39 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis 3.1. 1. Konsep Pembangunan HTI dengan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) Pengelolaan Hutan berbasis masyarakat adalah pola pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat sebagai strategi pengelolaan yang berorientasi pada tercapainya kelestarian hutan sebagai sumber penghidupan masyarakat lokal yang secara historis memiliki ketergantungan kepada sumber daya hutan di sekitarnya (Ford Foundation, 2000). PHBM telah berkembang sejak lama di Indonesia, baik yang diinisiasi oleh masyarakat adat maupun didorong oleh pihak dari luar masyarakat seperti LSM, lembaga donor, pemerintah, dan lain-lain. Kedua inisiatif ini mempunyai kesamaan, antara lain dalam hal tuntutan masyarakat terhadap hak dan akses terhadap sumberdaya hutan. Banyak model atau varian dari PHBM antara lain adalah Hutan Kemasyarakatan (HKM) di Yogyakarta, Konsep Pengelolaan Sumberdaya Hutan Wonosobo Lestari Terintegrasi (PSDHPLT) di Kabupaten Wonosobo, Kolaborasi Multipihak Pengelolaan Kawasan Tambora, PHBM di Taman Nasional Gunung Rinjani), dan Pengelolaan hutan melibatkan masyarakat di Provinsi Bali. Upaya pengembangan pengelolaan hutan oleh masyarakat yang diperkenalkan bertujuan untuk memberikan penguatan, hak, peran dan tanggung jawab serta kesejahteraan yang lebih besar kepada masyarakat adat dan masyarakat lokal serta ada proses dialog dan kerjasama multipihak yang didukung oleh kebijakan yang memadai. Untuk itulah maka dikembangkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat atau sering disebut pula PHBM (Maturana, 2005).
40 PT. MHP dengan izin konsesi seluas hampir 300 000 ha berdasarkan SK menteri Kehutanan No. 205/Kpts-II/1991 dan SK Menhut No. 316/Kpts-II/1991, sejak tahun 1999 melakukan pengelolaan HTI dengan pola Pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Untuk pengeloaan HTI berbasis masyarakat tersebut PT. MHP meluncurkan dua program yaitu Mengelola Hutan Bersama Masyarakat (MHBM) dan Mengelola Hutan Rakyat (MHR) (Simon dan Arisman, 2004) Konsesi MHP yang mencapai hampir 300 000 ha, yang meliputi wilayah yang sangat luas dan tersebar di beberapa pemukiman masyarakat. Sangat sarat dengan permasalahan lahan yang di klaim oleh masyarakat sekitar areal sebagai lahan mereka yang merupakan warisan dari leluhur mereka yang turun temurun. Permasalahan lahan muncul dalam ragam dan skala yang semakin melebar dan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Agar usaha HTI yang dikelola oleh perusahaan berkelanjutan (sustainability) perusahaan telah melakukan serangkaian program CSR dengan pola PHBM atau pengelolaaan hutan bersama masyarakat. Program pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang telah diluncurkan oleh perusahaan sejak tahun 1999 yang lalu adalah pola MHBM dan MHR (Iskandar, 2004). Pola MHBM yang telah dilaksanakan dengan luas total 61 172,72 hektar, melibatkan kelompok masyarakat sebagai pekerja untuk mengelola HTI bersama perusahaan dilahan konsesi. Kelompok masyarakat dapat bekerja pada setiap tahapan proses produksi dengan upah standar yang berlaku. Pola MHBM ini dimaksudkan agar anggota atau kelompok masyarakat mendapatkan manfaat, baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek dan menengah, kelompok masyarakat yang kebanyakan tinggal di sekitar
41 hutan itu akan mendapatkan jasa kerja, yakni upah atas dilaksanakannya seluruh kegiatan mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, perlindungan, hingga pemanenan kayu. Disamping itu sesuai dengan kesepakatan, masyarakat mendapat fee dari jasa manajemen sebesar 1% dan fee dari jasa produksi sebesar Rp 2 500/m 3. Dalam areal konsesi MHP saat ini terdapat lahan-lahan usaha masyarakat yang sudah turun temurun diusahakan menjadi kebun karet, belukar, dan pemukiman. Lahan-lahan tersebut menjadi enclave dalam areal tanaman MHP. Untuk itu, MHP melakukan program mengelola hutan rakyat (MHR). Pola MHR dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang memiliki lahan untuk ditanami HTI oleh perusahaan dengan perjanjian kerjasama pengelolaan, dimana perusahaan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan mulai dari pembukaan lahan sampai panen. Semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam proses produksi dihitung sebagai hutang, yang nantinya dikurangi dari hasil produksi kayu HTI. Hasil bersih dibagi antara perusahaan dan masyarakat dengan pembagian masing-masing 60% dan 40%. 3.1.2. Konsep Valuasi Ekonomi Pengusahaan HTI Pada prinsipnya valuasi ekonomi bertujuan untuk memberikan nilai ekonomi kepada sumberdaya yang digunakan sesuai dengan nilai riil dari sudut pandang masyarakat. Dengan demikian dalam melakukan valuasi ekonomi perlu diketahui sejauh mana adanya bias antara harga yang terjadi dengan nilai riil yang seharusnya ditetapkan dari sumberdaya yang digunakan tersebut. Selanjutnya adalah apa penyebab terjadinya bias harga tersebut. Ilmu ekonomi sebagai perangkat melakukan valuasi ekonomi adalah ilmu tentang pembuatan pilihan-
42 pilihan. Pembuatan pilihan-pilihan dari alternatif yang dihadapkan kepada kita tentang lingkungan hidup adalah lebih kompleks, dibandingkan dengan pilihan dalam konteks; barang-barang privat murni (Baxter et al., 1978). Menilai suatu sumberdaya alam secara komprehensif adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan bagi para pembuat kebijakan. Dalam hal ini tidak saja market value dari barang yang dihasilkan dari suatu sumberdaya melainkan juga dari jasa yang ditimbulkan oleh sumberdaya tersebut. Bagaimana mengukur, atau menilai jasa tersebut padahal konsumen tidak mengkonsumsinya secara langsung, bahkan mungkin tidak pernah mengunjungi tempat dimana sumberdaya alam tersebut berada. Salah satu cara untuk melakukan valuasi ekonomi adalah dengan menghitung Nilai Ekonomi Total. Nilai Ekonomi Total (TEV) adalah nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam suatu sumberdaya alam, baik nilai guna maupun nilai fungsional yang harus diperhitungkan dalam menyusun kebijakan pengelolaannya sehingga alokasi dan alternatif penggunaannya dapat ditentukan secara benar dan mengenai sasaran. Secara matematis persamaan total economic value dapat ditulis dalam persamaan sebagai berikut (Cserge, 1994): Dimana: TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + (XV + BV) TEV = Total economic value, yang nilai ekonomi diukur dalam terminologi sebagai kesediaan membayar (willingness to pay) untuk mendapatkan komoditi tersebut. UV = Use values (Nilai Manfaat), adalah suatu cara penilaian atau upaya kuantifikasi barang dan jasa sumberdaya alam dan lingkungan ke nilai uang (monetize), terlepas ada ada atau tidaknya nilai pasar terhadap barang dan jasa tersebut. NUV = Non use value (Nilai Bukan Manfaat)
43 DUV = Direct use value (Nilai Langsung), dimana output (barang dan jasa) yang terkandung dalam suatu sumberdaya yang secara langsung dapat dimanfaatkan. IUV = Indirect use value (Nilai Tidak Langsung), yaitu barang dan jasa yang ada karena keberadaan suatu sumberdaya yang tidak secara langsung dapat diambil dari sumberdaya alam tersebut. 0V = Option value (Nilai Pilihan), adalah potensi manfaat langsung atau tidak langsung dari suatu sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan diwaktu mendatang dengan asumsi sumberdaya tersebut tidak mengalami kemusnahan atau kerusakan yang permanen. Nilai ini merupakan kesanggupan individu untuk membayar atau mengeluarkan sejurnlah uang agar dapat memanfaatkan potensi SDA di waktu mendatang. XV = BV = Exsistence value (Nilai Keberadaan), nilai keberadaan suatu sumberdaya alam yang terlepas dari manfaat yang dapat diambil daripadanya. Nilai ini lebih berkaitan dengan nilai relijius yang melihat adanya hak hidup pada setiap komponen sumberdaya alam. Bequest value (Nilai Warisan), nilai perlindungan atau preservation suatu sumberdaya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang sehingga mereka dapat mengambil manfaat daripadanya sebagai manfaat yang telah diambil oleh generasi sebelumnya. Metode valuasi barang dan jasa lingkungan dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu metode yang menggunakan kurva penawaran dan permintaan, dan metode yang tidak menggunakan kurva tersebut. Metode yang menggunakan kurva penawaran-permintaan membutuhkan data seri tentang permintaan dan penawaran sehingga metode ini merupakan metode terbaik karena menghitung total manfaat sosial dan manfaat sosial bersih yang merupakan penjumlahan antara surplus konsumen dan surplus produsen (Turner et al., 1994). Bann (1998) membagi teknik valuasi yang umumnya digunakan dalam menilai berbagai komponen nilai hutan tropis kedalam lima kategori utama. 1. Berdasarkan Harga Pasar Pendekatan ini menggunakan harga pasar (price based) dari suatu barang dan jasa hutan (koreksi untuk pasar yang tidak sempurna dan kegagalan kebijakan yang dapat mendistorsi harga). Menurut Huftschmidt et. al. (1983), pendekatan
44 dengan harga pasar dapat dibedakan lagi menjadi pendekatan harga pasar dan pendekatan nilai barang pengganti: a. Pendekatan harga pasar yang sebenarnya atau pendekatan produktivitas telah banyak digunakan dalam menganalisis biaya dan manfaat suatu proyek. b. Pendekatan modal manusia (human capital) atau pendekatan pendapatan yang hilang (foregone earnings) menggunakan harga pasar dan tingkat upah untuk menilai sumbangan kegiatan terhadap penghasilan masyarakat. 2. Pendekatan Barang Lain Yang Memiliki Hubungan Dengan Barang Atau Jasa Hutan Yang Dinilai Pendekatan ini menggunakan informasi tentang hubungan antara barang dan jasa yang dipasarkan untuk mengetahui nilai barang dan jasa yang tidak memiliki pasar. Teknik ini terdiri atas pendekatan barter, pendekatan substitusi langsung, dan pendekatan substitusi tak langsung. Dalam pendekatan nilai barang pengganti (substitusi) maupun nilai barang pelengkap (komplementer), kita berusaha menemukan harga pasar bagi barang dan jasa yang terpengaruh lingkungan. Pendekatan nilai kekayaan (hedonic property prices) didasarkan atas pemikiran bahwa kualitas lingkungan mempengaruhi harga rumah yang dipengaruhi oleh jasa atau guna yang diberikan oleh kualitas lingkungan. Pendekatan upah pada jenis pekerjaan yang sama tetapi pada lokasi yang berbeda untuk menilai kualitas lingkungan kerja pada masingmasing lokasi dapat digunakan dalam metode ini. Pendekatan yang dipakai adalah bahwa upah dibayarkan lebih tinggi pada lokasi yang lebih tercemar Disamping itu juga bisa digunakan pendekatan dengan menggunakan biaya transportasi. Pendekatan ini menganggap bahwa biaya perjalanan serta
45 waktu yang dikorbankan para wisatawan untuk menuju obyek wisata, dianggap sebagai nilai lingkungan yang wisatawan bersedia untuk membayar. Dalam suatu perjalanan (travel) orang harus membayar biaya finansial (financial cost) dan biaya waktu. Biaya waktu tergantung pada biaya kesempatan (opportunity cost) masing-masing. 3. Pendekatan Tidak Langsung Pendekatan ini merupakan teknik yang berusaha mengungkap preferensi melalui informasi yang berdasarkan observasi pasar. Pendekatan ini dapat dibagi atas dua macam, yaitu: a. Pendekatan Pasar Pengganti (Surrogate market approach) yang menggunakan informasi tentang komoditi yang dipasarkan untuk menduga nilai barang yang akan ditaksir. b. Pendekatan pasar konvensional (Conventional market approach) yang menggunakan harga pasar dalam menilai jasa lingkungan dalam situasi dimana kerusakan atau perbaikan lingkungan menimbulkan perubahan kuantitas atau harga input atau output yang dipasarkan. Contohnya adalah nilai perubahan pada pendekatan produktvitas, dan pendekatan fungsi produksi. 4. Pendekatan Langsung Membangun pendekatan pasar sebagaimana metode kontingensi yang digunakan untuk mendapatkan nilai lingkungan secara langsung, melalui survei, WTP konsumen terhadap nilai lingkungan yang dapat dipasarkan. Survei dapat dilakukan dengan mewawancarai responden secara langsung mengenai kesediaan mereka untuk membayar (willingnes to pay) atau kesediaan menerima
46 pembayaran (willingnes to accept) karena perubahan lingkungan dapat dipakai untuk menentukan nilai lingkungan. 5. Metode Berbasis Ongkos Metode ini menggunakan beberapa estimasi ongkos untuk menyediakan atau menggantikan barang dan jasa lingkungan yang sebenarnya akan diestimasi benefitnya. Menurut Gittinger (1986), komponen barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam terdiri dari 2 yaitu : barang dan jasa yang diperdagangkan (traded goods) dan tidak diperdagangkan (non traded). Untuk barang dan jasa yang diperdagangkan, teknik pengukuran nilai ekonominya dapat dilakukan dengan lebih terukur karena bentuk fisiknya jelas dan memiliki nilai pasar (market value). Beberapa cara pengukuran yang dapat dilakukan dengan surplus konsumen dan surplus produsen. Surplus konsumen adalah pengukuran kesejahteraan di tingkat konsumen yang diukur berdasarkan selisih keinginan membayar dari seseorang dengan apa yang sebenarnya dia bayar. Di dalam valuasi ekonomi sumberdaya, surplus konsumen ini dapat digunakan untuk mengukur besarnya kehilangan akibat kerusakan ekosistem dengan mengukur perubahan konsumer surplus. Surplus produsen diukur dari sisi manfaat dan kehilangan dari sisi produsen atau pelaku ekonomi. Dalam bentuk yang sederhana, nilai ini dapat diukur tanpa harus mengetahui kurva penawaran dari barang yang diperdagangkan. Pengukuran Nilai Ekonomi Barang dan Jasa yang Tidak Diperdagangkan (Non Traded Value) dapat dilakukan dengan memprediksi nilainya. Beberapa barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam dan lingkungan seperti
47 nilai rekreasi, nilai keindahan dan sebagainya yang tidak diperdagangkan dan sulit mendapatkan data mengenai harga dan kuantitas dari barang dan jasa tersebut. Beberapa pendekatan untuk mengukur barang dan jasa yang tidak diperdagangkan telah banyak dikembangkan oleh para ahli ekonomi sumberdaya diantaranya adalah: 1. Teknik Pengukuran Tidak Langsung Penilaian terhadap barang dan jasa yang tidak diperdagangkan dapat dilakukan menggunakan teknik tidak langsung yang didasarkan pada deduksi atas perilaku seseorang atau masyarakat secara keseluruhan terhadap penilaian sumberdaya alam, sehingga teknik ini juga sering disebut teknik revealed willingness to pay. Dengan teknik ini diharapkan akan diperoleh nilai yang secara konseptual identik dengan nilai pasar (market value). Termasuk di dalam teknik-teknik ini antara lain; Hedonic Price and Wage Techniques, the Travel Cost Methods, Averrive Behavior and Conventional Market Approaches. Semua itu adalah tidak langsung sebab mereka tidak tergantung pada jawaban langsung masyarakat terhadap pertanyaan tentang, "berapa banyak mereka WTP atau WTA untuk perubahan kualitas lingkungan hidup" (Cserge, 1994). a. Travel Cost Method 1. Dapat digunakan untuk menilai daerah tujuan wisata alam. 2. Dilakukan dengan cara survei biaya perjalanan dan atribut lainnya terhadap respon pengunjung suatu obyek wisata. 3. Biaya perjalanan total merupakan biaya perjalanan PP, makan dan penginapan. 4. Surplus konsumen merupakan nilai ekonomi lingkungan obyek wisata tersebut.
48 b. Hedonic Pricing Method Teknik ini pada prinsipnya adalah mengestimasi nilai implisit dari karakteristik atau atribut yang melekat pada suatu produk dan mengkaji hubungan antara karakteristik yang dihasilkan tersebut dengan permintaan barang dan jasa. Analisa hedonic price biasanya melibatkan dua tahapan. Pertama adalah menentukan variable kualitas lingkungan yang akan dijadikan studi dan mengkajinya dari ketersediaan data spasial dan data harga dari suatu obyek yang akan dinilai. Kedua adalah menentukan fungsi permintaan. Teori dasarnya adalah ada keterkaitan antara permintaan atau produksi komoditi yang dapat dipasarkan (marketable commodity) dengan yang tidak dapat dipasarkan (nonmarketable commodity). 2. Teknik Pengukuran Langsung Pada pendekatan pengukuran secara langsung, nilai ekonomi sumberdaya dan lingkungan dapat diperoleh langsung dengan menanyakan kepada individu atau masyarakat mengenai keinginan membayar mereka (willingness to pay) terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam. Pendekatan langsung menurunkan preferensi secara langsung dengan cara survey dan teknik-teknik percobaan (experimental tecniques) misalnya contingent valuation methods (CVM)" dan contingent ranking methods. Pendekatan ini disebut contingent (tergantung kondisi) karena pada prakteknya informasi yang diperoleh sangat tergantung dari hipotesis pasar yang dibangun, misalnya: seberapa besar biaya yang harus ditanggung, bagaimana pembayarannya, dan lain sebagainya. Pendekatan CVM ini secara teknis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: teknis eksperimental melalui simulasi dan
49 permainan dan melalui teknik survey. Pendekatan pertama lebih banyak dilakukan dengan melalui simulasi computer sehingga penggunaannya di lapangan sangat sedikit. Pendekatan CVM pada hakekatnya bertujuan untuk mengetahui keinginan membayar (willingness to pay atau WTP) dari sekelompok masyarakat misalnya terhadap perbaikan kualitas lingkungan dan keinginan menerima (willingness to accept atau WTA) dari kerusakan suatu lingkungan hutan. Metode CVM merupakan metode valuasi melalui survei langsung mengenai penilaian respon secara individual dengan cara menanyakan kesediaan untuk membayar (willingness to pay) terhadap suatu komoditi lingkungan atau terhadap suatu sumberdaya yang non marketable. Dikatakan contingent, karena pada kondisi tersebut respon seolah-olah dihadapkan pada pasar yang sesungguhnya dimana sedang terjadi transaksi. Metoda ini selain dapat digunakan untuk mengkuantifikasi nilai pilihan, nilai eksistensi dan nilai pewarisan juga dapat digunakan untuk menilai penurunan kualitas. Secara diagramatis pengukuran valuasi ekonomi sumberdaya hutan tanaman industri dapat dilihat dalam gambar 1.
50 NILAI EKONOMI TOTAL Use Values Non Use Values Direct Use Indirect Use Option Values Bequest Values Existence Val. - Kayu utk pulp - Kayu utk furniture - Hasil hutan non kayu - Penggunaan air dan udara - Ekoturisme dan rekreasi - Konservasi tanah dan air - Serapan karbon - Perlindungan banjir - Transportasi - Keanekaragaman hayati - Biodiversitas - Konservasi habitat - Kelestarian hutan agar dapat dinikmati generasi mendatang - Keberadaan satwa liar dan, - satwa dilindungi Metode Penilaian: - Contingent Valuation Method (CVM) Metode Penilaian: - Market value - CVM - Indirect subtitution App. - Hedonic Pricing - Travel Cost method Metode Penilaian: - Biaya pencegahan - Productivity App. - Replacement cost - Relocation cost - Surrogate market price Gambar 1. Metode Penilaian Ekonomi Total Hutan Tanaman Industri Gambar di atas menunjukan kaitan antara komponen penyusun dari total nilai ekonomi dari ekosistem hutan yang akan di nilai, secara lebih rinci gambar tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut: 1. Total Economic Value (TEV) dari sumberdaya dapat di disagregasi ke dalam dua bagian yang terdiri dari Use Value (UV) dan Non-Use Value (NUV). 2. Use Value dapat menjadi Direct Use Value (DUV) misalnya seseorang membuat penggunaan aktual dari fasilitas dan Indirect Use Value (IUV), misalnya manfaat-manfaat yang diperoleh dari fungsi ekosistem. Option Value (OV), yang menunjukkan kemauan untuk membayar (WTP) untuk pilihan
51 (option) dalam penggunaan fasilitas seperti daerah rekreasi untuk penggunaan di masa yang akan datang. 3. Non Use Value (NUV) dapat dibagi menjadi Existence Value (EV) yang mengukur WTP untuk suatu sumberdaya untuk moral, altruistik atau dasar lain yang tidak ada hubungannya dengan penggunaan atau nilai option. Bequest Value (BV) yang mengukur suatu WTP untuk menjamin bahwa turunan mereka akan mampu menggunakan sumberdaya di masa yang akan datang. 3.1.3. Konsep Keberkelanjutan Pembangunan HTI Dalam konsep pembangunan sumberdaya yang berkelanjutan terkandung beberapa aspek, sebagai berikut: 1. Ecological sustainability (keberlanjutan ekologi). Dalam pandangan ini pemanfaatan sumberdaya hutan hendaknya tidak melewati batas daya dukungnya. Peningkatan kapasitas dan kualitas ekosistem menjadi hal yang utama. 2. Socioeconomic sustainability (keberlanjutan sosial-ekonomi). Konsep ini mengandung makna bahwa pembangunan kehutanan perlu memperhatikan keberlanjutan dari kesejahteraan pemanfaat sumberdaya hutan pada tingkat individu. 3. Comunity sustannability, mengandung makna bahwa keberlanjutan kesejahteraan dari sisi komunitas atau masyarakat perlu menjadi perhatian pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. 4. Institusional sustanability (keberlanjutan kelembagaan). Keberlanjutan kelembagaan ini menyangkut aspek finansial dan administrasi yang sehat sebagai prasyarat dari ketiga pembangunan berkelanjutan diatas.
52 Penilaian keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan menurut Lembaga Ecolabelling Indonesia (1999), adalah sebagai berikut: 1. Kelestarian fungsi produksi (ekonomi), yaitu adanya kepastian penggunaan lahan sebagai kawasan hutan, status penataan batas kawasan hutan, kualitas fisik tata batas, perencanaan dan implementasi penataan hutan menurut tipetipe dan fungsi hutan, pengorganisasian kawasan yang menjamin kegiatan produksi yang kontinyu, produksi yang sesuai dengan kemampuan produktivitas hutan, dan meminimumkan tingkat pembalakan, serta meminimumkan dampak perubahan penutupan lahan akibat perambahan, alih fungsi kawasan hutan, kebakaran dan gangguan lainnya. 2. Kelestarian fungsi ekologi adalah meletakkan proporsi yang proposional antara pemanfaatan hutan dengan fungsi ekologi hutan, sehingga tidak menimbulkan dampak kerusakan hutan yang pada akhirnya akan mengakibatkan kerusakan Iingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati. 3. Kelestarian fungsi sosial, yaitu adanya kejelasan batas antara kawasan konsesi dengan kawasan komunitas setempat yang terdelinasi secara jelas, adanya jaminan akses pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat setempat, sebagai sumber-sumber ekonomi komunitas masyarakat di sekitar hutan, komunitas masyarakat disekitar hutan dapat mengakses kesempatan kerja dan peluang berusaha serta meminimasi dampak kerusakan sumberdaya hutan terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan konsep dan penilaian di atas pada prinsipnya ada beberapa hal yang merupakan ciri utama dari pengelolaan HTI dengan pengelolaan hutan berbasis masyarakat yaitu: (1) sustainable (kelestarian hutan), (2) kesejahteraan
53 masyarakat, (3) pemberdayaan masyarakat, (4) peran multipihak, (5) adopsi kearifan lokal, dan (6) orientasi pada pengelolaan seluruh potensi hutan tidak hanya kayu. Ciri-ciri utama ini merupakan parameter untuk menilai tingkat keberhasilan keberlanjutan penerapan pengelolaan hutan berbasis masyarakat (Arief, 2008). Secara konseptual program pengelolaan hutan berbasis masyarakat diharapkan dapat berimplikasi pada: (1) penurunan gangguan keamanan hutan, (2) peningkatan/optimalisasi pemanfaatan lahan dan ruang hutan, (3) peningkatan nilai ekonomi kawasan hutan melalui pengelolaan seluruh aspek potensi hutan, (4) memperluas peluang usaha dan penciptaan lapangan kerja, (5) peningkatan pendapatan masyarakat dan keuntungan perusahaan serta pembangunan wilayah diluar hutan, dan (6) menumbuhkan dinamika sosial masyarakat desa hutan dan mekanisme pembangunan desa secara terpadu. Melihat keberagaman karakteristik hutan dan budaya masyarakat yang hidup disekitarnya, memang sudah seharusnyalah pengelolaan hutan berbasis masyarakat mempunyai flexibilitas atau kelenturan yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan yang ada. Dalam banyak kasus, isu atau penyebab utama dari munculnya benturan atau konflik adalah rasa ditinggalkan dari masyarakat. Masyarakat lokal merasa tersisih dan diberlakukan tidak adil dalam sistem pengelolaan hutan dalam skala yang besar, isu yang menonjol dan dominan sebagai munculnya konflik adalah hilangnya akses masyarakat terhadap sumberdaya hutan. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat diharapkan dapat mengeliminir dampak negatif dari benturan-benturan kepentingan yang mungkin timbul sebagai
54 akibat pengelolaan sumberdaya hutan. Dengan mengadopsi kearifan lokal yang spesifik, diharapkan PHBM dapat menjadi wahana yang menjembatani kepentingan semua pihak. Untuk itu perlu dibangun kesepahaman antara semua pihak yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan sehingga tujuan dari PHBM dapat tercapai. Analisis keberlanjutan dilakukan dengan menggunakan pendekatan Socio- Enthropy Controlling Interface (SECI), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sjarkowi (2010), dalam analisis ini ada empat faktor yang digunakan sebagai kontrol penghubung yang mencakup aspek sosial psikologi, sosial ekologi, sosial ekonomi, dan sosial kultural. Pengelolaan faktor SECI yang sungguh-sungguh oleh perusahaan akan sangat menetukan keberhasilan PT. MHP dalam pembangunan HTI, melalui bekerjanya faktor stabilitas, efisiensi, pengeluaran dan sinergis yang terjadi. Bekerjanya faktor-faktor ini dengan baik akan sangat menentukan keberlanjutan pengelolaan HTI melalui empat indikator keberlajutan, yaitu stabilitas, produktivitas, sustainabilitas, dan ekuatibilitas. 3.2. Kerangka Konseptual Penelitian 3.2.1. Model Pendekatan Model pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai upaya untuk menyederhanakan persoalan penelitian. Agar pengusahaan hutan tanaman industri dapat dilaksanakan secara berkelanjutan digunakan beberapa strategi dan pola yang harus melibatkan masyarakat sekitar melalui program PHBM guna menghasilkan sejumlah keluaran yang optimal dan menguntungkan semua pihak.
55 Kesepakatan awal antar pihak dimana perusahaan mau mengusahakan HTI adalah adanya Social Benefit Cost Ratio (SBCR) yang lebih besar dari Private Benefit Cost Ratio (PBCR). Namun dalam perjalanan selanjutnya bisa jadi hal itu mengalami perubahan dimana SBCR menjadi lebih kecil dari PBCR, hal ini dimungkin karena masing-masing pihak dapat melakukan kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan salah satu pihak atau kedua belah pihak. Dengan memperhatikan dinamika dan realitas yang terjadi dalam pembangunan HTI pola MHR dan MHBM saat ini agar pembangunan HTI berada dalam perpektif berkelanjutan dan sekaligus menjaga agar SCBR tetap lebih besar dari PBCR. Agar SCBR lebih besar dari PBCR, ada beberapa faktor yang menjadi penghubung kontrol sosial ekonomi (SECI = Social Entrophic Controlling Interface) yaitu faktor sosial psikologis, sosial ekologi, sosial ekonomi, dan sosial kultural. Selanjutnya keempat faktor tersebut akan mempengaruhi nilai valuasi dan kinerja dari indikator-indikator kerberlanjutan yaitu stabilitas, produktivitas, sustainabilitas, dan equitas. Pola pembangunan hutan tanaman industri dalam perspektif yang berkelanjutan secara diagramatis dapat dilihat dalam model pendekatan pada Gambar 2 dan 3 berikut ini. Pada Gambar 2 dapat diuraikan bahwa pengelolaan SECI akan sangat menentukan keberlanjutan pengelolaan HTI. Hal ini dapat dilihat dari mekanisme yang ditampilkan pada gambar 2. Faktor sosial psikologis akan mempengaruhi faktor-faktor stabilitas sebuah kawasan yang selanjutnya akan mempengaruhi stabilitas iklim berusaha yang aman dan kondusif. Faktor sosiol ekologi seperti mengantisipasi kerusakan lahan dan tata pengelolaan lahan yang baik, akan sangat
56 berpengaruh terhadap efisiensi usaha, yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas. Faktor sosial ekonomi seperti peningkatan pendapatan, pengelolaan biaya yang efektif, akan sangat mempengaruhi keuntungan dan pembiayaan usaha, yang selanjutnya akan berpengaruh kepada keberlangsungan usaha. Selanjutnya faktor sosial budaya seperti prilaku masyarakat setempat, juga akan sangat mempengaruhi faktor sinergis yang berdampak pada pemerataan penghasilan. Semua faktor tersebut akan sangat menentukan keberlanjutan pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Sosial Psikologis Faktor Stabilitas Stablitas Sosial Ekologi Faktor Efisiensi Produktivitas Sosial Ekonomi Faktor Pengeluaran Sustainabilitas Sosial Budaya Faktor Sinergis Equatibilitas Sumber : Sjarkowi, 2010 Gambar 2. Diagram SECI dan Pengaruhnya Terhadap Indikator Keberlanjutan
57 Penelusuran Data Teknis Layanan & Perangkat Teknis H T I Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) Program MHR (Mengelola Hutan Rakyat) Program MHBM (Mengelola Hutan Bersama Masyarakat) Socio- Entrophic Controlling Interface (SECI) Sosial Psikologis Sosial Ekologi Sosial Ekonomi Sosial Budaya VALUASI EKONOMI LINGKUNGAN Direct use value (Nilai langsung) Indirect use value (Nilai tdk langsung) Option value (Nilai Pilihan) Exsistence value (Nilai keberadaan) Bequest value (Nilai kewarisan) Indikator Keberlanjutan: 1. Sustainability 2. Productivity 3. Equitibility 4. Stability Pembangunan HTI dalam perspektif Berkelanjutan Penelusuran Data Manajemen Layanan & Perangkat Manajemen Gambar 3. Kerangka Pemikiran Pendekatan Konseptual
58 Dari diagram alir pada gambar 3 terlihat bahwa HTI dalam memenuhi kewajibannya untuk Pemberdayaan Masyarakat Disekitar Hutan (PMDH) melakukan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dengan melaksanakan dua pola pengelolaan Hutan Tanaman Industri, yaitu pola MHBM dan MHR. Dalam pola MHBM masyarakat diajak masuk ke lahan konsesi perusahaan untuk ikut mengelola HTI, dengan mendapatkan upah kerja, jasa produksi dan jasa manajemen. Sedangkan dalam pola MHR perusahaan keluar dari lahan konsesi, ikut aktif mengelola lahan masyarakat yang menganggur/terlantar dengan sistim bagi hasil untuk di tanami HTI dengan modal dan resiko sepenuhnya ditanggung perusahaan. Dalam melaksanakan kedua pola tersebut agar berhasil perusahaan melakukan kontrol berdasarkan teori yang telah dikembangkan Sjarkowi (2010) dalam sebuah kerangka teori konseptual yang disebut SECI. Didalam SECI pengelolaan kedua program yang melibatkan masyarakat sekitar tersebut dapat dilihat dari dimensi sosial psikologis, sosial ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Untuk melihat sejauh mana SECI ini telah berhasil di aplikasikan perusahaan dapat dilihat dari penelusuran data teknis dan data manajemen perusahaan HTI. Pengelolaan SECI yang baik oleh perusahaan akan sangat mempengaruhi nilai valuasi ekonomi yang di estimasi, melalui bekerjanya faktor stabilitas, efisiensi, pengeluaran dan sinergis yang terjadi. Bekerjanya faktor-faktor ini dengan baik akan sangat menentukan keberlanjutan pengelolaan HTI dilihat dari empat indikator keberlajutan, yaitu stabilitas, produktivitas, sustainabilitas, dan ekuatibilitas.
67 Dari fungsi ln[p/(1-p)] = α + βx + e diperoleh nilai koefisien dari slope (β) yang diinterpretasikan sebagai laju dari perubahan log odds akibat perubahan variabel-variabel X dan nilai ini tidak begitu penting. Dari fungsi p = 1/[1 + exp(-α - β X)], diperoleh Marginal Effect (ME) dari perubahan X atas peluang seperti berikut ini : Μp/ΜX = f(β X) β... (9) Interpretasi dari koefisien logit selalu disebut secara intuitif sebagai odds ratio, karena [p/(1-p)] = exp(α + βx), dimana exp(β) adalah efek dari variabel independen atas odds ratio. Untuk menjawab tujuan terakhir dari penelitian ini, yaitu terkait faktorfaktor penentu keputusan petani peserta MHR untuk melanjutkan atau tidak program tersebut pada siklus kedua, digunakan model umum persamaan berikut : dimana : Y MHR = f (S Psi, S Ekol, S Ekon, S bud )... (10) Y MHR = Keputusan petani MHR untuk melanjutkan pada siklus kedua (ya=1, lainnya=0) = Variabel Sosial Psikologi S Psi S Ekol = Variabel Sosial Ekologi S Ekon = Variabel Sosial Ekonomi S Bud = Variabel Sosial Budaya Variabel sosial psikologi meliputi rasa aman penduduk terhadp lahan yang mereka miliki dalam berusahatani di wilayah mereka. Variabel ini dinyatakan dalam variabel dummy adanya rasa aman atau tidak. Variabel sosial ekologi meliputi variabel tingkat kesuburan lahan, kemiringan lahan, dan jarak lahan dari tempat tinggal. Variabel sosial ekonomi meliputi variabel pendapatan dari HTI,
68 pendapatan dari usaha tani lain, pendapatan dari luar usahatani, biaya hidup kelaurga. Variabel sosial budaya meliputi variabel biaya yang dikeluarkan petani untuk kenduri, gotong royong, arisan dan pengeluaran kegiatan sosial lainnya. Model ekonometrik persamaan keputusan petani peserta MHR untuk melanjutkan atau tidak program tersebut pada siklus kedua 2010 2015 dapat disajikan berikut ini : Model keputusan petani peserta MHR K MHR = a 0 + a 1 Am+ a 2 Ls+ a 3 Lm+ a 4 Lj+ a 5 Phti+ a 6 Put+ a 7 Plu+ A 8 Pc + a 9 Sbud + u 1..... (11) dimana : K MHR Am Ls Lm Lj Lh Phti Put Plu Pc Sbud u l = Dummy keputusan petani peserta MHR untuk melanjutkan ke siklus kedua (ya=1, lainnya=0) = Dummy adanya rasa aman (ada=1; tidak ada=0) = Dummy kesuburan lahan (subur=1, tidak subur=0) = Dummy Kemiringan Lahan (relatif datar=1, miring=0) = Jarak lahan dari tempat tinggal (km) = Luas lahan (ha) = Pendapatan dari HTI (Rp/siklus) = Pendapatan dari usahatani lain (Rp/tahun) = Pendapatan dari luar usahatani (Rp/tahun) = Biaya hidup keluarga (Rp/tahun) = Biaya sosial, seperti biaya kenduri, gotong royong, arisan dll (Rp/tahun) = Error term