BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Lokasi Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ekspeimental. Pada penelitian ini akan ada kelompok ekspeimen dan kelompok kontol sebagai pembanding. kelompok ekspeimen akan diaja dengan menggunakan metode pembelajaan Levels of Inquiy Leaning Cycle dan pada kelompok kontol akan diaja dengan menggunakan metode Ceamah. Penelitian ini akan dilaksanakan pada SMK Negei 1 Ngabang, Kabupaten Landak. Dalam penelitian ini kelompok ekspeimen adalah peseta didik kelas XI Juusan Teknik Kendaaan Ringan SMK Negei 1 Ngabang dan kelompok kontol adalah peseta didik kelas XI Teknik Teknik Sepeda Moto SMK Negei 1 Ngabang. 3. Subyek Penelitian Subyek dai penelitian ini adalah peseta didik kelas XI Juusan Teknik Kendaaan Ringan dan peseta didik kelas XI Juusan Teknik Sepeda Moto di SMK Negei 1 Ngabang, Kabupaten Landak. Dimana peseta didik kelas XI Juusan Teknik Kendaaan Ringan meupakan kelompok ekspeimen dan peseta didik kelas XI Teknik Sepeda Moto meupakan kelompok kontol.
3.3 Vaiabel Penelitian Vaiabel penelitian tedii dai : 1. Vaiabel pelakuan adalah jenis metode pembelajaan Levels of Inquiy Leaning Cycle dan metode ceamah sebagai vaiable bebas.. Pestasi belaja Fisika sebagai vaiabel teikat. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini digunakan dua kelas paalel pada mata pelajaan dan topik yang sama. Salah satu kelas menjadi kelompok kontol yaitu kelas yang menggunakan metode ceamah. Sedangkan kelas lainnya menjadi kelompok ekspeimen yang menggunakan metode pembelajaan Levels of Inquiy Leaning Cycle. Sebelum melakukan penelitian, peneliti akan meancang encana pelaksanaan pembelajaan (RPP) untuk kelas ekspeimen maupun kelas kontol. Setelah ini peneliti akan membuat seangkaian soal untuk Pe- Test dan Post-Test. Pada tahap awal, kedua kelas dibeikan Pe-Test guna menguku kemampuan peseta didik sebelum dibeikan pelakuan. Setelah itu kedua kelas dibeikan pelakuan yang bebeda. Kelompok ekspeimen dengan menggunakan metode Levels of Inquiy Leaning Cycle dan pada kelompok kontol menggunakan metode Ceamah. Pada akhi pembelajaan peseta didik dibeikan Post-Test untuk mengevaluasi hasil belaja tentang matei yang telah dipelajai. Kemudian peneliti membandingkan hasil Post-Test peseta didik di kelas ekpeimen dangan Post-
Test peseta didik di kelas kontol. Beikut ini adalah desain penelitian: Tabel 3.1 Desain Penelitian Goup Petest Teatmen Posttest Kel. Ekspeimen T 1 X E T Kel. Kontol T 3 X K T 4 Keteangan: T 1=T 3 = Petest yang dibeikan sebelum poses pembelajaan dibeikan T =T 4 = Posttest yang dibeikan setelah poses pembelajaan X E = Pelakuan tehadap kelompok ekspeimen yang beupa pembelajaan Fisika menggunakan motode pembelajaan Levels of Inquiy Leaning Cycle. X K = Pelakuan tehadap kelompok kontol yang beupa pembelajaan Fisika menggunakan metode pembelajaan Ceamah. Pada penelitian ini instumen penelitian yang digunakan untuk menguku pestasi belaja Fisika adalah tes pestasi belaja. Tes pestasi disusun bedasakan kompetensi dasa tentang hubungan antaa tegangan, hambatan, dan aus listik. Matei pembelajaan yang dibeikan sesuai dengan kuikulum yang belaku di SMK Negei 1 Ngabang yaitu Kuikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penilaian tes pestasi menggunakan penilaian kognitif dan paktik (pefomance assessment). Sedangkan soal pilihan ganda yang dibeikan pada saat petest sama dengan soal yang dibeikan pada saat posttest, namun pada soal posttest akan ditambahkan soal paktik (uaian) yang bedasakan poblem solving dimana paktik peseta didik dalam poses penyelesaian soal akan di nilai dengan penilaian paktik (pefomance assessment).
3.5 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis instumen deskiptif yang betujuan membeikan gambaan tehadap datadata pada vaiabel penelitian yang digunakan dalam penelitian dan metode analisis infeensial yang betujuan untuk menguji hipotesis, ada tidaknya bebedaan yang signifikan antaa implementasi metode pembelajaan Levels of Inquiy Leaning Cycle pada kelas XI juusan Teknik Kendaaan Ringan dan metode pembelajaan ceamah pada kelas XI juusan Teknik Kendaaan Teknik Sepeda Moto di SMK Negei 1 Ngabang, bedasakan pesyaatan instumen yaitu uji homogenesitas, dilanjutkan dengan uji beda independent sample T test dengan menggunakan pogam SPSS 0. 3.6 Validitas dan Reabilitas Instumen yang baik haus memenuhi dua pesyaatan utama yaitu valid dan eliable (Aikunto 006, 168). Suatu alat uku dikatakan valid jika alat itu menguku apa yang haus diuku oleh alat itu dan eliable jika secaa konsisten membeikan hasil pengukuan yang sama pada bebeapa kali pengujian (Nasution 007, 350). 3.6.1 Validitas Instumen Instumen dikatakan valid apabila instumen tesebut dapat dengan tepat menguku apa yang akan diuku. Dengan kata lain validitas bekaitan dengan
ketepatan alat uku. Instumen yang valid akan menghasilkan data yang valid juga (Widoyoko 01, 134). Menuut Sugiono (007, 350), validitas dalam model pembelajaan haus memenuhi dua hal validitas isi dan validitas konstuk. Validitas isi seing disebut juga validitas kuikule. Validitas ini eat kaitanya dengan matei yang akan diuku dalam instumen. Validasi isi menceminkan sejauh mana buti-buti dalam tes menceminkan matei yang disajikan dalam kuikulum. Sebuah instumen dikatakan memiliki validitas ini jika buti-buti tes besifat epesentative tehadap ini matei dalam kuikulum. Validitas konstuk adalah validitas yang menyangkut bangunan teoitik vaiabel yang akan diuku. Sebuah instumen dikatakan mempunyai validitas konstuk apabila buti-buti soal yang disusun dalam tes menguku setiap aspek bepiki dai sebuah vaiabel yang akan diuku melalui instumen tesebut (Widoyoko 01, 140). Untuk validitas isi dan validitas konstuk, penelitian ini menggunakan pendapat dai paa paka di bidang Fisika. Adapun instumen yang divalidasi oleh paa paka adalah soal petest dan posttest. Selain validitas isi dan konstuk, instumen pada penelitian ini akan divalidasi item untuk mengetahui nilai validitas setiap item pada instumen. Dalam uji validitas item penelitian ini, nilai coected item-total coelation akan dibandingkan dengan nilai xy kitik. Adapun nilai kitik validitas item intumen adalah 0,3. Menuut Widoyoko (01, 143), sebuah item soal dikatakan valid
apabila nilai xy lebih besa sama dengan 0,3 (xy 0,3) maka item tesebut valid. Sebaliknya apabila nilai xy lebih kecil dai 0,3 (xy<0,3) maka item tesebut tidak valid. 3.6. Reliabilitas Kata eliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dai kata eliability dalam bahasa Inggis, beasal dai kata asal eliable yang atinya dapat dipecaya. Instumen dikatakan dapat dipecaya (eliable) jika membeikan hasil yang tetap (konsisten) apabila dites bekali-kali. Soal petest dan posttest yang telah di validasi kemudian diuji cobakan (tyout) kepada siswa yang sudah mempelajai matei tesebut. Dai hasil uji coba tesebut akan dilakukan pengujian eliabilitas dengan menggunakan eliabilitas. Menuut Widoyoko (01) eliabilitas intenal dipeoleh dengan menganalisis data dai satu kali pengumpulan data. Metode analisis eliabilitas intenal yang digunakan adalah instumen sko diskit dan sko non diskit. Instumen sko diskit digunakan untuk jenis soal pilihan ganda dan menjodohkan, sedangkan untuk jenis soal essay pada soal paktik menggunakan instumen sko non diskit. 3.6..1 Instumen Sko Diskit Instumen sko diskit, nominal atau pilah adalah instumen yang sko jawaban/esponsnya hanya dua, yaitu 1(satu) dan 0(nol). Dengan kata lain hanya jawaban yaitu bena dan salah. Jawaban yang bena dibei sko 1(satu) dan jawaban yang salah dibei sko 0(nol) (Widoyoko, 01).
Dalam penelitian, untuk mencai tingkat eliabilitas instumen yang skonya diskit (1 dan 0) menggunakan metode belah dua (split-half metode) yang dikemukakan oleh Speaman-Bown. Menuut Widoyoko (01) caa membelah buti instumen, yaitu dengan membagi butian instumen menjadi kelompok butian awal dan butian akhi. Sepauh jumlah pada nomo-nomo awal disebut belahan awal dan sepauh jumlah pada nomonomo akhi disebut belahan akhi. Untuk mencai koelasi antaa belahan awal (X) dan belahan akhi (Y) penelitian ini menggunakan koelasi poduct moment dan untuk mempeoleh indeks eliabilitas instumen penelitian ini menggunakan umus Speaman- Bown (Widoyoko, 01). Keteangan: Adapun umus dai poduct moment adalah xy X = belahan awal Y = belahan akhi N = jumlah sempel xy = koelasi X dan Y. NXY ( X )( Y ) N X ( X ) NY ( Y ) Sedangkan umus dai Speaman-Bown adalah Keteangan: 11 1/ 1/ = xy 11 1/ (1 = eliabilitas instumen 1/ 1/ 1/ )
Dai hasil pehitungan tesebut, instumen dikatakan eliabel apabila hitung lebih besa dai tabel (h t), dimana tabel didapat dai tabel poduct moment dengan jumlah N yang sama pada taaf signifikasi 5%. Sebaliknya intumen dikatakan tidak eliabel apabila hitung lebih kecil dai tabel (h<t) (Widoyoko, 01). 3.6.. Instumen Sko Non Diskit Instumen sko non diskit adalah instumen pengukuan yang dalam sistem scoing bukan 1 (satu) dan 0 (nol), tetapi besifat gadual, yaitu ada penjenjangan sko mulai dai sko tetinggi sampai sko teendah. Instumen sko non diskit ini digunakan untuk instumen posttest yang bebentuk uaian. Inteval sko yang digunakan adalah 1 (satu) sampai 10 (sepuluh). Pada instumen sko non diskit analisis eliabilitasnya menggunakan umus Alpha (Widoyoko, 01). Beikut ini adalah umus Alpha, Keteangan: k k 11 1 1 t 11 = eliabilitas intumen k = banyaknya soal b = jumlah vaians t = vaian total X b, maka X = sko total. (Widoyoko, 01) (X ) N N Dai hasil pehitungan tesebut, instumen dikatakan eliabel apabila nilai koefisien Alpha lebih besa dai haga kitik atau standa eliabilitas. Haga kitik
untuk indeks eliabilitas intumen adalah 0,7. Atinya apabila nilai koefisien Alpha lebih besa dai 0,7 maka intumen tesebut eliabel dan sebaliknya bila nilai koefisien Alpha lebih endah dai 0,7 maka instumen tesebut tidak eliabel (Widoyoko, 01).