HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN. ph 5,12 Total Volatile Solids (TVS) 0,425%

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN BIOGAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan tidak akan jadi masalah jika jumlah yang dihasilkan sedikit. Bahaya

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Persiapan Bahan Baku

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan Total Bakteri Anaerob

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu gas yang sebagian besar berupa metan (yang memiliki sifat mudah terbakar)

TINJAUAN PUSTAKA. Fresh Fruit Bunch (FFB) Loading ramp. Steriliser. Stripper. Digester. Press. Oil. Vacuum Dryer Hydrocyclone

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

ANALISIS PERAN LIMBAH SAYURAN DAN LIMBAH CAIR TAHU PADA PRODUKSI BIOGAS BERBASIS KOTORAN SAPI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERMEN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Fresh Fruit Bunch (FFB) Loading ramp. Steriliser. Stripper. Digester. Press. Oil. Vacuum Dryer Hydrocyclone

PROSES PEMBENTUKAN BIOGAS

3 METODOLOGI 3.1 WAKTU DAN TEMPAT 3.2 BAHAN DAN ALAT 3.3 TAHAPAN PENELITIAN Pengambilan Bahan Baku Analisis Bahan Baku

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Uji Pembentukan Biogas dari Sampah Pasar Dengan Penambahan Kotoran Ayam

KAJIAN KEPUSTAKAAN. ciri-ciri sapi pedaging adalah tubuh besar, berbentuk persegi empat atau balok,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik -1- Universitas Diponegoro

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

Adelia Zelika ( ) Lulu Mahmuda ( )

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh Penambahan Kotoran Sapi Perah Terhadap Nilai ph

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Bel akang

Macam macam mikroba pada biogas

III. METODE PENELITIAN

LAPORAN PENELITIAN BIOGAS DARI CAMPURAN AMPAS TAHU DAN KOTORAN SAPI : EFEK KOMPOSISI

Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan sumber energi fosil yang semakin menipis, sedangkan

Pengembangan Anaerobic Digester Untuk Produksi Biogas Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

PRODUKSI BIOGAS DARI PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) DENGAN PENAMBAHAN KOTORAN SAPI POTONG SEBAGAI AKTIVATOR SKRIPSI RESTIYANA AGUSTINE

PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH CAIR PABRIK MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN MENGGUNAKAN DIGESTER DUA TAHAP SKRIPSI AMALIA FITRIA F

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob menggunakan Sistem Batch

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hewani yang sangat dibutuhkan untuk tubuh. Hasil dari usaha peternakan terdiri

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga bulan Oktober 2014 dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

SNTMUT ISBN:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DA PEMBAHASA. Tabel 5. Analisis komposisi bahan baku kompos Bahan Baku Analisis

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus 2015 dan bertempat di

menjaga kestabilan kondisi rumen dari pengaruh aktivitas fermentasi. Menurut Ensminger et al. (1990) bahwa waktu pengambilan cairan rumen berpengaruh

Studi Atas Kinerja Biopan dalam Reduksi Bahan Organik: Kasus Aliran Sirkulasi dan Proses Sinambung

PROSIDING SNTK TOPI 2013 ISSN Pekanbaru, 27 November 2013

SISTEM SIRKULASI LINDI PADA DIGESTER ANAEROBIK UNTUK PRODUKSI BIOGAS DARI LIMBAH SAYURAN SAPTO PUJO SEJATI

BAB I PENDAHULUAN. Peruraian anaerobik (anaerobic digestion) merupakan salah satu metode

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A PENGEMBANGAN PROSES DEGRADASI SAMPAH ORGANIK UNTUK PRODUKSI BIOGAS DAN PUPUK

BAB II LANDASAN TEORI

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman

TINJAUAN LITERATUR. Biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerob (tertutup dari

BAB I PENDAHULUAN. Limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) merupakan salah satu produk

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI BIOETANOL MELALUI PROSES ANAEROB (FERMENTASI)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

1 Security Printing merupakan bidang industri percetakan yang berhubungan dengan pencetakan beberapa

BAB 5 PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES FILM MIKROBIOLOGIS (BIOFILM)

SCIENTIFIC CONFERENCE OF ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY IX

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Biogas

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik. Oleh: DWI RAMADHANI D

PENGARUH HRT DAN BEBAN COD TERHADAP PEMBENTUKAN GAS METHAN PADA PROSES ANAEROBIC DIGESTION MENGGUNAKAN LIMBAH PADAT TEPUNG TAPIOKA

Nama : Putri Kendaliman Wulandari NPM : Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, M.T Ratih Wulandari, S.T, M.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Produksi gasbio menggunakan Limbah Sayuran

PEMBUATAN BIOGAS dari LIMBAH PETERNAKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN A PROSEDUR PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan

I. PENDAHULUAN. Sebenarnya kebijakan pemanfaatan sumber energi terbarukan pada tataran lebih

Bakteri Untuk Biogas ( Bag.2 ) Proses Biogas

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. kita pada krisis energi dan masalah lingkungan. Menipisnya cadangan bahan

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

Bab V Hasil dan Pembahasan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Juli 2015 di Laboratorium Daya dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dilakukan mulai. Bahan dan Alat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Awal Bahan Baku Pembuatan Biogas Analisis bahan baku biogas dan analisis bahan campuran yang digunakan pada biogas meliputi P 90 A 10 (90% POME : 10% Aktivator), P 80 A 20 (80% POME : 20% Aktivator) dan P 70 A 30 (70% POME : 30% Aktivator) yang dilakukan meliputi ph, TVS, Rasio C/N, BOD dan COD. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Analisis Bahan Baku Masukan Biogas Parameter Satuan POME P 90 A 10 P 80 A 20 P 70 A 30 ph - 4,53 4,72 4,86 5,19 TVS mg/l 11.600 11.900 11.900 11.400 C/N - 9,32 15,98 15,94 15,27 BOD mg/l 756 1.344 1.092 2.519 COD mg/l 2.162 2.714 2.438 6.578 Hasil analisis menunjukkan POME memiliki kandungan TVS sebesar 1,16% atau 11.600 mg/l, dimana nilai ini lebih rendah dari nilai TVS yang dikemukakan oleh Lang (2007) yaitu sebesar 34.000 mg/l. Selain itu, rasio C/N pada POME lebih rendah dibandingkan hasil penelitian Agustine (2011) yaitu sebesar 43,63. Kisaran rasio C/N yang optimal menurut Deublein & Steinhausher (2008) adalah 16:1 25:1. Hasil analisis awal POME yang ditambahkan aktivator sebagai bahan masukan biogas menunjukkan bahwa kandungan TVS pada P 90 A 10 dan P 80 A 20 meningkat yaitu 11.900 mg/l dibandingkan TVS pada POME murni yaitu sebesar 11.600 mg/l, sedangkan pada P 70 A 30 TVS mengalami penurunan yaitu 11.400 mg/l. Kandungan TVS dipengaruhi oleh jumlah bahan organik yang terkandung di dalam bahan masukan. Semakin banyak bahan organik yang terkandung di dalamnya, maka semakin tinggi pula VFA yang diproduksi. VFA yang terlalu tinggi akan mempengaruhi nilai ph. Apabila ph terganggu, maka dapat menghambat aktivitas bakteri pembentuk metana (Gerardi, 2003). Kandungan TVS pada P 70 A 30 lebih rendah dibandingkan dengan kandungan TVS pada P 90 A 10 dan P 80 A 20, rendahnya nilai TVS ini karena P 70 A 30 memiliki jumlah aktivator yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan yang lain, sehingga bahan organik yang ada di dalam P 70 A 30 digunakan untuk kebutuhan mikroorganisme di dalam bahan masukan tersebut. TVS meningkat disebabkan karena bahan campuran yang digunakan sebagai aktivator adalah sludge biogas dari campuran POME dan kotoran sapi 23

potong. Lumpur kotoran sapi memiliki kandungan volatile solids (VS) sebesar 75-85% (Harikishan, 2008). Rasio C/N yang dihasilkan setelah dilakukan analisis menunjukkan peningkatan yaitu 15,98; 15,94 dan 15,27 dibandingkan dengan rasio C/N pada analisis POME murni yaitu 9,32. Rasio C/N dari bahan organik menentukan aktivitas mikroorganisme dalam memproduksi biogas. Rasio C/N pada P 70 A 30 lebih rendah karena aktivator yang ada dalam perlakuan tersebut jumlahnya lebih banyak sehingga C/N yang ada di dalam bahan masukan tersebut digunakan oleh mikroorganisme untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasio C/N yang optimal adalah antara 20:1 dan 30:1 (Stafford et al., 1980). Apabila rasio C/N lebih besar dari 30, maka unsur C berlebih, sedangkan unsur N sedikit, maka saat fermentasi berlangsung N telah habis untuk memenuhi kebutuhan mikroba dan akan diikuti dengan menurunnya produksi biogas. Lumpur dari digester yang telah aktif menghasilkan biogas dipilih sebagai campuran karena telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan fermentasi sehingga dapat mempersingkat waktu adaptasi bakteri (Gerardi, 2003). Nilai ph Derajat keasaman (ph) adalah ukuran keasaman atau kebasaan dari suatu bahan. Bakteri metanogen sangat sensitif terhadap perubahan ph lingkungan. Hubungan antara nilai ph yang dihasilkan dalam digester terhadap waktu perombakan bahan organik dapat dilihat pada Gambar 10. ph 7.50 7.00 6.50 6.00 5.50 5.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Hari ke- P90A10 P80A20 P70A30 Gambar 10. Grafik Nilai ph Selama Penelitian Nilai ph terbaik dalam memproduksi biogas berkisar antara 7. Apabila nilai ph di bawah 6,5, aktivitas bakteri metanogen akan menurun dan ph di bawah 5, 24

aktivitas fermentasi akan terhenti (Yani & Darwis, 1990). Untuk mempertahankan ph berkisar antara 6,8-8,5 perlu ditambahkan kapasitas penyangga (buffer capacity) seperti ammonium hidroksida, larutan kapur, natrium karbonat dan lain-lain (Bitton,1999). Gambar 10 menunjukan kisaran ph yang terdapat dalam digester. Kisaran ph pada P 90 A 10, P 80 A 20 dan P 70 A 30 masing-masing adalah 5,33-6,67; 5,67-6,67 dan 6-7. Selama penelitian ph mengalami penurunan dari hari ke hari. Penurunan ph ini menunjukkan tingginya konsentrasi asetat yang dapat menghambat perombakan (Mahajoeno, 2008). Kisaran ph yang rendah menunjukkan bahwa pada perlakuan ini proses pembentukan asam masih terjadi. Penurunan ph secara tiba-tiba menandakan terjadinya gangguan pada proses fermentasi (Deublein & Steinhausher., 2008). Pada awal reaksi fermentasi anaerobik, nilai ph akan menurun seiring produksi VFA. Setelah itu, bakteri pembentuk methan akan mengkonsumsi VFA dan alkalinitas diproduksi, ph akan meningkat dan mencapai kestabilan (Gerardi, 2003). Nilai ph pada fase asidogenesis dapat mengalami penurunan hingga hanya bernilai 3,2, sedangkan ph pada fase metanogenesis berada di kondisi stabil yaitu antara 7,2-7,4, dimana hal ini normal terjadi pada proses anaerobik (Li et al., 2009). Suhu Suhu memiliki pengaruh penting terhadap laju perombakan bahan organik menjadi biogas. Pengaruh ini terutama berkaitan dengan aktivitas dan laju pertumbuhan mikroba di dalam digester. Suhu yang diukur pada digester selama 40 hari penelitian ditampilkan pada Gambar 11. Suhu 28.50 27.50 26.50 25.50 24.50 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Hari ke- P90A10 P80A20 P70A30 Gambar 11. Grafik Suhu Selama Penelitian 25

Kisaran suhu dalam digester yang dicapai pada semua perlakuan berkisar antara 25-28 o C. Besarnya kisaran suhu yang dicapai dipengaruhi oleh suhu ruang, dimana selama penelitian berlangsung tercatat suhu maksimal adalah 28.33 o C pada perlakuan P 70 A 30. Suhu yang dicapai selama penelitian berada di bawah suhu mesophilic (30-40 o C). Hal ini tidak berpengaruh pada terjadinya proses metanogenesis karena proses metanogenesis masih dapat terjadi bahkan pada suhu 4 o C (Price & Cheremisinoff, 1981). Pengklasifikasi bakteri berdasarkan suhu dalam fermentasi anaerobik terbagi menjadi tiga, yaitu psychrophilic (10-20 C), mesophilic (20-40 C) dan thermophilic (40-60 C) (Drapcho et al., 2008). Menurut Sahidu (1983), suhu optimum pertumbuhan bakteri anaerobik berkisar antara 30-35 C, sedangkan menurut Kadir (1987), suhu yang baik untuk proses fermentasi anaerobik berkisar antara 30-55 C. Namun, sebagian bakteri mampu untuk memproduksi metana pada tingkat suhu yang sangat rendah (0,6-1,2 C). Pada umumnya suhu terendah dimana mikoorganisme tumbuh adalah -11 C, dibawah -25 C aktivitas enzim akan terhenti (Deublein & Steinhausher., 2008). Produksi biogas lebih cepat pada suhu thermophilic dibandingkan dengan mesophilic, tetapi tidak boleh terjadi perubahan suhu secara mendadak. Fluktuasi suhu pada digester harus sekecil mungkin, <1 C per hari untuk thermophilic dan <2-3 C per hari untuk mesophilic. Fluktuasi suhu akan berpengaruh terhadap aktivitas bakteri pembentuk metana (Gerardi, 2003). Kandungan Total Volatile Solids (TVS) Total Volatile Solids (TVS) dapat diartikan sebagai parameter pendegradasian bahan organik yang dapat dikonversi menjadi biogas, oleh karena itu, dilakukan analisis kembali untuk mengetahui kandungan TVS pada hari ke-40, sehingga dapat diketahui perubahan kandungan yang terjadi. Hasil analisis kandungan TVS pada hari ke-40 dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Analisis Kandungan TVS pada Hari Ke-40 Perlakuan Nilai TVS -------------- mg/l ----------- P 90 A 10 5000 ± 985 P 80 A 20 4167 ± 971 P 70 A 30 4600 ± 1127 26

Kandungan TVS pada hari ke-40 ini tidak berbeda nyata. Artinya kandungan TVS pada setiap perlakuan tidak dipengaruhi komposisi campuran yang berbeda. Hasil pengukuran TVS akhir memperlihatkan bahwa kandungan TVS pada hari ke- 40 ini mengalami penurunan dibandingkan dengan kandungan TVS awal. Artinya kandungan TVS pada bahan awal digunakan dalam pembentukan gas metana oleh mikroorganisme sehingga TVS akhirnya mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan pendapat Li et al. (2009) yang menyatakan bahwa biogas diproduksi dari hasil konversi bahan organik dengan bantuan mikroorganisme anaerobik, dengan adanya konversi ini maka jumlah bahan organik akan mengalami penurunan. Hasil analisis TVS pada hari ke-40 menunjukan bahwa nilai TVS pada P 80 A 20 lebih rendah dibandingkan dengan nilai TVS pada perlakuan P 90 A 10 dan P 70 A 30. Hal ini di sebabkan karena mikroorganisme memanfaatkan kandungan TVS dalam bahan organik tersebut secara optimal untuk kebutuhannya. Produksi Biogas Produksi biogas merupakan hasil dari proses perombakan bahan organik secara anaerob. Produksi gas dari POME dengan penambahan sludge biogas dari campuran kotoran sapi potong dan POME dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Pengukuran Produksi Biogas pada Setiap Perlakuan Perlakuan POME+Aktivator Waktu Perombakan Bahan Organik (Hari) Volume Gas (Liter) 90 : 10 40 7,99 ± 0,20 80 : 20 40 3,14 ± 0,11 70 : 30 40 8,28 ± 0,18 Pengukuran produksi gas diukur menggunakan alat gas flowmeter dan stopwatch. Gas flowmeter merupakan alat untuk mengetahui laju alir gas dengan satuan liter/menit, sedangkan untuk mengetahui produksi gas per hari dilakukan pengalian antara hasil pengukuran gas flowmeter dan waktu yang tercatat oleh stopwatch. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 12. 27

Gambar 12. Proses Pengukuran Produksi Biogas dan Uji Nyala Korelasi antara waktu perombakan bahan organik (X) dan produksi biogas (Y) pada masing-masing perlakuan yang terdapat dalam digester dapat dijelaskan menggunakan grafik produksi biogas. Grafik produksi biogas pada substrat yang terbuat dari 90% POME dan 10% aktivator dapat dilihat pada Gambar 13. 0.900 0.800 Gas Menyala 0.700 y = 0.000x2-0.007x + 0.063 r = 0.842 Produksi Gas 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0.000-0.100 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Hari kegambar 13. Grafik Hubungan antara Waktu Perombakan Bahan Organik dan Produksi Biogas pada P90A10 Hasil pengukuran produksi biogas pada Gambar 13 digester menunjukan bahwa produksi biogas mulai dihasilkan pada hari ke-5 namun biogas yang dihasilkan belum menyala karena kandungan metana masih rendah dibandingkan gas lain dalam biogas. Biogas menyala pada hari ke-15. Biogas setidaknya mengandung 45% metana agar dapat menyalakan api (Deublein & Steinhausher., 2008). Grafik hubungan antara waktu perombakan bahan organik (X) dan produksi 28

gas (Y) menunjukkan persamaan regresi kuadratik yaitu Y = 0,000x 2 0,007x + 0.063 dan berkorelasi positif dengan koefisien korelasi sebesar 0,842. Analisis ragam menunjukkan bahwa hubungan keduanya berbeda nyata. Total produksi gas yang dihasilkan dari perlakuan P 90 A 10 adalah 7,99 liter. Rasio C/N yang optimal adalah antara 20:1 dan 30:1 (Stafford et al., 1980). Menurut Simamora et al. (2006) bahwa imbangan C/N yang optimum bagi mikroorganisme perombak adalah 20-25. C/N yang tidak optimum dapat mengganggu proses pembentukan biogas, karena substrat yang mengandung C/N terlalu rendah akan meningkatkan produksi ammonia dan menghambat produksi metana. C/N yang terlalu tinggi mengindikasikan terlalu sedikit unsur nitrogen yang berakibat buruk bagi pertumbuhan mikroorganisme dan sintesis sel baru bagi mikroorganisme, karena sebanyak 16% sel bakteri terdiri dari unsur N (Deublein dan Steinhausher., 2008). Hasil analisis TVS pada hari ke-40 pada perlakuan P 90 A 10 ini lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P 80 A 20 dan P 70 A 30, hasil ini menunjukan bahwa aktivator yang dicampurkan dalam perlakuan P 90 A 10 ini lebih sedikit dibandingkan dengan aktivator pada perlakuan P 80 A 20 dan P 70 A 30, sehingga TVS yang digunakan dalam pembentukan biogas dimanfaatkan oleh mikroorganisme yang ada dalam perlakuan tersebut lebih sedikit dibandingkan jumlah TVS yang dimanfaatkan oleh mikroorganisme yang ada pada perlakuan P 80 A 20 dan P 70 A 30, hal ini karena jumlah aktivator yang ditambahkan lebih banyak dibandingkan pada perlakuan P 90 A 10. Jumlah TVS dalam substrat harus sesuai dengan kemampuan mikroorganisme dalam mendegradasi TVS menjadi VFA dan kemampuan dalam mengkonsumsi VFA hingga menjadi biogas. Apabila kemampuan mikroorganisme tidak seimbang, akan terjadi penumpukan VFA yang menyebabkan penurunan ph secara drastis dan menghambat aktivitas bakteri pembentuk metana (Gerardi, 2003). Pengukuran produksi juga dilakukan untuk mengetahui jumlah produksi biogas pada perlakuan P 80 A 20. Grafik produksi biogas pada substrat yang terbuat dari 80% POME dan 20% aktivator dapat dilihat pada Gambar 14. 29

Produksi Gas 0.450 0.400 0.350 0.300 0.250 0.200 0.150 0.100 0.050 0.000-0.050 y = 0.000x 2-0.011x + 0.071 r = 0.852 Gas Menyala 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Hari ke- Gambar 14. Grafik Hubungan Antara Waktu Perombakan Bahan Organik dan Produksi Biogas pada P 80 A 20 Gambar 14 memperlihatkan produksi gas pada perlakuan P 80 A 20 yang dihasilkan digester. Produksi gas yang dihasilkan pada digester ditunjukan pada grafik bahwa biogas mulai dihasilkan pada hari ke-4, sama halnya dengan perlakuan P 90 A 10 bahwa biogas yang dihasilkan belum dapat dinyalakan. Hal ini menunjukkan masih tingginya kadar CO 2 pada digester. Biogas dapat dinyalakan pada hari ke-20 dengan nyala api berwarna biru hingga mencapai hari ke-40 namun produksi gas tidak konstan setiap harinya. Total produksi gas pada perlakuan P 80 A 20 adalah 3,14 liter, produksi ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan P 90 A 10 dan P 70 A 30. Persamaan regresi kuadratik pada hubungan antara waktu perombakan bahan organik (X) dan produksi biogas (Y) pada P 80 A 20 yaitu Y = 0,000x 2 + 0,011x + 0.071. Hubungan ini berkorelasi positif dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,852. Analisis keragaman menunjukkan bahwa hubungan kedua faktor ini berpengaruh nyata. Hasil analisis TVS pada hari ke-40dan produksi biogas pada perlakuan P 80 A 20 tidak sesuai dengan teori yang ada, dimana nilai TVS yang dihasilkan pada hari ke- 40 yaitu sebesar 4167±971, nilai TVS ini lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan P 90 A 10 dan P 70 A 30. Nilai TVS yang kecil ini berarti TVS tersebut digunakan oleh mikroorganisme untuk diubah menjadi biogas, namun volume total biogas yang dihasilkan selama 40 hari justru lebih kecil dibandingkan dengan volume biogas yang dihasilkan pada perlakuan P 90 A 10 dan P 70 A 30. Hasil ini menunjukan adanya 30

gangguan didalam digester sehingga biogas yang dihasilkan tidak optimal. Hasil ini diduga adanya keberadaan oksigen dan adanya kandungan toksin didalam digester yang dapat menghambat produksi metan oleh mikroorganisme. Sebagian besar bakteri pembentuk asam adalah fakultatif anaerobik, sehingga keberadaan oksigen tidak terlalu mempengaruhi aktivitas mikroba. Namun bakteri pembentuk metan adalah obligatori anaerobik, sehingga keberadaan oksigen sebanyak 0,01 mg/l akan menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk metana. Kondisi anaerobik ini dapat dicapai dengan menggunakan reaktor tertutup, dengan keberadaan sejumlah kecil oksigen akan dikonsumsi dengan segera oleh bakteri pembentuk asam (Deublein & Steinhausher., 2008). Produksi biogas pada perlakuan P 70 A 30 juga diukur. Hasil pengukuran produksi gas pada perlakuan P 70 A 30 dapat dilihat pada Gambar 15. Produksi Gas 0.800 0.700 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0.000-0.100 Gas Menyala y = 0.000x 2-0.010x + 0.194 r = 0.486 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Hari ke- Gambar 15. Grafik Hubungan Antara Waktu Perombakan Bahan Organik dan Produksi Biogas pada P 70 A 30 Produksi gas yang dihasilkan ditunjukan pada Gambar 15 bahwa biogas mulai dihasilkan pada hari ke-4, namun sama seperti pada perlakuan P 90 A 10 dan P 80 A 20 gas yang dihasilkan belum dapat dinyalakan. Gas dapat dinyalakan pada hari ke-11 sampai hari ke- 40 namun produksi gas yang dihasilkan tetap. Produksi gas pada perlakuan P 70 A 30 lebih awal dapat dinyalakan dibandingkan pada perlakuan P 90 A 10 dan P 80 A 20. Hal ini disebabkan karena proses metanogenesis pada perlakuan P 70 A 30 terjadi lebih cepatdibandingkan pada perlakuan lainnya, proses metanogenesis 31

terjadi lebih cepat karena aktivator yang ditambahkan pada P 70 A 30 lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sehingga gas metan yang dihasilkan lebih dari 55% dan gas dapat menyala. Biogas setidaknya mengandung 45% metana agar dapat menghasilkan nyala api (Deublein dan Steinhausher., 2008).Total produksi gas pada perlakuan P 70 A 30 adalah 8,28 liter, total produksi gas pada P 70 A 30 merupakan yang terbesar dibandingkan dengan produksi gas pada P 90 A 10 dan P 80 A 20. Persamaan regresi kuadratik hubungan antara waktu perombakan bahan organik (X) dan produksi biogas (Y) pada P 70 A 30 yaitu Y = 0,000x 2-0,010 x+ 0.194 Hubungan ini berkorelasi positif dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,486. Analisis keragaman menunjukkan bahwa hubungan kedua faktor ini berpengaruh nyata. Komposisi biogas yang dihasilkan terdiri atas CH 4 (50-70%), CO 2 (25-45%), H 2, NH 3, dan H 2 S dalam jumlah yang sedikit (Price dan Cheremisinoff, 1981).. Produksi biogas yang dihasilkan pada penelitian ini dinilai masih belum maksimal namun total produksi biogas yang dihasilkan dari penelitian ini lebih besar yaitu pada perlakuan P 90 A 10, P 80 A 20 dan P 70 A 30, masing-masing adalah 7,99 liter, 3,14 liter dan 8,28 liter. Nilai ini lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian Agustine (2011) yaitu pada perlakuan P 90 A 10, P 80 A 20 dan P 70 A 30 masingmasing adalah 3,99 liter, 1,08 liter dan 1,77 liter. Produksi gas yang belum maksimal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu terjadi penumpukan bahan organik berlebihan yang menyebabkan bakteri tidak mampu memecah senyawa organik, sehingga proses perombakan anaerob akan terganggu (Mahajoeno, 2008). Selain itu ada juga faktor yang berpengaruh pada perombakan anaerob, yaitu pengadukan. Selama penelitian berlangsung, proses pengadukan dilakukan secara manual dengan pengaduk yang telah tersedia di dalam digester. Teknik pengadukan ini kurang efektif karena pengadukan secara manual pada digester akan menghasilkan frekuensi pengadukan yang tidak konsisten. Pengadukan bertujuan untuk mendistribusikan bakteri, substrat dan nutrient agar menyebar secara merata di dalam digester. Peningkatan produksi metana dipengaruhi oleh pengadukan, karena aktivitas metabolisme dari bakteri pembentuk asetat dan bakteri pembentuk metana membutuhkan jarak yang saling berdekatan. Selain itu, pengadukan dapat mengurangi terjadinya pemisahan sludge 32

dan terbentuknya scum (Gerardi, 2003). Apabila bahan masukan lebih homogen maka perombakan akan berlangsung lebih sempurnna (Mahajoeno, 2008). Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan limbah cair organik tinggi kandungan lemak yang membutuhkan waktu lama untuk terhidrolisis (Adrianto et al., 2001). Penelitian Mahajoeno (2008) menghasilkan bahwa biogas yang terbuat dari POME dengan penambahan inokulum kotoran sapi sebesar 10% memproduksi 64,5 liter biogas selama 12 minggu percobaan (84 hari) pada kondisi suhu dan tekanan rumah kaca. Digester yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan digester sistem batch berkapasitas 15 liter. Ketidakseimbangan juga terjadi karena bahan beracun yang telah ada dalam biomasa atau senyawa yang dihasilkan selama proses fermentasi anaerob. Fermentasi dapat menjadi lambat jika biomasa mengandung konsentrasi lemak yang tinggi. Hal ini karena lemak dapat didegradasi menjadi senyawa beracun, yaitu asam lemak rantai panjang (Mahajoeno, 2008). 33