Review Penelitian Sejenis

dokumen-dokumen yang mirip
PROBLEMA DAN SOLUSI DIGITAL CHAIN OF CUSTODY DALAM PROSES INVESTIGASI CYBERCRIME. Yudi Prayudi

Pendekatan Model Ontologi Untuk Merepresentasikan Body of Knowledge Digital Chain of Custody

KOMPLEKSITAS WAKTU UNTUK ALGORITMA MD5

Definisi Semantic Web

BAB I PENDAHULUAN. Proses penyimpanan makna dan kandungan dari suatu domain pengetahuan

ANALISA DAN PENGELOLAAN BARANG BUKTI. (dalam kajian teoritis dan kerangka Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2010 tentang pengelolaan barang bukti) Oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Computer Forensic. Part 1. Abdul Aziz

CASE TOOL UNTUK PEMODELAN SEMANTIK DATA DALAM WEB ONTOLOGY LAGUANGE (OWL)

Perancangan Model Ontologi Pada Sistem Informasi Manajemen Skripsi

URi. Program Studi Sistem Informasi Universitas Gunadarma.

Tujuan IT Forensics. IT forensic Bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta obyektif dari sebuah insiden / pelanggaran keamanan sistem informasi.

APLIKASI PENCARIAN HEWAN BERKAKI EMPAT DENGAN MENGGUNAKAN WEB SEMANTIK. : Faizal Wijayanto NPM :

DEFINISI DAN PENJELASAN DARI BUKTI DIGITAL. Disusun untuk memenuhi tugas ke I, MK. Digital Evidence (Dosen Pengampu : Yudi Prayudi, S.Si, M.

Penanganan Barang Bukti Forensik Digital

BAB 1 ASUMSI PERANAN PENGANALISIS SISTEM

ANALISIS LIVE FORENSICS UNTUK PERBANDINGAN APLIKASI INSTANT MESSENGER PADA SISTEM OPERASI WINDOWS 10

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang masalah

BAB IV PERENCANAAN DAN ANALISIS MOXIE

BAB 3 METODE PENELITIAN

SEMANTIC WEB RULE BASE (SWRL) Ari Muzakir

An Introduction to COMPUTER FORENSICS. Oleh: Ahmad Syauqi Ahsan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

IMPLEMENTASI BPMN UNTUK MEMBANGUN MODEL BISNIS FORENSIKA DIGITAL

DESKRIPSI DETAIL AKTIVITAS HARIAN

MODEL ONTOLOGI UNTUK INFORMASI PARIWISATA DI KABUPATEN BANYUMAS

METODE KLASIFIKASI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK MALWARE MENGGUNAKAN KONSEP ONTOLOGI. Abstrak

Model Bisnis Digital Forensics Untuk Mendukung Penanganan Bukti Digital dan Investigasi Cybercrime

TEKNIK AKUISISI VIRTUALISASI SERVER MENGGUNAKAN METODE LIVE FORENSIC. Abstrak

STUDI TENTANG PEMODELAN ONTOLOGI WEB SEMANTIK DAN PROSPEK PENERAPAN PADA BIBLIOGRAFI ARTIKEL JURNAL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. masalah, keaslian penelitian, manfaat penelitian) dan juga tujuan penelitian.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

RANCANG BANGUN PENCARIAN JUDUL TESIS BERBASIS TEKNOLOGI WEB SEMANTIK

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Objek data penulis adalah Sistem Informasi Penjualan Produk untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MEMBANGUN ONTOLOGI JURNAL MENGGUNAKAN PROTÉGÉ (Build Journal Of Use Protege Ontology)

BAB II LANDASAN TEORI

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah

PERKEMBANGAN DIGITAL FORENSIK SAAT INI DAN MENDATANG

Bab I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. proses pertukaran pesan atau informasi melalui jaringan internet, karena turut

Bab III Analisa dan Kerangka Usulan

4. COLLECTING EVIDENCE

BAB I PENDAHULUAN. Arsip merupakan naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga

PROSES DESAIN SISTEM BASIS DATA. Daur Hidup (Life Cycle) yang Umum dari Aplikasi Basis Data

TUGAS KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER

Bab 2. Tinjauan Pustaka

Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Pasundan. Caca E. Supriana, S.Si.,MT.

Mengenal Digital Forensik

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Tugas Presentasi Kelompok Etika Profesi. Dosen: N. Tri S. Saptadi, S.Kom., MT., MM. Kelompok:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi yang ada. Semakin banyak fitur yang dibenamkan ke

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Gambar 3.1. Metodologi Penelitian

Presentasi Data Forensik. (dr. Handayani DU, M.Sc. SpF.)

Digital Forensics bukti pada Kasus Prita Mulyasari. Oleh: Sam Ardi* dan Ruby Z. Alamsyah**

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KATA PENGANTAR. Jakarta, 17 September 2014 Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik. Ir. Dudy S. Sulaiman M.Eng. NIP

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ETIKA PROFESI/ 2 SKS FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI JURUSAN TEKNIK KOMPUTER (D3)

TUGAS KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER COMPUTER FORENSIC DISUSUN OLEH: NAMA : Fahrul Rozi NIM :

PENERAPAN WEB SEMANTIK UNTUK APLIKASI PENCARIAN PADA REPOSITORI KOLEKSI PENELITIAN, STUDI KASUS: PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI STMIK MIKROSKIL MEDAN

IMPLEMENTASI MODEL ONTOLOGY UNTUK PENCARIAN INFORMASI BERITA BERBASIS SEMANTIK TUGAS AKHIR

PENDEKATAN MODEL ONTOLOGI UNTUK PENCARIAN LEMBAGA PENDIDIKAN (STUDI KASUS LEMBAGA PENDIDIKAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... vii. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR TABEL... xii I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah...

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 7 NO. 1 Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Alir Pengaduan Masyarakat

Network Security: Digital Forensic Investigation

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,

PENERAPAN SEMANTIK WEB PADA ONTOLOGI LEARNING RESOURCE REPOSITORI

AGUS JULIANSYAH

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN Latar Belakang... 1

1 BAB III METODE PENELITIAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Mengumpulkan Bukti Digital Forensik Freezing the scene

Analisis Forensik Recovery dengan Kemanan Kode Pola pada Smartphone Andoid

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. Website atau World Wide Web, sering disingkat sebagai www atau web saja, yakni

PROVINSI J A W A T E N G A H N O M O R ^ T A H U N K O M U N I K A S I D A L A M P R O S E S P E M E R I N T A H A N (E-GOVERNMENT)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. hasil analisis ini digambarkan dan didokumentasiakan dengan metodologi

STMIK GI MDP ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI AKADEMIK BERBASIS WEB PADA SMA NEGERI 7 PALEMBANG

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN TENTANG RUANG LINGKUP TUGAS ID-SIRTII

Broadband Economy. Konten sebagai Penggerak Broadband

Kebutuhan Aplikasi Web

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

lainnya. Android juga menggunakan sistem layar sentuh (touch screen) yang memudahkan pelanggan dalam penanganan navigasinya. Para pelaku bisnis telah

Transkripsi:

Review Penelitian Sejenis Bidang forensika digital adalah bidang ilmu yang relatif baru dibandingkan dengan bidang lainnya dalam rumpun ilmu komputer / informatika. Beberapa penjelasan tentang forensika digital adalah : Menurut Agarwal & Gupta (2011) forensika digital adalah penggunaan ilmu dan metode untuk menemukan, mengumpulkan, mengamankan, menganalisis, menginterpretasi dan mempresentasikan barang bukti digital yang terkait dengan kasus yang terjadi untuk kepentingan rekontruksi kejadian serta keabsahan proses peradilan. Menurut Cosic et al., (2011), forensika digital adalah ilmu tentang proses collecting, preserving, examining, analyzing dan presenting data digital yang relevan untuk digunakan dalam pembuktian hukum. Walaupun aktivitas forensika digital banyak dikaitkan dengan proses penegakan hukum, namun ternyata hanya sebagian kecil saja kasus-kasus cybercrime yang ditangani oleh penegak hukum. Sebagian besar justru ditangani oleh pihak swasta. Institusi perbankan, asuransi, perusahaan adalah institusi yang umumnya sering menjadi target dari aktivitas cybercrime, dan umumnya secara internal institusi tersebut telah memiliki unit tersendiri untuk penanganan kasus-kasus yang terindikasi mengarah pada cyber crime. (Easttom & Taylor, 2011). Salah satu faktor penting dalam proses investigasi adalah hal terkait dengan barang bukti. Dalam hal ini terdapat dua istilah yang hampir sama, yaitu barang bukti elektronik dan barang bukti digital. Barang bukti elektronik adalah bersifat fisik dan dapat dikenali secara visual (komputer, handphone, camera, CD, harddisk dll) sementara barang bukti digital adalah barang bukti yang diekstrak atau di-recover dari barang bukti elektronik (file, email, sms, image, video, log, text). Secara khusus terdapat beberapa definisi sederhana dari bukti digital, yaitu : any information of probative value that is either stored or transmitted in digital form (Richter & Kuntze, 2010) information stored or transmitted in binary form that may be relied upon in court.(turner, 2005) Menurut Matthew Braid dalam (Richter & Kuntze, 2010), agar setiap barang bukti dapat digunakan dan mendukung proses hukum, maka harus memenuhi lima

kriteria yaitu : admissible, authentic, complete, reliable dan believable. Sementara Schatz (2007) menyebutkan dua aspek dasar untuk kriteria lain agar barang bukti dapat mendukung proses hukum, yaitu aspek hukum dengan kriteria: authentic, accurate, complete, serta aspek teknis dengan kriteria : chain of evidence, transparent, explainable, accurate. Berbeda dengan barang bukti fisik pada umumnya, barang bukti digital akan sangat bergantung dari proses interpretasi terhadap kontennya. Karena itu, integritas dari barang bukti serta kemampuan dari expert dalam menginterpretasikannya akan berpengaruh terhadap pemilahan dokumen-dokumen digital yang tersedia untuk dijadikan sebagai barang bukti (Schatz, 2007). Sementara itu dari aspek hukum, setiap negara memiliki ketentuan tersendiri terhadap jenis, karakter dan prosedur barang bukti digital agar bisa diterima untuk proses hukum / persidangan. Karenanya setiap digital investigator / forensics analyst harus memahami dengan baik peraturan hukum dan perundangan yang terkait dengan barang bukti digital serta proses hukum yang melibatkan barang bukti digital. (Boddington, Hobbs, & Mann, 2008). Untuk wilayah hukum Indonesia, barang bukti digital telah diatur dalam Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Aspek penting dalam penanganan barang bukti adalah apa yang disebut dengan chain of custody, yaitu kronologis pendokumentasian barang bukti. Dalam hal ini barang bukti harus dijaga integritas tingkat keasliannya sesuai dengan kondisi ketika pertama kali ditemukan hingga kemudian nantinya dipresentasikan dalam proses persidangan. Menurut Cosic et al. (2011), Chain of custody adalah bagian penting dari proses investigasi yang akan menjaminkan suatu barang bukti dapat diterima dalam proses persidangan. Chain of custody akan mendokumentasikan hal terkait dengan where, when, why, who, how dari penggunaan barang bukti pada setiap tahap proses investigasi. Dalam hal ini Vacca (2005) mendefinisikan Chain Of Custody sebagai A Road Map That Shows how evidence was collected, analyzed and preserved in order to presented as evidence in court. Menurut Vanstode dalam (Cosic & Baca, 2010), digital integrity adalah sebuah property dimana data digital tidak mengalami perubahan oleh pihak yang tidak memiliki wewenang otorisasi melakukan perubahan. Perubahan dan kontak kepada barang bukti digital hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki otorisasi saja. Integritas barang bukti digital menjamin bahwa informasi yang dipresentasikan adalah lengkap dan tidak mengalami perubahan dari sejak pertama kali ditemukan sampai

akhir digunakan dalam proses persidangan. Saat ini terdapat banyak sekali tools untuk kepentingan investigasi digital. Huebner & Zanero (2010) menyusun sejumlah panduan dan karakteristik untuk aplikasi open source yang dapat digunakan dalam proses forensika digital. Sementara Ambhire & Meshram (2012) dan Yates & Chi (2011) memberikan ilustrasi banyaknya tools yang dapat digunakan untuk kepentingan forensika digital melalui teknik benchmarking. Selanjutnya pada prakteknya, seorang digital investigator akan memanfaatkan ketersediaan berbagai tools tersebut untuk menemukan berbagai kemungkinan barang bukti yang sesuai dengan kasus yang dihadapinya kemudian mengkompilasi temuan-temuannya dalam sebuah laporan. Namun demikian, menurut Garfinkel (2010) secara umum terdapat dua fakta tentang tools forensika digital yang saat ini tersedia, yaitu : (a) tools yang tersedia saat ini umumnya dibangun untuk membantu investigator menemukan bagian-bagian specifik dari bukti digital, tidak berorientasi pada konsep umum investigasi. (b) tools yang tersedia saat ini dibangun untuk membantu investigasi berdasarkan laporan seseorang, namun tools belum diorientasikan untuk secara cerdas untuk membantu penyelesaian kasus kejahatan tertentu. Karena itu, tuntutan tools forensika digital kedepan adalah tools yang memiliki kemampuan untuk memfasilitasi proses investigasi bukan lagi sekedar tools untuk kepentingan ekplorasi. Penerapan konsep digital chain of custody adalah salah satu solusi mengatasi kebutuhan tools untuk mendukung proses investigasi. Konsep digital chain of custody adalah sebuah solusi tools untuk mendukung aktifitas proses investigasi melalui pendekatan evidence oriented design. Dalam hal ini untuk mengimplementasikan digital chain of custody, maka sebagaimana dalam forensika umum dikenal istilah kantung barang bukti, maka untuk barang bukti digitalpun dapat dimodelkan kantung barang bukti digital - sealed digital evidence bags (Schatz, 2007). Model lain dikemukakan oleh Garfinkel (2009) melalui kombinasi teknik kriptografi pada ekstensi AFF (Advanced Forensic Format) versi 3 yang dikembangkan sebelumnya sebagai model untuk digital chain of custody. Upaya lain dilakukan pula oleh Giova (2011) melalui model konseptual AFF dan penggunaan RDF (Resource Description Framework). Upaya kearah menemukan konsep digital chain of custody merupakan bagian dari open problem pada bidang forensika digital. (Garfinkel, 2010). Karena itu masih terbuka berbagai pendekatan dan solusi untuk ketersediaan sistem digital chain of custody. Masalah ini adalah

terkait dengan kebutuhan solusi tools untuk aktivitas forensika digital yang tidak hanya berfungsi untuk eksplorasi namun juga untuk kepentingan investigasi. Salah satu cara untuk memahami lebih lanjut tentang domain keilmuan forensika digital, adalah melalui pendekatan ontologi. Menurut (Kota, 2012), Ontology secara sederhananya adalah Specification of Conceptualization. Ontologies umumnya digunakan pada berbagai domain pengetahuan untuk secara formal merepresentasikan knowledge dari domain tersebut. Penelitian tentang ontologi pada lingkup forensika digital telah dilakukan oleh sejumlah peneliti sebelumnya. Brinson (2006) membangun sebuah model ontologi untuk mengenali lingkup forensika digital sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk mengenali domain pengetahuan dari proses forensika digital secara umum. Sementara itu Cosic et al. (2011), mengembangkan model DCoDeOn sebagai model ontologi bukti digital. Model tersebut dikembangkan untuk membantu proses forensika digital melalui pemetaan barang bukti digital untuk kasus yang sedang dihadapi oleh seorang digital investigator. Pada sisi lain, Kota (2012) menyebutkan bahwa penerapan ontologi dalam bidang forensika digital akan sangat dipengaruhi oleh case yang dihadapi. Untuk itulah Kota (2012) mencoba melakukan pendekatan ontologi untuk membangun model dinamis forensika digital pada kasus email forensics. Penelitian lain tentang ontologi pada bidang forensika digital antara lain dilakukan oleh Heum Park dalam bentuk ontologi untuk cyber criminal untuk kepentingan cyber investigation. Sementara itu David Christopher dan Richard P. Mislan juga telah melakukan penelitian mengenai ontologi untuk Small Scale Digital Devices. Pada aspek sertifikasi dan kompetensi, Ashely Brinson telah mencoba membangun model ontologi untuk memperjelas kebutuhan spesialisasi, kompetensi dan pendidikan pada bidang forensika. (Cosic et al., 2011). Penelitian lain dilakukan pula oleh Carver, dalam hal ini Carver memberikan beberapa gambaran dari model ontologi yang selama ini ada dan bagaimana perbaikannya untuk membangun model yang lebih komprehensif. Sementara itu Morton Swimmer juga mencoba untuk membangun model ontologi untuk domain malware analysis. (Cosic & Cosic, 2012b). Cosic et al. (2011) memodelkan proses interaksi dalam chain of custody meliputi 5 pelaku, yaitu : first responders, forensics investigator, court expert whitness, law enforcement dan police officer. Sementara itu Giova (2011) juga

memodelkan proses interaksi chain of custody meliputi 5 pelaku berbeda, yaitu : first responder, investigator, prosecutor, defense dan court. Menurut Giova (2011), model pelaku dalam interaksi proses chain of custody akan dipengaruhi oleh ketentuan hukum disetiap Negara. Namun apapun model yang dibangun harus dapat menjelaskan aktivitas, hubungan dan keterlibatan pelaku pada bukti digital. Sebuah aplikasi untuk chain of custody, setidaknya harus dapat memenuhi 5 ketentuan karakter chain of custody, yaitu fingerprint of evidences (what), procedures (how), digital signing (who), time stamping (when), dan geo location (where). (Giovani, 2011). Karena itu Cosic et al. (2011), telah mengembangkan model DCoDeOn memanfaatkan tools Protégé untuk membangun model ontologi bukti digital untuk chain of custody yang disusun dalam bentuk fungsi : CoDe = f { fingerprint _of _file, biometrics_characteristic, time_stamp, gps_location, reason, set_of_procedures}; //what //who //when //where //why //how Selanjutnya Giova (2011) mengembangkan model yang diusulkan oleh Cosic et al (2011) dengan pendekatan diagram blok UML dan implementasi menggunakan AFF4 dan RDF. AFF4 adalah pengembangan dari AFF (Advanced Forensics Format) sebagai sebuah format file untuk menyimpan bukti digital. (Garfinkel, 2010). Sementara RDF (The Resource Description Framework) adalah standar bahasa XML yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C). Menurut Giova (2011), AFF4 dan RDF dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengimplementasikan konsep Chain of Custody yang reliable. Model ontologi yang dikemukakan oleh Cosic (2011) dapat dikembangkan lebih lanjut pada beberapa aspek. Antara lain adalah dengan melakukan sejumlah perluasan terhadap 5 hal yang menjadi dasar dari pembangunan ontologi oleh Cosic (2011), yaitu : Characteristics, Dynamics, Factors, Institutions dan Integrity. Sejumlah penelitian yang pernah dilakukan tentang ontologi pada forensika digital dapat dijadikan sebagai masukan untuk melakukan perluasan model ontologi yang dikembangkan oleh Cosic (2011). Perluasan model ontologi yang dihasilkan tentunya akan memberikan gambaran lebih komprehensif tentang penanganan bukti digital. Hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan pendekatan ontologi yang berbeda. Dalam hal ini menurut Catherine Roussey & Pinet (2011) terdapat 2

pendekatan ontologi yaitu berbasiskan pada taxonomi dengan 3 model pendekatan, yaitu bottom-up approach, top down approach dan middle-out approach dan berbasiskan pada tipe source dengan 4 alternatif source yang mungkin yaitu : text, thesaurus, relational database dan UML diagram. Dalam hal ini Cosic (2011) melakukan pendekatan taxonomi top-down untuk membangun konsep ontologi bukti digital. Implementasi model sistem chain of custody juga dimungkinkan dimplementasikan dengan beberapa alternatif. Menurut Arroyo, Lara, & Ding (2004), pemodelan sistem yang berbasiskan pada semantic dapat menggunakan XML, RDF(S),OIL, DAM+OIL dan OWL. Dari aspek data model, terminology dan inference knowledge masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam hal ini Giova (2011) telah menerapkan RDF untuk mengimplementakan model chain of custody yang dikembangkannya.