3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pendekatan Studi Sumber daya itu bersifat langka sehingga setiap pihak akan saling berkompetisi dengan lainnya untuk mendapatkannya. Pada situasi ketika tidak ada hak kepemilikan (absence of propery rights), maka kompetisi akan berlangsung dengan kekerasan (destructive competition) (Alchian 2002) hingga yang teradi kemudian adalah dunia yang anarkis (a world of anarchy) (Allen 2005). Pada situasi ketika hak kepemilikan terdefinisikan dan terlindungi dengan sempurna (well-defined and well-protected property rights), maka kompetisi akan berlangsung secara damai (competition by peaceful means) (Alchian 2002). Oleh karena itulah hak kepemilikan butuh untuk dibangun (establish) dan diaga (maintain). Upaya untuk membangun dan menaga hak kepemilikan tentu membutuhkan sumber daya, misalnya membeli pagar dan gemboknya berikut menggai seorang penaga rumah adalah sumber daya yang digunakan untuk menaga hak kepemilikan. Segala sumber daya yang digunakan untuk membangun dan menaga hak kepemilikan adalah biaya transaksi (Allen 1991, 1999, 2005). Untuk mengukur biaya transaksi, unit analisis yang digunakan adalah transaksi sebagai unit analisis mikro (microanalytic unit) (Williamson 1996). Transaksi dibagi ke dalam tiga tahapan yaitu (i) tahap akuisisi, tahap ini serupa dengan ex-ante cost pada penggolongan biaya transaksi versi Williamson (1996). Tahap akuisisi adalah tahap untuk membangun hak kepemilikan atas suatu sumber daya melalui perancangan, negosiasi, dan kesepakatan kontrak, (ii) tahap distribusi, adalah tahap untuk mengalokasikan sumber daya dengan batasan kontrak yang dibuat pada tahap akuisisi sebelumnya. Alokasi sumber daya ini ditentukan oleh distribusi hak kepemilikan sebagaimana Teori Coase nyatakan, dan (iii) tahap penagaan, adalah tahap untuk menaga agar pengunaan sumber daya sesuai dengan kontrak dan alokasinya. Pembagian transaksi ke dalam tiga tahapan inilah yang mencirikan mazhab hak kepemilikan dan membedakannya dengan mazhab neoklasik. Pada mazhab hak kepemilikan, biaya untuk mendistribusikan dan menaga sumber daya adalah biaya transaksi internal di dalam aktor pasar (atau internal to the firms). Pada mazhab neoklasik, biaya transaksi hanya muncul sebagai biaya antar aktor pasar
49 (across market) saa (Cheung 1969, diacu dalam Allen 1999) dan enis biaya penegakan (enforcement-type cost) di dalam perusahaan bukanlah biaya transaksi (Allen 1999). Kelembagaan mempengaruhi biaya transaksi pada ketiga tahapan tersebut (akuisisi, distribusi dan penagaan). Pada tahap akuisisi, kelembagaan mempengaruhi biaya transaksi salah satunya melalui pilihan akan enis kontrak. Pada tahap distribusi, kelembagaan mempengaruhi biaya transaksi melalui distribusi hak kepemilikan. Pada tahap penagaan, kelembagaan mengatur mekanisme dan intensitas penagaan internal (dilakukan sendiri oleh organisasi yang bersnagkutan) dan eksternal (dilakukan bersama dengan mitra transaksi). Khusus mengenai tahap akuisisi, mengingat tahapan ini adalah tahapan antar aktor pasar maka biaya transaksinya uga dipengaruhi oleh kelembagaan lain sebagai mitra transaksi. Biaya transaksi diukur dengan menghitung sumber daya manusia dan nilai atas waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan masing-masing dari ketiga tahap transaksi tersebut. Nilai atas sumber daya manusia dan waktu ditentukan dengan nilai opportunity cost-nya. Persamaan untuk mengukur biaya transaksi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: dimana: TC t = 3 T + 3 at a= 1 a= 1 H at....(3.1) TC t = biaya transaksi pada transaksi t di kelembagaan ; T at H at a = kelembagan (1 = KALAM, 2 = KARTAR); = opportunity costs dari waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tahap a pada transaksi t di kelembagaan ; = opportunity costs dari sumber daya manusia yang melaksanakan tahap a pada transaksi t di kelembagaan ; = 1 adalah tahap akuisisi hak kepemilikan, 2 adalah tahap distribusi hak kepemilikan, 3 adalah tahap penagaan hak kepemilikan. Besaran biaya transaksi yang didapatkan dipengaruhi oleh faktor-faktor meliputi (i) modal sosial dalam bentuk aringan dan reputasi mempengaruhi biaya transaksi secara negatif, dan (ii) kelengkapan dan kesempurnaan hak
50 kepemilikan (completeness and perfection of property rights), informasi asimetris (asymmetric information) dan spesifisitas aset (assets specificity) mempengaruhi biaya transaksi secara positif. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya transaksi dan bentuk pengaruhnya dapat dituliskan dalam persamaaan sebagai berikut: Biaya transaksi = f (3.2). network reputation incomplete propertyeight imperfect propertyright asymmetricinf ormation asset specificity (,,,,, ) + Tuuan kedua dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap besaran biaya transaksi pada kedua kelembagaan pemuda. Tuuan kedua ini dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut: TC t = dimana: f ( X, X, X, X, X X ) 1 2 3 4 5, TC t = biaya transaksi pada transaksi t di kelembagaan ; + 6 +......(3.3) + x 1 x 2 x 3 x 4 x 5 = kategori struktural dari modal sosial dalam bentuk aringan (kualitas hubungan sebelumnya dengan mitra transaksi, umlah anggota yang menadi teman akrab); = aspek reputasi dari modal sosial (tingkat tugas yang diselesaikan responden dan anggota lainnya secara tepat waktu dan sesuai); = hak kepemilikan yang tidak lengkap (hak individu dan organisasi untuk memilih bentuk-bentuk penggunaan sumber daya, hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi, hak untuk mengecualikan pihak lain, hak untuk mentransfer sumber daya); = hak kepemilikan yang tidak sempurna (tingkat penggunaan sumber daya oleh orang yang tidak berhak); = informasi asimetris (tingkat penguasaan informasi antar orang dan responden mengenai kondisi sumber daya); x 6 = tingkat spesifisitas aset (tingkat penggunaan secara berbeda dibandingkan yang dimaksudkan di awal, tingkat kerugian akibat penggunaan secara berbeda). Penelitian ini uga hendak mengetahui tingkat efektivitas kelembagaan dalam mencapai tuuannya yang dapat dikaitkan sebagai implikasi dari besaran biaya transaksi. Tingkat pencapaian tuuan kelembagaan dilihat dari tiga hal (i) seberapa baik masyarakat mengenal masing-masing lembaga dari sisi tuuan
51 dan kegiatan-kegiatannya, (ii) seberapa banyak pemuda yang mendapat pengaruh positif, dan (iii) seberapa besar dampak dari pengaruh positif yang diberikan. Selengkapnya mengenai kerangka pendekatan studi dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Kerangka pendekatan studi yang digunakan di dalam penelitian ini
52 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilangsungkan di Komunitas Peduli Kampung Halaman (KALAM) Kelurahan Tegal Gundil Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor dan Karang Taruna Berbakti (KARTAR) Kelurahan Kebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor. Gambar 2 Lokasi KALAM di Kelurahan Tegal Gundil dan KARTAR di Kelurahan Kebon Pedes sebagai tempat penelitian (sumber peta: Bappeda Kota Bogor 2009). Pemilihan dua organisasi ini didasari oleh (i) keduanya merupakan kelembagaan yang telah bertahan lama (long lived institutions) menandakan bahwa keduanya efisien sehingga sesuai untuk diadikan subyek penelitian biaya transaksi, (ii) keduanya merupakan organisasi pemuda berbasis wilayah yaitu di tingkat kelurahan sehingga turut sebagai pihak pengelola sumber daya wilayah, dan (iii) keduanya berprestasi baik di tingkat kota Bogor maupun provinsi Jawa Barat. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September 2008 hingga Mei 2009. Pengolahan data dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2009.
53 3.3 Metode Penelitian yang Digunakan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada dua organisasi pemuda. Metode studi kasus ini digunakan sehingga dapat dikai secara lebih mendalam mengenai biaya transaksi pada dua organisasi pemuda tersebut dengan tetap mempertimbangkan karakteristik lokalnya. Hasil dari studi kasus pada masing-masing kelembagaan ini lantas dibandingkan. Pembandingan dilakukan sehingga diketahui faktor-faktor yang melekat (embedded) pada masing-masing organisasi yang mempengaruhi minimalisasi biaya transaksi dan uga diketahui pengaruh dari besaran biaya transaksi terhadap efektivitas pencapaian tuuan kelembagaan. 3.4 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini bersifat mikro (dengan unit analisisnya adalah transaksi sebagai microanalytic unit) sehingga keseluruhan data yang diolah adalah data primer. Data primer didapatkan melalui observasi lapang, wawancara mendalam, dan pengisian kuesioner oleh responden yang terdiri atas (i) responden pelaku, ialah pengurus dan anggota masing-masing lembaga pemuda yang terlibat dalam transaksi, dan (ii) responden penerima manfaat (beneficiaries), ialah masyarakat kelurahan setempat dimana kelembagaan tersebut berada. Data sekunder dalam bentuk monografi kelurahan dari pemerintah kelurahan setempat dikumpulkan untuk membangun populasi dari responden beneficiaries sebagai dasar penarikan sampel. Bahan-bahan pustaka dan hasilhasil penelitian terdahulu uga merupakan data sekunder yang dikumpulkan sebagai referensi. 3.5 Teknik Pengambilan Responden Pengambilan responden pelaku dilakukan melalui sensus mengingat populasinya yang kecil yaitu enam orang anggota KALAM dan lima orang anggota KARTAR sehingga keseluruhan umlah responden pelaku mencapai 11 orang. Pengambilan responden beneficiaries dilakukan dengan teknik pengambilan sampel bertingkat (stratified random sampling) yaitu pengambilan responden dengan cara mengelompokkan anggota populasi berdasarkan kategori-kategori tertentu. Populasi adalah warga Rukun Tetangga (RT) tempat organisasi KALAM dan KARTAR berlokasi. Kategori yang digunakan adalah
54 kelompok umur, yaitu kategori pemuda (dalam rentang usia 18-35 tahun berdasarkan definisi pemuda menurut RUU Kepemudaan) dan kategori dewasa (usia di atas 35 tahun). Langkah yang pertama kali dilakukan adalah membangun data populasi dalam bentuk daftar nama warga dari masing-masing RT tempat berlokasinya KALAM dan KARTAR. Dari data populasi tersebut maka diketahui umlah keseluruhan warga RT yaitu sekitar 180 orang di RT tempat KALAM berlokasi dan sekitar 100 orang di RT tempat KARTAR. Jumlah responden beneficiaries yang diambil di dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi sehingga didapat 18 orang warga di RT tempat KALAM berlokasi dan 10 orang warga di RT tempat KARTAR berlokasi. Jumlah responden tersebut dibagi lagi menurut stratifikasi usia dengan komposisi 50% pemuda dan 50% dewasa. Setelah didapatkan umlah responden beneficiaries pemuda dan dewasa, maka selanutnya ditentukanlah responden secara acak. 3.6 Pengukuran Besaran Biaya Transaksi pada KALAM dan KARTAR Pengumpulan data untuk mengukur besaran biaya transaksi dilakukan melalui wawancara mendalam dengan responden pelaku pada KALAM dan KARTAR. Pengukuran biaya transaksi dilakukan terhadap transaksi sebagai unit analisis. Kriteria transaksi untuk kedua organisasi pemuda ini adalah (i) memiliki nilai kontrak yang sama antara KALAM dan KARTAR, dan (ii) kontrak tersebut bernilai besar bagi kedua organisasi tersebut. Kriteria transaksi tersebut dibutuhkan agar biaya transaksi pada kedua organisasi dapat diperbandingkan. Transaksi dibagi ke dalam tiga tahapan yaitu (i) tahap akuisisi, adalah tahap untuk membangun hak kepemilikan atas suatu sumber daya melalui perancangan, negosiasi, dan kesepakatan kontrak, (ii) tahap distribusi, adalah tahap untuk mengalokasikan sumber daya dengan batasan kontrak yang dibuat pada tahap akuisisi sebelumnya, dan (iii) tahap penagaan, adalah tahap untuk menaga agar pengunaan sumber daya sesuai dengan kontrak dan alokasinya. Pengukuran biaya transaksi dilakukan pada masing-masing tahapan tersebut. Pengukuran biaya transaksi membutuhkan variabel proxies. Proxies yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah opportunity costs dari sumber daya manusia dan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ketiga tahapan
55 transaksi tersebut. Persamaan untuk mengukur biaya transaksi adalah sebagai berikut: dimana: TC t = 3 T + 3 at a= 1 a= 1 H at....(3.1) TC t = biaya transaksi (Rp) pada transaksi t di kelembagaan ; T at H at a = kelembagan (1 = KALAM, 2 = KARTAR); = opportunity costs (Rp) dari waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tahap a pada transaksi t di kelembagaan ; = opportunity costs (Rp) dari sumber daya manusia yang melaksanakan tahap a pada transaksi t di kelembagaan ; = 1 adalah tahap akuisisi hak kepemilikan, 2 adalah tahap distribusi hak kepemilikan, 3 adalah tahap penagaan hak kepemilikan. Penghitungan opportunity costs atas waktu (T at ) menggunakan suku bunga tabungan tertinggi per Oktober 2008 berdasarkan informasi dari situs Bank Indonesia yaitu sebesar 5,37%. Opportunity costs atas sumber daya manusia dihitung dengan menggunakan Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2009 yang berlaku untuk usaha kecil menengah (UKM) di kota Bogor yaitu sebesar Rp 769.626,00/bulan (Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.684- Bangsos/2008). 3.7 Penguian Faktor-faktor Kelembagaan yang Berpengaruh terhadap Minimalisasi Biaya Transaksi Penguian faktor-faktor kelembagaan yang mempengaruhi minimalisasi biaya transaksi dilakukan dengan menggunakan alat analisis fungsi diskriminan (discriminant function analysis). Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh responden pelaku pada KALAM dan KARTAR. Kuesioner selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Group a + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4 + b5 x5 + b6 x6 =...(3.4) dimana: = kelembagan (1 = KALAM, 2 = KARTAR)
56 a b x 1 x 2 x 3 x 4 x 5 x 6 = konstanta = koefisien regresi = kategori struktural dari modal sosial dalam bentuk aringan (kualitas hubungan sebelumnya dengan mitra transaksi, umlah anggota yang menadi teman akrab) = aspek reputasi dari modal sosial (tingkat tugas yang diselesaikan responden dan anggota lainnya secara tepat waktu dan sesuai) = hak kepemilikan yang tidak lengkap (hak individu dan organisasi untuk memilih bentuk-bentuk penggunaan sumber daya, hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi, hak untuk mengecualikan pihak lain, hak untuk mentransfer sumber daya) = hak kepemilikan yang tidak sempurna (tingkat penggunaan sumber daya oleh orang yang tidak berhak) = informasi asimetris (tingkat penguasaan informasi antar orang mengenai kondisi sumber daya) = tingkat spesifisitas aset (tingkat penggunaan secara berbeda dibandingkan yang dimaksudkan di awal, tingkat kerugian akibat penggunaan secara berbeda) Pengukuran variabel penelas dilakukan dengan menggunakan skoring. Kategori yang digunakan untuk masing-masing variabel berikut skoringnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Data yang didapatkan dari pengukuran variabel penelas adalah data kualitatif dengan skala data ordinal. 3.7.1 Analisis Fungsi Diskriminan KALAM dapat dikatakan sebagai grup 1 sedangkan KARTAR adalah grup 2. Kedua grup ini diduga akan memiliki besaran biaya transaksi yang berbeda. Untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi perbedaan biaya transaksi tersebut maka digunakan analisis fungsi diskriminan (discriminant function analysis). Analisis fungsi diskriminan digunakan untuk menentukan variabel-variabel yang membedakan (discriminate) antara dua grup atau lebih. Satu contoh penggunaan analisis ini adalah pada lulusan sekolah menengah atas (SMA) yang melanutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
57 Para lulusan ini dapat dikelompokkan menadi lulusan yang melanutkan pendidikan (sebagai grup 1) dan lulusan yang tidak melanutkan pendidikan (sebagai grup 2). Variabel yang diduga mempengaruhi berlanut tidaknya pendidikan oleh lulusan SMA untuk melanutkan pendidikannya atau tidak misalnya adalah prestasi siswa setahun sebelum kelulusan. Maka, setahun sebelum kelulusan variabel tersebut diukur. Setelah kelulusan dan grup yang melanutkan pendidikan dan tidak telah diketahui, maka dihitung rata-rata (means) variabel prestasi siswa yang telah diukur sebelumnya. Jika nilai rata-rata variabel antara grup 1 dan 2 ternyata berbeda, maka dapat dikatakan bahwa prestasi siswa setahun sebelum kelulusan dapat digunakan untuk membedakan (discriminate) antara siswa yang akan melanutkan pendidikannya dengan yang tidak. Secara ringkas, ide dasar dari analisis fungsi diskriminan adalah menentukan variabel-variabel yang menadi pembeda antar grup yang diperbandingkan. Variabel pembeda itu lantas dapat digunakan untuk memprediksi keanggotaan grup pada kasus-kasus yang lebih baru. Menggunakan contoh sebelumnya, ika diketahui bahwa prestasi siswa setahun sebelum kelulusan mempengaruhi melanutkan tidaknya siswa ke pendidikan tinggi, maka variabel tersebut dapat digunakan untuk memprediksi siswa-siswa mana yang sekiranya melanutkan pendidikan dan mana yang tidak. Proses perhitungan analisis ini serupa dengan ANOVA (Analysis of Variance) ika menggunakan satu variabel saa, dan serupa dengan MANOVA (Multivariate Analysis of Variance) ika variabel yang diui lebih dari satu. Untuk mengetahui nyata tidaknya suatu variabel membedakan antar grup maka digunakan tes F ika hanya satu variabel saa yang digunakan atau multivariate F test ika terdapat beberapa variabel. Pada penguian yang hanya melibatkan dua grup saa, maka analisis fungsi diskriminan ini uga sama dengan regresi berganda. Dua grup yang diperbandingkan itu dapat diperlakukan sebagai variabel tuuan sebagaimana pada analisis regresi berganda. Secara umum, kasus dua grup akan memenuhi persamaan sebagai berikut: Group = a + b x + b x +... + b x 1 1 2 2 m m...(3.5)
58 dimana a adalah konstanta dan b 1 hingga b m adalah koefisien regresi. Interpretasi hasil analisis fungsi diskriminan pada dua grup mengikuti logika regresi berganda bahwa variabel-variabel yang memiliki koefisien regresi terbesar adalah variabelvariabel yang paling berkontribusi terhadap prediksi keanggotaan grup. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa analisis fungsi diskriminan ini memiliki kemiripan penghitungan dengan MANOVA, maka asumsi-asumsi yang berlaku pada MANOVA uga berkalu pada analisis fungsi diskriminan. Asumsi-asumsi tersebut adalah (i) data untuk setiap variabel memiliki distribusi normal. Normal tidaknya distribusi pada setiap variabel dapat diui dengan menggunakan histogram distribusi frekuensi. Hanya saa, pelanggaran terhadap asumsi ini biasanya tidak berdampak fatal, dalam arti tes signifikansinya masih dapat nyata (trustworthy), (ii) homogenitas varian dan kovarian, diasumsikan bahwa matriks varian/kovarian variabel adalah homogen antar grup. Sebagaimana pada asumsi distribusi normal, penyimpangan kecil pada asumsi homogenitas ini uga tidak akan berdampak fatal, (iii) korelasi antara rata-rata dan varian, asumsi inilah yang memiliki dampak fatal terhadap tes signifikansi. Hal ini teradi ketika nilai rata-rata variabel antar grup berkorelasi dengan varian (atau standar deviasi). Pada prakteknya, situasi ini dapat teradi ketika salah satu grup yang diui memiliki beberapa pencilan (outliers) ekstrim dan mempengaruhi nilai rata-rata secara signifikan sekaligus uga meningkatkan variablitas, dan (iv) redundansi variabel. Variabel yang digunakan untuk membedakan antar kelompok tidak boleh redundan. Sebagai contoh redundansi adalah digunakannya satu variabel yang sebenarnya merupakan hasil penumlahan dari tiga variabel lainnya. Untuk menghindari hal ini dilakukan penghitungan nilai toleransi (tolerance value) untuk setiap variabel dengan rumus: Tolerancevalue = 1 R Pada kasus variabel redundan maka nilai toleransi akan mendekati nol. 2 Fungsi Klasifikasi Salah satu tuuan utama lainnya dari penggunaan analisis fungsi diskriminan adalah untuk memprediksi klasifikasi dari suatu kasus. Setelah model selesai dibangun dan fungsi diskriminan telah ditentukan, maka hasil
59 tersebut dapat digunakan untuk memprediksi grup mana yang menadi golongan dari suatu kasus tertentu. Fungsi klasifikasi dapat digunakan untuk menggolongkan suatu kasus ke dalam grup yang paling sesuai. Jumlah fungsi klasifikasi adalah sama dengan umlah grup. Setiap fungsi menghitung skor klasifikasi untuk setiap kasus pada setiap grup dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: S = c + w x + w x +... + w i i x i1 1 i2 2 im m...(3.6) dimana: i adalah grup; 1,2,...,m adalah variabel seumlah m; c i adalah konstanta untuk grup i; w i adalah bobot dari variabel ke- pada komputasi skor klasifikasi untuk grup i; x adalah nilai yang diobservasi untuk setiap kasus pada variabel ke; dan S i adalah hasil skor klasifikasi. Pengolahan data menggunakan analisis fungsi diskriminan ini dilakukan dengan software Statistica versi 6.0 dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 14. Dua enis software ini digunakan karena meskipun hasil pengolahan datanya sama tetapi masing-masingnya memiliki tampilan hasil yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi. 3.8 Penilaian Efektivitas Kedua Organisasi Pemuda dalam Pencapaian Tuuan Pada kasus organisasi pemuda pemuda, maka efektivitas kelembagaan dalam mencapai tuuan dilihat dari tiga hal (i) seberapa baik masyarakat mengenal masing-masing lembaga dari sisi tuuan dan kegiatan-kegiatannya, (ii) seberapa banyak pemuda yang mendapat pengaruh positif, dan (iii) seberapa besar dampak dari pengaruh positif yang diberikan. Tiga hal tersebut adalah proxies untuk menilai tingkat pencapaian dari pernyataan tuuan (obective statement) masing-masing organisasi pemuda. Secara umum, baik Karang Taruna Berbakti maupun KALAM menyatakan di dalam tuuannya mengenai pemberdayaan peranan anak muda. Penilaian efektivitas kelembagaan dalam pencapaian tuuan dilakukan dengan mengumpulkan data melalui pengisian kuesioner oleh responden beneficiaries, yaitu warga masyarakat yang bertempat tinggal pada RT yang sama dengan tempat berlokasinya Karang Taruna Berbakti dan KALAM. Penilaian efektivitas kelembagaan oleh beneficiaries ini dilakukan agar penilaian
60 dapat menadi lebih obyektif. Kuesioner selengkapnya untuk responden beneficiaries dapat dilihat pada Lampiran 2. Data yang terkumpul diolah selanutnya secara deskriptif dengan menggunakan rata-rata (mean) dan alat statistika deskriptif lainnya. Software yang dipergunakan adalah Microsoft Excel 2003. Hasil olahan deskriptif dituukan untuk memberikan gambaran mengenai pengaruh dari besaran biaya transaksi terhadap efektivitas kelembagaan dalam mencapai tuuannya.