RESPONS - DESEMBER 2009

dokumen-dokumen yang mirip
RELEVANSI FILSAFAT MANUSIA DALAM KEHIDUPAN. Oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

MENJADI MANUSIA OTENTIK

BAB VI PENUTUP. ditemukannya teknologi pencitraan tiga dimensi. Video game memiliki efek

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan

Modul ke: FILSAFAT MANUSIA INTELEKTUAL (PENGETAHUAN) Ahmad Sabir, M. Phil. Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

FILSAFAT UNTUK PSIKOLOGI

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

FILSAFAT MANUSIA. Person dan Individu Manusia dan Review Materi Kuliah I s/d VI. Firman Alamsyah AB, MA. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. terjadi di dunia memungkinkan manusia untuk terarah pada kebenaran. Usahausaha

FILSAFAT MANUSIA. Historisitas Manusia. Firman Alamsyah, MA. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

Modul ke: Materi Penutup. Fakultas PSIKOLOGI. Cathrin, M.Phil. Program Studi Psikologi

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. terhadap api dan segala bentuk benda tajam. Seni dan budaya debus kini menjadi

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self

BAB VI PENUTUP. mempunyai objek kajian sebagaimana dijelaskan Wolff dibagi menjadi 3

BAB I PENGERTIAN FILSAFAT INDONESIA PRA MODERN

Filsafat Manusia. Manusia Sebagai Persona. Cathrin, M.Phil. Modul ke: 05Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

BAB V PENUTUP. 1. Rekonstruksi teologi antroposentris Hassan Hanafi merupakan

BAB I PENDAHULUAN. filsafat. Setiap tradisi atau aliran filsafat memiliki pemikiran filosofis masingmasing

BAB I PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki Pancasila yang dikenal

BAB I PENDAHULUAN. teks yang isinya berbagai jenis, baik berupa ide, gagasan, pemikiran suatu tokoh

BAB I PENDAHULUAN. Sastra adalah seni yang tercipta dari tangan-tangan kreatif, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dan mempromosikan ide politik dalam tulisan-tulisan etika dan politik. Dia yakin

BAB I PENDAHULUAN. Melihat dan mengalami fenomena kehidupan konkrit manusia di jaman

Modul ke: FILSAFAT MANUSIA KEHENDAK & KEBEBASAN. Ahmad Sabir, M. Phil. Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

Menurut penerbitnya, buku Studying Christian Spirituality ini adalah

BAB V PENUTUP A. SIMPULAN

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kehidupannya selalu menjalin relasi dengan orang lain. Ia

Estetika Desain. Oleh: Wisnu Adisukma. Seni ternyata tidak selalu identik dengan keindahan. Argumen

A. Pengertian Pancasila

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 William Chang, Berkaitan Dengan Konflik Etnis-Agama dalam Konflik Komunal Di Indonesia Saat Ini, Jakarta, INIS, 2002, hlm 27.

KEPENUHAN HIDUP MANUSIA DALAM RELASI I AND THOU 1 (Antonius Hari Purnanto)

TEORI PRAKTIS MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. suatu bahasa. Puisi juga merupakan cara penyampaian tidak langsung seseorang

28 Oktober 1928, yaitu sumpah pemuda. Waktu itu, sejarah mencatat betapa masingmasing

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti

BAB I PENDAHULUAN. gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan seharihari

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Sudut pandang teori materialisme historis dalam filsafat sejarah

LAPORAN BACA MANUSIA DAN PENDIDIKAN. Dosen Pengampu : Dr. Hj. Pupun Nuryani, M. Pd

BAB V PENUTUP. 1. Filsafat Perennial menurut Smith mengandung kajian yang bersifat, pertama, metafisika yang mengupas tentang wujud (Being/On) yang

Areté Volume 02 Nomor 02 September 2013 RESENSI BUKU 2. Simon Untara 1

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN

Imaji Vol. 4 - No. 2/ Februari 2009 RESENSI BUKU

BAB I PENDAHULUAN. diri. Sebagai person manusia memiliki keunikan yang membedakan dengan yang

Areté Volume 02 Nomor 02 September 2013 RESENSI BUKU 1. Gregorius Martia Suhartoyo 1

Oleh: Achmad Dardiri. (Dosen FIP IKIP YOGYAKARTA) A. Pendahuluan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendidikan adalah fenomena universal.

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Transseksual merupakan permasalahan yang kompleks. Di satu sisi, di

KODE ETIK PSIKOLOGI. Metaetika dan Etika Terapan. Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. pengalaman pengarang. Karya sastra hadir bukan semata-mata sebagai sarana

Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Filsafat Manusia. Sosialitas Manusia. Cathrin, M.Phil. Modul ke: 03Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

TANTANGAN UMAT BERAGAMA PADA ABAD MODERN

Strategi Gerakan untuk Kepentingan Perempuan Surya Tjandra Unika Atma Jaya Jakarta, 10 Maret 2016

BAB V PENUTUP. 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu. berbilang tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan ciptaan-nyalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik

BAB VIII KESIMPULAN. kesengsaraan, sekaligus kemarahan bangsa Palestina terhadap Israel.

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra dapat dikatakan bahwa wujud dari perkembangan peradaban

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI

HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA. Imam Gunawan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sejak perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan, cita-cita bangsa Indonesia

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara institusional objek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat,

STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI

Diterjemahkan oleh K.J. Veeger, (Jakarta: Gramedia, 1998), hlm Zainal, Abidin, Filsafat Manusia, (Jakarta: Rosda Karya, 2003), hlm.

PENGERTIAN SEJARAH SECARA ETIMOLOGIS, KATA SEJARAH BERASAL DARI KATA ARAB SYAJARAH YANG BERARTI POHON YANG BERCABANG- CABANG.

Urgensi Memahami Hakekat Manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat saja terganggu, sebagai akibat dari gangguan dalam pendengaran dan

Modul ke: Kematian. 11Fakultas PSIKOLOGI. Shely Cathrin, M.Phil. Program Studi Psikologi

FILSAFAT MANUSIA MANUSIA MENGAKUI DIRI DAN YANG LAIN SEBAGAI SUBSTANSI DAN SUBJEK OLEH; MASYHAR, MA. Modul ke: Fakultas Fakultas Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. manusia dan media. Baudrillard banyak mengkaji tentang fenomena media,

BAB I PENDAHULUAN. berekspresi dan salah satunya adalah menulis puisi. Puisi dalam Kamus Besar. penataan bunyi, irama, dan makna khusus; sajak.

Kesalahan Umum Penulisan Disertasi. (Sebuah Pengalaman Empirik)

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Konflik oleh beberapa aktor dijadikan sebagai salah satu cara

BAB I PENDAHULUAN. berbagai pihak sebagai alat ampuh untuk melakukan perubahan terhadap

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU. Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar

SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH

Fungsi Apresiasi dan Kritik dalam Pendidikan Seni Rupa

Dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional, guru seni harus memiliki kemampuan menulis ilmiah (academic writing)

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua

MATA KULIAH PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU. Dr. Ali Mustadi, M. Pd NIP

BAB I PENDAHULUAN. memberikan hiburan atau kesenangan juga sebagai penanaman nilai edukatif.

PARADIGMA SASTRA, SEMAKIN MEMUDARKAH...? tentang tanggapannya mengenai dunia sastra. Sastra dianggapnya suatu pekerjaan yang

Modul ke: FILSAFAT MANUSIA KEMATIAN. Ahmad Sabir, M. Phil. Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

Transkripsi:

Judul : Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme Penulis : Kasdin Sihotang Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2009 Tebal : 166 halaman Harga : Rp 35.000 Tiada makhluk yang lebih paradoksal selain manusia. Semakin dipahami, semakin dia menjadi misterius. Kita memang bisa memahami siapa manusia, apa tujuan dan makna hidupnya, keterbukaannya kepada ketakberhinggaan, relasinya dengan orang lain, kebudayaannya, dan sebagainya. Tetapi pemahaman kita selalu bersifat terbatas. Itulah sebabnya Gabriel Marcel, sang filsuf eksistensial dari Prancis jauh-jauh hari mengingatkan kita untuk tidak mereduksikan manusia sebagai alat atau benda semata. Manusia adalah tubuhnya (materi/benda) sekaligus melampui tubuhnya, karena kemampuannya mengabstraksi. Kemampuan inilah yang menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari materi karena kebertubuhannya, tetapi sekaligus melampaui materi karena kemampuannya melepaskan diri dari kungkungan materi. Jika seseorang menulis sebuah buku filsafat manusia, karya itu harus ditempatkan dalam semangat memahami manusia yang tiada habisnya itu. Kalaupun buku ini selesai ditulis, sang penulis sendiri akan merasa bahwa pemahamannya mengenai siapa manusia tetap akan terbatas. Secara fenomenologis, manusia menampakkan diri untuk diketahui, tetapi penampakan diri itu sekaligus menyisakan ruang misteri yang tak sanggup dijelaskan secara tuntas. Manusia seakan melintas di pikiran untuk dipahami, tetapi pikiran menangkap hanya sebagian saja dari penampakan itu. Melalui buku ini, Kasdin Sihotang, pengajar filsafat di Universitas Katolik Atma Jaya mau menunjukkan betapa manusia bukanlah data-data -287-

RESPONS - DESEMBER 2009 statistik atau benda yang bisa dijelaskan secara tuntas. Kasdin melihat, bahwa manusia cenderung diposisikan sebagai alat, benda, atau barang untuk mencapai sesuatu kepentingan tertentu (hlm. 11). Aura magis nan misterius manusia ditelanjangi oleh berbagai kepentingan manusia, utamanya kepentingan ekonomi (maksimalisasi keuntungan dengan mengeksploitasi manusia) dan politik (masyarakat diposisikan sebagai massa yang bisa dimanipulasi untuk meraih kekuasaan). Kesadaran akan kejatuhan manusia ke alam benda inilah yang mendorong Kasdin Sihotang menulis buku ini, yang bagi dia akan menjadi sarana penyadaran (hlm. 12), bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki harga diri. Refleksi atas jiwa dan badan manusia (bab 2) langsung membuktikan dimensi badani dan rohaniah manusia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, apalagi direduksikan ke salah satu dimensi saja. Ada banyak tema yang bisa digarap ketika merefleksikan manusia secara filosofis. Kasdin Sihotang memilih merefleksikan tema-tema manusia sebagai persona (bab 2), manusia sebagai badan dan jiwa (bab 3), manusia dan kebebasannya (bab 4), manusia dan pengetahuannya (bab 5), dimensi sosialitas manusia (bab 6), dimensi historis manusia (bab 7), dan aspek kerja manusia (bab 8). Tentu pilihan tema-tema ini mengeksklusikan tema-tema lain seperti masalah bahasa, manusia sebagai animal simbolicum, manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbukaan kepada realitas mutlak (Ultimate Reality), dan sebagainya. Refleksi manusia sebagai persona sebenarnya ingin mengingatkan kita akan keunikan manusia. Bahwa di balik berbagai peran yang dimainkan di masyarakat, manusia memiliki identitas tertentu yang mampu menjelaskan secara tuntas siapa dirinya. Identitas diri inilah yang menjadikannya unik (hlm. 35) tiada duanya. Bahwa keunikan manusia itu menjadi menonjol jika -288-

dibandingkan dengan makhluk infrahuman, misalnya, persis ketika manusia memiliki kesadaran diri, otonomi, kemampuan melampaui ruang dan waktu, serta keunggulan komunikasi yang membuatnya mampu mengadaptasi diri, merefleksikan diri dan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri, merancang masa depannya yang lebih baik, dan sebagainya (hlm. 41-47). Pembaca utama buku ini adalah mahasiswa non-filsafat di fakultasfakultas yang mempelajari filsafat manusia, antara lain Fakultas Psikologi dan Fakultas Kedokteran. Menarik bahwa penulis buku ini menyitir pemikiran B.F Skinner, seorang pemikir behaviorist yang memahami manusia secara simplistis sebagai rangkaian perilaku sebagai tanggapan atas rangsangan tertentu (hlm. 57). Akan jauh lebih menarik jika pemikiran Skinner dideskripsikan agak panjang dan dramatis dengan fokus pada upaya menolak pemahamannya yang mekanistis sembari menunjukkan bahwa kalau pengandaian Skinner itu benar maka seluruh jati diri manusia tidak lebih dari sekumpulan organ (materi) yang mudah dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Tentu kebebasan tidak bisa tidak dibicarakan dalam setiap risalah filsafat manusia. Telah menjadi semacam kesepakatan bahwa dalam membahas masalah kebebasan harus dibuat pembedaan antara kebebasan horizontal versus kebebasan vertikal (hlm. 76) atau kebebasan eksistensial versus kebebasan sosial (hlm. 77). Ciri khas filsafat manusia adalah menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan melampaui berbagai determinisme pandangan yang meragukan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas berdasarkan alasan-alasan fisik-biologis, psikologis, sosial, ataupun teologis. Ujung dari pembuktian ini adalah penegasan bahwa manusia hanya mampu menjadi dirinya sendiri dalam arti membentuk dan menentukan diri kalau dia memiliki kebebasan (hlm. 76). Menegaskan -289-

RESPONS - DESEMBER 2009 kebebasan sama artinya dengan mendestruksi dimensi sakral dan misterius manusia, dengan konsekuensi mendehumanisasi manusia sampai ke taraf benda atau alat semata. Pertanyaan yang menarik untuk direfleksikan adalah mengapa penulis buku ini mengikutsertakan dimensi kerja dalam refleksi manusia? Mengapa kerja termasuk aspek atau dimensi yang mendefinisikan kekhasan manusia? Ditempatkan dalam konteks keinginan mengkritik berbagai pandangan yang mereduksikan manusia hanya sebagai alat, kerja direfleksikan sebagai cara berada manusia. Bagi penulis, kerja tidak sekadar mengoperasikan pikiran dan tenaga untuk menghasilkan uang (hlm. 147-148). Jika kerja dipahami demikian, maka kerja hanya menjadi beban yang mengalienasikan (hlm. 144-145). Padahal melalui kerja manusia justru merealisasikan potensialitas dirinya. Dengan bekerja, manusia tidak hanya membentuk kebudayaan, tetapi juga memanusiakan dirinya (hlm. 151). Dengan bekerja manusia juga menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejahteraan sesama dan masyarakat (hlm. 152-153). Dan dengan memperhatikan perealisasian nilainilai etis kerja (keadilan, tanggung jawab, dan kejujuran), kerja membebaskan manusia dari berbagai kepentingan pribadi atau sosial yang menghancurkan manusia itu sendiri (hlm. 154-155). Judul kecil buku ini adalah Upaya Membangun Humanisme. Seharusnya penulis menyediakan sebuah bab penutup sebagai usaha tentatif menunjukkan bagaimana humanisme dikonstruksi dan dibangun kembali setelah kejatuhan. Memang penulis memilih merenungkan siapa manusia secara tematis (hlm. 28), tetapi membiarkan pembaca merenungkan dan menyimpulkan sendiri berbagai gagasan dalam buku ini tanpa sebuah refleksi penutup hanya akan membiarkan buku ini menjadi pemikiran yang -290-

terfragmentasi. Padahal salah satu tugas filsafat adalah menarik benang merah dari berbagai pemikiran yang tercerai-berai. Sebagai langkah awal, penulis cukup berhasil menunjukkan berbagai persoalan filsafat manusia dan merefleksikannya secara runtut. Dengan melengkapi buku ini dengan sebuah bab penutup, saya yakin buku ini akan menjadi lebih lengkap dan memfokus pada tujuan yang ingin dicapai penulis sendiri: Upaya Membangun Humanisme. Yeremias Jena -291-