BAB 2 DATA DAN ANALISA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 Sejarah Letak bangunan gedung Museum Wayang di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan di negara manapun di dunia ini. Kebudayaan apapun dapat

BAB 2 DATA DAN ANALISA. - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts.

( ) berusaha menggabungkan semua jenis wayang yang ada menjadi satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara universal, seni pertunjukan adalah karya seni yang melibatkan aksi

BAB I PENDAHULUAN. sejarah, seni dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. Kata museum sendiri berasala

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BADAN PENGHUBUNG PROVINSI JAWA TENGAH

banyaknya peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakatnya yang memiliki akar budaya yang masih kuat, dalam kehidupan sehari-hari seni dan budaya

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara kaya akan karya seni budaya. Setiap

Menilik Sisi Lain Ibukota di Kota Tua Fatahillah

LKPJ WALIKOTA SEMARANG AKHIR TAHUN ANGGARAN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Jakarta juga mempunyai seni dan budaya didalamnya. Orang Betawi yang

BAB II DATA DAN ANALISA. Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh. 3. Pengamatan langsung / observasi

BAB I PENDAHULUAN FAJRI BERRINOVIAN 12032

BAB 1 PENDAHULUAN. Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

17. URUSAN WAJIB KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Jakarta merupakan kota metropolitan di Indonesia yang sedang maju pesat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PADEPOKAN DAN GEDUNG PERTUNJUKAN WAYANG ORANG DI SURAKARTA PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR NEO VERNAKULER

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

U R A I A N JUMLAH PENDAPATAN 391,000, BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG 31,911,581, BELANJA LANGSUNG 91,604,159,680.00

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

BAB 2 DATA DAN ANALISA. berasal dari buku dan sebagian lagi diambil dari website-website. c. Survey lapangan yang dilakukan di Dunia Fantasi

PUSAT PENGEMBANGAN KESENIAN BETAWI DI SITU BABAKAN SRENGSENG SAWAH JAKARTA

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

DINAS KEBUDAYAAN. Tugas Pokok dan Fungsi :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kesenian produk asli bangsa Indonesia. Kesenian wayang, merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Budaya tersebut terbagi dalam beberapa daerah di Indonesia dan salah satunya adalah

PUSAT KESENIAN JAWA TENGAH DI SEMARANG

Contact Person: Ruhut Marhata S ( ) Afnaan Alanza ( )

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Pewayangan Pada Desain Undangan. Yulia Ardiani Staff UPT. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Institut Seni Indonesia Denpasar.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kondisi geografis Indonesia menyebabkan adanya keanekaragaman,

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 101 TAHUN 2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. adat istiadat, agama dan kesenian. Namun di era globalisasi ini banyak budayabudaya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

dalam pelaksanaannya, yaitu dalam penyajian benda koleksi sehingga dapat

2. Title Bagian ini akan ditampilkan setelah bulatan menjadi besar kembali dan peta berubah menjadi judul film Djakarta Tempo Doeloe.

BAB III PERENCANAAN PROYEK

2015 PERANAN MEDIA VISUAL TERHADAP DAYA TARIK WISATA DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM UPT TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR. pendokumentasian dan penginformasian seni budaya.

BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN

Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta

MUSEUM WAYANG NUSANTARA DI SURAKARTA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesenian wayang golek merupakan salah satu kesenian khas masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berbagai budaya masyarakat, adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan turun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. cerdas, sehat, disiplin, dan betanggung jawab, berketrampilan serta. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi misi dan visi

PERANCANGAN INTERIOR PADA PUSAT KEBUDAYAAN BETAWI DIJAKARTA PROPOSAL PENGAJUAN PROYEK TUGAS AKHIR YULI HELVINA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki bermacam-macam suku bangsa,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

STUDI PERSEPSI STAKEHOLDER TERHADAP REVITALISASI KAWASAN TAMAN BUDAYA RADEN SALEH SEMARANG TUGAS AKHIR. Oleh ARDIAN YOSEP YOHANNES L2D

BAB II GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. sebagai kota pariwisata ini dilakukan di Jogja Gallery. Sebuah galeri seni yang

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2006 TENTANG PESTA KESENIAN BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN PLANETARIUM TIM JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II IDENTIFIKASI DATA. A. Data Produk

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <

BAB I PENDAHULUAN. Wayang, dan Museum Seni Rupa dan Keramik menurut Gubernur Jakarta, Basuki

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR. TAMAN BUDAYA DI TEGAL (Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernakular)

BAB I PENDAHULUAN. agama dan lain lain. Bila hal tersebut dikaji lebih jauh, akan mengandung ajaran dan

Jakarta dulu dan Kini Senin, 22 Juni :55

Mengenal Beberapa Museum di Yogyakarta Ernawati Purwaningsih Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB I PENDAHULUAN.

- 4 - MEMUTUSKAN: Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Daerah Provinsi adalah Pemerintah Daerah

MUSEUM BATIK DI YOGYAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN OBJEK RANCANGAN. Judul Perancangan yang terpilih adalah Gorontalo Art Gallery Centre, dengan

BAB I PENDAHULUAN. kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

PERAN ISI DENPASAR DALAM MENYIAPKAN SUMBER DAYA MANUSIA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAJINAN MEMASUKI PASAR GLOBAL

2 Indonesia, baik pada masa lalu, masa kini, maupun yang akan datang, perlu dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. Sebagai karya warisan budaya masa

BAB V PENUTUP. Peranan Panakawan dan Denawa (Buta) pada pertunjukan seni tradisi Wayang

Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Potensi Budaya Indonesia Dan Pemanfaatannya

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Dengan berolahraga, maka hidup

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROGRAM DAN KEGIATAN DIREKTORAT PEMBINAAN KESENIAN DAN PERFILMAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2014

BAB II DATA DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. adalah tentang keunikkan dan keanekaragaman budaya dan suku yang ada

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

DESKRIPSI DUKUH SILADRI. Dipentaskan pada Festival Seni Tradisional Daerah se- MPU di Mataram, Nusa Tenggara Barat 1 Agustus 2010

Transkripsi:

4 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 DATA Data untuk menunjang proyek tugas akhir ini didapat dari berbagai sumber antara lain: 1. Data literatur berupa artikel elektronik maupun non-elektronik. Sebagian berasal dari buku dan sebagian lagi diambil dari website-website, antara lain : www.budayajakarta.com www.wayang-indonesia.com www.geocities.com/wayangpurwa 2. Wawancara dengan narasumber dari pihak-pihak yang terlibat dalam Museum Wayang, antara lain Bapak Budi Santosa, Kasie Pameran dan Edukasi Museum Wayang 3. Survey lapangan yang dilakukan di Museum Wayang Jakarta 2.2 HASIL SURVEY 2.2.1 Interview

5 Berdasarkan hasil interview dengan orang-orang yang terlibat langsung dengan Museum Wayang, bangunan baru Museum Wayang sudah jadi dan sudah ada pembagian ruangannya (tempat peletakan wayang, ruang pertunjukan dan lain-lain). Bangunan baru Museum Wayang terletak disebelah bangunan lama, namun bangunan baru Museum Wayang belum dapat digunakan sebagai ruang pamer karena ada beberapa fasilitas yang perangkatnya belum lengkap. Fasilitas yang tersedia di bangunan baru Museum Wayang antara lain : 1. Ruang Pameran 2. Ruang Pagelaran atau Pertunjukan 3. Ruang Laboratorium yang berfungsi sebagai tempat perawatan dan perbaikan wayang 4. Ramp yang didesain khusus untuk penyandang cacat. Ramp hanya terdapat di gedung baru Museum Wayang (satu-satunya Museum di Indonesia yang memiliki fasilitas ini) Berikut ini merupakan foto-foto bangunan baru Museum Wayang Gambar 2.1 Gambar 2.2 Interior bangunan baru Museum Wayang Interior bangunan baru Museum Wayang

6 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Lantai 2 bangunan baru Museum Wayang RAMP yang terdapat di bangunan baru 2.3 DATA MANDATORIS 2.3.1 Museum Wayang Latar Belakang Sejarah Bangunan Museum Wayang Jenis-jenis wayang berkembang pesat dari zaman ke zaman, sehingga pada saat ini, terdapat lebih dari 60 jenis wayang, tersebar di seluruh Indonesia. Jenisjenis wayang antara lain : Beberapa jenis wayang berupa boneka 2 dimensi, terbuat dari kulit. Dioperasikan oleh dalang di depan layar kain diterangi oleh lampu, dapat ditonton dari depan atau dari belakang layar, misalnya Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Beberapa jenis wayang terdiri dari boneka-boneka tiga dimensi terbuat dari kayu, misalnya Wayang Golek Sunda. Adapun wayang yang peran-perannya dimainkan oleh manusia, misalnya Wayang Orang, bahkan ada yang menggunakan gambar pada gulungan kain

7 (Wayang Beber) atau yang tidak memakai alat bantu sama sekali, tetapi hanya suara dan gerak tubuh manusia (Wayang Jemblung Banyumas). Wayang istiwewa sebagai bentuk kesenian karena memiliki sifat-sifat yang dalam bahasa Jawa disebut adiluhung dan edipeni, yaitu sangat agung dan luhur, dan juga sangat indah (etika dan estetika). Para sarjana dunia telah menyebutkan wayang sebagai bentuk drama yang paling canggih di dunia. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan, dan merupakan gabungan lima jenis seni, yaitu : 1. Seni Widya (filsafat dan pendidikan) 2. Seni Drama (pentas dan musik karawitan) 3. Seni Gatra (pahat dan seni lukis) 4. Seni Ripta (sangit dan sastra) 5. Seni Cipta (konsepsi dan ciptaan-ciptaan baru) Wayang pada dasarnya merupakan suatu manifestasi dari suatu multi seni yang mengandung kesatuan dalam penciptaannya, penyajian dan pemirsaan. Sebagai seni yang terus berkembang sebagai karya seni pahat, seni grafis maupun seni lukis dalam bentuk seni lukis wayang, seni batik wayang, maupun seni pahat wayang. Namun pada hakekatnya para seniman pencipta wayang tetap menyatu dengan kebenaran seni wayang sebagai kebulatan. Sejalan dengan perputaran waktu akhirnya permainan bayang-bayang yang mempergunakan alat berupa boneka ini mengalami perkembangan makna atau fungsi sebagai hiburan, sarana pendidikan atau ajaran moral atau norma kehidupan beragama, dan sebagai media informasi

8 Letak bangunan gedung Museum Wayang di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama de oude Hollandsche Kerk ynag sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi de nieuwe Hollandsche Kerk dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang diperkirakan sebagai tempat makam Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen ( dan tempat makam khusus bagi para tokoh dan pembesar Belanda yang meninggal di Batavia ) Sebagai akibat terjadinya gempa, bangunan Gereja Belanda Baru itu telah rusak. Selanjutnya lokasi bekas Gereja tersebut dibangunlah gedung yang nampak sebagaimana sekarang ini dengan fungsinya sebagi gudang milik perusahaan Geo Wehry & Co. Bagian muka museum ini dibangun pada tahun 1912 dengan gaya Neo Reinaissance, dan pada tahun 1938 seluruh bagian gedung ini dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda pada zaman Kompeni Sesuai besluit pemerintah Hindia Belanda tertanggal 14 Agustus 1936 telah ditetapkan gedung beserta tanahnya menjadi monumen. Selanjutnya dibeli oleh Bataviasche Genootchap van Kunsten en Wetenschappen yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan pada saat itu

9 Pada tahun 1937 oleh lembaga tersebut gedung diserahkan kepada Stichting oud Batavia dan kemudian dijadikan museum dengan nama de oude Bataviasche Museum atau museum Batavia Lama yang pembukaannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir, Jonkheer Meester Aldius Warmoldu Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer ( 22 Desember 1939 ) Sejak pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan R.I. gedung museum ini tidak terawat. Pada tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia ( LKI ) dan sejak itu nama museum diganti menjadi Museum Jakarta Lama Pada tanggal 1 Agustus 1960 namanya disingkat menjadi Museum Jakarta. Pada tanggal 17 September 1962 oleh LKI diserahkan kepada pemerintah R.I. cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan pada akhirnya pada tanggal 23 Juni 1968 oleh Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan gedung museum diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dan di gedung ini pula Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta berkantor Sejak kepindahan Museum Jakarta (sekarang Museum Sejarah Jakarta) ke gedung bekas KODIM 0503 Jakarta Barat yang dahulunya disebut gedung Stadhuis / Balaikota, maka bekas gedung Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta kemudian dijadikan Museum Wayang. Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin menghadiri Pekan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, Pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang. Sebagai pendamping Museum Wayang

10 didirikan Yayasan Nawangi dengan H. Budiardjo sebagai Ketua Umum. Selanjutnya Yayasan menunjuk Ir. Haryono Haryo Guritno sebagai pimpinan proyek pendirian Museum Wayang. Sesudah penataan koleksi wayang selesai maka pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan pembukaan Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang pewayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta ( BAB VIII, Pasal 33, 1 ) 2.3.2 Tujuan dan Sasaran Museum Wayang Tujuan : Pendokumentasian seluruh informasi mengenai wayang Indonesia. Pelestarian dan terpeliharanya budaya perwayangan Indonesia sebagai kekayaan budaya bangsa, sehingga dapat terus dimiliki oleh generasi muda mendatang Upaya untuk mengembangkan potensi wayang Indonesia Terwujudnya nuansa seni wayang yang beragam. Sasaran : Meningkatnya minat masyarakat terhadap seni budaya pewayangan. Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap museum

11 Meningkatnya profesionalitas pengelola museum Mempertahankan nilai-nilai seni budaya wayang Indonesia. Menjadikan Wayang Indonesia sebagai pusat perhatian Nasional dan Internasional. 2.3.3 Visi dan Misi Museum Wayang Visi : Menjadikan Jakarta sebagai Kota Budaya bertaraf Internasional Misi : Menjadikan Museum Wayang sebagai tempat yang menarik Menyelenggarakan kegiatan museum yang bersifat edukatif dan rekreatif Menyelenggarakan kegiatan penelitian dan perawatan koleksi wayang Meningkatkan kualitas tata pamer dan promosi museum Meningkatkan kualitas pelayanan dan citra Museum Wayang kepada pengunjung Meningkatkan persepsi masyarakat tentang Museum Wayang Menjadikan Museum Wayang sebagai milik masyarakat Membina, melestarikan, mengembangkan seni pewayangan dan memberdayakan asset dan khasanah budaya serta meningkatkan partisipasi masyarakat dan para pelaku budaya.

12 2.3.4 Koleksi Museum Wayang Koleksi Museum Wayang antara lain : Koleksi Museum Wayang yang telah tercatat pada buku induk koleksi atau registrasi koleksi adalah sebanyak : 5.147 buah koleksi dari daerah-daerah di Indonesia dan luar negeri yang diperoleh melalui pembelian, hibah, sumbangan, dan titipan. Koleksi yang dipamerkan berasal dari daerah di Indonesia meliputi : Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera, sedangkan yang berasal dari luar negeri antara lain : Kelantan, Malaysia, Suriname, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggris, Amerika, dan Thailand. Perangkat koleksi wayang kulit terdiri dari : Kedu, Tejokusuman, Ngabean, Surakarta, Banyumas, Cirebon, Gedog, Sadat, Madya Krucil, Sasak, Kaper, Wahyu, Kijang Kencana, Ukur, Suluh, Klitik, Beber. Perangkat koleksi wayang golek : Catur, Cepak Cirebon, Kebumen, Pekalongan, Bandung, Gundala-gundala, dan si Gale-gale ( terdapat juga koleksi Wayang Golek ukuran besar dan mini ) Perangkat koleksi topeng antara lain : Cirebon, Bali, Jawa Tengah. Perangkat gamelan, lampu blencong, serta wayang kaca, wayang seng, lukisan, dan boneka-boneka dari luar negeri. Museum Wayang menyimpan sejumlah koleksi wayang Nusantara yang langka diantaranya : Wayang Intan, Wayang Suket, Wayang Beber, Wayang Revolusi.

13 2.3.5 Fasilitas yang ada di Museum Wayang Berikut ini merupakan fasilitas yang ada di Museum Wayang, antara lain : Ruang Pamer Ruang Pergelaran Taman Museum Wayang Ruang Punakawan, untuk berbagai kegiatan antara lain : Seminar, Saresehan, Pergelaran, Pertunjukan Mini, dan lain-lain Kantor Museum Tempat Penyimpanan Koleksi Cindera mata antara lain: Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Kaca, Bukubuku Pewayangan, dan sebagainya 2.3.6 Kegiatan Museum Wayang Kegiatan yang diadakan Museum Wayang antara lain : Pagelaran rutin setiap bulannya. - Pagelaran Wayang Golek setiap minggu ke-2 - Pagelaran Wayang Kulit Betawi minggu setiap minggu ke-3 - Pagelaran Wayang Kulit Purwa setiap ke 4 (minggu terakhir) Peragaan Pembuatan Wayang Golek, Kulit dan Peragaan Karawitan untuk masyarakat umum dan pelajar Pekan Museum Wayang

14 Penyuluhan Museum Wayang ke sekolah-sekolah di wilayah Propinsi DKI Jakarta Penelitian Wayang Pameran dan Pergelaran Wayang Revolusi Ceramah Wayang / Seminar Wayang Lomba Mewarnai dan Melukis Wayang Bagi pelajar Pergelaran Wayang Orang Atraksi Karyawan Museum Wayang dengan berpakaian Tokoh Punakawan untuk mengisi acara-acara tertentu. 2.4 PEKAN MUSEUM WAYANG Pekan Museum Wayang merupakan acara rutin yang diadakan setiap tahun oleh Museum Wayang. Tujuan diadakannya Pekan Museum Wayang antara lain : Memperingati Hari Ulang Tahun Museum Wayang, yaitu tanggal 13 Agustus 1975 Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya, khususnya tentang wayang dan museum Menambah wawasan dan pengetahuan tentang wayang Pekan Museum Wayang biasanya diselenggarakan kurang lebih selama seminggu. Berlangsungnya Pekan Museum Wayang berbeda-beda tiap tahunnya. Pekan Museum Wayang pertama kali diadakan pada tahun 2003

15 2.4.1 Pekan Museum Wayang II tahun 2004 Pekan Museum Wayang II tahun 2004 berlangsung dari tanggal 13 21 Agustus 2004 dengan memanfaatkan beberapa fasilitas, antara lain di Ruang Serba Guna Museum Wayang, Ruang Pameran dan Plaza Taman Fatahillah, Jakarta Kota. Berikut ini merupakan data berbagai aktivitas budaya pada Pekan Museum Wayang II, antara lain : 1. Pembukaan Pekan Museum Wayang I 2. Atraksi Karawitan oleh SMU Santa Ursula dan Pagelaran Wayang Orang Sekar Budaya Nusantara 3. Pameran Wayang Kulit Intan dan Ngabean 4. Pertunjukan Wayang Kancil 5. Ceramah Wayang dan Fragmen Tari Bali 6. Atraksi Karawitan Sunda dan Pertunjukan Wayang Golek 7. Atraksi Karawitan siswa-siswi SD-SLTP dan Pertunjukan Wayang Orang Galuh Chandra Kirana 2.4.2 Pekan Museum Wayang III tahun 2005 Pekan Museum Wayang III tahun 2005 berlangsung dari tanggal 15 20 Agustus 2005 dengan memanfaatkan beberapa fasilitas, antara lain di Ruang Serba Guna Museum Wayang, Ruang Pameran dan Plaza Taman Fatahillah, Jakarta Kota. Berikut ini merupakan data berbagai aktivitas budaya pada Pekan Museum Wayang III, antara lain :

16 1. Pameran Aneka Wayang Kulit, antara lain: Wayang Kyai Intan Wayang Ngabean Wayang Cirebon Wayang Solo Wayang Betawi Wayang Mojokerto Wayang Bali 2. Pagelaran Wayang Kancil 3. Ceramah Budaya Wayang 4. Pagelaran Wayang Golek Lenong Betawi 5. Atraksi Karawitan Jawa siswa-siswi Lab School 6. Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk 7. Pagelaran Wayang Golek Sunda 2.4.3 Rencana Kegiatan Pekan Museum Wayang 08 Rencana Kegiatan Pekan Museum Wayang 08 berlangsung dari tanggal 13 19 Agustus 2008 dengan mengangkat tema tahunan Wayang Revolusi. Berikut ini merupakan data berbagai aktivitas budaya pada Pekan Museum Wayang 08 antara lain : 1. Pameran Wayang Kulit Revolusi 2. Seminar Wayang

17 3. Pagelaran Wayang Golek Lenong Betawi 4. Pagelaran Wayang Poo The Hie 5. Pagelaran Wayang Kulit Purwa Semalam Suntuk 6. Pagelaran Wayang Kancil 7. Pagelaran Wayang Kulit Revolusi 8. Atraksi Karawitan SMU Santa Ursula dan Peragaan Wayang Orang 9. Atraksi Karawitan Sunda dan Pertunjukan Wayang Golek 10. Pertunjukan Wayang Orang Galuh Candra Kirana 11. Workshop pembuatan Wayang Kulit, Wayang Golek dan Karawitan Jawa 2.5 KOMPETITOR Kompetitor event antara lain Pameran Lukisan Kota Tua oleh X Ling Bersama Matahari Melintas Kota. Pameran ini diadakan untuk memperingati 100 hari wafatnya X Ling. X Ling wafat di Jakarta pada tanggal 26 November 2007. Dalam rangka memperingati 100 hari X Ling, pihak keluarga X Ling didukung oleh Museum Bank Mandiri menggelar pameran lukisan 100 hari X Ling Tiada, Melintas Bersama Matahari Kompetitor event lain adalah Jelajah Kota Toea Jacatraweg. Acara ini diadakan olen Museum Bank Mandiri pada tanggal 9 September 2007. Biaya untuk mengikuti acara ini adalah Rp. 50.000. Fasilitas yang didapat antara lain Snack pagi, Makan siang, ID CARD, Sinopsis, Tour guide, Nonton Film Tempo

18 Doeloe, dan Hiburan. Rute yang ditempuh pada acara Jelajah Kota Toea Jacatraweg antara lain: 1. Museum Bank Mandiri (starting point) 2. Stasiun Beos / Kota 3. Jassen Brug / Jembatan Batu 4. Gereja Sion 5. Monumen Pieter Elberveld/kampung pecah kulit 6. Makam Raden Ateng Kartadria 7. Masjid keramat Mangga Dua (Masjid Nurul Abrar) 8. Makam Souw Beng Kong, Kapiten Cina Pertama di Batavia. 2.6 ANALISA SWOT Strength Melalui Pekan Museum Wayang, adalah sebuah event yang melestarikan wayang, karena wayang merupakan budaya dari Indonesia, kita tinggal menjaga dan melestarikannya Masih banyak seniman yang menguasai wayang dan akan selalu support terhadap wayang Pekan Museum Wayang selalu mendatangkan dalang-dalang yang sesuai dengan wayang yang akan dimainkan. Misalnya : Pertunjukan Wayang Poo The Hie mendatangkan dalang dari Surabaya

19 Pekan Museum Wayang selalu melibatkan pelajar dalam setiap pertunjukannya. Hal ini positif karena dapat lebih memperkenalkan budaya wayang kepada pelajar Dalam Pekan Museum Wayang, diperkenalkan wayang-wayang unik dan baru (tidak hanya wayang kulit dan wayang golek). Misalnya wayang Suket yang terbuat dari rumput, Wayang Ukur, dan sebagainya. Weakness Kurangnya promosi tentang Pekan Museum Wayang. Promosi yang dilakukan langsung ditangani oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Promosi yang dilakukan adalah promosi intern yang dilakukan Museum saja Kurangnya dana untuk melakukan promosi yang lebih luas Walaupun namanya Pekan Museum Wayang, namun acara ini tidak selalu berlangsung selama seminggu, bahkan pada Pekan Museum Wayang V tahun 2007, hanya berlangsung selama 2 hari Opportunities Merupakan satu-satunya event Pekan Museum Wayang yang pernah ada Pekan Museum Wayang merupakan program kegiatan permanen yang diadakan rutin setiap tahunnya dengan mendatangkan dalang-dalang terkenal

20 Threat Acara pada Pekan Museum Wayang diadakan pada waktu yang berbeda-beda, misalnya : Siang hari : Pagelaran Wayang Kancil dan Wayang Poo The Hie Malam hari : Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk Acara Pekan Museum Wayang kalah dengan acara lain yang lebih menarik (acara yang diadakan museum-museum lain yang berada di sekitar Museum Wayang) mengingat waktu penyelenggaraannya yang tidak tentu.