X. ANALISIS KEBIJAKAN

dokumen-dokumen yang mirip
VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MANAGEMENT OF THE NATURAL RESOURCES OF SMALL ISLAND AROUND MALUKU PROVINCE

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia (Silvus et al, 1987; Primack et al,

REVITALISASI KEHUTANAN

I. PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan yang terdapat di daerah pantai dan

I. PENDAHULUAN. 16,9 juta ha hutan mangrove yang ada di dunia, sekitar 27 % berada di Indonesia

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang penting bagi kehidupan di

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program

Pelayanan Terbaik Menuju Hutan Lestari untuk Kemakmuran Rakyat.

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.36/MENHUT-II/2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

REPETA DEPARTEMEN KEHUTANAN TAHUN 2004

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEDOMAN UMUM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI KEHUTANAN BAB I PENDAHULUAN

10. Pemberian bimbingan teknis pelaksanaan eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut di wilayah laut kewenangan daerah.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam

METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Data yang Dikumpulkan

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ALOR TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN HIDUP KAWASAN PESISIR DAN LAUT DI KABUPATEN ALOR

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

Gambar 1. Kedudukan RD Pembangunan DPP, KSPP, KPPP dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan RIPPARNAS RIPPARPROV

CC. URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN III

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

METODE PENELITIAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa

2012, No.62 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang K

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 2

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Studi Kelayakan Pengembangan Wisata Kolong Eks Tambang Kabupaten Belitung TA LATAR BELAKANG

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 14/MEN/2009 TENTANG MITRA BAHARI

PERATURAN DAERAH PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR 2007

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

I. PENDAHULUAN. Tingginya laju kerusakan hutan tropis yang memicu persoalan-persoalan

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB II PERENCANAAN STRATEGIS

PENDAHULUAN BAB I Latar Belakang

a. Pelaksanaan dan koordinasi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dalam wilayah kewenangan kabupaten.

Untuk peningkatan taraf hidup masyarakat wilayah pesisir, maka harus dilakukan pembangunan. Namun, pembangunan tersebut harus juga

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. dalam penggunaan sumberdaya alam. Salah satu sumberdaya alam yang tidak terlepas

dan (3) pemanfaatan berkelanjutan. Keharmonisan spasial mensyaratkan bahwa dalam suatu wilayah pembangunan, hendaknya tidak seluruhnya diperuntukkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 69 /KPTS/013/2013 TENTANG

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Provinsi Jambi memiliki sumberdaya perikanan yang beragam dengan jumlah

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

X. ANALISIS KEBIJAKAN 10.1 Alternatif Kebijakan Tahapan analisis kebijakan pada sub bab ini merupakan metode pengkajian untuk menghasilkan dan mentransformasikan flow of thinking dari serangkaian analisis yang telah dilakukan guna memperoleh kesimpulan yang komprehensif. Pada tahapan ini akan dikaji pemilihan sektor prioritas yang potensial untuk pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Bentuk diagram hierarki ditampilkan pada Gambar 31 dan hasil analisis pada Gambar 32. Gambar 31. Diagram hierarki prioritas pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan Gambar 31 menunjukkan penyusunan hierarki pengambilan keputusan AHP dengan aktor adalah pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat pesisir, faktor keberlanjutan yang akan dipertimbangkan adalah ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan perundang-undangan. Alternatif kebijakan terdiri dari rehabilitasi dan pemeliharaan, konservasi, pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia, pemberdayaan masyarakat serta pengembangan riset, iptek dan sistem informasi.

102 Gambar 32. Hasil penilaian AHP prioritas kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove Hasil olahan data berdasarkan AHP dengan sofware Expert Choice menggambarkan beberapa alternatif kebijakan disusun dengan mempertimbangkan kondisi wilayah Pabean Udik, yaitu kondisi potensi dan permasalahan ekosistem mangrove. Berdasarkan Gambar 32 menunjukkan prioritas utama kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yaitu pemberdayaan masyarakat dengan skor 0,340. Alternatif kebijakan ini dipilih karena pemberdayaan masyarakat sangat dibutuhkan agar masyarakat bisa memiliki keterampilan, seperti pengembangan usaha sirop mangrove yang sudah ada saat ini dan pengembangan wisata mangrove di Desa Pabean Udik. Alternatif prioritas kebijakan berikutnya yaitu konservasi dengan skor 0,215 yakni ekosistem mangrove masih bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dengan mekanisme pemanfaatan mangrove yang tidak merusak mangrove, contoh program adalah ekowisata berbasis masyarakat dan silvofishery. Prioritas kebijakan ke tiga adalah pendidikan dan pelatihan SDM dengan skor 0,179. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hasil perikanan dan nilai tambah dari ekosistem mangrove, menuntut adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan pendidikan dan pelatihan bagi nelayan dan masyarakat pesisir lainnya. Prioritas alternatif kebijakan selanjutnya adalah pengembangan riset, iptek dan sistem informasi dengan skor 0,156. Tujuan dari alternatif kebijakan ini adalah untuk memperkuat pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Selanjutnya prioritas alternatif kebijakan adalah rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem mangrove dengan

103 skor 0,110. Hasil analisis prioritas kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang diperoleh melalui teknik AHP ini dijadikan pertimbangan dalam menyusun kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. 10.2 Implikasi Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang Berkelanjutan Tujuan akhir yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan di Desa Pabean Udik. Berdasarkan tujuan tersebut serangkaian analisis dengan berbagai metode sudah selesai dilakukan. Landasan strategi untuk memperoleh rumusan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan adalah hasil dari serangkaian analisis yang telah dilakukan. Rumusan kebijakan yang dibangun harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti ekologi, ekonomi dan sosial. Rumusan arahan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan di Desa Pabean Udik adalah: a. Kebijakan rehabilitasi, konservasi, dan pemeliharaan ekosistem mangrove Berdasarkan hasil analisis ekonomi keterkaitan ekosistem mangrove dengan produksi udang diketahui bahwa hubungan perubahan luas mangrove terhadap produksi udang adalah linear positive artinya jika terjadi perubahan luas mangrove yang positif (semakin bertambah), maka perubahan hasil produksi udang juga bernilai positif (meningkat) dan sebaliknya. Nilai ekonomi ekosistem mangrove sebesar sebesar Rp. 2.288.338.191,00. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ekosistem mangrove harus tetap dipertahankan keberadaannya agar fungsi ekologi, ekonomi, sosial dan nilai jasa lingkungannya dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Oleh karena itu, penting dilakukan kebijakan rehabilitasi, konservasi, dan pemeliharaan ekosistem mangrove. b. Kebijakan pengaturan jumlah effort Kebijakan pemerintah dalam mengatur jumlah effort yang diperkenankan tetap menjadi alternatif yang penting sebab berdasarkan analisis ekonomi keterkaitan bahwa diasumsikan rezim pengelolaan sumberdaya udang adalah open access. Rezim pengelolaan open access tanpa adanya regulasi yang kuat membahayakan keberlanjutan sumberdaya udang. Pengaturan jumlah effort menjadi solusi dalam rangka mencapai keberlanjutan sumberdaya udang dan adanya pengaturan jumlah effort sampai kondisi lestari dengan menerapkan rezim pengelolaan MEY atau sole Owner.

104 c. Kebijakan pengembangan sumberdaya manusia di wilayah pesisir Sumberdaya manusia wilayah pesisir merupakan faktor kunci dalam usaha pengembangan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Hasil analisis AHP mengungkapkan bahwa salah satu prioritas alternatif kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan adalah pendidikan dan pelatihan SDM di Desa Pabean Udik. Keterbatasan dalam pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal dalam meningkatkan kualitas hasil perikanan baik produksi penangkapan maupun nilai tambah yang dihasilkan menuntut adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan adalah dalam bentuk pendidikan informal dan penyuluhan dari berbagai instansi seperti pemerintah, perguruan tinggi dan LSM. Dalam rangka mengembangkan sumberdaya manusia di wilayah pesisir, pemerintah perlu mempertimbangkan aspek karakteristik masyarakat (kearifan lokal) dan kondisi wilayah. d. Kebijakan pengembangan pemberdayaan masyarakat Berdasarkan analisis AHP menunjukkan bahwa prioritas utama dalam pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan adalah pemberdayaan masyarakat. Kebijakan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu solusi agar penyerapan tenaga kerja pada analisis dinamik mengalami peningkatan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan di Desa Pabean Udik adalah pengembangan usaha wisata mangrove dan sirop mangrove. Pengembangan usaha wisata mangrove dan sirop mangrove serta aktivitas ekonomi lainnya diharapkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Desa Pabean Udik sekaligus menjaga kelestarian ekosistem mangrove. e. Kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove secara terpadu Pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mangrove juga harus mengutamakan aspek keterpaduan, yaitu keterpaduan ekologi, sektoral, bidang ilmu, stakeholder dan keterpaduan geografis. Kebijakan pemerintah dalam rangka mencapai pengelolaan ekosistem mangrove yang terpadu perlu mengimplementasikan Peraturan Presiden No. 73 tahun 2012 tentang strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove. Arah kebijakan strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove ditetapkan sebagai berikut:

105 a. Pengendalian pemanfaatan dan konversi ekosistem mangrove dengan prinsip kelestarian b. Peningkatan fungsi ekosistem mangrove dalam perlindungan keanekaragaman hayati, perlindungan garis pantai dan sumberdaya pesisir serta peningkatan produk yang dihasilkan sebagai sumber pendapatan bagi negara dan masyarakat. c. Pengelolaan ekosistem mangrove sebagai bagian integral dari pengelolaan wilayah pesisir terpadu dan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) terpadu. d. Komitmen politik dan dukungan kuat pemerintah, pemerintah daerah, dan para pihak. e. Koordinasi dan kerjasama antar instansi dan para pihak terkait secara vertikal dan horizontal untuk menjamin terlaksananya kebijakan strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove. f. Pengelolaan ekosistem mangrove berbasis masyarakat untuk meningkatkan dan melestarikan nilai penting ekologis, ekonomi dan sosial budaya, guna meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. g. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam melaksanakan kewenangan dan kewajiban pengelolaan ekosistem mangrove sesuai dengan kondisi dan aspirasi lokal. h. Pengembangan riset, iptek dan sistem informasi yang diperlukan untuk memperkuat pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. i. Pengelolaan ekosistem mangrove melalui pola kemitraan antara pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat dengan dukungan lembaga dan masyarakat internasional, sebagai bagian dari upaya mewujudkan komitmen lingkungan global. Arah kebijakan strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove tersebut sebagian sudah diterapkan di Desa Pabean Udik. Pengendalian pemanfaatan dan konversi ekosistem mangrove dengan prinsip kelestarian sudah dilakukan oleh Kelompok Tani Jaka Kencana dengan melarang masyarakat menebang mangrove dan mengkonversi lahan ekosistem mangrove menjadi tambak udang dan bandeng serta menerapkan hukuman bagi yang melanggar peraturan yang sudah disepakati. Pengelolaan ekosistem

106 mangrove berbasis masyarakat untuk meningkatkan dan melestarikan nilai penting ekologis, ekonomi dan sosial budaya, akan berdampak pada kelestarian ekosistem mangrove. Pengelolaan tersebut harus berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan diantaranya adalah membuat sirop dan makanan dari ekosistem mangrove serta membuka usaha wisata mangrove yang akan memberikan alternatif pekerjaan bagi masyarakat Desa Pabean Udik. Arah kebijakan tersebut belum terlaksana semuanya dengan baik karena belum ada koordinasi dan kerjasama antar instansi dan para pihak terkait secara vertikal dan horizontal untuk menjamin terlaksananya kebijakan strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.