Keywords: Hospital Wastewater, COD, Echinodorus palaefolius, Actived Carbon

dokumen-dokumen yang mirip
PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK MENGGUNAKAN TANAMAN Alisma plantago DALAM SISTEM LAHAN BASAH BUATAN ALIRAN BAWAH PERMUKAAN (SSF-WETLAND)

SKRIPSI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN LAHAN BASAH BUATAN MENGGUNAKAN RUMPUT PAYUNG (CYPERUS ALTERNIOFOLIUS) Oleh :

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-journal) Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: )

Kata Kunci: arang aktif, tempurung kelapa, kayu meranti, COD.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENURUNAN KONSENTRASI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)

Anis Artiyani Dosen Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI

DESAIN ALTERNATIF INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DENGAN PROSES AEROBIK, ANAEROBIK DAN KOMBINASI ANAEROBIK DAN AEROBIK DI KOTA SURABAYA

EFEKTIVITAS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DOMESTIK SISTEM ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC) KELURAHAN SEBENGKOK KOTA TARAKAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya di kotakota

PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH MAKAN (RESTORAN) DENGAN UNIT AERASI, SEDIMENTASI DAN BIOSAND FILTER

Keywords : Constructed wetlands, cattail plants, subsurface flow system, free surface water, laundry waste References : 80 ( )

UJI KEMAMPUAN SLOW SAND FILTER SEBAGAI UNIT PENGOLAH AIR OUTLET PRASEDIMENTASI PDAM NGAGEL I SURABAYA

Tersedia online di: Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 4 (2015)

ANALISIS KUALITAS KIMIA AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DI RSUD DR. SAM RATULANGI TONDANO TAHUN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Limbah adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan

UJI KINERJA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PARTIKEL BOARD SECARA AEROBIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

REMOVAL CEMARAN BOD, COD, PHOSPHAT (PO 4 ) DAN DETERGEN MENGGUNAKAN TANAMAN MELATI AIR SEBAGAI METODE CONSTRUCTED WETLAND DALAM PENGOLAHAN AIR LIMBAH

BAB 1 PENDAHULUAN. pakaian. Penyebab maraknya usaha laundry yaitu kesibukan akan aktifitas sehari-hari

Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan Bogor ABSTRAK

Dosen Magister Ilmu Lingkungan dan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP Semarang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2012

KEEFEKTIFAN METODE FITOREMIDIASI MENGGUNAKAN TANAMAN ECENG GONDOK UNTUK MENURUNKAN KADAR COD (CHEMICAL OXYGEN DEMAND) LIMBAH RUMAH SAKIT

I. PENDAHULUAN. Kata kunci : IPAL Pusat pertokoan, proses aerobik, proses anaerobik, kombinasi proses aerobik dan anaerobik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Jurusan. Teknik Kimia Jawa Timur C.8-1. Abstrak. limbah industri. terlarut dalam tersuspensi dan. oxygen. COD dan BOD. biologi, (koagulasi/flokulasi).

ADSORPSI ZAT WARNA DAN ZAT PADAT TERSUSPENSI DALAM LIMBAH CAIR BAIK

IMPROVING THE QUALITY OF RIVER WATER BY USING BIOFILTER MEDIATED PROBIOTIC BEVERAGE BOTTLES CASE STUDY WATER RIVER OF SURABAYA (SETREN RIVER JAGIR)

PENURUNAN BOD DAN COD PADA AIR LIMBAH KATERING MENGGUNAKAN KONSTRUKSI WETLAND SUBSURFACE-FLOW DENGAN TUMBUHAN KANA (Canna indica)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya gangguan terhadap kesehatan masyarakat (Sumantri, 2015). Salah satu

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN

Kombinasi pengolahan fisika, kimia dan biologi

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

penambahan nutrisi berupa lumpur sebanyak ± 200 ml yang diambil dari IPAL

Pengolahan Air Limbah Domestik dengan Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan (Subsurface Flow Constructed Wetlands)

BAB I PENDAHULUAN UKDW. peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk

APLIKASI WETLAND. Prayatni Soewondo PRODI TEKNIK LINGKUNGAN, FTSL, ITB

STUDI KUALITAS AIR DI SUNGAI DONAN SEKITAR AREA PEMBUANGAN LIMBAH INDUSTRI PERTAMINA RU IV CILACAP

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Batik merupakan suatu seni dan cara menghias kain dengan penutup

MODUL 3 DASAR-DASAR BPAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI CONSTRUCTED WETLAND SEBAGAI SOLUSI PENCEMARAN DI SUB DAS TUKAD BADUNG KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI

PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT

APLIKASI ROTARY BIOLOGICAL CONTACTOR UNTUK MENURUNKAN POLUTAN LIMBAH CAIR DOMESTIK RUMAH SUSUN WONOREJO SURABAYA. Yayok Suryo P.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-journal) Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: )

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Namun disamping itu, industri yang ada tidak hanya menghasilkan

TUGAS MANAJEMEN LABORATORIUM PENANGANAN LIMBAH DENGAN MENGGUNAKAN LUMPUR AKTIF DAN LUMPUR AKTIF

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat

TUGAS PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI ELECTROPLATING

adalah air yang telah dipergunakan yang berasal dari rumah tangga atau bahan kimia yang sulit untuk dihilangkan dan berbahaya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN. yang disebabkan limbah yang belum diolah secara maksimal.

EFEKTIFITAS SISTEM RBC PADA IPAL PEKAPURAN RAYA PD.PAL BANJARMASIN TERHADAP PENURUNAN KADAR BOD

SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN

Efektifitas Instalasi Pengolahan Air Limbah Dalam Menurunkan Kadar BOD Di IPAL Rumah Sakit Dokter Raden Soetijono Blora Tahun 2013

PERENCANAAN SUBSURFACE FLOW CONSTRUCTED WETLAND PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI AIR KEMASAN (STUDI KASUS : INDUSTRI AIR KEMASAN XYZ)

ANALISIS KUALITAS LIMBAH CAIR PADA INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR (IPLC) RUMAH SAKIT UMUM LIUN KENDAGE TAHUNA TAHUN 2010

PERENCANAAN ULANG INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) PG TOELANGAN, TULANGAN-SIDOARJO

SKRIPSI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN MENGGUNAKAN ROTARY BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC)

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor

PENGARUH PENAMBAHAN BITTERN PADA LIMBAH CAIR DARI PROSES PENCUCIAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

KOMBINASI PROSES AERASI, ADSORPSI, DAN FILTRASI PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN

Mukhlis dan Aidil Onasis Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang

DARI IPAL INDUSTRI FARMASI DENGAN SISTEM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber

STUDI PENGOLAHAN AIR LIMBAH LAUNDRY DENGAN SARINGAN PASIR LAMBAT

PEMANFAATAN AERASI UNTUK MENGURANGI KADAR COD DAN FOSFAT DALAM AIR LIMBAH CAR WASH

Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 3, Nomor 1, Januari 2011, Halaman ISSN:

PERBEDAAN EFEKTIVITAS FILTER ZEOLIT DAN KARBON AKTIF DALAM PENURUNAN KADAR TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU INDUSTRI RUMAH TANGGA

BAB PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEPUNG BERAS

STUDI EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADA RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA JURNAL TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI KONSERVASI SUMBER DAYA AIR

STUDI OPTIMASI PERBANDINGAN PERANCANGAN SEWAGE TREATMENT PLANT UNTUK KAPAL CORVETE UKURAN 90 METER, DENGAN MENGGUNAKAN METODE BIOLOGI DAN KIMIAWI

ANALISIS PENGOLAHAN HASIL SAMPING N₂O DENGAN KARBON AKTIF DAN SEDIMENTASI UNTUK MENURUNKAN NILAI TDS DAN TSS

PENGOLAHAN AIR LIMBAH PENCUCIAN RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN PROSES FITOREMEDIASI

Efisiensi Instalasi Pengolahan Air Limbah Terhadap Kualitas Limbah Cair Rumah Sakit Haji Makassar Tahun 2014

KINERJA COUNSTRUCTED WETLAND DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN PHOSPAT (PO 4) DAN AMMONIA (NH 3) PADA LIMBAH RUMAH SAKIT

BAB VI PEMBAHASAN. 6.1 Ketaatan Terhadap Kewajiban Mengolahan Limbah Cair Rumah Sakit dengan IPAL

ANALISIS KINERJA AERASI, BAK PENGENDAP, DAN BIOSAND FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, NITRAT, FOSFAT DAN ZAT PADAT PADA BLACK WATER ARTIFISIAL

PENGARUH PENAMBAHAN GEOTEKSTIL PADA UNIT SLOW SAND FILTER UNTUK MENGOLAH AIR SIAP MINUM

Keywords:Equisetum hyemale, SSF-Wetland, wastewater

POTENSI DAN PENGARUH TANAMAN PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN SISTEM CONSTRUCTED WETLAND

PENGARUH PENGOLAHAN MULTY STAGE SYSTEM (MSS) TERHADAP PERBAIKAN KUALITAS LIMBAH CAIR LAUNDRY DI BANTUL YOGYAKARTA

KEEFEKTIFAN EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISM-4) DALAM MENURUNKAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Buku Panduan Operasional IPAL Gedung Sophie Paris Indonesia I. PENDAHULUAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 5 TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH FASILITAS LAYANAN KESEHATAN SKALA KECIL

BAB I PENDAHULUAN. industri berat maupun yang berupa industri ringan (Sugiharto, 2008). Sragen

Analisa BOD dan COD ANALISA BOD DAN COD (BOD AND COD ANALYSIST) COD (Chemical Oxygen Demand) BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Transkripsi:

EFEKTIVITAS SISTEM CONSTRUCTED WETLANDS KOMBINASI MELATI AIR (Echinodorus palaefolius) DAN KARBON AKTIF DALAM MENURUNKAN KADAR COD (Chemical Oxygen Demand) LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT BANYUMANIK SEMARANG Restu Andri Setiyanto 1), Yusniar Hanani Darundiati 2), Tri Joko 3) Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Email: restuandri52@gmail.com Abstract :: Medical liquid waste is all wastewater originating from the activities of the hospital and contains microorganisms, toxic chemicals, hazardous radioactive and other hazardous materials. Wastewater with high organic content can cause environmental pollution. Characteristics of high organic waste water shown by the high parameter Chemical Oxygen Demand (COD) in wastewater. High levels of COD can cause a decrease in dissolved oxygen in water. Then needed alternative biological sewage treatment systems which is a Constructed Wetlands System. This research aims to determine the effectiveness of the combined Constructed Wetlands system mexican sword plant and activated carbon to reduce the COD levels. The research is a quasi experimental study with pretestposttest design with control group. The total sample is 48 sample which 32 treatment and 16 control samples. Anova test results with significant p-value <0.05 indicates that the treatment combined mexican sword plant and activated carbon and mexican sword plant treatment and control provide varying levels of COD. The average COD level before treatment was 86.18 mg/l, 86.95 mg/l, 87.66 mg/l. The precentage decreased levels of COD in control is 30,37%, and mexican sword plant treatment is 53.98% and combined of mexican sword plant and activated carbon treatment is 69.76%. Constructed Wetlands systems capability mexican sword plant and activated carbon have been effective in lowering COD levels of hospital wastewater because the result is already well below the standards based Central Java Provincial Regulation No. 5 in 2012 of 80 mg/l. Therefore, this system can be applied to hospital wastewater treatment. Keywords: Hospital Wastewater, COD, Echinodorus palaefolius, Actived Carbon PENDAHULUAN Latar Belakang Rumah sakit merupakan instansi pelayanan kesehatan yang memiliki kegiatan pokok dalam pelayanan preventif, kuratif, rehabilitasi, dan promosi. 436

Kegiatan tersebut akan menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat dan lingkungan. Dampak positif rumah sakit di antaranya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya di antaranya adalah rumah sakit menghasilkan limbah yang berbahaya. 1 Limbah cair medis adalah semua air buangan yang berasal dari kegiatan rumah sakit dan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan dan bahan berbahaya lainnya. 2 Limbah cair rumah sakit dengan kandungan organik tinggi dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Karakteristik air limbah organik tinggi dapat ditunjukkan dengan tingginya parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dalam air limbah. Kadar COD yang tinggi dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan, yang dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik seperti ikan dan menimbulkan bau busuk. 3,4 Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang terhadap kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi limbah cair Rumah Sakit Banyumanik ada beberapa parameter yang melebihi baku mutu sesuai Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012. Kadar COD dalam limbah cair RS Banyumanik pada pemeriksaan 3 bulan terakhir sebesar 144,6 mg/l pada bulan September 2014, 186,6 mg/l pada bulan Oktober 2014, dan 149 mg/l pada bulan Nopember 2014. Kadar ini melebihi baku mutu COD yaitu sebesar 80 mg/l. 5,6 Oleh karena itu diperlukan alternatif pengolahan limbah cair rumah sakit yang murah dan efisien. Mengingat karakteristik air limbah rumah sakit yang banyak mengandung bahan organik, maka alternatif sistem pengolahan limbah secara biologis dapat dijadikan pilihan utama. Salah satu alternatif sistem pengolahan air limbah tersebut adalah Sistem Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands). 7 Constructed wetlands adalah sistem rekayasa yang telah didesain dan dibangun dengan memanfaatkan proses alamiah yang melibatkan tumbuhan, tanah, dan mikroba yang saling berhubungan untuk membantu pengolahan limbah cair. 8 Ada dua jenis Lahan Basah Buatan, yaitu jenis aliran permukaan (Surface Flow) dan aliran bawah permukaan (Sub Surface Flow). Namun mengingat bahwa jenis aliran permukaan (Surface Flow) dapat meningkatkan populasi nyamuk di sekitar lokasi IPAL, maka aliran bawah permukaan (Sub Surface Flow) lebih layak digunakan sebagai alternatif sistem pengolahan air limbah domestik di Indonesia. 9 Sistem Lahan Basah Aliran 437

Bawah Permukaan (Sub Surface Flow Wetlands) menggunakan tumbuhan yang memiliki keragaman akar, yaitu jenis tumbuhan air seperti melati air (Echinodorus palaefolius), dimana pada setiap akar tumbuhan terdapat mikroba akar yang mengonsumsi eksudat tumbuhan untuk menyerap polutan. 10. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sarwoko pada penelitian pengolahan air limbah rumah sakit menggunakan kompos tidak stabil dan eksudat tumbuhan dalam sistem evapotranspirasi menggunakan tanaman melati air mampu menurunkan COD dari 280mg/L menjadi 21,33 mg/l. 10 Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Endo Sasono dan Pungut pada penelitian penurunan kadar BOD dan COD air limbah Puskesmas Janti Kota Malang dengan metode contructed wetland menggunakan tanaman melati air efisien dalam menurunkan kandungan COD air limbah rata-rata 92 %. 11 Untuk dapat menambah kemampuan tumbuhan dalam menyerap polutan, maka dikombinasikan dengan adsorpsi karbon aktif. Karbon aktif adalah karbon (arang) yang diaktifkan dengan cara perendaman dalam bahan kimia atau dengan cara mengalirkan uap panas ke dalam bahan, sehingga pori bahan menjadi lebih terbuka. permukaan arang aktif yang semakin luas berdampak pada semakin tingginya daya serap terhadap bahan gas atau cairan. 12 Berdasarkan uraian di atas maka akan dilakukan suatu penelitian tentang pengaruh sistem pengolahan air limbah dengan metode constructed wetlands tipe subsurface flow system gabungan melati air dan karbon aktif terhadap penurunan kadar dan Chemical Oxygen Demand (COD) limbah cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimen yaitu meneliti efektivitas pengolahan limbah metode constructed wetlands tanaman melati air dan karbon aktif dalam menurunkan kadar COD pada limbah cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan bentuk Pretest Postest design with Control Group. Populasi dalam penelitian ini adalah limbah cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Peneliti menggunakan pengulangan 16 kali, penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dan kotrol sehingga sampel yang dibutuhkan sebanyak 48 sampel, yaitu 32 sampel perlakuan dan 16 kontrol. Dilakukan pretest-posttest pada kontrol dan kedua perlakuan sehingga total 96 sampel. Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah rangkaian pengolahan 438

constructed wetland tipe Subsurface Flow System. cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Gambar 1. Desain Constructed Wetlands tipe Subsurface Flow System gabungan melatiair dan karbon aktif. Keterangan : A = karbon aktif dengan tinggi 5 cm B = kerikil dengan tinggi 5 cm C = pasir dengan tinggi 5 cm D = Air limbah rumah sakit E = Tanaman melati air F = Keran inlet air limbah HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk menurunkan kadar COD pada limbah cair rumah sakit dengan menggunakan sistem Constructed Wetlands gabungan melati air dan karbon aktif dengan perlakuan tipe Subsurface Flow System. Limbah cair yang dilakukan pengolahan adalah limbah Gambar 2. Perbandingan Grafik Selisih Penurunan Kadar COD Air Limbah Rumah Sakit. Gambar 2 menunjukkan bahwa penurunan kadar COD pada kontrol penurunan kadar COD tertinggi adalah pada pengulangan pertama yaitu sebesar 38,07 mg/l sedangkan penurunan kadar COD terendah yaitu pada pengulangan ke-16 sebesar 15,43 mg/l. Pada perlakuan melati air penurunan kadar COD tertinggi adalah pada pengulangan pertama yaitu sebesar 61,74 mg/l sedangkan penurunan kadar COD terendah yaitu pada pengulangan ke-16 sebesar 39,62 mg/l. Pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif tertinggi adalah pada pengulangan pertama yaitu sebesar 89,52 mg/l sedangkan penurunan kadar COD terendah adalah pada pengulangan ke-16 yaitu sebesar 42,19 mg/l. Kadar COD antara kontrol dan masing-masing perlakuan melati air dan gabungan melati air dan karbon aktif disimpulkan pada tabel di bawah ini: 439

Tabel 1. Perbandingan selisih kadar COD antara kontrol, melati air, dan gabungan melati air dan karbon aktif Kadar COD (mg/l) Kontrol Melati air Gabungan melati air dan karbon aktif Rata-rata pre (mg/l) 86,18 86,95 87,66 Rata-rata post (mg/l) 60,52 39,88 26,50 Selisih (mg/l) 25,66 47,08 61,16 Efisiensi (%) 30,37 53,98 69,76 Perbandingan kadar COD rata-rata pretest menunjukkan hasil yang tidak terlalu jauh berbeda, hasil tertinggi yaitu pada gabungan melati air dan karbon aktif sebesar 87,66 mg/l. Hasil rata-rata posttest menunjukkan hasil yang berbeda, hasil rata-rata posttest terendah yaitu pada gabungan melati air dan karbon aktif sebesar 26,50 mg/l sehingga didapatkan selisih tertinggi yaitu sebesar 61,16 mg/l dan efisiensi tertinggi yaitu sebesar 69,76%. Gambar 3. Perbandingan Efisiensi Kontrol dan Perlakuan. Gambar 3. menunjukkan bahwa perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif lebih efisien untuk menurunkan kadar COD limbah cair Rumah Sakit Banyumanik dibandingkan perlakuan melati air saja maupun Kontrol. Gambar 4. Diagram Penurunan Postest COD Dibandingkan Dengan NAB Perda Prov. Jateng No.5 tahun 2012 Gambar 4 menunjukkan bahwa pada kontrol nilai posttest kadar COD terendah ada pada pengulangan ke-2 sebesar 44,67 mg/l dan nilai posttest tertinggi pada pengulangan ke-12 sebesar 79,14 mg/l. Pada perlakuan melati air nilai posttest kadar COD terendah ada pada pengulangan ke-1 sebesar 26,66 mg/l dan nilai posttest tertinggi pada pengulangan ke-16 sebesar 47,75 mg/l. Pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif nilai posttest kadar COD terendah ada pada pengulangan ke-1 sebesar 4,54 mg/l dan 440

nilai posttest tertinggi pada pengulangan ke-13 sebesar 44,67 mg/l. Hal ini berarti pada kedua perlakuan dan pada kontrol tersebut sudah di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 5 Tahun 2012 yaitu sebesar 80 mg/l. Maka dapat disimpulan bahwa ketiganya sudah efektif dalam menurunkan kadar COD air limbah Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Berdasarkan uji normalitas data dengan Shapiro Wilk, data kadar COD didapatkan nilai p-value = 0,338 maka Ha ditolak, Ho diterima, sehingga data berdistribusi normal. Berdasarkan uji perbedaan Anova diketahui nilai Sig=0.0001 maka Ha diterima, Ho ditolak. Dengan demikian ada perbedaan penurunan kadar COD limbah cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang dengan perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif dengan melati air. Dapat dilihat bahwa efisiensi penurunan kadar COD pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif lebih efisien dalam menurunkan kadar COD dibandingkan dengan perlakuan melati air maupun pada kontrol. Menghitung efisiensi penurunannya menggunakan rumus : Keterangan : S0 : nilai pretest S : nilai posttest untuk mengetahui kemampuan constructed wetlands melati air dan karbon aktif dalam menurunkan kadar COD pada limbah cair Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Dan efektivitas ditentukan dengan cara melihat nilai posttest, dikatakan sudah efektif bila nilai posttest sudah di bawah baku mutu menurut Perda Propinsi Jawa Tengah No. 5 tahun 2012 sebesar 80 mg/l Sumber tingginya kadar COD di rumah sakit berasal dari instalasi rawat inap, instalasi bedah sentral, dan instalasi IGD. Limbah cair yang berasal dari ruang perawatan dan ruang bedah diproses ke dalam septic tank kemudian dialirkan ke flow control (pengendali arus), selanjutnya dipompa masuk ke dalam activated filter dari bagian dasar filter dan hasil saringannya keluar dari bagian atas. Limbah cair yang telah jernih akan mengalir menuju bak chlorinasi sebelum dibuang ke badan air. Pretest yang dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2015 di outlet limbah cair Rumah Sakit banyumanik sebanyak 16 kali pengulangan menunjukkan hasil rata-rata COD sebesar 87 mg/l. Hal tersebut berarti Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Banyumanik masih belum efektif untuk menurunkan kadar COD dibawah baku mutu yaitu sebesar 80 mg/l. COD adalah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahanbahan organik yang ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia, dinyatakan dengan satuan milligram per liter (mg/lt). 13 Dalam hal ini buangan organik akan dioksidasi oleh Kalium bichromat menjadi gas CO 2, H 2 O serta sejumlah ion Chrom. 437

Kalium bichromat atau K 2 Cr 2 O 7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). 14 Dari penelitian ini diketahui bahwa pada kontrol sudah dapat menurunkan kadar COD hingga di bawah baku mutu yang ditentukan. Walaupun pada bak kontrol hanya terdapat lapisan pasir dan kerikil untuk menyaring air limbah hasil dari rumah sakit tanpa ditanami melati air maupun ditambahkan karbon aktif. Hal ini disebabkan karena dalam masa tinggal selama 3 hari dalam bak kontrol Constructed Wetlands limbah cair didiamkan, dan COD pada limbah organik biodegradabel dapat turun secara alamiah dan berproses secara aerobik dengan memanfaatkan oksigen terlarut dalam limbah organik. 14 Selain itu pengolahan limbah cair dengan menggunakan saringan bermedia pasir dapat menghilangkan polutan organik, warna dan kekeruhan akibat padatan tersuspensi akibat proses penyaringan secara fisika, yaitu sedimentasi dan filtrasi. 15 Sehingga Proses secara fisika ini dapat mengurangi konsentrasi COD dalam bak kontrol. Selain itu dari rentang waktu pengambilan data awal yaitu pada bulan Desember 2014 hingga penelitian pada bulan Juni 2015, telah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan IPAL pada Rumah Sakit Banyumanik Semarang. Pada data awal yang diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang kadar COD Rumah Sakit Banyumanik Semarang selama tiga bulan terakhir yaitu September, Oktober dan November 2014 sebesar 144,6 mg/l 186,6 mg/l. Sedangkan pada hasil pretest penelitian yang dilakukan pada bulan Juni rata-rata kadar COD sebesar 86,18 mg/l 87,66 mg/l. Nilai pretest tersebut sudah sangat dekat dengan baku mutu yang ditentukan oleh Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 5 Tahun 2012 yaitu sebesar 80 mg/l, sehingga saat dilakukan perlakuan pada kontrol akan terjadi penurunan kadar COD hingga di bawah baku mutu yang ditentukan. Begitu pula pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif dan pada perlakuan melati air tanpa karbon aktif. Namun kedua perlakuan dan kontrol tersebut memiliki perbedaan efisiensi yang berarti. Aklimatisasi tanaman dilakukan selama 10 hari, 2 hari dengan air sumur, 4 hari dengan limbah 25% dan 4 hari dengan limbah 50% nampak perubahan pada morfologi pada daun, batang dan akar. Nilai ph sangat penting dalam proses aklimatisasi, ph yang optimum untuk pertumbuhan melati air yaitu 4,5 7. Pada saat air limbah dimasukkan ke dalam bak wetland air limbah memiliki ph 6,2 sehingga sudah berada pada rentang ph dalam kondisi normal. Suhu pada reaktor tidak kalah pentingnya, suhu optimum pertumbuhan melati air yaitu 25 35 0 C. Pada saat air limbah dimasukkan ke dalam bak wetland air limbah memiliki suhu sebesar 29 0 C. Nilai ph dan suhu ini sudah 438

memenuhi syarat constructed wetlands sehingga tidak perlu dikondisikan. Proses penurunan COD dalam air limbah rumah sakit dapat terjadi karena peranan tanaman melati air, adsorpsi karbon, dan bahan-bahan organik serta mikroorganisme yang ada dalam bak wetlands. Proses yang terjadi akibat dari zat organik yang terkandung dalam air limbah dimanfaatkan oleh melati air sebagai nutrien dan untuk proses fotosintesis. Peranan mikroorganisme dalam reaktor ini menguraikan partikelpartikel organik dalam air dengan bantuan transfer oksigen oleh tanaman melati air. Oksigen tersebut mengalir ke akar melalui batang setelah berdifusi dari atmosfer melalui pori-pori daun. 16 Proses-proses yang terjadi di dalam sistem constructed wetlands secara lengkap meliputi proses fisika, fisika-kimia dan biokimia. Proses fisika terdiri dari proses sedimentasi dan filtrasi. Proses fisika-kimia terdiri dari proses adsorpsi bahan pencemar oleh tanaman air, sedimen dan substrat organik. Pengoptimalan proses fisik-kimia yaitu melalui penambahan karbon aktif dimana sebagai adsorban karbon dapat menjerap substansi terlarut ke dalam porinya. Adsorpsi yang terjadi pada karbon aktif dengan limbah cair merupakan adsorpsi fisik. Peristiwa adsorpsi pada karbon aktif terjadi karena adanya gaya Van der Walls yaitu gaya tarik-menarik intermolekuler antara molekul padatan dengan solut yang diadsorpsi lebih besar daripada gaya tarikmenarik sesama solut itu sendiri di dalam larutan, maka solut akan terkonsentrasi pada permukaan padatan. Pada kelompok kontrol kadar COD mengalami penurunan sebesar 30,37%. Pada perlakuan melati air menunjukkan kadar COD mengalami penurunan sebesar 53,98%. Pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif kadar COD mengalami penurunan sebesar 69,76%. Penurunan kadar COD yang terjadi pada perlakuan sudah di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah nomor 5 tahun 2012. Hal ini berarti pada kontrol, perlakuan melati air dan perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif sudah efektif dalam menurunkan kadar COD limbah cair rumah sakit. Penelitian dilakukan selama kurang lebih 48 hari dengan 16 kali pengulangan dan tiga hari waktu tunggu, melati air terlihat pada kondisi jenuh pada pengulangan ke-16 yaitu pada hari ke-47 menunjukkan efisiensi yang menurun tetapi tidak terlalu jauh dari pengulangan sebelumnya. Jadi, melati air merupakan tanaman air yang mempunyai daya hidup lama dan dapat secara optimal menyerap limbah meskipun dalam waktu yang lama. Pada perlakuan gabungan melati air dan karbon aktif menunjukkan mengalami penurunan lebih banyak daripada perlakuan melati air. Hal ini berarti sistem constructed wetlands lebih 439

efisien dengan ditambahkan material karbon aktif. Proses adsorpsi karbon aktif dapat lebih memaksimalkan proses fisikkimia sistem constructed wetlands dibandingkan hanya dengan melati air saja. Sedangkan pada kelompok kontrol dimana pada bak wetlands terdapat pasir dan kerikil hanya terjadi proses fisika yaitu sedimentasi dan filtrasi. Namun semua sudah efektif untu menurunkan kadar COD Rumah Sakit Banyumanik Semarang sesuai baku mutu menurut Perda Propinsi Jawa Tengah No. 5 tahun 2012 KESIMPULAN 1. Constructed wetlands pada kontrol sebelum pengolahan kadar COD sebesar 86,18 mgl dan setelah masuk pengolahan constructed wetlands melati air kadar COD sebesar 60,52 mg/l. Selisih rata-rata kadar COD adalah 25,66 mg/l. Dan pada melati air tanpa karbon aktif sebelum pengolahan constructed wetlands kadar COD sebesar 86,95 mg/l dan setelah masuk pengolahan constructed wetlands melati air kadar COD sebesar 39,88 mg/l. Selisih ratarata kadar COD adalah 47,08 mg/l. Sedangkan pada gabungan melati air dan karbon aktif sebelum pengolahan constructed wetlands kadar COD sebesar 87,66 mg/l dan setelah masuk pengolahan constructed wetlands gabungan melati air dan karbon aktif kadar COD sebesar 26,50 mg/l. Selisih rata-rata kadar COD adalah sebesar 61,16 mg/l. 2. Efisiensi perlakuan constructed wetlands kontrol sebesar 30,37%, pada perlakuan constructed wetlands melati air sebesar 53,98%,dan pada gabungan melati air dan karbon aktif sebesar 69,76%. 3. Perlakuan constructed wetlands pada kontrol, dan perlakuan constructed wetlands melati air, dan gabungan melati air dan karbon aktif, dan sudah efektif dalam menurunkan kadar COD limbah cair Rumah sakit Banyumanik Semarang ditunjukkan dari nilai efisiensi yang diperoleh sudah dibawah NAB. 4. Pengolahan limbah cair rumah sakit menggunakan constructed wetlands efektif untuk diterapkan karena dapat memanfaatkan proses alamiah yang melibatkan tumbuhan, tanah, dan mikroba yang saling berhubungan untuk membantu pengolahan limbah cair. DAFTAR PUSTAKA 1. Khusnuryani, A. Mikrobia Sebagai Agen Penurun Fosfat Pada Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit. Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 IST AKPRIND Yogyakarta. 2008 2. Mukono. Program Nasional Pengelolaan Limbah Medis dan Program Pengelolaan Limbah Medis 440

Instansi Rumah Sakit. Semarang : EHSA. 2014 3. Moertinah, S. Kajian Proses Anaerobik Sebagai Alternatif Teknologi Air Limbah Industri Organik Tinggi. Jurnal Riset TPPI Vol 1 No 2 : 104-114. 2010 4. Selamet, JS. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta : 1994 5. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 6. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 58/MENLH/12/1995 7. Supradata. Pengolahan Limbah Domestik Menggunakan Tanaman Hias Cyperus Alternifolius,L. Dalam Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan (SSF-Wetlands). Tesis Universitas Diponegoro Semarang. 2005 8. Greg, W, R.Young dan M, Brown. Constructed Wetlands Manual, vol 1. Department of Land and Water Conservation New South Wales Australia. 1998 9. Metcalf & Eddy. Wastewater Engineering Treatment, Disposal, Reuse. McGraw Hill Comp. New York. 1993 10. Mangkoedihardjo, Sarwoko dan Permatasari, Dewi. Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Menggunakan Kompos Tidak Stabil Dan Eksudat Tumbuhan Dalam Sistem Evapotranspirasi. Jurnal Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS Surabaya. 2008 11. Sasono, Endro dan Pungut. Penurunan Kadar BOD dan COD Air Limbah UPT Puskesmas Janti Kota Malang Dengan Metode Contructed Wetland. Jurnal Teknik Waktu Vol 11 No 01 ISSN : 1412-1867. 2013 12. Kirk, R. E and Orthmer. Encyclopedia of Chemical Technology, 2 nd edition. Intersciences publishers John Wiley and Sons, Inc. New York. 1984 13. Wardhana, A. W. Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 2002 14. Fardiaz, S. Polutan Air dan Polusi Udara. Yogyakarta : Kanisius. 1992 15. Said, N.I., dan Wahjono. H.D. Teknologi Pengolahan Air Bersih dengan Proses Saringan Pasir Lambat Up Flow. Jakarta : Direktorat Tekhnologi Lingkungan. 1999 16. Mthembu, M.S., Odinga, C.A., Swalaha, F.M., dan Bux, F. Constructed Wetlands A Future Alternative Wastewater Treatment Technology. Review (online). 2013. www.mdpi.com/journal/water diakses pada 10 desember 2015 441