UNTUK PERPUSTAKAAN PETA

dokumen-dokumen yang mirip
KATALOGISASI : bagian dari kegiatan pengolahan bahan perpustakaan Sri Mulyani

BAB II KAJIAN TEORI. Perpustakaan sangat memerlukan katalog guna untuk menunjukkan

PETUNJUK TEKNIS INVENTARISASI KOLEKSI PERPUSTAKAAN

BAGAN KLASIFIKASI DAFTAR TAJUK SUBYEK TESAURUS

KATALOGISASI. M Hadi Pranoto, SIP. BIMTEK Katalogisasi Desember 2017

BAB III TINGKAT KESESUAIAN DESKRIPSI BIBLIOGRAFI BAHAN MONOGRAF DENGAN AACR2 PADA PERPUSTAKAAN INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI TD PARDEDE MEDAN

PERKEMBANGAN KATALOG PERPUSTAKAAN SEBAGAI SARANA TEMU KEMBALI INFORASI. Nanik Arkiyah

SISTEM PELAYANAN PERPUSTAKAAN

KATALOGISASI. M Hadi Pranoto, SIP. BIMTEK Perpustakaan Sekolah 18 April 2018

KEGIATAN UTAMA DI PERPUSTAKAAN

MANFAAT NOMOR PANGGIL DALAM KEGIATAN PERPUSTAKAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DATABASE PERPUSTAKAAN

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) PERPUSTAKAAN

AACR2Revisi 2002 pemuktahiran 2005 Suharyanto Pustakawan pada Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka

Panduan Praktis Pengohan Bahan Pustaka Dengan Program Aplikasi INLISLite Versi 3 Oleh Aristianto Hakim, S.IPI 1

MENGENAL BAHAN PUSTAKA DAN CARA MENGELOLANYA

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah (BPAD)

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Masalah Mengenai Alasan Pemilihan Aplikasi Open Source

PELAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Katalogisasi KATALOGISASI DOKUMEN. Sri Rahayu. 1. Pendahuluan

GAMBARAN UMUM. FISIP itu sendiri yang tergabung pada bulan Maret berguna bagi mahasiswa Universitas Lampung, khususnya Fakultas Ilmu Sosial

MODUL 4 SARANA TEMU KEMBALI TERBITAN BERSERI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PETUNJUK PENGGUNAAN KARTU BUKU SEBAGAI KARTU KENDALI PADA JASA SIRKULASI BAHAN PUSTAKA

Pengelolaan Perpustakaan

Perpustakaan sekolah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NO : PER- 038/A/JA/09/2011

PEDOMAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN RSC

Panduan Praktis Pengatalogan Dengan Program Aplikasi INLISLite versi 2.1.2

MANUAL PROSEDUR PENDAFTARAN ANGGOTA BARU UNTUK MAHASISWA. Petugas Perpustakaan 15 menit selesai

Teknologi Informasi Perpustakaan

LAMPIRAN Angket Penelitian. Identifikasi Kebutuhan sistem Automasi Perpustakaan Pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHASAN. merupakan layanan yang sangat penting dengan layanan-layanan yang ada di

Perpustakaan sekolah SNI 7329:2009

PROSEDUR PENGADAAN, PENGELOLAAN, SIRKULASI, PENYIANGAN DAN KERJASAMA PERPUSTAKAAN

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN INTERNATIONAL STANDARD BOOK NUMBER

Pengelolaan Perpustakaan

Pemanfaatan Online Public Access Catalogue (OPAC) Sebagai Sarana Sistem Temu Balik Pada Perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Definisi Perpustakaan dan Perpustakaan Perguruan Tinggi

PETUNJUK RINGKAS CARA PENGINDEKSAN MAJALAH DAN MONOGRAF ANALITIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembaca, bukan untuk dijual (Sulistyo Basuki,1993:1.6). secara kontinu oleh pemakainya sebagai sumber informasi.

ANALISIS BIBLIOGRAFI NASIONAL INDONESIA PERIODE

2.2 Tujuan dan Fungsi Katalog Tujuan Katalog Semua perpustakaan mempunyai tujuan agar koleksi yang dimiliki

KETENTUAN-KETENTUAN LAYANAN SIRKULASI UPT. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

KOSAKATA. Penjelasan istilah perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PELAYANAN RUJUKAN /REFERENSI Oleh : Sjaifullah Muchdlor, S.Pd

PENELUSURAN PUSTAKA. The known is finite, the unknown infinite; intelectually we stand upon an islet in the

BAB III PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA

Seri Pengembangan Perpustakaan Pertanian no. 53 PETUNJUK TEKNIS STOCK OPNAME KOLEKSI PERPUSTAKAAN

PETUNJUK TEKNIS KATALOGISASI BAHAN PUSTAKA NON BUKU

BAB II TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

PELAYANAN SIRKULASI DI PERPUSTAKAAN IPB. Oleh: Ir. Rita Komalasari

Sistem Informasi di Perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin berharganya nilai sebuah informasi dan semakin

DAFTAR ISI. KATAPENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN...1 BAB IIKEANGGOTAAN... 2 BAB IIIHAK DAN KEWAJIBAN... 3 BAB IVPELAYANAN...

BAB II LANDASAN TEORI

Seri Pengembangan Perpustakaan Pertanian no. 38 PETUNJUK TEKNIS KATALOGISASI BAHAN PUSTAKA MONOGRAF

PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS KERJA PRAKTEK. Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai suatu proses penguraian dari suatu

PANDUAN RINGKAS MENJALANKAN PROGRAM SIPISIS Oleh : B. Mustafa

BAB II KAJIAN PUSTAKA. perpustakaan sebagai pusat informasi. Perpustakaan merupakan salah satu. sarana untuk temu kembali dalam penelusuran informasi.

UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

Matakuliah Otomasi Perpustakaan. Miyarso Dwi Ajie

Lampiran 4 SURAT KEPUTUSAN DEKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA NOMOR : 77/UN27.7/PP/2012 TAHUN 2012

SISTEM TEMU KEMBALI KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SUMATERA BARAT

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG

Target 2017 Jumlah Eksemplar Koleksi 1 (Keseluruhan) No INDIKATOR

2. Terintegrasi, tidak hanya berorientasi pada bahan pustaka buku. Tetapi juga mencakup pengatalogan deskriptif bahan nonbuku

BAB I KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA NO: Keanggotaan. Pasal 1 Anggota

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

: Melakukan proses pengkatalogan buku. : Buku baru untuk diproses

PEMERINTAH KOTA BUKITTINGGI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN Jalan Perwira III No. 10 Belakang Balok Bukittinggi Telepon (0752)

Katalog dan Minat Baca

MODUL I TERBITAN BERSERI SEBAGAI SUMBER INFORMASI

Seri Pengembangan Perpustakaan Pertanian no. 37 PETUNJUK TEKNIS KATALOGISASI MAJALAH

BAGIAN XI SOP PERPUSTAKAAN

BAB III LANDASAN TEORI. mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut Jerry Fith Gerald (1981:5) Sistem

ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN

Perpustakaan perguruan tinggi

PELAYANAN PERPUSTAKAAN

Modul VI BIBLIOGRAFI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BUTIR KEGIATAN PUSTAKAWAN DAN UNSUR YANG DINILAI BERDASARKAN PERMENPAN NOMOR 9 TAHUN Oleh : Sri Mulyani

BAB II PERANGKAT KEARSIPAN

INVENTARISASI BAHAN PUSTAKA

LAPORAN OBSERVASI PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN NASIONAL RI

BAB II KAJIAN TEORI. Koleksi referensi disebut juga koleksi rujukan atau bahan acuan. Koleksi

PEDOMAN TATA NASKAH DINAS oleh :

PEMBUATAN INDEKS BERANOTASI JURNAL ILMIAH BIDANG HUMANIORA DI PERPUSTAKAAN KOPERTIS WILAYAH X

PENGOLAHAN TERBITAN RESMI PEMERINTAH DI PERPUSTAKAAN DINAS PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF PROVINSI SUMATERA BARAT

KATALOGISASI BAHAN PUSTAKA

Lampiran 4 PEDOMAN FAKULTAS

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017

KATALOGISASI BAHAN KAR A T R O T GRA R F A I

Transkripsi:

cz\rtikel PENDAHULUAN MAP CATALOG UNTUK PERPUSTAKAAN PETA Sukendra Martha (Peneliti Geograji pada Bakosurtanal) E. Faridl (Staf Perpustakaan Bakosurtanal) Mengingat peta merupakan segmen penting dalam koleksi perpustakaan, maka peta harus diperlukan dengan baik sebagai. entitas atau sesuatu yang harus ada dalam perpustakaan (Strauss, 1972). Beberapa jenis peta seperti peta-peta topografi (rupa bumi) dan peta-peta tematik harus diupayakan agar mudah untuk di "file" dan dicari kembali. Oleh karena itu, urutan penomoran I katalog juga harus teratur dengan baik secara abjad, atas dasar negaralwilayah atau nama lembarnya. Survey yang dilakukan yang biasanya dicantumkan dalam legendalketerangan dan riwayat peta juga menjelaskan mengenai indeks peta yang bersangkutan. Untuk keperluan perpus-takaan, peta-peta tersebut tentu diperlukan tempat penyimpanan yang tertata dengan baik, j ika jumlah berbagai jenis peta yang dikumpulkan cukup banyak untuk difile, koleksi peta-peta tersebut membutuhkan klasifikasi dan katalogisasi tertentu. Tujuan utama seperti halnya pada sistem klasifikasi manapun, klasifikasi dalam peta adalah untuk mengatur, manata dan menempat-kan kembali agar mudah dicari dan dibaca oleh pencari informasi. Oleh karena itu menurut pakar, prinsip ini harus diingat ketika peta-peta diletakan dalam urutan file. Disarankan bahwa penempatan peta yang sering dipakai pembaca harus diletakkan di tempat yang mudah diambil. Ciri yang penting yang baisanya dicari dalam perpustakaan peta adalah wilayah geografis, tetapi klasifikasi subyek juga menurut Staruss dkk, harus dibuat untuk mengantisipasi "call" apapun yang sering muncul dalam perpustakaan khusus ini. 14

d\rtikel Pengertian Katalogisasi dalam Perpustakaan Bidang Judul dan Keterangan Penanggung Jawab Katalog adalah daftar bahan-bahan yang ada di perpustkaan yang disusun menurut suatu sistem tertentu secara alfabetis atau sistematis untuk memudahkan mencari dan menempatkan kembali bahan-bahan yang dibutuhkna oleh para pembaca serta petugas perpustakaan (Trimo, I 985) Jadi katalogisasi adalah proses pembuatan daftar bahan-bahan tersebut agar informasi yang dicari dapat dengan mudah ditemukan. Katalogisasi Peta Perincian Judul biasa Judul biasa, judul pararel, informasi judul lain ( anak judul) dan keterangan penanggung jawab... Cantumkan judul biasa persisi menurut kata-kata tetapi tidak perlu menurut huruf besar atau tanda baca yang terdapat dalam sumber utama informasj. Contoh : Peta ekosistem pertanian Sarna halnya seperti pada monograf (buku) untuk katalogisasi peta ada peraturan tertentu yang diketahui, baik secara umum maupun khusus. Untuk katalogisasi peta ini kita bisa mengacu pada pedomanan Peraturan Katalogisasi Indonesia pada bagian Bahan-bahan Kartografis. Yang termasuk bahan-bahan kartografis adalah peta-peta dan denah dua atau tiga dimensi. Secara umum peta ini dibagi dua yaitu <peta rupabumi dan peta tematik (khusus) seperti peta pariwisata, peta ekosistem pertanian, peta ~alan, peta penduduk, dlsb. Pada peraturan katalogisasi Indonesia disebutkan bahwa pada dasarnya unsur buibliografis untuk bahan-bahan kartografis (peta) sama dengan unsur publikasi buku, hanya ada satu bidang tambahan yaitu bidang data matematis yang memberikan keterangan tentang skala, proyeksi, dii. Untuk memperoleh informasi unsir bibliografis dari peta adalah sbb : Bahan peta itu sendiri, dimana pada peta tersebut sudah memuat legendalketerangan, skala, tahun pembuatan, nomor sheet, dan untuk beberapa jenis peta seperti peta rupabumi ditambah dengan sistem proyeksi. Kotak, sampul kulit, kantong peta, dsb. Judul pararel Anakjudul CantumkaiJ. judul pararel seperti yang terdapat dalam sumber utama informasi Contoh Peta geologi Iembar Bandung, Jawa = geological map of the Bandung quadrangle, Java Cantumkan informasi judul lain atau anak judul bila ada. Contoh Peta sembilan kota Jakarta, Bogor, Bandung... Keterangan Penanggung jawab : Cantumkan keterangan penanggung jawab sesudah judul Contoh : Atlas Indonesia I I Made Sandy Bidang edisi Cantumkan keterangan yang berhubungan dengan suatu edisi dari sustu karya yang mempunyai perbedaan dengan lain-lain edisi. Contoh: Cet. 4, 2"d. Ed. IS

o2\rtikel Bidang data Matemetis Bidang ini yang membedakan antara katalogisasi buku dengan peta, hal-hal yang perlu diperhatikan Sbb : Pola tanda baca bidang ini didahului oleh titik, spasi, garis, dan spasi. Gunakan kata-kata singkatan Indonesia dalam bidang ini. Keterangan skala. Berikan skala dari yang dinyatakan dalam peta yang bersangkutan : Contoh : Indonesia.- skala 1 : 4.000.000 Bila skala dalam satu peta berbeda dan nilai yang tertinggi diketahui, berikan skala sbb : Contoh : skala 1 : 15.000 c 1 : 25.000 atau keterangan : skala berbeda-beda. Bidang Publikasi Untuk bidang ini pada dsarnya sama dengan peraturan pada publikasi monograf (buku), dimana dicantumkan tempat terbit, penerbit dan tahun terbit (pembuatannya). Contoh: Cibinong : Bakosurtanal, 1993 Bidang deskripsi Fisik Bidang ini yang menjelaskan dari jumlah bahan, jumlah halaman atau jilid hila peta tersebut pada atlas, dan lain-lain perincian fisik seperti perincian jumlah peta dalam suatu atlas, warna, dan bahan pembuatannya. Contoh: 1 peta : berwarna, plastik Selain hal tersebut di atas, perlu juga dicantumkan dimensi. Untuk bahan kartografis dua dimensi berikan ukuran tinggi x Iebar dalam sentimeter. Contoh: 1 peta: berwarna; 25 x 35 em. Bidang lain : Bidang lain yang perlu dicantumkan (hila ada) adalah bidang seri, bidang catatan, nomor standar, dan bahan suplemen. Sistem Folders dalam Perpustakaan Peta Cara terbaik untuk memelihara peta-peta adalah mengumpulkannya secara sederhana, dalam bentuk folder-folder papan kartu halus, berukuran 90 x 75 cm2. Setiap folders dapat memuat antara 30-100 peta. Maksimum 10 folder dapat digabungkan menjadi satu kompartemen, tetapi pada permulaannya disarankan untuk menggunakan tidak lebih dari 5 folder untukmengantisifasi perkembangan koleksi dimasa mendatang misalnya nomor 221, 222, 223, 224 dan 225, kemdian untuk kompartemen berikutnya memulai dengan folder nomor 231, dan seterusnya, dengan tidak menggunakan folder nomor 226 terlebih dahulu. lsi darti folder seharusnya ditulis dalam huruf besar yang mudah terlihat pembaca dan berdekatan dengan folder tersebut. Setiap peta lepas dinomori dengan folder yang bersangkutan dan nioinor seri/urutannya. Jadi misalnya lembar peta pada urutan ke-12 dalam folder 139 dapat dinomori dengan 139/12. Peta rupabumi, atau sekumpulan peta yang mempunyai sistem penomoran sendiri, cukup membutuhkan nomor fo1dernya saja. Hal tersebut berlaku untuk peta rupa bumi Bakosurtanal; karena peta-peta tersebut diatur da1am susunan nomor-nomor urut tercetak. Di Amerika serikat misalnya : peta rupabumi dan peta-peta buatan survey geologi (USGS) biasanya diatur secara abjad atas dasar negara. Jika jumlah koleksi peta cukup besar, selain menggunakan folder tadi bisa ditambahkan dengan menandai folder menurut sistem pembagian daerah (area breakdown system). Sebagai contoh, peta apapun (baik rupabumi, tematik, dll) untuk lembar cirebon dapat ditempatkan di folder S 9.5.4 (Asia, 9 = Indonesa, 5 = Jawa Barat, dan 4 = Cirebon). Jika dirasakan masih kurang, karena daerah Arjawinangun, Palimanan, perlu dibedakan, maka dapat saja dikembangkan menjadi S954 A, S954 B dan seterusnya. Folder-folder itu seyogyanya disusun 16

dlrtikel berdasarkan negara dan bukan berdasarkan abjad. Urutan wilayah yang terbaik diperoleh dengan mengikiti pembakuan dari Buku geografis atau Atlas Nasional baku. Hal ini jauh lebih baik daripada pengaturan berdasarkan jenis peta. Oleh karenanya peta curah hujan Indonesia akan ditempatkan pada folder Indonesia secara keseluruhan, dan bukan dalam folder terpisah untuk peta-peta curah hujan. Peta-peta geologi Australia dapat dimasukkan dalam folder terpisah berdekatan dengan peta-peta tematik Australia lainnya. Susunan atas wilayah tadi akan membantu menemukan peta-peta yang dicari. Peta!aut, atau peta khusus lainnya (menurut Rais, 1948), karena tidak sesuai dengan urutan wilayah yang lazim mungkin dapat disimpan secara terpisah. Atlas juga termasuk dalam urutan folder atas dasar wilayah tadi. Atlas dunia akan diberikan label "Dunia". Atlas Malaysia dapat diletakan dengan denganfolder Malaysia. Peta-peta dinding gulungan dapat disimpan secara vertikal pada tempat-tempat yang disediakan. Dalam suatu institusi /perpustakaan yang besar di negara maju, biasanya mempunyai 3 koleksi peta : I. Koleksi referensi, yaitu yang mencakup copy asli dari setiap peta. Biasanya tidak dapat dipinjamkan. 2. Koleksi duplikasi, yang menangani copy kedua yang boleh dipinjamkan. 3. Koleksi laboratorium, yang memuat copy ketiga dan seterusnya untuk digunakan dalam pengajaran. Tiga koleksi tadi dapat ditempatkan di lokasi yang berbeda-beda, tetapi hams mempunyai urutan penomoran yang sama. Manfaat Katalog Untuk Perpustakaan Peta Seperti halnya pada katalogisasi buku, katalog peta akan sangat bermanfaat sekali sebagai sarana penelusuran informasi dalam menemukan kembali peta yang dibutuhkan pengguna. Karena data bibliografis dari peta tersebut sudah terangkum dalam katalog peta seperti judul peta, skala, daerah liputan/cakupan, tempat terbit, dan tahun pembuatannya. Selain itu katalog peta ini bermanfaat untuk mengetahui peta apa saja yang dimiliki perpustakaan sampai saat ini. KESIMPULAN Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Mengingat peta merupakan segmen penting dalam perpustakaan (seperti halnya buku), maka perlu penanganan yang teratur sesuai dengan sistem yang berlaku baik klasifikasi maupun katalogisasi sehingga mudah dicari dan ditemukan kembali oleh pencan informasi. 2. Untuk proses pebuatan daftar/katalog peta kita dapat menggunakan Peraturan Katalogisasi Indonesia bagian bahan-bahan kartografis yang telah diterbitkan Perpustakaan Nasional. 3. Sistem Folder merupakan salah satu cara untuk memelihara dan menemukan kembali peta-peta lepas pada suatu perpustakaan. Sistem ini pula yang dipakai oleh Library of Congress Arnerika Serikat. 4. Katalog peta bermanfaat sebagai sarana penelusuran informasi peta yang dibutuhkan pengguna. pada suatu perpustakaan. Daftar Pustaka 1. Martha, S dan E. Faridl, 1993. Penelusuran informasi melalui katakunci Geogrqfi dengan teknologi Milrro CDS/ISIS, Majalah IPI, Vol. 15 No. I, 1993 2. Perpustakaan Nasional RI. 1992, Peraturan Katalogisasi Indonesia deskripsi bibliografis, penentuan tajuk untuk entri dan judul seragam. hal. 46-52. 17

c:artikel 3. Puntodewo, Ati. 1991. Creation of map catalogue using CDS/ISIS, LACIE, Vol. 21, No.4, pp. 88-105. 4. Raisz, E. 1948. General cartography, McGraw Hill Book Company, Toronto. 5. Strauss, L.J. Shreve, I.M. dan Brown, A.L. 1972. Scientific and technical libraries, 2"d edition, Becker and Hayes, Inc. New York. 6. Trimo S. 1985. Pedoman pelaksanaan perpustakaan, penerbit Remaja Karya, CV. Bandung. Lampi ran Contoh Katalog Peta Distribution map of coal deposits, industrial minerals and rock of Indonesia I Compiled by the Geological Survey of Indonesia. - Skala 1 : 1.500.000. -- Bandung : geological Survey, 1964. 1 peta ; 50 x 66 em. Peta hidrologi Kabupaten Purwakarta = Purwakarta hydrogeological map I Departemen Pekerjaan Umum. - Skala 1 : 100.000. - Jakarta : Departemen Pekerjaan Umum, 1. 1990. 1 peta : berwarna ; 75 x 60 em. SYARAT-SYARAT PEMINJAMAN PERPUSTAKAAN PDII-LIPI 1. Setiap anggota diperkenankan meminjam 2 buku dalarn 14 hari. 2. Bagi mereka yang terlambat mengembalikan buku pada waktunya, dikenakan denda sebesar Rp.150/hari. 3. Peminjaman dapat diperpanjang selama buku tersebut tidak diminati oleh anggota lain, dengan cara datang sendiri. Tidak dilayani perpanjangan buku melalui telepon. 4. Para peminjam tidak diperkenankan meminjamkan kartu anggota untuk kepentingan orang lain. 5. Tidak diperkenankan meminjam buku sebelum mengembalikan buku yang sedang dipinjam. 6. Peminjam yang mendapat tagihan sebanyak 3 kali dan belum mengembalikan buku yang dipinjam, akan dicabut keanggotaannya sampai buku dikembalikan dan syarat-syarat lain terpenuhi. 7. Seandainya buku yang dipinjam hilang, diganti dengan judul yang sama atau seharga buku tersebut, disesuaikan dengan kebijaksanaan Kepala Bidang Perpustakaan. 8. Buku Referensi, majalah, laporan penelitian, disertasi, mikrofis dan mikrofilm hanya dapat dibaca di perpustakaan. 9. Perpustakaan berhak menolak meminjamkan sesuatu buku dengan alasan akan dipergunakan untuk keperluan dinas PDII-LIPI. 18