BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Sukardi dalam

BAB III METODE PENELITIAN

Ratih Rahmawati Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar SUSANTI A

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI STRATEGI PLANTED QUESTIONS PADA SISWA KELAS V SD N NGAGLIK, SAMBI, BOYOLALI TAHUN AJARAN 2012/2013

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN TATANIAGA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian menurut Nana Sudjana menekankan kepada cara

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digunakan dalam penelitian mengenai penerapan asesmen kinerja untuk

II. TINJAUAN PUSTAKA. TTW merupakan model pembelajaran kooperatif dimana perencanaan dari

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara umum, semua aktivitas yang melibatkan psiko-fisik yang menghasilkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Huda (2014) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap

BAB III METODE PENELITIAN

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN KOMBINASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW

BAB III METODE PENELITIAN

Oleh Saryana PENDAHULUAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengajarkan siswa untuk bekerjasama

Singgih Bayu Pamungkas Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

TINJAUAN PUSTAKA. Banyak orang belum mengetahui apa itu leaflet dan apa perbedaannya dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model dimaknakan sebagai objek atau konsep yang digunakan untuk

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR PKn MELALUI STRATEGI ACTIVE DEBATE PADA SISWA KELAS V SDN 08 KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2001: 37) belajar

TINJAUAN PUSTAKA. TPS adalah suatu struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Profesor

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Banjar Margo Kabupaten Tulang Bawang. Penelitian

IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN

BAB.II. KAJIAN PUSTAKA. seseorang, sehinga menyebabkan munculnya perubahan prilaku (Wina Sanjaya,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi tempat peneliti melaksanakan penelitian adalah SDN Orimalang

BAB III METODE PENELITIAN. Gunungkuning Kecamatan Sindang Kabupaten Majalengka. Adapun alasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belajar. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat pengalaman dan latihan.

jadikan sebagai indikator aktivitas belajar siswa adalah:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pengajaran dimana para siswa bekerja

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. muncul dari adanya praktik pembelajaran sehari-hari yang dirasakan langsung

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR FISIKA SISWA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara umum menurut Gagne dan Briggs (2009:3) yang disebut konstruktivisme

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADPEMBELAJARAN PKn MELALUI MODEL EVERYONE IS TEACHER HERE DI SDN 08 KINALI PASAMAN BARAT

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil Belajar Matematika, dan kooperatif tipe Teams Games Tournament

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. muncul dari adanya praktik pembelajaran sehari-hari yang dirasakan langsung

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

KAJIAN PUSTAKA. makna tersebut dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri atau bersama orang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini membahas metode dan langkah-langkah yang dilakukan peneliti

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan salah satu

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas

II. TINJAUAN PUSTAKA. salah satunya adalah teknik Numbered Head Together (NHT). Menurut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biologi berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata bios yang berarti

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN. MELALUI METODE SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) PADA

II. TINJAUAN PUSTAKA. satunya adalah metode diskusi. Hasibuan dan Moedjiono (2004:20) mengatakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang sering

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan. dapat menunjang hasil belajar (Sadirman, 1994: 99).

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, secara khusus

BAB III METODE PENELITIAN. pembelajaran sehari-hari dikelas, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II KERANGKA TEORITIS. Perubahan tersebut mencakup aspek tingkah laku, keterampilan dan

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II KAJIAN TEORI. usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lokasi/ tempat penelitian adalah Taman Kanak-kanak Satu Atap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pesan (Sadiman, 2002: 6). Secara umum alat peraga pembelajaran dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. dapat membawa hasil atau berdaya guna. Efektif juga dapat diartikan dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. kemempuan belajar sendiri atau melakukan aktivitas seluas-luasnya kepada

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB II KAJIAN PUSTAKA. aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar. aktivitas tersebut. Beberapa diantaranya ialah:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Subjek Penelitian adalah siswa siswa kelas XI Agribisnis Produksi

II. KAJIAN PUSTAKA. dari diri siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar.

BAB III METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan pengertian

BAB III METODE PENELITIAN

e-issn Vol. 5, No. 2 (2016) p-issn

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tepat untuk diterapkan guna mencapai apa yang diharapkan yaitu menciptakan manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Seorang guru SD yang akan mengajarkan matematika kepada siswanya,

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bertanya, mengajukan pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru.

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SMA Negeri 1 Parongpong yang lokasinya terletak di Jl. Cihanjuang Rahayu No.39, Bandung Barat. Kondisi sekolah yang sangat bersih dan banyak pepohonan, menjadikan suasana pembelajaran di sekolah ini nyaman. Adapun alasan peneliti memilih SMA Negeri 1 Parongpong, karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang cukup baik di Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, sekolah ini juga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian sehingga peneliti merasa sangat terbantu. Subjek penelitian yang peneliti gunakan adalah siswa kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Parongpong yang berjumlah 31 orang dengan rincian 22 siswi perempuan dan 9 siswa laki-laki. Peneliti menetapkan kelas tersebut menjadi subjek penelitian karena di kelas ini terdapat berbagai masalah yang muncul saat peneliti melakukan observasi. Permasalahan yang paling terlihat yaitu tentang kurangnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah. Siswa di kelas ini terlihat pasif pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, sehingga membuat aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah dirasa kurang. B. Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian tindakan kelas. Arikunto dkk. (2014, hlm. 3), mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Hasan dkk. (2011, hlm. 72), menjelaskan bahwa PTK pada hakikatnya merupakan suatu proses dimana melalui proses ini guru dan siswa menginginkan terjadinya perbaikan, peningkatan dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Sedangkan menurut Wiriaatmadja (2008, hlm. 13) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasi kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari

28 pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat diperoleh pemahaman bahwa penelitian tindakan kelas pada hakikatnya merupakan suatu refleksi dan upaya yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki serta meningkatkan proses dan hasil belajar yang dilakukan di kelas. Alasan peneliti memilih metode penelitian tindakan kelas, karena dengan penggunaan penelitian tindakan kelas segala gejala permasalahan yang muncul selama proses penelitian dapat teramati dengan baik, karena peneliti terjun dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dengan begitu peneliti bisa mengubah proses pembelajaran di kelas kearah yang lebih baik. Bagi para guru selaku pendidik, penelitian tindakan kelas juga dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja, sehingga mutu pendidikan dan hasil akhir dari tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan maksimal C. Desain Penelitian Arikunto dkk. (2014, hlm. 3) mengemukakan bahwa penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian tidakan kelas yaitu suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Desain penelitian tindakan kelas yang digunakan berbentuk siklus yang mengacu pada model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tahapan-tahapan tersebut dilakukan secara berulang-ulang sampai tujuan dari penelitian tercapai. Adapun gambar desainnya sebagai berikut (Wiriaatmadja, 2008, hlm. 66):

29 Gambar 3.1 Model Kemmis dan Mc. Taggart Alasan peneliti memilih desain penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart ini karena tahapan-tahapan penelitiannya mudah dimengerti dan sistematis sehingga dapat memudahkan penelitian yang akan dilakukan peneliti. Desain penelitian ini tidak terlalu rumit hanya meliputi empat tahapan dalam satu siklus yang terdiri dari perencanaan (plan), tindakan (act), observasi (observ), dan refleksi (reflect). Langkah-langkah tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: a. Perencanaan (plan) Perencanaan merupakan serangkaian tindakan terencana untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Menurut Arikunto (2010, hlm. 138), pada tahap ini menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Dalam tahap ini peneliti akan menyusun serangkaian rencana kegiatan dan tindakan yang akan dilakukan bersama kolaborator untuk mendapatkan hasil yang baik berdasarkan analisa masalah yang didapatkan (Sukardi, 2004, hlm. 213). Pada penelitian ini tahap perencanaan yang disusun adalah : a. Menentukan kelas yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian b. Melakukan observasi pra-penelitian terhadap kelas yang akan digunakan untuk penelitian

30 c. Meminta kesediaan guru untuk menjadi kolaborator peneliti dalam penelitian yang akan dilaksanakan d. Menyusun kesepakatan dengan kolaborator mengenai waktu penelitian e. Mendiskusikan pelaksanaan teknik SQ3R yang akan diterapkan dalam penelitian tindakan kelas f. Menyusun silabus dan rencana pengajaran yang digunakan saat pembelajaran dalam penelitian g. Merencanakan sistem penilaian yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan teknik SQ3R sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah h. Menyusun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian untuk melihat peningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah i. Merencanakan diskusi-balikan yang akan dilakukan bersama kolaborator peneliti j. Membuat rencana untuk melakukan perbaikan sebagai tindak lanjut dari diskusi-balikan yang telah dilakukan dengan mitra peneliti k. Merencanakan pengolahan data dari hasil yang diperoleh dari penelitian b. Tindakan (act) Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan (act). Tahap ini merupakan proses penerapan rancangan dari tahap sebelumnya, yaitu tahap perencanaan (plan). Arikunto (2010, hlm. 139) menyatakan bahwa pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Tindakan yang akan dilakukan pada penelitian ini yakni: a. Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan, yaitu tindakan yang sesuai dengan silabus dan rencana pengajaran yang telah disusun b. Mengoptimalkan penerapan teknik pembelajaran SQ3R dalam kegiatan pembelajaran sejarah c. Mengadakan pengamatan dan penilaian terhadap kegiatan SQ3R d. Mengadakan pengukuran terhadap aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah

31 e. Menggunakan instrumen penelitian yang telah disusun f. Melakukan diskusi-balikan dengan mitra penelitian g. Melakukan revisi tindakan sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi-balikan h. Melaksanakan pengolahan data c. Pengamatan (observe) Sukardi (2004, hlm. 213) menyebutkan bahwa pada penelitian tindakan, observasi mempunyai fungsi mendokumentasikan penerapan tindakan yang diberikan kepada subjek penelitian. Oleh karena itu, observasi harus mempunyai beberapa macam keunggulan seperti memiliki orientasi kedepan, memiliki dasardasar cerminan untuk sekarang dan yang akan datang. Pada tahap ini pelaksanaan observasi atau pengamatan dilakukan bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan. Pada kegiatan observasi ini, peneliti melakukan: a. Pengamatan terhadap keadaan kelas yang diteliti b. Pengamatan mengenai kesesuaian penerapan teknik pembelajaran SQ3R dengan pokok bahasan yang berlangsung c. Pengamatan kesesuaian penerapan teknik pembelajaran SQ3R dengan kaidah-kaidah teoritis yang digunakan d. Mengamati kemampuan guru dan siswa dalam menerapkan teknik pembelajaran SQ3R e. Pengamatan terhadap keterhubungan penerapan teknik pembelajaran SQ3R dengan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah d. Refleksi (reflect) Tahap ini merupakan sarana untuk melakukan pengkajian kembali tindakan yang telah dilakukan terhadap subjek penelitian dan telah dicatat dalam observasi. Menurut Arikunto (2010, hlm. 140), tahap refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Penemuanpenemuan dari tahap refleksi ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam merancang perencanaan (plan) pada siklus selanjutnya. Langkah refleksi ini ditujukan untuk mengevaluasi perencanaan dan langkah tindakan, serta membantu mengidentifikasi berbagai kendala atau permasalahan yang muncul pada saat pelaksanaan tindakan. Selain itu juga dengan adanya refleksi, peneliti dapat

32 menentukan perencanaan dan langkah tindakan selanjutnya yang lebih efektif disesuaikan dengan hasil penelitian dan pengamatan sebelumnya. Pada kegiatan ini peneliti melaksanakan kegiatan diskusi-balikan dengan kolaborator maupun mitra dan siswa setelah tindakan dilakukan, serta merefleksikan hasil diskusibalikan untuk siklus selanjutnya. D. Fokus Penelitian 1. Teknik SQ3R Teknik SQ3R merupakan teknik pembelajaran yang menitikberakan pada aktivitas membaca yang terdiri dari lima tahapan yaitu survey, question, read, recite, dan review, yang dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran, terutama terhadap materi-materi yang sukar untuk dimengerti. Selain itu, teknik SQ3R dapat membantu siswa untuk membiasakan diri belajar secara mandiri untuk mencari informasi dari berbagai sumber tentang materi yang dipelajari, sehingga siswa dituntut untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Sagala (2003, hlm. 59) menyatakan bahwa Teknik SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) adalah teknik membaca buku teks dimulai dengan survey mencari buku-buku yang berkaitan dengan materi ajar, question yang diarahkan untuk membaca (read) kritis yaitu tidak sekedar membaca tapi menemukan jawaban dari pertanyaan peneliti maupun memperkirakan jawaban pertanyaan yang mungkin ditanyakan teman, sedangkan recite dan review adalah penegasan dan pembahasan ulang agar apa yang didapat tidak mudah lupa. Di dalam teknik SQ3R, guru tidak mentransfer ilmunya secara langsung, tetapi melibatkan siswa secara aktif dengan cara membaca dari berbagai sumber. Siswa dilatih untuk memahami materi sejarah yang sedang dipelajari dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran menggunakan teknik SQ3R. Dalam pembelajaran dengan menggunakan teknik SQ3R, materi pembelajaran diberikan oleh guru sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam bentuk bahan bacaan dari buku maupun dalam bentuk artikel. Langkah-langkah teknik SQ3R dalam penelitian ini yaitu: (1) Melakukan survey terhadap isi bacaan; (2) Membuat pertanyaan dari hasil survey; (3) Membaca dari berbagai sumber untuk mencari jawaban; (4) Menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain dan

33 mencatatnya; (5) Mereview seluruh kegiatan membaca dengan menceritakan kembali dan membuat sebuah kesimpulan. 2. Aktivitas Belajar Siswa Aktivitas belajar siswa merupakan serangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan siswa saat belajar. Menurut Gulo (2005, hlm. 78) mengungkapkan bahwa aktivitas belajar adalah seperangkat kegiatan mental intelektual, dari kegiatan yang sederhana sampai yang paling rumit. Aktivitas belajar juga dapat diartikan mengembangkan keterampilan dalam proses memperoleh hasil belajar. Paul B. Diedrich (dalam Nasution, 2010, hlm. 91) membagi kegiatan belajar siswa menjadi 8 kelompok, yaitu: 1. Visual activities seperti membaca, memperhatikan: gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya. 2. Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan interviu, diskusi, interupsi, dan sebagainya. 3. Listening activities seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dan sebagainya. 4. Writing activities seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin dan sebagainya. 5. Drawing activities seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola, dan sebagainya. 6. Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya. 7. Mental activities seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya. 8. Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup, dan sebagainya. Pada penelitian ini penulis mengacu pada pendapat Paul B. Diedrich dan lebih memfokuskan pada empat aktivitas belajar yang akan diteliti, diantaranya (a) aktivitas melihat (visual activities), pada aktivitas ini, siswa membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber tentang materi sejarah yang dipelajari atau belum diketahuinya dalam kegiatan belajar mengajar, (b) aktivitas berbicara (oral activities), pada aktivitas ini, siswa diarahkan untuk saling bertukar pikiran atau pendapat dalam sebuah diskusi kelompok tentang informasi yang telah mereka kumpulkan dari berbagai sumber, (c) aktivitas mendengarkan (listening

34 activities), pada aktivitas ini, siswa dilatih untuk mendengarkan pendapatpendapat dari temannya dalam sebuah diskusi kelompok agar siswa dapat saling menghargai berbagai pendapat yang disampaikan oleh temannya, dan (d) aktivitas menulis (writing activities), pada aktivitas ini, siswa membuat catatan-catatan penting mengenai informasi yang didapatkan dari berbagai sumber tentang materi sejarah yang dipelajari atau belum diketahui dan membuat sebuah kesimpulan dengan menggunakan kata-kata sendiri. E. Pengumpulan Data 1. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data yang berada di lapangan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Catatan Lapangan Catatan lapangan merupakan catatan tertulis berisi tentang segala aktivitas di kelas sehubungan dengan tindakan yang dilakukan guru mengenai apa yang dilihat, didengar dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data. Alasan peneliti memilih instrumen ini karena catatan lapangan ini sangat luas dibandingkan dengan pedoman observasi. Catatan lapangan memuat segala aktivitas yang terjadi selama proses penelitian tindakan kelas. Observer bisa melihat perkembangan-perkembangan aktivitas belajar siswa dari segala sesuatu yang ia lihat, dengar, dan pikirkan. Selain itu, observer dapat mengukur keberhasilan guru menerapkan teknik SQ3R dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa. 2. Pedoman Wawancara Pedoman wawancara berisikan daftar pertanyaan yang akan diajukan pada guru dan siswa. Menurut Denzim (dalam Wiriaatmadja, 2008, hlm. 117) menyatakan bahwa wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu. Alasan peneliti memilih instrumen pedoman wawancara digunakan untuk mengetahui respon maupun pendapat guru dan siswa mengenai proses pelaksanaan pembelajaran sejarah

35 dengan menerapkan teknik SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan begitu, peneliti dapat mengetahui seberapa besar antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah dengan menerapkan teknik SQ3R. 3. Dokumentasi Satori dan Aan (2012, hlm. 146) menjelaskan bahwa secara harfiah dokumen dapat diartikan sebagai catatan kejadian yang sudah lampau. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto-foto dan dokumendokumen penting selama perencanaan sampai proses pembelajaran sebagai data penunjang. Alasan peneliti memilih instrumen ini, karena peneliti ingin mendokumentasikan hal-hal yang penting sebagai bukti dari semua aktivitas yang terjadi di kelas selama proses pembelajaran sejarah dengan menerapkan teknik SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data-data, keterangan, atau informasi yang relevan. Untuk mendapatakan data yang diinginkan, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Observasi Margono (dalam Satori dan Aan, 2012, hlm. 105) mengungkapkan bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Adapun menurut Sanjaya (2009, hlm. 86), observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati. Observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi terbuka dengan tujuan agar pengamat mampu menggambarkan secara utuh atau mampu merekonstruksi proses implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud dalam diskusi balikan (Arikunto, 2010, hlm. 25). 2. Wawancara Sudjana (dalam Satori dan Aan, 2012, hlm. 129) mengungkapkan bahwa wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya dengan pihak yang ditanya atau penjawab. Menurut

36 Sanjaya (2009, hlm. 96), wawancara adalah teknik mengumpulkan data dengan menggunakan bahasa lisan baik secara tatap muka ataupun melalui saluran media tertentu. Dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara lisan yang dilakukan peneliti dengan informan yang dianggap dapat memberikan informasi yang diinginkan. Wawancara dalam penelitian ini untuk mengetahui pendapat atau tanggapan yang diberikan guru dan siswa setelah menggunakan teknik SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah. Peneliti hanya melakukan wawancara pada guru mitra dan beberapa orang siswa yang dianggap sudah mewakili seluruh siswa di kelas. Dengan adanya wawancara ini bisa dijadikan perbaikan untuk proses pembelajaran selanjutnya. 3. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi adalah kegiatan mencatat atau merekam kejadian yang sudah lampau yang dinyataan dalam bentuk lisan, tulisan, maupun dokumendokumen yang dapat menunjang penelitian. Menurut Kurniawati (2006:44) bahwa dokumentasi adalah pengumpulan informasi yang digunakan dalam penelitian, sebagai sumber data yang berkaitan dengan suasana yang terjadi di kelas pada waktu proses pembelajaran pada saat penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan. Dalam penelitian ini, peneliti mendeskripsikan setiap kejadian yang terjadi selama penelitian berlangsung, baik dalam perencanaan maupun proses pembelajaran. Dokumentasi disini bertujuan untuk mengungkapkan fakta atau kenyataan pada saat pelaksanaan tindakan. F. Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data Menurut Hatimah (2000, hlm. 224), pengolahan data adalah suatu proses untuk mendapatkan data dari setiap variabel penelitian yang siap dianalisis. Teknik pengolahan data pada penelitian ini bersifat kualitatif. Pengolahan data tersebut dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: a) Mereduksi data mentah yang telah terkumpul, dalam tahap ini peneliti melakukan pemilahan dan mengklasifikasikannya berdasarkan aspekaspek masalah yang dihadapi kemudian dirangkum agar mudah dipahami; b) Kodifikasi data yang telah direduksi dalam hal ini peneliti memberikan kode tertentu berdasarkan jenis dan sumber datanya, misalnya nama siswa

37 yang diubah menjadi kode tertentu sehingga memudahkan peneliti untuk mengingatnya; c) Kategorisasi data, dilakukan pada data yang telah diberikan kode untuk dianalisis dengan dipilah berdasarkan kategori yang diperlukan yaitu kategori pembagian siswa sesuai dengan aktivitas yang dilakukannya; d) Pengambilan keputusan dan verifikasi yang merupakan tahap akhir dari pengolahan data dan memberi arti yang signifikan terhadap hasil analisis data dengan menjelaskan pola urutan-urutan dan mencari hubungan selama penelitian (Habibi, 2014, hlm. 43). 2. Validitas data Validitas data dilakukan setelah pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui kredibilitas suatu data. Dalam kegiatan validitas data pada penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik triangulasi, member check, dan expert opinion. a. Triangulasi Menurut Elliott (dalam Wiriaatmadja, 2008, hlm. 169), mengemukakan bahwa triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandangan, yakni sudut pandang guru, sudut pandang siswa, dan sudut pandang yang melakukan pengamatan atau observasi. Menurut Sanjaya (2009, hlm. 112) menjelaskan bahwa teknik triangulasi yaitu suatu cara untuk mendapatkan informasi yang akurat dengan menggunakan berbagai teknik agar informasi itu dapat dipercaya kebenarannya sehingga peneliti tidak salah mengambil keputusan. Dalam proses ini peneliti mencek kebenaran data atau informasi yang telah diperoleh dari lapangan yang bersumber dari guru, siswa, dan observer. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. b. Member Check Menurut Wiriaatmadja (2008, hlm. 168) mengemukakan bahwa member check yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara. Ini dilakukan untuk mencek kebenaran dan kesahihan data temuan dengan cara mengkonfirmasi sumber data. Dalam proses ini, data atau informasi tentang seluruh pelaksanaan tindakan yang diperoleh peneliti dikonfirmasi kebenarannya kepada observer melalui diskusi pada setiap akhir pelaksanaan tindakan.

38 c. Expert Opinion Wiriaatmadja (2008, hlm. 171) menjelaskan bahwa expert opinion yaitu meminta nasihat kepada pakar. Pada penelitian tindakan kelas ini, expert opinion dilakukan dengan meminta saran atau nasihat dari dosen pembimbing. Pakar atau pembimbing akan memeriksa semua tahapan kegiatan penelitian, dan memberikan arahan terhadap masalah-masalah penelitian yang terjadi.