HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

REKAYASA REMATURASI IKAN LELE Clarias sp. MENGGUNAKAN HORMON GtH DAN PENAMBAHAN TEPUNG Spirulina sp. PADA PAKAN

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Prosedur Persiapan Wadah Persiapan dan Pemeliharaan Induk Peracikan dan Pemberian Pakan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin

I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015),

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

I. PENDAHULUAN. Usaha budidaya ikan baung telah berkembang, tetapi perkembangan budidaya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila

II. BAHAN DAN METODE 2.1Prosedur Persiapan Wadah Persiapan dan Pemeliharaan Induk Pencampuran dan Pemberian Pakan

TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Ikan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Kelangsungan Hidup

3.KUALITAS TELUR IKAN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

I. PENDAHULUAN. Ikan merupakan alternatif pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%)

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. salah satu daya pikat dari ikan lele. Bagi pembudidaya, ikan lele merupakan ikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

Kata kunci: ikan nila merah, tepung ikan rucah, vitamin E, TKG, IKG

BAB III BAHAN DAN METODE

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk

EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA PAKAN INDUK TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TELUR IKAN NILA Oreochromis niloticus

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING)

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

PENDAHULUAN Latar belakang

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT

II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh Variasi Dosis Tepung Ikan Gabus Terhadap Pertumbuhan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan benih ikan mas, nila, jambal, bawal dan bandeng di bendungan

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele. Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

Pematangan Gonad di kolam tanah

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

PEMBAHASAN. Pengaruh Perlakuan Borax Terhadap Performa Fisik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN TAWES (PUNTIUS JAVANICUS) JOIS

PENGARUH SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG TULANG TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus.

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4.

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks

APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus)

PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP TAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BELINGKA (Puntius belinka Blkr)

Effect of Enriched Feed by Different n-6 Fatty Acids Levels at 0% of n-3 on Danio rerio Reproductive Performance

I. PENDAHULUAN. Ikan baung (Mystus nemurus) adalah ikan air tawar yang terdapat di

Titin Herawati, Ayi Yustiati, Yuli Andriani

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMIJAHAN IKAN TAWES DENGAN SISTEM IMBAS MENGGUNAKAN IKAN MAS SEBAGAI PEMICU

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia yang memiliki

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2012 di Laboratorium

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar. Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi

Wisnu Prabowo C SKRIPSI

PENAMBAHAN VITAMIN E DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN POTENSI REPRODUKSI INDUK IKAN SEPAT HIAS ( Trichogaster sp )

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan

PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypopthalmus) YANG DIPELIHARA DENGAN SISTEM BIOFLOK PADA Feeding Rate YANG BERBEDA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA.

Nutrisi Pakan pada Pendederan kerapu

II. TINJAUAN PUSTAKA. ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh gram. Di

III. BAHAN DAN METODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa pertumbuhan induk ikan lele tanpa perlakuan Spirulina sp. lebih rendah dibanding induk ikan yang diberi perlakuan Spirulina sp. 2% baik selama satu minggu maupun 2 minggu. Namun pemberian Spirulina sp. selama satu minggu menunjukkan kinerja pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan kinerja pertumbuhan ikan yang diberi Spirulina sp. selama 2 minggu. Tabel 2. Kinerja induk ikan lele Perlakuan N Bobot Ratarata (Kg) Bunting (%) Induk Matang Gonad (%) SGR (%) GR (g/hari) Rentang Waktu (Minggu ke-) Hormon 0 IU tanpa Spirulina sp. 2% 5 655,40 20 0 0,71±0,19 b 3,80±1,88 k N/A Hormon 0 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu 5 640,00 60 0 1,38±1,04 b 4,87±2,71 k N/A Hormon 0 IU dan Spirulina sp. 2% Dua minggu 5 442,40 80 0 1,16±0,41 b 3,53±0,67 jk N/A Hormon 5 IU tanpa Spirulina sp. 2% 5 482,00 60 66,67 0,33±0,04 a 1,58±0,25 j 4 Hormon 5 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu 5 477,40 60 66,67 1,10±0,45 b 3,81±0,94 k 4 Hormon 5 IU dan Spirulina sp. 2% Dua Minggu 5 445,00 60 33,33 0,69±0,45 ab 2,30±1,04 j 4 Hormon 10 IU tanpa Spirulina sp. 2% 5 373,80 60 100 0,41±0,26 a 1,32±0,70 j 4 Hormon 10 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu 5 496,60 60 66,67 1,39±0,43 b 4,66±1,76 k 3 dan 4 Hormon 10 IU dan Spirulina sp. 2% Dua Minggu 5 473,40 60 33,33 1,18±0,45 b 4,17±0,57 k 3 dan 4 Keterangan: - Huruf superscript pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan signifikan dari analisis ragam antar perlakuan. - N/A Data tidak tersedia, tidak terdapat induk yang matang gonad selama rentang waktu pemeliharaan, 4 minggu. Selain mempengaruhi tingkat pertumbuhan, pemberian tepung spirulina juga terlihat mempengaruhi tingkat kebuntingan, namun belum mencapai tingkat kematangan kematangan gonad. Tingkat kematangan gonad yang terlihat sangat dipengaruhi oleh pemberian hormon. Induk-induk yang diberi hormon mengalami kematangan gonad lebih awal dibanding induk-induk tanpa pemberian hormon. Hal ini terlihat dari tingginya persentase tingkat kematangan gonad induk ikan yang diberi hormon. Tingkat kematangan tertinggi terjadi pada 8

perlakuan Spirulina sp. 0% dan hormon 10 IU yang menunjukkan semua induk yang mengalami kebuntingan juga mengalami kematangan gonad. Tabel 3. Kinerja produksi benih Perlakuan N Fekunditas Relatif FR (%) HR (%) SR (%) (butir/1kg induk) Kontrol 5 0 0 0 0 Hormon 0 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu Hormon 0 IU dan Spirulina sp. 2% Dua minggu Hormon 5 IU dan Spirulina sp. 0% Hormon 5 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu Hormon 5 IU dan Spirulina sp. 2% Dua Minggu Hormon 10 IU dan Spirulina sp. 0% dan Hormon 10 IU dan Spirulina sp. 2% Satu Minggu Hormon 10 IU dan Spirulina sp. 2% Dua Minggu 5 0 0 0 0 5 0 0 0 0 5 38.530 90,00 77,08 83,33 5 51.720 90,00 93,00 92,67 5 28.310 68,00 22,00 54,55 5 53.250 88,00 73,13 63,75 5 52.240 38,00 17,00 51,17 5 58.560 13,00 98,00 79,64 Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa masing-masing perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda bagi kinerja produksi benih. Kinerja terbaik ditunjukkan oleh perlakuan Spirulina sp. 2% satu minggu dan hormon 5 IU, dimana Fekunditas Relatifnya sekitar 51.720 butir/kg dengan FR, HR dan SR larva yang dihasilkan lebih dari 90% meskipun dari segi fekunditas relatif terlihat bahwa jumlah telur terbanyak dihasilkan oleh induk dengan perlakuan Spirulina sp. 2% dan hormon 10 IU, namun tidak signifikan. Sedangkan telur yang dihasilkan oleh induk ikan dengan perlakuan selama 2 minggu dan hormon 5 IU terlihat lebih sedikit dibanding telur yang dihasilkan oleh induk ikan dengan perlakuan Spirulina sp. 2% satu minggu dan hormon 5 IU. Tingkat pembuahan (fertillization rate) pada 2 perlakuan terakhir tersebut sangat kecil sehingga jumlah larva yang dihasilkan juga sedikit. 3.2 Pembahasan Pemanfaatan Spirulina sp. sebagai suplemen pakan ikan bukan merupakan hal yang baru, karena Spirulina sp. sejak dahulu telah dimanfaatkan sebagai 9

suplemen pakan ikan hias. Pemanfaatan Spirulina sp. bagi ikan hias adalah untuk meningkatkan ekspresi warna atau kolorasi ikan sehingga lebih menarik. Sedangkan pemanfaatan Spirulina sp. saat ini telah dicoba untuk meningkatkatkan pertumbuhan, tingkat hormon sex, dan maturasi pada ikan patin Thailand atau Pla Pho Pangasius boucorti (Umphan, 2009) dan reproduksi pada ikan mas koki (James et al., 2009). Adapun tujuan suplementasi Spirulina sp. pada percobaan ini adalah sebagai bahan atau materi yang diperlukan selama masa rematurasi dan meningkatkan kinerja produksi benih ikan lele sangkuriang. Berdasarkan data pada tabel analisis sidik ragam terlihat bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara kinerja pertumbuhan induk ikan yang diberi perlakuan Spirulina sp. dengan induk ikan yang tidak mendapat perlakuan Spirulina sp.. Hal ini disebabkan karena kandungan protein yang terdapat pada ekstrak Spirulina sp. yaitu 55% - 70% (Belay, 1997 dalam Vonshak, 2002) meningkatkan kandungan potein pakan yang digunakan sehingga petumbuhan induk ikan lele pada percobaan ini menjadi lebih baik. Namun, kinerja pertumbuhan induk ikan mulai mengalami penurunan pada perlakuan Spirulina sp. 2% dua minggu. Hal ini terjadi karena fungsi spirulina selain sumber protein, Spirulina sp. juga mengandung vitamin E berperan penting dalam meningkatkan penyerapan nutrisi pakan, sehingga pada saat Spirulina sp. diberikan berlebih akan menyebabkan kelebihan protein, sedangkan kemampuan ikan dalam menyerap protein sangat terbatas yaitu sekitar 34% - 55 %, sehingga kelebihan protein tersebut harus dibuang dalam bentuk amonia. Ekskresi amonia memerlukan energi yang cukup besar yaitu berkisar 7% - 28% dari energi yang dapat dicerna, kebutuhan energi ini diambil dari energi yang diperoleh dari metabolisme pakan, sehingga berdampak pada berkurangnya proporsi energi yang tersimpan untuk pertumbuhan sehingga kinerja pertumbuhan ikan mengalami penurunan. Tingkat ekskresi amonia dipengaruhi oleh laju pemberian pakan (feeding rate), kandungan protein, dan komposisi asam amino pada level asam amino esensial dan asam amino non esensial (Affandi dan Tang, 2002). Selain itu penurunan pertumbuhan akibat pemberian tepung Spirulina sp. 2% selama 2 minggu juga dapat terjadi akibat perningkatan akumulasi asam lemak dalam tubuh ikan sehingga ikan menjadi kelebihan asam lemak dan mengakibatkan perubahan 10

rasio jumlah asam lemak dalam tubuh ikan. Menurut Mokoginta (1986) rasio jumlah asam lemak linoleat dan asam linolenat yang memberikan laju pertumbuhan maksimum adalah 1,53-1,56% dan 0,6-0,73%. Jika rasio kedua asam lemak tersebut lebih besar atau lebih kecil akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan. Selain berpengaruh terhadap pertumbuhan, berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa percobaan ini juga memberikan dampak positif terhadap rematurasi ikan yang ditandai dengan besarnya tingkat kebuntingan yang terjadi penggunaan Spirulina sp. sebanyak 2% pada percobaan ini dimana induk ikan lele mengalami kebuntingan rata-rata 62,22%. Kebuntingan pada percobaan ini ditandai dengan adanya butiran - butiran telur dalam perut induk yang diketahui melalui kanulasi yang dilakukan setiap kali akan dilakukan penyuntikan hormon pada tiap minggunya. Kebutingan terjadi pada minggu ke-2 hingga minggu ke-3 pemeliharaan. Kebuntingan dapat terjadi karena kandungan asam lemak yang terdapat pada ekstrak Spirulina sp. cukup tinggi yaitu 8-10 g/kg Spirulina sp. kering. Pemberian ekstrak Spirulina sp. akan menyebabkan peningkatan akumulasi asam lemak tak jenuh dalam tubuh ikan yang pada akhirnya akan menyebabkkan kelebihan. Kelebihan ini akan diubah menjadi prostaglandin (Wathes et al., 2007). Prostaglandin merupakan bahan penting dalam steroidogenesis. Pada proses steroidogenesis akan menghasilkan hormon estradiol-17ß yang merupakan prekursor terjadinya proses vitelogenesis. Vitelogenesis merupakan proses sintesis kuning telur yang terjadi di hati dengan rangsangan hormon estradiol-17ß. Selain itu, keberadaan asam lemak juga sangat penting karena mempengaruhi daya tetas dan kondisi larva. Kebuntingan ikan selain terjadi akibat pemberian ekstrak Spirulina sp., juga terjadi akibat penyuntikan hormon GtTH. GtH merupakan salah satu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary pada bagian rostral pars distalis dan proksimal pars distalis (Bernier et al., 2009). Secara alami GtH hanya akan diseksresikan bila terdapat sinyal lingkungan yang dibutuhkan. Sinyal ingkungan yang mempengaruhi reproduski ikan terutama pembentukan telur antara lain hujan, petrichor, perubahan ketinggian air akibat pasang surut, maupun perubahan lama 11

periode penyinaran (Woynarovich dan Horvath, 1980). Sinyal lingkungan yang dibutuhkan untuk perkembangan telur tidak selalu ada sepanjang tahun. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan musim. Akibatnya pembentukan telur tidak dapat terjadi sepanjang tahun, dengan kata lain masa rematurasi ikan secara alami akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Penyuntikan hormon GtH berfungsi sebagai perangsang terjadinya proses vitelogenesis dan pematangan akhir gonad ikan lele saat sinyal lingkungan tidak ada atau kondisi lingkungan yang buruk. Sehingga rematurasi ikan lele dapat tetap terjadi, bahkan lebih cepat. Ikan lele mengalami masa rematurasi setelah 2 3 bulan pasca pemijahan. Sehingga secara alami ikan lele akan melakukan pemijahan 4 6 kali dalam setahun. Setelah pemberian hormon GtH pada penelitian ini rematurasi ikan lele terjadi dalam waktu sebulan pemeliharaan, dengan demikian pemijahan dapat terjadi hingga 12 kali dalam setahun. Pemberian hormon GtH dan Spirulina sp. 2% pada percobaan ini berfungsi untuk memperpendek masa rematurasi ikan lele. Hasil percobaan menunjukkan bahwa mulai minggu ke-2 dan ke-3 ikan mulai mengalami kebuntingan (ikan-ikan yang diberi perlakuan hormon GtH 5 IU dan 10 IU serta Spirulina sp. 2%) dan mengalami kematangan gonad pada minggu ke-4 (hanya pada ikan - ikan yang diberi perlakuan hormon GtH 5 IU dan 10 IU). Pemberian hormon ini memberikan pengaruh pematangan telur lebih awal ini karena pemberian hormon GtH akan meningkatkankan akumulasi jumlah GtH yang ada dalam tubuh ikan sehingga gonad ikan terrangsang untuk melakukan proses pembentukan telur yang lebih cepat meskipun kondisi lingkungan tidak memungkinkan. Terutama saat mendekati musim kemarau pada bulan Juni hingga Agustus. Setelah telur terbentuk maka dilanjutkan ke tingkat pematangan akhir, karena selain mengandung FSH, GtH yang diberikan juga mengandung LH. Berdasarkan Tabel 3, penggunaan Spirulina sp. 2% satu minggu dan hormon 5 IU menunjukkan kinerja produksi benih yang terbaik dibanding perlakuan lainnya. Hal ini dapat terjadi karena keseimbangan antara nutrisi dan kebutuhan hormonnya sangat baik jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian Spirulina sp. 2% selama dua minggu dan hormon 10 IU menunjukkan produksi telur yang cukup besar, namun tingkat pembuahannya sangat rendah. 12

Hal ini dapat terjadi karena pemberian spirulina selama dua minggu akan meningkatkan akumulasi kalsium pada telur. Keberadaan kalsium menyebabkan dinding sel telur lebih tebal dan diduga menyebabkan lubang mikrofil telur lebih cepat tertutup saat telur terkena air sehingga tingkat pembuahannya menjadi rendah. Selain itu rendahnya tingkat pembuahan pada ikan tersebut dapat juga disebabkan oleh ketidak siapan induk jantan. Hal ini terjadi karena pada saat pemijahan dilakukan tingkat kematangan induk ikan lele jantan tidak seragam karena pengaruh musim kemarau dan pemijahan dilakukan secara semi alami. Sehingga keberhasilan pemijahan tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan penelitian ini pemijahan ikan lele dapat ditingkatkan dari 4 hingga 6 kali per tahun menjadi 12 kali per tahun. Harga induk matang gonad sekitar Rp. 20.000,-/ ekor, dengan asumsi induk memijah 12 kali dalam setahun, 60% induk matang gonad. Penyuntikan hormon GtH dan penambahan tepung Spirulina sp. 2% pada pakan menyebabkan induk dapat memijah 12 kali dalam setahun dengan biaya Rp. 39.410,- untuk setiap kali pemijahan per kg induk ikan lele (Lampiran 8). Secara umum terlihat bahwa tidak terjadi peningkatan fekunditas telur dalam percobaan ini karena jumlah telur yang dihasilkan dalam percobaan ini tidak berbeda dengan jumlah telur ikan lele sangkuriang pada umumnya yaitu berkisar antara 40.000 60.000 butir/ kg induk (Sunarma, 2004). Demikian juga dengan HR dan SR larva, tidak jauh berbeda dengan baku mutu ikan lele sangkuriang, sehingga percobaan ini memberikan kontribusi yang cukup baik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan induk dalam mencapai target produksi yang diharapkan. 13