BAB V SIMPULAN DAN IMPLIKASI 5.1. Kesimpulan Dari hasil pengujian analisis secara deskriptif dapat diketahui bahwa Perlakuan Akuntansi di Kabupaten Bandung Barat telah memenuhi indikator indikator yang telah ditetapkan di dalam PSAP 07 tentang Akuntansi Aset Tetap di dalam PP no 71 tahun 2010 namun hal tersebut berbeda dengan data yang diperoleh dari wawancara dengan salah satu staf DPPKAD Kabupaten Bandung Barat yang menjelaskan bahwa belum sepenuhnya Indikator Indikator Perlakuan Akuntansi Aset Tetap yang dijelaskan dalam PP no 71 telah diterapkan sepenuhnya di Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, data hasil wawancara tersebut didukung oleh fakta yang ada bahwa dalam LHP Kabupaten Bandung Barat tahun 2010 masih banyak ditemukan kesalahan mengenai Perlakuan Akuntansi Aset Tetap di Kabupaten Bandung Barat. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tahun anggaran 2010 Perlakuan Akuntansi Aset Tetap di Pemerintah Kabupaten Bandung Barat belum diterapkan dengan baik. Dan dari hasil analisis secara deskriptif dapat diketahui bahwa Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah memenuhi indikator
115 indikator yang telah ditetapkan dalam PP no 71 tahun 2010. Namun hal tersebut kontradiktif dengan wawancara dengan salah satu staf DPPKAD Kabupaten Bandung Barat yang menjelaskan bahwa Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kurang dalam pengungkapannya dan itu jumlah nominalnya material. Salah satu yang masih bermasalah dalam pengungkapannya yaitu dari segi Aset Tetap, sehingga apa yang tercatat dalam laporan keuangan (neraca) sulit untuk ditelusuri keberadaannya. Hasil wawancara tersebut didukung dengan adanya fakta (LHP) Laporan Hasil Pemeriksaan Pemerintah kabupaten Bandung Barat sendiri selama 3 tahun anggaran (2008, 2009, dan 2010) selalu mendapatkan opini Disclaimer dari BPK. Hasil yang kontradiktif antara data yang didapat dari responden melalui kuesioner dengan wawancara dan fakta di lapangan dapat disebabkan oleh faktor budaya organisasi dan karakter individu SDM Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sendiri. Maka dapat disimpulkan bahwa pada tahun anggaran 2010 Pemerintah Kabupaten Bandung Barat tidak menghasilkan Kualitas Laporan Keuangan yang baik. Untuk Pengaruh Perlakuan Akuntansi Aset Tetap terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dapat disimpulkan bahwa Hipotesis a diterima, yaitu Perlakuan Akuntansi Aset Tetap berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Hal ini ditunjukkan dengan:
116 Tingkat nilai korelasi sebesar 0,711 yang menurut interpretasi koefisien korelasi menurut riduwan berada pada kategori KUAT (0,60-0,799). Selain itu dapat juga dibandingkan dengan r tabel pada jumlah responden 40-2=38 dengan signifikansi sebesar 0,05 yaitu sebesar 0,312. Disini berarti r hitung > r tabel (0,711 > 0,312). Hal ini menunjukan hubungan yang kuat di antara Perlakuan Akuntansi Aset Tetap dengan Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Dengan t hitung > t tabel yaitu 6,226 >3,120 dan tingkat signifikansi sebesar 0.000, karena nilai probabilitas < 0.025, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ha diterima yaitu Perlakuan Akuntansi Aset Tetap berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Nilai koefisien determinasi 50,5% dimana variabel Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bisa dijelaskan oleh variabel Perlakuan Akuntansi Aset Tetap sebesar 50,5% dan sebanyak 49,5% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diamati di dalam penelitian ini. Selain itu dengan persamaan regresi Y=7,628+0,311 X menujukan bahwa arah hubungan yang searah, dimana kenaikan atau penurunan nilai Perlakuan Akuntansi Aset Tetap akan mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Bandung Barat secara positif.
117 5.2. Keterbatasan Sekalipun penelitian ini telah dirancang dengan baik, namun hasil penelitian ini masih memiiki keterbatasan. Berikut beberapa keterbatasan yang kemungkinan mengganggu hasil penelitian ini. 1. Penelitian ini menggunakan responden pegawai negeri sipil di Pemerintah Kab. Bandung Barat sebanyak 40 orang. Jabatan responden yang berbeda dan dengan persentase yang tidak seimbang mungkin dapat mempengaruhi hasil penelitian. 2. Kemungkinan adanya bias yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara peneliti dan responden terhadap pernyataan-pernyataan yang diajukan. Keterbatasan ini ada pada data-data yang diperoleh melalui kuesioner, terutama pada kuesioner yang mengalami pengalih bahasaan. 5.3. Implikasi Implikasi yang dapat diberikan sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat agar dapat meningkatkan penerapan Perlakuan akuntansi aset tetap sesuai dengan PP No 71 tahun 2010 karena terbukti pada pembahasan penelitian ini, apabila Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat menerapkannya dengan baik maka Kualitas Laporan Keuangan pun akan semakin baik.
118 2. Bagi para staf dan pelaksana Perlakuan Akuntansi Aset Tetap dan Penyusunan Laporan Keuangan sebaiknya selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menyikapi perkembangan Akuntansi Pemerintahan Daerah agar dapat meningkatkan Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. 3. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan sampel yang lebih luas yaitu kepada seluruh SKPD/Badan/Lembaga yang mempunyai Aset Tetap. Selain itu dalam pengumpulan data harus dilakukan dengan cara Kuisioner, wawancara, dan observasi agar data yang didapat sangat kuat keabsahannya. Selain itu perlu ditambahkan budaya organisasi dan akuntansi keperilakuan sebagai variabel intervening.