tingkat Lanjutan Pertama. Asumsi pengembangan program bimbingan yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

KISI KISI UKG 2015 GURU BK/KONSELOR

Model Hipotetik Bimbingan dan konseling Kemandirian Remaja Tunarungu di SLB-B Oleh: Imas Diana Aprilia 1. Dasar Pemikiran

BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF

Penelitian penting bagi upaya perbaikan pembelajaran dan pengembangan ilmu. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran.

KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN JENJANG MAGISTER (S2) SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesimpulan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut :

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. humanistik untuk meningkatkan kemandirian belajar peserta didik yang dilakukan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang program bimbingan pribadi sosial dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bagian ini diuraikan sejumlah kesimpulan penelitian sebagai hasil

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang bimbingan belajar berbasis teknik mind map untuk

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesimpulan hasil studi dan pengembangan model konseling aktualisasi diri

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK/CAR)

PENDEKATAN PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN DI TAMAN KANAK-KANAK

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU

Oleh: Ilfiandra, M.Pd. Mubiar Agustin, M.Pd. Ipah Saripah, M.Pd.

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING MAHASISWA

PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI GURU

2015 PENGEMBANGAN PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU D ALAM MENYUSUN PROGRAM PEMBELAJARAN IND IVIDUAL DI SLB AD ITYA GRAHITA KOTA BAND UNG

KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI AWAL (UKA) GURU BIMBINGAN DAN KONSELING TAHUN 2015

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd

LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH (KONSEP & PRAKTIK)

DAFTAR ISI. Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN... 1

TUGAS PERKEMBANGAN SISWA VISI DAN MISI BIMBINGAN KONSELING

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Sementara rekomendasi hasil penelitian difokuskan pada upaya sosialisasi hasil

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. 1. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.

ARAH PENGEMBANGAN MATERI KURIKULUM : Program Pendidikan Sarjana (S-1) BK Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK)

PEMETAAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN KONSELING DI PROVINSI BENGKULU. Oleh: Rita Sinthia, Anni Suprapti dan Mona Ardina.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ihsan Mursalin, 2013

Manual Mutu Penelitian Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.04. M a n u a l M u t u P e n e l i t i a n 2

Kemandirian sebagai tujuan Bimbingan dan Konseling Kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah k

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING DI ERA DISRUPSI: PELUANG DAN TANTANGAN

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan sekolah di MTs Kabupaten Labuhanbatu Utara.

INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA GURU BK/KONSELOR

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

panduan dasar dalam melaksanakan program kerja, a. Isi program kerja PGRI dalam meningkatkan profesionalisme guruguru,

RAMBU-RAMBU PENULISAN MAKALAH

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. kelompok dengan pendekatan mentoring halaqah dalam meningkatkan

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI WASANTANNAS

I. PROGRAM STUDI : BIMBINGAN DAN KONSELING. A. Identitas Program Studi

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. Bab ini dimulai dengan sajian simpulan hasil penelitian. Selanjutnya, berdasarkan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan dan tanggung jawab yang diemban seorang guru bimbingan dan

: Evaluasi Diri untuk Rencana Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (diisi oleh Guru BK/Konselor) Alamat: Kecamatan: Kabupaten/Kota:

PENILAIAN DAN STRATEGI PENINGKATAN MATURITAS SPIP. Per 13 Februari 2018

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. kolaboratif realistis terhadap permasalahan-permasalahan dari penerapan suatu

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) Yoyo Mulyana. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam melaksanakan fungsinya, pengawas sekolah sering berhadapan

PEDOMAN STRUKTUR DAN SUBSTANSI SISTEMATIKA USULAN DAN LAPORAN PTK PRODI PGSD JURUSAN PEDAGOGIK FIP UPI

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan

Penelitian Tindakan Kelas. Oleh : Diana Rahmawati, M.Si

ISIAN PENILAIAN KINERJA GURU (PKG) BP/BK TAHUN 2014 (Diisi Oleh Kepala Sekolah)

-2- Pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah terdiri atas pembinaan dan pengawasan umum serta pembinaan dan pengawasan te

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan pada Bab IV maka dapat

BAB II KAJIAN TEORETIS. 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

Kebijakan Mutu Akademik FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM MALANG

PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN DIREKTORAT P2TK DIKDAS 2014

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk paling unik di dunia. Sifat individualitas manusia

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang kebiasaan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1

Oleh : Sugiyatno, M.Pd

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BIMBINGAN DAN KONSELING. Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia

Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP)

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini disajikan uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

MASALAH & TANTANGAN. 6. Pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam mengembangkan dan menciptakan IPTEK.

Transkripsi:

BABV KESfMPULAN REKOMENDASI DAN PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini merumuskan program hipotetik bimbingan yang memfokuskan pada upaya program bimbingan pengembangan konsep diri untuk siswa tunanetra di tingkat Lanjutan Pertama. Asumsi pengembangan program bimbingan yang dimunculkan didasarkan pada analisis empiris dan konseptual tentang prinsip-prinsip BK. Analisis tersebut, didasarkan pada beberapa pertimbangan, sebagai berikut: (1) penyelenggaraan program bimbingan di SLBN A Bandung, sementara ini belum memiliki kurikulum tersendiri, tetapi didasarkan pada kurikulum pembelajaran secara umum, (2) ketunanetraan dipandang memiliki potensi ke arah terhambatnya pencapaian tugas-tugas perkembangan, termasuk perkembangan konsep diri. Analisis empiris tersebut dimaksudkan supaya substansi program bimbingan yang dimunculkan mampu menyentuh kebuituhan siswa secara aktual. Analisis empiris difokuskan pada aspekaspek: (1) karakteristik konsep diri siswa tunanetra, (2) pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di tingkat Lanjutan Pertama SLBN A Bandung, dan (3) harapan siswa tunanetra terhadap program bimbingan dan penyuluhan. Sedangkan analisis konseptual prinsip-prinsip BP dimaksudkan untuk memformulasikan temuan empiris dalam konteks intervensi layanan bimbingan secara sistematik, terkoordinatif, ilmiah dan memiliki prinsip-prinsip keprofesionalan Kesimpulan penelitian ini adalah: 107

108 I. Berkenaan dengan karakteristik konsep diri siswa tunanetra, sebagai berikut: a. Karakteristik pada aspek fisik menunjukkan katagori sangat positif 3 siswa (10,71%), positif 5 siswa (17,86%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 9 siswa (32,14%), sangat negatif 5 siswa (17,86%). Karateristik pada aspek psikologis menunjukkan katagori sangat positif3 siswa (10,71%), positif2 siswa (7,14%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 12 siswa ( 43,86%), sangat negatif 5 siswa (17,86%). Karateristik pada aspek fisik menunjukkan katagori sangat positif 2 siswa (7,14%), positif 5 siswa (17,86%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 15 siswa(53,57%) dan sangat negatif 10 siswa(35,71%). b. Karakteristik konsep diri siswa Lanjutan Tingkat Pertama SLBN A Bandung menunjukkan katagori sangat positif2 siswa (17,14%), positif3 siswa (10,71%), sedang 13 siswa (46,43%), rendah 5 siswa (17,86%), sangat rendah 5 siswa (17,86%). c. Berdasarkan pada aspek-aspek perkembangan konsep diri, karakteristik konsep diri dipengaruhi oleh penilaian siswa tunanetra mengenai fisik, kondisi psikologis dalam merespon ketunanetraan, penerimaan dan perlakuan diri dalam melakukan interaksi sosial atau adaptasi di lingkungarmya. Dengan demikian perkembangan karateristik konsep diri siswa tunanetra merupakan akumulasi antara penilaian diri tunanetra dalam mmandang keberadaan fisik, piskologis dan sosial.

109 d. perkembangan karakteristik konsep diri siswa tunanetra dipengaruhi oleh kurang berfungsinya indera penglihatan. Mengingat bahwa perkembangan karakteristik konsep diri merupakan akumulasi penilaian intern dan ekstern. Penilaian intern yaitu pola penilaian siswa tunanetra dalam mengetahui, memahami dan menerima keberadaan dirinya sebagai seorang tunanetra. Penilaian ekstern ialah penilaian yang diberikan oleh lingkungan dalam interaksi, adaptasi di lingkungannya. Penilaian intern dan ekstern tersebut pada siswa tunanetra diwarnai oleh kondisi ketunanetraan serta akibat/kecenderungan prilaku fisik, psikologis, sosialyangmuncul. 2. Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di SLBN ABandung: a. Dilihat dari substansi program bimbingan dan penyuluhan, program bimbingan yang dirumuskan, dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) perencanaan dan penyusunan program bimbingan kurang didasarkan pada kegiatan analisis kebutuhan siswa Hal tersebut diperoleh dari indikator-indikator, guru pembimbing tidak melakukan assessment sebelum merumuskan program bimbingan, data yang digunakan tidak menggunakan data aktual tetapi lebih didasarkan pada data historis yang diperoleh dari data siswa saat pada ssat memasuki sekolah, (b) program bimbingan yang disusun tidak didasarkan pada kurikulum secara umum. Implikasinya, program bimbingan yang dirumuskan belum mempunyai misi secara spesifik yang menyangkut permasalahanpermasalahan yang dihadapi tunanetra, ( c ) materi program bimbingan yang

110 disusun masih bersifat parsial lebih mengorientasikan pada pemecahan dan pengembangankemampuan akademik siswa. b. Sedangkan pada penyelenggaraan program bimbingan dan penyuluhan, disimpulkan sebagai berikut: (a) program bimbingan yang dilaksanakan lebih bersifat sebagai kegiatan pendamping untuk mendukung keberhasilan program pembelajaran sekolah, (b) fasilitas penyelenggaraan program bimbingan belum memiliki ruangan tersendiri, belum memiliki ruangan tersendiri, belum memiliki format pelaksanaan bimbingan seperti alat pengumpul data guna mendiagnosis permasalahan siswa, inventarisir grafik perkembangan hasil pelaksanaan program bimbingan serta inventarisir data tentang kasus-kasus yang dihadapi siswa, ( c) guru pembimbing belum memanfaatkan potensi lingkungan perkembangan siswa, seperti lingkungan rumah dan lingkungan asrama atau lingkungan dimana siswa berada. 3. Analisis empiris tentang harapan siswa tunanetra mengenal layanan program bimbingan dan penyuluhan, sebagai berikut: a. Pada materi program bimbingan, siswa tunanetra tidak hanya mengharapkan program bimbingan yang mengorientasikan pada upaya pemecahan, pengembanganpermasalahan akademik, tetapi menyangkut aspek pengenalan dan pemahaman fisik, psikologis serta pengembangan kemampuan bersosialisasi. b. Dalam penyelenggaraan program bimbingan, siswa tunanetra mengharapkan: (a) program bimbingan yang dilaksanakan tidak hanya dalam setting sekolah saja,

Ill tetapi dilaksanakan juga di lingkungan luar sekolah dengan memanfaatkan suasana asrama dan rumah, (b) program bimbingan yang dilaksanakan sebagian besar belum memenuhi harapan siswa, baik menyangkut substansi program maupu dalam penyelenggaraannya. 4. Program hipotetik yang dimunculkan, dideskripsikan sebagai berikut: a. Pertimbangan substansi program bimbingan yang dimunculkan tidak hanya didasarkan pada kajian kurikulum BP di SLBN A Bandung, tetapi lebih didasarkan pada analisis kebutuhan siswa tunanetra dalam mengembangkan konsep diri. Perumusan substansi program bimbingan dilakukan melalui pendekatan analisis aspek-aspek perkembangan konsep diri, yang meliputi pengembangan aspek fisik, psikologis dan sosial. Sedangkan muatan materi yang digunakan dalam mengembangkan ketiga aspek tersebut, yaitu dengan cara mentransformasikan nilai diri (self-values), nilai pendidikan (educational), dan nilai sosial (social-values). Transformasi nilai-nilai tersebut difokuskan pada upaya pengembangan konsep diri siswa tunanetra. b. Sistem penyelenggaraan program bimbingan, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan lingkungan perkembangan siswa. Artinya penyelenggaraan program bimbingan tidak hanya memanfaatkan setting pembelajaran di sekolah, tetapi juga memberdayakan lingkungan perkembangan siswa di luar sekolah, yakni settingrumah dan asrama. Dengan pendekatan tersebut, maka guru pembimbing dalam melaksanakan program bimbingannya tidak berjalan sendiri, tetapi dengan cara kerja sama yang melibatkan guru kelas, orang tua siswa dan

112 pimpinan/petugas asrama. Untuk memfasilitasi potensi lingkungan perkembangan siswa tersebut, peranan guru pembimbing tidak hanya mengadakan tatap muka dengan siswa secara langsung, tetapi berfungsi sebagai koordinator dalam memberdayakan keterlibatan komponen-komponen lingkungan perkembangan siswa, guru kelas, orang tua siswa, dan pimpinan/petugas asrama. Peranan lingkungan perkembangan siswa lebih diarahkan sebagai informan mengenai kecenderungan perilaku siswa dilengkapi dengan pedoman observasi yang dapat membantu proses pengamaran perilaku siswa tunanetra dalam setting rumah dan asrama. Laporan yang diperoleh dari perkembangan lingkungan siswa, kemudian dijadikan dasar dalam menentukan program bimbinganberikutnya. Pengembangan program bimbingan yang dimunculkan secara spesifik didasarkan pada upaya pemenuhan kebutuhan siswa tunanetra dalam hal pengembangan konsep dirinya, sedangkan secara umum bertujuan untuk mengoptimaikan layanan program bimbingan yang telah berjalan di SLBN A Bandung. Oleh karena itu, untuk memenuhi harapan tersebut, proses pengembangannya didasarkan pada analisis empiris dan analisis konseptual. 5. Prosedur implementasi program bimbingan yang dideskripsikan sebagai berikut: a. Program bimbingan yang dilaksanakan berorientasi pada pendekatan kepribadian anak. Hal itu didasari oleh pemikiran bahwa pengembangan konsep diri siswa tunanetra merupakan salah satu implementasi program bimbingan di SLB

113 merupakan modifikasi dari, yang secara operasional meliputi tiga tahapan bimbingan, yaitu tahap eksplorasi, pengertian dan tindakan. b. Sebelum proses implementasi program bimbingan, dilakukan terlebih dahulu kegiatan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan, mensosialisasikan esensi program bimbingan kepada personel sekolah, terutama terhadap guru pembimbing. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk "lokakarya", sebagai peserta guru, wali kelas, orang/wali dan pengasuh asrama serta kepala sekolah sebagai pengawas. B. Rekomendasi I. Rekomendasi Penyusunan Program Penyelenggaraan program bimbingan yang memanfaatkan potensi lingkungan perkembangan siswa, merupakan format baru dalam penyelenggaraan pendidikan siswa tunanetra. Oleh karena itu, proses perumusan program tersebut merupakan langkah baru yang perlu dikaji ulang terutama menyangkut aspek relevansi program secara empiris dan berkelanjutan. Keterbatasan waktu kegiatan penelitian, program bimbingan yang dimunculkan belum diujicobakan terhadap beberapa SLB bagian tunanetra, sehingga program bimbingan hipotetik dan berorientasi hanya pada satu tempat. Untuk memperoleh kualitas program bimbingan, maka perlu diadakan kegiatan-kagiatan berikut: a. Perlu diadakan kegiatan uji coba terhadap program bimbingan hipotetik ini pada beberapa SLB Bagian Tunanetra. Orientasi kegiatan uji coba tersebut difokuskan

114 pada upaya untuk memperoleh gambaran/bukti tentang relevansi program yang dirumuskan dengan permasalahan yang dihadapi siswa tunanetra dan menyangkut efektivitas pemberdayaan lingkungan perkembangan siswa dalam sistem penyelenggaraan pendidikan siswa tunanetra. b. Fokus penelitian ini terbatas pada kajian intervensi layanan bimbingan pengembangan konsep diri siswa tunanetra, belum memperhatikan aspek-aspek lain dan dipandang perlu diadakan penelitian mengenai analisis sistem lingkungan perkembangan siswa yang meliputi derajat keberfungsian orang tua siswa, pimpinan/petugas asrama (pekerja sosial) yang menangani pendidikan anak tunanetra. Hal tersebut didasari asumsi, bahwa pemaksimalan sumber daya manusia secara optimal merupakan potensi utama untuk mengaplikasikan inovasi pendidikan, termasuk penyelenggaraan bimbingan yangmenyeluruh. 2. Rekomendasi Isi Satuan Program Bimbingan Program bimbingan yang tersusun merupakan penggabungan dari temuan empirik (siswa, guru pembimbing, wali kelas/guru, kepala sekolah, dan orang tua/wali atau pembimbing asrama) dan melalui proses kolaborasi dengan fihak terkait (interdisipliner) yang telah dibahas dalam lokakarya yang merupakan rangkaian kegiatan penelitian. Sebagai hasil final, maka inti program layanan bimbingan dalam mengembangkan konsep diri bagi siswa tunanetra disarankan mengacu pada pengembangan aspek fisik, psikologi dan sosial, yaitu: fisik, rjenerirn^ea^utl perilaku, moral-etika, persepsi, kekritisan diri, pengendalian diri, Sedangkan satuan program disusun berdasarkan intensitas

115 objektif di lapangan dalam satuan program bimbingan tatap muka di kelas, secara kelompok, atau di luar kelas secara individu. Satuan program tersebut memiliki tujuan umum, tujuan khusus, materi metode/pendekatan dan evaluasi yang memuat tentang aspek pengembangan konsep diri baik karakteristik fisik, psikologis dan sosial serta intensitas pertemuan disesuaikan dengan gradasi masing-masing karakteristik dalam tatap muka berkisar satu atau dua kali empatpuluh lima menit satu minggu. Sedangkan metode layanan bimbingan didasari oleh teori humanistik melalui pendekatan kepribadian dengan langkah: eksplorasi, pengertian (empati, penghargaan positif tanpa syarat, ketulusan hati, kekonkritan rasional) dan tindakan. Dan hal ini sesuai dengan karakteristik dan pengembangan aspek konsep diri siswa tunanetra. 3. Rekomendasi untuk SLB Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan permasalahan yang dihadapi siswa tunanetra dalam hal perkembangan konsep diri, hal tersebut dapat dijadikan salah satu dasar betapa pentingnya intervensi program bimbingan dan penyuluhan. Meskipun program bimbinganyang dimunculkan hanya terbatas pada pengembangan aspek konsep diri, tetapi dipandang perlu untuk mengimplementasikan program bimbingan ini. Untuk keperluan tersebut beberapa kegiatan yang perlu dilaksanakan, yaitu: a. Program bimbingan yang dimunculkan pef.u dilaksanakan: secara sistematis dan berkelanjutan sesuai dengan substansi program bimbingan yang tersusun. b. Guna mendukung pelaksanaan program bimbingan secara maksimal, perlu mensosialisasikan prinsip-prinsip penyelenggaraan program bimbingan terhadap

116 lingkungan perkembangan siswa. Melalui pendekatan tersebut, program bimbingan yang telahdirumuskan harus dipahami dandiaplikasikan secara profesional. 4. Rekomendasi Validasi Hasil Lokakarya Rangkaian penelitian yang dilangsungkan di SLBN A Bandung merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh tim bagian dari URGE. Diakhir kegiatan penelitian tersebut kami bersama sekolah, guru/wali kelas, gurupembimbing, pengasuh asrama, dan orang tua/wali menyelenggarakan lokakarya untuk mendalami hasil-hasil penelitian, pada tanggal 11 Januari 1999, dengan jumlah peserta 39 orang. Acara dalam lokakarya tersebut mempresentasikan hasil-hasil temuan penelitian, membahas/mendiskusikannya dan menerima saran dari peserta sebagai bahan masukan untuk melengkapi atau merevisi demi kesempurnaannya. Oleh karena itu penulis memandang perlu dan penting untuk disajikan sebagai berikut: 1. Kurikulum a. Disarankan perlu menyusun kurikulum yang membahas tentang BP secara khusus di SLB-SLB, khususnya di SLBN A Bandung b. Kurikulum BP harus berangkat dari kondisi objektifdi lapangan c. Perlu penyusunan secara spesifik untuk masing-masing jenjang (SD, SMPT, dan SKMVl) 2. Materi program BP, hendaknya mencakup berbagai aspek misalnya: a. Karir

117 b. Bimbingan Belajar tiap jenjang c. Bimbingan Studi Lanjut d. Bimbingan Tugas-Tugas Perkembangan e. Bimbingan Sosial 3. Strategi pelaksanaan bimbingan, hendaknya menggunakan; a. Bimbingan Individual b. Bimbingan Kelompok 4. Follow up dari Collaborative Action Research perlu ditindak lanjuti dari berbagai pihak (interdisipliner), lembaga terkait atau team ahli 5. Pihak-pihak yang terlibat dalam kolaboratif perlu lebih melibatkan (I) orang tua/pembimbingasrama, (2) pihak terkait 6. Sosialisasi program hendaknya berdasarkan perangkat nilai yang ada dan perlu adanya komitmen dari berbagai komponen sistem sekolah. 7. Sasaran Layanan Perlu mempertimbangkan: (a) perbedaanjenis kelamin, (b) tingkat usia di berbagai latar belakang kehidupan 8. Pelaksanaan program layanan BK, hendaknya mampu menghilangkan kesan, bahwa setiap siswa yang diberikan layanan "siswa yang bermasalah". Contohnya siswa yang dipanggil ke ruang BP belum tentu ada masalah. 9. Materi program BP hendaknya dapat disiapkan dalam setiap bidang studi (mata pelajaran). 10. Untuk penyelenggaraan BP perlu sarana penunjang (ruang khusus atau buku-buku penunjang)

118 Tanggapan guru SLB dalam lokakarya: 1. Keberadaan BP di SLB; 99% menyatakan setuju 2. Penyelenggaraan BP oleh guru pembimbing yang beriatar belakang pendidikan BP PLB; 98% setuju 3. Guru SLB (PLB) harus mendapatkan pengetahuan tentang BP; 95% mengatakan setuju 4. Untuk pengembangan kemampuan siswa, guru SLB yang tidak memiliki latar belakang BP perlu mengikuti pelatihan; 93% menyatakan setuju diadakan pelatihan BP Latar belakang pendidikan guru SLB: 1. SI PLB =25% 2. SI Umum =20% 3. SI BP =5% 4. D2(SGPLB) =45% 5. Lain-lain = 5% Oleh karena itu gurupembimbing (konselor) perluditambah. Pengalaman/masa kerja guru SLB 1. Antara 28-35 tahun =20% 2. Antara 21-28 tahun = 25% 3. Antara 14-21 tahun =35% 4. Antara 7-14 tahun = 10% 5. Kurang dari 7 tahun = 10%

119 C. Penutup Akhirnya dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak atas tersusunnya tesis ini. Penulis menyadari sebagai manusia, memiliki kekurangan dan kekhilafan untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf. Mudah-mudahan hasil penelitian ini bisa menambah wawasan, pengetahuan dan bermanfaat bagi pengembangan layanan bimbingan secara umum khususnya di Sekolah Luar Biasa yang menangani siswa tunanetra.