BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Khasiatnya diketahui dari penuturan orang-orang tua atau dari pengalaman (Anonim, 2009). Salah satu tanaman yang telah terbukti berkhasiat sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

kurang menyenangkan, meskipun begitu masyarakat percaya bahwa tanaman tersebut sangat berkhasiat dalam menyembuhkan penyakit; selain itu tanaman ini

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Desain formulasi tablet. R/ zat Aktif Zat tambahan (eksipien)

BAB I PENDAHULUAN. Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya

waktu tinggal sediaan dalam lambung dan memiliki densitas yang lebih kecil dari cairan lambung sehingga obat tetap mengapung di dalam lambung tanpa

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan antiinflamasi lainnya. Dosis ibuprofen sebagai anti-inflamasi mg sehari.

struktur yang hidrofobik dimana pelepasannya melalui beberapa tahapan sehingga dapat mempengaruhi kecepatan dan tingkat absorpsi (Bushra et al,

SKRIPSI. Oleh : YENNYFARIDHA K FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2008

bentuk sediaan lainnya; pemakaian yang mudah (Siregar, 1992). Akan tetapi, tablet memiliki kekurangan untuk pasien yang mengalami kesulitan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

FORMULASI TABLET PARACETAMOL SECARA KEMPA LANGSUNG DENGAN MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI AMILUM UBI JALAR (Ipomea batatas Lamk.) SEBAGAI PENGHANCUR

Beberapa hal yang menentukan mutu tablet adalah kekerasan tablet dan waktu hancur tablet. Tablet yang diinginkan adalah tablet yang tidak rapuh dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sedangkan kerugiannya adalah tablet tidak bisa digunakan untuk pasien dengan kesulitan menelan. Absorpsi suatu obat ditentukan melalui disolusi

bebas dari kerusakan fisik, serta stabil cukup lama selama penyimpanan (Lachman et al., 1986). Banyak pasien khususnya anak kecil dan orang tua

relatif kecil sehingga memudahkan dalam proses pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan. Beberapa bentuk sediaan padat dirancang untuk melepaskan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

merupakan masalah umum yang menimpa hampir 35% dari populasi umum, khususnya pediatri, geriatri, pasien stroke, penyakit parkinson, gangguan

KETOKONAZOL TABLET PREFORMULASI DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 (SATU) C S1 FARMASI 2013

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang dan tujuan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengkonsumsi berbagai jenis pangan sehingga keanekaragaman pola

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pembuatan Amilum Biji Nangka. natrium metabisulfit agar tidak terjadi browning non enzymatic.

BAB I PENDAHULUAN. Pisang ( Musa paradisiaca L) adalah salah satu buah yang digemari oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. adalah obat yang menentang kerja histamin pada H-1 reseptor histamin sehingga

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sejak tahun Sentra produksi ubi jalar adalah Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah,

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan Baku Ibuprofen

diperlukan pemberian secara berulang. Metabolit aktif dari propranolol HCl adalah 4-hidroksi propranolol yang mempunyai aktifitas sebagai β-bloker.

BAB I PENDAHULUAN. atau gabungan antara ketiganya (Mangan, 2003). Akhir-akhir ini penggunaan obat

A. DasarTeori Formulasi Tiap tablet mengandung : Fasedalam( 92% ) Starch 10% PVP 5% Faseluar( 8% ) Magnesium stearate 1% Talk 2% Amprotab 5%

SKRIPSI. Oleh: HENI SUSILOWATI K FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2008

bahan tambahan yang memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang baik sehingga dapat dicetak langsung. Pada pembuatan tablet diperlukan bahan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan (Depkes RI,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. komersial dilakukan secara setahap dengan hasil samping berupa dedak

kurang dari 135 mg. Juga tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya lebih dari180 mg dan kurang dari 120 mg.

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Tanaman yang

PERBANDINGAN TEPUNG SINGKONG DENGAN TEPUNG TALAS DAN KONSENTRASI SERBUK TEH HIJAU TERHADAP KARAKTERISTIK COOKIES (KUE KERING) BERBASIS UMBI- UMBIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

kabar yang menyebutkan bahwa seringkali ditemukan bakso daging sapi yang permasalahan ini adalah berinovasi dengan bakso itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam pemenuhan kesehatan. Maka diperlukan

Teknik likuisolid merupakan suatu teknik formulasi dengan obat yang tidak terlarut air dilarutkan dalam pelarut non volatile dan menjadi obat dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang dan tujuan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

7 Manfaat Daun Singkong

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai macam masalah. Menurut McCarl et al., (2001),

BAB I PENDAHULUAN. macam pengobatan berdasarkan pengalaman empirik secara turun temurun. Seiring

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki beberapa keuntungan antara lain: 1) ketepatan dosis, 2) mudah cara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I KLARIFIKASI HASIL PERTANIAN

PENGARUH PENGGUNAAN AMILUM JAGUNG PREGELATINASI SEBAGAI BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET VITAMIN E

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil umbi-umbian, antara lain

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan hidup. Pemenuhan kebutuhan pangan dapat dilakukan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1960-an ubi jalar telah menyebar hampir di seluruh Indonesia

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Peneltian.

TABLET/OT 2015 Sediaan tablet adalah Sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau serkuler, kedua permukaanya rata

BAB I PENDAHULUAN. oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kerupuk bertekstur garing dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Beras analog merupakan beras tiruan yang terbuat dari tepung lokal non-beras.

PENDAHULUAN mg/dl. Faktor utama yang berperan dalam mengatur kadar gula darah

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan adalah produk fermentasi berbasis susu. Menurut Bahar (2008 :

BAB I PENDAHULUAN. sangat digemari oleh masyarakat di dunia pada umumnya. Beberapa negara

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi,

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

mi. Sekitar 40% konsumsi gandum di Asia adalah mi (Hoseney, 1994).

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan palawija sumber karbohidrat yang memegang peranan penting kedua setelah beras.

BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

PEMBUATAN MIE TEPUNG KULIT PISANG KEPOK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. pemenuhan kebutuhan pangan menurut Indrasti (2004) adalah dengan

UJI KUALITAS YOGHURT SUSU SAPI DENGAN PENAMBAHAN MADU dan Lactobacillus bulgaricus PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI

PEMBAHASAN. R/ Acetosal 100 mg. Mg Stearat 1 % Talkum 1 % Amprotab 5 %

2.1.1 Keseragaman Ukuran Kekerasan Tablet Keregasan Tablet ( friability Keragaman Bobot Waktu Hancur

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan oral berupa sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis atau lebih bahan obat atau dengan atau tanpa zat tambahan (Departemen Kesehatan RI, 1979). Bentuk sediaan tablet mempunyai keuntungan yang meliputi ketepatan dosis, praktis dalam penyajian, biaya produksi yang murah, mudah dikemas, tahan dalam penyimpanan, mudah dibawa, serta bentuk yang memikat (Lachman, Lieberman, dan Kanig, 1994). Sediaan tablet secara umum terdiri dari bahan aktif dan eksipien. Bahan aktif merupakan suatu bahan yang mempunyai efek farmakologi. Bahan aktif yang dipilih untuk penelitian ini adalah metformin HCl. Metformin HCl merupakan turunan biguanida yang sekarang masih digunakan sebagai antidiabetes. Metfromin HCl adalah obat antidiabetes oral yang merupakan pilihan pertama untuk penyakit diabetes tipe 2 dari golongan biguanida. Berbeda dengan sulfonilurea, obat-obat ini tidak menstimulasi pelepasan insulin dan tidak menurunkan gula darah pada orang sehat. Metformin HCl mungkin digunakan sendiri atau kombinasi dengan sulfonilurea. Metformin HCl bekerja terutama dengan jalan mengurangi pengeluaran glukosa hati, sebagian besar dengan menghambat glukoneogenesis. Dalam penelitian ini dipilih metformin HCl sebagai bahan aktif karena memiliki sifat alir dan kompaktibilitas yang buruk sekaligus mewakili bahan obat dengan dosis besar. Metformin HCl mudah diabsorbsi peroral, tidak terikat dengan protein serum dan tidak di metabolisme. Metformin HCl diekskresi melalui urin. Efek samping pada saluran cerna 1

tinggi. Sangat jarang menimbulkan asidosis laktat yang fatal (Sweetman, 2009). Selain bahan aktif dibutuhkan juga beberapa bahan tambahan pendukung. Amilum merupakan salah satu bahan tambahan/eksipien yang penting dalam formulasi sediaan tablet yang berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengikat (5 10 %) dan bahan penghancur dengan konsentrasi 3 15 % (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2006). Amilum sampai saat ini masih diimpor untuk memenuhi kebutuhan di industri farmasi. Di pasaran telah tersedia amilum yang diproses dari singkong (Manihot utilissima), yang dikenal dengan Amprotab. Amprotab telah digunakan secara luas sebagai bahan pengisi, bahan pengikat dan bahan penghancur untuk formulasi sediaan tablet. Selain itu terdapat pula amilum yang terbuat dari jagung, kentang, dan lain-lain. Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak menghasilkan umbi-umbian yang potensial dapat diproses untuk menghasilkan amilum. Amilum bisa diperoleh dari jagung (Zea mays), kentang (Solanum tuberosum), singkong (Manihot utilissima) dan gandum (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2006). Saat ini, telah dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan amilum dari bahan baku seperti beras, umbi-umbian lokal (jahe dan ubi jalar) dan salah satunya yang saat ini akan dilakukan peneliti adalah pemanfaatan limbah kulit pisang agung sebagai bahan baku dalam pembuatan amilum yang kemudian dapat berfungsi sebagai pengikat dalam formulasi tablet. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup dikenal sebagai penghasil pisang terbesar di Asia. Indonesia menjadi salah satu sentra primer keragaman pisang, dimana di Indonesia terdapat lebih dari 200 jenis pisang, diantaranya pisang kepok, pisang tanduk, pisang raja, pisang susu, dan masih banyak yang lain. Pisang mengandung karbohidrat dan mempunyai nilai gizi yang cukup sebagai sumber kalori, vitamin, mineral 2

maupun serat yang baik untuk pencernaan. Selain itu, pisang mempunyai daerah pemasaran yang luas dan mudah diperoleh sepanjang tahun (Mukhtasar, 2003). Menurut Satuhu dan Supriyadi, (1991) jumlah dari kulit buah pisang cukup banyak, yaitu kira kira sekitar 1/3 bagian dari buah pisang yang belum dikupas. Kulit pisang merupakan bahan buangan (limbah buah pisang) yang cukup banyak jumlahnya. Pada umumnya kulit pisang belum dimanfaatkan secara nyata, hanya dibuang sebagai limbah organik saja atau digunakan sebagai makanan ternak seperti kambing, sapi, dan kerbau. Jumlah kulit pisang yang cukup banyak akan memiliki nilai jual yang menguntungkan apabila bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan (Susanti, 2006). Menurut hasil penelitian dari Balai Penelitian dan Pengembangan Industri (1982), tanaman pisang mengandung berbagai macam senyawa seperti air, karbohidrat, lemak, protein, kalsium fosfor, zat besi, vitamin B, dan vitamin C. Karbohidrat merupakan jumlah terbesar kedua setelah air, yaitu 18,50 %. Karbohidrat yang dikandung oleh kulit pisang sebagian besar adalah amilum. Amilum atau pati adalah jenis polisakarida karbohidrat (karbohidrat kompleks). Amilum (pati) tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Amilum merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Amilum sebagai pengikat bersifat lebih lekat dan cenderung membentuk gel apabila disuspensikan dengan air (Gunawan dan Mulyani, 2004). Oleh karena itu, amilum kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengikat tablet. Penggunaan bahan pengikat diperlukan untuk mengikat antar partikel serbuk agar dapat membentuk granul. Pengaruh pengikat adalah memperbaiki kekerasan dan kerapuhan granul serta tablet, sehingga dapat mempengaruhi karakteristik tablet yang dihasilkan. Dalam penelitian ini digunakan limbah kulit pisang agung. Kulit pisang agung relatif sangat 3

mudah diperoleh karena tanaman ini sangat cocok tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Pisang agung banyak dikonsumsi baik secara segar maupun bahan olahan karena memiliki rasa yang enak dan mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Dengan diprosesnya limbah kulit pisang agung ini menjadi amilum dan dikembangkan menjadi eksipien dalam formulasi sediaan tablet diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonominya. Eksipien lain yang juga digunakan dalam penelitian adalah bahan penghancur. Bahan penghancur dimaksudkan untuk memudahkan pecah atau hancurnya tablet dalam medium air, sehingga pecah menjadi granul atau partikel penyusunnya. Fragmen-fragmen tablet ini memungkinkan untuk larutnya obat dan tercapai bioavailabilitas yang diharapkan. Salah satu bahan penghancur yang sering digunakan adalah crosspovidon. Crosspovidon digunakan secara luas sebagai penghancur tablet karena karakter hidrofilik yang tinggi, pengambilan air (water uptake) yang cepat dan sifat pengembangan yang baik. Crosspovidon pada umumnya digunakan sebagai penghancur pada sediaan tablet dengan konsentrasi 2 % - 5 %. Efek crosspovidon sebagai penghancur terutama berdasarkan pada sifat pengembangan tanpa membentuk gel (Mohamed et al., 2012). Selain bahan penghancur, juga dibutuhkan pelumas/lubrikan. Lubrikan sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas pembuatan tablet. Salah satunya adalah magnesium stearat. Magnesium stearat dapat mengurangi gesekan antara tepi tablet dan dinding die selama kompresi dan memfasilitasi ejeksi dengan membentuk film dengan kekuatan geser rendah antara dinding die dan massa tablet (Shadangi, Shaurabh, and Deepak, 2012). Magnesium stearat bersifat hidrofobik sehingga akan mempengaruhi penetrasi air yang masuk. Jika semakin susah air berpenetrasi maka waktu hancur tablet akan semakin lama sehingga 4

pelepasan obat pun menjadi lambat dan efek yang ditimbulkan pun lambat, begitu pun sebaliknya. Salah satu faktor penting dan harus diperhatikan agar menghasilkan suatu formula yang optimum dalam pembuatan tablet adalah pemilihan bahan tambahan yang sesuai. Semua jenis eksipien yang sudah diterima dan tersedia belum tentu efektif dan efisien saat digunakan dalam suatu formula. Bahan pengikat yang digunakan dengan konsentrasi yang terlalu tinggi akan menghasilkan tablet yang keras dan waktu hancurnya lama, tetapi jika digunakan dalam jumlah kecil tablet menjadi rapuh. Demikian pula dengan bahan penghancur, jika digunakan dalam jumlah banyak maka akan memberikan masalah dalam proses pengempaan tablet seperti terjadinya capping dan laminating. Sebaliknya jika digunakan dalam jumlah kecil maka tablet akan sulit untuk hancur dan akan mempengaruhi disolusi tablet. Sedangkan pertimbangan penggunaan bahan pelicin seperti magnesium stearat adalah karena diketahui secara efektif dapat berfungsi sebagai anti gesekan pada proses pentabletan terutama gesekan antar dinding punch dan dinding die, atau memperbaiki sifat alir granul sampai pada proses pengeluaran tablet dari mesin cetak tablet. Magnesium stearat yang bersifat hidrofobik akan melapisi bagian luar tablet dan dapat menghalangi jalan masuknya air pada proses penghancuran tablet sehingga dapat menyebabkan waktu hancur tablet menjadi lebih lama. Dalam penelitian ini salah satu faktor yang dikendalikan dalam pencampuran magnesium stearat adalah waktu pencampuran. Oleh karena itu perlu dilakukan optimasi untuk bisa mendapatkan suatu formula yang optimum. Optimasi formula menggunakan metode faktorial desain dilakukan untuk mendapatkan perbandingan yang tepat antara bahan pelicin, penghancur, dan bahan pengikat untuk menghasilkan tablet yang berkualitas. Bahan pelicin, penghancur dan bahan pengikat pada 5

perbandingan tertentu diharapkan dapat diperoleh area optimum yang diperkirakan sebagai komposisi optimum pada pembuatan tablet. Pada penelitian ini digunakan faktorial desain 2 3 dan bertujuan untuk mempelajari pengaruh 3 faktor, yang berupa variasi kadar dan interaksi dari ketiga bahan tambahan penyusun tablet yaitu amilum kulit pisang dengan konsentrasi minimum (-) 2 % (b/b) dan maksimum (+) 4 % (b/b), crosspovidon dengan konsentrasi minimum (-) 3 % (b/b) dan maksimum (+) 5 % (b/b), serta magnesium stearat dengan konsentrasi minimum (-) 0.5 % (b/b) dan maksimum (+) 2 % (b/b) terhadap sifat fisik tablet (kekerasan tablet, kerapuhan tablet dan waktu hancur tablet). Keuntungan dari metode faktorial desain adalah selain dapat mengoptimasi formula juga dapat mengoptimasi proses. Dari penjabaran diatas maka peneliti mengangkat judul Optimasi Tablet Metfromin HCl menggunakan Amilum Kulit Pisang sebagai Pengikat, Crosspovidon sebagai Penghancur dan Magnesium Stearat sebagai Pelicin. 1.2 Rumusan Masalah Penelitian - Bagaimana pengaruh konsentrasi amilum kulit pisang sebagai bahan pengikat, konsentrasi crosspovidon sebagai bahan penghancur, dan konsentrasi magnesium stearat sebagai bahan pelicin maupun interaksinya terhadap mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi tablet metformin HCl - Bagaimana merancang formula optimum dengan kombinasi amilum kulit pisang, crosspovidon, dan magnesium stearat yang secara teoritis memiliki mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi yang memenuhi syarat 6

1.3 Tujuan penelitian - Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi amilum kulit pisang sebagai bahan pengikat, konsentrasi crosspovidon sebagai bahan penghancur, dan konsentrasi magnesium stearat sebagai pelicin maupun interaksinya terhadap mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi tablet metformin HCl - Memperoleh rancangan formula optimum tablet metformin HCl menggunakan kombinasi amilum kulit pisang, crosspovidon, dan magnesium stearat yang secara teoritis memiliki mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi yang memenuhi syarat 1.4 Hipotesis penelitian - Konsentrasi amilum kulit pisang sebagai pengikat, crosspovidon sebagai penghancur, dan magnesium stearat sebagai pelicin maupun interaksinya memiliki pengaruh terhadap mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi tablet metformin HCl - Formula optimum tablet metformin HCl dapat diperoleh dengan menggunakan kombinasi amilum kulit pisang, crosspovidon, dan magnesium stearat, yang memiliki mutu fisik tablet dan hasil uji disolusi yang memenuhi syarat 1.5 Manfaat Penelitian - Meningkatkan pemanfaatan amilum yang berasal dari limbah kulit pisang agung sebagai pengikat pada sediaan tablet 7