Dalam sistem pengendalian hama terpadu (PHT),

dokumen-dokumen yang mirip
HAMA Helopeltis spp. PADA JAMBU METE DAN PENGENDALIANNYA

EFEKTIVITAS JAMUR Beauveria bassiana TERHADAP HAMA Helopeltis sp. YANG MENYERANG TANAMAN KAKAO. Syamsul Makriful Akbar 1 dan Mariani 2 ABSTRAK

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

I. PENDAHULUAN. luas areal kakao yang cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari

III. METODE PENELITIAN. Penelitan ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan dan Penyakit

Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp. Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama

Keterangan : Yijk = H + tti + Pj + (ap)ij + Sijk. Sijk

Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Mortalitas Semut Rangrang Oecophylla smaragdina (F.) (Hymenoptera: Formicidae)

PENGARUH CASHEW NUT SHELL LIQUID (CNSL) TERHADAP MORTALITAS HELOPELTIS ANTONII SIGN PADA BIBIT JAMBU METE

Gambar 3. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

REKOMENDASI UMUM PENGENDALIAN HELOPELTIS SPP. PADA TANAMAN KAKAO 1) Oleh: Ir. Syahnen, MS 2) dan Muklasin, SP 3)

KEBUN GELAP OPT SENANG KEBUN TERANG OPT HILANG. Oleh: Erna Zahro in

III. BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel buah kopi penelitian dilakukan pada perkebunan kopi rakyat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium

Pengendalian Terpadu Helopeltis Tanaman Perkebunan

III. BAHAN DAN METODE

STATUS Helopeltis antonii SEBAGAI HAMA PADA BEBERAPA TANAMAN PERKEBUNAN DAN PENGENDALIANNYA. Warsi Rahmat Atmadja

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (PBKo) SECARA PHT UPTD-BPTP DINAS PERKEBUNAN ACEH 2016

PEDOMAN UJI MUTU DAN UJI EFIKASI LAPANGAN AGENS PENGENDALI HAYATI (APH)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Rumah Kaca

BIOPESTISIDA PENGENDALI HELOPELTIS SPP. PADA TANAMAN KAKAO OLEH : HENDRI YANDRI, SP (WIDYAISWARA PERTAMA)

PENDAHULUAN. senilai US$ 588,329,553.00, walaupun ada catatan impor juga senilai US$ masyarakat (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010).

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi BALITKABI-Malang pada bulan

PENGARUH UMUR BATANG BAWAH DAN KONDISI BATANG ATAS TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN DAN PERTUMBUHAN GRAFTING JAMBU METE

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah ( S. coarctata

Ringkasan. ) sebesar 8 x spora/ml. Waktu yang diperlukan untuk mematikan separuh dari populasi semut hitam di laboratorium (LT 50

EFEKTIVITAS ISOLAT DAN METODE PAPARAN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin TERHADAP MORTALITAS DAN MIKOSIS Spodoptera litura Fabricius

BAB III METODE PERCOBAAN. Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu perlakuan jenis

Tetratichus brontispae, PARASITOID HAMA Brontispa longissima

Oleh Kiki Yolanda,SP Jumat, 29 November :13 - Terakhir Diupdate Jumat, 29 November :27

I. PENDAHULUAN. memikat perhatian banyak mata. Pemuliaan anggrek dari tahun ke tahun,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komponen Bioaktif, Jurusan

I. PENDAHULUAN. Kepik hijau (Nezara viridula L.) merupakan salah satu hama penting pengisap

TEKNIK PENDUKUNG DITEMUKANNYA PURUN TIKUS (ELEOCHARIS DULCIS) SEBAGAI INANG ALTERNATIF BAGI HAMA PENGGEREK BATANG PADI PUTIH (SCIRPOPHAGA INNOTATA)

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

III. METODE PENELITIAN. Suka Jaya, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat. Identifikasi

I. TINJAUAN PUSTAKA. Setothosea asigna, Setora nitens, Setothosea bisura, Darna diducta, dan, Darna

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Oktober 2014 di

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and

Christina Oktora Matondang, SP dan Muklasin, SP

Pemanfaatan Pestisida Nabati dan Agensia Hayati untuk Pengendalian Hama Kakao

III. BAHAN DAN METODE. Sampel tanah diambil dari daerah di sekitar risosfer tanaman nanas di PT. Great

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Persiapan tanaman uji, tanaman G. pictum (kiri) dan tanaman A. gangetica (kanan)

VIRULENSI BEBERAPA ISOLAT METARHIZIUM ANISOPLIAE TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) di LABORATORIUM

Upaya pengendalian Hama pengerek batang (Lophobaris piperis Marsh.) Tanaman lada dengan menggunakan jamur. Beauveria bassiana. Oleh ;Umiati.

METODE Lokasi dan Waktu Materi Alat dan Bahan Rancangan percobaan Perlakuan Model

EFEKTIVITAS KOMPONEN PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (PBK) TERHADAP TINGKAT SERANGAN PBK DI KABUPATEN KEPAHIANG PENDAHULUAN

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

Gambar 1. Nimfa Helopeltis spp Sumber: Atmadja (2003) Gambar 2. Imago betina Helopeltis spp Sumber: Atmadja (2003)

BAHAN DAN METODE. Pembiakan P. fluorescens dari Kultur Penyimpanan

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan bahan pangan pokok terutama ketergantungan masyarakat yang besar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Isolat M. anisopliae pada Berbagai Konsentrasi terhadap

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun morfologi tanaman tembakau adalah: Tanaman tembakau mempunyai akar tunggang terdapat pula akar-akar serabut

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut pengamatan para ahli, kedelai (Gycines max L. Merril) merupakan tanaman

BAHAN DAN METODE. Bahan

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH MINYAK JAHE MERAH, PALA DAN SELASIH TERHADAP Helopeltis antonii Sign PADA INANG ALTERNATIF

I. TINJAUAN PUSTAKA. Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berbentuk pohon yang berasal

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

III. METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di green house milik UMY dan Laboratorium

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,

PATOLOGI SERANGGA (BI5225)

RINGKASAN HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan

BAHAN DAN METODE Bahan Waktu dan Tempat Penelitian Rancangan Percobaan ProsedurPenelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup S. litura berkisar antara hari (lama stadium telur 2 4

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

EVALUASI PEMANFAATAN FORMULA PESTISIDA NABATI CENGKEH DAN SERAI WANGI UNTUK PENGENDALIAN BUSUK RIMPANG JAHE >50%

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyiapan tanaman uji

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae)

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB I PENDAHULUAN. polifagus. Pada fase larva, serangga ini menjadi hama yang menyerang lebih dari

Gambar 1 Tanaman uji hasil meriklon (A) anggrek Phalaenopsis, (B) bunga Phalaenopsis yang berwarna putih

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Patogen serangga adalah mikroorganisme infeksius yang membuat luka atau

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) Menurut Kalshoven (1981) hama Penggerek Buah Kopi ini

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Hama Conopomorpha cramerella (Lepidoptera: Gracillariidae)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tanaman akan tumbuh subur dengan seizin Allah SWT. Jika Allah tidak

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tanaman Fakultas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dan

BAB III METODE PENELITIAN. (BALITTAS) Karangploso Malang pada bulan Maret sampai Mei 2014.

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

Ketersediaan klon kakao tahan VSD

BUDIDAYA DURIAN PENDAHULUAN

PENCAMPURAN MEDIA DENGAN INSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN HAMA Xyleborus morstatii Hag. PADA BIBIT ULIN ( Eusideroxylon zwageri T et.

HAMA PENYAKIT UTAMA TANAMAN KOPI

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Bahan Alat Rancangan Percobaan Yijk ijk

Transkripsi:

PEMANFATAN JAMUR PATOGEN SERANGGA DALAM PENANGGULANGAN Helopeltis antonii DAN AKIBAT SERANGANNYA PADA TANAMAN JAMBU METE Tri Eko Wahyono 1 Dalam sistem pengendalian hama terpadu (PHT), pengenalan terhadap jenis dan biologi hama sasaran diperlukan sebagai dasar penyusunan taktik pengendalian. Tindakan pengendalian hama dilaksanakan sesuai dengan hasil monitoring populasi dan hanya dilakukan bila populasi hama melampaui padat populasi kritis yang ditentukan, serta mengutamakan pelestarian dan pemanfaatan musuh alami yang ada di alam. Penggunaan insektisida kimia sintetis diupayakan sebagai pilihan terakhir dan sedapat mungkin dipilih jenis insektisida serta teknik aplikasi yang paling aman bagi lingkungan khususnya untuk kelangsungan hidup parasitoid dan predator. Beberapa mikroorganisme baik bakteri, jamur maupun virus telah diketahui dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama serta terbukti aman bagi parasitoid dan predator suatu hama. Jamur entomopatogenik Beauveria bassiana (Bals) Vuill. telah dikenal oleh para praktisi di lapangan memiliki potensi untuk mengendalikan beberapa jenis hama di perkebunan termasuk Helopeltis sp. (Darmono dan Gunawan 1999). B. bassiana adalah jamur yang umum dijumpai di tanah dan dapat ditemukan di seluruh dunia. Entomopatogen ini diketahui dapat menyerang beberapa jenis hama penting di antaranya whiteflies, aphids, belalang, rayap, Colorado potato beetle, Mexican bean beetle, Japanese beetle, boil weevil, cereal leaf beetle, bark beetle, lygus bugs, semut api, penggerek jagung Eropa, codling moth, dan Douglas fir tussock moth (Steinhaus 1949). Di Indonesia B. bassiana telah dibuktikan mampu menyerang dan mematikan Helopeltis antonii (Sudarmadji dan Gunawan 1994). Hasil penelitian Sulistyowati et al. (2002) menunjukkan bahwa penggunaan B. bassiana secara terusmenerus pada pertanaman kakao tidak berpengaruh buruk terhadap musuh alami maupun serangga berguna lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan strain B. bassiana dan perekat perata yang efektif dalam mengendalikan H. antonii. 1 Teknisi Litkayasa Lanjutan pada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111, Telp. (0251) 321879, Faks. (0251) 327010 BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di laboratorium hama dan penyakit, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, pada bulan Desember 2003 sampai Maret 2004. Bahan yang digunakan adalah H. antonii yang telah dikembangbiakkan di laboratorium dan B. bassiana yang diperbanyak dengan media jagung. Dua isolat B. bassiana yang digunakan masing-masing berasal dari Jombang dan Leptocorisa sp. yang terinfeksi jamur tersebut. Dua strain jamur B. bassiana yang telah diperbanyak pada media jagung ditimbang 10 g kemudian ditambahkan air 1 liter dan dua jenis perekat perata masing-masing 0,2 ml. Perekat perata masing-masing mengandung bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat serta. Larutan tersebut selanjutnya disemprotkan pada tanaman jambu mete, ditunggu sampai tanaman tersebut kering, lalu dimasukkan imago H. antonii sebanyak 10 ekor pada masingmasing tanaman lalu dikurung dengan menggunakan kurungan yang terbuat dari kain kasa. Bibit tanaman jambu mete sebagai tanaman uji berumur 6 bulan dan pertumbuhannya seragam. Bibit merupakan hasil pembibitan di rumah kaca. yang diuji adalah lima kombinasi strain B. bassiana dan perekat perata (Tabel 1). Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alat semprot, tabung erlenmeyer, tabung reaksi, timbangan elektrik, pengaduk, kurungan kasa, stoples, autoclave yaitu alat sterilisasi media buatan untuk perbanyakan B. bassiana, jarum ose, serta laminar flow untuk menginokulasikan jamur B. bassiana pada media jagung. Tabel 1. kombinasi strain B. bassiana dan perekat perata yang diuji di laboratorium Balittro, Bogor, 2003/2004 Kode A B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan B B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan C B. bassiana strain Leptocorisa + perekat perata bahan D B. bassiana strain Leptocorisa + perekat perata bahan E Kontrol (tanpa B. bassiana dan tanpa perekat perata) Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006 17

Parameter yang diamati dan diukur adalah tingkat kematian H. antonii setelah aplikasi dengan jamur B. bassiana dan tingkat serangan H. antonii pada bibit jambu mete. Tingkat kematian H. antonii dihitung dengan rumus sebagai berikut: a P = x 100% b P = persentase kematian a = jumlah serangga yang mati b = jumlah serangga yang diamati Tingkat serangan H. antonii pada bibit jambu mete diketahui berdasarkan pertumbuhan vegetatif yang meliputi: (a) tinggi tanaman, diukur dari leher akar sampai dengan titik tumbuh, (b) diameter batang, diukur 5 cm di atas pangkal batang dengan menggunakan jangka sorong/sigmat, dan (c) jumlah daun yang tumbuh. Tabel 2. Tingkat kematian Helopeltis antonii pada beberapa perlakuan Beauveria bassiana dan jenis-jenis perekat perata, laboratorium Balittro, Bogor, 2003/2004 Tingkat kematian H. antonii (%) Perlakukan pada pengamatan hari ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 A 0 18 22 22 22 34 38 56 58 80 B 0 12 28 28 36 40 40 46 62 78 C 0 8 10 16 40 48 58 62 78 90 D 0 2 2 12 16 28 42 60 80 88 E 0 0 0 0 4 4 8 8 8 38 E = Kontrol (tanpa B. bassiana dan tanpa perekat perata) HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kematian H. antonii Hasil pengamatan terhadap persentase mortalitas H. antonii menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan agen hayati dan kontrol. Mortalitas imago mulai terjadi pada hari kedua setelah infestasi. Rata-rata persentase mortalitas tertinggi dijumpai pada perlakuan B. bassiana strain Jombang yang ditambah perekat dengan bahan aktif (18%), diikuti oleh B. bassiana strain Jombang yang ditambah perekat dengan bahan (12%) dan B. bassiana strain Leptocorisa sp. ditambah perekat dengan bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat (8%) (Tabel 2). Pada pengamatan hari ke-3, 4, dan 5 terdapat perbedaan nyata antara perlakuan dan kontrol. Rata-rata persentase mortalitas tertinggi dijumpai pada perlakuan B. bassiana strain Jombang yang ditambah dengan perekat perata dengan bahan masing-masing 28%, 28%, dan 36%. Pada perlakuan kontrol, mortalitas H. antonii mulai terjadi pada hari ke-5 dengan tingkat kematian sebesar 4%, sedangkan pada perlakuan B. bassiana strain Jombang ditambah perekat bahan tidak berbeda nyata dengan perlakuan B. bassiana strain Leptocorisa sp. ditambah perekat dengan bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat masing-masing 36% dan 40%. Hasil percobaan ini bertentangan dengan pendapat Rosmahani et al. (2002) yang menyatakan bahwa penggunaan B. bassiana yang dicampur dengan perekat perata dengan bahan aktif alkil anil poliglikol eter memberikan pengaruh yang cukup tinggi dalam mengendalikan hama penggerek buah kopi daripada yang dicampur dengan perekat perata yang mengandung bahan. Pada pengamatan hari ke-6 dan 7 ada perbedaan nyata antara perlakuan dan kontrol. B. bassiana strain Leptocorisa sp. ditambah perekat dengan bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat memberikan tingkat mortalitas H. antonii berturut-turut 48% dan 58%, sedangkan pada perlakuan B. bassiana strain Jombang ditambah perekat perata dengan bahan tingkat mortalitas H. antonii sebesar 34%. Hasil penelitian Atmadja et al. (2001) menunjukkan B. bassiana asal Jombang mampu menyebabkan kematian pada imago H. antonii sebesar 94-98%, dan 86-92% bila B. bassiana diaplikasikan pada pakan. Pada hari ke-8, 9, dan 10, tingkat kematian H. antonii tidak berbeda di antara perlakuan kecuali kontrol. Pada perlakuan kontrol, tingkat kematian H. antonii lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Tingkat kematian H. antonii tertinggi pada hari ke-10 terdapat pada perlakuan B. bassiana strain Leptocorisa sp. ditambah dengan perekat perata dengan bahan yaitu 90%, sedangkan kontrol hanya 38%. Sulistyowati et al. (2003) menyatakan bahwa perlakuan B. bassiana dengan menggunakan perekat perata yang mengandung alkil aril alkoksilat dan asam oleat dapat mematikan hama penggerek buah kopi sebesar 100%. 18 Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006

Identifikasi serangga yang mati oleh B. bassiana dilakukan dengan cara mengumpulkan serangga yang mati pada cawan petri agar miselia jamur tumbuh pada tubuh serangga tersebut. Kematian serangga H. antonii akibat B. bassiana terlihat setelah tiga hari dengan munculnya hifa di seluruh tubuhnya (Gambar 1). Semua strain B. bassiana dapat mematikan H. antonii dengan tingkat keefektifan pengendalian yang sebanding. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan tingkat keefektifan dua jenis strain B. bassiana yang berbeda dengan perekat perata, yang diaplikasi terhadap H. antonii pada bibit jambu mete. Tingkat Serangan H. antonii pada Tanaman Jambu Mete Serangan H. antonii pada bibit jambu mete cukup tinggi, sekitar 43,27-67,4% (Gambar 2). Terdapat perbedaan nyata antara kontrol dengan perlakuan pemberian B. bassiana ditambah dengan perekat perata. B. bassiana ditambah perekat perata menunjukkan hasil yang tidak berbeda pada semua perlakuan. Hal ini disebabkan imago H. antonii terlihat aktif menyerang tanaman sewaktu B. bassiana diinfestasikan. Tingginya tingkat serangan H. antonii pada kontrol disebabkan imago masih dapat bertahan hidup pada hari ke-4 setelah aplikasi, sedangkan pada perlakuan pemberian B. bassiana dan perekat perata kematian serangga sudah terlihat pada hari kedua. Tanaman yang terserang menunjukkan gejala kerusakan pada tunas-tunas daun muda, tangkai daun terdapat bercakbercak hitam tidak merata, daun dan ranting mengering dan diikuti dengan gugurnya daun (Gambar 3). Pada tanaman teh, H. antonii menyerang bagian pucuk dan mampu menurunkan produksi 97,6% selama 8 minggu (Dharmadi 1990). Hasil pengamatan Wiratno et al. (1996) di pembibitan menunjukkan Kerusakan tanaman jambu mete (%) E = Kontrol (tanpa B. bassiana dan tanpa perekat perata) Gambar 2. 80 60 40 20 0 48,86 43,27 50,42 48,86 67,4 Persentase kerusakan tanaman jambu mete akibat serangan H. antonii, laboratorium Balittro, Bogor, 2003/ 2004 Gambar 1. Imago H. antonii yang terinfeksi B. bassiana, laboratorium Balittro, Bogor, 2003/2004 Gambar 3. Serangan H. antonii pada pucuk bibit jambu mete, laboratorium Balittro, Bogor, 2003/2004 Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006 19

bahwa sebelum menyerang pucuk, nimfa instar 1 dan 2 menyerang daun muda terlebih dahulu. Kerusakan yang disebabkan oleh H. antonii ada dua macam, yaitu daun dan pucuk muda berwarna coklat kemudian mengering dan akhirnya mati, serta adanya bekas tusukan pada batang muda yang dapat memacu infeksi patogen lain. Adhi et al. (2000) menyatakan bahwa kombinasi antara H. antonii dengan jamur Pestaloiopsis desseminata mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih parah dibandingkan dengan kerusakan akibat serangan sendiri-sendiri. Dengan demikian, luka terutama pada bagian pucuk akibat tusukan H. antonii dapat menjadi tempat infeksi jamur P. desseminata. Pertumbuhan Daun Setelah Infestasi H. antonii Tanaman yang terserang oleh H. antonii ternyata dapat tumbuh kembali, terlihat dengan munculnya tunas-tunas baru. Tunas-tunas yang baru tumbuh terlihat pada semua perlakuan. Rata-rata daun yang terbentuk pada setiap perlakuan adalah 1,6-2,6 helai daun tiap tanaman (Gambar 4). Pengamatan pada 4 minggu setelah infestasi H. antonii menunjukkan perlakuan B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan dan B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan aktif memiliki tingkat pertumbuhan daun baru rata-rata 2,6 helai daun, sedangkan perlakuan B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat dan B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan masingmasing 2,2 dan 2 helai daun/tanaman, sedangkan kontrol 1,6 helai daun. Pada serangan berat, tanaman tidak dapat membentuk tunas baru. Wiratno dan Wikardi (1994) menyatakan bahwa satu tusukan pada titik tumbuh dapat menyebabkan kematian pucuk tanaman. Walaupun terdapat tusukan H. antonii pada bagian atas, tengah dan bawah, bila titik tumbuh tidak terserang maka ranting tersebut masih dapat tumbuh dan berkembang. Namun, secara agronomis hal ini sangat merugikan karena banyak daun-daun yang tidak terkena sinar matahari langsung sehingga akan menurunkan produktivitas tanaman. Menurut Ohler (1979), keadaan ini akan menyebabkan pertumbuhan tanaman cenderung berkembang ke samping sehingga tajuk tanaman akan bersentuhan dengan tajuk tanaman di sebelahnya. Rata-rata pertumbuhan daun (helai) 30 25 20 15 10 5 0 E = Kontrol (tanpa B. bassiana dan perekat perata) Gambar 4. Sebelum terserang Setelah terserang Pemulihan Rata-rata pertumbuhan daun jambu mete setelah infestasi H. antonii Diameter Batang Pengamatan terhadap diameter batang pada 4 minggu setelah aplikasi menunjukkan adanya perbedaan dari masing-masing perlakuan. Rata-rata diameter batang tertinggi terlihat pada perlakuan B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan sebesar 0,8 mm, sedangkan diameter terkecil pada perlakuan kontrol yaitu 0,72 mm. Diameter batang pada perlakuan B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat, B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan, dan B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan aktif alkil gliserol ftalat berturut-turut adalah 0,79; 0,77; dan 0,74 mm (Gambar 5). Serangan hama pada bibit tanaman mempengaruhi perkembangan tanaman. Tinggi Tanaman Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada 4 minggu setelah aplikasi. Pada kontrol tidak ada pertambahan tinggi tanaman akibat tingginya serangan H. antonii. Pertambahan tinggi tanaman terlihat pada perlakuan B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan aktif alkil aril alkoksilat dan asam oleat, B. bassiana strain Jombang + perekat perata bahan 20 Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006

Diameter batang (mm) 0,82 0,82 0,80 0,78 0,76 0,74 0,72 0,70 0,68 Sebelum terserang Setelah terserang E = Kontrol (tanpa B. bassiana dan perekat perata) Tinggi tanaman (cm) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sebelum terserang Setelah terserang aktif alkil aril alkoksilat dan as am oleat E = Kontrol (tanpa B. bassiana dan perekat perata) Gambar 5. Rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman jambu mete, Balittro, Bogor, 2003/2004 Gambar 6. Rata-rata tinggi tanaman jambu mete pada awal dan sesudah perlakuan, Balittro, Bogor, 2003/2004, B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan, dan B. bassiana strain Leptocorisa sp. + perekat perata bahan berturut-turut sebesar 0,2; 0,06; 0,2; dan 0,4 cm (Gambar 6). KESIMPULAN B. bassiana strain Jombang dan Leptocorisa sp. dan dua jenis perekat perata yang digunakan mempunyai efektivitas yang sama dalam menekan atau mematikan H. antonii pada bibit jambu mete. Pemberian jamur B. bassiana dan perekat perata dapat menurunkan populasi hama serta mengurangi tingkat kerusakan pada tanaman. Dengan demikian kedua strain jamur B. bassiana tersebut dapat digunakan untuk mengendalikan H. antonii di lapang dengan dosis dan waktu penyemprotan yang tepat. Pembentukan tunas baru dan daun masih dapat terjadi 4 minggu setelah infestasi H. antonii pada perlakuan B. bassiana. Tanpa perlakuan B. bassiana, tanaman mati karena tingkat serangan H. antonii yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA Adhi, E., M. Supriadi, S. Rahayuningsih, D. Kilin, dan N. Nuryani. 2000. Pestaliopsis desseminata pada jambu mete, biologi dan interaksinya dengan Helopeltis antonii. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 6(3): 66-72. Atmaja, W.R., T.E. Wahyono, T.H. Savitri, dan E. Karmawati. 2001. Keefektifan Beauveria bassiana terhadap Helopeltis antonii SIGN. Prosiding Seminar Nasional III Pengelolaan Serangga yang Bijaksana Menuju Optimasi Produksi. Bogor, 6 November 2001. Perhimpunan Entomologi Indonesia, Bogor. hlm. 179-186. Darmono, T.W. dan S. Gunawan. 1999. Alih teknologi pengembangan dan aplikasi Beauveria bassiana untuk pengendalian Helopeltis sp. di beberapa perkebunan di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peranan Entomologi dalam Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan dan Ekonomis. Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Bogor. hlm. 797-804. Dharmadi, A. 1990. Faktor penyebab peningkatan populasi serangga hama Helopeltis antonii Signoret di perkebunan teh. Prosiding Simposium Teh V, Bandung, 27 Februari-1 Maret 1990. hlm. 173-188. Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Bandung. Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006 21

Ohler, J.G. 1979. Cashew. Communication 71, Departemen of Agricultural Research, Kolningljk Institute, V.D. Tropen, Amsterdam. 25 pp. Rosmahani L., E. Korlina, dan D. Rachmawati. 2002. Keefektifan beberapa strain Beauveria bassiana terhadap penggerek buah kopi. Risalah Simposium Nasional Penelitian PHT Perkebunan Rakyat. Pengembangan dan Implementasi PHT Perkebunan Rakyat berbasis Agribisnis. Bogor, 17-18 September 2002. Bagian Proyek PHT Perkebunan, Bogor. hlm. 213-220. Steinhaus, E.A. 1949. Principles of Insect Pathology. Mc Graw Hill Book Company, New York, Toronto, London. p. 757-770. Sudarmadji, D. dan S. Gunawan. 1994. Patogenisitas fungi entomopatogen Beauveria bassiana terhadap Helopeltis antonii. Menara Perkebunan 62: 1-5. Sulistyowati, E., Y.D. Junianto, Sri-Sukamto, S. Wiryadiputra, L. Winarto, dan N. Primawati. 2002. Analisis status penelitian dan pengembangan PHT pada pertanaman kakao. Risalah Simposium Nasional Penelitian PHT Perkebunan Rakyat "Pengembangan dan Implementasi PHT Perkebunan Rakyat Berbasis Agribisnis", Bogor, 17-18 September 2002. Bagian Proyek PHT Perkebunan, Bogor. hlm. 251-264. Sulistyowati, E., Mufrihati, dan Baharudin. 2003. Pengkajian efektifitas beberapa agens hayati untuk mengendalikan hama penggerek buah kakao (PBK). Laporan Hasil Penelitian 2003. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember. Wiratno dan E.A. Wikardi. 1994. Pengaruh tusukan Helopeltis antonii terhadap pertumbuhan ranting jambu mete. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat IX(2): 103-105. Wiratno, E.A. Wikardi, I.M. Trisawa, dan Siswanto. 1996. Biologi Helopeltis antonii (Hemiptera: Miridae) pada tanaman jambu mete. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 7(1): 36-42. 22 Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006