METODE PENANGGULANGAN GERAKAN TANAH

dokumen-dokumen yang mirip
I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya

ANALISIS STABILITAS LERENG TEBING SUNGAI GAJAHWONG DENGAN MEMANFAATKAN KURVA TAYLOR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral tertentu

Stabilitas lereng (lanjutan)

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

MEKANIKA TANAH 2 KESTABILAN LERENG. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK

MEKANIKA TANAH (CIV -205)

L O N G S O R BUDHI KUSWAN SUSILO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III.1 Morfologi Daerah Penelitian

BAB III METODE KAJIAN

BAB IV STUDI LONGSORAN

BAB III PENGENDALIAN LONGSOR Identifikasi dan Delineasi Daerah Rawan Longsor

GERAKAN TANAH DI KABUPATEN KARANGANYAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu masalah yang kita hadapi dalam suatu lereng adalah masalah

ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN METODE FELLENIUS (Studi Kasus: Kawasan Citraland)

BAB 8. Gerakan Tanah

ANALISA KESTABILAN LERENG METODE LOWE-KARAFIATH (STUDI KASUS : GLORY HILL CITRALAND)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. air. Melalui periode ulang, dapat ditentukan nilai debit rencana. Debit banjir

BABV PELAKSANAAN PERKUATAN DINnING GALIAN DENGAN METODE "SOIL NAILING" PADA PROYEK MENARA DEA

PONDASI. 1. Agar kedudukan bangunan tetap mantab atau stabil 2. Turunnya bangunan pada tiap-tiap tempat sama besar,hingga tidak terjadi pecah-pecah.

Bendungan Urugan II. Dr. Eng Indradi W. Sunday, May 19, 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya beban diatasnya. Pondasi dibuat menjadi satu kesatuan dasar

5- PEKERJAAN DEWATERING

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah perbandingan relatif pasir, debu dan tanah lempung. Laju dan berapa jauh

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

5.1 Peta Topografi. 5.2 Garis kontur & karakteristiknya

BAB 1 PENDAHULUAN. ataupun galian, salah satunya adalah soil nailing. Dalam soil nailing, perkuatan

BAB V LAPORAN PROSES PENGAMATAN PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUKO SETIABUDHI - BANDUNG

Bendungan Urugan I. Dr. Eng Indradi W. Tuesday, May 14, 13

embankment (preloading) Drainasi vertikal Sand blanket 0,5 1 M

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

KEJADIAN GERAKAN TANAH DAN BANJIR BANDANG PADA TANGGAL 20 APRIL 2008 DI KECAMATAN REMBON, KABUPATEN TANA TORAJA, PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan tanah dan suatu bagian dari konstruksi yang berfungsi menahan gaya

memudahkan dan menajamin ketelitian pekerjaan di lapangan. Tahapan pekerjaan

I. PENDAHULUAN. Pekerjaan struktur seringkali ditekankan pada aspek estetika dan kenyamanan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1.2. ELEMEN STRUKTUR UTAMA

Ach. Lailatul Qomar, As ad Munawir, Yulvi Zaika ABSTRAK Pendahuluan

ANALISA PERENCANAAN PERBAIKAN KELONGSORAN LERENG DI DESA TANJUNG REDEB KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR (STA S/D STA 0+250)

METODE PEKERJAAN BORE PILE

Penanganan Longsoran Badan Jalan Dengan Penjangkaran. disajikan oleh: Gompul Dairi, BRE., Ir., M.Sc. Jalaluddin, ST., MT.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. arah bawah (downward) atau ke arah luar (outward) lereng. Material pembentuk

BAB VII TINJAUAN KHUSUS. Pada bab ini penulis akan membahas tinjauan khusus sebagaimana yang

ACARA IV POLA PENGALIRAN

ANALISIS TRANSFER BEBAN PADA SOIL NAILING (STUDI KASUS : KAWASAN CITRA LAND)

KONSTRUKSI BANGUNAN TEKNIK

BAB 1 PENDAHULUAN. PT. Berau Coal merupakan salah satu tambang batubara dengan sistim penambangan

BABV} PEMBAHASAN. Dalam perencanaan dinding "soil nailing" dengan menggunakan program

ANALISIS STABILITAS LERENG DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL

5.1 PETA TOPOGRAFI. 5.2 GARIS KONTUR & KARAKTERISTIKNYA

DINDING PENAHAN TANAH ( Retaining Wall )

DRAINASE BAWAH PERMUKAAN (SUB SURFACE)

PENGGUNAAN TEKNIK PENAMBATAN JARUM TANAH ( SOIL NAILING ) UNTUK MENINGKATKAN STABILITAS LERENG

Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut:

BAB III. Pengenalan Denah Pondasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Banten. Sumber-sumber gempa di Banten terdapat pada zona subduksi pada pertemuan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

Tata cara pemasangan dan pembacaan alat ukur regangan tanah

PENGARUH VARIASI PANJANG LEMBARAN GEOTEKSTIL DAN TEBAL LIPATAN GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR KEPADATAN 74%

METODE PENGUJIAN HUBUNGAN ANTARA KADAR AIR DAN KEPADATAN PADA CAMPURAN TANAH SEMEN

Cara uji kepadatan tanah di lapangan dengan cara selongsong

ANALISIS KESTABILAN LERENG METODE MORGENSTERN-PRICE (STUDI KASUS : DIAMOND HILL CITRALAND)

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

DINDING DINDING BATU BUATAN

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Cekungan. Air Tanah. Penyusunan. Pedoman.

GROUNDSILL PENGAMAN JEMBATAN KRETEK YOGYAKARTA

BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

Identifikasi Daerah Rawan Longsor

REKAYASA PENULANGAN GESER BALOK BETON BERTULANG DENGAN MENGGUNAKAN SENGKANG VERTIKAL MODEL U

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

PERMASALAHAN STRUKTUR ATAP, LANTAI DAN DINDING

PERBAIKAN TANAH DASAR AKIBAT TIMBUNAN PADA JALAN AKSES JEMBATAN TAYAN

Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Batasan Longsor 2.2 Jenis Longsor

PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum

I. PENGUKURAN INFILTRASI

Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 19 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1 perbandingan bahan Sifat Beton Baja Kayu. Homogen / Heterogen Homogen Homogen Isotrop / Anisotrop Isotrop Isotrop Anisotrop

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Metode Analisis Kestabilan Lereng Cara Yang Dipakai Untuk Menambah Kestabilan Lereng Lingkup Daerah Penelitian...

BABI PENDAHULUAN. Pada masa Pembangunan Jangka Panjang Tahap II ini, Indonesia telah

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

Transkripsi:

METODE PENANGGULANGAN GERAKAN TANAH Budi Santosa Jurusan Teknik Sipil, FTSP, Universitas Gunadarma ABSTRAK Proses perubahan bentuk roman muka bumi yang terjadi di permukaan bumi baik yang terjadi secara kimia maupun fisika sampai saat ini belum pernah selesai, dan sampai kapan pun tidak akan pernah selesai. Fenomena perubahan roman muka bumi seperti pergerakan tanah, bisa terjadi di mana saja, dan gerakan ini cenderung merugikan. Hal ini dapat kita amati seperti yang terjadi pada struktur bangunan yang langsung berinteraksi dengan tanah, atau pada pepohonan yang sering menunjukkan keanehan yang disebabkan oleh gerakan tanah. Fenomena pergerakan tanah ini adalah suatu hal yang biasa terjadi dan dapat diatasi, dan perlu diatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Banyak cara penanggulangan pergerakan tanah yang sering dilakukan, namun banyak juga kesalahan-kesalahan yang terjadi waktu mendirikan bangunan pada tanah yang mengalami pergerakan. Oleh karena itu penanggulangan pergerakan tanah harus sesuai dengan keadaannya di lapangan, dan perilakui gerakan tanahnya. Kata Kunci: geologi, pergerakan tanah, penanggulangan PENDAHULUAN Bentuk roman bumi merupakan pencerminan dari struktur geologi, litologi, dan proses yang terjadi. Proses ini disebut dengan proses geomorfik. Proses geomorfik adalah semua proses perubahan fisika maupun kimia yang mempengaruhi perubahan roman muka bumi. Gradasi merupakan semua proses yang cenderung menghasilkan permukaan litosfera mempunyai ketinggian yang sama. Proses gradasi di antaranya adalah proses degradasi yang cenderung menurunkan permukaan, dan dalam proses degradasi tersebut, di antaranya proses pergerakan tanah. Dengan demikian proses pergerakan tanah adalah sebagian kecil dari proses pembentukan roman muka bumi. Dalam tulisan ini penulis membahas proses pergerakan tanah dan bagaimana metode penanggulangannya, sehingga pergerakan tanah yang cenderung merugikan tersebut akan teratasi. Metode Pengamatan Gerakan Tanah Untuk penanggulangan gerakan tanah perlu diketahui fenomena gerakan tanah, yang dalam hal ini dapat dilihat langsung di lapangan atau interpretasi foto udara.

Fenomena Gerakan Tanah di Lapangan Fenomena gerakan tanah yang sering dijumpai di lapangan adalah sebagai berikut : Variasi lereng (besar dan bentuk) dalam daerah yang berbatuan sama; Endapan dengan ciri sortasi jelek sampai sangat jelek, komposisi matriks dan fragmen sama dengan batuan induk yang ada di dekatnya, bentuk butiran meruncing, dan ukuran butir menghalus ke bawah (finer downslope) (Gambar 1). Pada sayatan bukit yang mengalami runtuhan akan terlihat sebagai berikut, bentuk penyebarannya berbentuk kipas dan tanpa pola pengaliran; Serta pada tipe rayapan memperlihatkan fenomena yang khas antara lain : melengkungnya pohon, miringnya tiang listrik, pecahnya dinding, dan melengkungnya perlapisan (Gambar 2a dan 2b). Untuk mempermudah pemahaman dan pengamatan yang akan dilakukan diusulkan untuk membagi fenomena tersebut menjadi lereng variasi (besar sudut, bentuk), material batuan (sortasi jelek, butir runcing, matriks dan fragmen sama, menghalus ke bawah, material lepas) penyebaran (bentuk kipas tanpa pola aliran), gejala lain terutama pada rayapan (pohon melengkung, tiang listrik melengkung, pecahnya dinding dan kenampakan serentan). Fenomena Gerakan Tanah pada Foto Udara Dari foto udara kenampakan gerakan tanah dicerminkan oleh bentuk bentang alam yang dapat dilihat dengan cepat, sehingga dapat dilaksanakan deliniasi daerah yang bergerak. Pengenalan yang cepat ini dapat mengurangi dan menghindarkan kerugian yang lebih besar. Menurut Liang dan Belcher 1958, petunjuk gerakan tanah melalui foto udara adalah sebagai berikut : Garis patah pada gawir yang tajam; Terjadinya perbedaan rona vegetasi secara tiba-tiba antara material yang bergerak dengan material yang stabil; Serta kemiringan tumbuh-tumbuhan pada foto berskala besar kadangkadang terlihat. Be Creeping slide rock Blocks fall cliff recedes Head Talus Toe Gambar 2a. Fenomena akibat rayapan batuan atau tanah (Bloom, 1978) Dinding batu Soil Batang pohon yang melengkung akibat rayapan Gambar 2b. Fenomena gerakan tanah di lapangan Stream Kemirin gan JURNAL DESAIN & KONSTRUKSI, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2003

Mendeteksi Adanya Gerakan Tanah Untuk pengerjaan konstruksi teknik, perlu mengetahui gerakan tanah secara kuantitatif baik arah, kecepatan maupun bidang luncur. Cara ini dapat dilakukan dengan alat yang sederhana sampai alat yang modern bahkan alat yang otomatis untuk memonitor gerakan. T Bar Alat ini sangat sederhana, berbentuk huruf T. Pengukuran dilakukan secara menerus tiap minggu selama satu tahun penuh. Alat ini sering digunakan pada daerah yang bervegetasi, dan gerakannya sangat lambat, sehingga sering digunakan untuk jangka panjang. Alat ini dipasang pada kedalaman 15 cm dari permukaan tanah, dengan perkiraan kecepatan paling efektif berada pada kedalaman itu. Y 15 cm φ X φ X Gambar 3. Pengukuran rayapan dengan metode T- Bar Perhitungan dilakukan dengan cara geometris, sebagai berikut : misal φ = 1 o x tg φ =, maka tg 1= y x' 150 dengan demikian x =150 tg 1 = 0,04 mm, setelah dilakukan perhitungan, dibuat grafik yang menggambarkan gera-kan, sering dilakukan beberapa T-Bar. Bersamaan dengan pengukuran ini pula dilakukan perhitungan curah hujan dan temperatur, sehingga dapat dicari hubungannya. Keuntungan metode ini adalah adanya korelasi antara musim dan gerakan tanah, sehingga dapat ditentukan kapan konstruksi akan dilaksanakan. Inklinometer Alat ini dipakai untuk mengetahui adanya tekanan dari samping, sehingga dapat diketahui vektor horizontal dari gerakan yang dideteksi. Gambar 4 menunjukkan bahwa pemasangan pipa selubung secara vertikal, di mana dalam pipa tersebut terdapat rel tempat jalannya roda sensor, roda ini dapat mengembang menyusut sesuai jalan yang dilewati. Prinsip alat ini adalah mencari tempat terganggunya atau perubahan bentuk pipa selubung akibat tekanan dari samping. Perubahan ini akan dicerminkan oleh mengembang susutnya roda sensor. Pekerjaan ini dikerjakan seperti longing sumur minyak. Pencatatan dapat dilakukan secara manual dari display yang ada pada indikator atau dengan pita perekam atau bahkan ada yang menggunakan pita printer.

Ke indikator Kabel kontrol Pipa selubung Sensor Penampang pipa Gambar 4. Pemasangan Inklinometer Ekstensometer Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan dari atas (vertikal), sehingga diketahui vektor vertikal dari gerakan tanah yang dideteksi. Pada lubang bor horizontal dipasang kabel pada kedalaman tertentu kemudian ujung-ujungnya yang diluar diikatkan pada head atau kepala (Gambar 5). Apabila terjadi gerakan maka kabel yang diikatkan tersebut akan tertarik dan diketahui oleh kepala atau head yang diteruskan ke indikator. Pelaksanaan dapat dilaksanakan secara manual dengan mengukur panjang kabel atau pencatat otomatis dengan rekorder, misal 518133 Ektensometer dapat mendeteksi gerakan selama beberapa jam terus menerus dan mempunyai 100 buah titik ikat kabel. Kabel Ke indikator Bolt Titik ikat JURNAL DESAIN & KONSTRUKSI, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2003

Gambar 5. Pemasangan Ektensometer Bubble Tiltmeter Alat ini digunakan untuk mengetahui arah gerakan saja, di mana daerah yang turun akan mempunyai elevasi yang lebih rendah, akibat ini akan terlihat pada bubble level yang dilengkapi dengan mikrometer skrup. Pemasangan dilakukan pada landasan yang horisontal berupa landasan beton (Gambar 6). Dengan mengetahui dua koefisien gerak ini dapat diketahui arah gerak yang sesungguhnya. Pengukuran yang secara periodik akan menggambarkan arah umum dari gerakan tanah (Gambar 6b). Setelah mengetahui gerakan yang terjadi baik arah gerakan, kecepatan dan kedudukan bidang luncur dari alat-alat di atas, maka langkah pencegahan selanjutnya dapat lebih terarah. Gelembung udara Sekrup berskala Arah gerak Beton bertulang a. pemakaian b. penggunaan Gambar 6. Pemasangan dan pengunaan Bubble Tiltmeter Penanggulangan Gerakan Tanah Untuk menanggulangi gerakan tanah dapat dilakukan sesuai dengan penyebabnya, melalui beberapa tahapan dan cara pelaksanaannya, antara lain : Pelandaian Lereng Cara ini paling mudah dan paling sederhana sesuai bila penyebab gerakan tanah adalah kelerengan yang curam dan keadaan kritis. Pelandaian lereng ini baik sekali dila-

kukan dengan membuat teras-teras. Besarnya sudut yang dibuat tergantung dengan keinginan (lihat Gambar 8). Grouting Ada dua macam grouting, yaitu surface grouting atau disebut shotcrete borehole grouting (Rangers 1975). Borehole grouting yaitu memasukkan semen kedalam permukaan dengan tekanan tinggi hal ini dimaksudkan untuk menaikkan kekuatan mekanik batuan. Surface grouting atau shotcrete adalah penyemprotan semen di permukaan, sedangkan maksud dari penyemprotan ini adalah mencegah air masuk ke dalam tanah, mencegah erosi dan mencegah pelapukan lebih lanjut. Cara ini sering dikombinasikan dengan pemasangan jaringan kawat baja (wiremesh) dan paku (bolt). Lihat Gambar 8. Permukaan tanah asli Penggalian Penimbunan Gambar 7. Pembuatan teras pada tebing curam Shotcrete Wiremesh Bolt l = 3 5 m Φ = 3 cm Tebal 15 30 cm Gambar 8. JURNAL DESAIN & KONSTRUKSI, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2003

Konstruksi wiremesh shotcrete Biasanya tempat yang ditutup dengan semen ini adalah tempat yang banyak rekahan dan untuk daerah yang luas. Drainasi (Pengaliran) Ranger, 1975 mengemukakan dua macam pengaliran yaitu pengaliran permukaan dan pengaliran bawah permukaan. Pengaliran permukaan adalah pengaliran air di permukaan dengan cara membuat saluran air supaya air tidak meresap ke dalam tanah. Sedangkan pengaliran bawah permukaan adalah membuat saluran tempat keluarnya air atau memompa air ke permukaan, ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan air tanah dan kejenuhan tanah. Untuk mengalirkan air kepermukaan dilakukan dengan membuat parit-parit yang lurus menuruni lereng dan didalamnya diletakkan fragmen batuan untuk menahan kecepatan mengalirnya air yang berlebihan, lihat Gambar 9. Dinding Penahan Dinding penahan sering di pergunakan pada tempat yang dilakukan pemotongan tebing atau tempat bertebing curam. Pembuatan dinding penahan sering dikombinasikan dengan anker dan sistem drainasi (Ranger 1975), lihat Gambar 10. Dinding penahan ini dapat berupa beton bertulang berbentuk hurup L. Anchoring dan Bolting Perbedaan antara anker dan bolt adalah mengenai ukurannya, angker mempunyai ukuran yang lebih besar dan untuk menahan beban yang lebih besar. Prinsip alat ini adalah menahan beban batuan atau massa yang akan bergerak dengan mengikat pada batuan yang diam, lihat Gambar 10. Ujung yang di dalam diikat dengan di-grouting, dan kabel baja ditarik dengan memutar sekrup pada kepala anker. Pemasangan anker untuk terowongan, dilakukan dengan bersusun pada atap terowongan, lihat Gambar 11. Gravel Gravel Pipa berlubang Pengaliran permukaan Gambar 9. Bangunan pengaliran

Tembok Anker Drain Gambar 10. Tembok penahan dengan kombinasi anker dan drainasi Screw Tie rod Bearing plate Bolt Tunel Bore hole Anchoring device Joint Anchor Gambar 11. Prinsip Anker dan Bolt Serta Pemasangannya pada Dinding dan Atap Terowongan PENUTUP Gerakan tanah merupakan bagian dari proses pembentukan roman muka bumi yang cenderung menurunkan tanah, dan akibat yang ditimbulkan sering merugikan. Ada tiga gerakan dasar penurunan tanah, yaitu meluncur murni, mengalir murni, dan gerakan vertikal murni. Sedangkan jenis atau tipe gerakan tanah, yaitu runtuhan, luncuran, aliran, rayapan, dan tipe kompleks. Pemasangan alat untuk mendeteksi gerakan tanah dan untuk mengetahui gerakan tanah sangat penting untuk dilakukan, sehingga pemasangan alat-alat seperti Inklinometer, Bubble Tiltmeter, dan T-Bar dapat digunakan untuk mengetahui gerakan tanah secara lebih kuantitatif. Dari pemasangan alat-alat di lapangan dapat diketahui karakteristik gerakan tanah, sehingga dapat ditentukan jenis penanggulangan JURNAL DESAIN & KONSTRUKSI, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2003

gerakan tanah agar tidak membahayakan. Penanggulangan tanah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut, pelandaian lereng, grouting, pembuatan drainasi pada lereng, anchoring and bolting, dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA Joseph E. Bowles dan Johan K. Hainim. 1991. Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah. Erlangga. Jakarta. O. Lange, M. Ivanova, N. Lebedeva. 1991. Geologi Umum. Gaya Media Pratama. Jakarta. P.N.W. ver Hoef. 1992. Geologi Untuk Teknik Sipil. Erlangga. Jakarta.