PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Data yang Dikumpulkan

UPAYAA PENGELOLAAN KUALITAS PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN WISATA AIR SITU SAWANGAN-BOJONGSARI DI KOTA DEPOK AMANDA WINDYARANI

I. PENDAHULUAN. Waduk adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bendungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Waduk Cengklik merupakan salah satu waduk di Kabupaten Boyolali yang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHLUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. hal yang penting dan harus tetap dijaga kestabilannya (Effendi, 2003).

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DANAU LINDU

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terpadu dengan lingkungannya dan diantaranya terjalin suatu hubungan fungsional

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN POSO

I. PENDAHULUAN. Tatanan lingkungan, sebenarnya merupakan bentuk interaksi antara manusia dengan

BAB I. PENDAHULUAN. Pesatnya pembangunan menyebabkan bertambahnya kebutuhan hidup,

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT. Nomor 4 Tahun 2007 Seri E Nomor 4 Tahun 2007 NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA LANGSA PROVINSI ACEH QANUN KOTA LANGSA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN HUTAN KOTA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pemberlakuan otonomi daerah di Indonesia menuntut Pemerintah Daerah untuk

BAB I PENGANTAR. laju pembangunan telah membawa perubahan dalam beberapa aspek kehidupan

I. PENDAHULUAN. manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemanfaatan tersebut apabila

I. PENDAHULUAN. berusaha, memperluas kesempatan kerja, dan lain sebagainya (Yoeti, 2004).

KRITERIA KAWASAN KONSERVASI. Fredinan Yulianda, 2010

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SUNGAI DAN DRAINASE

BUPATI LANDAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN SUMBER AIR BAKU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2002 TENTANG HUTAN KOTA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. devisa bagi negara, terutama Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) bagi daerah

I. PENDAHULUAN. dengan tidak mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta

Gambar 13. Citra ALOS AVNIR

BAB I PENDAHULUAN. potensial untuk pembangunan apabila dikelola dengan baik. Salah satu modal

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

I PENDAHULUAN. masyarakat serta desakan otonomi daerah, menjadikan tuntutan dan akses masyarakat

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. merupakan modal dasar bagi pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2008 NOMOR

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 4 SUBSTANSI DATA DAN ANALISIS PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 43 TAHUN 2011 TENTANG

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

IKHTISAR EKSEKUTIF. Hasil Rekapitulasi Pencapain kinerja sasaran pada Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut :

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara tanggal 4 Juli Tahun 1950);

Ikhtisar Eksekutif TUJUAN PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP

Persepsi Masyarakat terhadap Permukiman Bantaran Sungai

KEANEKARAGAMAN HAYATI (BIODIVERSITY) SEBAGAI ELEMEN KUNCI EKOSISTEM KOTA HIJAU

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan kota seringkali diidentikkan dengan berkembangnya

TINJAUAN PUSTAKA. meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. mengembangkan otonomi daerah kepada pemerintah daerah.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Depok merupakan salah satu daerah penyangga DKI Jakarta dan menerima cukup banyak pengaruh dari aktivitas ibukota. Aktivitas pembangunan ibukota tidak lain memberikan dampak positif bagi pertumbuhan perekonomian Kota Depok. Kota Depok turut menjalankan perannya sebagai kota permukiman, pendidikan, perdagangan dan jasa, serta kota wisata bagi masyarakat ibukota pada perkembangan berikutnya. Namun, laju pembangunan yang terus meningkat dari waktu ke waktu berpotensi pula menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup di Kota Depok, terutama jika perencanaan dan pelaksanaan pembangunan tidak dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Pertambahan jumlah permukiman dan penduduk serta penurunan jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Depok menimbulkan permasalahan lingkungan dan pada akhirnya mengganggu kenyamanan kehidupan masyarakat. Sumberdaya perairan seperti situ adalah salah satu komponen lingkungan yang terkena dampak negatif tersebut. Pencemaran perairan, sedimentasi dan pendangkalan situ, serta perubahan tata guna lahan sekitar situ merupakan beberapa contoh peristiwa yang ditemukan terjadi di situ-situ di Kota Depok. Situ merupakan sebutan bagi danau-danau kecil dan dangkal di daerah Jawa Barat. Situ dapat terbentuk secara alami maupun buatan dan memiliki sumber air berasal dari mata air, air hujan, sungai, dan/atau limpasan air permukaan (Natasaputra 2000). Menurut Puspita et al. (2005) ekosistem situ memiliki berbagai fungsi dan manfaat bagi makhluk hidup, diantaranya yaitu a) habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan; b) pengatur fungsi hidrologis dan pencegah banjir; c) penghasil sumberdaya alam bernilai ekonomis; d) sarana wisata dan olahraga; dan e) sebagai sumber air untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Selain itu, situ juga merupakan ekosistem yang bermanfaat sebagai unsur alami yang mempengaruhi iklim mikro dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Pemanfaatan situ sebagai kawasan wisata merupakan salah satu bentuk upaya mempertahankan keberadaan serta fungsi dan manfaat situ di Kota Depok. Hal ini masih perlu dikembangkan, mengingat masih sedikit situ yang dikelola

2 untuk dijadikan sebagai kawasan wisata. Perwujudan hal tersebut memberikan harapan agar situ dapat tetap lestari dan masyarakat pun dapat memperoleh manfaat, baik ekonomi, ekologis, maupun kenyamanan wisata (estetis) dari keberadaan situ tersebut. Pariwisata adalah salah satu sektor yang mampu menunjang perekonomian daerah di Indonesia, tidak terlepas bagi Kota Depok. Pernyataan ini semakin diperkuat oleh penetapan kebijakan mengenai otonomi daerah dimana setiap daerah diberikan kewenangan untuk mengembangkan kebijakan daerahnya sendiri sesuai dengan kebutuhan yang ada. Pengembangan pariwisata tidak sama di setiap daerah karena bergantung pada situasi dan kondisi setiap daerah. Potensi yang berbeda, baik itu potensi alam, ekonomi, adat budaya, maupun kependudukan, akan menimbulkan perbedaan pola pengembangan pariwisata setiap daerah. Situ yang dimiliki oleh Kota Depok merupakan potensi alam bagi pengembangan pariwisata daerah. Proses penentuan pola pengembangan ini haruslah melibatkan berbagai pihak agar dapat menghasilkan pola pengembangan pariwisata daerah yang terpadu. Situ Sawangan-Bojongsari merupakan salah satu situ yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata di Kota Depok. Situ ini berlokasi di dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Situ Sawangan Bojongsari adalah sebuah situ alami yang airnya berasal dari mata air alami. Situ tersebut telah mulai dikembangkan sebagai lokasi wisata air pada saat ini dimana pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat melalui Kelompok Kerja Situ (Pokja Situ). Fasilitas wisata telah disediakan oleh pihak pengelola, seperti sepeda air, wahana flying fox, pemancingan, serta warungwarung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Kelompok Kerja Situ merupakan suatu kelompok masyarakat sekitar situ yang peduli dengan keberadaan situ sebagai daerah konservasi sumberdaya alam. Tugas Pokja Situ diantaranya adalah menyelenggarakan penertiban, pengamanan, pemeliharaan, dan pemberdayaan fungsi situ secara tepat. Situ Sawangan Bojongsari dikelola oleh dua Pokja, yaitu Pokja Situ Sawangan dan Pokja Situ Bojongsari. Pola pengelolaan dua Pokja Situ ini dipengaruhi oleh kebijakan pemekaran kecamatan di Kota Depok yang terjadi pada tahun 2009 berdasarkan

3 Peraturan Daerah Kota Depok No. 8 Tahun 2007. Pemekaran wilayah kecamatan telah menyebabkan situ terbagi ke dalam dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Bojongsari, dimana sebelumnya lokasi situ disebutkan berada di wilayah Kecamatan Sawangan. Permasalahan kualitas perairan situ adalah hal yang masih harus dihadapi oleh pengelola untuk mewujudkan Situ Sawangan-Bojongsari sebagai kawasan wisata air. Sebagian wilayah situ sering tertutup oleh gulma air, terdapat beberapa keramba ikan di beberapa sisi situ, dan dilaporkan pula bahwa telah terjadi pendangkalan di Situ Sawangan-Bojongsari, terutama pada bagian selatan situ. Pencemaran air oleh limbah kegiatan domestik dan wisata juga terjadi di sekitar situ. Ledakan populasi gulma air kapu-kapu (Salvinia molesta) diduga terjadi karena peningkatan nutrien perairan akibat limbah aktivitas masyarakat ke dalam situ maupun akibat keberadaan keramba ikan. Nurhakim (2004) memberikan informasi mengenai kondisi perairan Situ Babakan, Jakarta Selatan, yaitu rataan kandungan amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat pada wilayah situ dimana terdapat keramba jaring apung milik masyarakat sekitar menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan keempat parameter tersebut pada wilayah situ yang tidak terdapat keramba jaring apung. Penggunaan pakan ikan yang berlebih dan berkepanjangan mampu meningkatkan kandungan nutrien dalam air. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkontrol tersebut dapat mengganggu aktivitas wisata dan mengganggu keseimbangan ekosistem situ. Pencemaran air juga dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia jika terjadi pemasukan bahan berbahaya atau akibat keberadaan bakteri pathogen. Hal-hal tersebut dapat memicu terjadinya penurunan kualitas perairan situ dan menurunkan potensi situ sebagai daerah tujuan wisata. Penelitian terkait perairan situ di Kota Depok telah cukup banyak dilakukan. Hal yang dikaji beragam, mulai dari aspek kualitas perairan situ hingga aspek kelembagaan pengelolaan situ. Penelitian oleh Permana (2003), Susilowati (2004), dan Rosnila (2004) memberikan informasi bahwa perubahan penggunaan lahan di Kota Depok, terutama di sekitar situ, telah mempengaruhi kualitas air, keberadaan, dan fungsi situ. Menurut Listiani (2005) pengelolaan situ-situ di Kota Depok oleh Pemerintah Kota Depok belum mampu mengatasi berbagai

4 permasalahan yang dihadapi oleh situ-situ tersebut. Meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, namun informasi mengenai pengelolaan kualitas perairan Situ Sawangan-Bojongsari sebagai lokasi wisata air belum banyak tersedia. Oleh karena itu, penelitian mengenai hal tersebut perlu dilakukan untuk membantu tercapainya kelestarian situ dan perkembangan pariwisata di Kota Depok. 1.2. Perumusan Masalah Situ Sawangan-Bojongsari membutuhkan pengelolaan yang menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup sebagai salah satu sumberdaya air permukaan. Hal ini bertujuan agar sumberdaya air tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kemakmuran generasi masa kini maupun masa yang akan datang. Namun, perwujudan hal tersebut masih mengalami berbagai kendala, salah satunya yang terkait dengan pengembangan pemanfaatan Situ Sawangan- Bojongsari untuk kegiatan wisata air. Kondisi yang berlangsung di Situ Sawangan-Bojongsari saat ini dapat dicermati berdasarkan beberapa aspek terkait pengelolaan kualitas perairan situ untuk menyederhanakan permasalahan tersebut. Pemanfaatan Situ Sawangan-Bojongsari oleh masyarakat sekitar situ ditujukan untuk mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari. Pemanfaatan situ yang masih berlangsung dari dulu hingga kini yaitu kegiatan perikanan seperti memancing, menjala ikan, dan memelihara ikan di keramba, sedangkan pemanfaatan air situ untuk irigasi pertanian telah banyak berkurang disebabkan oleh peralihan mata pencaharian masyarakat sekitar situ dari bertani atau berkebun menjadi bekerja sebagai karyawan perusahaan, guru, atau pekerjaan lainnya. Pemanfaatan air situ untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci juga masih dapat ditemui di tepian situ. Situ tengah dikembangkan oleh masyarakat sekitar situ saat ini, terutama oleh Pokja Situ, sebagai satu lokasi wisata air selain dari sebagai sumber perikanan dan sumber air keperluan rumah tangga. Jenis-jenis pemanfaatan situ tentunya akan memberikan dampak pada komponen lingkungan hidup yang ada di situ. Kualitas perairan Situ Sawangan-Bojongsari perlu dikelola dengan baik agar situ dapat terus dimanfaatkan secara optimal, salah satunya sebagai kawasan wisata air.

5 Potensi sumberdaya perikanan, sumberdaya air, dan keindahan panorama yang dimiliki oleh Situ Sawangan-Bojongsari dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, meskipun kini kondisinya cenderung mengalami penurunan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Berbagai jenis ikan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat hidup di situ ini, diantaranya ikan nila, lele, patin, gabus, bahkan dari jenis udang. Jumlah populasi ikan yang ada dirasakan oleh masyarakat telah berkurang saat ini dibandingkan dengan jumlah yang ada pada masa yang lalu. Masyarakat menyebutkan bahwa dahulu selalu dapat memperoleh ikan ketika menjaring di situ, namun kini ikan tidak selalu dapat diperoleh ketika masyarakat menjaring di situ. Hal ini diduga terkait dengan penurunan kualitas air yang terjadi. Sampah dan limbah hasil kegiatan antropogenik yang dibuang ke dalam situ atau yang terbawa oleh aliran air menuju situ telah mencemari dan mengurangi keindahan perairan situ. Belum lagi pendangkalan dan proses penyuburan perairan yang dipercepat oleh kegiatan antropogenik. Penyuburan perairan atau eutrofikasi menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran air oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor dalam air (KLH 2011). Kondisi kualitas perairan Situ Sawangan-Bojongsari dirasakan belum cukup mendukung situ tersebut sebagai kawasan wisata air di Kota Depok. Air situ cenderung berwarna kehijauan, terutama di bagian sekitar outlet (pintu air) situ. Kekeruhan yang tinggi dapat terlihat pada bagian situ yang mengalami pendangkalan akibat pengurukan oleh masyarakat sekitar. Tumbuhan air yang mengapung, terutama kiambang (kapu-kapu), nampak tersebar tidak merata di seluruh permukaan situ. Populasi tumbuhan air ini seringkali juga menutup rapat sebagian permukaan situ sehingga nampak seperti daratan dan mengurangi keindahan situ serta mengganggu aktivitas wisata air seperti penggunaan sepeda air oleh pengunjung. Faktor lain yang juga menjadi penyebab berkurangnya keindahan Situ Sawangan-Bojongsari adalah posisi keramba ikan yang tidak teratur dan banyak pula yang sudah tidak digunakan namun tidak dibenahi sehingga terbengkalai di tepian situ. Permukaan air situ juga masih terkotori oleh sejumlah sampah yang mengapung, terutama dari jenis plastik. Faktor kedalaman situ yang cukup dalam pada bagian tengah situ diduga juga menjadi kendala dalam pengembangan wisata air situ karena menimbulkan kekhawatiran bagi para

6 pengguna jasa wisata air. Potensi perikanan Situ Sawangan-Bojongsari pun belum berkembang optimal, padahal hal tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung untuk berwisata di Situ Sawangan-Bojongsari. Aktivitas sekitar perairan Situ Sawangan-Bojongsari dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas perairan situ. Wilayah sekitar Situ Sawangan-Bojongsari sebagian besar terdiri dari permukiman warga dan kebun milik warga. Limbah hasil kegiatan antropogenik akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan situ jika digelontorkan ke dalam perairan situ. Alih fungsi sempadan situ menjadi lahan terbangun dan area situ menjadi lahan pertanian juga dapat mempercepat terjadinya proses sedimentasi atau pendangkalan situ. Hal-hal tersebut dapat berdampak pada penurunan kualitas air dan menurunkan nilai estetika dari panorama situ yang penting bagi pengembangan wisata air di Situ Sawangan-Bojongsari. Kegiatan lain yang terdapat di sekitar Situ Sawangan-Bojongsari adalah kegiatan pertanian, yang terdiri dari kebun-kebun milik masyarakat setempat seperti kebun jambu, pepaya, pisang, dan singkong, serta terdapat pula beberapa usaha budidaya tanaman hias yang dilakukan oleh masyarakat. Usaha budidaya tanaman hias tersebut dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok tani tanaman hias kegiatan ini tetap perlu diawasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kualitas perairan situ terkait penggunaan pupuk dan pestisida untuk tanaman. Selain itu, situ berbatasan dengan lahan milik pihak swasta Telaga Golf Sawangan pada salah satu sisi situ, dimana terdapat lapangan golf dan beberapa cottage atau vila milik pihak swasta pada lahan tersebut. Kendala-kendala terkait pengelolaan situ juga harus dihadapi oleh Pokja Situ, diantaranya yaitu status Pokja Situ yang dirasakan belum jelas, koordinasi antara Pokja Situ dengan pemerintah yang kurang baik, pendanaan pengelolaan, kebijakan pemerintah yang dirasa kurang efektif, dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian situ. Masyarakat yang merupakan anggota Pokja Situ merasa status Pokja Situ belum diakui sepenuhnya sebagai perwakilan masyarakat yang berhak memberikan aspirasi bagi perencanaan pembangunan daerah, terutama terkait pemanfaatan potensi situ di daerahnya. Sosialisasi mengenai tugas dan wewenang Pokja Situ kepada Pokja Situ dirasakan masih

7 kurang optimal dilakukan oleh pemerintah. Pokja Situ juga sering menghadapi kesulitan dalam hal birokrasi ketika berusaha mengajukan anggaran pengelolaan situ ke Pemerintah Kota Depok dengan alasan yang diberikan yaitu dana yang dimiliki oleh pemerintah terbatas dan masih terdapat kerancuan tanggung jawab pengelolaan situ di Kota Depok. Pihak Pokja Situ sering dibingungkan dengan status tanggung jawab pengelolaan situ di Kota Depok, apakah berada di tangan Pemerintah Kota Depok atau Pemerintah Pusat. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada pun dirasakan belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh situ. Tingkat partisipasi masyarakat sekitar situ juga tergolong rendah. Hal ini terkait dengan tingkat pemahaman masyarakat akan fungsi dan manfaat situ serta persepsi masyarakat akan keberadaan situ. Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pengembangan wisata air Situ Sawangan-Bojongsari tidak jauh berbeda dari permasalahan pengelolaan Situ Sawangan-Bojongsari secara umum. Pihak Pokja Situ berpendapat bahwa perhatian dan dukungan pemerintah terhadap upaya pengembangan situ menjadi kawasan wisata air masih kurang. Pengetahuan masyarakat yang masih rendah, khususnya Pokja Situ, tentang strategi pengelolaan kegiatan wisata juga menjadi kendala untuk mewujudkan pengelolaan wisata air yang baik. Partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan wisata air belum terwujud secara maksimal, sehingga berdampak pada berkurangnya sumberdaya manusia yang mengupayakan pengembangan wisata air situ. Hal ini terkait dengan tingkat pemahaman dan persepsi masyarakat akan keberadaan situ. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya atau tidak adanya rasa kepemilikan dan kepentingan akan situ pada masing-masing individu dalam masyarakat dan minimnya kegiatan sosialisasi. Permasalahan terkait pengelolaan dan pengembangan wisata air Situ Sawangan-Bojongsari yang dapat dirumuskan berdasarkan uraian di atas yaitu kualitas perairan dirasakan belum cukup mendukung kegiatan wisata air, pengelolaan situ yang belum berjalan secara terpadu, dan masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan situ yang dapat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan persepsi masyarakat akan keberadaan situ. Hal tersebut dapat diatasi dengan menciptakan pengelolaan kualitas perairan Situ Sawangan-

8 Bojongsari yang terpadu yang mampu mendukung pengembangan wisata air di situ tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Yaping (1998) yaitu peningkatan kualitas perairan suatu badan air dipercaya dapat meningkatkan nilai ekonomi dari badan air tersebut sebagai kawasan rekreasi. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji pengelolaan Situ Sawangan-Bojongsari hingga saat ini. 2. Mengkaji kegiatan antropogenik sekitar Situ Sawangan-Bojongsari. 3. Menganalisis kualitas air Situ Sawangan-Bojongsari berdasarkan beberapa parameter kualitas air yang ditetapkan oleh Pemerintah yang dapat mendukung kegiatan wisata air di Situ Sawangan-Bojongsari. 4. Mengkaji persepsi pengunjung situ dan tingkat pengetahuan masyarakat sekitar situ mengenai kondisi situ dan pengembangan wisata air Situ Sawangan-Bojongsari. 5. Menyusun rekomendasi strategi pengelolaan kualitas perairan untuk pengembangan wisata air Situ Sawangan-Bojongsari. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pengelola dalam evaluasi penentuan kebijakan pengelolaan dan pengembangan pariwisata situ di Kota Depok, khususnya Situ Sawangan-Bojongsari.