APLIKASI DIGITAL MATTING MENGGUNAKAN METODE BAYESIAN APPROACH

dokumen-dokumen yang mirip
ADAPTIVE THRESHOLD UNTUK ALPHA MATTING MENGGUNAKAN ALGORITMA OTSU

selanjutnya nilai alpha dan alpha matte atau key disebut dengan matte. Teknik segmentasi yang didasarkan pada perhitungan matte disebut image matting.

Aplikasi Penggabungan Objek Transparan Kedalam Sebuah Image

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN

Penentuan Palet Warna pada Gambar Raster dengan Algoritma Divide and Conquer

KOMBINASI METODE MORPHOLOGICAL GRADIENT DAN TRANSFORMASI WATERSHED PADA PROSES SEGMENTASI CITRA DIGITAL

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

PERANGKAT LUNAK SEGMENTASI CITRA DENGAN METODE WATERSHED

PEMBUATAN APLIKASI STEREOGRAM GENERATOR

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM

PEMBUATAN APLIKASI STEREOGRAM GENERATOR

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. teknologi pengolahan citra (image processing) telah banyak dipakai di berbagai

PENENTUAN THRESHOLD CITRA MULUT DENGAN METODE NORMAL PROBABILITY DENSITY FUNCTION (NPDF) GUNA MENDETEKSI MULUT PEMELAJAR

SEGMENTASI CITRA MEDIK MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) MENGGUNAKAN METODE REGION THRESHOLD

Watermarking dengan Metode Dekomposisi Nilai Singular pada Citra Digital

Review Paper. Image segmentation by histogram thresholding using hierarchical cluster analysis

PERANCANGAN APLIKASI MENENTUKAN EFEK RESOLUSI BERDASARKAN JUMLAH PIXEL PADA CITRA MENGGUNAKAN METODE RETINEX

APLIKASI PENGENALAN RAMBU BERBENTUK BELAH KETUPAT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

APLIKASI PENCARIAN RUTE OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE TRANSITIVE CLOSURE

PERBAIKAN CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE RETINEX

PENERAPAN MODEL REGRESI LINIER BAYESIAN UNTUK MENGESTIMASI PARAMETER DAN INTERVAL KREDIBEL

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengenalan Benda di Jalan Raya dengan Metode Kalman Filter. Roslyn Yuniar Amrullah

PENGGUNAAN latar belakang dalam proses pembuatan VIDEO COMPOSITING MENGGUNAKAN POISSON BLENDING. Saiful Yahya, Mochamad Hariadi, and Ahmad Zaini,

APLIKASI TRANSFORMASI WATERSHED UNTUK SEGMENTASI CITRA DENGAN SPATIAL FILTER SEBAGAI PEMROSES AWAL

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Pada table 4.1 diatas menunjukan bahwa hasil uji statistik deskriptif untuk

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BINERISASI CITRA DOKUMEN DENGAN FILTERISASI HOMOMORPHIC

ANALISIS PENELUSURAN TEPI CITRA MENGGUNAKAN DETEKTOR TEPI SOBEL DAN CANNY

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS UNJUK KERJA MEDIAN FILTER PADA CITRA DIGITAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS CITRA

BAB II LANDASAN TEORI

SEGMENTASI CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA WATERSHED DAN LOWPASS FILTER SEBAGAI PROSES AWAL ( November, 2013 )

BAB II LANDASAN TEORI

IMPLEMENTASI METODE HARMONIC MEAN FILTERDAN CANNY UNTUK MEREDUKSI NOISEPADA CITRA DIGITAL

oleh: M BAHARUDIN GHANIY NRP

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN: ( Print) A-664

Perancangan dan Pembuatan Aplikasi Skeletonization

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Pada dewasa sekarang ini sangat banyak terdapat sistem dimana sistem tersebut

SEGMENTASI CITRA TELUR AYAM BERDASARKAN PERBEDAAN RUANG WARNA RGB DAN LAB

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Segmentasi Gambar Berwarna menggunakan Metode Hibrida Modifikasi Sauvola dan Fuccy C-Means (SMFCM)

PENGEMBANGAN APLIKASI PERHITUNGAN JUMLAH OBJEK PADA CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE MATHEMATICAL MORPHOLOGY

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

APLIKASI IDENTIFIKASI ISYARAT TANGAN SEBAGAI PENGOPERASIAN E-KIOSK

ANALISIS GALAT AKIBAT KUANTISASI PADA IMPLEMENTASI DIGITAL SISTEM ADAPTIF LMS

APLIKASI CONTENT BASED IMAGE RETRIEVAL DENGAN FITUR WARNA DAN BENTUK

Implementasi Teori Graf Dalam Masalah Fingerprint Recognition (Pengenalan Sidik Jari)

APLIKASI IMAGE STABILIZER DENGAN METODE UNSHARP MASK

PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

ENHANCED K-SVD ALGORITHM for IMAGE DENOISING

ABSTRAK. v Universitas Kristen Maranatha

OTOMASI PEMBENTUKAN LOCAL WINDOW DENGAN METODE SOM PADA BINERISASI DOKUMEN

STMIK AMIKOM PURWOKERTO PENGOLAHAN CITRA ABDUL AZIS, M.KOM

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pendeteksian Tepi Citra CT Scan dengan Menggunakan Laplacian of Gaussian (LOG) Nurhasanah *)

ANALISA HASIL PERBANDINGAN IDENTIFIKASI CORE POINT PADA SIDIK JARI MENGGUNAKAN METODE DIRECTION OF CURVATURE DAN POINCARE INDEX

BAB 2 LANDASAN TEORI

Analisa Perbandingan Algoritma Histogram of Oriented Gradient (HOG) dan Gaussian Mixture Model (GMM) Dalam Mendeteksi Manusia

Gambaran Duplikasi Penomoran Rekam Medis. Gambaran Kualifikasi Pendidikan. Gambaran Pengetahuan. Statistics pemberian nomor. N Valid 60.

PENGUJIAN PENGENALAN KARAKTER PADA KTP MENGGUNAKAN METODE TEMPLATE MATCHING

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

FERY ANDRIYANTO

Oleh: Riza Prasetya Wicaksana

Gambar 15 Contoh pembagian citra di dalam sistem segmentasi.

IMPLEMENTASI METODE ADAPTIVE BACKGROUND EXTRACTION UNTUK PENGHITUNG KEPADATAN LALU LINTAS MELALUI FILE VIDEO DENGAN ALGORITMA GAUSSIAN MIXTURE MODELS

Analisis Hasil Proses Pemampatan JPEG dengan Metode Discrete Cosine Transform

PERBAIKAN CITRA BER-NOISE MENGGUNAKAN SWITCHING MEDIAN FILTER DAN BOUNDARY DISCRIMINATIVE NOISE DETECTION

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini

Identifikasi Tanaman Buah Berdasarkan Fitur Bentuk, Warna dan Tekstur Daun Berbasis Pengolahan Citra dan Learning Vector Quantization(LVQ)

ESTIMASI GERAKAN PADA VIDEO ANIMASI 2D MENGGUNAKAN ALGORITMA PENCOCOKAN BLOK (BLOCK MATCHING ALGORITHM)

APLIKASI SEGMENTASI TEKS DALAM BAHASA MANDARIN DENGAN METODE RULE-BASED DAN STATISTICAL

Identifikasi Kadar Gula Buah Salak dengan Menggunakan Metode Fraktal Lacunarity

SEGMENTASI CITRA RETINA DIGITAL RETINOPATI DIABETES UNTUK MEMBANTU PENDETEKSIAN MIKROANEURISMA

INFERENSI PARAMETER MEAN POPULASI NORMAL DENGAN METODE BAYESIAN OBYEKTIF

BLIND WATERMARKING PADA CITRA DIGITAL DALAM DOMAIN DISCRETE COSINE TRANSFORM (DCT) BERBASIS ALGORITMA GENETIKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

3 BAB III METODE PENELITIAN

Pohon Quad untuk Merepresentasikan Gambar

Algoritma Interpolasi Citra Berbasis Deteksi Tepi Dengan Directional Filtering dan Data Fusion

ANALISIS PENERAPAN METODE KONVOLUSI UNTUK UNTUK REDUKSI DERAU PADA CITRA DIGITAL.

TUGAS AKHIR Implementasi Block Matching Algorithm (BMA) Pada Ekstraksi Objek Bergerak

IMPLEMENTASI METODE RETINEX UNTUK PENCERAHAN CITRA

Deteksi Sinyal Akustik yang Ditimbulkan Kapal Menggunakan Pendekatan Hidden Markov Tree (HMT)

BAB II TEORI DASAR. Beberapa definisi tentang tutupan lahan antara lain:

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Deteksi Lokasi Bibir Otomatis Pada Citra Wajah Berbasis Ciri Bentuk dan Warna

Visualisasi Bentuk Ruangdari Gambar Denah dan Dinding

Transkripsi:

APLIKASI DIGITAL MATTING MENGGUNAKAN METODE BAYESIAN APPROACH Rudy Adipranata 1), Kartika Gunadi 2), Novita Halim 1,2) Program Studi Teknik Informatika, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya e-mail : rudya@peter.petra.ac.id Abstrak Penggunaan aplikasi image processing semakin diminati oleh banyak orang untuk berbagai keperluan. Dari sebuah gambar yang sederhana dapat dibuat gambar yang menarik. Proses matting bertujuan untuk mengambil sebuah atau beberapa bagian dalam gambar yang akan digabungkan dengan gambar lainnya. Dalam penelitian ini dikembangkan aplikasi untuk melakukan proses matting. Proses awal pada aplikasi adalah color quantization untuk membentuk kelompok-kelompok warna yang kemudian akan diproses dengan metode Bayesian dan akan menghasilkan alpha matte dari gambar. Alpha matte ini yang kemudian dipakai untuk menggabungkan gambar asal dengan gambar yang baru. Dari hasil pengujian yang dilakukan, hasil gambar composite sangat dipengaruhi oleh trimap yang dibuat. Kecepatan proses bergantung pada banyaknya unknown region dan juga neighborhood. Untuk ketegasan gambar hasil dipengaruhi oleh minimum variance. Kata Kunci : Matting, Compositing, Bayesian 1. PENDAHULUAN Matting adalah sebuah metode untuk mengambil foreground (objek) dari sebuah gambar untuk kemudian digabungkan (compositing) dengan gambar yang lain. Matting ini merupakan salah satu teknologi yang awalnya dikembangkan untuk produksi film dan video. Sebelum berkembang gambar digital, proses matting ini dilakukan dengan menggunakan film. Karena kualitas gambar pada film semakin berkurang saat melakukan pengkopian gambar, maka dikembangkan digital matting. Beberapa contoh metode digital matting yang dikembangkan pada awalnya adalah blue-screen matting dan rotoscoping. Metode ini membutuhkan blue screen dengan lighting yang terkontrol dan orang yang berpengalaman dalam pengambilan gambar. Hal-hal yang kurang dari metode tradisional digital matting adalah tidak dapat melakukan proses matting pada gambar natural. Selain itu juga sulit untuk mendapatkan detail dari foreground yang ingin diambil dengan baik, contohnya adalah bila foreground yang ingin diambil adalah helai rambut yang sangat tipis. Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, maka orang-orang mulai mengenalkan berbagai macam algoritma untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Beberapa contoh algoritma matting adalah Knockout (Berman, 2000), algoritma matting yang dikembangkan oleh Ruzon dan Tomazi (Ruzon, 2000), dan Bayesian matting yang dikembangkan oleh Chuang, Curless, Salesin, dan Szeliski (Chuang, 2001). Algoritma Knockout dan algoritma Ruzon dan Tomazi didesain untuk menghasilkan garis pada transisi foreground dan background, sehingga kurang sesuai untuk transparansi dan siluet yang tipis. Bayessian matting dikembangkan untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan Bayesian matting, background dari gambar yang ingin diambil foreground-nya tidak harus background dengan satu warna saja. Selain itu Bayesian matting juga mampu mengambil foreground dengan detail yang cukup baik. Pada Bayesian matting dihitung distribusi dari foreground dan background yang kemudian akan diselesaikan dengan menggunakan Bayes s rule. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Trimap Trimap adalah sebuah gambar pre-segmented yang terdiri dari tiga bagian yaitu foreground, background, dan unknown. Foreground adalah bagian yang ingin diambil dari gambar. Background adalah bagian yang akan dihilangkan dari gambar, sedangkan unknown adalah bagian dari gambar dimana pixel-pixel dalam bagian ini akan diproses untuk mendapatkan nilai opacity. Terdapat dua macam trimap, yaitu stroke trimap dan filled trimap (Digital Film, 2011). 2.1.1 Stroke Trimap Stroke trimap terdiri dari goresan tipis yang menunjukkan foreground dan background. Pixel yang tidak ditandai akan dianggap sebagai unknown. Contoh trimap dapat dilihat pada Gambar 1 (Digital Film, 2011). A-1

Gambar 1. Stroke Trimap 2.1.2 Filled Trimap Filled trimap menunjukkan sebuah gambar yang sepenuhnya berisi ketiga bagian segmen yaitu foreground, background, dan unknown. Filled trimap jika diproses akan lebih cepat dan akurat bila dibandingkan dengan stroke trimap. Contoh filled trimap dapat dilihat pada Gambar 2 (Chuang, 2001). Gambar 2. Filled Trimap 2.2 Gaussian Function Pada dimensi satu, fungsi gaussian adalah fungsi probabilitas kepadatan dari distribusi normal. Fungsi gaussian juga sering disebut sebagai frequency curve. Fungsi gaussian pada dimensi satu dapat dilihat pada persamaan (1) (Wolfram, 2012). (1) Fungsi gaussian pada dimensi dua adalah fungsi distribusi untuk variasi x dan y yang tidak berkolerasi yang mempunyai bivariate normal distribution dan standard deviasi yang sama σ = σ x = σ y. Fungsi gaussian untuk dimensi dua terdapat pada persamaan (2) (Wolfram, 2012): (2) 2.3 Color Quantization Banyak peralatan yang hanya dapat menampilkan warna dalam jumlah yang terbatas. Keterbatasan dari peralatan tersebut membuat sulit untuk menampilkan gambar natural yang memiliki rentang warna yang luas. Untuk itu maka warna-warna tersebut perlu dikuantisasi dengan sebuah pallete dengan jumlah yang terbatas. Orchard dan Bouman mengajukan algoritma color quantization dengan menggunakan color palette design dan binary tree palette design untuk meminimalkan total square error (TSE) antara pixel yang asli dengan pixel hasil dari palette (Orchard, 1991). 3. DESAIN APLIKASI Desain aplikasi yang dikembangkan dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Diagram Alir Desain Aplikasi A-2

Proses foreground, background dan unknown region extraction digunakan untuk mengetahui sebuah piksel pada gambar original termasuk foreground, background, atau unknown menurut gambar trimap. Diagram alir proses ini dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Diagram Alir Proses Foreground, Background, dan Unknown Region Extraction Bayesian adalah proses utama aplikasi untuk menentukan nilai alpha matte yang akan digunakan untuk menggabungkan foreground dengan gambar yang baru. Proses Bayesian hanya dilakukan pada bagian unknown saja. Untuk setiap piksel yang diproses akan ditentukan neighborhood-nya. Kemudian setiap neighborhood akan diberi weight masing-masing untuk foreground dan background. Setelah itu foreground dan background akan diproses dalam Color Quantization untuk menghasilkan kelompok-kelompok warna yang mempunyai mean dan covariance. Untuk setiap kelompok foreground dan background yang terbentuk akan dihitung nilai foreground, background, dan alpha sementara yang akan digunakan untuk menghitung nilai log likelihood pada proses Calculate Loglikelihood. Setelah didapatkan nilai log likelihood yang paling besar maka nilai foreground, background, dan alpha akan diganti dengan foreground, background, dan alpha yang baru. Proses ini berjalan terus sampai semua daerah unknown telah diproses. Diagram alir untuk proses Bayesian dapat dilihat pada Gambar 5. A-3

gi = 1 exp 2πσ d 2 2 ( d / 2σ ) d gi = 1 exp 2πσ d 2 2 ( d / 2σ d ) Gambar 5. Diagram Alir Bayesian 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengembangan aplikasi digital matting yang telah dilakukan, dilakukan pengujian yang meliputi: Pengujian terhadap parameter maximum neighborhood. Pengujian terhadap parameter maximum iteration. Pengujian terhadap parameter minimum variance. Pengujian dengan gambar trimap yang berbeda-beda. Pengujian terhadap ketebalan unknown region trimap yang berbeda-beda. Maximum neighborhood (MaxN) adalah parameter yang digunakan untuk membatasi nilai neighborhood. Jika minimum sample yang diperoleh neighborhood baik untuk foreground maupun background tidak terpenuhi maka nilai neighborhood akan bertambah sampai batas maximum neighborhood. Hasil pengujian parameter maximum neighborhood untuk gambar pada Tabel 1 dapat dilihat pada Tabel 2. A-4

Tabel 1. Gambar Original dan Trimap untuk Pengujian Parameter Maximum Neighborhood Gambar Original Trimap Keterangan Ukuran : 527 x 413 Unknown Region : 28.936 Tabel 2. Hasil Pengujian Parameter Maximum Neighborhood MaxN Alpha Matte Composite Waktu 335 794.526 775 1.892.089 1105 1.925.193 Dapat dilihat dari hasil pengujian pada Tabel 2 bahwa maximum neighborhood berpengaruh pada alpha matte saat daerah unknown pada trimap cukup besar. Selain itu, semakin besar maximum neighborhood membuat proses memakan waktu yang lebih lama. Parameter maximum iteration (MaxI) berguna untuk membatasi iterasi yang dilakukan untuk proses perhitungan likelihood pada setiap pasang kelompok foreground dan background yang terbentuk. Hasil pengujian parameter maximum iteration dari gambar pada Tabel 3 dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 3. Gambar Original dan Trimap untuk Pengujian Parameter Maximum Iteration Gambar Original Trimap Keterangan Ukuran : 527 x 413 Unknown Region : 28.936 Tabel 4. Hasil Pengujian Parameter Maximum Iteration MaxI Alpha Matte Composite Waktu 110 1.836.819 A-5

550 1.880.826 Ms 1100 1.838.254 Parameter minimum variance (MinVar) adalah parameter untuk membatasi kelompok foreground dan background yang terbentuk. Bila nilai maksimal eigenvalue dari kelompok-kelompok yang tebentuk lebih kecil dari minimum variance maka iterasi untuk membentuk kelompok yang baru akan dihentikan. Pengujian parameter minimum variance dari gambar pada Tabel 5 dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 5. Gambar Original dan Trimap untuk Pengujian Parameter Minimum Variance Gambar Original Trimap Keterangan Ukuran : 270 x 377 Unknown Region : 20.295 Tabel 6. Hasil Pengujian Parameter Minimum Variance MinVar Alpha Matte Composite Waktu 0,005 1.859.485 0,05 1.451.215 0,5 1.263.406 A-6

Dari hasil pengujian pada Tabel 6 semakin besar nilai minimum variance maka alpha matte yang terbentuk semakin tegas. Selain itu, semakin kecil nilai minimum variance maka waktu proses semakin lama. Hal ini disebabkan karena kelompok warna foreground dan background yang terbentuk dipengaruhi oleh minimum variance. Trimap yang dibentuk cukup menentukan hasil proses dari gambar. Gambar trimap ini merupakan input dari user. Pengujian pada Tabel 7 menggunakan trimap yang berbeda untuk sebuah gambar yang sama. Masingmasing trimap digunakan untuk mengambil foreground yang berbeda. Tabel 7. Pengujian Menggunakan Trimap Berbeda Pada Gambar yang Sama Gambar Original Ukuran : 854 x 633 Composite Alpha Matte Trimap Unknown Region : 31.845 Waktu : 2.288.269 Unknown Region : 32.259 Waktu : 2.385.224 Pengujian untuk ketebalan unknown region pada trimap dapat dilihat pada Tabel 8. Ketegasan alpha matte dipengaruhi oleh ketebalan unknown region pada trimap. Dari Tabel 8 dapat diketahui bahwa semakin tebal unknown region maka semakin jelas alpha matte yang terbentuk. Tabel 8. Pengujian Ketebalan Unknown Region pada Trimap Gambar Original Ukuran : 460 x 389 A-7

Composite Alpha Matte Trimap Unknown Region : 19.204 Waktu : 1.353.573 Unknown Region : 39.479 Waktu : 2.684.683 5. KESIMPULAN Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa trimap sebagai input dari user mempengaruhi hasil alpha matte dan lama proses. Semakin presisi trimap yang dibuat maka alpha matte yang dihasilkan juga akan semakin jelas dan bila unknown region pada trimap semakin banyak jumlahnya maka proses akan semakin lama. Jumlah maximum neighborhood mempengaruhi waktu proses serta bentuk alpha matte. Semakin besar maximum neighborhood semakin lama waktu proses. Nilai minimum variance berpengaruh pada alpha matte yang terbentuk dimana semakin besar nilai minimum variance maka alpha matte yang terbentuk semakin tegas. Selain itu, semakin kecil nilai minimum variance maka waktu yang dibutuhkan semakin lama. Ketegasan alpha matte dipengaruhi oleh ketebalan unknown region pada trimap dimana semakin tebal unknown region maka semakin jelas alpha matte yang terbentuk. DAFTAR PUSTAKA A. Berman, A. Dadourian, and P. Vlahos., 2000, Method for removing from an image the background surrounding a selected object, U.S. Patent 6,134,346. Digital Film Tools., 2011, What is trimap?, http://support.digitalfilmtools.com/support/index.php?_m=know ledgebase &_a=viewarticle&kbarticleid=78 Chuang, Y., Curless, B., Salesin, D., and Szeliski, R., 2001, A bayesian approach to digital matting, Proceedings of IEEE CVPR, pp. 264-271 M. A. Ruzon and C. Tomasi., 2000, Alpha estimation in natural images, In CVPR2000, pages 18 25, June 2000. Wolfram Mathworld, 2012, Gaussian function, http://mathworld.wolfram.com/gaussianfunction.html Orchard, M. T. dan Bouman, C. A., 1991, Color quantization of images, IEEE Transactions on Signal Processing, 39(12):2677 2690. A-8