Waktu Beku Darah Sapi Bali

dokumen-dokumen yang mirip
Waktu Retraksi Bekuan Darah pada Sapi Bali

KERAGAAN REPRODUKSI SAPI BALI PADA KONDISI PETERNAKAN RAKYAT DI KABUPATEN TABANAN BALI

Kadar Mineral Kalsium dan Besi pada Sapi Bali yang Dipelihara di Lahan Persawahan

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

GAMBARAN KLINIS SAPI BALI YANG TERINFEKSI. CACING Fasciola spp SKRIPSI

I. PENDAHULUAN. tentang pentingnya protein hewani untuk kesehatan tubuh berdampak pada

PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH

KETERKAITAN ANTARA SIFAT FISIK EMPEDU TERHADAP KELAINAN ORGAN HATI SAPI BALI SKRIPSI. Oleh Eva Candra Ardia NIM

ESTIMASI OUTPUT SAPI POTONG DI KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH

Penampilan Reproduksi Sapi Bali pada Peternakan Intensif di Instalasi Pembibitan Pulukan

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4 o C

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

Implikasi Pengetahuan Ayat Tentang Pemotongan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Terhadap Sapi Bali

PENGUKURAN BESAR SUDUT KUKU SAPI BALI (Measurement of the Angle Nail Bali Cattle) ABSTRAK

Prevalensi Trematoda pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus

Kata kunci: Fascioliosis, total eritrosit, kadar hemoglobin,pakced cell voleme, Sapi Bali

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c

Sebaran Umur Korban Gigitan Anjing Diduga Berpenyakit Rabies pada Manusia di Bali. (The Distribution of Ages on Victims of Rabies in Bali)

SUDUT KUKU SAPI BALI SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Untutk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Hewan.

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing Ditinjau dari Waktu Reduktase dan Angka Katalase

F.K. Mentari, Y. Soepri Ondho dan Sutiyono* Program Studi S-1 Peternakan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro

RIWAYAT HIDUP Prevalensi Benda Asing pada Rumen Sapi Bali yang Disembelih di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar Periode Mei-Juni 2015

BAB I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

Prevalensi Trematoda di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2: ISSN : Agustus 2012

Hubungan antara Umur dengan Berat Karkas Depan (Fore Quarter) Ditinjau dari Potongan Primal Sapi Bali Jantan

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan

Pemotongan Sapi Betina Produktif di Rumah Potong Hewan di Daerah Istimewa Yogyakarta

ANALISIS PERFORMA PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER DENGAN SISTEM PEMELIHARAAN CLOSED HOUSE

Peternakan Tropika Journal of Tropical Animal Science

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali

Kelainan Bentuk Kuku Sapi Bali Kereman yang dipelihara di Tanah berdasarkan Jenis Kelamin

Hubungan Umur, Bobot dan Karkas Sapi Bali Betina yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan Temesi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi

Hitung Diferensial dan Kelainan-Kelainan Sel Darah Sapi Bali

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan

I. PENDAHULUAN. Pendapatan nasional per kapita tahun 2012 yakni ,07 sedangkan tahun 2013

Kata kunci: waktu perdarahan, pencabutan gigi, ekstrak etanol daun teh (Camellia Sinensis L.Kuntze), mencit Swiss Webster.

BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

ABSTRAK. EFEK JUS PAPRIKA (Capsicum annuum L. annuum) TERHADAP WAKTU PEMBEKUAN DARAH PRIA DEWASA NORMAL

ABSTRAK. Kata kunci : kambing kacang, eritrosit, Denpasar Barat

PEMANFAATAN PROTEIN BY PASS RUMEN SEBAGAI SUMBER PROTEIN DALAM RANSUM SAPI BALI DARA

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SAPI BALI MELALUI INTRODUKSI LIMBAH PERTANIAN dan PROBIOTIK BIO - CAS

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan untuk membajak sawah oleh petani ataupun digunakan sebagai

RASIO PEMOTONGAN SAPI DI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN PESANGGARAN SKRIPSI. Diajukan oleh I Made Fajar Swanditha

PENGARUH LAMA THAWING DALAM AIR ES (3 C) TERHADAP PERSENTASE HIDUP DAN MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI (Bos sondaicus)

Pengaruh Penambahan Streptomycin dalam Skim Kuning Telur Sebagai Pengencer terhadap Kualitas Semen Ikan Mas (Cyprinus Carpio L.)

STATUS PRAESEN PEDET SAPI BALI SKRIPSI. Oleh Sayu Raka Padma Wulan Sari NIM

Susunan Redaksi Indonesia Medicus Veterinus

PROFIL SEL DARAH PUTIH (Leucocyte) SAPI BALI DI KECAMATAN BANGKINANG SEBERANG KABUPATEN KAMPAR

PENGUJIAN KEMURNIAN SAPI BALI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ISOELEKTRIC FOCUSING

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan

DAYA HIDUP SPERMATOZOA EPIDIDIMIS KAMBING DIPRESERVASI PADA SUHU 5 C

SERVICE PER CONCEPTION (S/C) DAN CONCEPTION RATE (CR) SAPI PERANAKAN SIMMENTAL PADA PARITAS YANG BERBEDA DI KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. domestikasi banteng liar (Bibos banteng) (Batan, 2006). Banteng-banteng liar

HUBUNGAN ANTARA BOBOT BADAN DENGAN PROPORSI ORGAN PENCERNAAN SAPI JAWA PADA BERBAGAI UMUR SKRIPSI. Oleh NUR FITRI

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

ABSTRACT PENDAHULUAN SOSIALISASI FLU BURUNG SERTA PEMERIKSAAN JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN TROMBOSIT PENDUDUK DESA BERABAN KABUPATEN TABANAN

PERFORMANS PEDET SAPI PERAH DENGAN PERLAKUAN INDUK SAAT MASA AKHIR KEBUNTINGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Sapi bali merupakan salah satu sapi lokal asli Indonesia yang tersebar

PERBANDINGAN TINGKAT AUTOLISIS ANTARA OTOT DAN HATI SAPI BALI PADA BEBERAPA PERIODE WAKTU PENGAMATAN SKRIPSI

W A K T U S E N I N S E L A S A R A B U K A M I S J U M A T ANATOMI VET. I (KHI 106) Dr. drh. I Nengah Wandia, M.Si. RK. I Lt 3

U N I V E R S I T A S U D A Y A N A FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

BENTUK KELAINAN KUKU SAPI BALI KEREMAN YANG DI PELIHARA DI TANAH BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN UMUR SKRIPSI. Diajukan oleh. Ida Yuni Erdia Reni

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi membawa pengaruh pada

Penampilan Reproduksi Induk Babi Landrace yang Dipelihara Secara Intensif di Kabupaten Badung

EFISIENSI REPRODUKSI SAPI POTONG DI KABUPATEN MOJOKERTO. Oleh : Donny Wahyu, SPt*

Bibit sapi peranakan Ongole (PO)

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura

Tennr Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2006 Skala usaha penggemukan berkisar antara 5-10 ekor dengan lama penggemukan 7-10 bulan. Pakan yan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. kebutuhan sehingga sebagian masih harus diimpor (Suryana, 2009). Pemenuhan

Dampak Introduksi Teknologi Flushing dalam Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Sapi Bali di Lahan Kering

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan yang dihadapi Provinsi Jambi salah satunya adalah pemenuhan

NI Luh Gde Sumardani

MATERI DAN METODA Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan Vaksin AI-ND Pakan Kandang dan Perlengkapannya

METODE. Materi. Metode

KORELASI BOBOT HIDUP INDUK MENYUSUI DENGAN PERTAMBAHAN BOBOT HIDUP PEDET SAPI PERANAKAN ONGOLE

Distribusi komponen karkas sapi Brahman Cross (BX) hasil penggemukan pada umur pemotongan yang berbeda

Universitas Sumatera Utara-RSUP-HAM Medan

HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTERISASI SIFAT-SIFAT KUANTITATIF KAMBING KOSTA JANTAN DI KABUPATEN PANDEGLANG PROVINSI BANTEN

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)

ABSTRAK GAMBARAN KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2013

UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI BALI MELALUI PENGENDALIAN PENYAKIT PARASIT DI SEKITAR SENTRA PEMBIBITAN SAPI BALI DI DESA SOBANGAN ABSTRAK

PADA SAPI BALI YANG DIPOTONG DI RUMAH POTONG HEWAN MAMBAL, BADUNG DAN PESANGGARAN, DENPASAR

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pembangunan peternakan di Indonesia lebih ditujukan guna

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2. : ISSN : Agustus 2011 GAMBARAN SEL DARAH MERAH SAPI BALI (STUDI RUMAH POTONG)

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

Transkripsi:

Waktu Beku Darah Sapi Bali BLOOD CLOOTING TIME IN BALI CATTLE Azmil Umur 1, Sri Kayati Widyastuti 2, Iwan Harjono Utama 3 1 Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Hewan 2 Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Hewan Kecil, 3 Laboratorium Biokimia Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana JL. P. B Sudirman Denpasar Bali tlp. 0361-223791 Email: azmilfirst@gmail.com ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa lama waktu beku darah pada sapi bali yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kapiler, setiap 30 detik tabung mikro pipa kapiler dipatahkan sedikit demi sedikit sampai terbentuknya bekuan fibrin yang mengindikasikan terbentuknya pembekuan darah. Rata-rata lama waktu pembekuan darah pada sapi bali adalah 163.36 detik. Dari hasil sebaran data waktu beku darah pada sapi bali menunjukkan bahwa masih dalam sebaran normal dan dapat dipublikasikan bahwa waktu pembekuan darah pada sapi bali berkisar dari 125 detik sampai 204 detik. Kata-kata kunci : sapi bali, waktu beku darah, bekuan fibrin. ABSTRACT The aim of this study was to determine how long the blood clotting time in bali cattle slaughtered in the abattoir Pesanggaran Denpasar. This study uses capillary method, the micro capillary tube is broken every 30 seconds until a fibrin clot is detected which indicates of blood clots. The means of blood clotting time in bali cattle is 163.36 second. From the distribution of data blood clotting time in bali cattle showed still in normal distribution and may be published that blood clotting time in bali cattle ranged from 125 seconds to 204 seconds. Keywords : bali cattle, blood clotting time, fibrin clot. 367

PENDAHULUAN Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (Bos-bibos banteng) dan merupakan sapi asli Pulau Bali. Sapi bali menjadi primadona sapi potong di Indonesia karena mempunyai kemampuan reproduksi tinggi, serta dapat digunakan sebagai ternak kerja di sawah dan ladang (Putu et al., 1998). Sapi bali memiliki keunggulan dibandingkan dengan sapi lainnya antara lain mempunyai angka pertumbuhan yang cepat, adaptasi dengan lingkungan yang baik, dan penampilan reproduksi yang baik. Sapi Bali merupakan sapi yang paling banyak dipelihara pada peternakan kecil karena fertilitasnya baik dan angka kematian yang rendah (Purwantara et al., 2012). (Talib et al., 2003) melaporkan bahwa rata- rata berat hidup sapi Bali saat lahir, sapih, tahunan dan dewasa berturtut-turut 16,8; 82,9; 127,5; dan 303 kg. Beberapa kajian mengenai kesehatan sapi bali telah banyak dipublikasi, khususnya mengenai penyakit jembrana (Wilcox et al., 1997). Saat ini banyak ditemukan kasus kelainan pada hewan yang tidak tampak secara klinis, tetapi dapat muncul secara tiba-tiba dan bisa berakibat fatal dan manusia lebih mampu mengamati berbagai kelainan tersebut dengan lebih cermat (Beaudoin, et al., 2002). Hal ini dapat dicegah dengan cara melakukan pemeriksaan pada hewan untuk menentukan status kesehatannya. Selain pemeriksaan klinis dan fisik dalam menentukan status kesehatan dapat juga dilakukan pemeriksaan laboratorik yang bertujuan untuk meneguhkan diagnosa (Dharmawan, 2002). Salah satu pemeriksaan yang bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan tersebut adalah dengan pemeriksaan darah. Waktu beku darah adalah pemeriksaan yang berguna untuk mengetahui fungsi trombosit yang abnormal, terutama faktor intrinsik dan ekstrinsik dari pembekuan darah. Waktu pembekuan akan melambat bila kekurangan faktor-faktor pembekuan atau trombositopenia. Ada beberapa cara yang digunakan untuk menentukan waktu pembekuan pada darah salah satunya adalah dengan menggunakan metode kapiler. Setiap 30 detik tabung mikro kapiler dipatahkan sedikit demi sedikit sampai terbentuknya bekuan fibrin yang mengindikasikan telah terbentuknya pembekuan darah (Mehmet et al., 2009). Penelitian mengenai waktu pembekuan darah khususnya pada sapi bali masih belum banyak dipublikasikan oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai waktu pembekuan darah pada sapi bali. 368

METODE PENELITIAN Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah darah sapi bali yang di potong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar sebanyak 50 sampel darah. Sapi yang dipakai sebagai sampel adalah sapi yang sehat secara klinis dan berumur 2 4 tahun. Darah diambil dari sapi bali yang dipotong dari Rumah Potong Hewan Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Pada saat sapi di potong kemudian darah di tampung menggunakan tabung reaksi kemudian sesegera mungkin darah terhisap dengan gaya kapilaritas tabung mikro kapiler. Dalam setiap 30 detik tabung mikro kapiler dipatahkan sedikit demi sedikit sampai terbentuknya bekuan fibrin, patahnya tabung mikro kapiler yang menyambung mengindikasikan terbentuknya pembekuan darah. Kemudian dicatat waktu pembentukan pembekuan darah. Waktu dihitung dimulai dari saat pengambilan darah sampai terbentuknya benang fibrin yang menandai telah terbentuknya pembekuan darah (Mehmet et al., 2009). HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar pada 50 ekor sapi bali yang sehat secara klinis dan umur 2-4 tahun. Rerata lama waktu pembekuan darah pada sapi bali adalah 163.36 (SD = 19.204) detik. Hasil penelitian lama waktu pembekuan darah pada sapi bali dapat dilihat pada Gambar. 369

Gambar 1. Waktu Pembekuan Darah Pada Sapi Bali Dalam gambar tampak bahwa sebaran data lama waktu pembekuan darah pada sapi bali yang di potong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar adalah rerata 163.36 (SD = 19.204) masih tergolong dalam sebaran normal menurut (Frandson, 1996) waktu pembekuan darah normal adalah 120 detik sampai 300 detik. Waktu pembekuan darah bisa lebih lambat atau lebih cepat dari waktu normal. Apabila waktu pembekuan darah lebih dari 300 detik maka diindikasikan kemungkinan terjadinya kelainan pada pembekuan darah. Kelainan ini bisa disebabkan karena beberapa hal diantaranya yaitu : turunnya trombosit didalam darah (trombositopenia). Nilai normal trombosit pada sapi adalah 10-30 trombosit per lapang pandang lensa obyektif 100X dan kelainan faktor pembekuan darah adalah hemofilia A (defisiensi faktor VIII), hemofilia B (penyakit christmast, defisiensi faktor IX), penyakit von Willerbrand (WVD) dan defisiensi vitamin K (Dharmawan, 2002). Waktu pembekuan darah lebih cepat dari waktu pembekuan darah normal bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pemanasan pada suhu diatas 37 o C darah akan lebih cepat membeku dari pada suhu dibawahnya;digoyangkan pelan-pelan maka pembekuan atau koagulasi akan dipercepat, bila digoyangkan dengan cepat maka jaringan fibrin akan pecah dan pembekuan atau koagulasi melambat; Luas permukaan kontak : 370

Pembekuan darah akan lebih cepat dengan penambahan luas permukaan kontak, dapat dilakukan dengan jalan memasukkan kasa atau kapas ke dalam larutan darah, besar dan kecilnya Trauma; Kasar atau halusnya luka. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan (Mehmet et al, 2009) pada sapi ras holstein dengan nilai rerata waktu pembekuan darah adalah 186 detik. Jadi rerata lama waktu pembekuan darah pada sapi bali 22.64 detik lebih cepat dari sapi ras holstein. Waktu yang lebih cepat ini bisa disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah lingkungan, kecukupan nutrisi, aktifitas sapi dan cara pemeliharaan serta cara pengambilan darah pada saat penelitian dilakukan. Hasil penelitian waktu pembekuan darah pada sapi bali dengan rerata 163.36 (SD = 19.204) detik ini menunjukkan bahwa sampel yang diambil dari data penelitian ini cukup representatif mewakili populasi sapi bali di Bali. Hal ini dikarenakan sapi-sapi yang di potong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar berasal dari berbagai daerah di Bali. SIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari 50 sampel darah sapi bali yang sehat secara klinis yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar diperoleh hasil waktu pembekuan darah pada sapi bali berkisar dari 125 detik sampai 204 detik dengan rerata 163,36 detik (SD = 19.204). Kisaran waktu pembekuan darah normal adalah 120 detik sampai 300 detik. SARAN Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan waktu pembekuan darah dengan perbandingan jenis kelamin dengan tingkat umur yang berbeda dan dikaitkan dengan kelainan pada organ. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis sampaikan terimakasih kepada Para petugas Di RPH Pesanggaran Denpasar serta semua pihak yang membantu penulisan selama penelitian berlangsung. DAFTAR PUSTAKA Beaudoin S, Lanevschi A, Dunn M, Desnoyers M. 2002. Peripheral blood smear from a dog. Vet Clin Pathol 31 : 33 35. Dharmawan, N.S. 2002. Pengantar Patologi klinik Veteriner Hematologi KlinikVeteriner. Universitas Udayana : Denpasar. 371

Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Mehmet, C. K ; Metin, K. A ; Sima Sahinduran ; Kenan Sezer. 2009. Journal Coagulation Parameters In Cattle With Left Diplacement Of Abomasum. Department of Internal Medicine, Faculty of Veterinary Medicine, Mehmet Akif Ersoy University, Burdur Turkey. Purwantara B, Noor RR, Andersson G, and Rodriguez-Martinez H. 2012. Banteng and Bali Cattle in Indonesia: Status and Forecasts. Reprod Dom Anim 47 (Suppl. 1), 2 6 Thalib C, Entwistle K, Siregar A, Budiarti S, and Lindsay D. 2003. Survey of population and production dynamics of Bali cattle and existing breeding programs in Indonesia.ACIAR Proceedings,3-9 Putu, I.G., P. Situmorang, A. Lubis, T.D. Chaniago, E. Triwulaningsih, T. Sugiarti, I.W. Mathius dan B. Sudaryanto. 1998. Pengaruh pemberian pakan konsentrat tambahan selama dua bulan sebelum dan sesudah kelahiran terhadap performan produksi dan reproduksi sapi potong. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1-2 Desember 1998. Wilcox GE, Suharsono, Dharma DMN, Copland JW. 1997. Jembrana Disease and The Bovine Lentiviruses. (ACIAR Proceedings No.75) Proceedings of a workshop 10-13 June 1996, Bali Indonesia Direktorat Jendral Peternakan and The Bali Cattle Dissease Investigation Unit. 372