BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. cetakan negatif dari jaringan rongga mulut. Hasil cetakan digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. tersebut adalah terjadinya infeksi silang yang bisa ditularkan terhadap pasien, dokter

BAB 1 PENDAHULUAN. digunakan di kedokteran gigi adalah hydrocolloid irreversible atau alginat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras. Istilah ireversibel menunjukkan bahwa

BAB 1 PENDAHULUAN. rumput laut tertentu yang bernama Brown Algae bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Alginat merupakan bahan cetak hidrokolloid yang paling banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jaringan lunak dalam rongga mulut secara detail. Menurut Craig dkk (2004)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mulai menggunakan secara intensif bahan cetakan tersebut (Nallamuthu et al.,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam bidang kedokteran gigi semakin beragam dan pesat. Terdapat berbagai jenis

BAB I PENDAHULUAN. cetak non elastik setelah mengeras akan bersifat kaku dan cenderung patah jika diberi

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. cetak dapat melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan karena

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. model gigitiruan dilakukan dengan cara menuangkan gips ke dalam cetakan rongga

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. proses pencetakan karena bahan ini mempunyai keuntungan dalam aspek dimensi

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kasus kehilangan gigi merupakan kasus yang banyak dijumpai di kedokteran gigi. Salah

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. material. Contoh bahan cetak elastomer adalah silikon, polieter dan polisulfida.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Zeni, et al.,pengaruh Air Rebusan Daun Salam (Eugenia polyantha Wight) sebagai Desinfektan

PENGARUH AIR REBUSAN DAUN SALAM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jaringan keras dan jaringan lunak mulut. Bahan cetak dibedakan atas bahan

PERUBAHAN DIMENSI HASIL CETAKAN ALGINAT YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN EKSTRAK DAUN SALAM 25%

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan gigi dan mulut tidak lepas dari peran mikroorganisme, yang jika

Manipulasi Bahan Cetak Alginat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh rasio w/p terhadap

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Rancangan penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia saat ini sedang menggalakkan pemakaian bahan alami sebagai bahan obat,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuntutan dan kebutuhan akan perawatan ortodonti pada masa kini semakin

BAB 1 PENDAHULUAN. gigitiruan dan sebagai pendukung jaringan lunak di sekitar gigi. 1,2 Basis gigitiruan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mereproduksi hasil yang akurat dari gigi, jaringan lunak dan jaringan keras di dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proses penuaan adalah perubahan morfologi dan fungsional pada suatu

BAB I PENDAHULUAN. mudah dalam proses pencampuran dan manipulasi, alat yang digunakan minimal,

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gigi tiruan lepasan adalah protesis yang menggantikan sebagian ataupun

3. Bahan cetak elastik. -Reversible hidrokolloid (agaragar).

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jamur merupakan mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit

Deskripsi KOMPOSISI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L) DAN PENGGUNAANNYA

PERUBAHAN DIMENSI HASIL CETAKAN ALGINAT SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN EKSTRAK DAUN LIDAH BUAYA 25% (Aloe vera L.)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : Recovery From Deformation Material Cetak Alginat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Masalah Perubahan dimensi pada cetakan gigi dan mulut biasanya

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT BERDASARKAN VARIASI SUHU AIR (REVISI)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Recovery from Deformation Material Cetak Alginat

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat Indonesia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 yang

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. menggantikan struktur rongga mulut atau sebagian wajah yang hilang. 2, 3

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masih merupakan masalah di masyarakat (Wahyukundari, 2009). Penyakit

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Setting Time Bahan Cetak Alginat Berdasarkan Variasi Suhu Air

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Hydrocolloids Impression Materials

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gigi tiruan sebagian lepasan (removable partial denture) adalah gigi tiruan

PERUBAHAN BERAT HASIL CETAKAN BAHAN CETAK ALGINAT TIPE NORMAL SETTING YANG BERBEDA PADA MENIT-MENIT AWAL IMBIBISI

Lamiah, et al, Pengaruh Desinfeksi dengan Teknik Spray Rebusan Daun Sirih Hijau...

BAB 1 PENDAHULUAN. anatomis, fisiologis maupun fungsional, bahkan tidak jarang pula menyebabkan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Desinfektan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Semen ionomer kaca banyak dipilih untuk perawatan restoratif terutama

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mahkota (crown) dan jembatan (bridge). Mahkota dapat terbuat dari berbagai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

VII. TEKNIK PENCETAKAN

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya adalah dengan menggunakan obat kumur antiseptik. Tujuan berkumur

BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva

BAB 1 PENDAHULUAN. lainnya sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Angka kejadian masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. laesa. 5 Pada kasus perawatan pulpa vital yang memerlukan medikamen intrakanal,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak/biofilm, dan diet. Komponen diet

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karies adalah penyakit jaringan keras gigi, yaitu enamel, dentin dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyebab utama terjadinya kehilangan gigi. Faktor bukan penyakit yaitu sosiodemografi

BAB I PENDAHULUAN. 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. anak-anak sampai lanjut usia. Presentase tertinggi pada golongan umur lebih dari

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 0,1%, usia tahun 0,4 %, usia tahun 1,8%, usia tahun 5,9%

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Dalam kedokteran gigi, bahan cetak digunakan terutama untuk meniru bentuk gigi, selain itu juga untuk membuat restorasi dan preparasi untuk perawatan restoratif, dan juga bentuk dari jaringan keras dan lunak lainnya. 3 Dari cetakan, kemungkinan akan dihasilkan replika yang tepat dari struktur gigi geligi dengan menggunakan bahan cetak atau die, seperti dental stone atau beberapa jenis bahan plastis. Kemudian replika ini disebut positive reproduction yang dapat digunakan dalam perencanan perawatan atau dalam membuat suatu restorasi. 16 Bahan cetak yang dipergunakan di Kedokteran Gigi seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Klasifikasi Bahan Cetak Kedokteran Gigi 16 Kaku Elastis Hidrokoloid Elastomer Impression compound Zinc oxide eugenol Plaster of Paris Agar (reversible) Alginat (irreversible) Polisulfid Polieter Silikon kondensasi Silikon adisi (polyvinylsiloxane) 2.1 Bahan Cetak Alginat Alginat berasal dari rumput laut tertentu yang berwarna coklat (algae) yang bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir yang aneh yang disebut algin. 2,17 Substansi alami ini kemudian diidentifikasi sebagai suatu polimer linier dengan berbagai kelompok asam karboksil dan dinamakan asam anhydro-ß-d-mannuronic (disebut juga asam alginik). Asam alginik serta kebanyakan garam anorganik tidak larut dalam air, tetapi garam yang diperoleh dengan natrium, kalium, ammonium larut dalam air. 2 Bahan cetak alginat mengandung sodium alginate, kalsium sulfat, sodium fosfat, diatomaceous earth, oksida seng, potassium titanium fluor. 1 Menurut ANSI- ADA Spesification No.18 (ISO 1563 [1992]) komposisi alginat dan fungsinya dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 2. Komposisi Bubuk Alginat dan Fungsinya 17 Komponen Fungsi Sodium atau potassium alginate Kalsium sulfat Sodium fosfat Sebagai pelarut dalam air Bereaksi dengan sodium alginat membentuk gel kalsium alginat tidak larut air. Bereaksi khusus dengan ion kalsium untuk menyediakan waktu kerja sebelum gelasi.

Diatomaceous earth atau silicate powder Potassium sulfat atau potassium seng florida Organic glycol Pigmen Quaternary ammonium compounds atau klorheksidin Fenilalanin Untuk mengontrol konsistensi campuran dan fleksibilitas cetakan. Untuk mempercepat pengerasan stone. Untuk melindungi partikel bubuk dari debu Untuk pewarna Sebagai bahan disinfektan Sebagai pemanis Alginat dicampur dengan air hingga menjadi campuran yang diinginkan. Bila alginat larut air dicampur dengan air, bahan tersebut akan membentuk sol, dimana campuran tersebut bersifat gel irreversibel beberapa menit setelah pencampuran. 2,17,18 Jumlah relatif air dan bubuk alginat memengaruhi fleksibilitas alginat yang sudah keras. Campuran yang kental akan menghasilkan fleksibilitas yang lebih rendah. 6 Bahan cetak alginat diproduksi dalam kemasan kantung tertutup dengan berat bubuk yang sudah ditakar untuk membuat satu cetakan, atau dalam jumlah besar dalam kaleng. 2 2.2 Sifat Bahan Cetak Alginat Bahan cetak alginat merupakan gel yang bersifat hidrofilik, sebagian besar struktur dari gel tersebut diisi oleh air. Apabila volume air dalam gel berubah, volume alginat akan menyusut atau mengembang dan mempengaruhi stabilisasi dimensi. 19 Ini merupakan sifat bahan cetak alginat yaitu sineresis dan imbibisi. 2.2.1 Sineresis Alginat merupakan hidrokoloid gel yang mengandung sejumlah besar air. Air ini akan menguap bila cetakan ditempatkan di udara terbuka sehingga cetakan

menyusut (shrinkage) oleh sineresis. 3,4 Segera setelah cetakan dikeluarkan dari dalam mulut dan terkena udara pada temperatur ruangan, pengerutan yang berhubungan dengan sineresis dan penguapan akan terjadi. Sineresis tersebut akan menyebabkan alginat mengalami perubahan dimensi. 2 Penyimpanan pada udara dengan relative humidity 100% menghasilkan perubahan dimensi terkecil. Gel alginat bagaimanapun akan menyusut walaupun pada kondisi relative humidity 100% sebagai hasil proses sineresis, dimana air terbentuk pada permukaan cetakan. 5,17 Idealnya, hasil cetakan segera diisi setelah didisinfeksi. Jika cetakan harus disimpan sampai dapat diisi setelah beberapa jam kemudian, cetakan tersebut harus disimpan dalam keadaan humidity (kelembaban) 100% dengan menggunakan handuk yang lembab dan disimpan dalam kantung plastik tertutup. 2,3 2.2.2 Imbibisi Bila cetakan alginat direndam dalam air, air akan diabsorbsi dan cetakan mengembang (expand) yang disebut dengan imbibisi. Gel dapat mengalami perubahan dimensi oleh karena proses imbibisi. 2 Penelitian mengenai perubahan dimensi alginat menegaskan, penyimpanan alginat harus dalam jangka waktu sesingkat mungkin dan juga pembuatan dari model atau die harus diproses sesegera mungkin setelah cetakan dibuat. 18 2.3 Bahan Desinfektan Pemakaian desinfektan pada bahan hasil cetakan sangat dianjurkan untuk mencegah infeksi silang. Desinfektan dapat dipakai dengan cara perendaman dan penyemprotan/spray. 2,8,11,20 Walaupun demikian desinfektan secara penyemprotan maupun perendaman dilaporkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dimensi hasil cetakan. 5

Ada beberapa jenis cairan yang dapat dipakai sebagai bahan desinfektan dalam bentuk spray maupun cairan rendam seperti 6 : a. Chlorine solution, cenderung berbahaya untuk kulit, mata dan lain sebagainya, dapat memutihkan pakaian, mempunyai bau yang kurang menyenangkan dan sangat korosif terhadap logam. b. Aldehyde solution, mempunyai bau yang mencekik dan iritasi terhadap kulit dan mata. Produk-produk komersial biasanya dibuat dari cairan berbasis glutaraldehyde daripada cairan berbasis formaldehyde. Glutaraldehyde 2% merupakan disinfektan pilihan. c. Iodine solution atau iodofor 1% d. Phenols. Efek disinfektan pada akurasi dan stabilisasi dimensi bahan cetak sedang dipelajari secara luas. Bahan cetak alginat mengalami perubahan dimensi yang sangat signifikan bila direndam dalam glutraldehyde, formaldehyde, atau sodium hypochlorite lebih dari 15 menit dan juga dengan penyemprotan dan dibiarkan kontak dengan derifat fenol selama 30 menit. Sodium hypochlorite juga menyebabkan dissolusi sebagian pada bahan cetak alginat. 6 2.4 Larutan Ekstrak Daun Salam 25% Sebagai Bahan Penghambat Pertumbuhan Mikroorganisme WHO menyatakan sebagian besar dari populasi penduduk di dunia bergantung pada obat-obatan tradisional sebagai pengobatan pertama. Tanaman obat dan aromatik merupakan sumber daya alam yang digunakan secara luas sebagai obat-obatan. Informasi yang diperoleh tentang kandungan zat aktif dalam herbal bersifat setara dengan obat modern. 12,21 Dilihat dari aspek ekonomi, pemakaian herbal mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena pada umumnya tanaman obat ini dibudidaya dalam bentuk industri rumah tangga. Penggunaan herbal untuk kepentingan peningkatan kesehatan sangat mendukung program pemerintah dalam program kesehatan primer, kemandirian

kesehatan masyarakat, membuat masyarakat sehat dan tidak terikat pada import bahan-bahan baku obat modern. 12 Salah satu kemampuan obat tradisional adalah sebagai antibakteri yaitu tanaman kemukus, mimba, sambiloto, kunyit, dan bawang putih. Tanaman herbal juga digunakan sebagai anti jamur, yaitu tanaman lidah buaya dan jambu mete. 12 Masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan pada umumnya memanfaatkan tanaman obat, salah satunya adalah daun salam (Eugenia polyantha W) sebagai obat kumur, seperti yang terlihat pada gambar 1. 21 Gambar 1. Daun salam (Eugenia polyantha Wight) Secara ilmiah, daun salam bernama Eugenia polyantha Wight dengan sinonim Eugenia lucidula miq dan Syzyqium polyanthum Wight. Taksonomi menempatkan tanaman ini dalam divisi Spermatophyte, subdivisi Pinophyta, klas Coniferopsida, famili Eugenia, genus Myricales, dan spesies Eugenia polyanthum (Wight). 14 Dalam beberapa daerah dan provinsi di Indonesia, daun salam dikenal sebagai meselangan (Sumatera), ubar serai (Melayu), salam (Jawa,Sunda,Madura), gowok (Sunda), manting (Jawa) atau kastolam (Kangean). 14 Daun dari tanaman salam juga dapat digunakan sebagai obat katarak, stroke, asam urat, kolesterol, diabetes, gatal-gatal, dan radang lambung. 14 Daun salam mengandung tannin, flavonoid, dan minyak atsiri, termasuk asam sitrat dan eugenol. Tanin adalah salah satu zat yang termasuk ke dalam golongan phenol, zat ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengendapkan dan mengubah sifat dari protein bakteri. Flavonoid adalah salah satu senyawa phenol

alami yang paling sering ditemukan dalam tanaman, flavonoid memiliki kemampuan sebagai antibakteri dan antiinflamasi. Minyak atsiri memiliki kemampuan antibakteri dan antifungal, serta antioksidan. 14 Dalam kedokteran gigi sendiri, daun salam digunakan di bidang konservatif dan endodontik dalam perawatan pulpitis. Dimana dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa Eugenia polyantha Wight dapat menurunkan jumlah koloni Streptococcus sp dalam sampel yang dibilas dengan larutan Eugenia polyantha Wight 100%, 75%, dan 50%. 14 Selain itu, daun salam juga digunakan dalam prostodontik sebagai bahan pembersih gigi tiruan. Ekstrak daun salam 40%, 60%, dan 80% dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans pada basis gigi tiruan resin akrilik. 14 Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sumono dan Wulan pada tahun 2009, membuktikan bahwa berkumur dengan air rebusan daun salam dapat mengurangi jumlah koloni bakteri Streptococcus sp. Semakin tinggi konsentrasi rebusan daun salam, jumlah koloni bakteri Streptococcus sp. semakin sedikit. 20 Pada penelitian yang dilakukan oleh Andini, dkk pada tahun 2010, dapat disimpulkan bahwa perendaman cetakan polyvinyl siloxane dalam ekstrak daun salam (Eugenia polyantha) 25% selama 3 menit telah dapat menurunkan jumlah koloni Streptococcus mutans. 15 2.5 Gypsum Ada beberapa bahan yang dapat dipakai sebagai bahan untuk die atau model seperti stone gips, epoxy resin, polyurethane, dan silverplated method. Gips dipergunakan sebagai bahan pengisi cetakan dalam berbagai jenis seperti model plaster, dental stone dan high-expansion dental stone. 5 Secara kimiawi, gypsum yang dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO 4 2H 2 O) murni. 2 Terdapat 5 jenis gipsum yang terdaftar oleh Spesifikasi ADA No. 25 berdasarkan sifat-sifat yang dihasilkan oleh masing-masing gipsum, yaitu 2 :

a. Impression plaster (Tipe I). Plaster jenis ini terbatas digunakan untuk cetakan akhir, atau wash, dalam pembuatan gigi tiruan penuh. b. Model plaster (Tipe II). Disebut juga plaster laboratorium, digunakan untuk mengisi kuvet dalam pembuatan protesa bila ekspansi pengerasan tidaklah penting dan kekuatan cukup. c. Dental stone (Tipe III). Stone tipe ini lebih disukai untuk pembuatan model yang digunakan pada konstruksi protesa, karena stone tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan setelah proses selesai. d. Dental stone, Kekuatan Tinggi (Tipe IV). Memiliki rata-rata kekerasan lebih tinggi dari stone tipe III. e. Dental stone, Kekuatan Tinggi, Ekspansi Tinggi (Tipe V). Memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan stone tipe IV. Kekuatan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W:P. Produk gipsum agak peka terhadap perubahan kelembaban relatif dari lingkungan. Bahkan kekerasan permukaan dari model plaster dan stone mungkin berfluktuasi sedikit dengan kelembaban atmosfer relatif. Karena itu, adalah penting bahwa semua jenis produk gypsum disimpan dalam atmosfer kering. 2

2.6 Kerangka Teori Bahan Cetak Kaku Elastis Hidrokoloid Elastomer - Impression compound - Zinc oxide eugenol - Plaster of Paris Agar (reversible) Alginat (irreversible) - Polisulfid - Polieter - Silikon kondensasi - Silikon adisi (polyvinylsiloxane)

Desinfeksi Komposisi Sifat Bahan Kimia Bahan alami Penyemprotan Perendaman Sineresis Imbibisi Shrinkage Expand 2.7 Kerangka konsep Perubahan dimensi P/W rasio Bahan cetak alginat Temperatur Viskositas Setting time Hasil cetakan alginat

Langsung diisi dengan dental stone Perendaman dalam larutan ekstrak daun salam 25% Sifat alginat: imbibisi Perubahan dimensi hasil cetakan alginat BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian: Eksperimental laboratorium 3.2 Desain Penelitian: Posttest only control group design 3.3 Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fakultas Farmasi USU Medan dan Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi USU Medan.