KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

dokumen-dokumen yang mirip
PERTEMUAN 13: TAHAPAN AUDIT INVESTIGASI

Garis besar proses Pemeriksaan Investigatif secara keseluruhan, dari awal sampai dengan akhir, dipilah-pilah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Jenis fraud (kecurangan) yang terjadi di setiap negara ada kemungkinan

PERTEMUAN 6: AUDIT INVESTIGASI

BAB I PENDAHULUAN. membawa pengaruh yang besar dalam setiap tindakan manusia. Persaingan di dalam

BAB I PENDAHULUAN. Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan

PERTEMUAN 10: AUDITOR INVESTIGASI

BAB I PENDAHULUAN. Korupsi merupakan salah satu bentuk fraud yang berarti penyalahgunaan

PERTEMUAN 1: AUDIT DAN STANDAR AUDIT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 10 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

PERTEMUAN 15: PENYELESAIAN HUKUM. B. URAIAN MATERI Tujuan Pembelajaran 15: Menjelaskan upaya hukum untuk penyelesaian investigasi

Dadit Herdikiagung - Inspektur II Inspektorat Jenderal Kementerian Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Setiap profesi mempunyai persyaratan bagi anggotanya. Persyaratan profesi dapat terwujud dalam berbagai betuk antara lain : standar dan kode etik

PERTEMUAN 14: BENTUK DAN LAPORAN AUDIT

Setyanta Nugraha Inspektur Utama Sekretariat Jenderal DPR RI. Irtama

PIAGAM AUDIT INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN. dan telah menjadi kebutuhan secara global. Salah satu upaya yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Profesi audit internal mengalami perkembangan cukup signifikan pada

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

PIAGAM AUDIT INTERNAL

Pedoman Audit Internal (Internal Audit Charter) Lampiran, Surat Keputusan, No:06/FMI-CS/III/2017 Tentang Penetapan Kepala Unit Audit Internal

BAB I PENDAHULUAN. semakin terbukanya peluang usaha, maka menyebabkan risiko terjadinya

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

Standar Audit SA 250. Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) semakin lama

PT Wintermar Offshore Marine Tbk

JURNAL STIE SEMARANG, VOL 6, NO 1, Edisi Februari 2014 (ISSN : ) PENERAPAN E - AUDIT PADA AUDIT SEKTOR PUBLIK SESUAI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap perusahaan baik milik negara maupun swasta sebagai suatu pelaku

BAB I PENDAHULUAN. salah satu contoh kecurangan tersebut adalah tindakan perbuatan korupsi yang

BAB I PENDAHULUAN. dikuatkan dan diatur oleh perundang-undangan yang berlaku. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa. Keuangan pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan

PERTEMUAN 11: BUKTI AUDIT INVESTIGASI

BAB 1 PENDAHULUAN. halnya dengan kejahatan yang terjadi di bidang ekonomi salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. segala jenis kejahatan yang semakin merajalela. Tidak hanya kejahatan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. gandum, emas, dan aset lainnya yang dimililiki oleh raja. Mereka yang menjadi orang

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan pemeriksaan investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang bersih dan bebas KKN menghendaki adanya. mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance),

PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI MINAT STUDI AKUNTANSI FORENSIK FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. De Angelo (1981) dalam Kurnia et al. (2014) mendefinisikan kualitas. internal maupun pihak eksternal perusahaan.

PIAGAM KOMITE AUDIT. (Audit Committee Charter) PENDAHULUAN

PERTEMUAN 2: CAKUPAN AUDIT

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan kemajuan perekonomian di negeri kita, Bangsa Indonesia juga

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kesatu, Wewenang-Wewenang Khusus Dalam UU 8/2010

Mengingat. 1. Menimbang '. a. STANDAR AUDIT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut American Accounting Association (AAA) Siti Kurnia Rahayu

BAB I PENDAHULUAN. Tindak kecurangan ini berkembang pesat ditengah-tengah perkembangan

PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL PT NUSANTARA PELABUHAN HANDAL TBK ( Perseroan )

2016, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor 3851); 2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. intensitas dan modusnya semakin berkembang dengan penyebab multi factor.

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan pemberantasan. Tidak hanya terjadi pada pemerintah pusat, fraud juga

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. pula praktik kejahatan dalam bentuk kecurangan (fraud) ekonomi. Jenis fraud

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan pemeriksa (auditor). Seorang auditor pada mulanya bertindak sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. keuangan juga merupakan media penting dalam memberikan informasi kinerja

ETIKA PROFESI FAKLULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS GUNADARMA. Disusun Oleh : : Eko Aprianto Nugroho NPM :

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. diantara pelaku bisnis semakin meningkat. Para pelaku bisnis melakukan berbagai

INTERNAL AUDIT CHARTER

BAB 1 PENDAHULUAN. Fraud merupakan topik yang hangat dibicarakan di kalangan praktisi maupun

2017, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874) sebagaimana telah diubah dengan deng

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

BAB 1 INTRODUKSI. riset, problem riset, pertanyaan riset, motivasi riset, tujuan riset, kontribusi riset,

LEMBARAN NEGARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. good governance dan clean governance di Indonesia semakin meningkat. Melihat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Standar Audit SA 240. Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN PERDAGANGAN,

BAB I PENDAHULUAN. Kecurangan telah berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

RANCANGAN PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyelewengan dan penyalahgunaan yang terjadi terhadap aset-aset yang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan alat informasi baik bagi pemerintah sebagai manajemen maupun alat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

Kompetensi Dasar 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme memiliki pengaruh

Transkripsi:

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Makalah ini merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Auditing 1. Makalah ini terdiri dari 3 bab yaitu pendahuluan, pembahasan dan penutup. Dalam bab pendahuluan kami akan memaparkan mengenai latar belakang berikut contoh kasus, rumusan masalah, serta manfaat dan tujuan. Untuk bab pembahasan kami akan memaparkan mengenai akuntansi forensik dan audit investigatif, selanjutnya pada bab penutup berupa kesimpulan dan saran dari hasil makalah yang kami buat. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan serta memenuhi kewajiban tugas. Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Bandung, 5 Desember 2015 Penulis DAFTAR ISI 1

KATA PENGANTAR...1 DAFTAR ISI...2 PENDAHULUAN...4 1.1 Latar Belakang...4 1.2 Rumusan Masalah...6 1.3 Tujuan...6 BAB II...8 PEMBAHASAN...8 2.1 AKUNTANSI FORENSIK...8 2.1.1 Pengertian Akuntansi Forensik...8 2.1.2 Disiplin dan Profesi Forensik Lainnya...9 2.1.3 Akuntan Forensik di Pengadilan...9 2.1.4 Akuntansi atau Audit Forensik...11 2.1.5 Praktik Akuntansi Forensik di Indonesia...11 2.1.6 Akuntan Forensik Sektor Publik...12 2.1.7 Standar Akuntansi Forensik...13 2.1.8 Kode Etik Akuntansi Forensik...15 2.1.9 Kualitas Akuntansi Forensik...15 2.2 AUDIT INVESTIGATIF...16 2.2.1 Pengertian Audit Investigatif...16 2.2.2 Pendekatan Audit Investigasi...17 2.2.3 Hal-hal Yang Dilakukan (kompetensi) Seorang Auditor Investigasi...18 2.2.4 Penyusunan Program Audit Investigasi...19 2.2.5 Pelaksanaan Program Dan Tehnik-tehnik Audit Investigasi...19 2.2.6 Hasil Investigasi...21 2.2.7 Standar Audit Investigatif...23 BAB III...26 PENUTUP...26 3.1 Kesimpulan...26 DAFTAR PUSTAKA...27 2

BAB I PENDAHULUAN 3

1.1 Latar Belakang Tindak kecurangan di pemerintahan di Indonesia sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Bila kita sering membaca surat kabar atau melihat televisi, maka kita akan disuguhi banyak berita tentang kasus-kasus fraud yang telah melibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, baik dijajaran lembaga legislatif, eksekutif bahkan yudikatif. Berbagai usaha telah dilakukan Pemerintah Indonesia baik dengan memberdayakan secara maksimal lembaga-lembaga penegak hukum, seperti Kejaksaan, Pengadilan, dan Kepolisian. Bahkan dalam dasawarsa terakhir Pemerintah juga telah membentuk dan memberdayakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun sayangnya hasil yang di dapat masih belum sesuai dengan harapan, di mana Indonesia masih menduduki 10 negara terkorup di dunia. Terjadinya kecurangan tersebut yang tidak dapat terdeteksi oleh suatu pengauditan dapat memberikan efek yang merugikan dan cacat bagi proses pelaporan keuangan. Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa dampak kerugian. Apabila dilihat dari peran akuntan publik, fenomena kecurangan ini menjadi masalah yang serius karena menyangkut citra akuntan publik terutama auditornya. Kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah sulit terdeteksi karena pelaku biasanya merupakan orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan suatu proyek. Oleh karena itu, auditor laporan keuangan harus mempunyai keahlian untuk mendeteksi kecurangan ini. Untuk tindak lebih lanjut, auditor laporan keuangan ini hanya dapat mendeteksi saja sedangkan untuk pengungkapannya diserahkan pada akuntan forensik yang lebih berwenang. Akuntansi forensik inilah yang nantinya akan menggunakan suatu aplikasi audit lain selain audit biasa yang digunakan para auditor laporan keuangan untuk mengungkapkan kecurangan. Peran akuntansi forensik dalam mengungkap kecurangan di Indonesia dari waktu ke waktu semakin terus meningkat. Akuntansi forensik banyak diterapkan ketika Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) mengumpulkan bukti-bukti hukum 4

yang diperlukan untuk menangani kasus-kasus korupsi yang dilaporkan kepada instansi tersebut. Akuntansi forensik juga digunakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kepolisian, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta Inspektorat Jenderal Kementerian untuk menggali informasi selama proses pelaksanaan audit kecurangan (fraud audit) atau audit investigasi. Beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia mengenai kecurangan yang terjadi hingga dikategorikan sebagai korupsi. Contoh kasus pada Bank Century yaitu mengalami gagal bayar. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan Laporan Hasil Perhitungan (LHP) kerugian negara dari kasus Bank Century ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketua BPK, Hadi Purnomo memaparkan dalam laporan tersebut disimpulkan bahwa terdapat penyimpangan yang dilakukan pihak-pihak terkait dalam pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga harus dikeluarkan penyertaan modal sementara. Terkait penyimpangan tersebut, lanjut Hadi, merugikan keuangan negara sebesar Rp 689.394 miliar dari pemberian FPJP ke Bank Century dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 6,742 triliun dari pemberian penyertaan modal sementara ke bank yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara tersebut (sumber: www.suarapembaruan.com diakses 5 Desember 2015). Contoh lainnya yaitu kasus hambalang yang merupakan salah satu kasus terjadinya kecurangan. Sidang kasus dugaan korupsi proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang dengan terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku mantan Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya digelar. Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Andi Rahmat Zubaidi dihadirkan sebagai saksi ahli. Kepada hakim dan hadirin sidang, Andi membeberkan kerugian negara akibat korupsi proyek P3SON Hambalang yang muncul dari kontraktor konstruksi, manajemen konstruksi, dan konsultan perencanaan. Yakni sebesar Rp 464,5 miliar (sumber: www.liputan6.com diakses 5 Desember 2015). 5

1.2 Rumusan Masalah Penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa pengertian dari akuntansi forensic? 2. Bagaimana disiplin dan profesi forensic lainnya? 3. Bagaimana akuntansi forensic di pengadilan? 4. Apakah akuntansi atau audit forensic? 5. Bagaimana praktik akuntansi forensic di Indonesia? 6. Bagaimana akuntansi forensic sector public? 7. Apa standar akuntansi forensic? 8. Apa kode etik akuntansi forensic? 9. Bagaimana kualitas akuntansi forensic? 10. Apa pengertian audit investigative? 11. Bagaimana pendekatan audit investigative? 12. Hal-hal apa saja yang dilakukan seorang auditor investigasi? 13. Bagaimana penyusunan program audit investigasi? 14. Bagaimana pelaksanaan program dan teknik-teknik audit investigasi? 15. Bagaimana hasil investigasi? 16. Apa standar audit investigasi? 1.3 Tujuan Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1. Pengertian akuntansi forensic. 2. Disiplin dan profesi forensic lainnya. 3. Akuntansi forensic di pengadilan. 4. Akuntansi atau audit forensic. 5. Praktik akuntansi forensic di Indonesia. 6. Akuntansi forensic sector public. 7. Standar akuntansi forensic. 8. Kode etk akuntansi forensic. 9. Kualitas akuntansi forensic. 10. Pengertian auditinvestigatif. 11. Pendekatan audit investigatif. 12. Hal-hal yang dilakukan seorang auditor investigasi. 13. Penyusunan program audit investigasi. 14. Pelaksanaan program dan teknik-teknik audit investigasi. 15. Hasil investigasi. 16. Standar audit investigasi. 6

BAB II PEMBAHASAN 2.1 AKUNTANSI FORENSIK 2.1.1 Pengertian Akuntansi Forensik Akuntansi forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing, pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum di dalam atau luar pengadilan. Akuntansi forensik dipraktikkan dalam bidang yang luas, seperti: 1. Dalam penyelesaian sengketa antarinividu; 7

2. Di perusahaan swasta dengan berbagai bentuk hukum, perusahaan tertutup maupun yang memperdagangkan saham atau obligasi di bursa, joint venture, special purpose companies; 3. Di perusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki negara, baik di pusat maupun di daerah (BUMN/BUMD); 4. Di departemen/kementrian, pemerintah pusat dan daerah, MPR,DPR/DPRD, dan lembaga-lembaga negara lainnya, mahkamah (seperti Mahkamah Konstitusi dann Mahkamah Yudisial), komisi-komisi (seperti KPU dan KPPU), yayasan, koperasi, Badan Hukum Milik Negara, Badan Layanan Umum, dan seterusnya. Definisi Crumbley menekankan bahwa akuntansi forensik tidak identik, bahkan tidak berurusan dengan akuntansi yang sesuai dengan generally accepted accounting principles (GAAP). Ukurannya bukan GAAP, melainkan apa yang menurut hukum atau ketentuan perundang-undangan adalah akurat. Crumbley dengan tepat melihat potensi untuk perseteruan di antara pihak-pihak yang berseberangan kepentingan. Demi keadilan, harus ada akuntansi yang akurat untuk proses hukum yang bersifat adversarial, atau proses hukum yang mengandung perseteruan. 2.1.2 Disiplin dan Profesi Forensik Lainnya Dalam sidang pengadilan ahli-ahli forensik dari disiplin yang berbeda, termasuk akuntan forensik, dapat dihadirkan untuk memberikan keterangan ahli. Di negara-negara yang berbahasa inggris, mereka disebut expert wit'ness (saksi ahli). Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) menggunakan istilah ahli, meskipun dalam percakapan sehari-hari dan oleh pers digunakan istilah saksi ahli. Dalam praktiknya, kelompok ahli lainnya juga terdiri atas para akuntan atau pelaksana audit investigatif yang memberi keterangan ahli demi keadilan. Istilah akuntan forensik dan akuntan forensik dikenal. 8

2.1.3 Akuntan Forensik di Pengadilan Di Indonesia, punggunaan akuntan forensik di sektor publik lebih menonjol dari pada sektor privat karena jumlah perkara yang lebih banyak di sektor publik. Akan tetapi, ada juga alasan lain, yakni kecenderungan untuk menyelesaikan sengketa sektor privat di luar pengadilan. Disektor publik, para penuntut umum (dari kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi) menggunakan ahli dari BPK dan BPKP, dan Inspektorat Jendral dari Departemen yang bersangkutan. Di lain pihak, terdakwa dan tim pembelanya menggunakan ahli dari kantor-kantor akuntan publik; kebanyakan ahli ini sebelumnya berpraktik di BPKP. Tabel 2.1 Ahli Selaku Pribadi dan Lembaga (BPK) N Ahli Selaku Pribadi O 1 Kompetensi Ahli Ahli memberikan keterangan yang diminta instansi yang berwenang, sesuai kompetensi ahli yang melekat pada pribadinya. 2 Substansi keterangan ahli Ahli memberikan keterangan tentang substansi yang menjadi kepakarannya, penguasaan pengetahuannya secara pribadi, dan pengembangan pengetahuannya. Pendapat Ahli Selaku Lembaga (BPK) Ahli memberikan keterangan tentang kerugian negara yang merupakan kompetensi BPK, bukan kompetensi pribadi, sehingga tidak melekat pada pribadi pemegang jabatan anggota BPK atau pemeriksa BPK. Ahli memberi keterangan tentang kerugian/daerah karena pelaksanan tugas kontitusional BPK. Pendapat yang diberikannya merupaka pendapat BPK. 9

yang diberikannya merupakan pendapat pribadi. 3 Pengolahan Informasi Informasi yang dipaparkan 4 Kepemilikan atas keterangan ahli 5 Kebebasan memberikan pendapat ahli dihadapan penyidik maupun sidang pengadilan diolahnya secara pribadi dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya secara pribadi. Keterangan yang diberikan ahli merupakan milik pribadinya. Ahli mempunyai kebebasan pribadi dalam memberikan pendapat yang berkaitan dengan keahliannya. Pendapat yang diterangkannya adalah hasil pemikiarannya. 6 Batas Ahli memberikan keterangan sesuai dengan kepakaran yang dimilikinya. Ia hanya dibatasi oleh kedalaman pengetahuan dan pengalamannnya. Informasi tentang kerugian negara yang dipaparkan di hadapan penyidik maupun sidang pengadilan diolah secara kelembagaan. Informasi ini tidak dimiliki sebelumnya, sehingga diperoleh melalui pemeriksaan investigatif. Keterangan yang diberikan merupakan milik BPK sebagai lembaga negara. Ahli merupakan personifikasi BPK. Ia tidak memiliki keebasan pribadi dalam memberikan keterangan. Ia senantiasa harus berkoordinasi dengan pimpinan karena yang diterangkannya adalah hasil pemeriksaan BPK. Ahli memberikan keterangan sesuai dengan hasil pemeriksaan BPK 10

2.1.4 Akuntansi atau Audit Forensik Di Amerika Serikat pada mulanya akuntansi forensic digunakan untuk menentukan pembagian warisan atau mengungkapkan motif pembunuhan. Misalnya, pembunuhan istri oleh suami untuk mendapatkan hak waris atau klaim asuransi, atau pembunuhan oleh mitra dagang untuk menguasai perusahaan. Bermula dari penerapan akutansi akuntansi untuk memecahkan persoalan hukum, maka istilah yang dipakai adalah akuntansi (dan bukan audit) forensik. Sekarang pun kadar akuntansinya masih terlihat, misalnya dalam perhitungan ganti rugi baik dalam konteks keuangan negara, maupun di antara pihak-pihak dalam sengketa perdata. Ada yang menggunakan istilah audit forensik untuk kegiatan investigatif. 2.1.5 Praktik Akuntansi Forensik di Indonesia 1. Pada kasus Bank Bali, terlihat suksesnya akuntansi forensik. Akuntannya adalah PriceWaterhouseCoopers (PwC) berhasil menunjukkan arus dana yang rumit. Bentuk diagramnya seperti cahaya yang mencuat dari sang surya (Sunburst). 2. Tahun 2005 merupakan suksesnya akuntansi forensik dan sekaligus sistem pengadilan. Komisi Pemilihan Umum, dimana akuntan forensiknya adalah Badan Pemeriksa Keuangan. Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil menyelesaikannya di pengadilan. 3. Kasus Bank BNI. Akuntansi forensiknya bukan dilakukan oleh lembaga pemeriksa atau kantor akuntan, melainkan PPATK. Dua ahli PPATK dalam persidangan di pengadilan berhasil meyakinkan mengenai peran Adrian Waworuntu. 2.1.6 Akuntan Forensik Sektor Publik Akuntansi forensik sektor publik di Indonesia lebih menonjol daripada akuntansi forensik sektor privat. Di Indonesia terlihat peran-peran penting para akuntan forensik dari BPKP, BPK, dan aparat pengawasan internal pemerintah yang dalam APIP. Secara terinci dan dengan data statistik, penulis membahas 11

peran mereka di buku Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi. Tabel 2.2 Perbandingan Akuntansi Sektor Publik dan Sektor Swasta DIMENSI Sektor Publik Sektor Swasta Landasan penugasan Amanat undang-undang Penugasan tertulis secara spesifik Imbalan Lazimnya tanpa imbalan Fee dan biaya Hukum Pidana umum dan khusus, Perdata, arbitrase, hukum administrasi negara. Ukuran Keberhasilan Memenangkan perkara Pembuktian Teknik audit Investigatif Akuntansi pidana dan memulihkan kerugian. Dapat melibatkan instansi lain di luar lembaga yang bersangkutan Sangat bervariasi karena kewenangan relatif besar Tekanan pada kerugian negara dan keuangan negara administratif, aturan intern perusahaan Memulihkan kerugian Bukti intern, dengan bukti ekstern yang terbatas. Relatif lebih sedikit dibandingkan di sektor publik, kreativitas dalam pendekatan lebih menentukan. Penilaian bisnis 2.1.7 Standar Akuntansi Forensik Ringkasan Standar Umum dan Khusus Akuntansi Forensik 100 Indepedensi : Akuntan Forensik Harus Independen Dalam Melaksanakan Tugas 100 Garis pertanggung jawaban : 12

1. Untuk kegiatan internal lembaganya, akuntansi forensik harus cukup independen dalam melaksanakan tugasnya. Ia bertanggung langsung ke Dewan Komisaris kalau penugasan diberikan oleh lembaganya, atau kepada penegak hokum dan/ atau regulator, jika penugasannya datang dari luar lembaganya 2. Dalam hal akuntan forensik tersebut independen ia menyampaikan laporan kepada seorang eksekutif senior yang kedudukannya lebih tinggi dari orang yang diduga melakukan fraud, alternatifnya ialah akuntan forensik menyampaikan laporannya kepada dewan komisaris. 3. Dalam hal akuntan forensic tersebut independen dan penugasan diterimanya dan lembaga penegak hokum atau pengadilan, pihak yang menerima laporannya atau counterpart-nya harus ditegaskan dalam kontrak. 120 Objektivitas : Akuntan forensik harus objektif (tidak berpihak) dalam melaksanakan telaah akuntansi forensiknya 200 Kemahirn professional : akuntansi forensic harus dilaksanakan dengan kemahiran dan kehati hatian professional 210. Sumber Daya Manusia Semua sumber daya manusia yang menjalani akuntansi forensic harus mempunyai kemahiran teknis, pendidikan, dan pengalaman yang memadai sesuai dengan tugas yang diserahkan kepadanya 220. Pengetahuan, Pengalaman, Keahlian dan Disiplin Akuntansi forensic harus memiliki atau menggunakan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, pengalaman, keahlian, dan disiplin untuk melaksanakan tugasnya dengan baik 230. Supervisi Dalam hal lada lebih dari satu akuntan forensic dalam satu penugasan, salah seorang diantara mereka berfungsi sebagai incharge yang bertanggung jawab dalam mengarahkan penugasan 13

dan memastikan bahwa rencana kerja dilaksanakan sebagai mana seharusnya dan dikomuntesaikan dengan baik. 240. Kepatuhan terhadap Standar Prilaku Akuntan forensic harus mematuhi standar prilaku professional terbaik yang diharapkan dari akuntan, auditor, rekan dari profesi hokum baik tim pembela maupun jaksa umum dan regulator. 250. Hubungan Manusia Akuntan forensic harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan sesame manusia (interpersonal skills) 260. Komunikasi 270. Pendidikan Berkelanjutan 280. Kehati-hatian Profesional 300 Lingkup Penugasan 400 Pelaksanaan Tugas Telaahan 2.1.8 Kode Etik Akuntansi Forensik Kode etik mengatur hubungan antara anggota profesi dengan sesamanya, dengan pemakai jasa dan stakeholder lainnya, dan dengan masyarakat luas. Kode etik berisi nilai nilai luhur (virtues) yang amat penting bagi eksistensi profesi. Profesi bisa eksis karena ada integritas (sikap jujur walaupun tidak diketahui orang lain), rasa hormat dan kehormatan (respect dan honour), dan nilai nilai luhur lainnya yang menciptakan rasa percaya (trust) dari pengguna stakeholder lainnya. Dalam contoh kasus, kode etik KPK dapat di pakai karena perumusannya sangat relevan untuk mengatur prilaku akuntansi forensic. Kode etik KPK : 1. Nilai nilai dasar pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dilaksanakan dalam bentuk sikap, tindakan, prilaku, dan ucapan pimpinan KPK 14

2. Pimpinan KPK wajib menjaga kewenangan luar biasa yang dimilikinyademi martabat KPK dan martabat pimpinan KPK dengan prilaku, tindakan, sikap, dan ucapan sebagaimana dirumuskan dalam kode etik 3. Kode etik diterapkan tanpa toleransi sedikitpun atas penyimpangannya, dan mengandung sanksi tegas bagi mereka yang melanggarnya 4. Perubahan atas kode etik pimpinan KPK menurut keputusan ini akan segera dilakukan berdasarkan tanggapan dan masukan dari masyarakat dan ditetapkan oleh pimpinan KPK\ 2.1.9 Kualitas Akuntansi Forensik 1. Kreatif, kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain menganggap situasi bisnis yang normal dan mempertimbangkan interpretasi lain, yakni bahwa itu tidak perlu merupakan suatu situasi bisnis yang normal. 2. Rasa ingin tahu, keinginan untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi dalam rangkaian peristiwa dan situasi. 3. Tak menyerah, kemampuan untuk maju terus pantang mundur walaupun fakta (seolah olah) tidak mendukung, dan ketika dokumen atau informasi sulit di peroleh. 4. Akal sehat, kemampuan untuk mempertahankan perspektif dunia nyata 5. Business sense, kemampuan untuk memahami bagaimana bisnis sesungguhnya berjalan, dan bukan sekedar memahami bagaimana transaksi dicatat. 6. Percaya diri, kemampuan untuk mempercayai diri dan temuan kita sehingga kita dapat bertahan dibawah cross examination. 2.2 AUDIT INVESTIGATIF 2.2.1 Pengertian Audit Investigatif Audit Investigasi adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait kasus penyimpangan yang berindikasi merugikan keuangan Negara dan / atau perekonomian Negara, untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung 15

tindakan litigasi dan/atau tidakan korektif manajemen. Audit Investigasi dapat dilaksanakan atas permintaan Kepala Daerah dan Aparat Penegak Hukum. Audit Investigasi termasuk didalamnya audit dalam rangka menghitung kerugian keuangan Negara, audit hambatan kelancaran pembagunan, audit eskalasi audit klaim. 1. Audit Investigasi Hambatan Kelancaran Pembagunan (AIHKP ) adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait dengan permasalahan hambatan kelancaran pembangunan untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung tindakan mediasi dalam penyelesaian masalah; 2. Audit Klaim adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait klaim/tuntutan pihak ketiga untuk memperoleh simpulan sebagai bahan pertimbangan bagi objek penugasan untuk mengambil keputusan penyelesaian klaim/tuntutan; 3. Audit Eskalasi adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait adanya penyesuaian harga satuan dalam kontrak pengadaan barang/jasa yang disebabkan oleh adanya inflasi atau kenaikan harga yang disebabkan oleh kebiajakan pemerintah. 2.2.2 Pendekatan Audit Investigasi Sebagaimana halnya penyelidikan dan penyidikan, audit investigatif bisa dilaksanakan secara REAKTIF atau PROAKTIF. 1. REAKTIF Audit investigatif dikatakan bersifat reaktif apabila auditor melaksanakan audit setelah menerima atau mendapatkan informasi dari pihak lain mengenai kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat reaktif umumnya dilaksanakan setelah auditor menerima atau mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi misalnya dari auditor lain yang melaksanakan audit reguler, dari pengaduan masyarakat, atau karena adanya permintaan dari aparat penegak hukum. Karena sifatnya yang 16

reaktif maka auditor tidak akan melaksanakan audit jika tidak tersedia informasi tentang adanya dugaan atau indikasi kecurangan dan kejahatan. 2. PROAKTIF Audit investigatif dikatakan bersifat proaktif apabila auditor secara aktif mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi tersebut untuk menemukan kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan sebelum melaksanakan audit investigatif. Auditor secara aktif mencari, mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi-informasi yang diperoleh untuk menemukan kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat proaktif perlu dilakukan pada area atau bidangbidang yang memiliki potensi kecurangan atau kejahatan yang tinggi. Audit yang bersifat proaktif dapat menemukan kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan secara lebih dini sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi kecurangan atau kejahatan yang lebih besar. Selain itu Audit investigatif yang bersifat proaktif juga dapat menemukan kejahatan yang sedang atau masih berlangsung sehingga pengumpulan bukti untuk penyelidikan, penyidikan dan penuntutan kejahatan tersebut lebih mudah dilaksanakan. Hasil dari suatu audit investigatif, baik yang bersifat reaktif maupun proaktif dapat digunakan sebagai dasar penyelidikan dan penyidikan kejahatan oleh aparat penegak hukum. Berdasarkan hasil audit tersebut, aparat penegak hukum akan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku untuk kepentingan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan. 2.2.3 Hal-hal Yang Dilakukan (kompetensi) Seorang Auditor Investigasi a. Melakukan evaluasi atas system pengendalian intern. b. Menentukan kekuatan dan kelemahan system pengendalian intern. c. Merancang scenario kerugian dari indikasi kecurangan yang telah terjadi berdasarkan kelemahan system pengendalian intern yang telah teridentifikasi. d. Mengidentifikasi situasi yang mencurigakan dan tidak biasa dalam pembukuan/ laporan. 17

e. Mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mencurigakan dan tidak biasa. f. Membedakan antara kesalahan manusia (Human error) biasa dan kelalaian dengan indikasi kecurangan. g. Menurut arus dokumen yang mendukung transaksi-transaksi. h. Menurut arus dana masuk dan keluar rekening organisasi. i. Mendapatkan dokumen pendukung yang mendasari transaksi yang mencurigakan. j. Menelaah dokumen yang meliputi kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. k. Mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti. l. Mendokumentasikan dan melaporkan suatu kegiatan yang berindikasi kecurangan (korupsi) untuk tuntutan kriminal, perdata atau asuransi. m. Memahami kebijakan, prosedur, praktek manajemen, administrasi dan organisasi. n. Menguji situasi organisasi di bidang motivasi dan etika. 2.2.4 Penyusunan Program Audit Investigasi Disusun berdasarkan hasil telaahan informasi awal dan resume pengembangan informasi yang dirinci dalam beberapa langkah yang bersifat umum dan fleksibel. Program ini disusun dengan tujuan untuk memperoleh alat bukti yang memadai guna memperkuat adanya: a b c Penyimpangan yang merupakan unsur melawan hukum, bisa dilakukan dengan sengaja atau akibat kelalaian dalam menjalankan kewajiban atau tugas pokok dan fungsi. Unsur memperkaya diri, orang lain atau suatu badan atau korporasi. Unsur yang merugikan keuangan negara dan perekonomian negara. 2.2.5 Pelaksanaan Program Dan Tehnik-tehnik Audit Investigasi Tehnik audit yang tepat perlu dikembangkan dan dituntut untuk seorang audit investigasi. Pengembangan kreatifitas ini perlu karena pada kenyataannya kasus yang berindikasi kecurangan sulit dipolakan secara tegas, karena tergantung kondisi dan hasil pengembangan di lapangan. Cara umum tehnik-tehnik audit investigasi hampir sama dengan audit keuangan maupun audit kinerja yaitu diarahkan untuk mendapatkan bukti-bukti, 18

namun karena audit ini lebih ditujukan kepada aspek hukum maka upaya pengungkapan kejadian diharapkan lebih pasti atau dengan lain perkataan tingkat keyakinan bukti yang diperoleh harus diterima oleh aspek hukum. Tehnik audit yang dapat digunakan diantaranya : a Inspeksi ( peninjauan ) Memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata, untuk memperoleh pembuktian atas sesuatu keadaan atau sesuatu masalah. b Observasi ( pengamatan ) Memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata, yang dilakukan secara kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk memperoleh pembuktian atas sesuatu keadaan atau masalah. Kadang observasi dikaitkan dengan melihat dari jarak jauh atau tanpa didasari oleh pihak yang diamati. c Wawancara Tehnik audit dengan tanya jawab ( lisan/tertulis ) untuk memperoleh pembuktian. d Konfirmasi Adalah pembuktian dengan mengusahakan informasi dari sumber lain yang independen, baik secara lisan maupun tertulis. e Analisa Memecahkan atau menguraikan sesuatu keadaan atau masalah ke dalam beberapa bagian atau elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk dihubungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain. f Vouching dan verifikasi ( audit bukti tertulis ) Memeriksa ke-autentik-an dan kelengkapan bukti yang mendukung suatu transaksi. Verifikasi adalah audit atas ketelitian perkalian, penjumlahan, pemilikan dan eksistensinya. g Perbandingan Usaha untuk mencari kesamaan dan perbedaan antara dua dan lebih gejala/fenomena. 19

h Rekonsiliasi Penyesuaian antara dua golongan data yang berhubungan tetapi masing-masing dibuat oleh pihak-pihak yang independen ( terpisah ). i Penelusuran ( trasir ) Kegiatan yang dilakukan dengan jalan menelusuri proses suatu keadaan atas suatu masalah kepada sumber atau bahan pembuktiannya. j Perhitungan kembali ( rekomputasi ) Menghitung kembali kalkulasi yang telah ada untuk menetapkan kecermatannya. k Penelaahan pintas ( scanning ) Melakukan penelaahan secara umum dan cepat untuk menemukan hal-hal yang memerlukan audit lebih lanjut. Misal membaca dengan cepat setiap lembaran catatan perusahaan untuk menemukan hal-hal penting, atau yang tidak lazim atau disangsikan kebenarannya. l Review analitis Prosedur review analitis dapat digunakan mendeteksi area dengan tingkat resiko yang tinggi untuk terjadi penyimpangan pelaporan keuangan. Ada tiga jenis utama prosedur analitis : trend analitis, ratio analitis dan modeling techniques. Trend analisis digunakan untuk menguji trend saldo akun atau perkiraan berbagai dasar untuk menentukan apakah data periode berjalan secara potential salah buku (misstated), yaitu apakah data tersebut menyimpang secara signifikan dibandingkan dengan data hisoris. Tehnik analisis kecenderungan bervariasi. Dari mulai perbandingan 2 periode sampai dengan time-series model. Analisis ini adalah prosedur analitis yang paling umum digunakan. Analisis ratio; merupakan prosedur analisis secara serentak dua atau lebih akun laporan keuangan. Misal current ratio, quik ratio, cash ratio dan debt equity ratio. m Pemaparan 20

Adalah tindakan untuk menjelaskan temuan audit agar diperoleh gambaran secara jelas dan sistematis. Pemaparan berisikan antara lain : resume dan kasus posisi, flowchart modus operandi beserta uraiannya. 2.2.6 Hasil Investigasi Hasil audit investigasi tidak boleh dibocorkan kepada pihak yang tidak berhak mengetahuinya, di mana hasil ini biasanya telah diklarifikasi dan dibacakan ulang kepada si auditee, agar auditee mengerti sejauh mana investigasi dan eksaminasi dilakukan dan hasil yang didapatkan. Disebut keperluan internal karena sang auditor terikat dengan audit metodologi dengan melaporkan apa adanya suatu hasil investigasi dan auditor free to comment kepada atasannya dalam mengemukakan pendapatnya sebagai seorang auditor berdasarkan temuan dan dikategorikan preliminary summary (hasil sementara). Hasil atau kesimpulan sementara ini akan disikusikan dengan bos sang auditor sebelum dibuatkan keputusan final dan keputusan final hasil audit yang disebut executive summary akan dibuat oleh kepala audit kepada siapa sang auditor bertanggung jawab. Hasil audit investigasi dapat dianggap dan digunakan sebagai bukti awal untuk menunjang suatu pembuatan BAP oleh kepolisian atau kejaksaan atau bukti pendahuluan bagi Komisi Pemberantasan Korupsi bila memang suatu fraud diduga terjadi yang mengarah kepada suatu peristiwa kriminal atau crime acts, dalam hal ini adalah korupsi. Audit investigasi adalah sebuah pekerjaan profesional atau expert works. Oleh karena itu, seorang fraud auditor harus mempunyai pengetahuan yang cukup, dan selayaknya seorang fraud auditor adalah seorang auditor yang telah diakui kecakapannya dengan mengantongi CFE (Certified Fraud Examiner) yang dikeluarkan Instute of Internal Auditor (IIA) melalui tahapan penguasaan beberapa modul yang telah dipersyaratakan secara internasional. Analisis fraud adalah merupakan tanggung jawab internal auditor untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya kecurangan melalui pemeriksaan data laporan 21

keuangan dan terjadinya penyimpangan dalam proses tender, inventaris barang, sistem perpajakan, dan dapat juga pada sistem penggajian. Jika terdapat indikasi positif, selanjutnya dilakukan pemeriksaan menyeluruh yang akan dilakukan oleh seorang fraud auditor, di mana kegiatan ini disebut dengan audit investigasi. Kesimpulan akhir dari audit investigasi akan disampaikan kepada lembaga yang berwenang, seperti kejaksaan, kepolisian, komite anti korupsi, bila diminta, dengan mengikuti aturan main atau undang-undang yang dibuat untuk itubilamana ada-oleh kepala atau manajer audit setelah sebelumnya dilakukan penjelasan kembali (debriefing) dengan pihak atau atasan dari si auditee. Seorang fraud auditor tidak boleh melakukan deal dengan sang auditee menyangkut hasil audit investigasi ataupun dengan orang lain yang berkepentingan dengan hasil audit. Apabila hal tersebut dilakukannya, dia dapat dikenai sangsi sesuai aturan yang ada untuk itu. Boleh dikatakan fraud auditor adalah orang suci yang bergeming dengan tawaran yang mungkin diberikan oleh daerah terperiksa, di samping pekerjaannya penuh risiko ancaman dari terperiksa. Untuk itu memang sangat diperlukan undang-undang proteksi bagi seorang fraud auditor, termasuk perlindungan bagi saksi suatu perkara. Selayaknya imbalan atau gaji seorang fraud auditor harus sepadan dengan risiko pekerjaannya karena sejarah mencatat di mana pun di dunia ini seorang fraud auditor selalu menghadapi risiko terhadap pekerjaannya, bergantung pada besar kecilnya suatu pemeriksaan yang dilakukannya. 2.2.7 Standar Audit Investigatif Secara sederhana, standar adalah ukuran mutu. Oleh karena itu, dalam pekerjaan audit, para auditor ingin menegaskan adanya standar tersebut. Dengan standar ini pihak yang diaudit (auditee), pihak yang memakai laporan audit, dan pihak pihak lain dapat mengukur kerja si auditor. 22

K.H Spencer Picket dan Jennifer Picket merumuskan beberapa standar untuk melakukan investigasi terhadap fraud. Konteks yang mereka rajuk adalah investigasi atas fraud yang dilakukan oleh pegawai di perusahaan. Standar tersebut adalah : 1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktik yang diakui (accepted best practices) 2. Kumpulkan bukti bukti dengan prinsip kehati hatian (due care) sehingga bukti bukti tadi dapat diterima di pengadilan 3. Pastikan seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks dan jejak audit tersedia 4. Pastikan bahwa para investigatormengerti hak hak asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya 5. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan, dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum dan administratif maupun hukum pidana 6. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu 7. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontakdengan pihak ketiga, pengamanan mengenai hal hal yang bersifat rahasia, ikut tata cara atau protokol, dokumentasi dan penyelenggara catatan, melibatkan / dan atau melapor ke polisi, kewajiban hukum, dan persyaratan mengenai pelaporan. Standar standar ini akan dijelaskan di bawah dengan konteks Indonesia : Standar 1 Seluruh investigasi harus dilandasi praktik praktik terbaik yang diakui (accepted best practice). Dalam istilah ini tersirat dua hal. Pertama, adanya upaya membandingkan antara praktik praktik yang ada dengan merujuk kepada yang terbaik pada saat itu. Upaya ini disebut benchmarking. Kedua, upaya benchmarking dilakukan terus menerus untuk mencari solusi terbaik. Standar 2 Kumpulkan bukti bukti dengan prinsip kehati hatian (due care) sehingga bukti bukti tadi dapat diterima di pengadilan. 23

Standar 3 Pastikn bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks dan jejak audit tersedia. Dokumentasi ini diperlukan sebagai referensi apabila ada penyelidikan di kemudian hari untuk memastikan bahwa investigasi sudah dilakukan dengan benar Standar 4 Pastikan bahwa para investor mengerti hak hak asasi pegawai dan senantiasa menghormati. Kalau investigasi dilakukan dengan cara yang melanggar hak asasi pegawai yang bersangkutan dapat menuntut perusahaan dan investigatornya. Standar 5 Beban pembuktian ada pada perusahaan yang menduga pegawainya melakukan kecurangan, dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum administrasi maupun kasus pidana. Standar 6 Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu. Dalam melakukan investigasi, kita menghadapi keterbatasan waktu. Dalam menghormati asas praduga tidak bersalah, hak dan kebebasan seseorang harus dihormati. Standar 7 Liput seluruh kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan, pengumpulan bukti dan barang bukti., wawancara, kontak dengan pihak ketiga, pengamanan mengenai hal hal yang bersifat rahasia, ikuti tata cara atau protocol, dokumentasi dan penyelenggaraan catatan, keterlibatan polisi, kewajiban hokum, dan persyaratan mengenai pelaporan. 24

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Akuntan Forensik adalah Akuntan yang menjalankan kegiatan evaluasi dan penyelidikan, dari hasil tersebut dapat digunakan di dalam pengadilan hukum. Meskipun demikian Akuntan forensik juga mempraktekkan keahlian khusus dalam bidang akuntansi, auditing, keuangan, metode-metode kuantitatif, bidangbidang tertentu dalam hukum, penelitian, dan keterampilan investigatif dalam mengumpulkan bukti, menganalisis, dan mengevaluasi materi bukti dan menginterpretasi serta mengkomunikasikan hasil dari temuan tersebut. Akuntan forensik bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan (litigation), dan juga bisa berperan dalam bidang hukum diluar pengadilan (non litigation). Misalnya dalam membantu merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi dan upaya menghitung dampak pemutusan / pelanggaran kontrak. 25

DAFTAR PUSTAKA Tuanakotta, Theodorus M. 2012. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Jakarta: Salemba Empat. http://www.antikorupsi.org diakses pada 6 Desember 2015. 26