PENILAIAN BERBASIS KELAS

dokumen-dokumen yang mirip
PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KOMPETENSI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI SMA Oleh: Kana Hidayati, M.Pd.

(Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta) Kata kunci: pembelajaran ekonomi, penilaian berbasis kompetensi.

Abstrak Pengembangan Bank Soal Matematika. Oleh : Heri Retnawati Jurdik Matematika FMIPA UNY Yogyakarta. Abstrak

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENYUSUNAN ALAT PENILAIAN HASIL BELAJAR *) Oleh: Ali Muhson, M.Pd. **)

Oleh: JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA UPI

PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) PADA MATEMATIKA MATERI KESEBANGUNAN UNTUK SISWA SMP. Oleh: Endah Budi Rahaju UNESA

Validitas Konstruk (construct validity) dalam Pengembangan Instrumen Penilaian Non-Kognitif

S I L A B I EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (KD 501)

FUNGSI. Efektivitas Pengajaran

BAB I PENDAHULUAN. tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum merupakan

Bandung, 23 Oktober 2009

Pengembangan Silabus dan Penilaian Pendidikan Jasmani Sekolah Menengah Atas 1

Rencana Pelaksanaan Perkuliahan

PENERAPAN PENILAIAN BERBASIS KELAS DALAM BIDANG STUDI PAI DI SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs.Zainal Arifin, M.Pd.

Peta Konsep. Tujuan Pendidikan (Kompetensi Dasar) Proses/Kegiatan Untuk Mencapai Kompetensi. Hasil-hasil pendidikan yang dapat dicapai

BAB III PROSEDUR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DALAM PEMBELAJARAN

MENYUSUN INSTRUMEN YANG VALID Dalam menyusun dan menganalisis instrument non tes pada makalah ini, kami menggunakan Skala Likert supaya dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tujuan pembelajaran matematika dalam standar isi adalah agar peserta

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, penelitian ini

PENGEMBANGAN PENUNTUN TUGAS KINERJA PRAKTIKUM MAHASISWA DI LABORATORIUM BIOLOGI

EVALUASI PEMBELAJARAN (EP)

ANALISIS BUTIR ULANGAN HARIAN BIOLOGI KELAS XI IPA 3 SMA KARTIKA III-1 BANYUBIRU MENGGUNAKAN KORELASI POINT BISERIAL

Profesionalisme Guru/ Dosen Sains KEMAMPUAN GURU IPA DALAM PENYUSUNAN PENILAIAN AUTENTIK DI SMP NEGERI 1 PECANGAAN JEPARA TAHUN AJARAN 2014/2015

WILUJEUNG SUMPING. EVALUASI PEMBELAJARAN By Zainal Arifin

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATERI PEDAGOGIK

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran untuk menambah wawasan di suatu bidang. Kompetensi

PENILAIAN BERBASIS KURIKULUM 2013*)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. IX. No. 1 Tahun 2011, Hlm PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI. Oleh Sukanti 1.

KETERAMPILAN MENILAI (MENGEVALUASI)

SILABUS. Mata Kuliah : Evaluasi Pendidikan Kode Mata Kuliah : LBU 587

PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI. Sukanti. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENILAIAN AUTENTIK DALAM TUNTUTAN KURIKULUM 2013

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Implementasi Penilaian Autentik Dalam Pembelajaran Matematika

Oleh: Sadono 1) & Kana Hidayati 2) 1) SMA Muhammadiyah I Yogyakarta 2) Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY ABSTRAK

SISTEM PENILAIAN BERBASIS KELAS BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA Oleh Drs. Dedi Koswara, M.Hum.

PENERAPAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KEMAMPUAN MENGELOLA ASESMEN PEMBELAJARAN BAGI MAHASISWA CALON GURU KIMIA

PENDAHULUAN. Lehman (dalam Ana Ratna Wulan, 2005) mengemukakan bahwa:

MEMAHAMI STANDAR PENILAIAN BSNP

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA PROGRAM PASCASARJANA

SILABUS MATA KULIAH. Evaluasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Dosen

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Prosiding Seminar Nasional Prodi Teknik Busana PTBB FT UNY Tahun 2005 PENERAPAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DALAM MATA KULIAH PENGETAHUAN TEKSTIL

Analisis Butir Soal Tes Prestasi Hasil Belajar

PENGGUNAAN SELF ASSESSMENT SEBAGAI UPAYA DOSEN MENINGKATKAN OBYEKTIVITAS DALAM PENILAIAN TUGAS PROYEK

Inisiasi II ASESMEN PEMBELJARAN SD

ARTI PENILAIAN DAN BEBERAPA MASALAHNYA

PSIKOMETRI. Oleh: Prof. Dr. I Wayan Koyan, M.Pd. Pascasarjana Undiksha Singaraja

BAB III METODE PENELITIAN. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang

SISTEM EVALUASI PEMBELAJARAN PAI (KE-1) PROGRAM PASCA SARJANA STAIN SALATIGA

Untuk Guru-guru MTs-DEPAG

Olahairullah. Kata Kunci:Media Penugasan Proyek, Keterampilan Proses Mengkomunikasikan Hasil, Hasil Belajar

SILABUS EVALUASI PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER (IK 501)

EVALUASI PEMBELAJARAN SEKOLAH MENENGAH

BAB III METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

EVALUASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI

PENILAIAN BERBASIS KELAS Nuryani Y.Rustaman*

BAB I PENDAHULUAN. Semua orang yang mengalami sekolah secara formal, mungkin juga sekolah informal

Peta Kompetensi Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Biologi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Lind dan Gronlund (1995) asesmen merupakan sebuah proses yang ditempuh

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN AKTIF BERBASIS MODEL PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MATERI BANGUN RUANG DI SMP SE PROVINSI GORONTALO

7. Penilaian Pembelajaran Bahasa berbasis Kompetensi. (Edisi pertama cetakan kedua 2011, cetakan pertama 2010). Yogyakarta: BPFE.

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI TELAAH BUTIR SOAL ULANGAN HARIAN PADA PEMBELAJARAN PKN DI KELAS XII IPS 2 SMA NEGERI 12 SEMARANG

Sri Susilogati Sumarti. Jurusan Kimia FMIPA UNNES, Semarang, Indonesia ABSTRAK

EVALUASI PEMBELAJARAN KIMIA. Dosen : Nahadi,SPd.MSi. MPd.

Silabus Evaluasi Pembelajaran Fisika FI 462

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES GEOMETRI DAN PENGUKURAN PADA JENJANG SMP

UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS TES PILIHAN GANDA

PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI GURU

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya.

KOMPETENSI GURU MAPEL/PAKET KEAHLIAN (KG)

MODEL TES DAN ANALISIS KOMPETENSI SISWA DI SEKOLAH DASAR

BAB III METODE PENELITIAN

Evaluasi Pembelajaran Fisika

EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA ENCEP KUSUMAH

7. Tes simulasi merupakan salah satu bentuk dari teknik penilaian: a. lisan b. praktik/kinerja c. penugasan d. portofolio e.

DESKRIPSI MATA KULIAH

KOMPETENSI GURU MAPEL/PAKET KEAHLIAN (KG)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB VI PENILAIAN DAN PENDEKATAN PENILAIAN

PENILAIAN HASIL BELAJAR. YANI KUSMARNI Dan TARUNASENA

II. TINJAUAN PUSTAKA. orang yang memiliki kompetensi- kompetensi tertentu seperti; (Hazkew dan Lendon dalam Uno, 2007 : 15).

Semester : 6 Kelompok mata kuliah : MKKP Program studi/program : Pendidikan Fisika/S-1

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi telah berlaku sebagai bagian integral dari setiap proses

TEKNIK PENILAIAN NON TES

Penilaian Berbasis Kinerja untuk Penjasorkes. Oleh : Tomoliyus

Document Title KATA PENGANTAR

VIII. RUBRIK PENILAIAN KINERJA GURU

Transkripsi:

PENILAIAN BERBASIS KELAS Oleh: Kana Hidayati, M.Pd. Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY A. Pendahuluan Sebagai konsekwensi desentralisasi pendidikan, saat ini sejumlah pembaharuan pendidikan terus dilaksanakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu fokus pembaharuan pendidikan pada tingkat sekolah adalah digunakan dan dikembangkannya kurikulum yang berorientasi pada kompetensi yang akan dicapai dan harus dimiliki oleh peserta didik. Pembaharuan tersebut tentu saja membawa perubahan pada strategi pembelajaran yang digunakan yang juga akan diiringi dengan perubahan kegiatan penilaian yang dilakukan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam Standar Nasional Pendidikan telah diungkapkan bahwa standar penilaian pendidikan terdiri atas: penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Khusus penilaian hasil belajar oleh pendidik sebagaimana diungkapkan dalam Standar Nasional Pendidikan dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar. Untuk itu, penilaian berbasis kelas atau evaluasi berbasis kelas (classroom-based assessment), yang memiliki prinsip dasar berkelanjutan dan komprehensif, dalam arti dilakukan secara berencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh informasi yang lengkap tentang keberhasilan belajar peserta didik sangat relevan untuk digunakan. B. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas Penilaian berbasis kelas adalah penilaian oleh guru dalam rangka proses pembelajaran yang merupakan proses pengumpulan dan penggunaaan informasi dan hasil belajar peserta didik untuk tingkat 1

pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar. C. Tujuan dan Fungsi Penilaian Berbasis Kelas Secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan mengetahui ketercapaian mutu pendidikan. Secara khusus penilaian berbasis kelas bertujuan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses pembelajaran, penentuan kenaikan kelas, dan memotivasi belajar peserta didik dengan cara mengenal dan memahami diri serta merangsang untuk melakukan usaha perbaikan. Dengan demikian penilaian berbasis kelas berfungsi sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi dan instrospeksi. Adapun manfaat penilaian berbasis kelas antara lain: 1) memberi umpan balik pada program jangka pendek yang dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam kegiatan proses belajar, 2) memberi kegunaan hasil pembelajaran peserta didik dengan melibatkan peserta didik secara maksimal, 3) membantu pembuatan laporan lebih bagus serta menaikkan efisiensi pembelajaran, dan 4) mendorong pengajaran sebagai proses penilaian formatif. Bagi peserta didik, penilaian berbasis kelas sangat bermanfaat untuk memantau pembelajaran dirinya secara lebih baik dan labih menitik beratkan pada kemampuan, ketrampilan, dan nilai. Sedangkan bagi orang tua, penilaian berbasis kelas di antaranya bermanfaat untuk: 1) mengetahui kelemahan dan peringkat anaknya, mendorong orang tua peserta didik untuk melakukan bimbingan kepada 2

anaknya, dan 3) melibatkan orang tua peserta didik untuk melakukan diskusi dengan guru atau sekolah dalam hal perbaikan kelemahan peserta didik. D. Prinsip, Karakteristik, dan Dasar Penilaian Berbasis Kelas Beberapa prinsip penilaian berbasis kelas yang perlu diperhatikan guru dalam rangka pencapaian kompetensi adalah: motivasi, validitas, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, menyeluruh, dan edukatif. Adapun karakteristik utama dari penilaian berbasis kelas di antaranya adalah terciptanya pusat belajar dan berakar dalam proses pembelajaran serta adanya umpan balik. Dalam pembelajaran Matematika, ciri-ciri penilaian berbasis kelas yang dilakukan di antaranya sebagai berikut: 1) menilai semua kompetensi dasar, 2) semua indikator atau pencapaian kompetensi dijadikan acuan untuk pembuatan instrumen penilaiannya, 3) pelaksanaan penilaian dapat dilakukan pada setiap kali peserta didik selesai belajar satu atau lebih kompetensi dasar, 4) hasil penilaian dianalisis dan hasil analisis digunakan untuk menentukan program tindak lanjutnya yang berupa program remedial atau pengayaan, 5) aspek yang dinilai adalah hasil belajar peserta didik yang berupa kemahiran matematika yang mencakup kemampuan pemahaman konsep, penalaran, pemecahan masalah, komunikasi, dan prosedur serta sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, 6) penilaian dapat dilakukan dengan teknik tes dan non tes, 7) penilaian mencakup aspek kognitif dan non kognitif, dan 8) penilaian dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung, (di tengah atau akhir setiap pertemuan sebagai penilaian proses) dan pada akhir belajar suatu kompetensi dasar (sebagai penilaian hasil). Penerapan penilaian berbasis kelas dilakukan sesuai dengan jenis dan bentuk penilaian yang digunakan di kelas. Dalam penggunaan penilaian berbasis kelas, hal-hal yang perlu diperhatikan: 3

1. Guru memahami lebih awal pembelajaran peserta didik dan mampu menerapkan pengajaran yang tepat sehingga teknik penilaian berbasis kelas dapat dilaksanakan. 2. Guru menjelaskan tujuan kegiatan pembelajaran peserta didik dan mampu menerapkannya sehingga teknik penilaian berbasis kelas dapat dilaksanakan. 3. Guru menentukan kompetensi peserta didik sehingga teknik penilaian berbasis kelas digunakan berdasarkan kompetensi siswa tersebut. 4. Guru memilih teknik penilaian berbasis kelas yang tepat untuk memberikan umpan balik perbaikan pengajaran bagi guru dan pembelajaran bagi siswa. 5. Guru memilih gaya pengajaran secara konsisten sehingga dapat diterapkan dengan mudah dan jelas teknik penilaian berbasis kelas. 6. Guru dan peserta didik mampu menggunakan informasi belajar siswa secara maksimal melalui teknik penilaian berbasis kelas. 7. Guru dan peserta didik menelaah hasil teknik penilaian berbasis kelas dan menentukan apakah terdapat perubahan. 8. Peserta didik perlu mengetahui teknik penilaian berbasis kelas yang digunakan di kelas. E. Jenis-Jenis Penilaian Berbasis Kelas Berbagai jenis penilaian berbasis kelas yang dapat digunakan guru antara lain adalah tes tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian hasil kerja siswa, penilaian sikap, dan penilaian portfolio. Tentunya, guru harus yakin bahwa tak ada satupun jenis penilaian yang tepat untuk setiap saat. Jenis penilaian yang digunakan sangat bergantung kepada kompetensi dasar yang duraikan dalam kurikulum. Adapun dalam pembelajaran Matematika, komponen program penilaian pembelajaran mencakup jenis tagihan dan instrumen penilaian. 4

Tagihan adalah cara ujian atau penilaian yang dilaksanakan. Instrumen penilaian dirinci menjadi bentuk instrumen dan contoh instrumen. Berbagai bentuk instrumen penilaian berupa tes yang dapat digunakan guru antara lain adalah: pertanyaan lisan, pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, jawaban singkat (isian singkat), menjodohkan, portofolio, dan performans (unjuk kerja). Adapun untuk instrumen penilaian non tes meliputi angket, inventori, dan pengamatan. Secara rinci jenis tagihan dan bentuk instrumen yang digunakan diuraikan sebagai berikut. Teknik penilaian Jenis taguihan Bentuk instrumen penilaian Isi/materi instrumen penilaian Tes (tertulis, lisan, Kuis Pertanyaan lisan/tertulis, soal isian, soal Soal atau perintah perbuatan/praktik/u njuk kerja) dengan jawaban singkat, soal objektif (benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda), instrumen untuk unjuk kerja singkat Ulangan /tes Pertanyaan lisan/tertulis, soal isian, soal Soal atau perintah harian dengan jawaban singkat, soal objektif (benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda), soal uraian, instrumen unjuk kerja Ulangan/tes blok Pertanyaan lisan/tertulis, soal isian, soal Soal/perintah dengan jawaban singkat, soal objektif (benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda), soal uraian, instrumen unjuk kerja Non tes Pengamatan (observasi) Panduan/lembar pengamatan Pernyataan skala dengan cek list Angket Kuisioner Pertanyaan atau pernyataan dengan atau tanpa pilihan jawaban Wawancara Panduan/lembar wawancara Pertanyaan Tugas harian Instrumen tugas, soal uraian Uraian tugas dengan kriteria penilaian tertentu Tugas proyek Instrumen tugas Uraian tugas dengan kriteria penilaian tertentu Tugas portfolio Instrumen tugas Uraian tugas dengan kriteria penilaian tertentu 5

Dari berbagai jenis tagihan di atas, penggunaan portfolio merupakan salah satu yang sering direkomendasikan para ahli untuk digunakan dalam penilaian berbasis kelas. Portfolio merupakan kumpulan hasil karya peserta didik yang menyajikan kemajuan, pencapaian, dan prestasi masing-masing siswa. Sebuah portfolio dapat menggambarkan prestasi peserta didik pada kurun waktu tertentu dan menyediakan data-data kemajuan siswa yang bersangkutan untuk jangka waktu lama dan permanen, namun berbeda dengan berkas sejenis yang bersifat tradisional. Portfolio hendaknya: a. Dibuat sendiri menurut kreativitas peserta didik. b. Menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk memilih dan menguji kemajuan dalam bekerja, merefleksikan proyek secara komplity serta dapat mengoreksi dan memperbaiki proyek yang lalu. c. Didalamnya mencakup informasi yang sedang terjadi yang sangat berarti bagi peserta didik dan berguna di dalam perencanaan pembelajaran yang diperlukan di masa sekarang dan yang akan datang. d. Dikumpulkan untuk menyampaikan kekuatan dan perkembangan peserta didik dalam kerangka pencapaian kompetensi yang ditargetkan. Guru harus menjelaskan tipe/jenis hasil karya siswa yang harus dikumpulkan ke dalam portfolio. Berikut beberapa kriteria seleksi materi yang harus ada dalam portfolio: a. Hasil karya diseleksi dan benar-benar mempunyai arti/makna bagi peserta didik. b. Hasil karya merefleksikan perkembangan dan atau pembelajaran di segala bidang, berbagai konteks, serta berbasis bahan ajar atau materi yang diajarkan sepanjang tahun pelajaran. c. Hasil karya berkaitan dengan kompetensi yang dikembangkan. d. Hasil karya memperjelas tampilan/performen yang diharapkan. 6

e. Hasil karya harus menyediakan sebuah media untuk berbagi pengertian antara peserta didik dengan guru, dengan peserta didik lainnya atau jika mungkin dengan orang tua. Materi-materi dalam portfolio sebaiknya selalu diberi tanggal dan diurutkan untuk menggambarkan keseluruhan pekerjaan dari awal sampai yang terakhir. Melalui portfolio, memberi kebabasan peserta didik untuk berkreasi, berimajinasi, dan berinovasi. Hasil karya peserta didik (portfolio) dalam mata pelajaran Matematika dapat berupa: Ilustrasi buku, hasil rekaman kaset, video kaset, permainan beserta peraturannya, poster, kuisioner, pedoman wawancara, hasil suatu program komputer, hasil survey, hasil observasi, hasil eksperimen, opini, karangan, tulisan yang dimuat dalam jurnal, kamus khusus, fotografi, laporan proyek individu, contoh-contoh masalah yang dibuat siswa, hasil pemecahan masalah non rutin yang menunjukkan hasil pemikiran yang orisinil, respons dari pertanyaan open-ended atau masalah yang menantang, aplikasi penggunaan matematika dalam bidang lain, dan sebagainya. Keuntungan portfolio di antaranya adalah: memberikan gambaran lengkap tentang pencapaian dan perkembangan peserta didik, melibatkan peserta didik dalam proses penilaian dan mendorong peserta didik menilai dirinya sendiri, memotivasi belajar siswa, dan mendorong perkembangan ketrampilan menulis siswa. Adapun dalam menilai portfolio idealnya guru dan peserta didik bersama-sama menetapkan kriteria penilaian sehingga diketahui oleh kedua belah pihak. G. Langkah Penyusunan Instrumen Penilaian Langkah awal mengembangkan instrumen penilaian adalah menetapkan spesifikasi yang berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu instrumen. Penyusunan spesifikasi 7

instrumen mencakup kegiatan: a) menentukan tujuan, b) menyusun kisi-kisi, c) memilih bentuk instrumen, dan d) menentukan panjang instrumen. Pemilihan bentuk instrumen akan ditentukan oleh tujuan, jumlah peserta, waktu yang tersedia untuk memeriksa, cakupan materi, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Bentuk instrumen yang digunakan sebaiknya bervariasi seperti pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, menjodohkan, jawaban singkat, benar-salah, unjuk kerja (performansi), dan portfolio. Dengan cara ini diharapkan diperoleh data yang akurat tentang pencapaian belajar siswa. Langkah-langkah menyusun soal tes aspek kognitif meliputi: 1)mencermati butir-butir standar kompetensi, 2)menjabarkan butir standar kompetensi menjadi butir-butir kemampuan dasar (satu butir standar kompetensi dapat dijabarkan menjadi lebih dari satu butir kemampuan dasar yakni jabaran dari standar kompetensi dan merupakan kemampuan minimum yang harus dikuasai siswa dalam pelajaran/bidang studi tertentu), 3)memilih materi standar atau materi pembelajaran agar siswa mampu menguasai butir kemampuan dasar yang telah ditentukan, 4)menjabarkan butir kemampuan dasar menjadi indikator (satu butir kemampuan dasar dapat dijabarkan menjadi lebih dari satu butir indikator), dan 5)Menulis butir soal dengan memperhatikan indikator, dan pengalaman belajar. Adapun langkah menyusun instrumen aspek afektif adalah: 1)menentukan variabel yang akan diukur, 2)menentukan indicatorindikatornya, 3)menulis butir-butir instrumen, 4)mereview instrumen, 5)merevisi, 6)ujicoba, 7)analisis, dan 8)revisi. Untuk keadaan tertentu instrumen sudah dapat dipakai bila sudah memenuhi hingga pada langkah 5. H. Analisis Instrumen Agar instrumen untuk mengungkap aspek kognitif yang digunakan untuk menggali data memiliki kualitas tinggi, maka harus dilakukan analisis butir instrumen yakni analisis teoretik atau analisis kualitatif atau disebut juga 8

telaah hutir dan analisis empirik atau analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif pada umumnya dilakukan setelah telaah butir atau analisis kualitatif. Analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan oleh teman sejawat dalam rumpun keahlian yang sama. Tujuannya adalah untuk menilai materi, konstruksi, dan apakah bahasa yang digunakan sudah memenuhi pedoman dan bisa dipahami siswa. Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengujicobakan instrumen yang telah dianalisis secara kualitatif kepada sejumlah peserta didik yang memiliki karakteristik sama dengan peserta didik yang akan diuji dengan instrumen tersebut. Jawaban hasil uji coba tersebut dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan teknik yang ada baik secara manual atau menggunakan bantuan program komputer yang sudah ada seperti program Iteman, Ascal, Rascal, dan program MikroCat lainnya. Untuk mendapatkan instrumen aspek afektif yang baik, setelah instrumen tersusun maka perlu dilakukan analisis instrumen baik secara teoretik maupun empirik. Cara melakukan analisis secara teoretik yakni melalui telaah instrumen, pada umumya apabila sudah ditelaah instrumen afektif ini sudah layak digunakan untuk mengumpulkan data. Meskipun demikian, ada pula yang diteruskan dengan melakukan analisis empirik diantaranya dengan mencari validitas konstruknya menggunakan analisis faktor. D. Penutup Dari uraian di atas ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi yakni: 1. Ragam penilaian berbasis kelas yang berkualitas, dalam penilaiannya tidak lepas dari pengalaman belajar yang dialami peserta didik. Pengalaman yang baik harus bermakna dan benar-benar dipilih untuk mengembangkan kompetensi mata pelajaran/kemampuan dasar yang diharapkan. 9

2. Banyak cara untuk dapat menghimpun data yang dijadikan dasar penilaian. Semakin banyak data semakin baik pula hasil penilaian yang diperoleh. 3. Aspek yang dinilai dalam pembelajaran Matematika berbasis kompetensi bersifat menyeluruh meliputi aspek kognitif dan nonkognitif serta berkelanjutan. 4. Walaupun tidak mudah untuk melakukan seluruh jenis tagihan pada kelas besar namun tetap akan lebih baik bila data yang dijadikan dasar penilaian lebih menyeluruh. Demikianlah sedikit uraian tentang penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran matematika berbasis kompetensi. Semoga Bermanfaat. Daftar Pustaka Bambang Subali. 2003. Evaluasi Pembelajaran MIPA Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: FMIPA UNY Cronbach, Lee J. Essentials of Psychological Testing. New York: Harper and Row Publishers, 1990. Depdiknas. 2005. Penilaian Pembelajaran Matematika Bentuk Tes. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Ebel, Robert L. Essential of Psychological Testing. New York: Harper and Row Publishers, 1990. Linn, Robert L. and Norman E. Gronlund. 1995. Measurement and Assessment in Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sukardjono. Kemampuan Evaluasi. Makalah Seminar Nasional Pendidikan Matematika 27 maret 2005. Yogyakarta: FMIPA UNY Surapranata S dan Hatta, M. penilaian Portfolio Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Zainul A. 2001. Alternative Assesment. Jakarta: Universitas Terbuka. 10