Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
|
|
|
- Widya Susanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2 Elektronika Lanjut Herman Dwi Surjono, Ph.D.
3 Elektronika Lanjut Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif Perancang Sampul : Dhega Febiharsa Tata Letak : Dhega Febiharsa Diterbitkan Oleh: Penerbit Cerdas Ulet Kreatif Jl. Manggis 72 RT 03 RW 04 Jember Lor Patrang Jember - Jawa Timur Telp Faks Katalog Dalam Terbitan (KDT) Herman Dwi Surjono, Elektronika Lanjut/Herman Dwi Surjono, Penyunting: Tim Cerdas Ulet Kreatif, 2009, 104 hlm; 14,8 x 21 cm. ISBN Hukum Administrasi I. Judul II. Tim Cerdas Ulet Kreatif 104 Distributor: Penerbit CERDAS ULET KREATIF Website : [email protected] Cetakan Kedua, 2011 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Ketentuan Pidana Pasal 72 (ayat 2) 1. Barang Siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp ,00 (lima ratus juta rupiah). ii
4 Kata Pengantar Buku ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengetahui elektronika baik secara teori, konsep dan penerapannya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif dan mendalam mulai dari pemahaman konsep dasar hingga ke taraf kemampuan untuk menganalisis dan mendesain rangkaian elektronika. Penggunaan matematika tingkat tinggi diusahakan seminimal mungkin, sehingga buku ini bias digunakan oleh berbagai kalangan. Pembaca dapat beraktivitas dengan mudah karena didukung banyak contoh soal dalam hamper setiap pokok bahasan serta latihan soal pada setiap akhir bab. Beberapa rangkaian penguat sedapat mungkin diambilkan dari pengalaman praktikum. Sebagai pengetahuan awal, pemakai buku ini harus memahami teori dasar rangkaian DC dan matematika dasar. Teori Thevenin, Norton, dan Superposisi juga digunakan dalam beberapa pokok bahasan. Di samping itu penguasaan penerapan hukum Ohm dan Kirchhoff merupakan syarat mutlak terutama pada bagian analisis dan perancangan. Bab 1 membahas bermacam-macam regulator tegangan beserta prinsip kerjanya. Bab 2 membahas tanggapan frekuensi beserta analisis frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Selanjutnya pada bab 3 dibahas berbagai rangkaian bertingkat mulai dari kaskade, darlington hingga CMOS. Pembahasan tentang penguat operasi yang didahului dengan penguat beda dan dilanjutkan dengan berbagai penggunaan Op-Amp seperti penguat inverting dan non- iii
5 inverting terdapat pada bab 4. Dan akhirnya bab 5 dari buku ini membahas umpan balik yang dimulai dari konsep dasar hingga analisis berbagai jenis umpan balik. Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja. Saran-saran dari pembaca sangat diharapkan. Yogyakarta, Agustus 2009 Penulis, Herman Dwi Surjono, Ph.D. Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika, FT- UNY iv
6 Daftar Isi KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1. REGULATOR TEGANGAN 1.1. Pendahuluan 1.2. Regulator Tegangan Seri 1.3. Regulator Tegangan Paralel 1.4. Regulator Tegangan IC 1.5. Ringkasan 1.6. Soal Latihan 2. RESPON FREKUENSI 2.1. Pendahuluan 2.2. Tanggapan Frekuensi 2.3. Analisis Frekuensi Rendah 2.4. Respon Frekuansi Rendah 2.5. Respon Frekuansi Tinggi 2.6. Ringkasan 2.7. Soal Latihan 3. RANGKAIAN BERTINGKAT 3.1. Pendahuluan 3.2. Hubungan Kaskade 3.3. Hubungan Cascode 3.4. Hubungan Darlington 3.5. Hubungan Pasangan Umpan Balik (Feedback Pair) 3.6. Rangkaian CMOS 3.7. Ringkasan 3.8. Soal Latihan 4. PENGUAT OPERASI 4.1. Pendahuluan 4.2. Penguat Beda 4.3. Penguat Operasi (Op-Amp) Ideal 4.4. Penguat Inverting 4.5. Penguat Non-Inverting 4.6. Ringkasan 4.7. Soal Latihan 5. UMPAN BALIK 5.1. Pendahuluan 5.2. Konsep dan Jenis Umpan Balik 5.3. Analisis Penguat Umpan Balik Tegangan-Seri 5.4. Analisis Penguat Umpan Balik Arus-Paralel Iii v v
7 5.5. Analisis Penguat Umpan Balik Tegangan-Paralel 5.6. Analisis Penguat Umpan Balik Arus-Seri 5.7. Ringkasan 5.8. Soal Latihan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INDEKS vi
8 Bab 3 RANGKAIAN BERTINGKAT 3.1 Pendahuluan Aplikasi rangkaian elektronika di lapangan sering melibatkan tidak hanya sebuah transistor, tetapi lebih dari satu. Yang dimaksud dengan rangkaian bertingkat dalam bab ini adalah suatu kombinasi rangkaian yang terdiri atas lebih dari satu transistor (BJT atau FET) sebagai lawan dari penguat tunggal. Dalam bab ini akan dibahas beberapa bentuk rangkaian bertingkat seperti: Kaskade, Cascode, Darlington, Pasangan umpan balik, dan CMOS. Aplikasi rangkaian bertingkat tersebut disamping untuk keperluan yang berdiri sendiri, juga sebagai dasar pembentuk rangkaian lain yang lebih besar dalam rangkaian terintegrasi (IC).
9 Herman Dwi Surjono, Ph.D. 3.2 Hubungan Kaskade Rangkaian bertingkat dalam bentuk hubungan kaskade merupakan rangkaian yang populer atau banyak dijumpai dalam berbagai aplikasi. Dalam hubungan kaskade penguat satu dihubungkan dengan penguat lainnya secara seri, artinya keluaran penguat pertama dihubungkan dengan masukan tingkat kedua dan seterusnya. Lihat diagran pada gambar 28. Tujuan utama penguat dengan hubungan kaskade adalah diperolehnya penguatan total yang besar. Penguatan total dari rangkaian bertingkat tersebut adalah: Avt = Av1. Av2. Av3 Impedansi masukan dari penguat kedua menjadi beban bagi penguat pertama, demikian juga bahwa impedansi masukan penguat ketiga menjadi beban penguat kedua. i1 Penguat I o1 i2 Penguat II o2 i3 Penguat III o3 Av1 Av2 Av3 Gambar 28. Blok diagram penguat dalam hubungan kaskade Kopling yang digunakan untuk menghubungkan antara tingkat satu dengan tingkat berikutnya bisa dengan kapasitor (R-C), trafo, atau kopling langsung. Namun demikian secara umum kopling kapasitorlah yang paling banyak digunakan. Dengan menggunakan kopling kapasitor, maka analisis dc (titik kerja) setiap penguat dapat dikerjakan secara terpisah karena satu dengan lainnya tidak saling mempengaruhi. Akan tetapi bila menggunakan kopling langsung (atau sering disebut penguat DC), maka analisis dc harus dikerjakan sekaligus untuk semua tingkat. Gambar 29 merupakan contoh penguat kaskade dua tingkat dengan menggunakan FET. 36
10 Bab 3. Rangkaian Bertingkat Gambar 29. Penguat kaskade dua tingkat dengan FET Pada rangkaian tersebut diketahui data tambahan sebagai berikut: Vcc = 20 V; Vi = 10 mvp-p; dan data untuk kedua FET adalah: Idss = 10 ma; Vp = -4 V. Oleh karena rangkaian tingkat pertama dan kedua adalah identik baik susunan maupun nilai komponennya, maka analisis dc untuk kedua tingkat adalah sama. Analisis dc: Menentukan titik kerja JFET (VGS dan ID) guna menghitung gm Ingat persamaan kuadrat berikut (pembahasan JFET pada buku 1): ((Idss.Rs)/Vp 2 ).VGS 2 + (1-(2.Idss.Rs/vp 2 )).VGS) + Idss.Rs = 0 dengan menggunakan persamaan ABC, maka dapat diselesaikan nilai VGSnya, yaitu: VGS = - 1,9 Volt. Selanjutnya nilai ID ditentukan dengan persamaan: VGS = -ID.Rs Sehingga diperoleh ID = 2,8 ma Nilai VGS dan ID ini berlaku untuk JFET1 dan JFET2. 37
11 Herman Dwi Surjono, Ph.D. Analisis AC: Menentukan gm gmo = (2.Idss)/ Vp gmo = (2.10m)/ -4 gmo = 5 ms sehingga: gm = gmo (1-(VGS/Vp)) gm = (5m)(1-(-1,9/-4)) gm = 2,6 ms Menentukan penguatan tegangan Tingkat 1: Av1 = -gm.(rd//zi2) Av1 = -(2,6m).(2,4K//3,3M) Av1 = - 6,2 Tingkat 2: Av1 = -gm.(rd) Av1 = -(2,6m).(2,4K) Av1 = - 6,2 Total: Avt = AV1. Av2 Avt = (-6,2).(-6,2) Avt = 38,4 Sinyal output (Vo): Vo = Avt. Vi Vo = (38,4).(10mVp-p) Vo = 384 mvp-p Impedansi input penguat: Zi = RG1 = 3,3 M Impedansi output rangkaian: Zo = RD2 = 2,4 K 38
12 Bab 3. Rangkaian Bertingkat 3.3 Hubungan Cascode Hubungan Cascode banyak digunakan pada aplikasi frekuensi tinggi. Gambar 30 menunjukkan penguat bertingkat dengan hubungan Cascode. Pada hubungan Cascode tersebut keluaran penguat pertama yang berupa Common Emitor diumpankan secara langsung ke penguat kedua yang berupa Common Basis. Hubungan seperti ini akan memberikan pengaruh C-Miller yang kecil pada tingkat pertama karena penguat CE ini mempunyai Av yang kecil (-1), sehingga fh (frekuensi cut-off atas) akan meningkat. Sedangkan pada tingkat kedua yang berupa CB akan memberikan respon frekuensi tinggi yang baik (fh tinggi) karena tidak dipengaruhi C-Miller. Disamping itu penguat CB mempunyai Av yang tinggi (sehingga bisa mengkompensasi Av pertama yang kecil) dan Zo yang besar. Dengan demikian keuntungan utama penguat bertingkat Cascode adalah respon frekuensi tinggi baik (fh tinggi), sehingga BW lebar, dan impedansi keluaran tinggi (Zo tinggi) dengan tetap memberikan Av yang tinggi dan impedansi input cukup tinggi. Gambar 30. Penguat bertingkat Cascode Contoh penguat bertingkat dengan hubungan Cascode yang umum digunakan dalam praktek adalah seperti gambar 31. Rangkaian ini secara prinsip adalah sama seperti rangkaian pada gambar 30. Transistor Q1 sebagai penguat pertama dengan konfigurasi CE dan diumpankan ke Q2 dengan konfigurasi CB. Transistor Q2 merupakan Common Basis (CB) ka- 39
13 Herman Dwi Surjono, Ph.D. rena pada basisnya terhubung ke ground oleh kapasitor. Resistor R1, R2, dan R3 merupakan pembagi tegangan yang memberikan tegangan bias pada kedua transistor. Rangkaian ekivalen AC dari rangkaian tersebut ditunjukkan pada gambar 32. Gambar 31. Penguat Cascode dalam aplikasi praktek Rangkaian ekivalen AC pada gambar 32 tersebut dibuat dengan menggunakan parameter-h. Pada penguat pertama yang configurasi CE terdapat parameter hie, hfe, dan ro (atau 1/hoe). Sedangkan penguat kedua dengan configurasi CB terdapat parameter hib, hfb, dan ro (atau 1/hoe = untuk CE). Analisis berikut dimaksudkan untuk membuktikan bahwa impedansi output (keluaran) dari rangkaian cascode adalah tinggi, dan menentukan penguatan tegangan. Membuktikan Ro: i ro2 = (Vo)/(ro2 + hib) (Vo)/(ro2) = - ie (karena ro1 dan ro2 >> hib) it = α ie it = -(α.vo)/(ro2) sehingga, it2 = iro2 + it 40
14 Bab 3. Rangkaian Bertingkat it2 = (Vo)/(ro2)+(-(α.Vo)/(ro2)) it2 = (Vo(1- α))/(ro2) karena: (1- α)/(α) = 1/β, (1- α) 1/β maka: it2 (Vo)/(β.ro2) Dengan demikian: Ro = (Vo)/(it2) Ro = β.ro2 Gambar 32. Rangkaian ekivalen penguat cascode Penguatan tegangan, Av: Dengan asumsi hfe1 = hfe2, maka: Ic1 = Ic2 Dan Ib1 = Ib2 Oleh karena Ib1 dan Ib2 kecil (pendekatan), maka: VB1 = (R1.Vcc)/(R1 + R2 + R3) IC1 = IC2 = (VB1- VBE)/RE Dimana: 41
15 Herman Dwi Surjono, Ph.D. hib1 = hib2 = 26/IC1 maka: Av tingkat 1 (CE) Av1 = -(hib2)/(hib1) = -1 Av tingkat 2 (CB) Av2 = (RC//RL)/(hib2) Penguatan total: Avt = Av1.Av2 Dari analisis diperoleh bahwa penguatan tegangan tingkat 1 (penguat CE) sebesar -1, dengan demikian pengaruh Miller pada C liar menjadi sangat kecil, hal ini akan meningkatkan fh (respon frekuensi tinggi). Oleh karena itu respon frekuensi tinggi ditentukan oleh penguat CB. Seperti diketahui bahwa penguat CB mempunyai sifat BW yang lebar, karena tinginya fh. 3.4 Hubungan Darlington Hubungan darlington diperoleh dengan cara menggabungkan dua buah transistor sejenis dan umumnya mempunyai beta yang sama. Perhatikan gambar 33. Keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan transistor yang dihubungkan secara darlington adalah: Impedansi input tinggi, impedansi output rendah, dan Ai tinggi. Akan tetapi kerugiannya adalah bahwa arus bocor transistor pertama akan dikuatkan oleh transistor kedua, sehingga perlu hati-hati pada perencanaan pembiasannya. Gambar 33. Rangkaian Darlington 42
16 Bab 3. Rangkaian Bertingkat Gambar 34. Bias DC rangkain darlington β D = β 1. β 2 VBE aktif = 1,4 s/d 1,8 Volt Bias DC: IB = (Vcc- VBE)/ (RB + β D.RE) IE = (β D + 1). IB IE β D. IB VE = IE. RE VB = VE + VBE Analisis AC: Rangkaian ekivalen penguat dengan hubungan darlington adalah ditunjukkan pada gambar 35. Dasar penggambaran rangkain ekivalen ini adalah gambar 34, dimana terminal masukan diambil pada basis Q1 dan terminal keluaran diambil pada kolektor Q2. Menentukan Impedansi input, Zi vi = ib.ri + ib (β D + 1).RE (vi/ib) = ri + (β D + 1).RE ri + β D. RE Dengan demikian: Zi = RB// (ri + β D. RE) 43
17 Herman Dwi Surjono, Ph.D. Gambar 35. Rangkaian ekivalen transistor darlington Menentukan Penguatan Arus, Ai: io = ie = Ib + β D. ib io = ie β D. ib Sedangkan, ib = (RB).(iin)/(RB + (ri + β D. RE)) iin = (ib).(rb + (ri + β D. RE)) /(RB) Sehingga: Ai = io/iin Ai = (β D. ib).(rb)/ (RB + (ri + β D. RE)).(ib) Ai = (β D. RB) /(RB + (ri + β D. RE)) Menentukan Impedansi Output, Zo: Kondisi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan impedansi output adalah sumber sinyal harus dibuat nol, dan tahanan beban harus dibuat terbuka. Rangkaian ekivalen menjadi seperti gambar 36. Zo = vo/io Diturunkan persamaan arus output sesuai dengan hukum Kirchoff arus sebagai berikut: io = (vo/re) + (vo/ri)-(β D. ib) io = (vo/re) + (vo/ri)-(β D )(vo/ri) io = {(1/RE) + (1/ri)-(β D /ri)}. Vo 44
18 Bab 3. Rangkaian Bertingkat Dengan demikian, Zo = vo/io Zo = 1 /{(1/RE) + (1/ri)-(β D /ri)}. Zo = RE // ri //(ri/β D ) Gambar 36. Rangkaian ekivalen untuk menentukan Zo Menentukan Penguatan Tegangan, Av: Lihat kembali rangkaian ekivalen gambar 35. vo = (ib + β D.ib).RE vo = ib.(re + β D.RE) Dan vi = ib.ri + ib (β D + 1).RE vi = ib.(ri + RE + β D.RE) Sehingga: vo/vi = {ib.(re + β D.RE)}/{ ib.(ri + RE + β D.RE)} vo/vi = (RE + β D.RE)/(ri + RE + β D.RE) atau secara pendekatan: vo/vi Hubungan Pasangan Umpan Balik (Feedback Pair) Pasangan umpan balik tersusun atas dua transistor yang berlawanan jenis yakni transistor PNP dan NPN. Jenis kedua transistor ini yang membedakannya dengan hubungan darlington. Seperti halnya pada hubungan darlington, rangkaian pasangan umpan balik ini juga memberikan faktor penguatan arus yang tinggi, yakni perkalian beta kedua transistor. Pa- 45
19 Herman Dwi Surjono, Ph.D. sangan umpan balik ini digunakan bersama-sama dengan darlington guna membentuk rangkaian komplementer yang biasanya banyak dipakai dalam penguat daya. Hubungan pasangan umpan balik dan contoh rangkaian biasnya dapat dilihat pada gambar 37. Gambar 37. Hubungan pasangan umpan balik dan rangkaian bias Analisis DC: Dari untai (loop) Vcc, RC, Basis-Emiter Q1, dan RB dapat diturunkan: Vcc = IC.RC + VEB1 + IB1.RB Vcc - VEB1 = (IC1 + IC2).RC + IB1.RB Vcc - VEB1 = (IB1.β1 + IB2.β2).RC + IB1.RB karena IB2 = IC1 = IB1.β1, maka: Vcc - VEB1 = (IB1.β1 + IB1.β1.β2).RC + IB1.RB Vcc - VEB1 = IB1. (β1 + β1.β2).rc + IB1.RB Sehingga: IB1 = (Vcc- VEB1) /{(β1 + β1.β2).rc + RB} Atau secara pendekatan: IB1 (Vcc- VEB1) /(β1.β2.rc + RB) Selanjutnya IC1 dan IC 2 dapat ditentukan IC1 = IB1.β1 IC2 = IB2.β2 46
20 Bab 3. Rangkaian Bertingkat Karena IC1 = IB2, maka: IC2 = IC1.β2 Dengan demikian secara pendekatan, IC2 >> IC1 Dan, IC IC2 Analisis AC: Rangkaian ekivalen pasangan umpan balik dari gambar 37 dapat dilihat pada gambar 38 berikut. Gambar atas merupakan penggambaran langsung dari rangkaian sedangkan gambar bawah telah disederhanakan untuk memudahkan analisis. Gambar 38. Rangkaian ekivalen pasangan umpan balik 47
21 Herman Dwi Surjono, Ph.D. Menentukan impendasi input, Zi: Tanpa memperhitungkan RB terlebih dahulu, maka Zi = vi/ib1 dimana: ib1 = (vi- vo) / ri1 sedangkan: vo = (β2.ib2- β1.ib1 - ib1).rc oleh karena: β2.ib2 >>β1.ib1 >> ib1, maka: vo (β2.ib2).rc Dengan demikian: ib1 = (vi- vo) / ri1 ib1.ri1 = vi -(β2.ib2).rc ib1.ri1 + β2.(β1.ib1).rc = vi vi/ib1 = ri1 + β2.β1.rc jadi Zi = ri1 + β2.β1.rc Apabila RB diperhitungkan maka nilai RB harus diparalel dengan harga tersebut. Menentukan Penguatan Arus, Ai: Apabila RB tidak diperhitungkan maka: Ai = io/ib1 Ai = {β2.ib2 - β1.ib1 - ib1} / ib1 Ai = {β2.(β1.ib1) -(1 + β1).ib1}/ib1 Ai β1.β2 Apabila RB diperhitungkan, maka: Ai = {β1.β2.rb}/(rb + Zi) Menentukan Penguatan Tegangan, Av: Av = vo/vi perhatikan rangkaian ekivalen, ib1 = (vi- vo)/ri1 vo = vi - ib1.ri1 48
22 Bab 3. Rangkaian Bertingkat oleh karena: ib1 = vo/(β1.β2.rc), maka: vo = vi -{vo/(β1.β2.rc)}.ri1 vi = vo + {vo/(β1.β2.rc)}.ri1 vi = vo {1 + ri1/(β1.β2.rc)} sehingga, vo/vi = 1 /{1 + ri1/(β1.β2.rc)} vo/vi = (β1.β2.rc)/ (ri1 + β1.β2.rc) vo/vi 1 Jadi penguatan tegangan rangkaian pasangan umpan balik adalah satu. 3.6 Rangkaian CMOS Rangkaian CMOS banyak digunakan dalam rangkaian terintegrasi digital. CMOS terdiri atas E-MOSFET kanal N dan E-MOSFET kanal P yang disusun secara komplementer. Untuk memahami cara kerja rangkaian CMOS, maka perlu diingat kembali prinsip kerja E- MOSFET baik untuk kanal N dan kanal P. Dalam pembicaraan ini E-MOSFET kanal N disebut juga nmos, sedangkan E-MOSFET kanal P disebut juga pmos. Kurva karakteristik serta simbol nmos dan pmos pada gambar 39 berikut. ID ID 0 + V Th + 5 V VGS VGS - 5V - V Th nmos pmos Gambar 39. Karakteristik serta simbol nmos dan pmos 49
23 Herman Dwi Surjono, Ph.D. Dalam CMOS masing-masing nmos dan pmos bekerja secara bergantian pada dua titik ekstrem ON dan OFF atau bekerja sebagai saklar. Pada nmos, bila tegangan masukan VGS = 0 V, maka arus ID tidak mengalir karena nmos masih mati. Namun bila VGS = + 5 V, maka arus ID akan mengalir besar. Pada pmos, bila tegangan VGS = 0V, maka arus ID tidak mengalir karena pmos masih mati. Namun bila VGS = - 5 V, maka arus ID akan mengalir. Apabila kedua nmos dan pmos tersebut dihubungkan secara komplementer, maka diperoleh suatu rangkaian CMOS. Gambar 40 menunjukkan rangkaian CMOS yang diberi tegangan Vcc = + 5 Volt. pmos Gambar 40. Rangkaian CMOS nmos Apabila CMOS diberi tegangan masukan Vi = 0, maka Q1 (nmos) akan mati karena VGS-nya adalah 0 sedangkan Q2 (pmos) akan hidup karena VGS-nya adalah sebesar - 5V. Dengan demikian Q1 sebagai saklar terbuka dan Q2 sebagai saklar tertutup, maka tegangan keluaran Vo akan menjadi + 5 V. Sebaliknya apabila CMOS diberi tegangan masukan Vi = 5 V, maka Q1 (nmos) akan hidup karena VGS-nya sebesar + 5 V, sedangkan Q2 (pmos) akan mati karena VGS-nya sebesar 0 V. Dengan demikian Q1 sebagai saklar tertutup dan Q2 sebagai saklar terbuka, maka tegangan keluaran akan menjadi 0 V. 50
24 Bab 3. Rangkaian Bertingkat 3.7 Ringkasan Penguat bertingkat atau sering juga disebut penguat majemuk adalah rangkaian gabungan dua transistor (BJT atau FET) atau lebih. Tujuan penggabungan tersebut tidak hanya untuk mendapatkan faktor penguatan yang berlipat, seperti yang diperoleh pada penguat bertingkat jenis kaskade atau darlington, tetapi untuk memperoleh sifat atau karakteristik tertentu seperti pada rangkaian cascode dan rangkaian CMOS. Rangkaian cascode ini mempunyai respon frekuensi tinggi yang baik. Sedangkan dua buah MOSFET yang digabung menjadi CMOS banyak dipakai dalam teknologi IC. Penguat bertingkat yang dikopling secara langsung (tidak melalui C kopling) akan menyebabkan saling terpengaruhnya bias DC masingmasing tingkat. 51
25 Herman Dwi Surjono, Ph.D. 3.8 Soal Latihan 1. Suatu penguat bertingkat jenis kaskade dua tingkat yang menggunakan 2 transistor dengan rangkaian bias yang sama, yakni: R1 = 15KΩ; R2 = 4,7KΩ; Rc = 2,2KΩ; Re = 1KΩ; β = 200; Vcc =20V; Vi = 25µVp-p. Tentukan: Vo. 2. Perhatikan rangkaian cascode seperti gambar 31. Diketahui data sebagai berikut: R1 = R2 = R3 = 5KΩ; Vcc = 24 V; RE = 1KΩ; RL = RC = 5KΩ; β = 100; ro = 11 KΩ. Tentukan Av1, Av2, dan Ro. 3. Diketahui suatu penguat dengan transistor darlington dengan data rangkaian bias sebagai berikut: R1 = 270KΩ; R2 = 100 KΩ; RC = 2 KΩ; RE = 1KΩ (Ada C by-pass); RL = 5KΩ; β1 = 200; β2 = 150; Vcc = 16 V. Tentukan Ai dan Av. 4. Perhatikan penguat bertingkat kopling langsung seperti gambar di bawah. Data diketahui sebagai berikut: hfe1 = hfe 2= 100; VBE1 = VBE2 = 0.7. Tentukan: Titik kerja masing-masing tingkat; penguatan tegangan total; swing sinyal output. 52
Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Lanjut Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Lanjut Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2009 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Lanjut Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Lanjut Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2009 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Analog Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Analog Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2008 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Analog Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Analog Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2008 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika : Teori dan Penerapan Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika : Teori dan Penerapan Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2007 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting
Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Lanjut Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Lanjut Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2009 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika : Teori dan Penerapan Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika : Teori dan Penerapan Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2007 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting
Elektronika Lanjut. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Lanjut Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Lanjut Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2009 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
MODUL II MERANCANG PENGUAT COMMON EMITTER SATU TINGKAT
MODUL II MERANCANG PENGUAT COMMON EMITTER SATU TINGKAT Durrotus Sarofina (H1E014002) Asisten: Rafi Bagaskara.A Tanggal Percobaan: 19/04/2016 PAF15211P-Elektroika Dasar II Laboratorium Elektronika, Instrumentasi
Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika : Teori dan Penerapan Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika : Teori dan Penerapan Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2007 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting
LAPORAN PRAKTIKUM ELKA ANALOG
LAPORAN PRAKTIKUM ELKA ANALOG GARIS BEBAN DC TRANSISTOR KELAS / GROUP : Telkom 3-D / 2 NAMA PRAKTIKAN : 1. Gusti Prabowo Randu NAMA REKAN KERJA : 2. Dwi Mega Yulianingrum 3. Nadia Rifa R PROGRAM STUDI
Catatan Tambahan: Analisis Penguat CE, CB, dan CC dengan resistansi Internal transistor yang tidak bisa diabaikan (nilai r o finite)
Catatan Tambahan: Analisis Penguat CE, CB, dan CC dengan resistansi Internal transistor yang tidak bisa diabaikan (nilai r o finite) 1. Penguat CE (Common Emitter) dengan Resistansi Emitter RE. Analisis
- 1 - FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PRAKTIK ELEKTRONIKA ANALOG I
- - FAKULTAS TEKNIK Semester PENGUAT TRANSISTOR 200 menit No. LST/EKA/EKA5204/09/04 Revisi : 02 Tgl : 28-8-205 Hal dari 9. A. Kompetensi : Menguasai kinerja penggunan transistor sebagai penguat B. Sub
Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani. [email protected]
Transistor Dwi Kutub Laila Katriani [email protected] Transistor adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki 3 kaki elektroda, yaitu Basis (Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar).
MODUL ELEKTRONIKA DASAR
MODUL ELEKTRONIKA DASAR 1. Resistor Resistor adalah hambatan yang mempunyai nilai hambat tertentu. Resistor biasanya dinyatakan dengan huruf R. Resistor berfungsi untuk membatasi arus. Nilai resistor berbanding
SATUAN ACARA PERKULIAHAN TEKNIK ELEKTRO ( IB ) MATA KULIAH / SEMESTER : ELEKTRONIKA ANALOG* / 6 KODE / SKS / SIFAT : IT41351 / 3 SKS / UTAMA
Pertemuan ke 1 2 Pokok Bahasan dan TIU Konsep dasar dan karakteristik arus-tegangan Dioda pn, BJT, MOSFET dan JFET. Penjelasan ulang konsep dasar dan karakteristik arus tegangan Analisis dan desain rangkaian
BAB VII ANALISA DC PADA TRANSISTOR
Bab V, Analisa DC pada Transistor Hal: 147 BAB V ANALSA DC PADA TRANSSTOR Transistor BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah suatu devais nonlinear terbuat dari bahan semikonduktor dengan 3 terminal yaitu
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ELEKTRONIKA ANALOG* (Ujian Utama) KODE MK / SKS : KK / 3
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ELEKTRONIKA ANALOG* (Ujian Utama) KODE MK / SKS : KK-041301 / 3 Minggu Pokok Bahasan Ke Dan TIU 1 Konsep dasar dan karakteristik arustegangan Dioda pn, BJT, MOSFET
Transistor Bipolar BJT Bipolar Junction Transistor
- 3 Transistor Bipolar BJT Bipolar Junction Transistor Missa Lamsani Hal 1 SAP bentuk fisik transistor NPN dan PNP injeksi mayoritas dari emiter, lebar daerah base, rekomendasi hole-elektron, efisiensi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tujuan Percobaan Mempelajari karakteristik statik penguat opersional (Op Amp )
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Percobaan Mempelajari karakteristik statik penguat opersional (Op Amp ) 1.2 Alat Alat Yang Digunakan Kit praktikum karakteristik opamp Voltmeter DC Sumber daya searah ( DC
Bias dalam Transistor BJT
ias dalam Transistor JT Analisis atau disain terhadap suatu penguat transistor memerlukan informasi mengenai respon sistem baik dalam mode AC maupun DC. Kedua mode tersebut bisa dianalisa secara terpisah.
Elektronika Analog. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika Analog Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika Analog Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2008 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Penyunting : Tim Cerdas Ulet Kreatif
Solusi Ujian 1 EL2005 Elektronika. Sabtu, 15 Maret 2014
Solusi Ujian 1 EL2005 Elektronika Sabtu, 15 Maret 2014 1. Pendahuluan: Model Penguat (nilai 15) Rangkaian penguat pada Gambar di bawah ini memiliki tegangan output v o sebesar 100 mv pada saat saklar dihubungkan.
PENGUAT OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Laporan Praktikum
PENGUAT OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Laporan Praktikum ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Elektronika Dasar yang diampu oleh Drs. Agus Danawan, M.Si Disusun oleh Anisa Fitri Mandagi
PERTEMUAN 1 ANALISI AC PADA TRANSISTOR
PERTEMUAN 1 ANALISI AC PADA TRANSISTOR Analisis AC atau sering disebut dengan analisa sinyal kecil pada penguat adalah analisa penguat sinyal kecil, dengan memblok sinyal DC yaitu dengan memberikan kapasitor
PENGUAT-PENGUAT EMITER SEKUTU
PENGUAT-PENGUAT EMITER SEKUTU 1. KAPASITOR PENGGANDENG DAN KAPASITOR PINTAS (Coupling And Bypass Capasitors) Sebuah kapasitor penggandeng melewatkan sinyal AC dari satu titik ke titik lain. Misalnya pada
MODUL 05 TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT
P R O G R A M S T U D I F I S I K A F M I P A I T B LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI MODUL TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT TUJUAN Mengetahui karakteristik penguat berkonfigurasi Common Emitter Mengetahui
MODUL 04 TRANSISTOR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018
MODUL 04 TRANSISTOR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TA 2017/2018 LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI PROGRAM STUDI FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 1 TUJUAN Memahami
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH / KODE : ELEKTRONIKA ANALOG / IT SEMESTER / SKS : VI / 2
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH / KODE : ELEKTRONIKA ANALOG / IT041251 SEMESTER / SKS : VI / 2 Pertemuan Ke Pokok Bahasan Dan TIU Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar Cara Pengajaran 1 Konsep dasar
Alokasi Waktu Menjelaskan dan. Penguat common emitor. Analisis DC pada. 4 x 50 common emitor,analisis common.
E Uraian Kompetensi Dasar, Materi Pokok, Indikator Pertemuan /Minggu Ke Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman Belajar Materi Pokok dan Uraian Materi Pokok Alokasi Waktu 1 2 3 4 5 6 7 Menentukan dan Penguat
Analisis AC pada transistor BJT. Oleh: Sri Supatmi,S.Kom
Analisis AC pada transistor BJT Oleh: Sri Supatmi,S.Kom Model analisis AC pada transistor Terdapat beberapa model yang digunakan untuk melakukan analisis AC pada rangkaian transistor. Yang palg umum digunakan
PENGUAT TRANSISTOR. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY
PENGUAT TRANSISTOR Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected]. Pendahuluan Dalam modul terdahulu dibicarakan mengenai dasar-dasar penguat transistor terutama bagaimana transistor
Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2010 MODUL IV MOSFET TUJUAN PERCOBAAN 1. Memahami prinsip kerja JFET dan MOSFET. 2. Mengamati dan memahami
Penguat Kelas B Komplementer Tanpa Trafo Keluaran
Penguat Kelas B Komplementer Tanpa Trafo Keluaran 1. Tujuan : 1 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami operasi dari rangkaian penguat kelas B komplementer. 2 Mahasiswa dapat menerapkan teknik pembiasan
BAB II Transistor Bipolar
BAB II Transistor Bipolar 2.1. Pendahuluan Pada tahun 1951, William Schockley menemukan transistor sambungan pertama, komponen semikonduktor yang dapat menguatkan sinyal elektronik seperti sinyal radio
Prinsip kerja transistor adalah arus bias basis-emiter yang kecil mengatur besar arus kolektor-emiter.
TRANSISTOR Transistor adalah komponen elektronika yang tersusun dari dari bahan semi konduktor yang memiliki 3 kaki yaitu: basis (B), kolektor (C) dan emitor (E). Untuk membedakan transistor PNP dan NPN
Modul 05: Transistor
Modul 05: Transistor Penguat Common-Emitter Reza Rendian Septiawan April 2, 2015 Transistor merupakan komponen elektronik yang tergolong kedalam komponen aktif. Transistor banyak digunakan sebagai komponen
Elektronika. Pertemuan 8
Elektronika Pertemuan 8 OP-AMP Op-Amp adalah singkatan dari Operational Amplifier IC Op-Amp adalah piranti solid-state yang mampu mengindera dan memperkuat sinyal, baik sinyal DC maupun sinyal AC. Tiga
I. Tujuan Praktikum. Mampu menganalisa rangkaian sederhana transistor bipolar.
SRI SUPATMI,S.KOM I. Tujuan Praktikum Mengetahui cara menentukan kaki-kaki transistor menggunakan Ohmmeter Mengetahui karakteristik transistor bipolar. Mampu merancang rangkaian sederhana menggunakan transistor
I. Penguat Emittor Ditanahkan. II. Tujuan
I. Penguat Emittor Ditanahkan II. Tujuan Menganalisa ciri masukan dan keluaran dari rangkaian penguat emittor ditanahkan dengan menggunakan simulasi Electronic Workbench. III. Alat dan Bahan Laptop Software
Transistor Bipolar. III.1 Arus bias
Transistor Bipolar Pada tulisan tentang semikonduktor telah dijelaskan bagaimana sambungan NPN maupun PNP menjadi sebuah transistor. Telah disinggung juga sedikit tentang arus bias yang memungkinkan elektron
MODUL - 04 Op Amp ABSTRAK
MODUL - 04 Op Amp Yuri Yogaswara, Asri Setyaningrum 90216301 Program Studi Magister Pengajaran Fisika Institut Teknologi Bandung [email protected] ABSTRAK Pada percobaan praktikum Op Amp ini digunakan
hubungan frekuensi sumber tegangan persegi dengan konstanta waktu ( RC )?
1. a. Gambarkan rangkaian pengintegral RC (RC Integrator)! b. Mengapa rangkaian RC diatas disebut sebagai pengintegral RC dan bagaimana hubungan frekuensi sumber tegangan persegi dengan konstanta waktu
Transistor Bipolar. oleh aswan hamonangan
Transistor Bipolar oleh aswan hamonangan Pada tulisan tentang semikonduktor telah dijelaskan bagaimana sambungan NPN maupun PNP menjadi sebuah transistor. Telah disinggung juga sedikit tentang arus bias
MODUL PRAKTEK RANGKAIAN ELEKTRONIKA
MODUL PRAKTEK RANGKAIAN ELEKTRONIKA PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRONIKA PROGRAM PENDIDIKAN VOKASI UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI Percobaan 1 Percobaan 1 Dioda : Karakteristik dan Aplikasi Tujuan Memahami
Rangkaian Penguat Transistor
- 6 Rangkaian Penguat Transistor Missa Lamsani Hal 1 SAP Rangkaian penguat trasnsistor dalam bentuk ekuivalennya Perhitungan impedansi input, impedansi output, penguatan arus, penguatan tegangan dari rangkaian
PERCOBAAN IV TRANSISTOR SEBAGAI SWITCH
PERCOBAAN IV TRANSISTOR SEBAGAI SWITCH 1. Tujuan Mengetahui dan mempelajari fungsi transistor sebagai penguat Mengetahui dan mempelajari karakteristik kerja Bipolar Junction Transistor ketika beroperasi
Struktur Fisik Bipolar Junction Transistor (BJT)
Kuliah 2 1 Struktur Fisik ipolar Junction Transistor (JT) npn J J mitter n ase p ollector n Kontak Metal pnp mitter p ase n ollector p Mode Operasi JT Mode Junction Junction cutoff reverse reverse active
Penguat Kelas A dengan Transistor BC337
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM Penguat Kelas A dengan Transistor BC337 ELEKTRONIKA II Dosen: Dr.M.Sukardjo Kelompok 7 Abdul Goffar Al Mubarok (5215134375) Egi Destriana (5215131350) Haironi Rachmawati (5215136243)
Elektronika : Teori dan Penerapan. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Elektronika : Teori dan Penerapan Herman Dwi Surjono, Ph.D. Elektronika : Teori dan Penerapan Disusun Oleh: Herman Dwi Surjono, Ph.D. 2007 All Rights Reserved Hak cipta dilindungi undangundang Penyunting
( s p 1 )( s p 2 )... s p n ( )
Respons Frekuensi Analisis Domain Frekuensi Bentuk fungsi transfer: polinomial bentuk sum/jumlah Kuliah 5 T( s) = a m s m a m s m... a 0 s n b n s n... b 0 Bentuk fungsi transfer: polinomial product/perkalian
1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward
1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward C. Karakteristik dioda dibias reverse D. Karakteristik dioda
Modul VIII Filter Aktif
Modul VIII Filter Aktif. Tujuan Praktikum Praktikan dapat mengetahui fungsi dan kegunaan dari sebuah filter. Praktikan dapat mengetahui karakteristik sebuah filter. Praktikan dapat membuat suatu filter
Gambar 2.1. simbol op amp
BAB II. PENGUAT OP AMP II.1. Pengenalan Op Amp Penguat Op Amp (Operating Amplifier) adalah chip IC yang digunakan sebagai penguat sinyal yang nilai penguatannya dapat dikontrol melalui penggunaan resistor
Penguat Inverting dan Non Inverting
1. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian op-amp sebagai penguat inverting dan non inverting. 2. Mengamati fungsi kerja dari masing-masing penguat 3. Mahasiswa dapat menghitung penguatan
Gambar 1 Tegangan bias pada transistor BJT jenis PNP
KEGIATAN BELAJAR 2 Percobaan 1 A. Tujuan a. Mahasiswa diharapkan dapat memahami karakteristik switching dari BJT b. Mahasiswa diharapkan dapat menggambarkan kurva karakteristik v-i masukan dan keluaran
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKTRONIKA DASAR
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKTRONIKA DASAR LABORATORIUM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA 213 Universitas Sriwijaya Fakultas Ilmu Komputer Laboratorium LEMBAR PENGESAHAN MODUL PRAKTIKUM
[LAPORAN PENGUAT DAYA KELAS A] BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN.. Latar Belakang Dalam matakuliah Elektronika II telah dipelajari beberapa teori tentang rangkaian common seperti common basis, common emitter, dan common collector. Salah satu penerapan
1 DC SWITCH 1.1 TUJUAN
1 DC SWITCH 1.1 TUJUAN 1.Praktikan dapat memahami prinsip dasar saklar elektronik menggunakan transistor. 2.Praktikan dapat memahami prinsip dasar saklar elektronik menggunakan MOSFET. 3.Praktikan dapat
Rancang Bangun Alat Pengubah Tegangan DC Menjadi Tegangan Ac 220 V Frekuensi 50 Hz Dari Baterai 12 Volt
Rancang Bangun Alat Pengubah Tegangan DC Menjadi Tegangan Ac 220 V Frekuensi 50 Hz Dari Baterai 12 Volt Widyastuti Jurusan Teknik Elektro Universitas Gunadarma Jl. Margonda 100 Depok E-mail : [email protected]
PERANCANGAN PREAMPLIFIER PITA LEBAR UNTUK PENERIMA OPTIK
PERANCANGAN PREAMPLIFIER PITA LEBAR UNTUK PENERIMA OPTIK Oleh: Lilik Eko Nuryanto Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang Jl.Prof. H. Soedarto. SH, Tembalang Semarang 50275 Abstrak
Penguat Emiter Sekutu
Penguat Emiter Sekutu v out v in Konfigurasi Dasar Ciri Penguat Emiter Sekutu : 1. Emiter dibumikan 2. Sinyal masukan diberikan ke basis 3. Sinyal keluaran diambil dari kolektor Agar dapat memberikan tegangan
Dioda-dioda jenis lain
Dioda-dioda jenis lain Dioda Zener : dioda yang dirancang untuk bekerja dalam daerah tegangan zener (tegangan rusak). Digunakan untuk menghasilkan tegangan keluaran yang stabil. Simbol : Karakteristik
TRANSISTOR 1. TK2092 Elektronika Dasar Semester Ganjil 2012/2013. Hanya dipergunakan untuk kepentingan pengajaran di lingkungan Politeknik Telkom
TK2092 Elektronika Dasar Semester Ganjil 2012/2013 Politeknik Telkom Bandung 2013 www.politekniktelkom.ac.id TRANSISTOR 1 Disusun oleh: Duddy Soegiarto, ST.,MT [email protected] Hanya dipergunakan
Karakteristik Transistor. Rudi Susanto
Karakteristik Transistor Rudi Susanto PN-Junction (Diode) BIAS MAJU / FORWARD BIAS BIAS MUNDUR / REERSE BIAS Transistor Bipolar Arus pada Transistor Alpha dc (α dc ) adalah perbandingan antara arus Ic
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK A. OP-AMP Sebagai Peguat TUJUAN PERCOBAAN PERCOBAAN VII OP-AMP SEBAGAI PENGUAT DAN KOMPARATOR
Modul Elektronika 2017
.. HSIL PEMELJRN MODUL I KONSEP DSR TRNSISTOR Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan karakteristik serta fungsi dari rangkaian dasar transistor..2. TUJUN agian ini memberikan informasi mengenai penerapan
Percobaan 4 (versi A) Karakteristik dan Penguat FET Revisi 24 Maret 2014
Percobaan 4 (versi A) Karakteristik dan Penguat FET Revisi 24 Maret 2014 I. Tujuan Mengetahui dan mempelajari karakteristik transistor FET Memahami penentuan titik kerja Memahami penggunaan FET sebagai
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING)
INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 2 (PENGUAT INVERTING) I. TUJUAN Tujuan dari pembuatan modul Penguat Inverting ini adalah: 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian penguat inverting sebagai
TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR DAN SUMBER ARUS
TRANSSTOR SEBAGA SAKLAR DAN SUMBER ARUS 1. TRANSSTOR SEBAGA SAKLAR Salah satu aplikasi yang paling mudah dari suatu transistor adalah transistor sebagai saklar. Yaitu dengan mengoperasikan transistor pada
PANDUAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR LABORATORIUM FISIKA DASAR FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
PANDUAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR LABORATORIUM FISIKA DASAR FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK MODUL I KARAKTERISTIK DIODA I. Tujuan Percobaan Memahami prinsip
yaitu, rangkaian pemancar ultrasonik, rangkaian detektor, dan rangkaian kendali
BAB III PERANCANGAN 3.1. Blok Diagram Pada dasarnya rangkaian elektronik penggerak kamera ini menggunakan beberapa rangkaian analok yang terbagi menjadi beberapa blok rangkaian utama, yaitu, rangkaian
PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
PETUNJUK PRAKTIKUM PRAKTIKUM ELEKTRONIKA EL 2205 Laboratorium Dasar Teknik Elektro Mervin T Hutabarat Sekolah Teknik Elektro Dan Informatika Institut Teknologi Bandung 2015 Petunjuk EL2205 Praktikum Elektronika
Materi 5: Bipolar Junction Transistor (BJT)
Materi 5: Bipolar Junction Transistor (BJT) I Nyoman Kusuma Wardana Sistem Komputer STMIK STIKOM Bali Outline Struktur transistor Unbiased transistor Biased transistor Koneksi CE Kurva basis Kurva kolektor
TRANSISTOR Oleh : Agus Sudarmanto, M.Si Tadris Fisika Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
TRANSISTOR Oleh : Agus Sudarmanto, M.Si Tadris Fisika Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Transistor adalah komponen elektronika yang tersusun dari dari bahan semi konduktor yang memiliki 3 kaki yaitu: basis
Modul 3. Asisten : Catra Novendia Utama ( ) : Derina Adriani ( )
Modul 3 TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR DAN PENGUAT COMMON EMITTER Nama : Muhammad Ilham NIM : 121178 E-mail : [email protected] Shift/Minggu : III/2 Asisten : Catra Novendia Utama (12874) : Derina
OPERATIONAL AMPLIFIERS (OP-AMP)
MODUL II Praktikum OPERATIONAL AMPLIFIERS (OP-AMP) 1. Memahami cara kerja operasi amplifiers (Op-Amp). 2. Memahami cara penghitungan pada operating amplifiers. 3. Mampu menggunakan IC Op-Amp pada rangkaian.
VOLTAGE PROTECTOR. SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia
bidang TEKNIK VOLTAGE PROTECTOR SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia Listrik merupakan kebutuhan yang sangat
BAB I HAMBATAN. Tujuan: 1. Menjelaskan komponen resistor 2. Menjelaskan komponen kapasitor 3. Menjelaskan komponen induktor
BAB I HAMBATAN Tujuan: 1. Menjelaskan komponen resistor 2. Menjelaskan komponen kapasitor 3. Menjelaskan komponen induktor PENDAHULUAN Elektronika terbagi menjadi 2 macam, yaitu: Elektronika analog Elektronika
Praktikum Rangkaian Elektronika MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA
MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2010 MODUL I DIODA SEMIKONDUKTOR DAN APLIKASINYA 1. RANGKAIAN PENYEARAH & FILTER A. TUJUAN PERCOBAAN
OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Oleh : Sri Supatmi
1 OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Oleh : Sri Supatmi Operasional Amplifier (OP-AMP) 2 Operasi Amplifier adalah suatu penguat linier dengan penguatan tinggi. Simbol 3 Terminal-terminal luar di samping power
TRANSISTOR. Pengantar Teknik Elektronika Program Studi S1 Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto
TRANSISTOR Pengantar Teknik Elektronika Program Studi S1 Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto TIK Setelah mahasiswa mengikuti perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa memahami
PENGUAT EMITOR BERSAMA (COMMON EMITTER AMPLIFIER) ( Oleh : Sumarna, Lab-Elins Jurdik Fisika FMIPA UNY )
PERCOBAAN PENGUAT EMITOR BERSAMA (COMMON EMITTER AMPLIFIER) ( Oleh : Sumarna, Lab-Elins Jurdik Fisika FMIPA UNY ) E-mail : [email protected] PENGANTAR Konfigurasi penguat tegangan yang paling banyak digunakan
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1. Blok diagram Dibawah ini adalah gambar blok diagram dari sistem audio wireless transmitter menggunakan laser yang akan di buat : Audio player Transmitter Speaker Receiver
PERCOBAAN 4 RANGKAIAN PENGUAT KLAS A COMMON EMITTER
PERCOBAAN 4 RANGKAIAN PENGUAT KLAS A COMMON EMITTER 4.1 Tujuan dan Latar Belakang Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendemonstrasikan cara kerja dari Power Amplifier kelas A common-emitter. Amplifier
Daerah Operasi Transistor
Daerah Operasi Transistor Sebuah Transistor memiliki empat daerah Operasi Transistor : 1. Daerah Aktif 2. Daerah CutOff 3. Daerah Saturasi 4. Daerah Breakdown Daerah Aktif Daerah kerja transistor yang
LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA MERANGKAI DAN MENGUJI OPERASIONAL AMPLIFIER UNIT : VI
LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA MERANGKAI DAN MENGUJI OPERASIONAL AMPLIFIER UNIT : VI NAMA : REZA GALIH SATRIAJI NOMOR MHS : 37623 HARI PRAKTIKUM : SENIN TANGGAL PRAKTIKUM : 3 Desember 2012 LABORATORIUM
PENGERTIAN THYRISTOR
PENGERTIAN THYRISTOR Thyristor merupakan salah satu devais semikonduktor daya yang paling penting dan telah digunakan secara ekstensif pada rangkaian elektronika daya.thyristor biasanya digunakan sebagai
Nama Kelompok : Agung Bagus K. (01) Lili Erlistantini (13) Rahma Laila Q. (14) PENGUAT RF. Pengertian Penguat RF
Nama Kelompok : Agung Bagus K. (01) Lili Erlistantini (13) Rahma Laila Q. (14) PENGUAT RF Pengertian Penguat RF Penguat RF merupakan perangkat yang berfungsi memperkuat sinyal frekuensi tinggi yang dihasilkan
JOBSHEET 2 PENGUAT INVERTING
JOBSHEET 2 PENGUAT INVERTING A. TUJUAN Tujuan dari pembuatan modul Penguat Inverting ini adalah: 1. Mahasiswa mengetahui karakteristik rangkaian penguat inverting sebagai aplikasi dari rangkaian Op-Amp.
SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Mata Kuliah Kode / SKS Program Studi Fakultas : Elektronika Dasar : IT012346 / 3 SKS : Sistem Komputer : Ilmu Komputer & Teknologi Informasi 1 Pengenalan Komponen dan Teori Semikonduktor TIU : - Mahasiswa
BAB VF, Penguat Daya BAB VF PENGUAT DAYA
Hal:33 BAB F PENGUAT DAYA Dalam elektronika banyak sekali dijumpai jenis penguat, pengelompokkan dapat berdasarkan: 1. rentang frekuensi operasi, a. gelombang lebar (seperti: penguat audio, video, rf dll)
PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
PETUNJUK PRAKTIKUM PRAKTIKUM ELEKTRONIKA EL 2205 Laboratorium Dasar Teknik Elektro Mervin T Hutabarat Sekolah Teknik Elektro Dan Informatika Institut Teknologi Bandung 2018 Petunjuk EL2205 Praktikum Elektronika
KARAKTERISTIK TRANSISTOR. Risa Farrid Christianti
KARAKTERSTK TRANSSTOR Risa Farrid hristianti ARUS TRANSSTOR (1) Perbandingan arus Karena emitter (E) adalah sumber elektron, emiter mempunyai arus terbesar. Krn sebagian besar elektron mengalir ke Kolektor
MODUL I RANGKAIAN SERI-PARALEL RESISTOR
MODUL I ANGKAIAN SEI-PAALEL ESISTO A. TUJUAN Mempelajari berbagai fungsi multimeter analog, khususnya sebagai ohm-meter. a. Mengitung rangkaian pengganti suatu rangkaian listrik dan mengukur rangkaian
BAHAN AJAR ELEKTRONIKA ANALOG. ALFITH, S.Pd, M.Pd MATA KULIAH DISUSUN OLEH :
BAHAN AJAR MATA KULIAH ELEKTRONIKA ANALOG DISUSUN OLEH : ALFITH, S.Pd, M.Pd JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK D III FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI PADANG 2013 SATUAN AARA
B a b. Pembiasan BJT. = β..(4.3)
Pembiasan JT a b 4 Pembiasan JT A nalisa dari rangkaian elektronik mempunyai dua komponen, yaitu analisa dc dan analisa ac. Analisa ac meliputi penguatan tegangan dan arus, serta impedansi inlut dan output.
RANGKAIAN INVERTER DC KE AC
RANGKAIAN INVERTER DC KE AC 1. Latar Belakang Masalah Inverter adalah perangkat elektrik yang digunakan untuk mengubah arus searah (DC) menjadi arus bolak-balik (AC). Inverter mengkonversi DC dari perangkat
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Semester III FAKULTAS TEKNIK Penyearah Gelombang Penuh dengan Tapis Kapasitor 4 Jam Pertemuan No. LST/EKO/DEL225/01 Revisi : 01 Tgl : 1 Maret 2008 Hal 1 dari 5 1. Kompetensi : Menguji kinerja untai elektronika
PERCOBAAN VII PENGUAT OPERASI ( OPERATIONAL AMPLIFIER )
PERCOBAAN VII PENGUAT OPERASI ( OPERATIONAL AMPLIFIER ) A. Tujuan 1. Menyelidiki penguatan penguat operasi 2. Menyelidiki beda fase antara tegangan input dan output B. Dasar Teori Penguat operasi (operational
