I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERCOBAAN I PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS : ASRAR RAHMAN S NIM : H HARI, TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS, 20 SEPTEMBER 2012

BERAT JENIS ZAT CAIR DAN ZAT PADAT

LAPORAN PRATIKUM FISIKA FARMASI PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS

PERCOBAAN I PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ORGANIK DAN FISIK FA2212

PERCOBAAN PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS : YUSI ANDA RIZKY NIM : H KELOMPOK : II ( DUA ) TGL PERCOBAAN : 22 FEBRUARI 2010

Nama Alat Fungsi Cara Kerja Alat Cara Membersihkan 1. Labu Ukur Untuk mengencerkan suatu larutan.

Blanching. Pembuangan sisa kulit ari

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

Nama Alat Fungsi Cara Kerja Alat Cara Membersihkan 1. Labu Ukur Untuk mengencerkan suatu larutan.

Penelitian ini akan dilakukan dengan dua tahap, yaitu : Tahap I: Tahap perlakuan awal (pretreatment step)

Kumpulan Laporan Praktikum Kimia Fisika PERCOBAAN VI

BAB I PENDAHULUAN. agar dapat diperoleh suatu produk farmasi yang baik.

Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas. Sehingga cairan mempuyai koefisien viskositas yang lebih besar daripada

LAPORAN PRATIKUM FISIKA FARMASI PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN

GEL. Pemerian Bahan. a. Glycerolum (gliserin)

Percobaan 1 PENGGUNAAN ALAT DASAR LABORATORIUM

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi:

BABffl METODOLOGIPENELITIAN

Titik Leleh dan Titik Didih

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK VOLUM MOLAL PARSIAL. Nama : Ardian Lubis NIM : Kelompok : 6 Asisten : Yuda Anggi

Minyak terpentin SNI 7633:2011

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN TITIK LEBUR UNIVERSITAS PADJADJARAN 2015 PENENTUAN TITIK LEBUR

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

MODUL I Pembuatan Larutan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang didukung dengan studi pustaka.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

Preparasi Sampel. Disampaikan pada Kuliah Analisis Senyawa Kimia Pertemuan Ke 3.

Penetapan Kadar Sari

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Percobaan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian. asetat daun pandan wangi dengan variasi gelling agent yaitu karbopol-tea, CMC-

Modul l Modul 2 Modul 3

VOLUME, DENSITAS, BAHAN PADAT DAN CAIR SERTA POROSITAS

LAPORAN INSTRUMEN DASAR PENGENALAN ALAT PH METER

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 3: Oksida-oksida sulfur (SO X ) Seksi 2: Cara uji dengan metoda netralisasi titrimetri

BAB IV PROSEDUR KERJA

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat

C. ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5 o C dan range temperaturnya berubah menjadi 4 o C dari 0,3 o C )

LAPORAN PRATIKUM FARMASETIKA II SEDIAAN INJEKSI AMINOPHYLLIN 2,4%

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I VISKOSITAS CAIRAN BERBAGAI LARUTAN

TITIK LELEH DAN TITIK DIDIH. I. TUJUAN PERCOBAAN : Menentukan titik leleh beberapa zat Menentukan titik didih beberapa zat II.

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Prinsip Pengukuran tegangan permukaan berdasarkan metode berat tetes

BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Alur penelitian ini seperti ditunjukkan pada diagram alir di bawah ini:

BAB III METODE PENELITIAN

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu

BAB V METODOLOGI. Dalam pelaksanaan percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1 PEMISAHAN KOMPONEN DARI CAMPURAN 11 NOVEMBER 2014 SEPTIA MARISA ABSTRAK

3 Percobaan. Untuk menentukan berat jenis zeolit digunakan larutan benzena (C 6 H 6 ).

Larutan Dapar Dapar adalah senyawa-senyawa atau campuran senyawa yang dapat meniadakan perubahan ph terhadap penambahan sedikit asam atau basa.

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu :

BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

BAB II METODE PENELITIAN. A. Kategori Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR. Distilasi dan Titik Didih

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

VISKOSITAS DAN TENAGA PENGAKTIFAN ALIRAN

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA TEGANGAN PERMUKAAN

EKSPERIMEN 1 FISIKA SIFAT TERMAL ZAT OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2006 Waktu 1,5 jam

BAB III METODOLOGI. Penetapan kadar minyak atsiri kayu manis dan pemeriksaan mutu minyak

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor

I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS. Oleh:

HUKUM ARCHIMEDES KEGIATAN BELAJAR 2 A. LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

Ada beberapa jenis timbangan yang sering digunakan akan tetapi secara garis besar timbangan yang digunakan dibedakan menjadi 3 yaitu :

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK. Percobaan 1 PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR. Distilasi dan Titik Didih

BAB V METODOLOGI. Tahap pelaksanaan percobaan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu : memanaskannya pada oven berdasarkan suhu dan waktu sesuai variabel.

ρ = m/v m = massa V = Volume Satuan = g/ml = g cm -3 Satuan SI = kg/m 3

Sistem tiga komponen

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA I

III. METODOLOGI. 1. Analisis Kualitatif Natrium Benzoat (AOAC B 1999) Persiapan Sampel

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

Bab III Metodologi. III. 2 Rancangan Eksperimen

Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, S.Si

PROSES PRODUKSI ALKOHOL MELALUI FERMENTASI BUAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kimia Analisis.

Selain itu, menyimpan peralatan gelas dalam keadaan kotor, atau dari hasil pencucian yang tidak/kurang bersih akan menyukarkan proses pencucian atau

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 7: Cara uji kadar hidrogen sulfida (H 2 S) dengan metoda biru metilen menggunakan spektrofotometer

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA. Tegangan Permukaan. Disusun oleh: Wawan Gunawan

METODE PENGUJIAN. 1. Kadar Oksalat (SNI, 1992)

MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II

Metodologi Penelitian

MELAKUKAN VERIFIKASI ALAT UKUR

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 8: Cara uji kadar hidrogen klorida (HCl) dengan metoda merkuri tiosianat menggunakan spektrofotometer

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sekarang ini ahli farmasi dituntut untuk pengetahuannya dalam bidang farmakologi, kimia organic, biokimia dan pengetahuan ilmiah mengenai sifat-sifat fisika dan kimia dari produk obat baru yang dibuat dan diencerkan. Pengetahuan kelarutan untuk ahli farmasi sangat penting sebab dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Salah satu sifat fisika obat yang mempengaruhi bioavaibilitas dari sediaan farmasi adalah bobot jenis dan rapat jenis, dimana bobot jenis suatu zat berbeda dengan bobot jenis zat yang lainnya. Kelarutan suatu senyawa tergantung pada sieat eisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga tergantung pada faktor temperatur, tekanan, ph larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil, tergantung pada hal terbaginya zat-zat terlarut Bobot jenis merupakan besaran yang menyatakan perbandingan antara massa (g) dengan volume (ml), jadi satuan bobot jenis adalah g/ml. Sedangkan rapat jenis adalah perbandingan antara bobot jenis sampel dengan bobot jenis air suling, jadi rapat jenis tidak memiliki satuan. Dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka kita dapat melakukan pemeriksaan identitas, konsentrasi dan kemurnian senyawa aktif. Di samping itu dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan mempermudah dalam memformulasi obat juga dapat menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lainnya. Dengan mengetahui banyaknya manfaat dari penentuan bobot jenis maka dilakukanlah percobaan ini.

I.2. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah menentukan bobot jenis beberapa cairan dan menentukan kerapatan beberapa padatan. I.3. Maksud Percobaan Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara menentukan bobot jenis suatu cairan dan kerapatan suatu padatan. I.4. Manfaat Percobaan Adapun manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat menentukan bobot jenis atau kerapatan suatu obat sehingga dapat menghasilkan obat yang baik kelarutanya dalam tubuh agar dapat diabsorpsi dengan baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Dasar Teori Bobot jenis adalah konstanta atau ketetapan bahan yang tergantung pada suhu yang padat, cair, dan bentuk gas yang homogen. Rapat jenis adalah perbandingan antara bobot zat berbanding dengan volum zat pada suhu tertentu. Untuk bidang farmasi biasanya 25 o C (Ansel, 2004,). Berbeda dengan kerapatan bobot jenis adalah bilangan murni atau tanpa dimensi, yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Bobot jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap jumlah volume air pada suhu 4 o C atau temperatur lain yang etlah ditentukan (Gibson, 2004). Seperti titk lebur, titik didih atau indeks bias (bilangan bias), kerapatan relatif merupakan besaran spesifik zat. Besaran ini dapat digunakan untuk pemeriksaan konsentrasi dan kemurnian senyawa aktif, senyawa bantu dan sediaan farmasi (Ansal, 2004) Cara pengukuran bobot jenis ada beberapa cara antara lain (Lachman, 1986) : 1. Piknometer (biasanya terbuat dari kaca bentuk erlenmeyer kecil dengan kapasitas antara 10 ml sampai 50 ml). 2. Hidrometer berupa pipa kaca yang ujungnya tertutup dan bagian bawahnya tertutup dan diberi pemberat pada bagian bawah. Bila lat ini dicelupkan dalam cairan yang akan diperiksa maka angka menunjukkan bobot jenisnya. 3. Mohr-Westphal Balane. Alat ini hampir sama dengan neraca lengan kiri berisi tabung kaca dengan pemnberatnya (sehingga bila dicelupkan dalam cairan yang akan diperiksa akan tenggelam). Selanjutnya lengan sebelah kanan berisi pemberat yang dapat ditambahkan dan dapat

dikurangi. Jumlah pemberat yang berada dalam keadaan kesetimbangan dengan gaya tolak cairan menunjukkan bobot cairan yang dipindahkan sejumlah volume tabung tersebut. Prinsip penentuan ini sebenarnya berdasar prinsip hukum Archimedes. Bila benda dicelupkaqn dalam air maka benda tersebut akan mendapat perlawanan (gaya ke atas) sebesar jumlah air yang dipindahkan. Kecuali dinyatakan lain masing-masing monografi, penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk cairan dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25 o C terhadap bobot air dengan volum dan suhu yang sama. Bila suhu ditetapkan dengan monografi, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang telah ditetapkan terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25 o C zat tersebut berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang ada atau tertera pada masing-masing monografi, dan mengacu pada air dengahn suhu 25 o C (http.www.chemetry, 2010). Bobot jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap jumlah volume air pada suhu 4 o C atau temperatur lain yang etlah ditentukan, (Lachman, 1986). Seperti titk lebur, titik didih atau indeks bias (bilangan bias), kerapatan relatif merupakan besaran spesifik zat. Besaran ini dapat digunakan untuk pemeriksaan konsentrasi dan kemurnian senyawa aktif, senyawa bantu dan sediaan farmasi (Ansel, 2004). Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat disbanding dengan volume zat pada suhu tetentu (Biasanya 25 o C). Sedangkan rapat jenis adalah perbandingan antara bobot jenis suatu zat dengan bobot jenis air pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25 o /25 o, 25 o /4 o, 4 o /4 o ). Untuk bidang farmasi, biasanya 25 o /25 o (Sutoyo, 1993). Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama. Menurut defenisi, rapat jenis adalah perbandingan yang dinyatakan dalam decimal, dari berat suatu zat

terhadap berat dari standar dalam volume yang sama kedua zat mempunyai temperature yang sama atau temperature yang telah diketahui. Air digunakan untuk standar untuk zat cair dan padat, hydrogen atau udara untuk gas. Dalam farmasi, perhitungan bobot jenis terutama menyangkut cairan, zat padat dan air merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai standar karena mudah didapat dan mudah dimurnikan (Roth, Herman J, 1994). Pada 4 o C, kepadatan air adalah 1 g dalam satu centimeter kubik. Karena USP menetapkan 1 ml dapat dianggap equivalent dengan 1 cc, dalam farmasi, berat 1 g air dianggap 1 ml. Bobot jenis adalah konstanta/tetapan bahan tergantung pasa suhu untuk tubuh padat, cair dan bentuk gas yang homogen. Didefenisikan sebagai hubungan dari massa (m) suatu bahan terhadap volume (v). Angka bobot jenis menggambarkan suatu angka hubngan tanpa dimensi, yang ditarik dari bobot jenis air pada 4 o C ( = 1,000 graml -1 ). Bobot jenis relative dari farmakope-farmakope adalah ebaliknya suatu besaran ditarik dari bobot dan menggambarkan hubungan berat dengan bagian volume yang sama dari zat yang diteliti dengan air, keduanya diukur dalam udara dan pada 20 0 C. Penentuan bobot jenis berlangsung dengan piknometer, Areometer, timbangan hidrostatik (timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris. Ada beberapa alat untuk mengukur bobot jenis dan rapat jenis, yaitu menggunakan piknometer, neraca hidrostatis (neraca air), neraca Reimann, beraca Mohr Westphal. Metode Piknometer. Pinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Menurut peraturan apotek, harus digunakan piknometer yang sudah ditera, dengan isi ruang dalam ml dan suhu tetentu (20 o C). Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Optimun ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet (6). Neraca Mohr Westphal dipakai untuk mengukur bobot jenis zat cair. Terdiri atas tua dengan 10 buah lekuk untuk menggantungkan anting, pada ujung lekuk

yang ke 10 tergantung sebuah benda celup C terbuat dari gelas (kaca) pejal (tidak berongga), ada yang dalam benda celup dilengkapi dengan sebuah thermometer kecil untuk mengetahui susu cairan yang diukur massa jenisnya, neraca seimbang jika ujum jarum D tepat pada jarum T (5). II.2. Uraian Bahan 1. Air suling Nama Resmi : AQUA DESTILLATA Nama Lain : Air Suling RM / BM : H2O / 18,02 Bobot jenis : 1 g/ml Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa, Kelarutan : Dapat bercampur dengan alkohol Penyimpanan : dalam wadah tertutp rapat Kegunaan : Sebagai pembanding 2. Asam sitrat (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi : ASAM STEARICUM Nama Lain : Asam sitrat RM / BM : C6H8O7 / 192,03 Bobot jenis : 1 g/ml Pemerian : Hablur tidak berwarna, atau serbuk putih. Bau asam kuat Kelarutan : Larut dalam Air dan alcohol 95% Penyimpanan : dalam wadah tertutp rapat Kegunaan : Sebagai sampel 3. Gliserin (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi : GLYCEROLUM Nama Lain : gliserin RM / BM : C3H8O3 / 92,10 Bobot jenis : Tidak lebih 2 g/ml

Pemerian : Cairan seperti sirop. Cairan jernih, tidak berwarna dan berbau, mansis diikuti rasa hangat. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan alcohol 95% Penyimpanan : dalam wadah tertutp rapat Kegunaan : Sebagai sampel 4. Minyak Kelapa (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi : OLEUM COCOS Nama Lain : Minyak kelapa Bobot jenis : 0,8 g/ml Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas dan tidak tengik. Kelarutan : Sangat mudah olarut dalam kloroform P dan eter P Penyimpanan : dalam wadah tertutp baik, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk. Kegunaan : Sebagai sampel 5. Parifin (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM Nama Lain : Parafin Cair Bobot jenis : 0,87 g/ml Pemerian : Cairan kental, transparan, hamper tidak berbau, hamper tidak mempunyai masa. Kelarutan : Sangat mudah olarut dalam kloroform P dan eter P Penyimpanan : dalam wadah tertutp baik, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk Kegunaan : Sebagai sampel

II.3. Langkah Percobaan A. Bobot jenis menggunakan piknometer 1. Bersihkan piknometer hingga tidak meninggalkan bekas tetesan air dengan cara setelah dibersihkan dengan aquadest bilas dengan pelarut aseton atau alkohol pekat. 2. Piknometer panaskan pada suhu 100 0 C selama 1 jam, kemudian masukkan ke dalam eksikator sampai dingin. Timbang dalam neraca analitik (bobot a gram) 3. Isikan air suling yang akan diukur ke dalam piknometer hingga penuh 4. Seluruh piknometer dengan isinya didinginkan dalam es hingga suhu air dalam piknometer mencapai 25 0 C menggunakan termometer 5. Setelah suhu mencapai tepat 25 0 C segera ditutup dan lap dengan kain bersih. Biarkan pada suhu kamar dan ditimbang secara teliti menggunakan neraca analitik (bobot b gram). Hitung bobot jenis (b-a) gram/volume ml = g/ml

BAB III PROSEDUR KERJA III.1. Alat Dan Bahan III.1.1. Alat-alat yang digunakan 1. Botol semprot 2. Gelas ukur 500 ml 3. Piknometer 50 ml 4. Pipet tetes 5. Timbangan analitik III.1.2. Bahan-bahan yang digunakan 1. Air suling 2. Asam sitrat 3. Paraffin cair 4. Gliserin 5. Minyak kelapa III.2. Langkah Percobaan A. Pengukuran Bobot Jenis dengan Piknometer 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Piknometer dibersihkan dengan air suling, kemudian dibilas dengan alkohol 3. Piknometer dikeringkan dalam oven pada suhu 100 0 C selama 60 menit, lalu didinginkan pada suhu kamar 4. Dikeluarkan piknometer setelah pengeringan selama 1 jam, kemudian ditimbang bobotnya dalam keadaan kosong pada timbangan analitik, hasilnya dicatat. Penimbangan dilakukan 3 kali.

5. Dimasukkan dalam baskom berisi es/air dingin piknometer kosong tadi, sampai mencapai 25 0 C dan ditimbang dengan timbangan analitik (secara triplo) dan dicatat hasilnya. 6. Aquadest dikeluarkan dari piknometer lalu dibilas dengan alkohol 70% lalu dikeringkan 7. Diisikan piknometer kosong dengan sampel lain yaitu minyak tanah dan bensin dengan volume sesuai yang tertera pada piknometer (perlakuan dilakukan secara triplo) dengan prosedur yang sama. 8. Dihitung bobot jenis masing-masing sampel termasuk aquadest, dengan cara menghitung selish dari penimbangan piknometer berisi sampel dengan piknometer kosong

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. 1. Hasil Dan Perhitungan a. Hasil pengamatan Kerapatan bulk Bobot zat (g) Volume bulk(ml) Kerapatan bulk (g/ml) Perhitungan : Kerapatan bulk = bobot zat v.bulk = 2 g 3,2 ml = 0,625 g/ml. b. Kerapatan mampat Bobot zat (g) Volume mampat(ml) Kerapatan mampat (g/ml) Perhitungan : Kerapatan mampat = bobot zat v.mampat = 2 g 2 ml = 1 g/ml. 2 gram 3,2ml 0,625g/ml 2 gram 2ml 1 g/ml

c. Kerapatan sejati Bobot pikno kosong (g) Bobot pikno +zatcair (g) Bobot pikno +zat padat (g) Bobot pikno zat padat+cair(g/ml) 26 gram 67 gram 30 gram 69 gram Perhitungan : Ρ padatan = (M3-M1) (M2-M1)- (M4-M3) = (30-26) (67-26)-(69-30) = 4 41 39 = 2 gram. d. Kerapatan sejati Bobot pikno kosong (g) Bobot pikno + air (g) Bobot pikno +zat cair (g) 26 g 75 g Paraffin 68 g gliserin 89 g minyak kelapa 71 g Bobot jenis zat cair(g/ml) Paraffin = W 3 - W 1 W 2 - W 1 = 68-26 75-26 = 0,857 g/ml Minyak = W 3 - W 1 W 2 - W 1 = 71-26 75-26

= 0,918g/ml Gliserin = W 3 - W 1 W 2 - W 1 = 86-26 75-26 = 1,285 g/ml V. 2. PEMBAHASAN Bobot jenis adalah perbandingan antara bobot suatu zat sebanding dengan volume zat tersebut pada suhu tertentu (25 o C). Sedangkan rapat jenis adalah perabndingan antara bobot jenis suatu zat dengan bobot jenis zat pembanding pada suhu tertentu. Dalam percobaan ini akan dilakukan penentuan bobot jenis dan rapat jenis dari sampel cairan dengan menggunakan piknometer. Dimana dari hasil pengukuran alat tersebut akan dibandingkan hasil yang diperoleh dengan yang ada pada literature. Piknometer merupakan alat yang terbuat dari kaca dengan berbentuk Erlenmeyer kecil dsengan volume hingga 80 ml. Alat ini sering digunkan untuk penentuan bobot jenis karena prinsip kerjanya cukup mudah dan sederhana. Sebelum memulai percobaan, terlebih dahulu piknometer dibersihkan dengan menggunakan air suling, kemudian dibilas dengan alkohol untuk mempercepat pengeringan piknometer kosong tadi. Selain itu karena sifat alkohol yang mudah menguap, dan dapat melarutkan lemak yang masih tertinggal pada dinding pikno. Pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa dari permbersihan, karena biasanya pencucian meninggalkan tetesan pada dinding alat yang dibersihkan, sehinggga dapat mempengaruhi hasil penimbangan piknometer kosong, yang akhirnya juga mempengaruhi nilai bobot jenis sampel. Pemakaian alkohol sebagai pembilas memiliki sifat-sifat yang baik seperti mudah mengalir, mudah menguap dan bersifat antiseptikum. Jadi sisa-sisa yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik, baik yang ada di

luar, maupun yang ada di dalam piknometer itu sendiri. Dari hasil penimbangan ini dapat dicari bobot jenis sampel nantinya, yakni dengan menimbang piknometer berisi sampel terlebih dahulu, kemudian bobot jenis diperoleh dengan memperkurangkannya dengan berat piknometer kosong tadi. Setelah ditimbang kosong, piknometer lalu diisikan dengan aquadest, sebagai pembanding kemudian dengan sampel yang lain (paraffin, minyak kelapa, dan gliserin). Pengisian dari masing-masing sampel ke dalam piknometer harus dilakukan dengan hati-hati karena pemasukannya melalui mulut piknometer yang tidak lebar. Pengisiannya pun harus pelan-pelan, yakni diisikan melalui bagian dinding dalam dari piknometer. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya gelembung udara di dalam piknometer yang ditimbulkan dari pengisian sampel ke dalam piknometer yang salah prosedurnya. Dengan adanya gelembung udara di dalam piknometer, dapat mempengaruhi penimbangan nantinya. Pada proses pemindahan piknometer, diusahakan piknometer tidak bersentuhan dengan tangan untuk menghindari menempelnya lemak yang mungkin terdapat di tangan yang nantinya akan mengganggu hasil penimbangan. Jadi piknometer di pegang dengan bantuan tissue. Sedangkan hydrometer prinsip kerjanya berdasarkan pada hokum Archimedes tentang gaya apung, bahwa apabila suatu benda dimasukkan dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya ke atas sebesar jumlah zat cair yang dipindahkan. Pada metode ini mempunyai keuntungan yaitu penggunaan alat pada saat pengukuran lebih praktis yaitu tinggal dicelupkan ke dalam larutan uji, sedangkan kerugiannya yaitu larutan uji yang digunakan sangat banyak yaitu 500 ml sampai 1000 ml. Adapun keuntungan dari penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer adalah mudah dalam pengerjaan. Sedangkan kerugiannya yaitu

berkaitan dengan ketelitian dalam penimbangan. Jika proses penimbangan tidak teliti maka hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan hasil yang ditetapkan literatur. Disamping itu penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer memerlukan waktu yang lama. Perbedaaan percobaan Bj /Rj ini dengan viskositas yaitu percobaan ini bertujuan untuk menentukan bobot jenis dan rapat jenis yang dihitung untuk mengetahui koefisien viskositanya. Akan tetapi bila dilihat dari rumus penentuan bobot jenis, baik percobaan penentuan Bj maupun viskositas adalah sama. Dalam bidang farmasi, penentuan bobot jenis dapat digunakan untuk identifikasi suatu senyawa yang tidak diketahui dan untuk menentukan kemurnian suatu senyawa. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1. KESIMPULAN 1. Kerapatan bulk asam sitrat adalah 0,625 gr/ml 2. Kerapatan mampat asam sitrat adalah 1 gr/ml 3. Kerapatan sejati paraffin adaalah 0,857 g/ml, minyak kelapa adalah 0,7918 g/ml, dan gliserin adalah 1,285 g/ml VI.2. SARAN Sebaiknya digunakan sampel yang lain agar hasilnya lebih bervariasi dan sebaiknya alat dan bahan dilengkapi agar memudahkan jalannya praktikum DAFTAR PUSTAKA Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press.

Effendi, M. I. 2003. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makassar : UNHAS. Roth, Herman J dan Gottfried B. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta UGM Press. United States Pharmacopeaia. 1975. The United States Pharmacopeia. Rockville : Twinbrook Parkway. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta Tim Asisten.,(2006), Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan Farmasi, Universitas Hasanuddin, 34,35. Ditjen POM.,(1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1031. Ansel H.C.,(1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Terjemahan Faridah Ibrahim, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 625,626. Voight,R.,(1994). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Terjemahan Dr. Soendani Noerono, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 65.

LABORATORIUM FARMASEUTIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA LAPORAN BJ DAN KERAPATAN ZAT DISUSUN OLEH ; KELOMPOK IV FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR

2011