BAB II MEDIUM ACCESS CONTROL IEEE DAN IEEE E

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS INDONESIA

HASIL SIMULASI DAN ANALISIS

BAB II DASAR TEORI. Pada bab ini dijelaskan mengenai buffering, teknologi IEEE , standar

BAB II DASAR TEORI. Bab ini menjelaskan sekilas mengenai IEEE secara umum, standar

BAB II WIRELESS LAN (IEEE ) Inovasi di dalam teknologi telekomunikasi berkembang dengan cepat dan

Wireless LAN Arsitektur Basic Service Set Extended Service Set Tipe-tipe station Sublapisan MAC...

BAB II Standar WIMAX- IEEE

INTERFERENSI BLUETOOTH TERHADAP THROUGHPUT WLAN IEEE B

Bluetooth. Pertemuan III

Pendahuluan. Gambar I.1 Standar-standar yang dipakai didunia untuk komunikasi wireless

IEEE g Sarah Setya Andini, TE Teguh Budi Rahardjo TE Eko Nugraha TE Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta

Chapter 4 WLAN Access. Rendra Tjipta Towidjojo.

Dukungan yang diberikan

WIRELESS NETWORK. Pertemuan VI. Pengertian Wireless Network. Klasifikasi Wireless Network

Gambar 7. Tabel 1. Sub bagian di dalam FC

Terdapat 2 macam link : link fisik dan link logik (contoh: virtual path yang terdiri atas virtual channel)

TEKNOLOGI JARINGAN TANPA KABEL (WIRELESS)

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN MODEL QOS WIMAX DENGAN OPNET. Pada bab 3 ini penulis ingin memfokuskan pada system evaluasi kinerja

4.2. Memonitor Sinyal Receive CPE/SU Full Scanning BAB V. PENUTUP Kesimpulan Saran...

SEKILAS WIRELESS LAN

TUGAS AKHIR. ANALISIS PACKET DELAY VoIP (Voice over Internet Protocol ) PADA JARINGAN AD-HOC WIRELESS LAN ( IEEE )

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

Ad-Hoc. Dalam segi keamanan, jaringan ad-hoc dapat di konfigurasi tanpa password (open) atau menggunakan 2 metode yaitu WEP dan WPA.

BAB II WIRELESS PERSONAL AREA NETWORK (WPAN)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

A I S Y A T U L K A R I M A

BAB 2 WIRELESS LOCAL AREA NETWORK

Jaringan Komputer I. Materi 9 Protokol WAN

BAB II DASAR TEORI. Bab ini menjelaskan sekilas tentang teknologi Worldwide Interoperability

Medium Access Sublayer

Protokol pada Wireshark

Perancangan Mekanisme Buffering untuk Multi-QoS pada MAC Layer WiMAX

PERANCANGAN SOFTWARE SCHEDULER UNTUK MAC LAYER WIMAX MENURUT STANDAR IEEE

Multiple Access. Downlink. Handoff. Uplink. Mobile Station Distributed transceivers Cells Different Frequencies or Codes

Standar NYOMAN SURYADIPTA, ST, CCNP NYOMAN SURYADIPTA.ST.CCNP COMPUTER SCIENCE FACULTY - NAROTAMA UNIVERSITY

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007

ANALISA PERBANDINGAN KINERJA IEEE e HCCA DAN IEEE DCF

IEEE b 1.1 INTRODUCTION

BAB II WIDE AREA NETWORK

Agus Setiadi BAB II DASAR TEORI

Wireless Network. Konsep Dasar Jaringan Nirkabel. Muhammad Riza Hilmi, ST.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Jaringan WiMaX WiMaX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah salah satu industry jaringan nirkabel

Pengenalan Teknologi 4G

A I S Y A T U L K A R I M A

BAB 2 KONSEP MOBILE WiMAX

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

JARINGAN KOMPUTER NIRKABEL AD HOC MODE WLAN

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISA OPTIMASI TAHAPAN HANDOVER NTAP dan AHOP PADA MOBILE WIMAX (IEEE E) UNTUK LAYANAN VoD. TESIS

DAFTAR ISTILAH. : perkumpulan dari ethernet service switch yang. Ethernet. interface yang berupa ethernet.

KONSEP CELLULAR DENNY CHARTER, ST. Websites :

B A B IX MODEL OSI (OPEN SYSTEMS INTERCONNECTIONS)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Wireless Network. Konsep Dasar Jaringan Nirkabel. Muhammad Riza Hilmi, ST.

DASAR JARINGAN DAN TELEKOMUNIKASI RESUME MATERI ETHERNET. disusun oleh:

BAB II JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE)

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Analisis Kinerja Protocol SCTP untuk Layanan Streaming Media pada Mobile WiMAX 3

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... SURAT PERINTAH MAGANG... SURAT KETERANGAN SELESAI MAGANG... INTISARI... ABSTRACT...

Wordwide Interoperability for Microwave Acces (WiMAX)

WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM

Gambar 1. Konfigurasi Sistem

IEEE n. Mariza Azhar, Gotama Edo Priambodo, Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) merupakan sebuah jaringan yang disusun oleh

DATA LINK LAYER: PROTOKOL HIGH LEVEL DATA LINK CONTROL (HDLC) Komunikasi Data

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II ARSITEKTUR SISTEM CDMA. depan. Code Division Multiple Access (CDMA) merupakan salah satu teknik

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

Mengenal WiMAX. Onno W. Purbo

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget

Instalasi dan Troubleshooting Jaringan Wireless

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER

BAB II DASAR TEORI. Jaringan Asynchronous Transfer Mode (ATM) merupakan jaringan

Model Kendali Aliran. Aliran data masuk. Aliran data keluar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji WLAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI WIRELESS LOCAL AREA NETWORK

Apa perbedaan antara teknik multiplex dan teknik multiple access??

STANDARISASI JARINGAN WIRELESS

TEKNOLOGI WiMAX untuk Komunikasi Digital Nirkabel Bidang

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) Worldwide Interoperability for Microwave Access atau WiMAX adalah

Pertemuan 3 Dedy hermanto/jaringan Komputer/2010

TUGAS AKHIR. ANALISIS KINERJA MODULASI DAN PENGKODEAN ADAPTIF PADA JARINGAN WiMAX ALEX KRISTIAN SITEPU

PERCOBAAN 7 KOMUNIKASI WIRELESS MODE AD-HOC

I. PENDAHULUAN. secara langsung melalui jaringan kabel[1,2]. Implementasi jaringan dengan

Jaringan Komputer Data Link Control Data L

BAB II WIMAX. WiMAX atau Worldwide Interoperability for Microwave Access adalah

BAB II DASAR TEORI. menggunakan media gelombang mikro, serat optik, hingga ke model wireless.

BAB II LANDASAN TEORI

Komunikasi dan Jaringan

I. PENDAHULUAN. kebutuhan informasi suara, data (multimedia), dan video. Pada layanan

Transkripsi:

19 BAB II MEDIUM ACCESS CONTROL IEEE 802.16 DAN IEEE 802.11E MAC IEEE 802.16 protokol didisain untuk aplikasi PMP yang mempunyai karakteristik connection-oriented dan setiap sambungan diidentifikasi oleh 16-bit connection identifiers (CID). CID tersebut digunakan untuk membedakan kanal UL dan lainnya. Setiap SS (subscriber station) memiliki MAC Address dengan lebar standar 48 bit. Terdapat tiga jenis management connection dalam mekanisme sambungan antar SS dan BS (base station) yaitu [4] : a. Basic Connection, menjalankan transfer relatif singkat, melibatkan Radio Link Control (RLC), dan kritis terhadap waktu b. Primary Management Connection, menjalankan transfer relatif lama, lebih toleran terhadap delay, digunakan untuk proses authentication dan connection set up. c. Transport Connection, digunakan untuk pengaturan layanan, QoS dan parameter-parameter trafik. Layer MAC pada WiMAX juga didisain untuk penggunaan layer fisik dimana interferensi, fast fading dan gejala lainnya dapat diatasi dengan lebih baik pada pengoperasian outdoor. Selain itu terdapat juga fitur MAC layer pada IEEE 802.16 yang di tunjukkan oleh Tabel 2.1. Tabel 2.1 Fitur MAC layer pada IEEE 802.16 [4]. No. Fitur Keuntungan 1. TDM/TDMA untuk UL/DL Efficient bandwidth usage 2. Connection Oriented Faster packet routing dan forwarding 3. Automatic Retransmission Meningkatkan kinerja end-to-end dengan Request (ARQ) menghilangkan error pada upper layer protokol 4. Modulasi Adaptif Meningkatkan kapasitas sistem 5. Security and Encryption Melindungi user privacy

20 Working Group IEEE 802 merancang standar model referensi data dan control plane dari IEEE 802.16, namun untuk managemen plane tidak ditetapkan dalam standar tersebut. Management plane ditetapkan dalam tiga standar IEEE network management yang telah diamandemenkan yaitu ( IEEE 802.16 f, g, i) untuk Fixed dan Mobile Management Information Base (MIB) serta untuk Prosedur dan Layanan [2]. 2.1 MAC IEEE 802.16 Standar data dan control plane dari MAC IEEE 802.16 dapat di tunjukkan pada Gambar 2.1 di bawah ini: Gambar 2.1 Standar MAC dan PHY (physical) layer IEEE 802.16 [2] Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa MAC IEEE 802.16 terdiri dari tiga sublayer. Ketiga sublayer tersebut yaitu: a. MAC Common Part Sublayer (MAC CPS) b. MAC Security Sublayer c. MAC Service Specific Convergence Sublayer (CS)

21 2.1.1 MAC Common Part Sublayer (MAC CPS) Layer MAC CPS melakukan sejumlah fungsi seperti sistem dan kanal akses, connection management dan aplikasi QoS. Fungsi-fungsi tersebut meliputi sistem akses, alokasi bandwidth, pembangunan hubungan, dan perbaikan hubungan. MAC CPS menerima data dalam bentuk CID dari CS (convergence sublayer). QoS dari IEEE 802.16 terdapat dalam transmisi dan penjadwalan (scheduling) data melalui PHY (physical layer). IEEE 802.16 dioptimalkan untuk konfigurasi PMP (point to multipoint) dimana sejumlah SS (subscriber station) diakses oleh sebuah sentral yaitu BS (Base Station). Standar konfigurasi PMP ini memiliki feature pengembangan yaitu konfigurasi mata jala (Mesh) dengan kondisi komunikasi diantara SS akan tetap dapat dilakukan yang diterapkan untuk jaringan backhaul bagi IEEE 802.16.[2].Pengembangan yang lain dari PMP adalah komunikasi multi hop yang menerapkan relay station untuk mendekodekan dan meneruskan pengiriman data, memperluas cakupan sinyal dari BS, atau pun meningkatkan kapasitas pada area cakupan. 2.1.1.1 Mode Dupleks Ada dua macam teknik dupleks pada system IEEE 802.16 yaitu FDD (frequency division duplex) dan TDD (time division duplex). Mode FDD menggunakan pita frekuensi yang berpasangan, biasanya dialokasikan pada spektrum licensed. DL (down link) dan UL (uplink) bekerja pada kanal frekuensi yang berbeda. Alokasi spektrum untuk DL dan UL bersifat asimetri. TDD mengatasi masalah asimetri spectrum frekuensi pada FDD dengan cara membagi kanal frekuensi untuk transmisi DL dan UL pada domain waktu. Hal ini akan menyebabkan kapasitas untuk switching point DL dan UL dapat diubah karena SS tidak mengirim dan menerima pada waktu yang bersamaan. Namun penjadwalan MAC dari BS akan lebih rumit karena perlu adanya sinkronisasi waktu diantara SS untuk arah DL dan UL, untuk itu maka diperlukan adanya interval waktu atau gap diantara DL dan UL.

22 2.1.1.2 Struktur Frame IEEE 802.16 memiliki transmisi yang berdasarkan frame. Panjang frame MAC dapat bervariasi mulai dari 2,5 20 ms. Struktur frame dari OFDM (orthogonal frequency division multiplexing) dengan dasar MAC layer yang bekerja pada mode TDD ditunjukan pada Gambar 2.2 di bawah ini. Gambar 2.2 MAC dari IEEE 802.16 pada mode TDD [2] Subframe DL selalu dikirim sebelum subframe UL. Kedua subframe dipisahkan oleh Receive/Transmit Transition Gap (RTG) dan Transmit/Receive Transition Gap (TTG). Pada saat gap ini maka SS akan mengatur processornya untuk keadaan transmit atau receive. Subframe DL hanya terdiri dari sekali pengiriman PHY yang dimulai dengan preamble. Panjang preamble pada setiap frame ditentukan oleh dua buah simbol OFDM. Simbol tersebut akan digunakan oleh SS untuk sinkronisasi waktu dan frekuensi. Selanjutnya diikuti FCH (frame control header) yang menempati satu simbol OFDM. Setelah FCH maka dilanjutkan dengan sejumlah DL burst. DL burst tersebut akan menggunakan modulasi untuk PHY yang paling handal yaitu diawali oleh DL burst 1 menggunakan BPSK (binary phase shift keying), sampai dengan DL burst paling akhir akan menggunakan 64 QAM. Pengaturan modulasi ini dilakukan untuk menyederhanakan PHY dan meningkatkan sinkornisasi pada SS. Setiap DL

23 burst akan terdiri dari MAC PDU (protocol data unit) yang telah dijadwalkan dalam transmisi DL. Setiap MAC PDU dari tiap DL burst akan menggunakan modulasi dan encode yang sama pada mode PHY sama, dimana satu MAC PDU dialokasikan untuk satu koneksi SS [2]. Subframe UL terdiri dari sejumlah interval dengan transmisi PHY yang dikirimkan oleh SS yang berbeda. Interval tersebut akan dijadwalkan diawal frame UL untuk kebutuhan pita frekuensi. Untuk menghindari terjadinya collision maka interval diletakan didalam time domain. Slot initial ranging mengijinkan SS untuk masuk ke dalam sistem dengan meminta manajemen dasar CID yaitu pengaturan level daya dan frekuensi offset melalui timing offset. 2.1.2 MAC Security Sublayer MAC security sublayer terdapat di dalam layer MAC CPS. Security sublayer ini berfungsi untuk menyediakan prosedur autentikasi, dan fungsi enkripsi. Security sublayer memberikan privacy bagi pelanggan/ss di jaringan IEEE 802.16 dengan cara melakukan enkripsi untuk hubungan antara SS dan BS. Enkripsi dilakukan pada payload PDU yang terdapat pada MAC header. Tipe enkripsi yang digunakan dinegosiasikan pada saat pembangunan hubungan [2]. 2.1.3 Service Specific Convergence Sublayer (CS) MAC CS meliputi sejumlah service-specific convergence sublayer yang berfungsi sebagai interface bagi layer yang lebih tinggi Layer CS ini membagi SDU (service data unit) eksternal dan menyatukan SDU tersebut ke dalam koneksi MAC yang seharusnya. CS juga dapat memproses SDU dengan tujuan untuk mengurangi overhead yang terdapat pada Payload Header Suppression (PHS). Selain itu fungsi CS yang lainnya adalah sebagai interface bagi ATM (Asynchronous Transfer Mode), protokol berbasis paket seperti IP (internet protocol), PMP (Point to Point protocol), atau pun IEEE 802.3 (Ethernet). MAC CS akan melakukan transformasi dan pemetaan data untuk diteruskan ke CS Service Access Point (SAP). Pemetaan ini meliputi klasifikasi jaringan eksternal SDU ataupun membutuhkan proses SDU. Pemetaan terhadap SDU yang datang berarti menggabungkan SDU-SDU tersebut ke dalam Connection Identifier (CID) seperti

24 ditunjukan pada Gambar 2.2. CID ini akan menghubungkan SDU ke level QoS tertentu. CS akan memproses SDU ke layer yang lebih tinggi dengan cara menekan informasi yang tidak digunakan ke layer yang lebih tinggi. Setelah memetakan data dan PHS maka SDU akan dikirim ke CS SAP. Pada saat menerima data dari CS maka header yang ditekan akan direkonstruksi ulang melalui SAP sebelum dikirimkan ke layer protokol yang lebih tinggi. 2.2 MAC IEEE 802.11E IEEE menetapkan standar WLAN dalam beberapa variasi yaitu: 1. IEEE 802.11 Standar ini dikeluarkan tahun 1997, merupakan standar wireless Ethernet, bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan 1 atau 2 Mbps. Terdapat dua variasi yaitu dengan frequency hopping (FHSS) dan dengan direct sequence (DSSS). 2. IEEE 802.11a Standar WLAN yang bekerja pada pita frekuensi 5 GHz dengan kecepatan sekitar 54 Mbps. Standar yang mempunyai lebar kanal (bandwidth) 20 MHz. Standar IEEE 802.11a mempunyai kecepatan yang sama dengan IEEE 802.11g pada daerah jangkauan yang pendek dan menjadi lebih rendah pada daerah jangkauan yang agak jauh. PHY menggunakan teknologi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). 3. IEEE 802.11b Standar yang bekerja pada pita frekuensi 2,4 GHz dan mempunyai kecepatan 11 Mbps (dapat turun menjadi 5,5, 2 atau 1 Mbps) dengan lebar kanal 20 MHz. Standar ini digunakan sebagai standar untuk Wi-Fi yang banyak digunakan sekarang. Jarak jangkauannya mencapai 300 meter. Teknik modulasi menggunakan DSSS.

25 4. IEEE 802.11c Standar ini merupakan versi modifikasi IEEE 802.11d, memperkenalkan MAC bridging, sehingga meningkatkan kualitas layanan. 5. IEEE 802.11d Standar ini mendefinisikan standar-standar untuk berbagai perusahaan untuk mengembangkan produk WLAN pada berbagai negara. IEEE 802.11d mencoba menciptakan standar yang dapat diterima pada sebanyak mungkin negara. 6. IEEE 802.11e Standar yang menjelaskan QoS pada MAC level. Mekanisme yang digunakan dengan mengijinkan paket-paket yang memenuhi persyaratan tertentu yang berkaitan dengan delay transmisi dan bandwidth untuk dikirimkan terlebih dahulu sehingga sesuai untuk video dan audio streaming. 7. IEEE 802.11f Standar yang mendefinisikan Inter Access Point Protocol (IAPP) yang mengijinkan pengguna untuk mengakses WLAN dengan menggunakan titik akses dari berbagai pabrik. 8. IEEE 802.11g Standar WLAN dengan kecepatan 55 Mbps pada frekuensi 2,4 GHz. Downward kompatibel dengan IEEE 802.11b dan menggunakan modulasi OFDM. 9. IEEE 802.11h Standar yang berkaitan dengan HiperLAN, standar WLAN di Eropa. Pengembangan IEEE 802.11a dengan menambahkan beberapa fitur dari IEEE 802.11a sehingga cocok digunakan di Eropa. Fitur-fitur tersebut berkaitan dengan frekuensi dan manajemen daya sehingga IEEE 802.11a tidak berinterferensi dengan radar dan layanan satelit. 10. IEEE 802.11i Standar untuk meningkatkan keamanan pada IEEE 802.11 meliputi manajemen dan distribusi, enkripsi, dan authentikasi.

26 11. IEEE 802.11 IR Standar IEEE 802.11 untuk infra merah. Mendukung kecepatan 1 sampai 2 Mbps. Sampai saat ini belum ada produk yang mendukung standar ini. 12. IEEE 802.11j Standar yang ekuivalen dengan IEEE 802.11h untuk di Jepang. 13. IEEE 802.11k Standar yang digunakan untuk menstandarkan bagaimana cara jaringan IEEE 802.11a, b, g melaporkan kondisi radio dan jaringan kepada bagian lain dari tingkatan jaringan dan aplikasi. 14. IEEE 802.11m Kumpulan standar-standar IEEE 802.11 oleh IEEE. 15. IEEE 802.11n Proposal untuk data dengan kecepatan 540 Mbps melalui empat antenna array penerima dan empat antenna array pengirim dengan konfigurasi MIMO. Bandwidth sebesar 40 MHz. 16. IEEE 802.11p Standar yang membahas mengenai Wireless Access in Vehicular Environments (WAVE). Standar yang digunakan untuk Dedicated Short Range Communications (DSRC) yaitu komunikasi dengan jangkauan kecil sampai menengah yang mendukung baik keamanan publik maupun pribadi pada saat berkendaraan. DSRC dimaksudkan untuk menjadi komplemen bagi komunikasi selular dengan menyediakan kecepatan data yang tinggi dalam keadaan dimana meminimalkan latensi dan mengisolasi zona komunikasi adalah hal yang penting. Standar ini menggunakan frekuensi 5,9 GHz. 17. IEEE 802.11r Pembahasan mengenai standar fast roaming atau hand-off antar titik akses untuk aplikasi suara. 18. IEEE 802.11s Standar yang bertujuan untuk mendefinisikan MAC dan PHY untuk jaringan mesh.

27 19. IEEE 802.11t Standar untuk pengetesan kinerja. Dalam model ISO, MAC layer mengendalikan lalu lintas pada jaringan radio. MAC layer mencegah tabrakan data dan konflik dengan menggunakan sekumpulan aturan yang disebut carrier sense multiple access/collision avoidance (CSMA/CA), dan mendukung fungsi-fungsi keamanan seperti pada standar 802.11. Ketika jaringan terdapat lebih dari satu titik akses, MAC layer menghubungkan setiap pengguna jaringan dengan titik akses yang memberikan kualitas sinyal terbaik. Prinsip kerja CSMA/CA yaitu ketika pengguna pada jaringan siap untuk mengirimkan paket, pertama kali ia akan mendengar sinyal-sinyal yang lain terlebih dahulu. Jika ia tidak mendengar apapun maka ia akan menunggu untuk beberapa waktu dan mendengar kembali. Jika ia masih tetap tidak mendengar apapun, maka ia akan mengirim paket tersebut. Divais yang menerima paket tersebut akan memeriksanya, dan jika paket tersebut diterima dengan utuh, maka divais tersebut akan mengirimkan ACK. Namun, jika pengirim tidak menerima ACK, maka dianggap paket tersebut bertabrakan dengan paket yang lain sehingga mengacak datanya, sehingga pengirim akan mengirim kembali dalam selang waktu tertentu. CSMA/CA juga mempunyai fitur-fitur optional yang mengatur titik akses (jembatan antara WLAN dan jaringan backbone) sebagai titik koordinator yang dapat memberi prioritas kepada pengguna jaringan yang akan mengirim data yang bersifat time-critical seperti suara atau streaming. MAC layer dapat mendukung dua macam autentikasi untuk mengkonfirmasi bahwa divais tersebut diijinkan untuk bergabung dalam jaringan yaitu autentikasi terbuka (open authentication) dan shared key. Pada suatu jaringan, semua node harus menggunakan autentikasi yang sama. Jaringan mendukung semua fungsi tersebut dalam MAC layer dengan cara mempertukarkan deret frame-frame kontrol sebelum deret itu mengijinkan layer-layer yang lebih tinggi untuk mengirim data. Jaringan IEEE 802.11 mempunyai dua macam kontrol akses yaitu SSID dan MAC address. Setiap pengguna jaringan harus mempunyai SSID yang diprogram. Jika tidak maka jaringan tidak dapat melakukan koneksi dengan divais tersebut. Jika menggunakan

28 MAC address maka MAC address menyediakan daftar dimana yang termasuk dalam daftar itu tidak dapat mengakses jaringan. MAC address melakukan kontrol terhadap wired equivalent privacy (WEP) dan fungsi enkripsi WiFi protected access (WPA). MAC pada IEEE 802.11e adalah MAC yang mendukung QoS. Model referensi MAC 802.11 dapat ditunjukan pada Gambar 2.3 di bawah ini. Gambar 2.3 MAC IEEE 802.11 [2] MAC user plane mendapatkan data frame dari MAC SAP (service access point). Control plane terdiri dari MAC layer management entity (MLME) dan PHY layer management entity (PLME). 2.2.1 Point Coordination Function Standar IEEE 802.11 mendefinisikan PC (Point Coordination) sebagai pengatur untuk mendukung layanan berdasarkan waktu sehingga pelanggan (station) memiliki akses utama pada kanal radio. Biasanya PC terdapat di dalam AC (access point). Waktu yang digunakan oleh station untuk bekerja dibagi menjadi beberapa periode yang disebut superframe. Sebuah superframe akan diawali oleh sebuah beacon. Superframe ini terdiri dari CFP (contention free periode) dan CP (contention periode). Selama penggunaan waktu CFP, PCF digunakan untuk mengakses kanal. Gambar 2.4 menunjukan alokasi CFP dan CP untuk mengakses kanal.

29 Gambar 2.4 Alokasi CFP dan CP yang diatur oleh PCF [2] MAC IEEE 802.11e merupakan pengembangan dari standar MAC IEEE 802.11 yang memilki pengembangan dengan adanya HCF (hybrid coordination function) untuk mendukung QoS. HCF menentukan dua mekanisme media akses yaitu: a. Contention based channel access b. Control channel access (disertai dengan polling) Medium akses pada 802.11e merupakan sinonim untuk kanal akses. Contention based channel access mengacu kepada EDCA (enhanced distributed channel access), sedangkan Control channel access mengaju kepada HCF Control channel access (HCCA). Pada superframe 802.11e juga terdiri dari CFP dan CP dimana EDCA hanya akan bekerja pada fasa CP saja, sedangkan HCCA akan bekerja pada kedua fasa. Pada Gambar 2.5 menunjukkan media akses control untuk IEEE 802.11e yang berdasarkan DCF.

30 Gambar 2.5 MAC IEEE 802.11e [2] IEEE 802.11e menetapkan EDCA dan HCCA sebagai medium access control yang mampu mendukung QoS. EDCA dan HCCA merupakan pengembangan dari DCF (distributed coordination function). EDCA lebih baik dalam menangani trafik yang berbeda dibandingkan DCF untuk memenuhi kebutuhan QoS [9]. EDCA juga bekerja lebih baik pada trafik rendah karena lebih sedikit overhead yang digunakan, sedangkan HCCA bekerja lebih baik pada trafik tinggi karena lebih sedikit collision yang terjadi [10]. EDCA dan HCCA tidak dapat saling menggantikan, keduanya akan saling melengkapi untuk kebutuhan trafik. Mekanisme contention based pada EDCA dengan AC (access category) dan backoff entity mampu menyediakan layanan yang berbeda untuk tipe trafik yang berbeda pula. Namun nilai parameter masing-masing AC pada EDCA (lihat Gambar 2.5) sangatlah kecil jika dialokasikan untuk pemakai dalam jumlah yang besar. Karena itulah perlu adanya adaptasi parameter backoff untuk membantu memberikan trafik yang berbeda.[11]. Pada dasarnya parameter EDCA (CW min, CW maks, AIFS) akan mempengaruhi terjadinya collision pada contention based. Nilai AIFS dapat dituliskan dalam persamaan 3.1 [13]: AIFS[AC] = SIFS + AIFSN[AC] x Slot Waktu (2.1)

31 dengan AIFS[AC] merupakan integer dengan nilai lebih besar dari nol. 2.2.2 Contention Based Channel Access EDCA mampu mendukung QoS dengan menggunakan AC (access categories) dan multiple independent backoff. Prioritas pelanggan pada 802.11e dapat dipetakan berdasarkan AC, seperti ditunjukan pada Tabel 2.2 di bawah ini. Tabel 2.2 Peta prioritas pelanggan pada EDCA IEEE 802.11e [2] EDCA memiliki tiga nilai parameter untuk setiap AC. Setiap AC akan memiliki tiga parameter yang berbeda yaitu: a. minimum contention window size (CWmin) b. maximum contention window size (CWmax) c. arbitration inter-frame space Ketiga nilai parameter dari AC inilah yang akan menentukan prioritas trafik pada kanal akses IEEE 802.11e. EDCA juga membagi aliran trafik menjadi empat akses kategori (AC) yaitu: a. background trafik sebagai AC_BK b. best effort trafik sebagai AC_BE

32 c. video trafik sebagai AC_VI d. voice trafik sebagai AC_VO Parameter EDCA yang lain adalah backoff entity. Contention based medium access ditampilkan oleh setiap backoff entity dengan menggunakan nilai yang berbeda bagi parameter EDCA. Parameter EDCA dari setiap backoff entity ditentukan oleh HC. Parameter EDCA tersebut dapat diubah waktunya oleh HC yang informasi perubahan tersebut diumumkan melalui frame beacon. Gambar 2.7 menunjukan backoff entity sebagai salah satu parameter EDCA yang memiliki nilai yang berbeda untuk prioritas trafik yang berbeda. [2] Gambar 2.6 Backoff entity IEEE 802.11e sebagai parameter EDCA [2] Tiap backoff entity dari pelanggan memiliki Transmition Opportunity (TXOP). TXOP ini akan menghitung mundur dari backoff counter setelah mendeteksi kanal dalam kondisi idle melalui Arbitration interframe space (AIFS[AC]). AIFS[AC] ini dapat diperpanjang waktu AC-nya dengan menggunakan Arbitration interframe space number (AIFSN[AC]). Semakin kecil nilai AIFSN[AC] maka semakin tinggi prioritas kanal akses.

33 Parameter lain yang menentukan AC adalah CW (contention window). Semakin kecil nilai CWmin[AC] maka akan semakin tinggi prioritas kanal akses tersebut. Akses prioritas dapat ditunjukan pada Gambar 2.6 di bawah ini. Gambar 2.7 Akses prioritas pada EDCA [2] 2.3 Medium Access Control pada Proses Interworking Salah satu cara interworking antara IEEE IEEE 802.16 dengan IEEE IEEE 802.11e melalui radio resource management adalah melakukan interkoneksi MAC layer dari kedua sistem tersebut secara langsung [7]. Interkoneksi MAC dari IEEE 802.16d dan IEEE 802.11e dilakukan melalui CS SAP (Service Specific Convergence sublayer Service Access Point) pada MAC IEEE 802.16d dan MAC SAP dari IEEE 802.11e. CS SAP dapat diinterkoneksikan dengan MAC SAP dengan cara membuat peta prioritas trafik pada kedua sistem menjadi sama [8]. Gambar 2.8 menunjukan arsitektur protokol IEEE 802.16d. Gambar 2.8 Arsitektur Protokol IEEE IEEE 802.16 [8]

34 Gambar 2.8 menunjukkan bahwa Convergence Sublayer memiliki fungsi untuk backhaul sehingga interworking IEEE 802.16d dengan IEEE 802.11e dapat dilakukan pada layer CS SAP. Gambar 2.9 Interkoneksi dari IEEE 802.16 dan IEEE 802.11 melalui CS SAP dan MAC SAP [1] MAC frame IEEE 802.16d TDD terdiri dari sejumlah burst, karena itu BS perlu membroadcast MAC management messeges untuk menggambarkan MAC frame yang sebenarnya. SS akan menerima pesan tersebut dan menggunakan informasi yang diperlukan untuk mengirim ataupun menerima PDU (packet data unit). Gambar 2.10 menunjukkan pesan MAC menejemen pada IEEE 802.16d.

35 Gambar 2.10 MAC management messeges [2] Interworking IEEE 802.16d dengan IEEE 802.11e pada medium akses dengan cara mengintegrasikan frame IEEE 802.11e ke dalam frame MAC 802.16d di tunjukkan seperti Gambar 2.11 Gambar 2.11 Integrasi IEEE 802.11e dalam frame MAC 802.16d Berdasarkan Gambar 2.11 terlihat bahwa proses interworking terbagi menjadi dua bagian yaitu:

36 a. Contention Based-Access Pada periode ini IEEE 802.11e akan menggunakan medium akses yang berdasarkan EDCA. Struktur subframe BSHC pada saat contention period di tunjukkan pada Gambar 2.12. Structure of BSHC Subframe Contention Period Gambar 2.12 Contention Period [2] b. Contention Free Access Pada periode ini integrasi kanal akses IEEE 802.11e ke dalam frame Mac IEEE 802.16d berdasarkan HCCA. Gambar 2.13 menunjukkan subframe BSHC untuk contention free period [2]. Structure of BSHC Subframe Contention Free Period 2.13 Contention Free Period [2] Gambar

37 2.3 MESH NETWORK Jaringan mata jala dapat menggabungkan beberapa konfigurasi jaringan pada nirkabel untuk dijadikan dalam satu jaringan. Perbedaan jaringan mata jala pada IEEe 802.11 dengan IEEE IEEE 802.16 dapat di tunjukkan pada Tabel 2.3 di bawah ini [2]. Tabel 2.3 Perbedaan Jaringan Mata Jala IEEE 802.16 dengan IEEE 802.11[2]

38