V. GAMBARAN UMUM PASAR BUNGA RAWABELONG

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

V. GAMBARAN UMUM 5.1 Pasar Bunga Wastukencana 5.2 Karakteristik Florist

Usaha Merangkai Bunga

I. PENDAHULUAN. yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian

Lapangan Usaha. Sumber : Badan Pusat Statistik (2012) 1

I. PENDAHULUAN. Tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki masa depan cerah. dalam pemulihan perekonomian Indonesia di waktu mendatang.

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat, harga yang

V GAMBARAN UMUM PASAR INDUK KRAMAT JATI

I. PENDAHULUAN. akan tetapi juga berperan bagi pembangunan sektor agrowisata di Indonesia.

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tanaman hortikultura meliputi tanaman sayuran, buah-buahan, dan tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. 4 Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011]

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

I PENDAHULUAN Latar Belakang

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

VII ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KERAGAAN PASAR

BAB I PENDAHULUAN. Cabai merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia yang

HARGA SEMBAKO DAN PRODUKSI KEDELAI NASIONAL Kamis, 27 Agustus 2009

BAB I PENDAHULUAN. Energi minyak bumi telah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi manusia saat

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. adalah tempat terjadinya transaksi jual beli yang dilakukan oleh penjual dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis bidang jasa saat ini menunjukkan peningkatan dan kemajuan

SALURAN DISTRIBUSI JAMUR TIRAM PUTIH DI P4S CIJULANG ASRI DALAM MENINGKATKAN KEUNTUNGAN. Annisa Mulyani 1 Sri Nofianti 2 RINGKASAN

Kondisi Eksisting Lokasi Budidaya Tanaman Hias Kelurahan Srengseng

VI ANALISIS RISIKO HARGA

1 PENDAHULUAN. Tahun Manggis Pepaya Salak Nanas Mangga Jeruk Pisang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data strategis Kabupaten Semarang tahun 2013, produk sayuran yang

BAB I PENDAHULUAN. Mawar merupakan salah satu tanaman kebanggaan Indonesia dan sangat

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN. (b) Mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

ANALISIS KELAYAKAN PENGUSAHAAN BUNGA POTONG KRISAN LOKA FARM KECAMATAN CISARUA KABUPATEN BOGOR. Afnita Widya Sari A

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau

DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN WAWANCARA

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki potensi untuk mengusahakan dan mengembangkan berbagai

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain

I. PENDAHULUAN. Persentase Produk Domestik Bruto Pertanian (%) * 2009** Lapangan Usaha

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 51 TAHUN 2014 TENTANG

PENERAPAN SISTEM GRADING PADA TANAMAN BUNGA MAWAR DI LIEBE DESA CIHIDEUNG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Laporan Kinerja Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura T.A 2015

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Florist

gizi mayarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Produksi hortikultura yaitu sayuran dan buah-buahan menyumbang pertumbuhan

DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI UMKM DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2016

V. GAMBARAN UMUM PT. FLORIBUNDA

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. budaya masyarakat sudah mulai bergeser dan beralih ke pasar modern ritel

BUPATI MADIUN BUPATI MADIUN,

IV. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. adalah jamur konsumsi (edible mushroom). Jamur konsumsi saat ini menjadi salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

VII. PROSES KEPUTUSAN KONSUMEN BERKUNJUNG KE OBJEK WISATA AGRO GUNUNG MAS

HASIL DAN PEMBAHASAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT

BAB IV. RENCANA OPERASIONAL. 3V Moslem Style menjual busana muslim wanita yang berlokasi di pasar

BAB I PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

Peraturan...

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI KEPITING SOKA

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar

BAB I PENDAHULUAN. besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam rangka

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 115 TAHUN 2017 TENTANG TARIF PEMANFAATAN FASILITAS DI PUSAT PERBELANJAAN BERINGHARJO

terealisasi sebesar Rp atau 97,36%. Adapun program dan alokasi anggaran dapat dilihat pada tabel berikut :

BAB V PEMBAHASAN A. Analisa Data Sekunder B. Analisis Data Primer dan Pembahasan

PEMBENTUKAN HARGA CABAI MERAH KERITING

Pertanian dan Kehutanan yang Maju serta Berkelanjutan, yang selanjutnya

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang diakibatkan krisis moneter serta bencana alam yang

I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHUALAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak

LAMPIRAN 1 DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN. transaksi penjualan tiap gerai senilai Rp ,00 per hari, maka perputaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012

I. PENDAHULUAN. potensi besar dalam pengembangan di sektor pertanian. Sektor pertanian di

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BUNGA MAWAR POTONG DI DESA KERTAWANGI, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG BARAT. Abstrak

Transkripsi:

V. GAMBARAN UMUM PASAR BUNGA RAWABELONG 5.1. Pasar Bunga Rawabelong 5.1.1. Sejarah Pasar Bunga Rawabelong Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu pasar yang dijadikan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura. Pada awalnya, para pedagang di Pusat Promosi Hortikultura ini merupakan pedagang kaki lima bunga dan tanaman hias yang berusaha di sepanjang jalan Rawabelong, Palmerah Selatan. Namun kemudian, Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 25 Juli 1989 meresmikan keberadaan Pasar Bunga Rawabelong ini dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong. Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ini merupakan instalasi teknis dari Dinas Pertanian DKI Jakarta. Seiring dengan perkembangannya, instalasi Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ditetapkan menjadi salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 113 Tahun 2002 dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura. Sebagai UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta maka Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai visi, yaitu Mempertahankan dan Meningkatkan Eksistensinya sebagai Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura yang Unggul dan Prima dalam Memberikan Pelayanan Agribisnis. Dalam upaya untuk mewujudkan dan mendukung visi tersebut, maka misi yang dilakukan oleh UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta adalah : a. Meningkatkan penampilan secara menyeluruh agar layak sebagai daerah tujuan wisata agro yang dapat diandalkan b. Memberikan pelayanan dalam hal sarana dan prasarana serta informasi kepada para pelaku agribisnis baik produsen, konsumen, maupun masyarakat umum dalam menjalankan usahanya c. Menciptakan kondisi usaha bisnis dalam bidang pertanian dan kehutanan yang lebih baik serta dalam suasana yang kondusif dengan 38

mengembangkan dan meningkatkan pola kemitraan, permodalan, pemasaran, serta promosi d. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang hortikultura dengan jalan memotivasi dalam berusaha serta berupaya menjembatani pola kemitraan sehingga mampu mengembangkan usahanya yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan taraf hidupnya 5.1.2. Fungsi dan Tugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rawabelong Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No.113 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Dinas Kelautan dan Propinsi DKI Jakarta, maka UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai tugas pokok Melaksanakan Usaha Promosi dan pemasaran Hortikultura, Menyediakan dan Memberikan Fasilitas Layanan serta Mengelola Prasarana dan Sarana Promosi dan Pemasaran. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura berusaha menyediakan berbagai jenis komoditas hortikultura dan jasa terkait hal tersebut. 5.1.3. Fasilitas Pasar Bunga Rawabelong Untuk melakukan kegiatan pemasaran tersebut, UPT P3H didukung oleh para pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong. Para pedagang tersebut menempati kios-kios yang telah disediakan UPT P3H. Sampai saat ini jumlah pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong tersebut terdapat 137 pedagang. Tidak semua pedagang menjual jenis komoditas, terdapat beberapa pedagang yang menjual jasa yang terkait dengan hortikultura. Pasar Bunga Rawabelong memiliki berbagai macam fasilitas layanan umum yang mendukung semua aktivitas di Rawabelong. Pada awal berdirinya, fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa belong hanya diperuntukkan untuk bunga potong. Kemudian dalam perkembangannya, mulai tahun 2005 hingga 2008 telah dibangun sarana dan prasarana usaha dan perlengkapan pendukung. Sarana dan prasarana usaha serta perlengkapan pendukung itu sendiri terbagi menjadi dua 39

wilayah, yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Di wilayah selatan, luas lahan yang ada seluas 6.447 m 2 yang terdiri atas bangunan kios dan los, bangunan kantor dan laboratorium kultur jaringan, bangunan workshop, dan bangunan jembatan penghubung kios-kios dengan laboratorium kultur jaringan. Sedangkan di wilayah utara, luas lahan yang dimiliki sebesar 5.970 m 2 yang digunakan untuk bangunan kios dan los bunga, bangunan parkir, dan bangunan gardu listrik PLN. Kios atau tempat usaha yang tersedia di Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Namun, kios-kios tersebut memiliki status kepemakaian. Status kios yang ada di Rawabelong terdiri dari dua status, yaitu hak pakai dan menyewa. Kios yang berstatus hak pakai merupakas fasilitas sarana dan prasarana yang diberikan oleh pemerintah dengan pengawasan dan bimbingan Dinas Pertanian DKI Jakarta. Sedangkan kios dengan status sewa adalah tempat usaha yang disewakan dengan biaya retribusi yang harus dibayarkan setiap bulannya. Walaupun demikian, kios-kios tersebut harus mengikuti persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah dengan memperpanjang izin dalam penggunaan lahan dan bangunan tempat usaha di UPT Rawabelong setiap dua tahun sekali pada Dinas Pertanian DKI Jakarta. 5.1.4. Kegiatan di Pasar Bunga Rawabelong Kegiatan jual-beli di Pasar Bunga Rawabelong berlangsung setiap hari selama 24 jam, mulai Senin hingga Minggu. Kegiatan jual-beli secara grosir terjadi pada pukul 02.00 hingga pukul 06.00 pagi. Setiap pagi sejumlah pemasok bunga dan tanaman hias datang ke Pasar Bunga Rawabelong untuk memasok bunganya ke beberapa pedagang. Walaupun pemasok datang setiap hari, namun para pedagang tidak setiap hari membeli bunga dari para pemasok tersebut. Para pedagang memiliki hari-hari tertentu untuk memasok. Biasanya, para pedagang mengambil pasokan bunga setiap seminggu tiga kali, namun ada pula yang seminggu dua kali. Jumlah pasokan yang dipasok ke para pedagang memiliki jumlah yang tetap setiap saat sesuai dengan perjanjian dengan para pemasok masing-masing. Semua pasokan bunga dan tanaman hias yang diperoleh pedagang berasal dari berbagai macam daerah. Daerah yang banyak memasok ke Pasar 40

Bunga Rawabelong adalah Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Garut, Lembang (Jawa Barat), Magelang, Tegal (Jawa Tengah), Pasuruan dan Malang (Jawa Timur). Setiap hari pihak UPT Rawabelong melakukan pencatatan data tentang harga dan volume pemasaran berbagai jenis bunga potong. Selain melakukan pencatatan, UPT Rawabelong juga melakukan penarikan retribusi untuk bunga potong yang masuk setiap harinya. Biaya retribusi juga ditetapkan untuk sewa lahan atau kios yang digunakan para pedagang. Namun, biaya retribusi sewa lahan atau kios tersebut ditarik setiap bulan. Jenis-jenis komoditas yang tersedia untuk diperdagangkan di Pasar Bunga Rawabelong yaitu Bunga Potong, Bunga Rampai/ Tabur, Daun Potong, Bunga Kering, dan Tanaman Hias. Bunga potong yang ditawarkan terdiri dari dua jenis, Anggrek dan aneka Bunga Gunung seperti mawar, melati, krisan, gladiol, dan lain-lain. Sedangkan jenis tanaman hias yang ditawarkan pun beraneka ragam dimana tanaman hias tersebut terklasifikasi menjadi dua jenis, yaitu Tanaman Hias Berbunga dan Tanaman Hias Berdaun Indah. Selain menyediakan beraneka ragam bunga dan tanaman hias, di Pasar Bunga Rawabelong juga menyediakan beraneka ragam jasa terkait. Beberapa jasa yang dapat ditemukan seperti aneka rangkaian bunga, aneka sarana penunjang rangkaian, jasa pembuatan roncean melati, jasa pembuatan bunga papan dan kran duka cita. Jenis pedagang di Pasar Bunga Rawabelong terdiri dari dua jenis. Pedagang jenis pertama adalah pedagang yang memiliki toko bunga (florist). Pedagang florist ini biasanya mendapatkan sumber pasokan dari perusahaan bunga dan tanaman hias. Sedangkan untuk permintaan, para pedagang florist memiliki permintaan yang cukup pasti karena pedagang florist rata-rata memiliki jalinan kerjasama dengan beberapa perusahaan yang telah melakukan kesepakatan bersama. Kegiatan jual-beli para pedagang florist tidak hanya sekedar menjual bunga potong atau tanaman hias. Para pedagang florist juga menjual jasa yaitu jasa bunga rangkai untuk dalam dan luar kota Jakarta, bahkan wilayah pelayanan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan pedagang jenis kedua adalah pedagang individu. Para pedagang individu ini merupakan pedagang yang menjual bunga potong. Tidak ada pedagang individu yang menjual tanaman hias. Sumber pasokan pedagang ini 41

rata-rata berasal dar para petani, karena harga yang ditawarkan lebih murah. Sedangkan permintaan pedagang individu lebih berfluktuasi daripada pedagang florist karena pedagang individu tidak memiliki hubungan kerjasama kontrak dengan konsumen. Sehingga, permintaan dan persediaan bunga potong disesuaikan dengan kondisi sehari-hari. Bunga potong yang ditawarkan dijual secara grosiran maupun per-ikat. Para pedagang individu juga tidak menyediakan jasa bunga rangkai, sehingga aktivitas mereka hanya jual-beli bunga potong. Lokasi para pedagang individu tidak seperti pedagang florist yang tertata rapi dan memiliki kios sendiri. Para pedagang individu di Pasar Bunga Rawabelong berlokasi di gedung bagian belakang pasar dan tidak memiliki kios. Pada Pasar Bunga Rawabelong, konsumen juga dapat diklasifikasikan. Pengklasifikasian konsumen terdiri dari tiga macam konsumen. Konsumen pertama adalah florist lain yang membeli bunga potong segar. Konsumen pertama ini rata-rata berlokasi di Jakarta, tetapi di luar Pasar Bunga Rawabelong. Konsumen kedua merupakan konsumen yang berasal dari perusahaan, kantor atau katering. Konsumen kedua biasanya membeli bunga dalam bentuk bunga segar maupun memesan dalam bentuk bunga rangkai. Dan konsumen ketiga adalah konsumen individu, baik dari kalangan-kalangan menengah ke atas atau kalangan menengah ke bawah. Jangka waktu pembelian yang dilakukan berbeda-beda. Konsumen pertama membeli bunga dengan jangka waktu mingguan, konsumen kedua seperti perusahaan dan kantor jangka waktunya mingguan dan bulanan. Sedangkan katering dan konsumen ketiga (individu) membeli dengan jangka waktu yang tidak teratur. Namun, katering dan konsumen individu merupakan konsumen yang membeli dalam jumlah paling banyak dari segi volume pembelian. Kegiatan jual-beli di Pasar Bunga Rawabelong memiliki hari-hari tertentu yang ramai ataupun yang tidak. Hari-hari dimana permintaan ramai oleh permintaan konsumen merupakan hari-hari pasaran yang berlangsung pada waktuwaktu tertentu. Hari-hari pasaran tersebut terdiri dari : a. Hari-hari pasaran Mingguan Hari pasaran mingguan dimana merupakan hari terjadinya peningkatan transaksi, dalam satu minggu jatuh pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan 42

Minggu. Waktu transaksi selama 24 jam, dengan puncak kegiatan transaksi terjadi dari pukul 02.00 sampai dengan 07.00 yang melibatkan rata-rata sebanyak 800 orang per hari. Sementara itu, hari-hari sepi dalam satu minggu jatuh pada hari Senin, Selasa, dan Rabu yang hanya melibatkan rata-rata sebanyak 200 orang per hari. b. Hari-hari pasaran Keagamaan Hari-hari pasaran keagamaan merupakan hari besar keagamaan yang secara langsung berpengaruh terhadap meningkatnya transaksi volume bunga dan jenis bunga yang diperdagangkan. Hari besar keagamaan tersebut adalah Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan Hari raya Imlek. c. Hari-hari pasaran Lainnya adalah Tahun Baru dan Valentine Day (hari kasih sayang). 5.1.5. Bunga Krisan di Pasar Bunga Rawabelong Bunga krisan merupakan salah satu bunga yang dipasarkan di Pasar Bunga Rawabelong. Bunga krisan termasuk salah satu bunga favorit konsumen. Namun, bunga krisan yang tersedia di Pasar Bunga Rawabelong terdiri dari dua jenis bunga krisan. UPT Rawabelong mengklasifikasikannya menjadi krisan cipanas dan krisan pt. Sedangkan, para pedagang di Pasar Bunga Rawabelong sendiri lebih banyak menyebut krisan cipanas sebagai krisan petani, dan krisan pt sebagai krisan perusahaan. Krisan cipanas atau krisan petani merupakan jenis krisan yang diproduksi oleh petani. Sehingga krisan cipanas adalah krisan yang sumber pemasoknya adalah petani. Petani-petani yang menjadi pemasok tersebut berasal dari Cipanas, Sukabumi, dan Bandung. Biasanya krisan cipanas memiliki harga dari pemasok (petani) yang lebih rendah, sehingga harga jual krisan cipanas pun lebih rendah dibandingkan krisan pt. Para pedagang individu juga lebih banyak yang menjual krisan cipanas dengan alasan harganya yang lebih rendah. Namun, memang kualitas dan daya tahan krisan cipanas tidak cukup lama. Walaupun demikian, ada juga beberapa pedagang florist yang juga menjual krisan cipanas. Jenis krisan yang kedua adalah krisan pt atau lebih sering disebut pedagang dengan krisan perusahaan. Krisan perusahaan ini merupakan krisan 43

dengan sumber pemasok berasal dari perusahaan-perusahaan bunga potong dan tanaman hias. Perusahaan tersebut berasal dari dua daerah, yaitu Cipanas dan Bandung. Terkadang ada pula beberapa perusahaan dari daerah lain yang memasok krisan Pt, seperti Sukabumi. Harga bunga krisan pt memang lebih mahal dibandingkan dengan krisan cipanas, hal tersebut karena kualitas daya tahannya yang lebih bagus dibandingkan dengan krisan cipanas. Krisan pt ini lebih banyak disediakan oleh para pedagang florist, karena para pedagang florist lebih mengutamakan kualitas dibandingkan harga. Namun, walaupun demikian harga bunga krisan pt yang ditawarkan pedagang florist memang mahal. 5.2. Perkembangan Harga Bunga Krisan di Pasar Bunga Rawabelong 5.2.1. Perkembangan Harga Bunga Krisan Cipanas Perkembangan harga bunga krisan cenderung mengalami fluktuasi setiap tahunnya sehingga hal ini menyebabkan ketidakpastian atas harga yang diperoleh pihak-pihak terkait terutama petani dan pedagang. Berdasarkan plot data deret waktu harga bunga krisan cipanas, maka diperoleh plot data harga harian sebagai gambaran bagaimana fluktuasi dari harga bunga krisan cipanas. Plot data harga tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Rata-rata harga harian krisan cipanas di Pasar Bunga Rawabelong sebesar Rp. 8.000. Permintaan krisan cipanas memiliki jumlah permintaan yang lebih tinggi dibanding permintaan krisan pt. Rata-rata permintaan harian krisan cipanas sekitar 400 ikat setiap harinya. Rata-rata jumlah pasokannya pun cukup tinggi sekitar 700 ikat setiap harinya. Dengan kondisi rataan tersebut, para pedagang seharusnya dapat memenuhi permintaan konsumen. Namun, tidak setiap hari jumlah pasokan krisan cipanas lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaanya. Sering terjadi kondisi permintaan yang tidak diduga yang menyebabkan permintaan krisan cipanas sangat tinggi sedangkan pasokan yang dimiliki pedagang tidak mencukupi atau sedang rendah. Berdasarkan analisis plot deret waktu, terlihat bahwa harga bunga krisan memiliki harga yang berfluktuatif. Hal tersebut dapat terlihat dari harga jual bunga krisan cipanas yang tertinggi sebesar Rp. 20.000 per ikat, namun harga jual bunga krisan cipanas juga dapat menurun hingga Rp. 5.000. Harga jual bunga 44

krisan cipanas tertinggi di tahun 2010 terjadi pada tanggal 7, 13, 20, 22, dan 23 Juli, dan hal tersebut terjadi lagi di tahun 2011 pada tanggal yang sama. Harga jual tertinggi dikedua tahun tersebut terjadi pada bulan dan tanggal yang sama. Hal tersebut dikarenakan bulan Juli merupakan bulan yang ramai dilakukannya pernikahan. Permintaan konsumen pada waktu-waktu tersebut mencapai 1000 ikat krisan cipanas, namun pasokan yang ada setiap harinya hanya sekitar 500 ikat. Permintaan yang sangat tinggi dengan jumlah pasokan yang rendah tersebut yang membuat pedagang menaikkan harga harga jualnya. Harga Tanggal Bulan 2011 Tahun Gambar 6. Plot Harga Bunga Krisan Cipanas Periode Januari 2010 - Desember 2011 Sumber : Pasar Bunga Rawabelong 2012 Kondisi harga jual krisan cipanas terendah terjadi di tahun 2010 pada tanggal 17 Agustus yaitu sebesar Rp 5.000 yang kemudian pada seminggu setelah tanggal 17 tersebut harga jual krisan cipanas stabil di harga Rp. 6.000. Begitu pula di tahun 2011, harga jual krisan cipanas terendah terjadi pada tanggal 16 Agustus, satu hari lebih cepat dari hari sebelumnya, namun pola yang sama terjadi yaitu harga jual krisan cipanas stabil di harga Rp. 6.000 pada seminggu setelah tanggal tersebut. Kondisi tersebut dikarenakan terjadinya jumlah permintaan yang rendah dari konsumen dimana menurut para pedagang bunga krisan, pada bulan Agustus konsumen jarang yang mengadakan kegiatan atau hajatan sehingga jumlah 45

permintaan hanya sekitar 50 hingga 200 ikat per hari. Sedangkan jumlah pasokan krisan cipanas cukup banyak yaitu 500 ikat setiap harinya Oleh karena jumlah permintaan yang sedikit, sedangkan pasokan krisan cipanas tinggi, maka para pedagang pun menaikkan harga jualnya. 5.2.2. Perkembangan Harga Bunga Krisan Pt Perkembangan harga bunga krisan jenis pt juga cenderung mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Namun, tingkat fluktuasi harga krisan pt cenderung lebih kecil dibandingkan dengan krisan cipanas. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil analisis plot data deret waktu harga krisan pt Gambar 7. Rata-rata harga harian krisan pt di Pasar Bunga Rawabelong sebesar Rp. 14.000. Permintaan krisan pt memang memiliki jumlah permintaan yang lebih sedikit dibanding permintaan krisan cipanas. Secara umum, hal tersebut dikarenakan harga dari krisan pt yang lebih mahal dibanding krisan cipanas. Ratarata permintaan harian krisan pt hanya sekitar 90 ikat setiap harinya. Rata-rata jumlah pasokannya pun tidak setinggi permintaan krisan cipanas, yaitu sekitar 400 ikat setiap harinya. Meskipun jumlah permintaan dan pasokan krisan pt tidak setinggi krisan cipanas, namun dengan kondisi rataan dimana jumlah pasokan krisan cipanas lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaannya, para pedagang seharusnya juga dapat memenuhi permintaan konsumen. Tetapi ternyata tidak setiap hari jumlah pasokan krisan pt lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaanya. Sering terjadi kondisi permintaan yang tidak diduga yang menyebabkan permintaan krisan pt sangat tinggi sedangkan pasokan yang dimiliki pedagang tidak mencukupi atau sedang rendah. Berdasarkan analisis plot deret waktu, harga krisan pt juga memiliki harga yang berfluktuatif. Hal tersebut terlihat dari harga jual bunga krisan yang tertinggi sebesar Rp. 25.000 per ikat dan harga jual bunga krisan pt terendah sebesar Rp. 10.000 per ikat. Hal tersebut dikarenakan karena adanya ketidakseimbangan pasar antara permintaan dan penawaran di Pasar Bunga Rawabelong, serta jumlah pasokan bunga krisan yang masuk ke Pasar Bunga Rawabelong yang tidak pasti. Penjualan bunga krisan pt memiliki sifat yang cenderung musiman. Hal tersebut terlihat pada harga di dua tahun terakhir yaitu tahun 2010 dan 2011, dimana harga 46

jual tertinggi krisan pt selalu terjadi pada tanggal 9 dan 22 Juli, sedangkan harga jual terendah krisan pt selalu terjadi di tanggal 16 Agustus hingga 24 Agustus. Kondisi harga jual tertinggi dan terendah pada krisan pt juga dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran krisan pt di Pasar Bunga Rawabelong. Harga jual tertinggi pada krisan pt yang terjadi di bulan Juli juga dipengaruhi oleh adanya kegiatan pernikahan. Kegiatan pernikahan yang ramai terjadi pada bulan Juli mempengaruhi meningkatnya permintaan krisan pt, yang berdampak pada meningkatnya harga jual krisan pt. Dan sebaliknya, harga jual terendah krisan pt terjadi karena pada bulan Agustus merupakan bulan yang sepi permintaan dimana pada bulan tersebut tidak banyak konsumen yang mengadakan perayaan. Sehingga permintaan krisan pt pun sedikit dan pedagang pun menurunkan harga jualnya agar bunga krisan laku terjual. Harga Tanggal Bulan 2011 Tahun Gambar 7. Plot Harga Bunga Krisan Pt Periode Januari 2010-Desember 2011 Sumber : Pasar Bunga Rawabelong 2012 47