BAB IV ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Data Perancangan. Tekanan kerja / Po Temperatur kerja / To. : 0,9 MPa (130,53 psi) : 43ºC (109,4ºF)

BAB VII PENUTUP Perancangan sistem perpipaan

Proses Desain dan Perancangan Bejana Tekan Jenis Torispherical Head Cylindrical Vessel di PT. Asia Karsa Indah.

DAFTAR NOTASI BAB I β adalah faktor yang didefinisikan dalam SNI ps f c adalah kuat tekan beton yang diisyaratkan f y

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka

PERANCANGAN BEJANA TEKAN KAPASITAS 5 M3 DENGAN TEKANAN DESAIN 10 BAR BERDASARKAN STANDAR ASME 2007 SECTION VIII DIV 1

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PERPAJAKAN PUSAT KOTA SEMARANG

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dibeberapa tempat, sebagai berikut:

LANDASAN TEORI. Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN PUSAT YSKI SEMARANG

Laporan Tugas Akhir BAB II DASAR TEORI. 2.1 Lokasi dan kondisi terjadinya kegagalan pada sistem pipa. 5th failure July 13

TUGAS AKHIR RC OLEH : ADE SHOLEH H. ( )

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERANCANGAN PRESSURE VESSEL KAPASITAS 0,017 M 3 TEKANAN 1 MPa UNTUK MENAMPUNG AIR KONDENSASI BOGE SCREW COMPRESSOR ABSTRAK

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Permasalahan Yang Akan Diteliti 7

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA

BAB V ANALISA HASIL. Dari hasil perhitungan awal dapat diketahui data-data sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG

BAB V ANALISA HASIL. 1. Tegangan-tegangan utama maksimum pada pipa. Dari hasil perhitungan awal dapat diketahui data-data sebagai berikut :

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

Jurnal FEMA, Volume 1, Nomor 4, Oktober 2013

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

1 HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL SEMARANG

JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB VII PENUTUP Perancangan bejana tekan vertikal separator

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MAHASISWA ERNA WIDYASTUTI. DOSEN PEMBIMBING Ir. HEPPY KRISTIJANTO, MS.

BAB IV PERHITUNGAN ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

PERHITUNGAN IKATAN ANGIN (TIE ROD BRACING )

PRAKATA. Akhirnya penulis berharap semoga laporan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya insan Teknik Sipil.

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Tumpuan Rol

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Air adalah kebutuhan dasar manusia untuk kehidupan sehari-hari.

ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR FLAT PLATE BETON BERTULANG UNTUK GEDUNG EMPAT LANTAI TAHAN GEMPA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN STABILITAS DINDING PENAHAN

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan Gedung SNI pasal

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM PITER WILSON JALAN SIDODADI BARAT NO 21 SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA

DAFTAR ISI. i ii iii iv v vi

Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

Perencanaan Gempa untuk


PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG

Disusun oleh: KHAMDAN KHAMBALI

Dinding Penahan Tanah

PERHITUNGAN TUMPUAN (BEARING ) 1. DATA TUMPUAN. M u = Nmm BASE PLATE DAN ANGKUR ht a L J

LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1)

Perhitungan Struktur Bab IV

BAB IV PEMODELAN STRUKTUR

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN MALO-KALITIDU DENGAN SYSTEM BUSUR BOX BAJA DI KABUPATEN BOJONEGORO M. ZAINUDDIN

Antiremed Kelas 11 Fisika

PERHITUNGAN BALOK DENGAN PENGAKU BADAN

MODUL 6. S e s i 5 Struktur Jembatan Komposit STRUKTUR BAJA II. Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Perencanaan Interior 2. Perencanaan Gedung 3. Perencanaan Kapal

ANALISIS ALTERNATIF PERKUATAN JEMBATAN RANGKA BAJA (STUDI KASUS : JEMBARAN RANGKA BAJA SOEKARNO-HATTA MALANG)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

II. KONSEP DESAIN. A. Pembebanan Beban pada struktur dapat berupa gaya atau deformasi sebagai pengaruh temperatur atau penurunan.

TUGAS AKHIR ANALISA TEGANGAN PADA KETEL UAP PABRIK TAHU BERDASARKAN STANDAR MEGYESY DENGAN BANTUAN SOFTWARE CATIA

III. METODOLOGI PENELITIAN. 2. Badan Latihan Kerja (BLK) Bandar Lampung sebagai tempat pengelasan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

Analisis Kekuatan Tangki CNG Ditinjau Dengan Material Logam Lapis Komposit Pada Kapal Pengangkut Compressed Natural Gas

BAB IV ANALISIS STRUKTUR ATAS

KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR BAJA WEEK 2

= tegangan horisontal akibat tanah dibelakang dinding = tegangan horisontal akibat tanah timbunan = tegangan horisontal akibat beban hidup = tegangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MESIN PEMINDAH BAHAN

DAFTAR NOTASI. A cp. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA KERETA API. melakukan penelitian berdasarkan pemikiran:

BAB III LANDASAN TEORI. Menurut McComac dan Nelson dalam bukunya yang berjudul Structural

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH BINA BANGSA JALAN JANGLI BOULEVARD SEMARANG

BAB II SIFAT BAHAN BETON DAN MEKANIKA LENTUR

METODOLOGI PERANCANGAN. Dari data yang di peroleh di lapangan ( pada brosur ),motor TOYOTA. 1. Daya maksimum (N) : 109 dk

PERHITUNGAN SLAB LANTAI JEMBATAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK

MODUL PERKULIAHAN. Struktur Baja 1. Batang Tarik #1

PENGARUH POSISI PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TAKIK DAN KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS PIPA

MODUL 5 STRUKTUR BAJA II. Perencanaan Lantai Kenderaan. Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Transkripsi:

BAB IV ANALISA DATA DAN ERHITUNGAN 4.1 erhitungan dan emeriksaan Kekuatan 4.1.1 erhitungan Tutup Bejana Dari hasil pengumpulan data, tutup bejana (head) yang dipakai adalah jenis Ellipsoidal, data yang diberikan sebagai berikut. A. Ketebalan minimum tutup Bejana Berdasarkan data diatas, maka ketebalan minimum tutup bejana dengan kondisi diatas adalah : (rumus 2.7) t (2 1 123,1 1875 1) (0,2 1) 3 t 10, 6mm Dengan demikian ketebalan minimum yang diizinkan akibat tekanan dalam yang diberikan kepada bejana tekan tersebut adalah 10,6 mm B. Tekanan maximum Tekanan maximum yang mampu ditahan oleh bejana tersebut adalah : (rumus 2.8) 2 123,1 1 1875 0,2 (10,6 (10.6 3) 3) 1871,12 1876,52 = 0,997 N/mm 2 21

Untuk alasan keamanan, dalam penentuan tekanan makimum tersebut harus dikalikan dengan nilai safety factor. Nilai safety factor yang diterapkan pada perhitungan disini adalah 2. f = 2 Maka tekanan maksimum yang mampu ditahan tutup bejana adalah perkalian tekanan yang dizinkan dengan factor keamanan yaitu : a f a 2 0,997 a = 1,994 N/mm 2 a = 19,94 bar C. emeriksaan pengujian reduksi tegangan akibat proses pembentukan ada waktu head dibentuk, plate tersebut akan mengalami perpanjangan dan menyebabkan pengurangan ketebalan akibat penarikan pada waktu proses berlangsung. Dari hasil proses pembentukan ini ketebalan bahan akan berkurang, dan juga mengakibatkan berkurangnya tegangan izin bahan. Untuk mengembalikan nilai tegangan izin semula, harus dilakukan proses penemperan pada tutup bejana tekan tersebut. Tetapi tidak semua tutup bejana tekan harus mengalami proses penemperan. Sehingga jika bahan memiliki elongasi panjang kurang dari 5% maka walaupun ditemukan karakteristik 1,2,3 dan 4, tutup bejana tersebut tidak perlu ditemper. Tetapi jika perpanjangan bahan lebih dari 5% dan salah satu dan lebih dari kondisi diatas dipenuhi, maka tutup bejana harus ditemper. Rf 75 Ta (1 ) Ro Rf (4.1 ) Dimana : ε = erpanjangan / Elongasi Ta = Tebal setelah dibentuk Rf = Radius Akhir = 0,1727 x D = 0,1727 x 1875 = 323,8 Ro = Radius awal = 0,904 x D = 0,904 x 1875 = 1696 22

75 11,43 (1 323,8 323,8 ) 1696 2,14% Terlihat bahwa perpanjangan kurang dari 5% yaitu sebessar 2,14%. Dari perhitungan ini maka tutup bejana tersebut tidak perlu ditemper lagi setelah proses pembentukan. 4.1.2 erhitungan Dinding Bejana ada bejana tekan khususnya bejana udara, dinding bejana akan menerima tekanan dari dalam berupa udara yang dipompakan dan menerima beban dari luar berupa peralatan yang dipasang padanya A. Ketebalan dinding minimum Untuk mencari ketebalan dinding bejana akibat tekanan yang diberikan adalah (Rumus 2.13) t E R 0,6 Ca t 1 123,1 937,5 1 0,6 1 3 T= 10,6 mm B. Tekanan Maksimum Tekanan maksimum yang mampu ditahan oleh dinding bejana ini adalah : (Rumus 2.14) R E 0,6 ( Ta ( Ta Ca) Ca) 123,1 937,5 1 (12,7 3) 0,6 (12,7 3) = 1,26 N/mm 2 23

Karena perhitungan diatas merupakan perhitungan yang statis (keadaan ideal), maka harus dihitung faktor keamanan ( safety faktor) yang nilainya f=2. Karena pada dasarnya kondisi bejana tersebut pada saat operasional ialah dinamis. a = x f a = 1,26 x 2 = 2,52 N/mm 2 4.1.3 Berat bejana Berat bejana akan menyebabkan gaya tekan pada penyangga petana tekan ini. Daalam perhitungan penyangga bejana tekan ini, berat bejana dipergunakan sebagai beban yang diberikan ke penyangga. Disamping berat bejana dipergunakan untuk menghitung penyangga, berat bejana juga digunakan untuk menghitung plat pengangkat sewaktu mengangkat bejana tersebut. A. Berat bejana pada kondisi kosong Dalam perhitungan tidak semua komponen dihitung satu persatu, namun bisa diambil dari tabel yang ada. Dalam penulisan ini untuk mengetahui berat bejana penulis langsung mengambil data dilapangan dengan menimbang bejana ini yaitu dengan total berat = 4504 kg B. Berat bejana pada kondisi pengoperasian Wo = We + Wf (4.2 ) Wo = 4504 + 0 = 4504 kg dimana : Wo = berat bejana pada kondisi pengoperasian We = berat bejana pada kondisi pengoperasian Wf = berat fluida ( udara ) 24

C. Berat bejana pada kondisi hidrostatic Berat bejana pada kondisi pengujian hidrostatik adalah berat bejana kosong ditambak berat media untuk hidrostatic, daalam hal ini air. Sehigga berat bejana pada pengujian hidrostatic sebesar: Wt = Wo + Wft = 4504 + 15000 = 19504 kg dimana : Wo = berat bejana pada kondisi pengoperasian Wt = berat bejana pada kondisi pengujian Wft = berat air yang digunakan untuk pengujian = Berat jenis air x Volume Bejana = 1000 x 15 m 3 = 15000 kg 4.1.4 Beban Angin Tekanan Angin Tekanan yang dihasilkan akibat adanya beban dari angin adalah sebagai berikut: w = Tekanan angin (Kg/m 2 ) V = Kecepatan angin = 33,6 m/s w = 0,0025 x V 2 (4.3 ) w = 2,82 kg/m 2 Tegangan geser Besarnya tegangan geser total dapat ditentukan berdasarkan persamaan berikut : V = w x D x H (4.4 ) Dimana : V = Tegangan geser total (lb) D = Diameter luar bejana (ft) H = Tinggi Bejana (ft) 1 meter = 3,2 ft 25

1 pound = 4,44 N Sehingga besarnya tegangan geser total adalah : V = 2,82 x (1,9 x 3,2) x (6,18x 3,2) = 339,07 lb V = 339,07 x 4,44 N = 1505,4 N Momen karena angin Besarnya momen pada dasar bejana karena angina dirumuskan sebagai berikut : M = w x D x H x h (4.5 ) Dimana : M = Momen pada dasar bejana (lb.ft) w = Tekanan angina (kg/m 2 ) h = H/2 H = Tinggi bejana (ft) D = Diameter luar bejana (ft) Sehingga besarnya momen akibat angina pada dasar bejana adalah : M = 2,82 x (1,9 x 3,2) x (6,18 x 3,2) x (3,09 x 3,2) M = 3352 lb.ft = 4544 Nm Momen yang terjadi ini digunakan sebagai dasar penyangga bejana. Selain menimbulkan momen pada bejana tersebut, beban angin juga akan menyebabkan getaran pada bejana. Besarnya getaran ini harus dibatasi, hal ini dikarenakan bila besar dari getaran ini terlampau tinggi akan menyebabkan pada bejana tekan akan terjadi kelelahan, selanjutnya bejana tersebut akan rusak. 26

4.1.5 Beban Akibat Gempa Kondisi pembebanan pada bejana tekan akibat beban gempa bumi sama dengan sebuah kantilever, dimana semakin tinggi bejana maka semakin besar momen yang terjadi. Beban Geser ada Landasan Akibat Gempa Bumi Adalah jumlah gaya geser pada arah horizontal pada bejana tekan tersebut. (sumber : SNI 03-1726- 2002) F = Z. I. C. Wo / Rw (4.6 ) dimana : Z = Faktor seismic (digunakan di Jakarta) = 1 I = Faktor kepentingan untuk bejana tekan = 1 S = kofisien untuk karakteristik tanah = 1 T = periode getaran akibat beban gempa Ct = koofisien numerik H = tinggi bejana = 6180 mm = 20,275 kaki C = koofisien numerik = 1,25. S. / T T = Ct. H m = 0,035. 20,275 3/4 = 0,33 detik Sehingga : C = 1,25 x 1/0.33 =2,3 Rw = koofisien numerik untuk bejana tekan = 4 Wo = berat bejana pada kondisi pengoperasian = 4504 kg Sehingga gaya geser pada arah horizontal pada bejana tekan tersebut sebesar: F = Z. I. C. Wo / Rw = 1.1. 2,63. 4504 / 4 = 2961,38 kg Jadi gaya horizontal akibat beban gempa bumi tersebut adalah sebesar 29 kn, terletak pada titik berat bejana tersebut. Letak titik berat bejana dari landasan (He) adalah : He= 2/3H = 2/3 x 6180 = 4120 mm Sehingga momen yang terjadi sebesar : Me = F x He 27

Me = 29021 x 4120 Me = 119568678,9 N.mm Maka momen yang digunakan sebagai dasar perhitungan adalah momen akibat gempa bumi yaitu sebesar 119,5 kn.m Gambar 4.1 : Momen yang timbul pada dinding bejana 4.1.6 engecekan Kekuatan Sambungan Las Sambungan las pada bejana tekan sangat dituntut bermutu baik untuk dapat digunakan dengan aman. Ketidaksempurnaan dalam lasan yang melebihi batas yang ditentukan dapat menyebabkan kejadian yang fatal seperti kebocoran atau pecah. Untuk mendapatkan sambungan yang baik pada bejana tekan perlu dilakukan kwalifikasi las untuk bejana tekan. Kwalifikasi ini mengikuti "ASME Boiler and ressure Vessel Code Section IX. Jenis sambungan las pada bejana tekan ini ada dua yaitu: a. Sambungan Tumpul dengan alur V tunggal. b. Sambungan tumpang 28

Gambar 4.2 : Sambungan Las Dalam pemilihan kawat las yang digunakan adalah dengan mencari tegangan luluh atau tegangan tarik yang sama dari material induk. Dalam hal ini kawat las yang digunakan adalah AWS A5.18. Besarnya tekanan yang mampu ditahan oleh sambungan las adalah : R E 0,6 t t 422,5 937.5 1 12,7 0,6 12,7 5,67 N / mm 2 Dimana : σ : Tegangan luluh kawat las (AWS A5.18) = 422,5 N/mm2 R : Jari jari dinding bejana = 937.5 mm T : Tebal dinding = 12,7 mm E : Effisiensi sambungan = 1 29

4.2 Hasil emeriksaaan Dan hasil analisa dan perhitungan diatas, maka hasil bejana udara ini adalah sebagai berikut: pemeriksaan untuk 1. Tutup bejana ( Head ) Tutup bejana yang dipakai dari jenis ellipsoidal head dengan ketebalan 12,7 mm dengan material A-516 Grade 70 ternyata kuat menahan tekanan dalam. Dari hasil pemeriksaan diatas didapat ketebalan minimum yang diperlukan yaitu 10,6 mm. 2. Dinding bejana ( Shell) Dinding bejana dibuat dari pelat yang diroll dengan material A-516 Grade 70 teryata kuat menahan tekanan dalam. Dari hasil pemeriksaan diatas didapat ketebalan minimum yang diperlukan 10,6 mm. 3. Beban Angin Tekanan angin = 2,82 kg/m2 Tegangan geser = 1505,4 N Momen karena angina = 4544 N.m 4. Beban Gempa Momen yang terjadi akibat beban gempa adalah 119 kn.m 5. Sambungan las Dari perhitungan kekuatan las diatas ternyata sambungan lasnya cukup kuat. Dengan besar tekanan yang mampu ditahan sambungan las sebesar 5,67 N/mm 2. 30