TELAAH INDEKS K GEOMAGNET DI BIAK DAN TANGERANG

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI PERBANDINGAN DISTRIBUSI INDEKS K GEOMAGNET ANTARA STASIUN BIAK DENGAN MAGNETOMETER DIGITAL DAN STASIUN TANGERANG DENGAN MAGNETOMETER ANALOG

DISTRIBUSI KARAKTERISTIK SUDDEN STORM COMMENCEMENT STASIUN BIAK BERKAITAN DENGAN BADAI GEOMAGNET ( )

PENENTUAN POLA HARI TENANG UNTUK MENDAPATKAN TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET DI TANGERANG

MODEL POLA HARI TENANG MEDAN GEOMAGNET DI SEKITAR STASIUN TANGERANG MENGGUNAKAN PERSAMAAN POLINOM ORDE-4

Prosiding Workshop Riset Medan Magnet Bumi dan Aplikasinya

STUDI KORELASI STATISTIK INDEKS K GEOMAGNET REGIONAL MENGGUNAKAN DISTRIBUSI GAUSS BERSYARAT

PERBANDINGAN PERHITUNGAN TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET DI SEKITAR STASIUN TANGERANG (175 4'BT; 17 6'LS)

KETERKAITAN AKTIVITAS MATAHARI DENGAN AKTIVITAS GEOMAGNET DI BIAK TAHUN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menerapkan metode deskripsi analitik dan menganalisis data

IDENTIFIKASI MODEL INDEKS K GEOMAGNET BERDASARKAN SIFAT STOKASTIK

MODEL VARIASI HARIAN KOMPONEN H JANGKA PENDEK BERDASARKAN DAMPAK GANGGUAN REGULER

ANALISIS PERBANDINGAN DEVIASI ANTARA KOMPONEN H STASIUN BIAK SAAT BADAI GEOMAGNET

PENENTUAN MODEL POLA HARI TENANG STASIUN GEOMAGNET TANGERANG MENGGUNAKAN DERET FOURIER

PENERAPAN METODE POLARISASI SINYAL ULF DALAM PEMISAHAN PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DARI ANOMALI GEOMAGNET TERKAIT GEMPA BUMI

Analisis Variasi Komponen H Geomagnet Pada Saat Badai Magnet

Karakteristik Gangguan Medan Magnet Bumi Akibat Ledakan Bom Hidrogen di Korea Utara

PENENTUAN PREKURSOR GEMPA BUMI MENGGUNAKAN DATA GEOMAGNET NEAR REAL TIME DENGAN METODE PERBANDINGAN POLARISASI 2 STASIUN

ANALISIS MODEL VARIASI HARIAN KOMPONEN GEOMAGNET BERDASARKAN POSISI MATAHARI

KARAKTERISTIK VARIASI HARIAN KOMPONEN H GEOMAGNET REGIONAL INDONESIA

Sri Suhartini *)1, Irvan Fajar Syidik *), Annis Mardiani **), Dadang Nurmali **) ABSTRACT

ANALISIS AKURASI PEMETAAN FREKUENSI KRITIS LAPISAN IONOSFER REGIONAL MENGGUNAKAN METODE MULTIQUADRIC

ANALISIS PERUBAHAN VARIASI HARIAN KOMPONEN H PADA SAAT TERJADI BADAI MAGNET

STUDI TENTANG BADAI MAGNET MENGGUNAKAN DATA MAGNETOMETER DI INDONESIA

Pemisahan Sinyal Noise Pada Pengolahan Data Medan Magnet Bumi Menggunakan Transformasi Wavelet

SEMBURAN RADIO MATAHARI DAN KETERKAITANNYA DENGAN FLARE MATAHARI DAN AKTIVITAS GEOMAGNET

Analisis Medan Magnet Bumi Sebelum dan Sesudah Kejadian Gempa (Studi Kasus: Gempa 18 November 2014 di Sabang)

Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Fisika Jurusan Fisika. diajukan oleh SUMI DANIATI

PENGOLAHAN SINYAL GEOMAGNETIK SEBAGAI PREKURSOR GEMPA BUMI DI REGIONAL JEPANG

ANALISIS KEJADIAN SPREAD F IONOSFER PADA GEMPA SOLOK 6 MARET 2007

STUD! PENGARUH SPREAD F TERHADAP GANGGUAN KOMUNIKASI RADIO

KEMUNCULAN SINTILASI IONOSFER DI ATAS PONTIANAK TERKAIT FLARE SINAR-X MATAHARI DAN BADAI GEOMAGNET

PENENTUAN POLA HARI TENANG UNTUK MENDAPATKAN TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET DI BIAK

DISTRIBUSI POSISI FLARE YANG MENYEBABKAN BADAI GEOMAGNET SELAMA SIKLUS MATAHARI KE 22 DAN 23

PENGARUH MONSUN MUSIM PANAS LAUT CHINA SELATAN TERHADAP CURAH HUJAN DI BEBERAPA WILAYAH INDONESIA

IDENTIFIKASI LUAS DAERAH AKTIF DI MATAHARI PENYEBAB KEJADIAN BADAI GEOMAGNET

PENENTUAN RENTANG FREKUENSI KERJA SIRKUIT KOMUNIKASI RADIO HF BERDASARKAN DATA JARINGAN AUTOMATIC LINK ESTBALISHMENT (ALE) NASIONAL

BAB III METODE PENELITIAN

LIPUTAN AWAN TOTAL DI KAWASAN SEKITAR KHATULISTIWA SELAMA FASE AKTIF DAN TENANG MATAHARI SIKLUS 21 & 22 DAN KORELASINYA DENGAN INTENSITAS SINAR KOSMIK

Analisis Karakteristik Prakiraan Berakhirnya Gempa Susulan pada Segmen Aceh dan Segmen Sianok (Studi Kasus Gempa 2 Juli 2013 dan 11 September 2014)

Pembinaan Teknis (Bintek) Pengolahan dan Interpretasi Data Geomagnet Bandung, Mei 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Aktivitas Matahari merupakan faktor utama yang memicu perubahan cuaca

ANALI5IS BADAI MAGNET BUMI PERIODIK

UNTUK PENGAMATAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF SECARA

LAPISAN E IONOSFER INDONESIA

KAJIAN HASIL UJI PREDIKSI FREKUENSI HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO DI LINGKUNGAN KOHANUDNAS

COMPONENT VARIANTION PREDICTION)

ANALISIS GANGGUAN VARIASI MEDAN MAGNETIK DI STASIUN GEOFISIKA KLAS 1 TANGERANG AKIBAT PENGARUH KERETA API LISTRIK

PENENTUAN INDEKS IONOSFER T REGIONAL (DETERMINATION OF REGIONAL IONOSPHERE INDEX T )

PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN)

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi Matahari mengalami perubahan secara periodik dalam skala waktu

Prosiding Seminar Nasional Sains Antariksa Homepage: http//

PENENTUAN POSISI LUBANG KORONA PENYEBAB BADAI MAGNET KUAT

ANALISIS STATISTIK PERBANDINGAN TEMPERATUR VIRTUAL RASS DAN RADIOSONDE DI ATAS KOTOTABANG, SUMATERA BARAT SAAT KEGIATAN CPEA CAMPAIGN I BERLANGSUNG

Pengolahan awal metode magnetik

SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 3, Juli 2014 ISSN

PENENTUAN RENTANG FREKUENSI KERJA SIRKUIT KOMUNIKASI RADIO HF BERDASARKAN DATA JARINGAN ALE (AUTOMATIC LINK ESTBALISHMENT) NASIONAL

ANALISIS PENGARUH MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) TERHADAP CURAH HUJAN DI KOTA MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN. Matahari adalah sebuah objek yang dinamik, banyak aktivitas yang terjadi

Manajemen Frekuensi Data Pengukuran Stasiun Automatic Link Establishment (ALE) Riau

Varuliantor Dear Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, Pusat Sains Antariksa, LAPAN RINGKASAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

METODE PEMBACAAN DATA IONOSFER HASIL PENGAMATAN MENGGUNAKAN IONOSONDA FMCW

TELAAH PROPAGASI GELOMBANG RADIO DENGAN FREKUENSI 10,2 MHz DAN 15,8 MHz PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO BANDUNG WATUKOSEK DAN BANDUNG PONTIANAK

RESPONS SINTILASI SINYAL GPS SAAT BADAI GEOMAGNET Dl LINTANG RENDAH

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS FUNGSI AKTIVASI RBF PADA JST UNTUK MENDUKUNG PREDIKSI GANGGUAN GEOMAGNET

Pola Variasi Reguler Medan Magnet Bumi Di Tondano

METODE NON-LINIER FITTING UNTUK PRAKIRAAN SIKLUS MATAHARI KE-24

KALIBRASI MAGNETOMETER TIPE 1540 MENGGUNAKAN KALIBRATOR MAGNETOMETER

Analisis Pengaruh Lapisan Ionosfer Terhadap Komunikasi Radio Hf

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini dilakukan indentifikasi terhadap lubang korona, angin

BADAI MATAHARI DAN PENGARUHNYA PADA IONOSFER DAN GEOMAGNET DI INDONESIA

gelombang tersebut dari pemancar ke penerima yang berdampak pada penurunan kualitas sinyal dalam sistem telekomunikasi (Yeo dkk., 2001).

Jurnal Fisika Unand Vol. 2, No. 4, Oktober 2013 ISSN

GANGGUAN GEOMAGNET PADA FASE MINIMUM AKTIVITAS MATAHARI DAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET YANG TERKAIT

Varuliantor Dear Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, Pusat Sains Antariksa, Lapan ABSTRACT

Prosiding Seminar Nasional Sains Antariksa Homepage: http//

PENGARUH PERUBAHAN fmin TERHADAP BESARNYA FREKUENSI KERJA TERENDAH SIRKIT KOMUNIKASI RADIO HF

PEMODELAN CURAH HUJAN KUMULATIF MINGGUAN DARI DATA CURAH HUJAN STASIUN PURAJAYA. Ahmad Zakaria 1)

EKSPLORASI BIJIH BESI DENGAN METODE DIPOLE-DIPOLE DAN GEOMAGNET DI WILAYAH GANTUNG, KABUPATEN BLITUNG TIMUR, PROVINSI BLITUNG

ANALISIS KOMPATIBILITAS INDEKS IONOSFER REGIONAL [COMPATIBILITY ANALYSIS OF REGIONAL IONOSPHERIC INDEX]

Observatorium Geomagnetik Lombok. (Kebanggaan Lombok untuk Masyarakat International)

Dielektrika, ISSN Vol. 3, No. 1 : 75-84, Pebruari 2016

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus

ANALISA KEJADIAN LUBANG KORONA (CORONAL HOLE) TERHADAP NILAI KOMPONEN MEDAN MAGNET DI STASIUN PENGAMATAN MEDAN MAGNET BUMI BAUMATA KUPANG

FENOMENA ELEKTROKINETIK DALAM SEISMOELEKTRIK DAN PENGOLAHAN DATANYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENGURANGAN BLOK. Tugas Akhir

Prosiding Seminar Nasional Sains Antariksa Homepage: http//

KARAKTERISTIK TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET REGIONAL INDONESIA [CHARACTERISTIC OF GEOMAGNETIC DISTURBANCE LEVEL OVER INDONESIAN REGION]

Transkripsi:

TELAAH INDEKS K GEOMAGNET DI BIAK DAN TANGERANG Sity Rachyany, Habirun, Eddy Indra dan Anwar Santoso Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN ABSTRACT By processing and analyzing the K index data (geomagnetic disturbance level) from Biak and Tangerang during to, it is obtained that the greatest frequency distribution of geomagnetic disturbance level is K= for Tangerang station and K= for Biak station. Correlation coefficient of K index between Tangerang and Biak is, that means that similarity of geomagnetic disturbance level pattern in Tangerang and Biak is about %, while the difference between them about %. It may be due to the local factor effects and also the difference of the geomagnetic equipments and the method used in determining K index. ABSTRAK Dengan mengolah dan menganalisis data indeks K (tingkat gangguan geomagnet) Biak dan indeks K Tangerang pada tahun sampai dengan, diperoleh distribusi frekuensi dengan tingkat gangguan geomagnet terbesar pada K= untuk stasiun Tangerang dan K= untuk stasiun Biak. Koefisien korelasi antara indeks K Tangerang dengan indeks K Biak adalah, dengan pengertian bahwa kesamaan pola tingkat gangguan geomagnet Tangerang dengan tingkat gangguan geomagnet Biak sekitar %, sedangkan perbedaannya sekitar %. Hal ini, kemungkinan disebabkan selain pengaruh faktor lokal juga karena perbedaan peralatan geomagnet dan metode yang digunakan pada saat menentukan indeks K. PENDAHULUAN Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah mengoperasikan peralatan pengamatan geomagnet di berbagai tempat di Indonesia, seperti di Kototabang, Pontianak, Pare- Pare, Biak, Tangerang dan Tanjungsari. Dari peralatan geomagnet tersebut diperoleh data aktivitas geomagnet, berupa komponen H untuk arah Utara- Selatan, komponen D untuk arah Timur- Barat, dan komponen Z, untuk arah vertikal. Dari ke tiga komponen geomagnet tersebut dapat diturunkan atau ditentukan indeks K yang merupakan indikator tingkat gangguan aktivitas geomagnet lokal untuk setiap stasiun. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Habirun () menunjukkan bahwa fluktuasi indeks K geomagnet dari stasiun Biak secara umum dapat dinyatakan mengikuti model ARIMA (..) dengan galat yang cukup kecil dan korelasi pola yang sangat tinggi antara model dengan data pengamatan. Tingkat gangguan aktivitas geomagnet di setiap tempat belum tentu sama. Hal ini tergantung faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aktivitas geomagnet tersebut terutama faktor lokal. Untuk itu, perlu diketahui tingkat gangguan geomagnet untuk setiap stasiun pengamat geomagnet. Dalam penelitian ini, akan ditelaah indeks K geomagnet di Indonesia dengan menggunakan indeks K dari stasiun Biak dan Tangerang. Dengan mengetahui perilaku dari kedua tingkat gangguan geomagnet tersebut diharapkan apabila salah satu stasiun geomagnet rusak (misalkan stasiun Biak) atau tidak dapat dioperasikan lagi, maka stasiun geomagnet Tangerang dapat mewakilinya.

Selain itu, tingkat gangguan geomagnet Biak dan tingkat gangguan geomagnet Tangerang dibandingkan juga dengan indeks planetary Kp yang menggambarkan gangguan geomagnet secara global dan tingkat gangguan geomagnet di lintang tinggi Tromso. DATA DAN METODE Indeks K dapat diturunkan berdasarkan data komponen H, D dan Z atau komponen H dan D (tanpa komponen Z) yang diperoleh dari hasil pengamatan magnetogram. Indeks K yang dikenal dengan indeks jam-an adalah indeks yang menyatakan tingkat gangguan geomagnet dalam kondisi regional akibat adanya variasi (perubahan) harian medan geomagnet. Indeks K pertama kali dibuat pada tahun berdasarkan data dari stasiun Niemegk ( ' N; ' E) dan mulai digunakan pada bulan September oleh IATME {International Asscociation of Terrestrial Magnetism and Electricity) yang sekarang disebut IAGA {International Association for Geomagnetism and Aeronomy) (Ruhimat, ). Indeks K ini dtentukan dalam x (kali) (setiap jam-an) untuk setiap harinya. Dengan menggunakan metode tertentu, maka diperoleh suatu harga yang kemudian dikonversikan terhadap harga R dari stasiun Niemegk seperti yang ditunjukkan pada Tabel -, dengan R adalah nilai tertinggi intensitas komponen H atau D untuk setiap jam dengan satuan nano tesla. Tabel -l:konversi HARGA R TERHADAP NILAI INDEKS K UNTUK NIEMEGK K R nt Tabel -: KONVERSI HARGA R TERHADAP NILAI INDEKS K UNTUK BIAK DAN TANGERANG K R nt Tabel -:KONVERSI HARGA R TERHADAP NILAI INDEKS K UNTUK BOULDER K R - - - - - - - - - > nt Tidak setiap observatorium mempunyai konversi yang sama untuk skala R dan indeks K, karena untuk setiap stasiun memiliki zona respon dan gangguan magnet yang berbeda-beda. Dengan menggunakan acuan dari Niemegk ini, maka distribusi harga indeks K pada masing-masing stasiun dapat ditentukan. Sebagai contoh, Tabel - menunjukkan konversi K terhadap amplitudo R. Apabila sr<, maka K=, untuk R < ; maka K=l dan seterusnya sampai dengan < R <,, maka K= yang merupakan tingkat gangguan geomagnet terbesar. Tabel - menunjukkan konversi nilai indeks K terhadap amplitude R untuk stasiun Biak dan Tangerang. Apabila < R <, maka K= ; untuk <; R <, maka K=l dan seterusnya sampai dengan < R s, maka K= yang merupakan tingkat gangguan terbesar untuk Biak dan Tangerang. Demikian pula untuk lintang tinggi dengan konversi harga R dalam satuan nano tesla terhadap nilai indeks

K untuk Boulder (Christopher, ), seperti yang terlihat dalam Tabel -. Data yang dipergunakan untuk keperluan ini adalah data indeks K (lokal) yang diperoleh dari stasiun Biak (. S;. E) dan Badan Meteorologi Geofisika (BMG) Tangerang (.. S;. E). Selain itu, digunakan juga data indeks global Kp dan indeks K Tromso (. N,. E) sebagai perbandingan dengan lintang yang berbeda yang dapat diakses dari internet dengan alamat http://swdcwww.kugi.kyoto-u.ac.jp dan http://geo.phys.uit.no/geomag.htrnl dengan periode waktu yang bersamaan dengan indeks K Biak dan indeks K Tangerang pada tahun sampai dengan tahun. Data selama periode waktu tersebut diolah dan dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah berikut. Langkah awal adalah menentukan distribusi frekuensi indeks K dari stasiun pengamat geomagnet Biak, Tangerang dan Tromso serta indeks Kp, yaitu dengan menghitung banyaknya tingkat gangguan geomagnet (=K) untuk K=,,,..., dari setiap pengamatan jam-, jam- hingga jam- (dalam hari data). Kemudian dihitung pula jumlah tingkat gangguan geomagnet harian dari stasiun Biak dan Tangerang. Untuk mengetahui hubungan antara indeks K Biak dengan indeks K Tangerang, dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode yang dinyatakan oleh Bevington () dengan rumus yang dinyatakan dalam persamaan: Y = a + bx (-) dengan Y dan X, menunjukkan indeks K Biak dan indeks K Tangerang, sedangkan a dan b adalah koefisien yang dihitung berdasarkan data hasil pengamatan dari ke dua indeks K tersebut. Berdasarkan pasangan indeks K Biak dan Tangerang, dengan menggunakan kuadrat terkecil, koefisien a dan b dapat dihitung dengan: HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan data indeks K yang diperoleh dari stasiun Biak dan BMG Tangerang dilakukan dari bulan Juni hingga bulan Desember. Selama periode waktu tersebut ada beberapa bulan tertentu yang datanya tidak dapat dipergunakan karena salah satu dari stasiun Biak atau stasiun Tangerang tidak ada datanya (kosong atau tidak ada pengamatan), sebagai contoh seperti yang terjadi pada bulan Maret untuk stasiun Biak atau pada bulan Januari untuk stasiun Tangerang. Dari hasil perhitungan frekuensi kemunculan indeks K untuk mendapatkan distribusi frekuensi indeks K (Uesugi, et al, ) dengan K =,,,... untuk setiap pengamatan jam-, jam-, hingga jam- dari stasiun Biak dan Tangerang, diperoleh hasil seperti yang terlihat dalam Tabel - dan Tabel -. Kolom menunjukkan besarnya tingkat gangguan geomagnet indeks K dari,,, hingga sedangkan kolom, kolom hingga kolom menunjukkan banyaknya data (setiap jam-an) untuk setiap harinya.

Tabel -: DISTRIBUSI FREKUENSI INDEKS K TANGERANG SELAMATAHUN - jam\k Tabel -: DISTRIBUSI FREKUENSI INDEKS K BIAK SELAMATAHUN - jam/k Dari Tabel -, terlihat bahwa distribusi frekuensi indeks K Tangerang untuk setiap pengamatan jam-l, jam- hingga pengamatan jam- mempunyai tingkat gangguan yang bervariasi. Tingkat gangguan geomagnet yang paling banyak pada K=, sedangkan tingkat gangguan geomagnet paling besar adalah pada K= sebanyak kali yang terjadi pada pengamatan jam-l, yang jatuh pada pukul (-) Universal Time atau sekitar pukul (-) waktu lokal. Dari Tabel -, terlihat bahwa distribusi frekuensi indeks K Biak mempunyai tingkat gangguan paling banyak pada K= (sama dengan indeks K Tangerang) dan tingkat gangguan geomagnet terbesar pada K= yang jatuh pada pengamatan jam-, yaitu sekitar pukul (-) Universal Time atau sekitar pukul (-) waktu lokal (WIT). Dari hasil olah data dan perhitungan frekuensi kemunculan indeks K (dalam %) di atas Biak dan Tangerang menunjukkan pola yang bervariasi. Dari hasil pengamatan jam- sampai dengan jam- diperoleh macam variasi pola seperti Gambar -. Pergeseran pola antara indeks K Biak dengan indeks K Tangerang ditunjukkan pada Gambar - (bagian atas), Gambar - (bagian tengah) menunjukkan pola yang berbeda antara Biak- Tangerang, terutama pada indeks K= untuk Biak sangat tinggi. Sedangkan Gambar - (bagian bawah) menunjukkan pola distribusi frekuensi yang hampir sama antara indeks Biak dan Tangerang. Untuk lebih jelasnya, secara keseluruhan pengamatan jam- hingga pengamatan jam- dapat dilihat pada Gambar -.

Gambar -: Perbandingan antara frekuensi kemunculan indeks K (dalam %) Biak dan Tangerang pada pengamatan Jam- (atas), Jam- (tengah) dan pengamatan Jam- (bawah) tahun -

Dari Gambar - terlihat bahwa antara indeks K Biak dan Tangerang ada beberapa pengamatan yang sama ada pula yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti adanya data kosong, alat pengukuran yang berbeda dan metode yang dipergunakan untuk menentukan indeks K juga berbeda. Sebagai perbandingan antara lintang rendah (Biak dan Tangerang) ditunjukkan pula indeks K untuk lintang tinggi indeks Kp dan indeks K Tromso, seperti yang terlihat pada Gambar -. Dari Gambar -a terlihat bahwa distribusi frekuensi (%) indeks Kp untuk setiap pengamatan (jam-l hingga jam-) mempunyai pola serupa. Berbeda dengan distribusi indeks K Tromso sangat bervariasi dan distribusi frekuensi tertinggi (rnaksimum) pada pengamatan jam- (Gambar -b). Selanjutnya, jumlah tingkat gangguan geomagnet (harian) atau jumlah indeks K harian di atas Biak dan indeks K di atas Tangerang serta hubungan antara ke dua indeks K tersebut adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar -a dan Gambar -b. Dari Gambar -a terlihat bahwa variasi tingkat gangguan geomagnet di Tangerang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat gangguan geomagnet di Biak. Hubungan antara indeks K Biak dengan indeks K Tangerang, secara matematis dapat dinyatakan dengan (-) dengan Y menunjukkan indeks K Biak, sedangkan X menunjukkan indeks K Tangerang dengan koefisien korelasi r,. Artinya, hubungan antara indeks K Biak dengan indeks K Tangerang mempunyai hubungan linier seperti yang terlihat dalam persamaan (-) dengan kuatnya hubungan linier sebesar,. Dalam pengertian bahwa pola indeks K Biak dan indeks K Tangerang mempunyai kesamaan pola sekitar %. Sedangkan perbedaannya sekitar %. Hal ini merupakan kesalahan model persamaan (-). Sebagai perbandingan, indeks planetary Kp harian yang menggambarkan gangguan geomagnet secara global dengan intensitas maksimumnya cukup tinggi mencapai nano tesla dan tingkat gangguan geomagnet harian di lintang tinggi Tromso mencapai maksimum dengan intensitas sebesar nt. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat gangguannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan indeks K Biak dan indeks K Tangerang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Gambar - dan Gambar -. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data tingkat gangguan geomagnet yang ditunjukkan dengan indeks K yang diperoleh dari stasiun Biak dan stasiun Tangerang dari tahun sampai dengan dapat disimpulkan bahwa tingkat gangguan geomagnet terbesar di atas Tangerang jatuh pada indeks K= yang terjadi pada pengamatan (jam-l) pada pukul (-) Universal Time atau pada pukul (-) waktu lokal (WIB). Sedangkan tingkat gangguan geomagnet terbesar di atas Biak terjadi pada pengamatan (jam-) UT atau pada pukul (-) waktu lokal (WIT). Indeks K Biak mempunyai distribusi frekuensi yang tidak sama dengan indeks K Tangerang. Dengan diperolehnya koefisien korelasi sebesar, dengan pengertian bahwa antara indeks K Biak dengan indeks K Tangerang mempunyai pola kesamaan sebesar % sedangkan perbedaannya %. DAFTAR RUJUKAN B. Christopher,. The K-index, http:// www.sec.noaa.gov/info/ Kindex.html. Bevington, P.,. Data reduction and error analysis for the physical sciences, McGrow-Hill, New York. Habirun,. Identifikasi model fluktuasi indeks K Harian Menggunakan Model ARIMA (..), Jurnal Sains Dirgantara, Vol., No., Juni, -.

Ruhimat, M. (. Indeks K untuk Stasiun Geomagnet Watukosek, Jurnal Sains Dirgantara LAPAN, Vol.., ISSN -, -. Uesugi Tadayuki, Iwase Yuki, Koike Katsuharu dan Yoshida Akio,. A study on the K-index at Kakioka and Memambetsu, Technical Report of the Kakioka Magnetic Observatory, Volume, Number, July,.