ADLN - Perpustakaan Unair

dokumen-dokumen yang mirip
Materi 10. Reproduksi I

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi Veteriner dan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Hewan coba Metode Penelitian 1 Isolasi dan Produksi Antigen E/S Fasciola gigantica

I. TINJAUAN PUSTAKA. tidak vital bagi kehidupan tetapi sangat penting bagi kelanjutan keturunan suatu

BAB VI TEKNOLOGI REPRODUKSI

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat Penelitian 3.2 Metode Penelitian Persiapan dan Pemeliharaan Kelinci sebagai Hewan Coba

METODOLOGI PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat Penelitian

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini mencakup ruang ilmu : Anestesiologi,

III. METODE 3.1. Waktu dan Tempat 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Tahap Persiapan Hewan Percobaan Aklimatisasi Domba

I. PENDAHULUAN. Propinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk

METODE PENELITIAN. Metode Penelitian

I PENDAHULUAN. berasal dari daerah Gangga, Jumna, dan Cambal di India. Pemeliharaan ternak

Peking. Gambar 6 Skema persilangan resiprokal itik alabio dengan itik peking untuk evaluasi pewarisan sifat rontok bulu terkait produksi telur.

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Peralatan Prosedur

BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

PENDAHULUAN. masyarakat Pesisir Selatan. Namun, populasi sapi pesisir mengalami penurunan,

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. kebutuhan sehingga sebagian masih harus diimpor (Suryana, 2009). Pemenuhan

PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

MATERI DAN METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2014 di Green

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak biji jintan hitam (Nigella

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dibagikan. Menurut Alim dan Nurlina ( 2011) penerimaan peternak terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi PO adalah sapi persilangan antara sapi Ongole (Bos-indicus) dengan sapi

PENGARUH SUHU DAN WAKTU INKUBASI PADA UJI STANDARISASI HORMON PROGESTERON

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Survei dan Identifikasi Virus yang Menginfeksi Mentimun Pengambilan Sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN Reaksi Antiserum terhadap TICV pada Jaringan Tanaman Tomat

3. METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODA Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan Vaksin AI-ND Pakan Kandang dan Perlengkapannya

METODELOGI PENELITIAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Metodologi

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS PROTEIN. Free Powerpoint Templates. Analisis Zat Gizi Teti Estiasih Page 1

A. Ekstraksi Minyak Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr.) setiap hari selama 10 menit dilakukan pengadukan. Campuran divorteks

TES KEHAMILAN (PREGNANCY TEST)

MAKALAH BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN PENINGKATAN POPULASI DAN MUTU GENETIK SAPI DENGAN TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO. DOSEN PENGAMPU Drh.

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 19 April 2016, bertempat

3 METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis

ANALISIS PROTEIN SPESIFIK TEMBAKAU SRINTHIL. Disusun oleh : Nama : Slamet Haryono NIM :

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sampai September 2011 bertempat

BAB III METODOLOGI Kriteria Inklusi Kriteria inklusi sampel yang digunakan adalah mencit galur C3H berusia minggu dengan berat g.

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari Amerika (Masanto dan Agus, 2013). Kelinci New Zealand White memiliki

5 KINERJA REPRODUKSI

BAB 3 METODE PENELITIAN

Analisa Protein. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

Lampiran 1. Prosedur Pengukuran Kadar Kolesterol dan Trigliserida Darah Itik Cihateup. a. Menyiapkan itik Cihateup yang akan diambil darahnya.

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Partikel TICV berbentuk seperti benang, memanjang (filamentous) dan lentur (flexuous) (Liu et al. 2000)

BAB IV DIAGNOSA KEBUNTINGAN

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak daun sirsak (Annona

MATERI DAN METODA. Kandang dan Perlengkapannya Pada penelitian ini digunakan dua kandang litter sebesar 2x3 meter yang

RPMI 1640 medium. Kanamisin 250 µg. Coomassie brilliant blue G-250

PENDAHULUAN. pemotongan hewan (TPH) adalah domba betina umur produktif, sedangkan untuk

PUBERTAS DAN ESTRUS 32 Pubertas 32 Estrus 32 Waktu kawin 33

CARA MUDAH MENDETEKSI BIRAHI DAN KETEPATAN WAKTU INSEMINASI BUATAN (IB) PADA SAPI INSEMINASI BUATAN(IB).

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKS) : ILMU REPRODUKSI & INSEMINASI BUATAN

SCREENING IBR DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT UNTUK PENGENDALIAN GANGGUAN REPRODUKSI SAPI PO DI DAERAH INTEGRASI JAGUNG-SAPI. Bogor, 8-9 Agustus 2017

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2013 dan

BAB III METODE PENELITIAN. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan Data Statistik 2013 jumlah penduduk Indonesia mencapai jiwa yang akan bertambah sebesar 1,49% setiap tahunnya

PEMBERIAN WHOLE SERUM KUDA LOKAL BUNTING YANG DISENTRIFUGASI DENGAN CHARCOAL TERHADAP BIRAHI DAN KEBUNTINGAN PADA SAPI POTONG

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Dalam usaha meningkatkan penyediaan protein hewani dan untuk

I. PENDAHULUAN. Selatan. Sapi pesisir dapat beradaptasi dengan baik terhadap pakan berkualitas

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Biokimia.

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

BAB I PENDAHULUAN. agar diperoleh efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan pejantan terpilih,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Instrumentasi

HASlL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1 Prosedur uji aktivitas protease (Walter 1984, modifikasi)

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK HIPOFISA SAPI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS AYAM PETELUR PADA FASE AKHIR PRODUKSI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak buah jambu biji (Psidium guajava)

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 di kandang peternak di

4 Hasil dan Pembahasan

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi. Departemen Farmasi FMIPA UI Depok selama tiga bulan dari Februari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Flemish giant dan belgian hare dan berasal dari Amerika. Kelinci ini mempunyai

PENGAPLIKASIAN KIT RIA BATAN UNTUK PENGUKURAN PROGESTERON SUSU SAPI

I. PENDAHULUAN. dengan tujuan untuk menghasilkan daging, susu, dan sumber tenaga kerja sebagai

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia. pembuatan pakan. Analisis kadar malondialdehida serum dilakukan di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juni 2013.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perkembangan populasi kuda di Indonesia belum mencapai keadaan yang menggembirakan bahkan Di Jawa Timur pada tahun 2001 terjadi penurunan populasi ternak kuda sebesar 5,66 % (Anonimous, 2001). Kendala yang sering dihadapi peternak kuda adalah menyangkut bidang reproduksi, seperti panjangnya calving interval dan rendahnya tingkat kebuntingan sehingga upaya untuk mencapai tingkat reproduktivitas yang tinggi sulit dicapai. Upaya yang dilakukan agar target reproduktivitas yang tinggi dapat tercapai adalah dengan melakukan perbaikan pengelolaan reproduksi yang rneliputi deteksi birahi, perkawinan yang tepat dan diagnosa kebuntingan yang tepat. Diagnosa kebuntingan dini diperlukan setelah terjadinya perkawinan untuk identifikasi lebih awal sehingga kehilangan waktu produksi sebagai akibat infertilitas dapat dikurangi. Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada kuda cara yang paling praktis dan dapat diandalkan adalah diagnosa melalui palpasi rektal, selain itu dapat juga dilakukan secara uji biologis (Toelihere, 1985; Hunter, 1995), uji imunologis atau secara ultrasonografi (USG). Pemeriksaan kebuntingan pada kuda dengan cara palpasi rektal beresiko tinggi terhadap keselamatan si pemeriksa. Uji biologis untuk deteksi kebuntingan pada kuda seperti Ascheim Zondek atau Cuboni pelaksanaannya kurang praktis dan mernbutuhkan waktu yang relatif lama. Demikian pula uji imunologis seperti

pemeriksaan substansi spesifik atau uji lainnya dengan memeriksa substansi non spesifik (estrogen atau progesteron) dengan cara radioimmunoassay (RIA) atau enzyme linked immunosorbentassay (ELIS A) masih bersi fat laborator is dan be1 um dapat dilaksanakan secara cepat di lapangan karena beberapa faktor seperti sulitnya pelaksanaan, mahalnya harga kit dan sulitnya mendapatkan bahan-bahan untuk keperluan RIA maupun ELlSA (Anonimous, 1984). Berdasarkan ha1 tersebut diatas maka perlu diupayakan untuk mendapatkan suatu cara deteksi kebuntingan pada kuda yang lebih praktis dan dapat dengan mudah dilakukan di lapangan. Pada penelitian ini dilakukan deteksi adanya hormon equine chorionic gonadotrpin (ecg) pada serum yang secara teoritis terdapat didalarn semum darah kuda pada kebuntingan umur 40 s.d 150 hari. 1.2. Su byek Penelitian Subyek penelitian ini adalah ecg serum darah kuda bunting 7-19 minggu dan anti ecg yang diperoleh serum darah kelinci yang mendapat suntikan berulang dengan ecg serum darah kuda bunting 7-19 minggu. Titer anti ecg yang ada dalam serum darah diukur dengan menggunakan ELISA indirect. Penelitian ini meliputi aspek : lsolasi dan identifikasi ecg serum darah kuda bunting 7 s/d 19 minggu dengan menggunakan SDS-PAGE dan Elusi Pembuatan poliklonal anti ecg Pembuatan kit diagnostik kebuntingan dini ecg Microtitre Strip

1.3. Lokasi Penelitian Peternakan Kuda di Surabaya Laboratorium Fertilisasi in Vitro Fakultas Kedokteran Hewan Unair Laboratoroium Biologi Molekular Fakultas Kedokteran Hewan Unair 1.4. Hasil Yang Diharapkan Produksi ecg dari serum darah kuda bunting 7-19 minggu Produksi antibodi poliklonal anti- ecg Produksi kit diagnostik kebuntingan dini dengan ecg Microtitre Strip 1.5.Rumusan Masalah Apakah Equine Chorionic Gonadotropin dapat dideteksi pada umur kebuntingan kuda 7-19 minggu? Apakah Equine Chorionic Gonadotropin microtitre strip dapat digunakan untuk deteksi kebuntingan dini pada kuda? 1.6. Hipotesis Equine Chorionic Gonadotropin dapat dideteksi pada umur kebuntingan kuda 7-19 minggu. Equine Chorionic Gonadotropirr microtitre strip dapat digunakan untuk deteksi kebuntingan dini pada kuda.

BAB 111 TLNJAUAN PUSTAKA 3.1. Siklus Reproduksi Siklus reproduksi adalah suatu rangkaian kejadian biologis hewan betina yang telah mencapai dewasa kelamin sejak hewan tersebut melahirkan sarnpai melahirkan kembali. Sedangkan siklus birahi adalah perubahan-perubahan fisiologis sistem reproduksi hewan betina secara teratur yang dikendalikan oleh kerja hormon hipofisa dan ovarium. Periode birahi merupakan perubahan terpenting di dalam siklus birahi, yaitu pada saat hewan betina bersedia dikawini oleh hewan jantan dan segera sesudah itu terjadi pelepasan telur dari indung telur. Sepanjang siklus birahi beberapa bagian dari saluran reproduksi betina mengalami perubahan-perubahan yang dikendalikan oleh hormon hipofisa dan hormon-honnon yang berasal dari ovarium. Selain hormon sebagai penyebab diawalinya periode perkawinan, hormon juga mempersiapkan alat reproduksi untuk menerima spermatozoa, menghasilkan ova dan membantu terjadinya kebuntingan, implantasi dan pemberian makanan pada embrio serta fetus (Patodiharrdjo, 1992). 3.1.1. Pubertas Bila ternak jantan atau betina telah mampu memproduksi benih untuk yang pertarna kalinya dan mampu berkopulasi, maka temak mulai memasuki masa pubertas atau dewasa kelamin yang mana pada periode ini proses-proses reproduksi mulai terjadi- (Partodihardjo, 1992). Di Indonesia kuda mengalami

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan kuda di wilayah Surabaya, penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Nopember 2005. 4.2. Materi Penelitian 4.2.1. Bahan Penelitian Bahan-bahan penelitian yang digunakan adalah serum darah kuda bunting, methanol, PBS, running gel, butanol, whatman paper, stacking gel, e bufler, laimli bufler, pewarna silver, BSA, pereaksi biuret, aquades, complete ji-eund adiuvant (CFA), incomplete ji-eund a4uvant (IFA), membran nitrocellulose, konjugat goat-anti-rabbit, enzim alkal in fosfatase, bufler blocking, buffer blocking, NaC I- Triton, bufer coating, Substrat 4-NPP (Nitro Phenyl Phosphate), bufler substrat, larutan stopper (NaOH) dan anti-ecg. 4.2.2. Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah disposable ~yringe, tabung reaksi, sentrifige, miliphore, vial, freezer, SDS PAGE, comb, kuvet spektrofotometer, spektrofotometer Bausch-Lombs, mikroplat, ELISA reader,

4.3. Metode Penelitian 4.3.1. Pengambilan dan Pemisahan ecg Serum Darah Kuda Bunting Sebanyak 5 ekor kuda bunting muda (2-5 bulan) digunakan dalam penelitian ini. Darah diambil dari vena jugularis dengan menggunakan disposable syringe 50 ml, kemudian ditampung dalam tabung reaksi dan ditutup. Tabung dimiringkan 45' dan didiamkan selama 24 jam pada suhu kamar. Kemudian disentrihse dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Serum yang didapat lalu disaring rnenggunakan miliphore 0,22 pm. Serum yang didapat ditampung pada vial dan disimpan dalam freezer dengan suhu - 20 OC atau dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan methanol dengan perbandingan 1:5 clan dikocok selama 3 menit kemudian didiamkan 15-20 menit sampai terdapat 2 lapisan cairan. Supernatan diambil dengan disposable syringe sebanyak 5 ml dan dimasukkan dalam vial 113 ml untuk dibuat sediaan kering beku. Sebelum digunakan untuk uji selanjutnya perlu ditambahkan PBS sebanyak 5 ml. 4.3.2. Preparasi ecg dengan SDSPAGE Identifikasi ecg di dalam serum darah kuda bunting dilakukan dengan metode SDS-PAGE, dimana ecg mempunyai BM antara 45 s/d 65 KD. Cara kerja SDS-PAGE dapat dilihat pada Lampiran 6 - --