04FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

dokumen-dokumen yang mirip
Bussiness Ethic and Good Governence [ The Corporate Culture ] Dr. Ahmad Badawi Saluy, SE.,MM

09Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

12Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

Business Ethic & Good Governance

02FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

BUDAYA ORGANISASI DAN ETIKA KERJA

06FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

MATERI KULIAH ETIKA BISNIS. Pokok Bahasan: Budaya Perusahaan dan Etika

PROFESSIONAL IMAGE. Budaya Kerja Humas yang Efektif. Syerli Haryati, S.S. M.Ikom. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations

PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/2/PBI/2011 TENTANG PELAKSANAAN FUNGSI KEPATUHAN BANK UMUM

Pemangku Kepentingan, Manajer, dan Etika

DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT PT INDOFARMA (Persero) Tbk

01FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

Internal Audit Charter

BUSINESS ETHIC AND GOOD GOVERNANCE

KEWRAUSAHAAN, ETIKA PROFESI dan HUKUM BISNIS

PEDOMAN KEBIJAKAN CODE OF CONDUCT PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO)

BAB II LANDASAN TEORITIS. tersebut ketika bekerja sendiri atau dengan karyawan lain (Jones, 2010).

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

PEDOMAN PERILAKU Code of Conduct KEBIJAKAN

DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT. I Pendahuluan 1. II Tujuan Pembentukan Komite Audit 1. III Kedudukan 2. IV Keanggotaan 2. V Hak dan Kewenangan 3

PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero)

2 d. bahwa untuk mengelola eksposur risiko sebagaimana dimaksud dalam huruf a, konglomerasi keuangan perlu menerapkan manajemen risiko secara terinteg

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013

BUDAYA ORGANISASI DAN ETIKA ORGANISASI

TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN DAN PENGARAHAN (TKP) > 80% Terpenuhi 20-79% Terpenuhi sebagian < 20% Tidak terpenuhi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

PT MULTI INDOCITRA Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

TUGAS AUDIT INTERNAL GOVERNANCE

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PIAGAM KOMITE AUDIT PT DUTA INTIDAYA, TBK

Kebijakan Manajemen Risiko

PT. PYRIDAM FARMA Tbk. MANAJEMEN RISIKO

Kepemimpinan dan Budaya Perusahaan

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT BANK MASPION INDONESIA Tbk

PIAGAM INTERNAL AUDIT

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

BAB I PENDAHULUAN. (principal) dan manajemen (agent). Kondisi ini menimbulkan potensi terjadinya

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun belakangan ini istilah Good Corporate Governance kian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Bussiness Ethic and Good Corporate Governance

BAB I PENDAHULUAN. Setelah negara Indonesia dan negara negara di Asia Timur lainnya

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang

PT. MALINDO FEEDMILL, Tbk. No. Dokumen = 067/CS/XI/13 PIAGAM KOMITE AUDIT. Halaman = 1 dari 10. PIAGAM Komite Audit. PT Malindo Feedmill Tbk.

Prinsip-Prinsip Perilaku Korporasi

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2011 NOMOR 16 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI

BAB I PENDAHULUAN. besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Namun demikian, laporan

Pedoman Audit Internal (Internal Audit Charter) Lampiran, Surat Keputusan, No:06/FMI-CS/III/2017 Tentang Penetapan Kepala Unit Audit Internal

PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR : 54 TAHUN 2010 TENTANG

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

1. Peran individu dalam organisasi olahraga. 2. Menjelaskan tentang perilaku organisasi.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PT. BUANA FINANCE, TBK PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

Budaya perusahaan bisa membantu mengembangkan jati diri setiap karyawan nan bekerja di perusahaan tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. kepentingan para pemegang saham (shareholder) saja dan juga menyebabkan

MEMOTIVASI PIHAK YANG DIAUDIT. Kebutuhan Menjadi Bagian dari Organisasi Menghormati Diri Sendiri dan Orang Lain

PT Wintermar Offshore Marine Tbk

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 2 /PBI/2011 TENTANG PELAKSANAAN FUNGSI KEPATUHAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II LANDASAN TEORI

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 46 /POJK.03/2017 TENTANG PELAKSANAAN FUNGSI KEPATUHAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18/POJK.03/2014 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN

PR/MAR/NDO. Piagam Komite Audit PT PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE. ASIA INFRASTRUCTURE Tbk

School of Communication & Business Telkom University

BAB I PENDAHULUAN. memiliki unit audit internal atau biasa disebut GAI (Grup Audit Internal) untuk

PIAGAM AUDIT INTERNAL

Diklat Penjenjangann. Auditor Utama. Auditor Madya. Auditor Muda. Diklat Pembentukann. Auditor Ahli. Auditor

PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

P e d o m a n. Whistle Blowing System (WBS)

Analisis Proses Bisnis ETIKA BISNIS LOGO. STMIK PPKIA PRADNYA PARAMITA MALANG

Kebijakan Manajemen Risiko PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

Kesimpulan Umum hasil Self Assessment atas Penerapan Tata Kelola BPR

PIAGAM KOMITE AUDIT (Audit Committee Charter)

BAB I PENDAHULUAN. Akuntan publik memiliki peran penting dalam dunia bisnis dan

Piagam Unit Komite Audit ("Committee Audit Charter" ) PT.Catur Sentosa Adiprana Tbk.

PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT

BUPATI GARUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

12FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

BAB I PENDAHULUAN. Profesi audit internal mengalami perkembangan cukup signifikan pada

PIAGAM AUDIT INTERNAL

Transkripsi:

Modul ke: Fakultas 04FEB Template Standar Business Ethics and Good Governance Pembuatan Template Powerpoint untuk digunakan sebagai template standar modul-modul yang digunakan dalam perkuliahan Cecep Winata Program Studi Magister Manajemen

The Corporate Culture : Impact and Implications Template Modul Pembuatan Template Powerpoint untuk digunakan sebagai template standar modul-modul yang digunakan dalam perkuliahan

A. CORPORATE CULTURE Budaya perusahaan menurut Susanto, AB. (1997:3) : Suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau berperilaku. Menurut Hofstade, Geerst (1990:32) : Budaya perusahaan didefinisikan sebagai perencanaan bersama dari pola pikir (collective programming mind) yang membedakan anggota-anggota dari suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari suatu budaya yang lain. Pola pikir ini pada dasarnya hanya ada dalam pikiran individu yang kemudian mengalami kristalisasi dan memiliki bentuk. Pada gilirannya pola pikir bersama ini akan meningkatkan sikap mental para anggota kelompok tersebut.

Budaya perusahaan menurut Schein, H. (1992:12): Budaya perusahaan sebagai suatu perangkat asumsi dasar akan membantu anggota kelompok dalam memecahkan masalah pokok dalam menghadapi kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan eksternal maupun internal, sehingga akan membantu anggota kelompok dalam mencegah ketidakpastian situasi. Pemecahan masalah yang telah ditemukan ini kemudian dialihkan pada generasi berikutnya sehingga akan memiliki kesinambungan. dapat disimpulkan bahwa budaya perusahaan adalah suatu pola asumsi dasar yang dimiliki oleh anggota perusahaan yang berisi nilai-nilai, norma-norma dan kebiasaan yang mempengaruhi pemikiran, pembicaraan, tingkah laku, dan cara kerja karyawan sehari-hari, sehingga akan bermuara pada kualitas kinerja perusahaan. Dengan demikian, budaya perusahaan merupakan solusi yang secara konsisten dapat berjalan dengan baik, bagi sebuah kelompok dalam menghadapi persoalan-persoalan di dalam dan di luar kelompoknya.

SIKAP PERILAKU YANG DIPENGARUHI OLEH BUDAYA Rasa diri dan ruang Komunikasi dan bahasa Pakaian dan penampilan Makanan dan kebiasaan makan Waktu dan kesadaran akan waktu Hubungan (keluarga, orgaisasi, pemerintah, dan sebagainya) Nilai dan norma Kepercayaan dan sikap Proses mental dan pembelajaran Kebiasaan kerja dan praktek

MANFAAT BUDAYA PERUSAHAAN 1. Membatasi peran yang membedakan antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain 2. Menimbulkan rasa memiliki identitas bagi anggota 3. Mementingkan tujuan bersama daripada mengutamakan kepentingan individu 4. Menjaga stabilitas organisasi

B. BUDAYA DAN ETIKA ( Culture &Ethics) 1. Setiap kelompok tumbuh dengan budaya yang mengikutinya 2. Jadi Budaya bersifat aktif sesuai perkembangan individu di dalamnya 3. Contoh, ribut soal rencana konser Lady Gaga... Kenapa ribut? 4. Budaya umumnya bertahan atau dipertahankan 5. Kondisi sering memungkinkan adanya penyesuaian tanpa merubah budaya

BUDAYA DALAM ORGANISASI Organisasi terdiri atas sekumpulan orang Budaya tumbuh dari sekumpulan orang Maka budaya pasti ada dalam suatu organisasi Untuk masuk dalam organisasi pahamilah atau ketahuilah budaya yang ada

Pembentukan Budaya Organisasi/Perusahaan Dimulai dari Filosofi Pendiri Proses seleksi anggota Organisasi Proses Sosialisasi Sistem Nilai

PERAN BUDAYA DALAM ORGANISASI/PERUSAHAAN 1.Menentukan Etika Kerja 2.Memberi arah pengembangan Bisnis 3.Meningkatkan Produktivitas Kerja 4.Mengembangkan Kualitas barang dan jasa 5.Memotivasi Pekerja mencapai Prestasi Tinggi

Hubungan Etika dan Budaya Perusahaan 1. Etika dalam implementasinya dipengaruhi oleh agama dan budaya 2. Agama dan budaya dianggap sebagai sumber hukum, peraturan dan kode etik

C.NILAI KEPATUHAN BERBASIS BUDAYA (Compliance and Value- 1. REGULASI DAN KEPATUHAN berupaya untuk menciptakan keseimbangan yang adil antara kepatuhan yang efektif dan beratnya sanksi. Peraturan Based yang menciptakan Culture) lingkungan pemerintahan yang lebih baik dan biaya yang efisien dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kinerja yang berkelanjutan. Peraturan yang mengharuskan pemerintahan lebih efektif 2. PERATURAN NEGARA Korporasi dibuat di bawah undang-undang perusahaan negara, yang mendefinisikan kewajiban dari dewan direktur, menjelaskan hak-hak pemegang saham, dan mengatur ketentuan-ketentuan lainnya, termasuk penjualan aset utama dan merger dan akuisisi. dimaksudkan untuk: Memberikan perlindungan bagi investor terhadap ancaman dari informasi yang tidakbenar ke pasar yang mempengaruhi harga saham. Tambahan hak investor yang tidak cukup di bawah hukum negara Membuat seragam dan kerangka umum untuk pelaporan keuangan dan audit.

3. AKTIVITAS KEPATUHAN Melakukan gap analysis dan dampaknya atas ketentuan baru terhadap operasional Perusahaan dan penyesuaian atas kebijakan internal yang diperlukan. Melakukan penilaian risiko kepatuhan dan menyusun laporan. Melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada karyawan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan budaya kepatuhan. Sosialisasi dan pelatihan tidak hanya ditujukan kepada karyawan lama, tetapi juga kepada karyawan baru. Memberikan persetujuan atas rencana produk aktivitas baru, untuk memastikan bahwa produk dan aktivitas baru yang akan dibuat telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Memberikan persetujuan atas rancangan ketentuan internal yang akan diterbitkan. Melakukan kajian kepatuhan terhadap pelepasan kredit korporasi. Menjalankan fungsi konsultatif dengan unit kerja lain terkait dengan penerapan peraturan yang berlaku. Memantau pemenuhan kewajiban pelaporan kepada pihak eksternal. Memastikan kepatuhan Perusahaan terhadap komitmen yang dibuat nya Melakukan koordinasi dalam rangka melakukan penilaian terhadap Tingkat Kesehatan Perusahaan berbasis Risiko

Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab atas penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal di Perusahaan. Penerapan manajemen risiko dan sistem PENERAPAN MANAJEMEN internal Perusahaan mencakup: Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi. RISIKO Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Kecukupan proses identifiasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko serta sistem informasi manajemen risiko. Sistem pengendalian internal. Perusahaan menerapkan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal secara efektif yang disesuaikan dengan tujuan dan kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas kegiatan usaha.

KESIMPULAN

D. Ethical Leardership and Corporate Culture (KEPEMIMPINAN ETIS DAN BUDAYA PERUSAHAAN) Greenleaf (1977) berpendapat bahwa kepemimpinan diberikan kepada seseorang yang secara alami adalah seorang pelayan. Kenyataannya, cara seseorang muncul sebagai seorang pemimpin pertama kali adalah dengan menjadi seorang pelayan. Pemimpin yang melayani berfokus pada kebutuhan pengikutnya dan membantunya menjadi lebih berpengetahuan, bebas, lebih otonom dan dalam melayani dirinya sendiri. Jadi, seorang pemimpin akan dapat memberdayakan orang lain dengan kehadirannya. Ciulla (1995) yakin bahwa pertanyaan tentang etika adalah jantung bagi definisi tentang kepemimpinan.. Dalam pandangannya, ketika seseorang bertanya apa itu kepemimpinan, mereka sebenarnya secara implisit bertanya apa itu pemimpin yang baik atau apa itu pemimpin yang beretika. Karena itu perlu ada penekanan pada dimensi etis dalam kepemimpinan. Untuk menjadi good leadership, penting bagi pemimpin untuk tidak hanya kompeten tetapi juga etis dalam tingkah laku mereka.

Boatman (2005) meyakinkan bahwa kepemimpinan yang etis adalah gabungan dari pengambilan keputusan dan perilaku etis, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari organisasi. Boatman melihat bahwa tanggung jawab utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan dan berperilaku secara etis, serta memperhatikan bahwa organisasi memahami dan menjalankan aturan-aturan etis yang berlaku dalam organisasi. Para pemimpin harus memimpin dari landasan moralitas yang tinggi dan disiplin menjalankan etika sepanjang waktu di dalam organisasinya. Mereka harus secara pribadi bertindak berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang produktif dan mengajarkannya kepada anggota organisasi hal yang sama. Mereka harus membangun dan mengembangkan budaya tersebut.

Schein (2004) merekomendasikan lima mekanisme atau cara yang dapat digunakan oleh pemimpin sebagai alat untuk mengajari organisasi bagaimana memandang, memikirkan, merasakan dan berperilaku, yang didasarkan pada keyakinannya sendiri. 1. Apa yang secara teratur para pemimpin perhatikan, ukur dan kontrol. Salah satu cara paling baik pemimpin dan pendiri organisasi mengkomunikasikan nilainilai, keyakinan-keyakinan dan prioritas-prioritas adalah pada apa dan dimana mereka menempatkan perhatian mereka. Apa yang pemimpin usahakan dan perhatikan setiap waktu dapat memberi pengaruh yang besar pada budaya organisasi.

2.Bagaimana pemimpin bereaksi terhadap kejadian kritis dan krisis organisasi. Reaksi seorang pemimpin terhadap suatu situasi krisis, mencerminkan nilai-nilai, norma dan budaya. Situasi krisis cenderung membuat organisasi menampakkan nila-inilai intinya. 3.Bagaimana pemimpin mengalokasikan sumber daya, penghargaan dan status. Anggaran organisasi merupakan alat dasar bagi pengalokasian sumber daya organisasi. Cara pemimpin mengalokasikan sumber daya melalui anggaran organisasi, juga memperlihatkan asumsi-asumsi dan keyakinan-keyakinan pemimpin. Alokasi yang seimbang sumber daya akan meningkatkan efisiensi operasional, nilai-nilai perusahaan dan menciptakan kepuasan pelanggan. Schein (2004) menegaskan bahwa keyakinan pemimpin tentang seberapa kuat dukungan finansial bagi organisasi akan mempengaruhi pilihan mereka akan tujuan-tujuan, bagaimana cara mencapainya dan menentukan proses pengelolaan yang akan digunakan.

4.Menjadi role model, mengajari dan melatih. Contoh personal dari seorang pemimpin dalam mengirimkan pesan yang sangat penting dan kuat kepada seluruh anggota organisasi, berupa perilaku yang etis dan konsisten. Orang-orang di dalam organisasi tidak hanya mendengarkan pemimpinnya, tetapi juga memperhatikan apa yang diperbuatnya. Para pengikut yang menganggap perilaku pemimpinnya adalah benar, akan cenderung untuk mengikutinya.

5. Bagaimana pemimpin menarik, menyeleksi, mempromosikan dan mengucilkan. Salah satu cara dimana pemimpin dapat mengubah budaya organisasi dan menanamkan asumsi-asumsi mereka adalah melalui proses seleksi, mempertahankan dan mempromosikan orang-orang dalam organisasi. Dalam banyak organisasi, proses penanaman ini berlangsung halus, karena dijalankan secara tidak sadar (Schein, 2004).

E. Efective leadership and Ethical, Efective Leadership (KEPEMIMPINAN EFEKTIF DAN ETIS) Banyak pemikiran melatarbelakangi teori kepemimpinan, bahkan teori ini masih terus berkembang sampai sekarang, berikut adalah perkembangannya mulai dari Great Man Theoriessampai dengan kepemimpinan transformasional menurut Bolden et al. (2003) : 1. Great Man Theories; berdasarkan pemikiran bahwa pemimpin adalah orang-orang yang luar biasa, lahir dengan kualitas kepemimpinan, ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. 2. Trait Theories; teori ini membuat daftar kata-kata sifat yang menggambarkan kualitas seorang pemimpin dan kata-kata tersebut terus bertambah, semua bersifat atribut positif.

3. Behaviourist Theories; teori ini lebih fokus pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin daripada kualitasnya. Beberapa pola perilaku berbeda diobservasi dan dikategorikan sebagai tipe kepemimpinan. Teori ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari para manajer. 4. Situational Leadership; pendekatan teori ini melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang spesifik terhadap suatu situasi yang sedang dihadapi. Misalnya ada situasi yang membutuhkan tipe kepemimpinan otokratik dan ada yang membutuhkan pendekatan partisipatif. Teori ini juga menyatakan bahwa ada beberapa tipe kepemimpinan yang berbeda yang dibutuhkan dari setiap level di suatu organisasi yang sama.

KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF Pengembangan lebih lanjut dari teori kepemimpinan transformasional adalah oleh Hooper dan Potter (1997) yang mengidentifikasi inti dari transcendent leaders ; yaitu pemimpin yang mampu mengikat dukungan emosi dari para pengikutnya dan mampu dengan efektif melakukan perubahan yang transenden (Bolden et al., 2003) : Menentukan tujuan, Memberikan contoh, Komunikasi, Melakukan harmonisasi, Mengeluarkan kemampuan terbaik dari pengikutnya, Menjadi agen perubahan, Memberikan keputusan di saat kritis dan kebingungan.

CIRI-CIRI KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF Hamlin (2002) dalam Bolden et al,. 2003 mengajukan model generik untuk manajer dan kepemimpinan yang efektif berdasarkan analisa meta dari perilaku kepemimpinan dan manajemen di 4 organisasi sector publik di UK; yang dibedakan menjadi indikator-indikator positif dan negatif: Indikator Positif: -Kemampuan berorganisasi yang efektif dan manajemen perencanaan/proaktif -Kepemimpinan yang partisipatif dan supportif, kepemimpinan tim yang proaktif -Empowerment dan delegasi -Memperhatikan keadaan anggotanya dan kebutuhan serta perkembangan stafnya -Manajemen pendekatan terbuka dan personal/ pengambilan keputusan bersama. -Berkomunikasi dan berkonsultasi dengan semua pihak / selalu menginformasikan keadaan ke segala pihak

Indikator Negatif: Tidak memperhatikan pendapat sekitar / gaya manajemen otokratik yang tidak efektif Tidak memperhatikan orang lain, tidak melayani, berperilaku mengintimidasi Mentolerir kinerja yang buruk dan standar yang rendah / mengacuhkan dan menghindari Menyerahkan peran dan tanggungjawabnya ke orang lain Menolak ide-ide baru Hamlin (2007) mendapatkan hasil yang mirip untuk kepemimpinan yang efektif; berdasarkan risetnya di Inggris terhadap manajer-manajer di 4 organisasi sektor publik.

F. Building a Value-Based Corporate Culture (MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN BERBASIS PADA NILAI) Konsep tentang budaya organisasi telah dijabarkan dari berbagai perspektif dalam literaturliteratur. Akibatnya, tidak ada definisi tunggal dari budaya organisasi. Bahasan tentang budaya organisasi telah dikaji dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu, seperti antropologi, sosiologi, perilaku organisasi dan kepemimpinan organisasi, untuk menyebut sedikit di antaranya. Deal (1999) mendefinisikan budaya organisasi sebagai nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan perilaku-perilaku yang membedakan antara organisasi satu dengan yang lain. Schein (1999) menguraikan manifestasi suatu budaya sebagai the way we do things around here, the rite and rituals of our company, the company climate, the reward system, our basic values, dan sebagainya organisasi.

Cara praktis untuk mendefiniskan budaya organisasi adalah di dalam lingkungan dimana kita bekerja, di dalam lingkungan ini perilaku, sikap, keyakinan, ketrampilan, pandangan. Budaya organisasi menetapkan batasan-batasan dan memberikan standar perilaku yang pantas dan sesuai bagi anggota organisasi. Budaya organisasi juga menyediakan mekanisme kontrol yang dapat membimbing dan membentuk sikap dan perilaku anggota suatu organisasi. Dimensi etis yang mencerminkan etika dalam organisasi didefinisikan sebagai budaya etis dalam organisasi (Trevino, 1990)..

G. Mandating and Enforcing Culture : The Federal Centencing Guidelines For Organization (MANDAT DAN PENEGAKAN BUDAYA PERUSAHAAN : The Federal Centencing Guidelines For Organization) Pada tanggal 1 November 1991, Komisi Hukuman Amerika Serikat (USSC) diberlakukan hukuman Pedoman Federal untuk Organisasi (FSGO). Di bawah FSGO, organisasi dengan etika dan program kepatuhan memenuhi standar yang ditetapkan memperoleh kredit terhadap hukuman dikurangi jika karyawan terlibat dalam kesalahan - tetapi organisasi dengan program standar menerima hukuman yang jauh lebih berat

Program kepatuhan ini harus memenuhi standar yang telah ditentukan. Perusahaan sering perlu khawatir tentang hukuman menderita sebagai akibat dari karyawan mereka terlibat dalam perbuatan. Ketentuan untuk hukuman Pedoman Federal untuk Organisasi telah dilakukan untuk mengurangi hukuman untuk organisasi yang efektif melakukan upaya untuk mencegah kesalahan dengan membentuk program kepatuhan etika yang efektif. Di sisi lain, hukuman berat mungkin diderita oleh perusahaan yang belum melakukan upaya yang efektif yang sama..

Tujuan utama dari FSGO adalah untuk mendorong perusahaan dengan imbalan untuk secara efektif mengambil tindakan untuk mencegah kesalahan, tidak hanya mengambil pendekatan reaktif hukum untuk pelanggaran. Perusahaan harus mengembangkan nilai-nilai perusahaan, menegakkan kode etik, dan melakukan upaya yang efektif untuk mencegah pelanggaran.

Terima Kasih Cecep Winata