Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

dokumen-dokumen yang mirip
Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

PERCOBAAN 1 KURVA TRANSFER KARAKTERISTIK JFET

Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

MODUL 04 TRANSISTOR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018

BAHAN AJAR MATA KULIAH ELEKTRONIKA ANALOG DISUSUN OLEH : ALFITH, S.Pd, M.Pd

Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Studi Tentang Penguat Cascade Dua Tingkat Menggunakan JFET

JFET. Transistor Efek Medan Persambungan

Percobaan 4 (versi A) Karakteristik dan Penguat FET Revisi 24 Maret 2014

Penguat Emiter Sekutu

SATUAN ACARA PERKULIAHAN TEKNIK ELEKTRO ( IB ) MATA KULIAH / SEMESTER : ELEKTRONIKA ANALOG* / 6 KODE / SKS / SIFAT : IT41351 / 3 SKS / UTAMA

KEGIATAN BELAJAR 3 B. DASAR TEORI 1. MOSFET

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ELEKTRONIKA ANALOG* (Ujian Utama) KODE MK / SKS : KK / 3

Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA

- 1 - FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PRAKTIK ELEKTRONIKA ANALOG I

Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Review Hasil Percobaan 1-2

TRANSISTOR 1. TK2092 Elektronika Dasar Semester Ganjil 2012/2013. Hanya dipergunakan untuk kepentingan pengajaran di lingkungan Politeknik Telkom

BAHAN AJAR ELEKTRONIKA ANALOG. ALFITH, S.Pd, M.Pd MATA KULIAH DISUSUN OLEH :

Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.

MODUL II MERANCANG PENGUAT COMMON EMITTER SATU TINGKAT

Solusi Ujian 1 EL2005 Elektronika. Sabtu, 15 Maret 2014

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA)

MODUL 05 TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT

BAB IX. FET (Transistor Efek Medan) dan UJT (Uni Junction Transistor)

MODUL PRAKTEK RANGKAIAN ELEKTRONIKA

PNPN DEVICES. Pertemuan Ke-15. OLEH : ALFITH, S.Pd, M.Pd

PERCOBAAN 2 JFET SELF BIAS

Modul Elektronika 2017

Transistor Efek Medan - Field Effect Transistor (FET)

FORMULIR RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

TRANSISTOR EFEK-MEDAN (FIELD-EFFECT TRANSISTOR)

PENGUAT EMITOR BERSAMA (COMMON EMITTER AMPLIFIER) ( Oleh : Sumarna, Lab-Elins Jurdik Fisika FMIPA UNY )

PERCOBAAN IV TRANSISTOR SEBAGAI SWITCH

Herlambang Sigit Pramono Staf Pengajar Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Catatan Tambahan: Analisis Penguat CE, CB, dan CC dengan resistansi Internal transistor yang tidak bisa diabaikan (nilai r o finite)

( s p 1 )( s p 2 )... s p n ( )

Penguat Kelas B Komplementer Tanpa Trafo Keluaran

MODUL 06 PENGUAT DAYA PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018

I. Penguat Emittor Ditanahkan. II. Tujuan

1 DC SWITCH 1.1 TUJUAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH / KODE : ELEKTRONIKA ANALOG / IT SEMESTER / SKS : VI / 2

Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA

Bias dalam Transistor BJT

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

ELEKTRONIKA ANALOG [ EAN T]

MODUL 04 PENGENALAN TRANSISTOR SEBAGAI SWITCH

Bagian 4 Pemodelan Dioda

Penguat Inverting dan Non Inverting

Tujuan 1. Memahami penggunaan teorema Thevenin dan teorema Norton pada rangkaian arus searah 2. Memahami Teorema Superposisi p 3. Memahami Teorema Res

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL I RANGKAIAN SERI-PARALEL RESISTOR

Elektronika Daya ALMTDRS 2014

PERTEMUAN 1 ANALISI AC PADA TRANSISTOR

Rangkaian Penguat Transistor

Materi 3: Teori Dioda

RANGKAIAN THEVENIN DAN NORTON

RANGKAIAN SERI-PARALEL

Teknik-Teknik Analisis Rangkaian Rangkaian Listrik 1 (TKE131205) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

Laporan Praktikum Elektronika Fisika Dasar II PENGUAT UMPAN BALIK

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Materi 5: Bipolar Junction Transistor (BJT)

PERCOBAAN 3 RANGKAIAN PENGUAT COMMON SOURCE

Materi 4: Rangkaian Dioda

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM ELKA ANALOG

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

BAB III METODE PENELITIAN

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

B a b. Pembiasan BJT. = β..(4.3)

Modul 05: Transistor

TK 2092 ELEKTRONIKA DASAR

INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING)

hubungan frekuensi sumber tegangan persegi dengan konstanta waktu ( RC )?

Transistor Bipolar. oleh aswan hamonangan

PERANCANGAN IC CMOS LOW PASS FILTER SALLEN-KEY ORDE 2 DENGAN MICROWIND

KENDALI FASA THYRISTOR DAN TRIAC TANPA TEGANGAN EKSTERNAL UNTUK PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA. Oleh: Drs. S u n o m o, M.T.

ANALISIS SISTEM KONTROL MOTOR DC SEBAGAI FUNGSI DAYA DAN TEGANGAN TERHADAP KALOR

Transistor Bipolar BJT Bipolar Junction Transistor

[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A] BAB I PENDAHULUAN

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

PENGUAT TRANSISTOR. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

KAJIAN DISTORSI INTERMODULASI PADA PENGUAT DAYA RF LDMOS

Modul 4. Asisten : Catra Novendia Utama ( ) : M. Mufti Muflihun ( )

Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani.

Transistor Bipolar. III.1 Arus bias

OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Oleh : Sri Supatmi

BAB III RANGKAIAN PEMICU DAN KOMUTASI

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA

Gambar 7. 6 Rangkaian Percibaan Penguatan Tak-Membalik

Materi 6: Transistor Fundamental

Transkripsi:

Elektronika Analog Herman Dwi Surjono, Ph.D.

Elektronika Analog Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2008 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif Perancang Sampul : Dhega Febiharsa Tata Letak : Dhega Febiharsa Diterbitkan Oleh: Penerbit Cerdas Ulet Kreatif Jl. Manggis 72 RT 03 RW 04 Jember Lor Patrang Jember - Jawa Timur 68118 Telp. 0331-422327 Faks. 0331422327 Katalog Dalam Terbitan (KDT) Herman Dwi Surjono, Elektronika Analog/Herman Dwi Surjono, Penyunting: Tim Cerdas Ulet Kreatif, 2008, 112 hlm; 14,8 x 21 cm. ISBN 978-602-98174-1-6 1. Hukum Administrasi I. Judul II. Tim Cerdas Ulet Kreatif 112 Distributor: Penerbit CERDAS ULET KREATIF Website : www.cerdas.co.id - email : buku@cerdas.co.id Cetakan Kedua, 2011 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Ketentuan Pidana Pasal 72 (ayat 2) 1. Barang Siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). ii

Kata Pengantar Buku ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengetahui elektronika baik secara teori, konsep dan penerapannya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif dan mendalam mulai dari pemahaman konsep dasar hingga ke taraf kemampuan untuk menganalisis dan mendesain rangkaian elektronika. Penggunaan matematika tingkat tinggi diusahakan seminimal mungkin, sehingga buku ini bias digunakan oleh berbagai kalangan. Pembaca dapat beraktivitas dengan mudah karena didukung banyak contoh soal dalam hamper setiap pokok bahasan serta latihan soal pada setiap akhir bab. Beberapa rangkaian penguat sedapat mungkin diambilkan dari pengalaman praktikum. Sebagai pengetahuan awal, pemakai buku ini harus memahami teori dasar rangkaian DC dan matematika dasar. Teori Thevenin, Norton, dan Superposisi juga digunakan dalam beberapa pokok bahasan. Di samping itu penguasaan penerapan hukum Ohm dan Kirchhoff merupakan syarat mutlak terutama pada bagian analisis dan perancangan. Bab 1 membahas JFET, D-MOSFET dan E-MOSFET. Pembahasan dimulai dari konstruksi, prinsip kerja, karakteristik transfer dan output untuk ketiga keluarga FET tersebut. Bab 2 membahas beberapa metode pemberian bias FET. Bias yang sering dipakai dalam rangkaian FET diantaranya adalah bias tetap, bias sendiri, dan bias pembagi tegangan. iii

Bab 3 membahas analisis penguat FET dalam tiga macam konfigurasi, yakni CS, CG dan pengikut Source. Namun di awal bab akan dijelaskan terlebih dahulu model siyal kecil FET. Akhirnya bab 4 membahas penguat daya yakni penguat kelas A, penguat push-pull dan komplementer. Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja. Saran-saran dari pembaca sangat diharapkan. Yogyakarta, Desember 2008 Penulis, Herman Dwi Surjono, Ph.D. Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika, FT- UNY iv

Daftar Isi KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1. TRANSISTOR EFEK MEDAN 1.1. Pendahuluan 1.2. Konstruksi dan Karakteristik JFET 1.3. Karakteristik Transfer JFET 1.4. Konstruksi dan Karakteristik D-MOSFET 1.5. Konstruksi dan Karakteristik E-MOSFET 1.6. Ringkasan 1.7. Soal Latihan 2. BIAS DC FET 2.1. Pendahuluan 2.2. Bias Tetap 2.3. Bias Sendiri (Self Bias) 2.4. Bias Pembagi Tegangan 2.5. Ringkasan 2.6. Soal Latihan 3. PENGUAT FET 3.1. Pendahuluan 3.2. Model Kecil FET 3.3. Analisis Penguat CS 3.4. Penguat CS dengan RS 3.5. Rangkaian Pengikut Source 3.6. Penguat Gate Bersama (CG) 3.7. Ringkasan 3.8. Soal Latihan 4. PENGUAT DAYA 4.1. Pendahuluan 4.2. Kelas Penguat 4.3. Penguat Daya Kelas A Beban Resistor 4.4. Penguat Daya Kelas A Beban Trafo 4.5. Penguat Daya Push Pull Kelas B 4.6. Penguat Daya Komplementer 4.7. Ringkasan 4.8. Soal Latihan LAMPIRAN A LAMPIRAN B INDEKS iii v 1 1 2 7 9 13 18 19 21 21 21 25 32 38 39 43 43 43 49 53 61 65 68 69 73 73 73 76 83 86 93 96 97 101 102 103 v

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Analog vi

Bab 3 Penguat FET 3.1 Pendahuluan Rangkaian penguat dengan menggunakan FET, seperti juga transistor bipolar, selalu diberikan tegangan bias agar dapat bekerja sebagai penguat. Tegangan bias untuk FET dapat diberikan dengan berbagai cara. Diantara yang paling banyak digunakan untuk rangkaian penguat FET adalah self-bias. Pemberian tegangan bias yang tepat akan menjamin FET dapat bekerja pada daerah yang aktif. Beberapa metode pemberian bias termasuk menentukan titik kerja FET akan dibahas pada bab ini. Kemudian dilanjutkan dengan analisis rangkaian penguat FET guna menentukan beberapa parameter penguat seperti penguatan tegangan (Av), penguatan arus (Ai) dan sebagainya. Disamping analisis rangkaian, juga dikenalkan metode perancangan suatu penguat dengan FET. 3.2 Model sinyal kecil FET FET dapat digunakan sebagai penguat sinyal kecil dengan impedansi input yang sangat tinggi. Untuk melalukan analisis ac pada rangkaian penguat FET diperlukan rangkaian ekivalen atau modelnya. Dengan analisis ini dapat diperoleh beberapa parameter penguat seperti: Av, Ai, Zi, dan Zo. Rangkaian ekivalen ac (model ac) suatu JFET adalah seperti pada gambar 3.1.

Herman Dwi Surjono, Ph.D. D G vgs gm vgs rds vgs S Gambar 3.1 Rangkaian ekivalen ac JFET Pada rangkaian ekivalen ac JFET terlihat bahwa bagian input merupakan rangkaian terbuka yang menunjukkan bahwa input JFET mempunyai impendasi yang sangat tinggi. Bagian output JFET terdiri atas sumber arus yang tergantung pada nilai gm dan vgs dan diparalel dengan rds. Parameter FET yang penting adalah transkonduktansi atau g m. Parameter g m merupakan perbandingan antara perbahan arus ID dan perubahan tegangan VGS disekitar titik kerja dengan VDS konstan. Nilai g m dapat diperoleh dari kurva transfer, sehingga kurva transfer ini sering juga disebut dengan kurva transkonduktansi. I D I DSS V GS I D = I DSS (1 - ) 2 Vp Q I D V p V GS V GS Gambar 3.2 Kurva transfer untuk menentukan transkonduktansi 44

Bab 3. Penguat FET I D gm = V GS VDS = konstan Harga g m tergantung dari posisi titik kerja Q, karena kurva transkonduktansi tidak linier. Harga g m terkecil diperoleh apabila VGS = Vp atau pada saat JFET cut-off. Sedangkan harga g m terbesar diperoleh saat VGS = 0, yakni pada saat arus ID sama dengan IDSS. Harga g m pada saat VGS = 0 ini disebut dengan g m0. Secara matematis harga g m dapat diperoleh dengan menurunkan persamaan transfer atau persamaan Shockley: V GS I D = I DSS (1 - ) 2 sehingga didapatkan: Vp 2 I DSS V GS gm = ( 1 - ) Vp Vp V GS gm = gm0 (1 - ) Vp...(3.1) atau gm = gm0 I D I DSS...(3.2) dimana: 2I DSS gm0 = Vp...(3.3) 45

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Persamaan 3.1, 3.2 dan 3.3 berlaku untuk JFET dan D-MOSFET baik kanal P maupun kanal N. Sedangkan untuk E-MOSFET karena persamaan transfernya berbeda dengan kedua keluarga FET tersebut, maka harga gmnya juga berbeda. Harga gm untuk E-MOSFET diturunkan dari persamaan transfernya (persamaan 1.2): ID = k(v GS - VT) 2 sehingga didapatkan: gm = 2 k I D...(3.4) dimana: ID (on) k = (VGS (on) - VT) 2 Persamaan 3.4 tersebut berlaku untuk E-MOSFET baik untuk kanal N maupun kanal P. Dari rangkaian ekivalen ac JFET gambar 3.1, selain parameter gm yang merupakan parameter penting lainnya adalah parameter rds. Parameter rds merupakan resistansi output FET yang nilai tipikalnya berkisar antara 40 KΩ hingga 100 KΩ, sehingga dalam berbagai analisis praktek parameter ini sering diabaikan. Apabila parameter rds diabaikan, maka resistor tersebut dianggap terbuka atau tak terhingga. IDSS I D VGS = 0 VGS = - 1 V DS I D VGS = - 2 VGS = - 3 0 Vp VGS = - 4 VDS Gambar 3.3 Kurva karakteristik JFET untuk menentukan parameter rds 46

Bab 3. Penguat FET Parameter rds dapat diperoleh dari kurva karakteristik output suatu FET. Gambar 3.3 menunjukkan cara mendapatkan parameter rds dari kurva output FET. V DS rds = I D VGS = konstan Untuk memperoleh harga rds yang akurat secara grafis, diperlukan kurva output JFET dengan skala yang teliti. Sulitnya mendapatkan parameter rds secara grafis karena kurva output terlihat mendatar. Akan tetapi pada umumnya harga rds sudah diketahui dari buku data yang dikeluarkan pabrik. Pabrik umumnya mengeluarkan spesifikasi parameter rds dalam istilah y os. Parameter y os ini disebut dengan admitansi output yaitu kebalikan dari resistansi output. 1 rds = yos...(3.5) dimana: rds dalam satuan Ohm (Ω) yos dalam satuan Siemens (S) Contoh 3.4 Hitunglah harga g m untuk JFET yang mempunyai data IDSS = 8 ma dan Vp = - 4 Volt pada titik kerja VGSQ =: (a) - 0.5 Volt (b) - 1.5 Volt (c) - 2.5 Volt Penyelesaian: Menentukan g m pada saat VGS = 0 yaitu g m0 dengan persamaan 3.3: 2I DSS 2(8mA) gm0 = = = 4 ms Vp -4 47

Herman Dwi Surjono, Ph.D. (a) pada VGSQ = - 0,5 Volt: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 0.5 gm = 4mS (1 - ) = 3,5 ms - 4 (b) pada VGSQ = - 1,5 Volt: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 1.5 gm = 4mS (1 - ) = 2,5 ms - 4 (c) pada VGSQ = - 2,5 Volt: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 2.5 gm = 4mS (1 - ) = 1,5 ms - 4 Harga g m terbesar diperoleh pada saat VGS = 0, kemudian apabila VGS dibuat semakin negatip maka harga g m semakin kecil. 48

Bab 3. Penguat FET 3.3 Analisis Penguat CS Seperti halnya pada penguat transistor bipolar, penguat FET juga dapat dirangkai dalam beberapa konfigurasi. Konfigurasi penguat JFET dengan source sebagai terminal bersama disebut dengan penguat Common Source (CS). Rangkaian penguat CS dapat dilihat pada gambar 3.4. Untuk menganalisa parameter penguat seperti Av, Zi, dan Zo, rangkaian penguat tersebut perlu diubah menjadi rangkaian ekivalen ac. rangkaian ekivalen ac dari gambar 3.4. Gambar 3.4a merupakan V DD input C 1 R D C 2 output R G R S C S Gambar 3.4 Rangkaian penguat CS Vi Vo RG vgs gm vgs rds RD Gambar 3.4a Rangkaian ekivalen ac penguat CS Pembuatan rangkaian ekivalen ac tersebut didasarkan atas asumsi bahwa pada kondisi ac semua kapasitor termasuk kapasitor kopling (C1 dan C2) dan by-pass (CS) dianggap 49

Herman Dwi Surjono, Ph.D. hubung singkat. Dengan demikian RS seolah-olah tidak ada karena telah dihubung singkat oleh CS. Pada rangkaian ekivalen ac terminal source langsung terhubung ke ground. Sumber tegangan VDD juga dianggap hubung singkat ke ground. Analisis pertama adalah menentukan penguatan tegangan (Av). Dengan menerapkan hukum Kirchhoff pada ikal output dapat diperoleh Av sebagai berikut: vo Av = vi (- gm v g s )( rds RD) Av = v g s Av = - gm(rds RD)...(3.6) Apabila harga rds diabaikan (atau tidak diketahui) yang disebabkan karena r ds >> RD, maka persamaan 3.6 tersebut menjadi: Av = - gmrd...(3.7) Tanda negatip pada kedua persamaan tersebut menunjukkan bahwa antara sinyal output dan input berbeda fasa 180 o atau berlawanan fasa. Impedansi input (Zi) dari rangkaian tersebut adalah: Zi = RG...(3.8) Sebenarnya impedansi rangkaian penguat tersebut (Zi) adalah paralel antara RG dengan impedansi input FET. Akan tetapi karena impedansi input FET sangat tinggi ( 10 9 Ω harga tipikal untuk JFET dan 10 12 hingga 10 15 Ω harga tipikal untuk MOSFET), maka praktis yang menentukan impedansi input rangkaian adalah RG. 50

Bab 3. Penguat FET Impedansi output (Zo) dari JFET adalah: Zo(FET) = rds Sedangkan impedansi input dari rangkaian adalah paralel antara rds dengan RD. Zo = rds RD...(3.9) Apabila harga rds diabaikan atau tidak diketahui, maka besarnya Zo tersebut hanya ditentukan oleh RD, yaitu: Zo = RD Contoh 3.5 Suatu rangkaian penguat CS seperti pada gambar 3.5 mempunyai data JFET sebagai berikut: yos = 40 µs, IDSS = 8 ma, dan VGS(off) = -4 Volt. Tentukanlah: (a) Titik kerja: VGSQ dan IDQ (b) Penguatan tegangan (Av) (c) Impedansi input (Zi) (d) Impedansi output(zo) 51

Herman Dwi Surjono, Ph.D. V CC = 9 V input C 1 R D =2,2K C 2 output R G =10M R S = 750 CS Gambar 3.5 Rangkaian penguat JFET untuk contoh 7.5 Penyelesaian: (a) Dengan menggunakan persamaan 3.5 dan 3.6 diperoleh titik kerja: VGSQ = - 1,8 Volt IDQ = 2,4 ma (b) Penguatan tegangan ditentukan dengan persamaan 3.6, namun perlu dicari dulu gm0, gm, dan rds dari data JFET yang ada. Menentukan gm0 dengan persamaan 3.3: 2I DSS 2(8mA) gm0 = = = 4 ms Vp -4 Menentukan gm dengan persamaan 3.1: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 1.8 gm = 4mS (1 - ) = 2,2 ms - 4 52

Bab 3. Penguat FET Menentukan rds dengan persamaan 3.5 1 1 rds = = = 25 KΩ yos 40 µs Menentukan Av dengan persamaan 3.6: Av = - gm(rds RD) = - (2,2m)(2,2K 25K) = - 4,45 (c) Impedansi input (Zi) Zi = RG = 10 MΩ (d) Impedansi output (Zo) Zo = rds RD = 2,2K 25K = 2.02 KΩ 3.4 Penguat CS dengan RS Rangkaian penguat Common-Source (CS) berarti bahwa kapasitor by-pass yang memparalel RS dilepas, sehingga terdapat turun tegangan ac pada resistor RS. Hal ini akan memperkecil penguatan tegangan (Av) rangkaian penguat tersebut. Rangkaian penguat CS dengan RS dapat dilihat pada gambar 3.6. Pada pembahasan penguat CS dengan RS ini terdapat perbedaan analisis antara rds diabaikan dan rds diperhitungkan. Tidak seperti pada penguat CS dengan C by-pass yang lalu yang hanya memparalel antara rds dengan RD. Oleh karena itu pembahasan pertama akan dilakukan dengan menganggap rds tidak ada atau rds diabaikan. Rangkaian ekivalen ac dari penguat CS dengan RS adalah seperti pada gambar 3.7. 53

Herman Dwi Surjono, Ph.D. V DD input C 1 R D C 2 output R G R S Gambar 3.6 Rangkaian penguat CS dengan RS Vi Vo RG vgs gm vgs RD S R S Gambar 3.7 Rangkaian ekivalen ac penguat CS dengan RS Pada rangkaian ekivalen ac tampak bahwa rds tidak ada, hal ini disebabkan karena rds diabaikan atau dianggap terbuka. Sedangkan RS terlihat terhubung antara S dan ground, hal ini disebabkan karena C by-pass (CS) yang memparalel RS telah dilepas. Dengan memperhatikan rangkaian ekivalen ac tersebut, maka penguatan tegangan (Av) dapat diperoleh sebagai berikut: vo Av = vi harga vi dapat diperoleh dari rangkaian ekivalen, yaitu: 54

Bab 3. Penguat FET vi = v g s + vs vi = v g s + (gm v g s )(RS) vi = v g s (1 + gm RS) Apabila harga vi ini dimasukkan ke persamaan Av, maka diperoleh: vo Av = vi (- gm v g s )( RD) Av = v g s (1 + gm RS) dengan meniadakan harga vgs pada pembilang dan penyebut, maka akhirnya diperoleh: gm RD Av = - 1 + gmrs...(3.10) Impedansi input (Zi) dan output (Zo) dari rangkaian penguat CS dengan RS ini sama seperti persamaan 3.8, yakni untuk penguat CS dengan CS (tanpa RS). Zi = RG Zo = RD 55

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Contoh 3.6 Diketahui rangkaian penguat CS seperti pada gambar 3.8, dimana data D-MOSFET yang digunakan adalah: IDSS = 10 ma, dan Vp = - 3.5 Volt. Tentukan penguatan tegangan (Av) rangkaian tersebut. V DD = 9 V input C 1 R D =1,5K C 2 output R G =10M R S = 750 Gambar 3.8 Rangkaian penguat CS dengan RS untuk contoh 3.6 Penyelesaian: Menentukan titik kerja VGSQ dan IDQ dengan persamaan 3.5 dan 3.6, diperoleh: VGSQ = - 1.8 Volt IDQ = 2.3 ma Menentukan gm0 dengan persamaan 3.3: 2I DSS 2(10mA) gm0 = = = 5,7 ms Vp -3.5 Menentukan gm dengan persamaan 3.1: 56

Bab 3. Penguat FET V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 1.8 gm = 5,7mS (1 - ) = 2,77 ms - 3,5 Menentukan Av dengan persamaan 3.10: gm RD (2,77m)(1,5K) Av = - = - = - 1,35 1 + gmrs 1+(2,77m)(0,75K) Pembahasan di atas didasarkan atas anggapan bahwa rds diabaikan karena nilainya relatif sangat besar dibanding RD maupun RS atau karena alasan datanya tidak diketahui. Namun untuk perhitungan yang lebih teliti, maka rds perlu dimasukkan dalam analisis. Pembahasan berikut ini dengan anggapan bahwa rds diketahui. Gambar 3.9 merupakan rangkaian ekivalen ac penguat CS dengan RS dimana harga rds diperhitungkan. Vi Vo RG vgs gm vgs rds RD S Irds R S Io Gambar 3.9 Rangkaian ekivalen ac penguat CS dengan RS Dari gambar rangkaian ekivalen tersebut dapat dilihat bahwa arus yang mengalir pada rds sesuai hukum Ohm adalah: Vo - Vs I rds = rds 57

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Arus yang mengalir melewati RS maupun RD disebut dengan arus Io, sehingga: Vo = - Io RD dan Vs = Io RS Dengan demikian Irds dapat dinyatakan: (- Io RD) - (Io RS) I rds = rds Arus Io sebenarnya merupakan jumlah arus dari sumber arus g m v gs dan arus dari Irds, yaitu: Io = gm vgs + Irds apabila harga arus Irds dimasukkan, maka diperoleh: (- Io RD) - (Io RS) Io = gm vgs + rds Io (RD + RS) Io = gm vgs - rds Dari rangkaian ekivalen diperoleh juga: Vi = Vgs + Vs Vi = Vgs + Io RS Vgs = Vi - Io RS harga vgs ini selanjutnya dimasukkan ke persamaan Io, yaitu: Io (RD + RS) Io = gm (Vi - Io RS) - rds 58

Bab 3. Penguat FET (RD + RS) Io = gm Vi - gm Io RS - Io rds (RD + RS) Io + gm Io RS + Io = gm Vi rds Io {1 + gm RS +(RD + RS)/rds} = gm Vi akhirnya diperoleh: gm Vi Io = 1 + gm RS +(RD + RS)/rds Dengan demikian Vo adalah: Vo = - Io RD gm Vi RD Vo = - 1 + gm RS +(RD + RS)/rds Oleh karena penguatan tegangan Av adalah: maka: Av = Vo/Vi gm RD Av = - 1 + gm RS +(RD + RS)/rds...(3.11) Persamaan 3.11 terlihat panjang karena adanya rds dalam pembahasan. Apabila dikembalikan ke depan yaitu bila dalam persamaan 3.11 tersebut harga rds dibuat tak terhingga, maka persamaan 3.11 menjadi persamaan 3.10. Persamaan 3.10 adalah persamaan Av dimana rds tidak ada. Selanjutnya apabila dalam persamaan 3.11 tersebut harga rds dibuat 59

Herman Dwi Surjono, Ph.D. tak terhingga dan RS adalah nol, maka persamaan 3.11 menjadi persamaan 3.3. Persamaan 3.7 ini adalah persamaan Av tanpa rds dan RS hubung singkat. Impedansi input untuk rangkaian ekivalen gambar 3.9 adalah: Zi = RG Sedangkan impedansi output (Zo)nya adalah jumlah paralel antara rds + RS dengan RD, yaitu: Zo = (rds + RS) RD...(3.12) Contoh 3.7 Perhatikan gambar 3.8 pada contoh 3.6. Diketahui yos = 25 µs sebagai data tambahan untuk rangkaian tersebut. Hitunglah Av sekarang. Penyelesaian: Menentukan rds dengan persamaan 3.5 1 1 rds = = = 40 KΩ yos 25µS Dari contoh 3.6 tersebut diperoleh gm = 2,77 ms, sehingga bisa langsung dihitung Av nya dengan persamaan 3.11. gm RD Av = - 1 + gm RS +(RD + RS)/rds (2,77m)(1,5K) Av = - 1 +(2,77m)(0,75K)+(1,5K+0,75K)/40K Av = -1,3 Pada contoh 3.6 dengan mengabaikan rds diperoleh Av = - 1,35, dan pada contoh 3.7 dengan memperhitungkan rds diperoleh Av = -1,3. Secara praktis perbedaan ini cukup kecil, sehingga pada kebanyakan perhitungan praktis rds selalu diabaikan. 60

Bab 3. Penguat FET 3.5 Rangkaian Pengikut Source Pada transistor bipolar terdapat konfigurasi common kolektor atau rangkaian pengikut emitor. Sebagai padanan dalam FET terdapat rangakaian pengikut source atau common drain. Seperti halnya pada transistor bipolar, ciri-ciri rangkaian pengikut source ini adalah mempunyai Av kurang dari satu, Zo rendah, dan Zi sangat tinggi. Rangkaian pengikut source dapat dilihat pada gambar 3.10. ekivalen ac pengikut source. Sedangkan gambar 3.11 merupakan rangkaian V DD input C 1 C 2 output R G R S Gambar 3.10 Rangkaian pengikut source Vi RG vgs gm vgs rds S Vo R S Gambar 3.11 Rangkaian ekivalen ac penguat pengikut source 61

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Dari rangkaian ekivalen ac pada gambar 3.11 dapat diturunkan formula untuk penguatan tegangan (Av), yaitu: Vo Av = Vi harga Vo dapat diperoleh dari rangkaian ekivalen, yaitu: Vo = (gm v g s )(R S rds) Oleh karena: Vi = v g s + Vo v g s = Vi - Vo bila vgs dimasukkan ke persamaan Vo, maka: Vo = (gm )(Vi - Vo)(R S rds) Vo = (gm Vi - gm Vo)(R S rds) Vo = gm Vi(R S rds) - gm Vo(R S rds) Vo + gm Vo(R S rds) = gm Vi(R S rds) Vo {1 + gm (R S rds)} = gm Vi(R S rds) Akhirnya bisa diperoleh Vo/Vi atau Av, yaitu: gm (R S rds) Av = 1 + gm (R S rds) Apabila pembilang dan penyebut dibagi gm, maka diperoleh: 62

Bab 3. Penguat FET (R S rds) Av = 1/gm + (R S rds)...(3.13) Dari persamaan 3.13 tersebut terlihat bahwa harga Av selalu kurang dari satu. Semakin besar harga gm, harga Av semakin mendekati satu. Harga Av adalah positip berarti sinyal output dan input sefasa. Impedansi input (Zi) rangkaian pengikut source adalah: Zi = RG Sedangkan impedansi output (Zo) adalah: Zo = R S rds (1/gm)...(3.14) Contoh 3.7 Perhatikan rangkaian pengikut source seperti pada gambar 3.12. Diketahui data JFET adalah: IDSS = 16 ma, Vp = -4 Volt, dan yos = 25 µs. Tentukan Av, Zi dan Zo. V DD = 9 V input C 1 C 2 output R G =1M R S = 2,2K Gambar 3.12 Rangkaian pengikut source 63

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Penyelesaian: Menentukan titik kerja dengan persamaan 3.5, diperoleh: VGSQ = - 2,86 Volt Menentukan gm0 dengan persamaan 3.3: 2I DSS 2(16 ma) gm0 = = = 8 ms Vp -4 Menentukan gm dengan persamaan 3.1: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 2.86V gm = 8 ms (1 - ) = 2,28 ms - 4 V Menentukan rds dengan persamaan 3.5 1 1 rds = = = 40 KΩ yos 25 µs Menentukan Av dengan persamaan 3.13: (R S rds) Av = 1/gm + (R S rds) (2,2K 40K) Av = = 0,83 1/2,28m + (2,2K 40K) Menentukan Zi: Zi = RG = 1 MΩ Menentukan Zo dengan persamaan 3.14: Zo = R S rds (1/gm) Zo = (2,2K) (40K) (1/2,28m) = 362 Ω 64

Bab 3. Penguat FET 3.6 Penguat Gate Bersama (CG) Konfigurasi terakhir yang dibahas sebagai penguat FET adalah penguat Gate Bersama (Common Gate = CG). Sebagaimana akan terlihat pada analisis berikut irangkaian penguat CG mempunyai impedansi input kecil, impedansi output seperti CS, dan Av seperti CS namun tidak membalikkan. Gambar 3.13 dan 3.14 berturut-turut adalah rangkaian penguat CG dan rangkaian ekivalen ac nya. V DD C R D 1 C S D 2 input R S output Gambar 3.13 Rangkaian penguat CG Vi S D Vo RS gm vgs RD G Dari gambar rangkaian ekivalen ac terlihat bahwa terminal G berada di bawah dan tidak terhubung baik dengan source maupun drain. Besarnya tegangan gate - source adalah: Vgs = - Vi. Penguatan tegangan Av dapat diturunkan sebagai berikut: Vo Av = Vi Gambar 3.14 Rangkaian ekivalen ac penguat CG harga Vo dapat diperoleh dari rangkaian ekivalen, yaitu: 65

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Vo = (- gm v g s )(R D ) Vo = (- gm )(-V i )(R D ) Vo = (gm V i )(R D ) Dengan demikian harga Av adalah: Av = gm R D...(3.15) Penguatan Av bertanda positip berarti sinyal input dan output sefasa. Bedanya harga Av ini dengan Av penguat CS adalah tanda negatipnya saja. Apabila harga rds diketahui, maka persamaan 3.15 menjadi: Av = gm(r D rds)...(3.16) Dengan mengabaikan rds, impedansi input (Zi) rangkaian penguat CG adalah: Zi = R D (1/gm)...(3.17) Impedansi output (Zo) adalah: Zi = R D rds...(3.18) 66

Bab 3. Penguat FET Contoh 3.9 Perhatikan rangkaian penguat CG seperti pada gambar 3.15. Diketahui data JFET adalah: IDSS = 10 ma, Vp = -4 Volt. Tentukan Av, Zi dan Zo. V DD = 12 V R D =3,6K C 2 output input C 1 R S =1,1K Gambar 3.15 Rangkaian penguat CG Penyelesaian: Menentukan titik kerja dengan persamaan 3.5, diperoleh: VGSQ = - 2,2 Volt Menentukan gm0 dengan persamaan 3.3: 2I DSS 2(10 ma) gm0 = = = 5 ms Vp -4 Menentukan gm dengan persamaan 3.1: V GS gm = gm0 (1 - ) Vp - 2.2 V 67

Herman Dwi Surjono, Ph.D. gm = 5 ms (1 - ) = 2,25 ms - 4 V Menentukan Av dengan persamaan 3.15: Av = gm R D = (2,25 m)(3,6k) = 8,1 Menentukan Zi dengan persamaan 3.17: Zi = R D (1/gm) = (3,6K) (1/2,25m) = 395 Ω Impedansi output: Zo RD = 3,6 KΩ 3.7 Ringkasan Konfigurasi rangkaian FET tidak jauh berbeda dengan konfigurasi pada transistor bipolar. Konfigurasi CS (Common-source) memberikan penguatan tegangan (Av) yang besar, meskipun biasanya lebih kecil dari penguat transistor bipolar. Impedansi input (Zi) penguat CS sangat besar. Rangkaian pengikut source yang disebut juga penguat Common Drain (CD) mempunyai Av kurang dari satu dan Zo rendah serta Zi sangat tinggi. Rangkaian CG (Common Gate) mempunyai Zi yang kecil dan Av yang besar seperti halnya pada penguat CS tetapi bernilai positip. 68

Bab 3. Penguat FET 3.8 Soal Latihan 1. Suatu rangkaian penguat CS seperti pada gambar 3.16 mempunyai data JFET sebagai berikut: yos = 50 µs, IDSS = 12 ma, dan VGS(off) = - 6,5 Volt. Tentukanlah: (a) Titik kerja: VGSQ dan IDQ (b) Penguatan tegangan (Av) (c) Impedansi input (Zi) (d) Impedansi output(zo) V CC = 12 V input C 1 R D =2,7K C 2 output R G =1M R S = 1K CS Gambar 3.16 Rangkaian penguat JFET untuk soal no. 1 2. Diketahui rangkaian penguat CS seperti pada gambar 3.17, dimana data D-MOSFET yang digunakan adalah: IDSS = 16 ma, dan Vp = - 6 Volt. Tentukan penguatan tegangan (Av) rangkaian tersebut. 69

Herman Dwi Surjono, Ph.D. V DD = 20 V input C 1 R D =3,9K C 2 output R G =10M R S = 1,2K Gambar 3.17 Rangkaian penguat CS dengan RS untuk soal no. 2 3. Perhatikan gambar 3.17 pada soal no.2. Diketahui yos = 25 µs sebagai data tambahan untuk rangkaian tersebut. Hitunglah Av sekarang. 4. Perhatikan rangkaian pengikut source seperti pada gambar 3.18. Diketahui data JFET : IDSS = 10 ma, Vp = -6 Volt, dan yos = 40 µs. Tentukan Av, Zi dan Zo. V DD = 12 V input C 1 C 2 output R G =10M R S = 1,5K Gambar 3.18 Rangkaian pengikut source untuk soal 4 70

Bab 3. Penguat FET 5. Perhatikan rangkaian penguat CG seperti pada gambar 3.19. Diketahui data JFET adalah: IDSS = 16 ma, Vp = - 6,5 Volt. Tentukan Av, Zi dan Zo. V DD = 20 V R D =2,7K C 2 output input C 1 R S =1,5K Gambar 3.19 Rangkaian penguat CG untuk soal no. 5 6. Rangkaian penguat CS seperti gambar 3.30 diharapkan dapat menghasilkan Av = - 8. Bila diketahui data JFET adalah: IDSS = 10 ma, Vp = - 4 Volt, yos = 20 µs, dan VGSQ = 1 Volt. Tentukan nilai RS dan RD. V DD input C 1 R D C 2 output R G =10M R S CS Gambar 3.20 Rangkaian penguat JFET untuk soal no. 6 71

Herman Dwi Surjono, Ph.D. Sumber Pustaka Boylestad and Nashelsky. (1992). Electronic Devices and Circuit Theory, 5th ed. Engelwood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc. Floyd, T. (1991). Electric Circuits Fundamentals. New York: Merrill Publishing Co. Malvino, A.P. (1993). Electronic Principles 5th Edition. Singapore: McGraw-Hill, Inc. Milman & Halkias. (1972). Integrated Electronics: Analog and Digital Circuits and Systems. Tokyo: McGraw-Hill, Inc. Savant, Roden, and Carpenter. (1987). Electronic Circuit Design: An Engineering Approach. Menlo Park, CA: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. Stephen, F. (1990). Integrated devices: discrete and integrated. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc. 72