BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
|
|
|
- Ida Iskandar
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab terakhir ini akan dijelaskan mengenai mengenai kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan penelitian. Mulai dari perencanaan pembelajaran sejarah dengan menerapkan teknik SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada kelas X MIA 1 di SMA Negeri 1 Parongpong, sampai dengan kendala yang dihadapi oleh guru pada saat menerapkan teknik SQ3R tersebut. Selain itu, dalam bab ini berisi pula mengenai rekomendasi untuk pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian ini. Ini bertujuan agar pihak yang bersangkutan ingin memperbaiki proses pembelajaran sejarah menjadi lebih baik. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di kelas X MIA 1, kondisi awal pembelajaran sejarah sebelum diterapkannya metode kooperatif teknik SQ3R menunjukkan aktivitas belajar siswa yang cenderung rendah. Hal ini terlihat dari masih pasifnya siswa ketika pembelajaran di kelas berlangsung dan peran guru lebih mendominasi pada saat pembelajaran. Materi ajar sejarah lebih banyak dibacakan dari pada dijelaskan. Selain itu, siswa tidak memberikan respon pada saat guru mengajukan pertanyaan ataupun pada saat guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Siswa hanya diam saja dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru selama proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil temuan, analisis, dan pembahasan penelitian tindakan kelas mengenai penerapan teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Parongpong, maka secara garis besar dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya sebagai berikut: Pertama, sebelum metode kooperatif teknik SQ3R diterapkan, peneliti dan guru mitra melakukan perencanaan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pada saat penelitian. Perencanaan ini diawali dengan melakukan observasi untuk menemukan masalah yang terjadi di lapangan. Permasalahan yang terjadi setelah dilakukan observasi ialah kurangnya aktivitas belajar siswa
2 110 dalam pembelajaran sejarah. Pada saat mengikuti proses pembelajaran, siswa cenderung pasif dan pembelajaran masih terpusat pada guru. Proses pembelajaran di kelas seharusnya melibatkan siswa secara langsung, sehingga siswa menjadi aktif dalam belajar. Aktivitas yang diharapkan adalah aktivitas melihat, aktivitas membaca, aktivitas mendengarkan, dan aktivitas menulis. Dari hasil observasi yang telah dilakukan, peneliti dapat melihat bahwa dengan pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher center), maka dapat dilihat bahwa aktivitas belajar siswa terlihat rendah. Setelah melihat kenyataan yang terjadi di lapangan, perlu adanya solusi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti mempersiapkan metode serta teknik pembelajarannya yang dapat membuat siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yaitu dengan menerapkan metode kooperatif teknik SQ3R. Penerapan teknik SQ3R dapat dijadikan salah satu solusi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa saat mengikuti proses pembelajaran sejarah. Karena dalam setiap tahapan teknik SQ3R menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Setelah itu, peneliti mempersiapkan berbagai perangkat penelitian, seperti instrumen penelitian, RPP, format penilaian dan bahan ajar berupa artikel yang berisi tentang gambaran umum dari materi yang akan dipelajari. Kedua, untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode kooperatif teknik SQ3R. Pada pelaksanaannya, guru menyesuaikan dengan kondisi kelas serta kebiasaan siswa yang pasif dalam pembelajaran. Pada saat teknik SQ3R diterapkan, awalnya kondisi kelas tidak kondusif dan siswa tidak terlalu antusias dalam mengikuti pembelajaran, sehingga pada tindakan I tidak terjadi perubahan dan peningkatan yang berarti pada aktivitas belajar siswa. Untuk itu, teknik SQ3R ini sedikit dimodifikasi dalam pelaksanaannya. Tahap survey dan question dilakukan secara bersamaan untuk mengefektifkan waktu dan mengoptimalkan kerjasama siswa dalam kelompok, sehingga semua siswa aktif dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini siswa diberikan artikel yang terkait dengan materi yang sedang dipelajari untuk menunjang siswa melakukan survey bersamaan dengan question. Sedangkan tahap yang lain yaitu read, recite, dan review tidak mengalami perubahan dalam pelaksanaannya. Setelah dilakukannya
3 111 modifikasi dan siswa sudah terbiasa dengan penggunaan teknik SQ3R, maka aktivitas belajar siswa semakin meningkat. Selain itu, siswa terlihat semakin antusias dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, sehingga suasana kelas menjadi hidup. Ketiga, penerapan metode kooperatif teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah dapat membuat aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukan dari sikap positif siswa yang terus berusaha untuk memahami dan lebih aktif dalam mengikuti setiap proses pembelajaran dengan menggunakan teknik SQ3R. Sikap positif yang ditunjukkan oleh siswa terhadap penerapan teknik SQ3R sejalan dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa di kelas. Hal ini disebabkan karena adanya keinginan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, adanya keinginan untuk kerjasama dalam melaksanakan setiap tahapan teknik SQ3R, dan juga sikap saling menghargai antar siswa maupun antar kelompok sehingga terciptanya suasana belajar yang diharapkan. Keempat, selain keberhasilan dari peningkatan aktivitas belajar siswa tersebut, dalam penelitian ini ditemukan juga berbagai kendala yang cukup berpengaruh terhadap penerapan metode kooperatif teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Kendalakendala tersebut muncul karena teknik SQ3R merupakan teknik pembelajaran yang baru bagi siswa sehingga siswa belum terbiasa. Selain itu, pembelajaran sejarah dengan menggunakan teknik SQ3R ini menuntut mereka untuk melakukan sesuatu yang baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, seperti melakukan survey kemudian membuat pertanyaan. Siswa dituntut untuk bekerja keras dalam mencari dan menemukan sendiri materi yang ingin mereka ketahui lebih lanjut. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi berbagai kendala tersebut diantaranya adalah, guru memberikan penjelasan dengan lebih rinci mengenai tahapan-tahapan teknik SQ3R sebelum melaksanakan proses pembelajaran sejarah dengan menggunakan teknik SQ3R, agar siswa dapat memahami setiap tahapan yang harus mereka lakukan sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Kemudian guru harus memberikan perhatian lebih kepada siswa yang kurang aktif agar ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu juga, siswa yang merasa malu dan diam saat proses
4 112 diskusi, harus lebih diberikan motivasi untuk berani berpendapat sehingga siswa dapat terbiasa berbicara di depan teman-temannya. 5.2 Saran Penerapan metode kooperatif teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa merupakan salah satu teknik pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sejarah pada saat ini. Peneliti melihat bahwa perlu adanya sebuah upaya untuk mengubah suasana belajar terutama dalam pembelajaran sejarah, menjadi sebuah proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan yang dapat membuat siswa terlibat secara aktif dalam setiap rangkaian kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru saja saat berada di kelas. Mengacu pada pembahasan mengenai penerapan teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Parongpong, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi siswa Siswa diharapkan dapat lebih memilki semangat, antusias, dan inisiatif serta berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran baik yang dilakukan secara individu maupun secara kelompok. Siswa juga harus lebih berani dan percaya diri untuk berbicara dalam mengemukakan pendapat maupun pada saat menyampaikan hasil diskusi pada saat presentasi. 2. Bagi guru Guru harus lebih optimal dalam memfasilitasi siswa belajar dengan menggunakan teknik SQ3R. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, agar suasana kelas menjadi lebih hidup sehingga siswa tidak merasa jenuh saat mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, guru juga hendaknya mengenal dan memahami lebih dekat karakter kelas, terutama karakter siswa. Hal ini dapat membuat guru lebih mudah untuk mengajak siswa untuk ikut berperan aktif dalam proses pembelajarah sejarah di kelas.
5 Bagi sekolah Penggunaan teknik SQ3R ini dapat dijadikan referensi bagi guru-guru sejarah di sekolah sebagai salah satu teknik pembelajaran, karena dengan menggunakan teknik SQ3R dalam pembelajaran sejarah, siswa terlihat lebih aktifa dan memiliki antusias untuk belajar. Selain itu, pihak sekolah harus memfasilitasi sarana dan prasarana untuk agar proses pembelajaran di kelas menjadi lebih maksimal. 4. Bagi peneliti selanjutnya Peneliti harus menganalisis kembali berbagai kendala yang dihadapi oleh peneliti sebelumnya dalam menerapkan teknik SQ3R. Hal ini sebagai bentuk gambaran bagi peneliti selanjutnya agar mempersiapkan penelitiannya dnegan lebih baik lagi, agar kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti sebelumnya dapat diperbaiki.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan berisi kesimpulan dan saran yang diajukan oleh peneliti kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian yang telah dilaksanakan. Berdasarkan dari hasil pengamatan,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SMA Negeri 1 Parongpong yang lokasinya terletak di Jl. Cihanjuang Rahayu No.39, Bandung
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan berisi kesimpulan dan saran yang diajukan oleh peneliti kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian yang telah dilaksanakan. Berdasarkan dari hasil pengamatan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mendengarkan adalah salah satu komponen kecakapan yang dimiliki oleh seseorang ketika mereka memiliki kecakapan interpersonal skills yang baik. Sebuah komunikasi yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan kepada pemaparan hasil penelitian yang sudah disajikan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa: Pertama, penerapan metode diskusi kelompok
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran
BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 152 A. Simpulan... 152 B. Saran... 154 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan terhadap data proses dan hasil pelaksanaan tindakan dengan menerapkan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. kondisi pembelajaran awal siswa sebelum diterapkan metode pembelajaran
132 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dibuat peneliti mengacu pada permasalahan: pertama, kondisi pembelajaran awal siswa sebelum diterapkan metode pembelajaran cooperative learning
SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Biologi
PENINGKATAN KETERAMPILAN METAKOGNITIF DENGAN MENGGUNAKAN METODE SQ3R PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS VIIA SMP MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan
PENDAHULUAN. Jurusan Fisika FMIPA UNNES Jl. Raya Sekaran, Gunungpati Semarang. Masykur, dkk., Penerapan Metode SQ3R Dalam Pemb 73
PENERAPAN METODE SQ3R DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN TATA SURYA PADA SISWA KELAS VII SMP Masykur, Siti Khanafiyah, Langlang Handayani Jurusan Fisika
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu sektor yang paling penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional. Melalui sektor pendidikan dapat dibentuk manusia yang berkualitas, berakhlak
DALAM PEMBELAJARAN AKTIF STUDENT CREATED CASE STUDIES
PENERAPAN FLIP CHART DALAM PEMBELAJARAN AKTIF STUDENT CREATED CASE STUDIES UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS XI IPA 4 SMA NEGERI 4 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010
I. PENDAHULUAN. kegiatan untuk membelajarkan peserta didik (Warsita, 2008: 85).
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik (Warsita, 2008: 85). Model Pembelajaran adalah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode bermain peran dalam mengatasi masalah belajar siswa memerankan
PENERAPAN DISKUSI KELOMPOK
PENERAPAN DISKUSI KELOMPOK DISERTAI TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS ORAL DAN KEMANDIRIAN BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X-J SMA NEGERI 1 KARTASURA SKRIPSI Oleh : ANI SUGIHARTI NIM. K 4305002 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berbicara tentang pendidikan, berarti membicarakan tentang hidup dan kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berbicara tentang pendidikan, berarti membicarakan tentang hidup dan kehidupan manusia. Sebaliknya, berbicara tentang kehidupan manusia berarti harus mempersoalkan
BAB I PENDAHULUAN. yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Anonim 2008). pembelajaran saat pembelajaran berlangsung.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang dalam rangka meningkatkan kecerdasan intrapersonal peserta
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sebenarnya di lapangan sebagai data awal siswa sebelum peneliti
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Pra Siklus Tahap pra siklus dilakukan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya di lapangan sebagai data awal siswa sebelum peneliti melakukan
PENINGKATAN PARTISIPASI DAN MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI MELALUI ACTION LEARNING PADA SISWA KELAS X.6 SMAN 5 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010.
PENINGKATAN PARTISIPASI DAN MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI MELALUI ACTION LEARNING PADA SISWA KELAS X.6 SMAN 5 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Skripsi OLEH: ASTRI ASTUTI K 4305006 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN. pembelajaran PKn yang dilaksanakan di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 4 Cimahi
127 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis, refleksi, diskusi balikan, serta rencana tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus, mulai dari siklus I sampai siklus III
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap kegiatan pembelajaran tidak pernah terlepas dari kegiatan membaca dan menulis. Setiap siswa diharapkan dapat melakukan kegiatan tersebut dengan baik
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII-D SMP Negeri 40 Bandung mengenai
150 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan, analisis, refleksi dan perencanaan terhadap setiap tindakan yang dilakukan mulai dari siklus I, II dan III pada pembelajaran Pendidikan
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan Kelas yang di gunakan untuk penelitian adalah kelas IV yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan, dengan guru kelas yang bernama
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, sehingga diperlukan suatu pendidikan yang berkualitas. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi kehidupan manusia. Melalui proses pendidikan manusia dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang ada dalam dirinya. Dalam
UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN KEAKTIFAN BERKOMUNIKASI SISWA DENGAN STRATEGI SNOWBALL THROWING
UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN KEAKTIFAN BERKOMUNIKASI SISWA DENGAN STRATEGI SNOWBALL THROWING PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS X3 SMAN 1 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Oleh: Hardani Endarwati
BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Hasil
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk menciptakan proses pembelajaran yang baik maka perlu adanya suatu tujuan yang jelas. Tujuan dalam kegiatan pembelajaran yaitu menciptakan suasana belajar yang
BAB I PENDAHULUAN. Dalam mempelajari fisika siswa tidak hanya dituntut dalam menghafal rumus yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fisika adalah pelajaran yang sulit dipahami oleh sebagian besar siswa. Dalam mempelajari fisika siswa tidak hanya dituntut dalam menghafal rumus yang diberikan, namun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan gerbang untuk membentuk karakter masyarakat yang dapat bersifat formal maupun non-formal. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. setiap tindakan yang dilakukan mulai dari siklus I, II dan III pada pembelajaran
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan, analisis, refleksi dan perencanaan terhadap setiap tindakan yang dilakukan mulai dari siklus I, II dan III pada pembelajaran Pendidikan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. menerapkan model pembelajaran kooperatif struktural tipe mind mapping
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Penerapan model pembelajaran struktural tipe mind mapping dengan media flash cards
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika
BAB I. aktivitas guru sebagai pengajar. Siswa dapat dikatakan belajar dengan aktif
BAB I A. Latar Belakang Proses pembelajaran merupakan aktivitas peserta didik bukan aktivitas guru sebagai pengajar. Siswa dapat dikatakan belajar dengan aktif apabila mereka telah mendominasi aktivitas
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Kemampuan bertanya siswa dalam pendekatan pembelajaran saintifik Kurikulum 2013 di Sekolah Dasaryang didasarkan atas frekuensi pertanyaan dan tingkatan
2015 PENGGUNAAN METODE SHOW AND TELL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SEKOLAH DASAR
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran membaca mempunyai peranan penting dalam membekali anak didik sekolah dasar. Dalam pembelajaran membaca guru dapat memilih wacana- wacana yang memudahkan
I. PENDAHULUAN. umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut BSNP, pelajaran Biologi termasuk dalam rumpun ilmu IPA yang umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya di dalam menghasilkan peserta
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pembelajaran menurut Asmani (2012:17) merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Sedangkan menurut
BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Meningkatan hasil belajar bagi siswa yang kurang mampu dalam memahami mata pelajaran biologi merupakan penelitian tindakan kelas yang direncanakan pelaksanaannya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Daerah Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Gedong 01, berada di Dusun Banyudono RT 02 RW 09 Desa Gedong, Kecamatan Bayubiru, Kabupaten
BAB 1 PENDAHULUAN. Kemampuan tersebut sudah diperoleh ketika ia sudah mulai belajar berbicara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya, setiap orang memiliki kemampuan berbicara. Kemampuan tersebut sudah diperoleh ketika ia sudah mulai belajar berbicara semasa kecil. Hanya saja,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik mampu mendukung pembangunan di masa mendatang, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan
BAB I PENDAHULUAN. Seorang guru dituntut untuk memiliki dan menguasai keterampilan dasar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seorang guru dituntut untuk memiliki dan menguasai keterampilan dasar mengajar. Terdapat delapan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh seorang
BAB I PENDAHULUAN. pula pembelajaran bahasa-bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, bahasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran bahasa di Indonesia dewasa ini tidak hanya mencakup pembelajaran bahasa nasional dan bahasa lokal saja, namun telah berkembang pula pembelajaran
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus siklus yang
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil penelitian Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus siklus yang dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas. Pada pelaksanaan penelitian
BAB I PENDAHULUAN. kritis, kreatif dan mampu bersaing menghadapi tantangan di era globalisasi nantinya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan pemegang peran utama dalam proses pembelajaran karena guru mempunyai peranan penting dalam keberhasilan siswa menerima dan menguasai pelajaran
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Penerapan model Think Talk Write
Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengelompokan Hewan Berdasarkan Makanannya Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD di Kelas IV SD Negeri 2 Wombo
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 8 ISSN 2354-614X Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengelompokan Hewan Berdasarkan Makanannya Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD di Kelas IV SD Negeri 2 Wombo
Oleh ; Ria Fajrin Rizqy Ana Dosen STKIP PGRI Tulungagung
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SDN KENDALREJO 01 KECAMATAN TALUN KABUPATEN BLITAR Oleh ; Ria Fajrin Rizqy Ana Dosen STKIP PGRI
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai bagian kehidupan masyarakat dunia pada era global harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan sebagai bagian kehidupan masyarakat dunia pada era global harus dapat memberi dan
BAB I PENDAHULUAN. bidang kehidupan salah satunya adalah bidang pendidikan. proses pembelajaran agar siswa secara aktif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat dan canggih didukung pula oleh arus globalisasi yang semakin hebat. Fenomena tersebut
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran dan Subyek Penelitian Sekolah Dasar Negeri Suruh 02 berlokasi di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Subyek dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya, dengan demikian akan menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa Indonesia secara umum mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi sosial. Pada dasarnya bahasa erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai anggota
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan formal bertambah dari tahun ke tahun. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya
BAB 1 PENDAHULUAN. Keterampilan berbicara sangat diperlukan untuk berkomunikasi lisan.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keterampilan berbicara sangat diperlukan untuk berkomunikasi lisan. Akan tetapi, apabila kegiatan berkomunikasi terjadi tanpa diawali keterampilan berbicara
BAB I PENDAHULUAN. menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang menjadikan peserta
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dalam kehidupannya tidak pernah berhenti untuk belajar baik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam kehidupannya tidak pernah berhenti untuk belajar baik di bangku sekolah, keluarga maupun masyarakat karena sesuai ungkapan yang ada bahwa pengalaman
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Tindakan Penelitian ini berlangsung sebanyak 4 (empat) tahapan, yaiu; pra siklus, siklus I, siklus II, dan siklus III. Penelitian dilaksanakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Guru merupakan salah satu unsur yang penting dalam proses belajar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan salah satu unsur yang penting dalam proses belajar mengajar, guru berperan sebagai pendidik yang menyalurkan ilmu sekaligus menjadi pembimbing
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Reciprocal Teaching pada siswa kelas XI IPA di SMA Kartika Siliwangi 3
183 BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN Pada bab kelima ini, penulis akan menyajikan simpulan dan saran dari penelitian keterampilan berbicara pada forum diskusi dengan menggunakan model Reciprocal pada siswa kelas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu melalui meningkatkan produktivitas tenaga kerja terdidik. Disamping
BAB I PENDAHULUAN. pembuatan keputusan dengan cepat dan tepat waktu (frinaldi dan embi, 2011).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberanian diartikan sebagai sifat yang berani menanggung resiko dalam pembuatan keputusan dengan cepat dan tepat waktu (frinaldi dan embi, 2011). Sifat keberanian seseorang
MEIDITA CAHYANINGTYAS K
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK BERKIRIM SALAM DAN SOAL UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 MEIDITA CAHYANINGTYAS
NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar SUSANTI A
PENERAPAN STRATEGI SURVEY, QUETION, READ, RECITE AND REVIEW (SQ3R) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS IV DI SD NEGERI NGLOROG 5 SRAGEN NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa 5.1.1 Rencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kondisi awal Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas 5 SD Negeri 3 Karangwuni pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah
BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 siswa di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan temuan penelitian dan analisis hasil penelitian tentang
72 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian dan analisis hasil penelitian tentang Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan inklusivitas
TABEL TRIANGULASI WAWANCARA OBSERVER GURU MITRA SISWA. picture?
TABEL TRIANGULASI WAWANCARA OBSERVER GURU MITRA SISWA 1. Bagaimana kondisi 1. Bagaimana kondisi 1. Bagaimana kondisi awal awal PKn awal PKn PKn di kelas X MIA di kelas X MIA 5 SMA di kelas X MIA 5 SMA
BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Jepang, kita mengenal
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Jepang, kita mengenal empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat
BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari, oleh siswa dimulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada jenjang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
PENERAPAN STRATEGI ACTIVE LEARNING
PENERAPAN STRATEGI ACTIVE LEARNING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI KELAS X SMAN 7 KOTA TANGERANG SELATAN (Penelitian Tindakan Kelas di SMAN 7 Kota Tangerang
SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS DAN KEAKTIFAN SISWA MELALUI METODE SNOWBALL THROWING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (PTK Pada Siswa Kelas X SMA PGRI 1 Karangmalang Sragen) SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Pada pembelajaran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat keterampilan yang harus dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik. Keempat keterampilan tersebut yaitu keterampilan
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan berkembang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bidang yang sangat berpengaruh untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan berkembang seiring dengan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. sitematis ke arah perubahan tingkah laku menuju kedewasaan peserta didik.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meskipun sebagian dari kita mengetahui tentang apa itu pendidikan, tetapi terdapat bermacam-macam pengertian tentang pendidikan. Pendidikan atau pengajaran merupakan
BAB I PENDAHULUAN. konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan. Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS ARGUMENTASI DENGAN TEKNIK SQ3R PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 GATAK SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2009/2010
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS ARGUMENTASI DENGAN TEKNIK SQ3R PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 GATAK SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai
2014 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI TULISAN DAN PENGUASAAN KONSEP SISTEM EKSKRESI SISWA KELAS XI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dalam pandangan tradisional selama beberapa dekade dipahami sebagai bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan kepada masyarakat. Namun demikian pendidikan
