TINJAUAN PUSTAKA Klasifkasi Kambing

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Kambing. Klasifikasi Kambing. Filum : Chordota (Hewan Tulang Belakang) Kelas : Mamalia (Hewan Menyusui)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia kecil yang telah

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Domba Domba Lokal Indonesia Domba Ekor Tipis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan kambing tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (tipe

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang dengan kambing Ettawa. Kambing Jawarandu merupakan hasil

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk dalam ordo artiodactyla, sub ordo

UKURAN DAN BENTUK TUBUH KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWAH DI PETERNAKAN DOA ANAK YATIM FARM DAN CORDERO FARM SKRIPSI R.

II. TINJAUAN PUSTAKA. berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi Sapi. Sapi Bali

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dengan populasi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Domba Domba Garut

TINJAUAN PUSTAKA Kabupaten Kaur, Bengkulu. Gambar 1. Peta Kabupaten Kaur

LAPORAN SEMENTARA ILMU PRODUKSI TERNAK POTONG PENGENALAN BANGSA-BANGSA TERNAK

TINJAUAN PUSTAKA Kuda

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk Ordo Artiodactyla, Subordo

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TANGGAL : 30 Januari 2008

MATERI DAN METODE. Tabel 2. Jumlah Kambing Peranakan Etawah yang Diamati Kondisi Gigi. Jantan Betina Jantan Betina

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1055/Kpts/SR.120/10/2014 TENTANG

KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkuku genap dan termasuk sub-famili Caprinae dari famili Bovidae. Semua

TINJAUAN PUSTAKA Bangsa-Bangsa Sapi

BANGSA-BANGSA KAMBING PERAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan adalah ternak kambing. Kambing merupakan ternak serba guna yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang, kambing Peranakan Etawa (PE) dan kambing Kejobong

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. merupakan ruminansia yang berasal dari Asia dan pertama kali di domestikasi

KAMBING. Oleh : Tatok Hidayatul Rohman. Linnaeus, 1758

POTENSI KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK KAMBING LOKAL INDONESIA

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi. oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa

KAJIAN KEPUSTAKAAN. terdiri atas dua sub spesies yaitu kerbau liar dan kerbau domestik. Kerbau

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 359/Kpts/PK.040/6/2015 TENTANG PENETAPAN RUMPUN KAMBING SABURAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

II. TINJAUAN PUSTAKA. (Chen et al., 2005). Bukti arkeologi menemukan bahwa kambing merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Persebaran Kambing Peranakan Ettawah (PE) galur lainnya dan merupakan sumber daya genetik lokal Jawa Tengah yang perlu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu (Bligon) merupakan kambing hasil persilangan antara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak Kambing. penghasil daging, susu, maupun keduanya (dwiguna) dan kulit. Kambing secara

KAJIAN PUSTAKA. (Ovis amon) yang berasal dari Asia Tenggara, serta Urial (Ovis vignei) yang

TINJAUAN PUSTAKA Kambing Kambing Perah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nutfah (Batubara dkk., 2014). Sebagian dari peternak menjadikan kambing

BAB III MATERI DAN METODE sampai 5 Januari Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, meliputi

MATERI DAN METODE. Tabel 3. Jumlah Kuda Delman yang Diamati pada Masing-masing Lokasi

TINJAUAN PUSTAKA. Qurban

Barat pada kurun waktu SM. Jadi sebagai ternak, kambing lebih tua

TINJAUAN PUSTAKA. Penggolongan sapi ke dalam suatu bangsa (breed) sapi, didasarkan atas

PENDAHULUAN. meningkat dari tahun ke tahun diperlihatkan dengan data Badan Pusat Statistik. menjadi ekor domba pada tahun 2010.

TINJAUAN PUSTAKA. Kambing

MATERI DAN METODE. Tabel 1. Jumlah Kuda Delman Lokal Berdasarkan Lokasi Pengamatan. Kuda Jantan Lokal (ekor) Minahasa

TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat Indonesia. Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2841/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN SAPI PERANAKAN ONGOLE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMOTONGAN TERNAK (KAMBING)

KAJIAN KEPUSTAKAAN. (Integrated Taxonomic Information System) adalah sebagai berikut :

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Domba Ekor Tipis

TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari pulau Bali. Asal usul sapi Bali ini adalah banteng ( Bos

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan

BANGSA-BANGSA KERBAU PERAH

Pada kondisi padang penggembalaan yang baik, kenaikan berat badan domba bisa mencapai antara 0,9-1,3 kg seminggu per ekor. Padang penggembalaan yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi

TINJAUAN PUSTAKA. sangat populer di kalangan petani di Indonesia. Devendra dan Burn (1994)

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

TEKNIK PEMILIHAN BIBIT KAMBING DAN DOMBA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak Kambing. ini maka pengembangan usaha peternakan skala kecil perlu mendapat perhatian

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. terutama untuk daerah pedalaman pada agroekosistem rawa dengan kedalaman air

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk yang secara turun-temurun dikembangkan masyarakat di

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performans Bobot Lahir dan Bobot Sapih

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan kambing Kacang (Devendra dan Burns, 1983). Menurut tipenya, rumpun

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Lokal Ayam Kampung

KAJIAN KEPUSTAKAAN. (tekstil) khusus untuk domba pengahasil bulu (wol) (Cahyono, 1998).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi yang menyebar di berbagai penjuru dunia terdapat kurang lebih 795.

KARAKTERISASI MORFOLOGI DOMBA ADU

TINJAUAN PUSTAKA. Populasi sapi bali di Kecamatan Benai sekitar ekor (Unit Pelaksana

dan sapi-sapi setempat (sapi Jawa), sapi Ongole masuk ke Indonesia pada awal

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Usaha diversifikasi pangan dengan memanfaatkan daging kambing

TINJAUAN PUSTAKA Kambing Kambing Etawah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Susilorini, dkk (2010) sapi Bali memiliki taksonomi

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2389/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN DOMBA SAPUDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

TINJAUAN PUSTAKA Kurban Ketentuan Hewan Kurban

EKTERIOR, PENENTUAN UMUR, PENANDAAN, PENDUGAAN BOBOT BADAN DAN EVALUASI TERNAK POTONG. Oleh: Suhardi, S.Pt.,MP

TINJAUAN PUSTAKA. Sumber: Kuswardani (2012) Gambar 1. Ayam Ketawa Jantan (A), Ayam Pelung Jantan (B) Sumber: Candrawati (2007)

Fahrul Ilham ABSTRAK PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA Domba

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer

KAJIAN KEPUSTAKAAN. merupakan hewan pegunungan hidup dilereng-lereng yang curam yang meiliki

SNI 7325:2008. Standar Nasional Indonesia. Bibit kambing peranakan Ettawa (PE)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Penetapan Lokasi Penentuan Umur Domba

TINJAUAN PUSTAKA Asal Usul dan Klasifikasi Domba Bangsa Domba di Indonesia

Grade Kambing Peranakan Ettawa pada Kondisi Wilayah yang Berbeda

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerbau lokal betina

BAB VIII PEMBIBITAN TERNAK RIMINANSIA

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Sumber Daya Genetik Ternak dari Jawa Barat, yaitu dari daerah Cibuluh,

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. betina dengan kambing Etawah jantan. Berdasarkan tipe kambing PE digolongkan

Gambar 1. Ayam Kampung Betina dan Ayam Kampung Jantan

Tugas Mata Kuliah Agribisnis Ternak Potong (Peralatan Untuk Perawatan Ternak Potong, Pemotongan Kuku, Memilih Sapi Bibit Peranakan Ongole) Oleh

I PENDAHULUAN. Kuda merupakan mamalia ungulata yang berukuran paling besar di

Hubungan antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan kambing Peranakan Etawah jantan di Kabupaten Klaten

II. TINJAUAN PUSTAKA. dibedakan dari bangsa lain meskipun masih dalam spesies. bangsa sapi memiliki keunggulan dan kekurangan yang kadang-kadang dapat

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi perah mempunyai

TINJAUAN PUSTAKA. Domba

Transkripsi:

TINJAUAN PUSTAKA Klasifkasi Kambing Kambing diklasifikasikan ke dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; subfilum Vertebrata; kelas Mammalia; ordo Artiodactyla; sub-ordo Ruminantia; familia Bovidae; sub-familia Caprinae, genus Capra dan spesies Capra hircus (Myers et al., 2012). Kambing (Capra aegagrus hircus) adalah sub-spesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa (Batubara, 2007). Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Tanduk pada kambing jantan lebih besar dibandingkan betina. Umumnya kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar adalah 1,3-1,4 m. Bobot kambing betina 50-55 kg, sedangkan jantan dapat mencapai 120 kg. Kambing liar menyebar dari Spanyol ke arah timur sampai India dan dari India ke utara sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukai adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu. Kambing sudah dibudidayakan manusia sekitar 8.000-9.000 tahun yang lalu. Kambing hidup berkelompok 5-20 ekor di habitat aslinya (Batubara, 2007). Davendra dan Burn (1994) melaporkan jumlah kromososm dan sifat reproduksi kambing secara umum. Davendra dan Burn (1994) melaporkan jumlah kromosom dan sifat reproduksi kambing secara umum. Hal tersebut disajikan pada Tabel 1. Table 1. Peubah Reproduksi Ternak Kambing Peubah Jumlah kromosom (buah) Umur pubertas (bulan) Panjang siklus estrus (hari) Lama estrus (jam) Terjadinya ovulasi (jam) Jumlah ovum persiklus (buah) Lama kebuntingan (hari) Sumber: Davendra dan Burn (1994) Kambing 60 5-7 20-21 24-48 24-36 2-3 149 3

Kambing Perah Menurut Atabany (2001), kambing perah merupakan jenis kambing yang dapat memproduksi susu dengan jumlah melebihi kebutuhan anaknya. Kambing perah yang biasa dipelihara adalah kambing lokal seperti kambing Etawah, Peranakan Etawah (PE) dan Jawarandu yang merupakan bangsa kambing perah tropis. Kambing Etawah merupakan keturunan dari kambing Jamnapari. Sifat perah kambing Jamnapari sangat baik dan juga sering dipelihara sebagai penghasil daging. Davendra dan Burn (1994) menyatakan bahwa kambing Etawah digunakan secara luas untuk meningkatkan mutu kambing asli di Malaysia dan Indonesia untuk tujuan produksi susu dan daging. Produksi susu kambing Etawah sekitar 235 kg selama masa laktasi 261 hari. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Etawah dan kambing Kacang (Heryadi, 2004). Heryadi (2004) lebih lanjut menjelaskan bahwa kambing PE termasuk bangsa kambing tipe dwiguna, sebagai penghasil daging dan susu. Kambing PE betina memiliki kemampuan menghasilkan susu yang cukup baik, rata-rata 1,2 l/ekor/hari selama fase 70 hari pertama laktasi atau 2-3 l/ekor/hari pada masa laktasi lebih dari 150 hari. Kambing Etawah Kambing Etawah merupakan bangsa kambing penghasil susu yang paling populer di India dan Asia Tenggara. Kambing Etawah berukuran besar, bertelinga panjang dan berasal dari daerah sekitar sungai Gangga, Jumna dan Chambal di India. Etawah diambil dari tempat dimana Kambing Etawah dipelihara di distrik Etawah provinsi Pradesh Utara (Davendra dan Burn, 1994). Kambing Etawah selain sebagai ternak perah, juga sering dipelihara sebagai penghasil daging. Kambing Etawah memiliki berbagai warna, termasuk warna putih, merah coklat dan hitam. Telinga kambing Etawah sekitar 30 cm. Ambing berkembang dengan baik dan memiliki profil muka cembung dan biasanya bertanduk pendek seperti pedang lengkung yang cembung yang menunjukkan kemungkinan memiliki hubungan darah dengan bangsa kambing tipe Nubia di Timur Tengah sebagai moyangnya. Kambing jantan berbobot sekitar 68-91 kg dan betina 36-63 kg dengan tinggi tanduk masing-masing jenis kelamin 91-127 dan 76-107 cm (Davendra dan Burn, 1994). 4

Kambing Kacang Menurut Davendra dan Burn (1994), kambing Kacang merupakan kambing asli Malaysia dan Indonesia. Kambing kacang mampu beradaptasi baik dengan lingkungan tempat hidup. Kambing Kacang biasa digunakan sebagai penghasil daging. Kambing Kacang memiliki kulit yang relatif tipis dengan bulu kasar. Kambing kacang berwarna hitam, terkadang terdapat bercak-bercak putih. Tanduk berbentuk pedang, melengkung ke atas dan ke belakang yang tumbuh dengan baik pada jantan dan betina. Telinga berbentuk pendek dan tegak. Leher pendek dan punggung melengkung sedikit yang berukuran lebih tinggi daripada bahu. Tinggi gumba kambing Kacang jantan sekitar 60-65 cm dan betina 56 cm. Jantan dan betina dewasa masing-masing berbobot sekitar 25 dan 20 kg. Kambing kacang lambat mencapai dewasa kelamin. Betina beranak pertama kali pada umur 12-13 bulan (Davendra dan Burn, 1994). Ciri-ciri kambing Kacang adalah memiliki bulu pendek dan berwarna tunggal (putih, hitam atau coklat), tetapi ditemukan juga campuran ketiga warna tersebut. Kambing jantan maupun betina memiliki tanduk berbentuk pedang, melengkung ke atas sampai ke belakang. Telinga pendek dan menggantung. Janggut selalu terdapat pada jantan, sementara pada betina jarang ditemukan. Leher pendek dan punggung melengkung. Kambing jantan berbulu surai panjang dan kasar sepanjang garis leher, pundak, punggung sampai ekor (Pamungkas et al., 2009). Setiadi et al. (1997) menyatakan bahwa ukuran kambing Kacang betina dewasa adalah rataan panjang badan 50,33 ± 6,72 cm, tinggi pundak 52,00 ± 7,38 cm, tinggi pinggul 58,40 ± 1,67 cm, lingkar dada 64,77 ± 5,80 cm dan lebar dada 14,00 ± 2,49 cm. Kambing Peranakan Etawah (PE) Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing hasil persilangan antara kambing lokal Indonesia dan kambing dari India, yaitu antara kambing Kacang dan kambing Etawah, sehingga memiliki sifat diantara kedua kambing tersebut (Atabany, 2001). Kambing PE merupakan tipe dwiguna, penghasil susu dan daging (Davendra dan Burn, 1994). Kambing PE merupakan hasil persilangan grading up antara kambing Kacang dengan kambing Etawah. Sebagian kambing PE mempunyai sifat mendekati kambing Etawah dan sebagian sifat lainnya mendekati kambing Kacang (Atabany, 2001). Ciri khas kambing PE yaitu bentuk muka 5

cembung, telinga panjang menggantung dengan postur tubuh tinggi, panjang dan agak ramping (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2007). Berat tubuh bangsa kambing PE dewasa sekitar 27,11-41,71 kg (Kostaman dan Sutama, 2012). Standar Nasional Indonesia (2008) menyatakan rataan bobot badan kambing PE jantan pada kondisi gigi I 0 berkisar 24-34 kg, kondisi gigi I 1 berkisar 31-49 kg dan kondisi gigi I 3 -I 4 berkisar 43-65 kg, sedangkan rataan bobot badan kambing PE betina pada kondisi gigi I 0 berkisar 17-27 kg, kondisi gigi I 1 berkisar 28-40 kg dan kondisi gigi I 3 -I 4 berkisar 34-48 kg. Batubara et al. (2006) menyatakan bahwa ciri khas kambing PE yaitu memiliki bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, terdapat gelambir di bawah leher yang tumbuh berawal dari sudut janggut. Kambing ini bertelinga panjang, lembek menggantung dengan ujung agak berlipat, memiliki ujung tanduk agak melengkung, bertubuh tinggi dan pipih, memiliki bentuk garis punggung yang mengombak ke belakang. Kambing ini memiliki bulu yang tumbuh panjang pada bagian leher, pundak, punggung dan paha. Bulu paha kambing ini panjang dan tebal dengan warna bulu tunggal yang jarang ditemukan seperti putih, hitam atau coklat. Warna bulu kebanyakan terdiri atas 2-3 pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat dan putih bertotol hitam. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Kostaman dan Sutama (2012) kambing PE memiliki ciri khas antara lain daun telinga agak besar dan panjang terkulai ke bawah, hidung agak melengkung, bergelambir besar, tanduk kecil dan wajah cembung. Pertumbuhan Herren (2000) mendefinisikan pertumbuhan sebagai peningkatan ukuran atau volume dari makhluk hidup yang meliputi dua fase utama yaitu prenatal dan postnatal. Pertumbuhan prenatal terjadi sebelum hewan lahir, sedangkan postnatal setelah hewan lahir. Pertumbuhan cepat terjadi sejak hewan lahir sampai dewasa kelamin. Pertumbuhan hewan terjadi lambat setelah dewasa kelamin, tetapi pertumbuhan tulang dan otot pada saat itu telah berhenti. Menurut Prasetyo (1999), pola pertumbuhan suatu ternak yang berbeda dapat terjadi sebagai akibat perbedaan menejemen pemeliharaan. Perbedaan performa (fenotipik) tersebut menurut Noor (2008) disebabkan efek genetik dan lingkungan serta interaksi antara genetik dan lingkungan. 6

Soeparno (2005) menjelaskan bahwa ternak jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betina pada umur yang sama. Jantan memiliki testosteron salah satu steroid androgen, hormon pengatur pertumbuhan yang dihasilkan sel-sel interstistial dan kelenjar adrenal. Testosteron dihasilkan testis pada jantan, sehingga pertumbuhan ternak jantan dibandingkan betina lebih cepat terutama setelah sifatsifat kelamin sekunder muncul. Penelitian Zaman (1984) telah membuktikan bahwa keeratan hubungan ditemukan antara bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh pada ternak yang sedang tumbuh. Hanibal (2008) melaporkan bahwa keeratan hubungan antara skor ukuran dan bobot badan ditemukan positif pada domba persilangan Garut. Morfometrik Morfometrik diartikan sebagai suatu cara yang mencakup pengukuran bentuk atau suatu cara pengukuran yang memungkinkan sesuatu untuk diuji. Berdasarkan pengertian, maka terdapat dua komponen besar mengenai morfometrik, yaitu ukuran (size) dan bentuk (shape). Ukuran (size) dapat diartikan sebagai dimensi, besar, volume, ukuran relatif, sedangkan bentuk (shape) diartikan sebagai model, pola, karakteristik, sebagai pembeda penampilan eksternal (Biology Online Team, 2009). Campbell dan Lack (1985) juga menyatakan bahwa morfometrik merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau ukuran. Kusrini et al. (2009) juga menambahkan bahwa pengukuran secara morfometrik merupakan suatu metode yang lebih baik untuk membedakan bentuk tubuh pada ternak di dalam suatu populasi. Statistik Deskriptif dan T 2 -Hotelling Mattjik dan Sumertajaya (2002) menyatakan statistik deskriptif yang meliputi nilai tengah, ragam, simpangan baku dan koefisien keragaman. Gaspersz (1992) menyatakan bahwa statistik T 2 -Hotelling bertujuan untuk mendapatkan perbedaan vektor nilai rata-rata diantara dua populasi. Pengujian statistik ini dapat dilakukan secara bersamaan pada banyak variabel pengukuran. Pengujian lebih lanjut seperti Analisis Komponen Utama dan Analisis Diskriminan, dapat dilakukan apabila hasil T 2 -Hotelling diperoleh nyata. 7

Analisis Komponen Utama Gaspersz (1992) menyatakan bahwa Analisis Komponen Utama (AKU) atau Principal Component Analysis (PCA) bertujuan untuk menerangkan struktur ragamperagam melalui kombinasi linear dari sejumlah variabel. Analisis ini digunakan untuk menyederhanakan variabel yang diamati dengan cara menyusutkan (mereduksi) data dan menginterpretasikannya. Komponen utama pertama merupakan kombinasi linear terbobot variabel asal yang dapat menerangkan keragaman data dalam persentase (proporsi) terbesar. Komponen utama kedua adalah kombinasi linear terbobot variabel asal yang tidak berkorelasi dengan komponen utama pertama serta memaksimumkan sisa keragaman data setelah diterangkan komponen utama pertama. Keunggulan teknik komponen utama yaitu dapat mengatasi masalah multikoelinaritas dalam analisis regresi klasik yang melibatkan banyak variabel bebas (Gaspersz, 1992). Menurut Johnson dan Wichern (2007), hasil analisis ini dapat ditampilkan dalam diagram kerumunan berdasarkan skor komponen utama pertama dan skor komponen utama kedua. Nishida et al. (1982) dan Everitt dan Dunn (1998) menyatakan bahwa komponen utama pertama disetarakan dengan ukuran, sedangkan komponen utama kedua disetarakan dengan bentuk. Everitt dan Dunn (1998) juga menyatakan bahwa bentuk merupakan hal yang lebih diminati para ahli taksonomi. Bentuk secara genetis lebih diwariskan. 8