KODE UNIT : O JUDUL UNIT

dokumen-dokumen yang mirip
1. Memahami pengertian dan ruang lingkup hunian / shelter

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

KODE UNIT O JUDUL UNIT

1.1 Pentingnya pelayanan. 1.2 Tujuan penyediaan air bersih. 1.3 Komponen penyediaan air. 1.4 Parameter Standar Kualitas

2.1 Intervensi sanitasi dilakukan sesuai dengan disain. 2.2 Sarana Pembuangan Tinja (Jamban) darurat disediakan.

Kode Unit : O

1. Mengelola penyampaian bantuan

penanggulangan bencana penanggulangan bencana penanggulangan bencana 1. Mengidentifikasi strategi perencanaan bencana lokal yang ada

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

: Unit ini menjelaskan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan bagi pekerja penanggulangan bencana.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2080, 2014 BNPB. Logistik. Penanggulangan Bencana. Standarisasi.

KODE UNIT : O JUDUL UNIT : MerekrutRelawan DESKRIPSIUNIT : Unit ini menjelaskan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan

1. Melakukan pendekatan terhadap peluang pendanaan dari donatur potensial. 2. Menyerahkan proposal pendanaan. 3. Memenuhi persyaratan kontrak

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

1. Membangun kemitraan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

Kode Unit : O

BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN BANTUAN AKIBAT BENCANA DI KABUPATEN BLORA

: MenyiapkanRencana Transisi dalam Konteks Tanggap Darurat Bencana

1. Menggunakan sistem dan peralatan komunikasi

: Unit ini meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam mengelola tanggap darurat search and rescue (SAR)

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan.

1. Menyiapkan upaya penyelamatan

FR-APL-01. FORMULIR PERMOHONAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

PEMBERIAN MAKAN PADA KELOMPOK RENTAN DALAM SITUASI DARURAT

1. Mempraktikkan kesadaran budaya dalam praktikkerja. 2. Menerima keragaman budaya sebagai dasar hubungan kerja profesional yang efektif

PEDOMAN TATA CARA PEMBERIAN BANTUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

FR-APL-01. FORMULIR PERMOHONAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

1. Merencanakan hasil pencapaian tim. 2. Mengembangkan tim yang kompak. 3. Berpartisipasi dalam fasilitasi kerja tim

KODE UNIT : O

PENGELOLAAN BANTUAN LOGISTIK PADA STATUS KEADAAN DARURAT BENCANA

FR-APL-01. FORMULIR PERMOHONAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

FR-APL-01. FORMULIR PERMOHONAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1554, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Peralatan. Penanggulangan Bencana. Distribusi. Pedoman.

Judul Unit : MenetapkanEfektivitas Hubungan di TempatKerja

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR : 7 TAHUN 2017 TENTANG

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA,KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

PENANGGULANGAN BENCANA NON ALAM MENGHADAPI PENINGKATAN ANCAMAN EMERGING INFECTIOUS DISEASE

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG

KODE UNIT : O JUDUL UNIT

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNPB. Bantuan logistik. Pedoman. Perubahan.

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG

1. Menyampaikan misi dan tujuan organisasi. 2. Memengaruhi. individu

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN BONDOWOSO

Pengantar Prinsip Kemanusiaan

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

PENANGANAN KEDARURATAN BENCANA AKIBAT LIMBAH B3. Oleh : Yus Rizal (BNPB)

No. 1418, 2014 BNPB. Logistik. Peralatan. Penanggulangan Bencana. Penghapusan. Pedoman.

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGADA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN NGADA

Peran Kelembagaan dalam Mitigasi Bencana di Indonesia. Oleh: Rudi Saprudin Darwis

: MenerapkanKeterampilanSAR. 1. Menyiapkan kegiatan SAR

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA KEDIRI

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG

Kesehatan Lingkungan & Bencana PERTEMUAN 7

-2- saling melengkapi dan saling mendukung, sedangkan peran KLHS pada perencanaan perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup bersifat menguatkan. K

FR-APL-01. FORMULIR PERMOHONAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNPB. Masyarakat. Penanggulangan Bencana. Peran Serta.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN,

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGHAPUSAN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

1. Melakukan kajian situasi

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 185 TAHUN 2014 TENTANG PERCEPATAN PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Regu Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan Dini; Regu Pengamanan; Regu Pertolongan Pertama Pada Korban dan Kebakaran;

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 30 TAHUN 2008 TENTANG CADANGAN PANGAN PEMERINTAH DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH

No. 1411, 2014 BNPB. Logistik. Peralatan. Penanggulangan Bencana. Manajemen. Pedoman.

Transkripsi:

KODE UNIT : O.842340.045.01 JUDUL UNIT : Mengoordinasikan petugas pendirian dan pelayanan dasar shelter DESKRIPSIUNIT : Unit kompetensi ini menjelaskan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dipersyaratkan untuk Koordinator dan Pengelola Pendirian Shelter dan Pelayanan Dasar Shelter. ELEMEN KOMPETENSI KRITERIAUNJUK KERJA 1. Merencanakan shelter 1.1 Karakteristik dan persyaratan pengelolaan shelter sesuai dengan jenis bencana diidentifikasi. 1.2 Desain shelter dan kelengkapan kebutuhansarana disajikan. 1.3 Rencana kawasan shelter dibuat sesuai Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsidan Rencana Tata Ruang Nasional. 1.4 Tim penilai diorganisasikan untuk melakukan penilaian 1.5 Hasil penilaian shelter dievaluasi. 1.6 Alternatif pendekatan shelter dikelola. 1.7 Desain shelter dan kelengkapan kebutuhan sarana dinilai. 1.8 Tata letak shelter yang sudah dievaluasi disosialisasikan. 2. Mengelola pendirian dan penyediaan layanan shelter 2.1 Rancangan dasar barak sebagai hunian sementara diterapkan. 2.2 Pelayanan dasar shelter dilaksanakan secara terpadu, memadai, dan bermartabat sesuai dengan standar pelayanan. 2.3 Peran dan tanggungjawab setiap anggota tim shelter dibagi dan dikoordinasikan. 2.4 Aktivitas pengembangan tim

3. Melakukan monitoring dan evaluasi dilakukan secara efektif. 2.5 Pengelolaan pelayanan perlindungan terhadap kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, anak-anak, lanjut usia dan orang berkebutuhan khusus) dipraktikkan. 2.6 Pelayanan shelter berbasis isu gender PRB, API, Lingkungan diaplikasikan. 1.1 Pelaksanaan monitoring dan evaluasi diorganisasikan. 1.2 Hasil monitoring, evaluasi dan pelaporan dievaluasi. BATASAN VARIABEL 1. Konteks variabel 1.1 Shelter (hunian) adalah penampungan/hunian sementara yang diberikan dalam bentuk tenda-tenda, barak, atau gedung fasilitas umum/sosial, seperti tempat ibadah, gedung olah raga, balai desa, dan sebagainya, yang memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Hunian yang didirikan harus memenuhi syarat syarat keamanan, kenyamanan, kesehatan, dan bermartabat. Didalam shelter pengungsi mendapatkan akses pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih, penerangan, fasilitas ibadah, sesuai budaya, tempat untukmemenuhi kebutuhan sehari-hari dan memenuhi privasi dengan aman. 1.2 Pelayanan dasar shelter secara terpadu adalah jenis-jenis pelayanan dasar yang dilaksanakan secara terpadu di hunian (shelter), antara lain : 1.2.1 Makanan (Standar Dapur Umum) atau Food package (bila masak sendiri). 1.2.2 Air Minum 1.2.3 Makanan Tambahan (Susu, Kacang Hijau dll).

1.2.4 Pakaian 1.2.5 Perlengkapan Tidur (Tikar, Selimut) 1.2.6 Perlengkapan kebersihan diri (Higiene kit) 1.2.7 Piranti Rumah Tangga (Family kit) 1.2.8 Kelambu, khususnya untuk Bayi dan Balita 1.3 Isu-isu yang berdampak pada pengkoordinasian dan pengelolaan shelter, dapat mencakup: 1.3.1 Isu-isu kesehatan: Kebiasaan atau norma mengenai kesehatan Indikator-indikator kesehatan, seperti angka kematian, angka kesakitan, casefatality rate dan prevalensi gizi kurang pada balita. Survei-survei kesehatan untuk memperoleh data kesehatan Bantuan kesehatan, seperti program-program imunisasi atau pemberian makanan tambahan Standar kesehatan nasional dan WHO. 1.3.2 Isu-isu bantuan pangan dan mata pencaharian: Kebiasaan atau norma mengenai pangan dan mata pencaharian Program-program makanan untuk kerja Persyaratan yang berkaitan dengan makanan dari partisipan proyek, bumbu, alat masak, bahan bakar Standar pangan nasional Persyaratan yang berkaitan dengan budaya dari para partisipan proyek. 1.3.3 Isu-isu pengungsi: Kebiasaan atau norma mengenai pendatang dan pengungsi Pengetahuan tentang Piagam Kemanusiaan dan Proyek

Sphere dan hukum internasional yang relevan dengan para pengungsi dan hak-hak mereka Pertimbangan isu-isu budaya dan isu-isu mengenai kebutuhan dan hak-hak masyarakat yang menjadi tuan rumah. 1.3.4 Isu-isu air: Kebiasaan atau norma mengenai air. Akses terhadap air, jumlah, mutu, rasa, dan manajemennya Pengolahan air Rumus penghitungan volume air yang dibutuhkan Kepemilikan air Pendistribusian air, termasuk infrastrukturpenyimpanan dan pipa air. 1.3.5 Isu-isu sumber daya manusia: Kebiasaan atau norma mengenai kerelawanan, ketenagakerjaan Mempekerjakan relawan lokal Peraturan perekrutan tenaga kerja lokal Tuntutan buruh lokal untuk pembayaran tunai harian Akomodasi relawan dan kondisi-kondisi lainnya 1.4 Pemangku kepentingan internal seperti: 1.4.1 Manajer Shelter sebagai atasan langsung 1.4.2 Komandan Penanganan Darurat sebagai atasan tidak langsung. 1.4.3 Hierarki BNPB atau Institusi Penyelenggara pendirian shelter seperti BPBD, SKPD, PMI, Masyarakat dan Dunia Usaha. 1.5 Efektivitas bantuan, termasuk: 1.5.1 Kepemilikan, termasuk: Melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat dalam

pengambilan keputusan, pengimplementasian, pemantauan, dan evaluasi Mendorong kontribusi masyarakat dan pemerintah lokal dalam pemecahan masalah dalam pengelolaan Shelter. 1.5.2 Koordinasi dan Kolaborasi : Secara aktif berusaha melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan masyarakat dan mitra kerja dalam proses layanan shelter, termasuk dalam pengambilan keputusan intervensi shelter. 2. Peralatan dan perlengkapan: 2.1 Peralatan 2.1.1 Contoh disain shelter. 2.1.2 Contoh model miniature shelter. 2.1.3 Contoh Food item dan Non Food Item. 2.1.4 Skenario shelter 2.2 Perlengkapan 2.2.1 Spidol 2.2.2 Kertas Manila/ kertas koran 3. Peraturan yang diperlukan: 3.1 Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana 3.2 Perka BNPB Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Santunan Duka Cita 3.3 Perka BNPB Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar 3.4 Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2013 Tentang Bantuan Sosial Bagi Korban Bencana.

3.5 Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2013 tentang Bantuan Sosial Bagi Korban Bencana. 4. Norma dan Standar: 4.1 Tuntutan persyaratan SNI ISO 22320:2012 - Keamanan masyarakat Manajemen kedaruratan Persyaratan untuk penanganan insiden; 4.2 Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respon Kemanusiaan Proyek Sphere (2011) serta 4.3 SNI 7937:2013 Layanan Kemanusiaan dalam Bencana PANDUAN PENILAIAN 1. Konteks penilaian 1.1 Pertimbangan Kesempatan dan Kesetaraan 1.1.1 Semua petugas dan operator shelter harus menyadari isuisu kesempatan, kesetaraan, dan hak asasi manusia pada bidang kerja masing-masing 1.1.2 Semua petugas dan operator shelter harus mengembangkan kemampuan bekerja di dalam lingkungan budaya yang berbeda 1.1.3 Secara khusus, petugas dan operator shelter harus menyadari isu-isu budaya, historis, kebiasaan-kebiasaan dan isu-isu terbaru di dalam menghadapi masyarakat dan budaya di tempat mereka bekerja 1.1.4 Penguji dan pelatih harus mempertimbangkan isu-isu kesempatan dan kesetaraan yang relevan terkait dengan kebiasaan dan budaya setempat 1.2 Sumber Daya 1.2.1 unit ini dapat dinilai secara mandiri, tetapi tindakan pengujian menyeluruh dengan unit unit lain yang berhubungan dengan kompetensi dianjurkan

1.2.2 pengujian pengetahuan dasar, selain pertanyaan penegasan, biasanya dilakukan di dalam konteks di luar lapangan 1.2.3 sumber daya yang diperlukan untuk penilaian meliputi akses kepada: lokasi tempat kerja atau tempat kerja simulasi arahan-arahan spesifikasi dan pekerjaan buku pedoman kebijakan dan buku pedoman prosedur (baik internasional maupun setempat, mencakup operasional dan keamanan bantuan kemanusiaan) dokumen-dokumen yang relevan (seperti SOP, Panduan, rencana tanggapan dan laporan catatan penilaian) dan dokumen-dokumen standar alat-alat perlengkapan yang relevan (seperti perlengkapan tulis, shelter kit, tool kit dan alat komunikasi) 1.3 Metode penilaian 1.3.1 Metode penilaian perlu mempertimbangkan kesulitan praktis yang berhubungan dengan shelter apabila uji kompetensi dilakukan dalam suasana bantuan operasi tanggap darurat 1.3.2 Metode penilaian harus dengan observasi langsung tugas dan meliputi pertanyaan pada pengetahuan dasar 1.3.3 pengujian mungkin diterapkan di bawah kondisi proyek terkait (sebenarnya atau simulasi) dan perlu pembuktian proses 1.3.4 pengujian harus didukung oleh bukti tambahan dari suatu jangkauan luas dari sumber, terutama meliputi pembuktian dari satu atau lebih bidang keadaan.

2. Persyaratan kompetensi O.842340.001.01Melakukan Kerja Efektif dalam Sektor Penanggulangan Bencana 3. Pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan 3.1 Pengetahuan 3.1.1 Mampu memahami karakterisik dan persyaratan pengelolaan shelter berdasarkan kebutuhan dan ancaman bencana 3.2 Keterampilan 3.2.1 Mampu membuat disain shelter 3.2.2 Mampu menganalisis dan mengevaluasi proses penilaian shelter serta mengelola alternatif pendekatan shelter 3.2.3 Mampu mengevaluasi dan mendiseminasikan layout shelter 3.2.4 Mampu mengelola pendirian shelter dan penyediaan layanan shelter 3.2.5 Mampu menganalisis proses dan hasil monitoring dan evaluasi 3.2.6 Mampu memimpin tim shelter 4. Sikap kerja : 4.1 Mampu menerapkan kerjasama dalam kelompok 5. Aspek Kritis 5.1 individu yang dinilai harus menunjukkan pengetahuan dan keterampilan tertentu yang diperlukan, juga keterampilan 5.2 aplikasi kompetensi harus dinilai di tempat kerja atau tempat kerja yang tersimulasi secara realistis 5.3 pengujian harus dilakukan menurut pelaksanaan kerja standar dan sah, persyaratan keamanan, dan kendala lingkungan 5.4 konsistensi kinerja harus ditunjukkan menurut batasan situasi

yang dipersyaratkan sesuai dengan tempat kerja 5.5 testimoni para peserta proyek, pemerintah, atau organisasiorganisasi nonpemerintah baik tidak langsung maupun tidak diminta yang berhubungan dengan perilaku etis harus dipertimbangkan sebagai pembuktian penting sehubungan dengan unit ini 5.6 pengujian yang dilakukan harus memperkuat kesimpulan yang masuk akal bahwa kompetensi bukan hanya dapat dipenuhi dalam keadaan tertentu, tetapi juga dapat dialihkan kepada keadaan keadaan lain.