Adaptasi Sel Otot Binaragawan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

PRINSIP BIOENERGETIKA PADA HEWAN

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.

BAB I PENDAHULUAN. biologis atau fisiologis yang disengaja. Menopause dialami oleh wanita-wanita

Rijalul Fikri FISIOLOGI ENDOKRIN

MEKANISME PENGATURAN KARDIOVASKULAR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARDIAK OUTPUT DAN HUKUM STERLING

BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini

ANALISIS HISTOPATOLOGI

Jaringan pada Tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke dapat menyerang kapan saja, mendadak, siapa saja, baik laki-laki atau

Ciri-ciri Seks Sekunder pada Masa Remaja

MAKALAH FARMAKAKOLOGI

ORGANISASI SEL, JARINGAN, ORGAN DAN SISTEM ORGAN SERTA KONSEP HOMEOSTATIS TUBUH. Dr. KATRIN ROOSITA, SP., MSi.

BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai istilah bergesernya umur sebuah populasi menuju usia tua. (1)

ANATOMI DAN FISIOLOGI

Masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi berakhir pada awal senium umur tahun

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. milimeter air raksa (mmhg) (Guyton, 2014). Berdasarkan Seventh Joint National

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TUGAS 3 SISTEM PORTAL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP) UNIVERSITAS DIPONEGORO

Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang

BAB V PEMBAHASAN. apakah ada hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Remaja atau adolescence (Inggris), berasal dari bahasa latin adolescere

SISTEM SARAF & INDRA PADA MANUSIA

mekanisme cedera sel

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang

I. PENDAHULUAN. aktivitas berteknologi tinggi mengakibatkan manusia sering kali berhubungan

DASAR BIOLOGIK PENJAS Manusia bergerak didukung oleh sistem yang ada dalam tubuh manusia. Ada sepuluh sistem yaitu: sistem kerangka, otot, peredaran d

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure

Mengatur Berat Badan. Mengatur Berat Badan

HIPOKALSEMIA DAN HIPERKALSEMIA. PENYEBAB Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah.

BAB XIV. Kelenjar Hipofisis

BAB 1 PENDAHULUAN. perdarahan atau non perdarahan (Junaidi Iskandar, 2002: 4).

Pada sistem kardiovaskuler dan respirasi terjadi perubahan yaitu penurunan kekuatan otot otot pernafasan, menurunnya aktivitas silia, menurunnya

A-07 PRESENTATION SKENARIO 4 MENGAPA TERJADI PENDARAHAN? SABTU, 26 FEBRUARI 2011

BAB 1 PENDAHULUAN. melebihi 140/90 mmhg. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:

PENGARUH SEL TERHADAP PEMBESARAN OTOT

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e

Proses pencernaan makanan yang terjadi pada organ 3, 4 dan 5 adalah...

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 12. RANGKA DAN SISTEM ORGAN PADA MANUSIALatihan soal 12.5

SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi

I. PENDAHULUAN. Menstruasi merupakan perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. yang terdiri dari orang laki-laki dan orang perempuan.

Topik : Infark Miokard Akut Penyuluh : Rizki Taufikur R Kelompok Sasaran : Lansia Tanggal/Bln/Th : 25/04/2016 W a k t u : A.

Problem kebugaran dan kesehatan. Suharjana FIK UNY

Curah jantung. Nama : Herda Septa D NPM : Keperawatan IV D. Definisi

Etiologi penyebab edema dapat dikelompokan menjadi empat kategori umum:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada (kurangnya aktivitas fisik), merupakan faktor resiko independen. menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010)

BAB III SILABUS. Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian. Mengamati struktur sel hewan dan sel tumbuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dari setengahnya terdapat di negara berkembang, sebagian besar dari

1. Kelenjar Hipofi sis (Pituitari)

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 6. SISTEM TRANSPORTASI PADA MANUSIALATIHAN SOAL

GINJAL KEDUDUKAN GINJAL DI BELAKANG DARI KAVUM ABDOMINALIS DI BELAKANG PERITONEUM PADA KEDUA SISI VERTEBRA LUMBALIS III MELEKAT LANGSUNG PADA DINDING

BIOPSIKOLOGI Unita Werdi Rahaeng ANATOMI SISTEM SARAF DAN OTAK

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH 20 DENGAN USIA MENARCHE PADA SISWI SEKOLAH DASAR DI SELURUH KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER

BAB I PENDAHULUAN. uteri. Hal ini masih merupakan masalah yang cukup besar dikalangan masyarakat Di

BAB I PENDAHULUAN. pungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk dari merokok,

PERAWATAN MESIN TUBUH SEBAGAI INVESTASI SEHAT MENUJU HIDUP BERKUALITAS

Sistem Tubuh Manusia

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh perempuan usia produktif. Sebanyak 25% penderita mioma uteri dilaporkan

PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan

PRINSIP BIOENERGETIKA PADA HEWAN

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. menyebar pada organ tubuh yang lain (Savitri et al, 2015). Penyakit

PERBEDAAN KAPASITAS VITAL PARU SEBELUM DAN SESUDAH BERENANG PADA WISATAWAN DI KOLAM RENANG TAMAN REKREASI KARTINI REMBANG

BAB 4 HASIL PENELITIAN

Peristiwa Kimiawi (Sistem Hormon)

BAB I PENDAHULUAN. sering terjadi di masyarakat dewasa ini. Di tengah jaman yang semakin global,

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN 2014 SILABUS

II. Standar Kompetensi SILABUS. Kode : : Teori : 2 sks Praktik : 1 SKS

2016 GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA LANJUT USIA TENTANG DIET HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WREDHA BUDI PERTIWI BANDUNG.

SETYO WAHYU WIBOWO, dr. Mkes Seminar Tuna Daksa, tinjauan fisiologis dan pendekatan therapiaccupressure, KlinikUPI,Nov 2009

Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

[BUKU SAKU UNTUK JEMAAH HAJI]

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi. Menurut Basha (2009) hipertensi adalah satu keadaan dimana seseorang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Status kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh angka kesakitan, angka

BAB I PENDAHULUAN. Kanker payudara adalah keganasan yang terjadi pada sel-sel yang terdapat

Transkripsi:

Adaptasi Sel Otot Binaragawan Abstract Cell adaptation happened because the normal cell react with the stimulus so it will make a cell adaptation to happened. There are a few kind of cell adaptation, atrophy, hypertrophy, hipoplasia, hyperplasia, aplasia, agenesis, metaplasia, dysplasia, anaplasia. Someone who do sport, could become muscular because of the cell adaptation of the normal cell that could make the muscle bigger. But if the muscle are not used or train, muscle will become smaller and the muscle will turn back into normal. So muscle training by doing sports is one of the reasons of cell adaptation. Key words: muscle cell adaptation, muscle hypertrophy, muscle atrophy. Abstrak Adaptasi sel terjadi karena sel normal bereaksi dengan rangsangan yang menyebabkan terjadi adaptasi sel. Terdapat beberapa jenis adaptasi sel, yaitu atropi, hipertropi, hipolasia, hiperplasia, aplasia, agenesis, metaplasia, displasia, dan anaplasia. Seseorang yang melakukan olahraga dapat menjadi berotot karena terjadi adaptasi sel normal yang membuat otot menjadi besar, tetapi jika otot tidak dilatih, maka otot dapat mengecil kembali menjadi seperti sel normal. Maka melatih otot dengan melakukan olahraga adalah salah satu rangsangan untuk terjadi adaptasi sel. Kata kunci: adaptasi sel otot, hipertropi otot, atropi otot. A. Pendahuluan 1

Pada masa modern ini, banyak sekali orang yang melatih otot tubuhnya agar menjadi kekar dan agar otot menjadi besar, tetapi setelah lama tidak dilatih, otot dapat kembali mengecil, semua hal ini terjadi karena adanya adptasi sel. Adaptasi memiliki beberapa jenis dan ada yang merupakan fisiologi dan ada yang merupakan patologi. Jenis- jenis adaptasi sel adalah atropi, hipertropi, hipplasia, hiperplasia, aplasia, agenesis, metaplasia, displasia, dan anaplasia. B. Skenario Seorang laki- laki melatih otot tubuhnya agar dapat ikut kompetisi binaragawan. Dalam beberapa bulan otot tubuhnya membesar sesuai yang diharapkannya. Nutrisinya diperbaiki dan ditambah atas saran seorang ahli gizi. Setelah mengikuti kontes dan menjadi juara harapan 3, laki- laki ini tidak melanjutkan latihannya Karen kesibukannya sebagai pekerja kantor yang banyak duduk menggunakan laptop. Badannya sekarang tidak seperti binaragawan lagi. Apa yang terjadi pada sel otot nya? C. Identifikasi istilah yang tidak diketahui Tidak ada identifikasi istilah yang tidak diketahui. D. Rumusan masalah Seorang laki- laki ototnya mengecil karene tidak dilatih lagi. E. Hipotesis Perubahan otot karena dipengaruhi oleh adaptasi yang dilakukan sel. F. Pembahasan 1. Otot rangka Otot rangka dan tulang menunjang dan menggerakkan tubuh. Tulang melindungi organ internal dan digerakkan oleh otot. Otot rangka hanya aktif sebagai respons terhadap stimulus saraf. Otot rangka dihubungkan ke tulang melalui tendon. Tendon menggerakkan tulang dengan kontraksi otot rangka, yang dikontrol oleh neuron motorik bawah dari medulla spinalis. Satu neuron motorik dapat mempersarafi beberapa sebatu otot. 1 2

2. Adaptasi sel Fungsi sel normal memerlukan keseimbangan antara kebutuhan fisiologi dan keterbatasan- keterbatasan struktur sel dan kemampuan metabolik, hasilnya adalah keadaan dapat terus seimbang. Keadaan fungsional sel dapat berubah ketika bereaksi terhadap stress yang ringan untuk mempertahanlan keseimbangan. Untuk stres fisiologi yang lebih berat atau rangsangan patologi yang merugikan dapat membuat terjadinya adaptasi sel. 2 Adaptasi sel terjadi jika stressor fisiologi atau patologi menimbulkan suatu keadaan baru yang mengubah sel tetapi sel tersebut tetap dapat mempertahankan viabilitasnya dalam menghadapi stimulus. Perubahan atau adaptasi sel dapat meliputi hipertropi, hipoplasia, diplasia, anaplasia, aplasia, metaplasia, hiperplasia, dan atropi. 2, 3. Adaptasi sel adalah metode yang digunakan oleh sel- sel untuk tetap hidup dan menyesuaikan beban kerja dengan kebutuhan. 4 Adaptasi sel: a. Hipertropi Secara umum hipertropi merupakan ukuran sel yang meningkat atau pembesaran otot. Pembesaran otot merupakan hasil aktivitas muskular yang kuat dan berulang, bukan hasil aktivitas ringan. 5 Hipertropi atau hipertrofi menunjukkan adanya perbesaran masingmasing sel, yang berakibat membesarnya massa jaringan seluruhnya, tanpa peningkatan kerja jaringan tersebut. 6 Contoh hipertrofi fisiologis adalah membesarnya otot- otot akibat latihan. Hipertrofi juga dapat disebabkan oleh kebutuhan fungsi yang meningkat seperti hipertensi sistemik, dimana miokard harus memompa dengan tekanan yang lebih besar dan ukuran sel otot miokard meningkat. 7 Terdapat beberapa jenis hipertropi, yaitu: 1. Hipertropi ventrikel 3

Perbesaran ventrikel kanan akibat hipertensi pulmonalis yang disebabkan oleh gangguan pada paru- paru atau dinding dada. Pada hipertensi, arteri pulmonalis kecil (arteriol) menjadi sempit atau mengalamo obliterasi sebagai akibat hipertrofi (perbesaran) otot polos dalam dinding pembuluh. Tekanan pada ventrikel kiri tetap normal, tetapi tekanan tinggi yang dibangkitkan dalam paru- paru dihantarkan ke ventrikel kanan, yang akhirnya terjadi gagal ventrikel kanan (korpulmonale). 8 2. Hipertropi payudara Pertumbuhan sel pada payudara yang tidak normal (membesar), 9, 10 dapat terjadi pada laki- laki, ibu hamil, remaja wanita. 3. Hipertropi klitoris Klitoromegali adalah gejala interseksualitas, karena klitoris membesar sehingga menyerupai penis. 9 4. Hipertopi otot Pembesaran otot merupakan hasil aktivitas muskular yang kuat dan berulang, bukan hasil aktivitas ringan, karena terjadi pembesaran b. Atropi masing- masing sel. 5 Atropi adalah perubahan yang dapat terjadi saat struktur yang sebelumnya normal menjadi tidak terpakai dan lebih mengecil atau lebih kecil. Terdapat atrofi normal, seperti atrofi ovarium selama fase klimakterium, dan atrofi abnormal seperti saat sebuah struktur kekurangan nutriens dan pasokan darah, terpajan oleh tekanan konstan atau setelah tidak digunakan dalam waktu lama ( misalnya imibilitas yang menyebabkan pelisutan otot). 7 Terdapat beberapa jenis atropi: 1. Atrofi senilis Atrofi senilis terjadi pada semua alat tubuh secara umum, karena atrofi senilis termasuk dalam atofi umum (general atrophy). Atropi 4

senilis tidak sepenuhnya merupakan atropi patologis karena proses aging pun masuk ke dalam kelompok atrofi senilis padahal proses aging merupakan atropi fisiologis. Contoh atropi senilis yang merupakan proses patologik yaitu starvation. 11 2. Atrofi inaktivitas Terjadi akibat inaktivitas organ tubuh atau jaringan. Misalnya inaktivitas otot-otot mengakibatkan otot-otot tersebut mengecil. Atropi otot yang paling nyata yaitu bila terjadi kelumpuhan otot akibat hilangnya persarafan seperti yang terjadi pada poliomyelitis. Maka mengecilnya otot karena tidak dilatih termasuk pada atrofi inaktivitas fisiologis. 6 3. Atrofi desakan Atrofi ini terjadi akibat desakan yang terus-menerus atau desakan dalam waktu yang lama dan yang mengenai suatu alat tubuh atau jaringan. Atrofi desakan fisiologik terjadi pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh dan dan yang mengenai gigi (pada nak-anak). Sedangkan atrofi desakan patologi pun dapat terjadi pada ginjal. Parenkim ginjal dapat menipis akibat desakan terus-menerus. Ginjal seluruhnya berubah menjadi kantung berisi air, yang biasanya terjadi akibat obstruksi ureter, yang biasanya disebabkan oleh batu. Atrofi dapat terjadi pada suatu alat tubuh kerena menerima desakan suatu tumor didekatnya yang makin lama makin membesar. 11 4. Atrofi endokrin Terjadi pada alat tubuh yang aktivitasnya bergantung pada rangsangan hormon tertentu. Atrofi akan terjadi jika suplai hormon yang dibutuhkan oleh suatu organ tertentu berkurang atau terhenti sama 5

sekali. Hal ini misalnya dapat terjadi pada penyakit Simmonds. Pada penyakit ini, hipofisis tidak aktif sehingga mrngakibatkan atrofi pada kelenjar gondok, adrenal, dan ovarium. 11 c. Hiperplasia hiperplasia adalah peningkatan jumlah secara aktual, seperti hiperplasia sumsum tulang belakang (yang meningkatkan produksi eritrosit pada beberapa jenis anemia). 7 pada hiperplasia, pembesaran massa jaringan disebabkan oleh bertambahnya sel- sel yang menyusunnya, bukan bertambah besarnya sel penyusun. Hiperplasia fisiologis terjadi pada pubertas dan kehamilan. Hiperplasia kompensatorik terjadi pada organ yang sanggup memulihkan jaringan yang hilang ( misalnya hati). Hiperplasia patologis terjadi pada organ dengan sel- sel yang dapat beregenarasi, yang dirangsang abnormal (misalnya tiroid dan paratiroid). Hiperplasia diakibatkan olehh stimulus yang tidak diketahui dan hampir selalu berhenti setelah stimulus dihilangkan. Reproduksi yang terkontrol ini adalah gambaran penting yang membedakan hiperplasia dari neoplasia. Terdapat hubungan yang erat antara hiperplasia patologis tertentu dan keganasannya (malignansi). 4 d. Hipoplasia Hipoplasia adalah penurunan jumlah sel yang nyata dalam jaringan yang mengakibatkan penurunan jaringan atau organ, akibatnya organ tersebut menjadi kerdil. 12 e. Metaplasia Pada metaplasia terdapat perubahan jenis bentuk sel, tetapi sel tetap sejenis. Jumlah pun tetap. Metaplasia merupakan kebalikan dari diferensiasi, yang dapat terlihat di beberapa aea seperti serviks. Metaplasia terjadi akibat iritasi atau infeksi yang berlangsung dalam waktu lama. Jika penyebabnya dihilangkan, sel dapat kembali normal. Contoh metaplasia yang paling umum adalah perubahan 6

sel saluran pernapasan dari sel epitel kolumnar bersilia menjadi sel epitel skuamosa bertingkat sebagai respons terhadap merokok jangka panjang.contoh lain yang dapat kita amati pada kasus kanker serviks. Pada perubahan sel kolumnar endoserviks menjadi sel skuamosa ektoserviks terjadi secara fisiologis pada setiap wanita yang disebut sebagai proses metaplasia. 7 f. Aplasia atau agenesis Agenesis adalah keadaan tidak adanya sama sekali sebuah organ dan primordiumnya yang terkait. Sedangkan aplasia adalah keadaan tidak adanya sebuah organ karena kegagalan developmental anlage (perkembangan primordium). Contohnya adalah bayi yang dilahirkan tanpa organ ginjal. 13 g. Displasia (reversible) Dalam konteks malformasi, istilah ini mengacu kepada pengorganisasian masing- masing sel yang abnormal dan bersifat reversible atau dapat kembali. 2 h. Anaplasia Anaplasia adalah perubahan bentuk sel yang juga membuat sel menjadi tidak sejenis disertai dengan jumlah sel dan inti yang bertambah sehingga sel menjadi mudah untuk bertambah. 2 G. Kesimpulan Kesimpulan adalah perubahan otot disebabkan oleh adaptasi yang dilakukan sel. Proses membesarnya otot merupakan hipertrofi otot yang diseebkan oleh olahraga yang terus melatih otot. Sedangkan penciutan otot disebabkan oleh atrofi inaktivitas fisiologi, karena otot sudah tidak dilatihnya otot. 7

H. Daftar pustaka 1. Buku saku patofisiologi. Edisi ke 3. Jakarta: EGC; 2009. h. 314-5. 2. Richard, Michell. Buku saku dasar patologis penyakit robbins & cotran. Edisi ke 7. Jakarta: EGC; 2006. h. 2-3, 282. 3. Chandler J, Brown LE. Conditioning for strength and human performance.usa: the point; 2008. h. 281-2 4. Tambayong J. patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC; 2005. h. 5. 5. Sarjadi. Patologi umum dan sistematik. Edisi ke 2. Jakarta:EGC; 2004.h. 96. 6. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2007.h.127. 7. Brooker C. Ensiklopedia keperawatan. Jakarta: EGC; 2005. h. 588. 8. Yasmin NG, Effendy C. keperawatan medikal bedah. Jakarta:EGC; 2004. h. 155. 9. Behrman, Kiegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak. Jakarta:EGC; 2004. h. 506. 10. Sabiston. Buku ajar bedah. Jakarta:EGC; 2004. h. 308. 11. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. kedokteran klinis. Jakarta: erlangga; 2008.h. 138-9. 12. Nur. Hipoplasia dan agenesis. Diunduh dari http://id.scribd.com/doc/73456974/hipoplasia-dan-agenesis#scribd, 2 Januari 2015. 8