berlanjut sampai dekade berikutnya meskipun tidak diketahui jumlahnya secara pasti. Kemungkinan fakta ini dipengaruhi oleh cepatnya pertumbuhan penduduk dan industrialisasi selama program modernisasi. Kecenderungan itu berdampak pada permintaan masyarakat terhadap sumber energi mineral terus bertambah. Sebagai konsekuensinya, Tiongkok harus meningkatkan impor minyak dan gas, memperbaiki kapabilitas berproduksi atau kerjasama gabungan dalam mengeksplorasi daerah tepi pantai. Meningkatnya kebutuhan Tiongkok akan minyak terlihat dari kebijakan impor pada tahun 1993. Menurut penilaian Hisahiro Kanayama dari Institute for International Policy Studies sampai bulan Juni 1994 diperkirakan kebutuhan energi Tiongkok terutama minyak akan melebihi jumlah produksinya. Guna mengurangi impor minyak, dalam jangka panjang negara ini memanfaatkan Laut Cina Selatan sebagai tempat memperoleh ladang minyak baru dan sekaligus sebagai jalur lalu lintas perdagangan. Dari aspek politik, klaim tersebut berkaitan dengan strategi politik luar negeri Tiongkok terhadap negara-negara Asia Tenggara. Laut Cina Selatan dianggap sebagai teritorial Tiongkok untuk memproyeksikan peranan strategisnya secara aktual. Keterlibatan Beijing dalam persengketaan tersebut sematamatahanya untuk menegaskan kembali perannya sebagai negara besar dalam percaturan regional. Berakhirnya konflik Kamboja telah mengubah peran Beijing yang sebelumnya memanfaatkan isu tersebut untuk menarik negara-negara non-komunis ke dalam pengaruhnya. Melalui langkah ini, Tiongkok dapat mengisolasi posisi Vietnam secara regional. Persoalan Laut Cina Selatan ini sangat berkaitan erat dengan negaranegara yang merupakan anggota ASEAN, karena beberapa negara ASEAN berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan yang tentunya juga punya kepentingan di wilayah Laut Cina Selatan, sehingga ASEAN dituntut untuk menyatakan sikap dalam persoalan tersebut. Akan tetapi sangat disayangkan adalah munculnya perpecahan di ASEAN dalam upaya penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan, sehingga ditakutkan konflik tersebut akan menjadi konflik terbuka dan mengganggu stabilitas regional Asia Tenggara. Dampak buruk lainnya dari permasalahan Laut Cina Selatan JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 8

tersebut adalah terjadinya perpecahan di antara anggota-anggota ASEAN seperti Kamboja yang menolak gagasan yang mengatakan bahwa ASEAN harus turut serta menyelesaikan permasalahan tersebut. Menurut pemerintah Kamboja, permasalahan tersebut cukup diselesaikan melalui penyelesaian secara bilateral dan tidak perlu adanya suatu deklarasi bersama seluruh anggota ASEAN terkait penyelesaian konflik Laut Cina Selatan tersebut. Beberapa upaya penting yang dilakukan oleh ASEAN dalam Menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan adalah sebagai berikut: 1. Negara Anggota ASEAN Mengadakan Pertemuan dalam Menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan Pada tahun 1971, ASEAN sudah berhasil melembagakan Asia Tenggara sebagai suatau wilayah keamanan, ketika para Menteri Luar Negeri menandatangani Declaration on the Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN). Deklarasi ZOPFAN itu merupakan pengejawantahan dan sikap ASEAN yang tidak mau menerima keterlibatan terlalu jauh dari negara-negara besar dari luar regional, seperti Amerika Serikat, RRC, Uni Soviet dan Jepang. ASEAN mengusahakn pengakuan dan penghormatan Asia Tenggara sebagai zona damai, bebas dan netral oleh kekuatan luar seraya memperluas kerja sama antara mereka sendiri sebagai prasyarat bagi memperkokoh kekuatan, kesetiakawanan dan keakraban mereka. 7 Pada salah satu lawatannya di Vietnam Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa mengutarakan dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Vietnam, Pham Binh Minh bahwa kedua negara berhasil mendiskusikan beberapa ide yang berkaitan dengan hal-hal yang mempersatukan ASEAN. Ide tersebut di identifikasi enam prinsip utama, antara lain: 1. Perlunya reafirmasi mengenai the Declaration on the Conduct of Parties kepada semua pihak di Laut Tiongkok Selatan 2. Perlunya afirmasi guidelines Declaration on the Conduct of Parties (DOC) 3. Perlunya afirmasi mengenai pentingnya suatu Code of Conduct 4. Penghormatan terhadap hukum internasional dan 5. Konvensi PBB mengenai Hukum Laut UNCLOS, serta 6. Penyelesaian masalah secara 7 C.P.F. Luhulima, 1997, ASEAN Menuju Postur Baru, CSIS, Jakarta, hlm. 53 JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 9

damai sesuai dengan UNCLOS Selain melakukan lawatan di kawasan ASEAN, pada pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Yang Jiechi di Jakarta Agustus lalu, kedua negara sepakat untuk meningkatkan stabilitas di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Dalam pertemuan ini Presiden Indonesia dan Menteri Luar Negeri Tiongkok menggaris bawahi pentingnya ASEAN serta Tiongkok untuk fokus pada penyusunan deklarasi tata berperilaku (DOC) menuju kode tata perilaku (COC). 2. Tahun 2011 ASEAN menerapkan kode etik konflik laut Cina Selatan Sejauh ini upaya negara-negara ASEAN termasuk Indonesia dalam mencegah terjadinya konflik terbuka adalah dengan penyusunan Kode Etik Konflik di Laut Cina Selatan (Code of Conduct on South Tiongkok Sea). Kode Etik Konflik di Laut Cina Selatan ini berupaya membuat aturan larangan berkonflik khususnya bagi negara-negara yang memiliki kepentingan di Laut Cina Selatan. Konflik di Laut Cina Selatan ini diharapkan dapat dikembangkan lagi di antara negara-negara ASEAN untuk membuat aturan larangan berkonflik dengan sesama anggota maupun dengan negara mitra di luar kawasan. Selain untuk menyelesaikan konflik, Kode Etik Konflik di Laut Cina Selatan ini juga diharapkan nantinya dapat mengembangkan kerja sama di Laut Cina Selatan antar sesama negara anggota maupun dengan negara di luar kawasan ASEAN. Kegagalan ASEAN dalam memberikan solusi bagi upaya penyelesaian sengketa hanya akan membuat Vietnam dan Filipina beralih ke Amerika Serikat sebagai kekuatan penyeimbang Cina di kawasan. Hingga kini Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka tetap netral dalam sengketa yang terjadi meskipun Filipina telah meminta bantuan secara tidak langsung kepada Amerika Serikat. Pada akhirnya permasalahan sengketa wilayah antar beberapa negara Asia Tenggara dengan Cina turut menjadi permasalahan ASEAN mengingat dampaknya yang tidak hanya mengganggu stabilitas kawasan namun juga global. 3. ASEAN mengoptimalkan peran ASEAN Regional Forum dalam Penyelesaian Sengketa Laut Cina Selatan Konstelasi politik dan keamanan global semakin beragam, dengan dinamika yang terjadi di berbagai sub regional dan regional. Dinamika global kini terfokus pada geostrategis di kawasan Pasifik, JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 10

dimana kekuatan negara-negara selama ini seperti Amerika Serikat, Russia, Kanada, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Dari beberapa negara kuat dan memiliki kapasitas bargaining position tinggi, yakni yang menjadi ketertarikan di masa kini adalah kebangkitan Tiongkok. Dinamika Asia Tenggara yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal tetapi faktor eksternal berasal dari Asia Timur (Tiongkok), dan Asia Selatan (India), yang merupakan dua sumber pengaruh dinamika yang pertemuannya di Asia Tenggara. Berarti dinamika yang terjadi di Asia Tenggara berpeluang menimbulkan kondisi ketidakstabilan regional, sehingga mendapatkan respon dan tindakan internasional. Begitu pentingnya peran kedua negara ini dalam pengaruh dinamika Asia Tenggara, sebab itu ASEAN menuntut untuk memprioritaskan terhadap keamanan regional menjadi pengatur stabilitas dinamika yang terjadi di Asia Tenggara. Tiongkok sendiri, bagi ASEAN sangat dibutuhkan dibanding beberapa negara di Asia Timur lainnya, karena Tiongkok memiliki kepentingan geopolitik negara tersebut dan sekaligus mengendalikan sistem maritim ke wilayahnya. Terkait dengan Laut Cina Selatan yang menjadi bagian geografis di Asia Tenggara, dimana sebagian masyarakat negara anggota ASEAN menemukan potensi kapitalnya disana, dan perairan tersebut menjadi potensi bagi Cina membangun kekuatan baru di Asia Pasifik melalui klaim wilayah perairan Laut Cina Selatan. Klaim ini menimbulkan ujian bagi ASEAN untuk tegas menanggapi sifat eksesif Tiongkok atas klaimnya. Jika ditarik melalui pendekatan pada prinsip fundamental ASEAN yang tercantum pada TAC (Treaty of Amity and Coorporation) dalam poinnya menjadi perhatian yakni noninterference dan menjaga kedaulatan setiap negara-negara dari ancaman intervensi dari luar. Selama ini perkembangan dinamika di ASEAN dari beberapa dekade terakhir perubahannya sangat signifikan, hal inimencoba mempertanyakan kemampuan ASEAN dalam menyikap konflik-konflik yang berasal dari internal dan eksternal, ditambahkan konflik sengketa Laut Cina Selatan merupakan perpaduan konflik internal antar negara anggota ASEAN dan eksternal dari Tiongkok yang mengklaim atas teritorial. Sejumlah tantangan yang dialami ASEAN dalam permasalahan keamanan harus tetap JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 11

mempertahankan keberadaan noninterference yang didasari oleh ASEAN Way. Pada masa dekade akhir ini, ASEAN sebagai institusi mengandalkan sistem rejim ARF dalam isu keamanan tradisional dan non-tradisional issue dengan mencerminkan nilai-nilai ASEAN Way, dengan sukses dalam konflik sengketa Kuil Preah Vihear melalui CBM (Confidence Building Measures), kerjasama keamanan yang berujung sukses yakni Aceh Monitoring Mission, selain itu sukses mengajak Tiongkok untuk duduk bersama dalam konflik sengketa Laut Cina Selatan. Dengan dimulai dari legitimasi Myanmar bergabung di ASEAN menimbulkan cara pandang yang berubah bagi nilai-nilai ASEAN Way dan prinsip fundamental ASEAN yakni non-interference yang sedikit bergeser menjadi constructive engagement dan proactive engagement. Pada konsepnya bahwa negara ASEAN bersikap proaktif untuk membantu suatu negara yang mengalami permasalahan politik dan konflik keamanan manusia, melalui bantuan ekonomi dan politik demokrasi, tetapi tetap tidak melanggar prinsip kedaulatan. Dalam kasus sengketa Laut Cina Selatan, ASEAN berada diposisi krusial dimana Tiongkok telah melakukan latihan angkatan lautnya di daerah perairan tersebut, melalui ARF atas kesediaan Tiongkok untuk terlibat dengan ASEAN, muncul anggapan bahwa Tiongkok akan semakin agresif dalam konflik sengketa Laut Cina Selatan. Ajang diskusi dan kerjasama diforum ARF, hanya semata menggunakan pendekatan cooperative security, otomatis pencapaiannya bukan melalui instrument militer. Dalam hal ini komunitas keamanan didefinisikan sebagai komunitas negara yang menyeesaikan permasalahan di antara mereka tidak dengan penggunaan kekuatan militer, tetapi dengan cara-cara damai (peaceful changes). Krusialnya, negara anggota ASEAN pun masih lemah dalam peningkatan kerjasama militer, kemudian sikap setiap keanggotaan ASEAN menjadi terbelah dan berteguh pada non-interference, hal ini semakin memperkeruh keadaan dinamika sengketa Laut Cina Selatan, dengan akibat ASEAN belum mampu menciptakan balance of power untuk mengimbangi kekuatan Tiongkok. Ekspresi geopolitik Tiongkok, terkait Laut Cina Selatan terlihat dengan kebijakan Tiongkok yang dibawa dalam ASEAN Regional Forum (ARF), salah satunya JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 12

menyetujui The Declaration on the Conduct of Parties in the South Tiongkok Sea, pada tahun 2002. Dalam deklarasi tersebut Tiongkok sepakat bahwa sengketa perairan tidak akan menjadi isu internasional dan isu multilateral. Delapan tahun setelah deklarasi tersebut dengan Tiongkok mengenai konflik perairan ini diratifikasi, kejelasan status atas kepemilikan Kepulauan Spratly dan Paracel belum jelas. Optimalisasi peran ASEAN Regional Forum sebagai badan yang mampu lebih menjawab tantangan keamanan, kedepannya, terutama permasalahan isu tradisional dan nontradisional. Beberapa optimalisasi peran Asean Regional Forum dalam menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan adalah sebagai berikut: 1. Dekonstruksi prinsip noninterferance (Constructive Engagement dan Proactive Engagement), 2. Memaksimalkan implementasi kebijakan Code of Conduct dan Declaration on the Conduct (DOC) of Parties in the South Tiongkok Sea, dan 3. Menyatukan perspektif dan mengesampingkan kepentingan antar negara-negara anggota ASEAN. ASEAN berharap terhadap penjelasan diatas, untuk memenuhi upaya-upaya penyelesaian konflik yang berkempanjangan direalisasikan, alhasil akar permasalahan tidak muncul kembali. Melalui alternatif otoritas yang jelas dan baik dalam bentuk organisasi kawasan yang diharapkan mampu memenuhi cita-cita untuk mempromosikan perdamaian yang tercantum di dalam Piagam ASEAN. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, ARF harus di dekonstruksi untuk beradaptasi terhadap dinamika ASEAN sehingga juga mampu menjaga relevansi dan signifikan dalam proses mengelola dan mengupayakan penyelesaian konflik berkepanjangan untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas keamanan di ASEAN. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa upaya ASEAN dalam menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan adalah dilakukan dengan cara perundingan damai berdasarkan peraturan hukum internasional. Pendekatan yang digunakan oleh ASEAN dalam menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan dengan Tiongkok menggunakan pendekatan cooperative security, otomatis pencapaiannya bukan melalui instrument militer. JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 13

Dalam hal ini komunitas keamanan didefinisikan sebagai komunitas negara yang menyeesaikan permasalahan di antara mereka tidak dengan penggunaan kekuatan militer, tetapi dengan cara-cara damai (peaceful changes). Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Samudera Pasifik, yang meliputi sebagian wilayah dari Singapura dan Selat Malaka hingga ke Selat Taiwan dengan luas sekitar 3,5 juta km². Berdasarkan ukurannya, Laut Cina Selatan ini merupakan wilayah perairan terluas atau terluas kedua setelah kelima samudera. Laut Cina Selatan merupakan sebuah perairan dengan berbagai potensi yang sangat besar karena di dalamnya terkandung minyak bumi dan gas alam dan selain itu juga peranannya sangat penting sebagai jalur distribusi minyak dunia, perdagangan, dan pelayaran internasional. Oleh karena itu, dengan pentingnya posisi strategis Laut Cina Selatan yang berada di wilayah perairan Laut negara Asia Tenggara, maka diperlukan upaya oleh negaranegara anggota ASEAN untuk menyelesaikan konflik sengketa Laut Cina Selatan dengan Tiongkok secara bersama-sama. Adapun upaya yang dilakukan oleh ASEAN dalam menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan adalah sebagai berikut: 1. Tahun 2011 ASEAN menerapkan Code of Conduct dan Declaration on the Conduct (DOC) of Parties in the South Tiongkok Sea. 2. Negara anggota ASEAN mengoptimalkan peran ASEAN Regional Forum dan ASEAN Political Security Community dalam penyelesaian konflik keamanan terkait laut Cina Selatan. 3. Negara-negara ASEAN mengadakan pertemuan dalam menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan. JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 14

DAFTAR PUSTAKA Buku Archer, Clive. 1983. International Organization. London. Allen & Unwid Ltd. www.eia.gov, US Energy Information and Administration, South Tiongkok Sea, 2008, diakses tanggal 24 Mei 2013. Bandoro Bantarto. 2005. Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Bennett, Alvin LeRoy. 1983. International Organizational : Principles and Issues. New Jersey : Prentice-Hall. C.P.F. Luhulima, 1997, ASEAN Menuju Postur Baru, CSIS, Jakarta. Evelyn Goh, 2005, Meeting the Tiongkok Challenge: The U.S. in Southeast Asian Regional Security Strategies, East-West Center Washington. Website http://militaryanalysisonline.blogspot.c om/2013/09/sengketakepulauan-spratly-potensi.html, www.anneahira.com, Laut Cina Selatan, 2011, diakses tanggal 24 Mei 2013 JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016 Page 15