LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI

dokumen-dokumen yang mirip
Kadar Bahan Organik Tanah pada Tanah Sawah dan Tegalan di Bali serta Hubungannya dengan Tekstur Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. Erodibilitas. jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah

TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH ACARA III DERAJAT KERUT TANAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

II. TINJAUAN PUSTAKA

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99,6 juta hektar

DISTRIBUSI PORI DAN PERMEABILITAS ULTISOL PADA BEBERAPA UMUR PERTANAMAN

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

SKRIPSI DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK DI DALAM TANAH PADA BEBERAPA KETINGGIAN TEMPAT DI KOTA PADANG. Oleh: ANDITIAS RAMADHAN

I. PENDAHULUAN. Nanas merupakan salah satu tanaman hortikultura, yang sangat cocok

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu

I. PENDAHULUAN. Tanah itu merupakan suatu sistem mekanik yang kompleks terdiri dari

I. PENDAHULUAN. induk batuan sedimen masam (Soil Survey Staff, 2006). Di Indonesia jenis tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara pedologi, tanah didefinisikan sebagai bahan mineral ataupun organik di

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal

SIFAT-SIFAT FISIK dan MORFOLOGI TANAH

ANALISIS SIFAT FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI TANAH PADA DAERAH BUFFER ZONE DAN RESORT SEI BETUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER KECAMATAN BESITANG

Modul ini mencakup bahasan tentang sifat fisik tanah yaitu: 1.tekstur, 2. bulk density, 3. porositas, 4. struktur 5. agregat 6. warna tanah 7.

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah

Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan

EROSI DAN SEDIMENTASI

TINJAUAN PUSTAKA. Limbah Pabrik Kelapa Sawit. Kandungan hara pada 1m3 limbah cair setara dengan 1,5 kg urea, 0,3 kg SP-36,

II. TINJAUAN PUSTAKA. sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman nanas dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi lebih

TINJAUAN PUSTAKA. disukai dan popular di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air.

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah

Sifat-sifat fisik tanah. Texture Structure Soil density Bulk density Moisture content Porosity Measurement methods

TINJAUAN PUSTAKA. profil tanah. Gerakan air ke bawah di dalam profil tanah disebut perkolasi

No. Parameter Sifat Fisik Metode Bobot Isi Porositas Total Pori Drainase Indeks Stabilitas Agregat Tekstur

BAB II TI JAUA PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan

TINGKAT ERODIBILITAS TANAH DI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hantaran Hidrolik

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor

PERBAIKAN SIFAT FISIKA TANAH PERKEBUNAN KARET (Havea brasiliensis) DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BIOPORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PUSTAKA YANG DIGUNAKAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tanah dan air merupakan sumberdaya yang paling fundamental yang

EROSI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OLEH: MUH. ANSAR SARTIKA LABAN

HUBUNGAN TANAH - AIR - TANAMAN

Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di

Soal Jawab DIT (dibuat oleh mahasiswa)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman perkebunan yang

KAJIAN SIFAT FISIK DAN KIMIA TANAH PADA TANAH YANG DI TANAMI PADI GOGO (Oryza Sativa) DI DESA WAWONA KABUPATEN MINAHASA SELATAN

ABSTRACT ABSTRAK. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang Oktober 2016 ISBN...

INFILTRASI PADA HUTAN DI SUB DAS SUMANI BAGIAN HULU KAYU ARO KABUPATEN SOLOK

KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA DAN FISIK SUB GRUP TANAH ULTISOL DI WILAYAH SUMATERA UTARA

Kajian Status Kesuburan Tanah Sawah Untuk Menentukan Anjuran Pemupukan Berimbang Spesifik Lokasi Tanaman Padi Di Kecamatan Manggis

Evaluasi Sifat Kimia Tanah pada Lahan Kopi di Kabupaten Mandailing Natal

TUGAS TUTORIAL IRIGASI DAN DRAINASE : Hubungan Tanah-Air-Tanaman (2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KAJIAN LAJU INFILTRASI TANAH PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI DESA SEMPAJAYA KECAMATAN BERASTAGI KABUPATEN KARO

TINJAUAN PUSTAKA. Infiltrasi adalah gerakan air permukaan tanah masuk ke dalam

TINJAUAN PUSTAKA. dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral) dan gravitasi

TANAH. Oleh : Dr. Sri Anggraeni, M,Si.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam dunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting, tanah sangat

TINJAUAN PUSTAKA. erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut

Laporan. Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Tekstur. Cynthia Diesta Firly Hari Selasa, WIB Assisten : Himawan

Warna Tekstur Tanah Struktur Tanah Konsistensi Pori

SUMBER: en.wikipedia.org/wiki/soil_texture

Yeza Febriani ABSTRACT. Keywords : Erosion prediction, USLE method, Prone Land Movement.

17/02/2013. Matriks Tanah Pori 2 Tanah. Irigasi dan Drainasi TUJUAN PEMBELAJARAN TANAH DAN AIR 1. KOMPONEN TANAH 2. PROFIL TANAH.

Pengaruh Intensitas Curah Hujan dan Kemiringan Lereng Terhadap Erosi yang Berpotensi Longsor

Modul (MEKANIKA TANAH I)

Jurnal Online Agroekoteknologi. ISSN No Vol.3, No.3 : , Juni 2015

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB

BAB 2 KOMPONEN FISIK DAN MORFOLOGI TANAH

KAJIAN LAJU INFILTRASI TANAH PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI DESA TANJUNG PUTUS KECAMATAN PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT

I. PENDAHULUAN. Besar jenis tanah suatu massa (unit massa) tanah yang seharusnya dinyatakan gr/cm 3. Volume

TUGAS EKOLOGI TUMBUHAN DISUSUN OLEH : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

26/03/2010. Klasifikasi menurut bentuk. Klasifikasi Struktur Tanah. Definisi. Tipe/bentuk

DISTRIBUSI BENTUK C-ORGANIK TANAH PADA VEGETASI YANG BERBEDA. Oleh : ANRI SUNANTO A

KUALITAS TANAH DAN KRITERIA UNTUK MENDUKUNG HIDUP DAN KEHIDUPAN KULTIVAN BUDIDAYA DAN MAKANANNYA

PERKEMBANGAN CACING Pontoscolex corethrurus PADA MEDIA KULTUR DENGAN BERBAGAI JENIS BAHAN ORGANIK DAN TEKSTUR TANAH SKRIPSI OLEH :

PENUNTUN PRAKTIKUM SIFAT SIFAT FISIK TANAH KELAS A PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI. OLEH I Wayan Narka

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat fisik tanah yang paling penting adalah kapasitas menahan air yang

ERODIBILITAS TANAH DI KECAMATAN NGRAMBE KABUPATEN NGAWI PROPINSI JAWA TIMUR

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. pemerintahan daerah Kabupaten Simalungun yang memiliki luas 109,25 km 2 dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai

PENGARUH MODELING MACAM TANAMAN TERHADAP NILAI EROSI DI LAHAN PERTANIAN. Oleh : Pancadewi Sukaryorini 1) dan Moch. Arifin 1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diperlukan dalam bidang pertanian.dalam menentukan sifat tanah serta

Transkripsi:

LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI KORELASI FRAKSI TANAH SISTEM USDA DENGAN BEBERAPA SIFAT TANAH PADA BEBERAPA SAMPEL TANAH DI BALI Oleh : I Wayan Narka PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015

ii LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. Judul Penelitian : Korelasi Fraksi Tanah Sistem USDA dengan Beberapa Sifat Tanah pada Beberapa Sampel Tanah di Bali ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2. Peneliti a. Nama lengkap dan gelar : Ir. I Wayan Narka, MS b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Pangkat/Gol./NIP : Pembina Utama Muda, IV/c, 19611122 198601 1 001 d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala e. Fakultas/Prodi/Jurusan : Fakultas Pertanian, Agroekoteknologi f. Universitas : Udayana g. Bidang Ilmu yang diteliti : Ilmu Tanah ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3. Jumlah tim Peneliti : - ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 4. Lokasi Penelitian : Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 6. Kerjasama (kalau ada) a. Nama Instansi : - b. Alamat : - ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 6. Jangka Waktu Penelitian : 5 bulan ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 7. Biaya yang diperlukan : Rp. 7.500.000,- (Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Denpasar, 25 Januari 2016 Mengetahui : Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana Peneliti, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, MS NIP. 19630515 198803 1 001 Ir. I Wayan Narka, M.S NIP : 19611122 198601 1 001

iii KORELASI FRAKSI TANAH SISTEM USDA DENGAN BEBERAPA SIFAT TANAH PADA BEBERAPA SAMPEL TANAH DI BALI Oleh I Wayan Narka Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Udayana RINGKASAN Distribusi ukuran partikel tanah sangat berpengaruh terhadap sifat tanah. Sifat kimia, sifat biologi dan sifat fisik tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Menurut sistem Departemen Pertanian Amerika Serikat (USAD), klasifikasi partikel partikel tanah digolongkan sebagai berikut: diameter fraksi pasir sangat kasar berukuran 2,0 mm 1,00 mm, pasir kasar 1,00 0,50 mm, pasir sedang 0,050 0,25 mm, pasir halus 0,25 0,10 mm, pasir sangat halus 0,10 0,05 mm, fraksi debu 0,05 mm 0,002 mm dan fraksi liat < 0,002 mm. Sampai sampai saat ini belum ada penelitian mengenai hubungan ketujuh fraksi ini dengan sifat tanah khususnya : kadar air tanah, erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi) dan kapasitas tukar kation (KTK) tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tujuh fraksi partikel tanah dengan sifat tanah yaitu : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Contoh tanah sebanyak 32 sampel diambil dari beberapa lokasi di Bali. Setelah contoh tanah diambil, kemudian dikeringudarakan dan diayak dengan ayakan lolos 2 mm. Selanjutnya dianalisis di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Sejumlah sampel yang diambil dari lokasi yang berbeda diharapkan terdapat perbedaan dalam distribusi ukuran partikel tanah khususnya komposisi 7 fraksi yaitu pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, debu dan liat, sehingga bisa dikorelasikan dengan sifat tanah (kadar air, erodibilitas tanah dan KTK tanah). Analisis tekstur tanah untuk mendapatkan 7 fraksi tanah menggunakan metode pipet dan metode ayakan. Analisis kadar air tanah dengan metode Gravimetri, dan analisis kapasitas tukar kation tanah menggunakan metode Penjenuhan dengan NH4OAc. Analisis kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah) dengan menggunakan metode Wischmeier

iv Selanjutnya data ketujuh fraksi tanah dikorelasikan dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Metode yang digunakan dalam analisis data ini adalah Pearson Correlation Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi pasir sangat kasar berkorelasi negatif sangat nyata dengan erodibilitas tanah (r = -0,464 **) dan berkorelasi nyata dengan KTK tanah (r = -0,442 *). Fraksi pasir kasar maupun pasir sedang berkorelasi negatif sangat nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. Fraksi pasir halus berkorelasi negatif tidak nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. Fraksi pasir sangat halus menunjukkan korelasi positif tidak nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. Semakin kecil ukuran partikel tanah semakin mengarah kepada korelasi positif pada kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. Fraksi debu berkorelasi positif sangat nyata dengan eroibilitas tanah ( r = 0,792 **) dan berkorelasi positif nyata dengan KTK tanah ( r = 0,354 *). Fraksi liat berkorelasi positif sangat nyata dengan kadar air tanah dan KTK tanah dengan koefisien korelasi masing-masing 0,632 ** dan 0,699 ** Kata Kunci : partikel tanah, sifat tanah

v CORRELATION OF SOIL FRACTION USDA SYSTEM WITH SOIL PROPERTIES ON SOIL SAMPLES IN BALI By I Wayan Narka Majors Agroekoteknologi, Faculty Of Agriculture of University Udayana SUMMARY Distribution of particle size was very having an effect on soil properties. The chemical, biological and physical properties of soil was influence to growth of plant. United State Departement of Agriculture (USDA) was classified particle of soil into 7 fraction. i.e : very coarse sand (2,0 m m - 1,00 mm), coarse sand (1,00-0,50 mm), medium sand (0,50-0,25 mm), fine sand (0,25-0,10 mm), very fine sand (0,10-0,05 mm), silt (0,05 0,002) and clay (<0,002mm). Until to date not yet the research concerning relation between seventh soil particle fraction with the soil properties especially : soil water content, soil erodibility ( soil sensitivity to erosion) and cation exchange capacity ( CEC). The purpose this Research is to know the relation between seven fraction of soil particle with the soil properties especially : soil water content, soil erodibility and cation exchange capacity of soil. Soil samples as much 32 sample was taken from some location in Bali. After soil sample taken, soil samples dryied and sieved with the sieve get away 2 mm. Soil samples analyzed in Soil Laboratory Faculty Of Agriculture Udayana University. A number of samples which taken from a different location, expected there are difference in distribution of size particle of soil especially composition 7 soil fraction that is : very coarse sand, coarse sand, medium sand, fine sand, very fine sand, silt and clay, so that correlation with the soil properties ( soil water content, soil erodibility, and CEC of soil) can be determinate. Soil texture for determine 7 soil fraction analyzed by pipet and sieve method, soil water content was analyzed by gravimetric method, and CEC was analyzed by saturated of NH4OAc and soil erodibility analyzed by Wischmeier method. Furthermore seventh fraction of soil particle be correlated to soil water content, soil erodibility and CEC of soil with Pearson Correlation method. Result of this research indicate that the very coarse sand fraction have highly significant negative correlation with soil erodibility ( r = - 0,464 **) and have significant correlation with CEC of soil ( r = - 0,442 *). Coarse sand fraction have highly significant negative correlation with soil erodibility and CEC of soil with coefficient correlation (r) -0,597** and -0.542 ** respectively. Medium sand fraction

vi also have highly significant to soil water content, soil erodibility and CEC with coefficient correlation (r) -0,524**, -0,546** and -0,523** respectively. Fine sand fraction have not significant correlation with the soil water content, soil erodibility and CEC of soil. The very fine sand fraction showed the positive correlation but is not significant with the soil water content, soil erodibility and CEC of soil. Smaller size particle progressively instruct to positive correlation at soil water content, soil erodibility and CEC of soil. Silt fraction have highly significant positive correlation with soil erodibility ( r = 0,792 **) and have significant positive correlation with CEC of soil ( r = 0,354 *). The clay fraction have highly significant positive correlation to soil water content and CEC of soil with the correlation coefficient (r) 0,632 ** and 0,699 ** respectively. Keyword : Soil particle, soil properties

vii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Mahaesa karena berkat rahmatnya penyusunan laporan akhir hasil penelitian dengan judul : Korelasi Fraksi Tanah Sistem USDA dengan Beberapa Sifat Tanah pada Beberapa Sampel Tanah di Bali dapat diselesaikan dengan baik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dengan pengambilan contoh tanah pada masing-masing kabupaten/kota. Selanjutnya sample tanah dianalisis di laboratorium untuk mengetahui fraksi partikel tanah dan sifat-sifat tanah. Kami sebagai peneliti pada kesempatan yang baik ini mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Pengelola Laboratorium Tanah Universitas Udayana atas segala bantuan dan fasilitas yang telah diberikan. 2. Semua pihak ikut membantu baik berupa tenaga dan pikiran sehingga penelitian dapat terlaksana dengan baik. Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangannya, untuk itu melalui kesempatan yang baik ini kami mohon maaf dan menerima dengan senang hati segala kritik/saran untuk penyempurnaan laporan ini. Sebagai akhir kata penulis mengharapkan semoga hasil penelitian ini ada manfaatnya Denpasar, 25 Januari 2015 Peneliti, I Wayan Narka

viii DAFTAR ISI LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN.. ii RINGKASAN/SUMMARY.... iii KATA PENGANTAR.. v DAFTAR ISI.. vi DAFTAR TABEL. vii DAFTAR LAMPIRAN.. viii I. PENDAHULUAN.. 1 II. TINJAUAN PUSTAKA.. 3 III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN.. 8 3.1. Tujuan Penelitian.. 8 3.2. Manfaat Penelitian. 8 IV. METODE PENELITIAN.. 9 V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 11 5.1 Hasil Penelitian... 11 5.2 Pembahasan... 13 VI. KESIMPULAN SARAN.. 18 6.1 Kesimpulan... 18 6.2 Saran... 18 DAFTAR PUSTAKA.. 19 LAMPIRAN 20

ix DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil analisis 7 fraksi tanah, kadar air, erodibilitas dan KTK tanah... 11 Tabel 2. Matrik koefisien korelasi 7 fraksi tanah dengan kadar air, erodibilitas dan KTK tanah... 13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Analisis Fraksi Partikel Tanah... 20 Lampiran 2. Hasil Analisis Sifat Fisik Tanah... 22 Lampiran 3. Hasil Perhitungan Erodibilitas Tanah... 24 Lampiran 4. Curriculum vitae peneliti. 26

1 I PENDAHULUAN Distribusi ukuran partikel tanah sangat berpengaruh terhadap sifat tanah. Sifat kimia, sifat biologi dan sifat fisik tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Menurut sistem Departemen Pertanian Amerika Serikat, klasifikasi partikel partikel tanah digolongkan sebagai berikut: diameter fraksi pasir sangat kasar berukuran 2,0 mm 1,00 mm, pasir kasar 1,00 0,50 mm, pasir sedang 0,50 0,25 mm, pasir halus 0,25 0,10 mm, pasir sangat halus 0,10 0,05 mm, fraksi debu 0,05 mm 0,002 mm dan fraksi liat < 0,002 mm. Ketujuh komposisi ini sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat fisika tanah, sifat-sifat kimia tanah. kasar sampai pasir sangat halus merupakan kerangka tanah atau penyokong tanah dalam terbentuknya struktur tanah sedangkan debu dan liat sebagai bahan pengisi diantara partikel pasir. mempunyai luas permukaan jenis antara 11 227 cm 2 /g, debu 454 cm 2 /g dan liat 8 juta cm 2 /g sehingga fraksi pasir tidak banyak menentukan sifat kimia tanah (Darmawijaya, 1990). Foth (1998) menyatakan bahwa luas permukaan fraksi tanah (pasir, debu dan liat) sangat penting artinya dalam peristiwa reaksi fisik dan kimia dalam tanah sebab kedua proses tersebut merupakan peristiwa permukaaan. Umumnya makin halus butiran tanah makin intensif reaksi tersebut. Komposisi ukuran partikel tanah (teskstur tanah) mempunyai hubungan erat dengan sifat sifat tanah. Beberapa diantaranya adalah kadar air tanah, erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi) dan kapasitas tukar kation (KTK) tanah. Kepekaan erosi tanah (erodibilitas tanah) adalah fungsi berbagai interaksi sifat fisik dan kimia tanah. Semakin tinggi nilai erodibilitas maka semakin mudah tanah tersebut mengalami erosi. Hakim et al. (1986) menyatakan bahwa tanah -tanah yang kandungan liatnya tinggi cenderung mempunyai kandungan kadar air, bahan organik dan KTK yang tinggi. Hal ini disebabkan karena fraksi liat mempunyai luas permukaan spesifik yang besar sehingga mampu mengadsorbsi molekul air atau kation-kation. Sebaliknya tanah yang didominasi oleh fraksi pasir mempunyai luas permukaan jenis yang rendah sehingga kurang aktif dalam adsorbsi kation. Selanjutnya. Foth (1998) menyatakan bahwa fraksi pasir dan debu menampilkan ikatan negatif yang tidak begitu baik, karena luas permukaan spesifiknya yang rendah sehinga debu dan pasir mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah.

2 Tanah yang didominasi oleh fraksi pasir kasar sampai pasir halus bersifat porous karena tingginya pori aerasi. Aerasi yang lancar akan mendorong terjadinya oksidasi bahan organik menjadi mineral-mineral tanah secara berlebihan. Hal ini sesuai dengan Kohnke (1989) bahwa, tanah bertekstur kasar (pasir) mempunya i kandungan bahan organik dan kapasitas menahan air sangat rendah. Sementara ini penelitian tentang hubungan antara tekstur tanah (komposisi 7 fraksi yaitu pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, debu dan liat) dengan beberapa sifat tanah khususnya kadar air tanah, kadar bahan organik dan kapasitas tukar kation tanah pada beberapa contoh tanah di Bali belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Korelasi Distribusi Ukuran Partikel Tanah dengan Kadar Air Tanah, Erodibilitas Tanah dan Kapasitas Tukar Kation pada Beberapa Contoh Tanah di Bali.

3 II. TINJAUAN PUSTAKA Foth (1998) menyatakan luas permukaan spesifik yang besar per gram liat mempunyai kemampuan menahan air yang besar. Sebagian besar partikel liat mempunyai muatan negatif sehingga mampu mengadsobsi kation-kation seperti Ca ++, Mg ++, K + yang merupakan elemen-elemen esensial. Kation-kation yang diadsorbsi bergerak dekat permukaan liat dan bertukar tempat satu dengan yang lainnya dan dengan kation-kation dalam larutan tanah. Kapasitas tanah untuk mengadsorbsi kation-kation yang dapat ditukar disebut kapasitas tukar kation. Kation-kation dapat ditukar yang diadsorbsi tidak dapat tercuci dari tanah dan sebagian tersedia untuk dapat digunakan oleh tanaman (Suripin, 2002). Jadi tanah-tanah dengan kandungan liat tinggi cenderung mempunyai kapasitas tukar kation tinggi untuk menahan air dan unsur hara yang selanjutnya dapat tersedia bagi tanaman. Tanah-tanah yang didominasi oleh partikel tanah berukuran halus mampu menahan air lebih banyak karena tanah didominasi oleh pori-pori mikro dan sedikit sekali pori makro yang berfungsi sebagai aerasi tanah. Dalam keadaan anaerob seperti drainase tanah menjadi kurang baik sehingga bahan organik mengalami humifikasi dan terbentuk humus. Proses humifikasi akan menghasilkan senyawa N-organik yang tahan terhadap pelapukan. Sebaliknya terjadi pada tanah yang bertekstur pasir yaitu bersifat porous yang berarti aerasi tanah sangat bagus karena tingginya pori aerasi. Aerasi yang bagus akan mendorong terjadinya oksidasi bahan organik menjadi mineral-mineral tanah. Hakim et al. (1986) menyatakan bahwa tanah didominasi oleh partikel berukuran kasar (pasir) akan didominasi oleh pori makro, sebaliknya partikel halus (debu dan liat) akan didominasi oleh pori mikro. Kondisi aerob akan mendorong oksidasi bahan organik menjadi mineral-mineral tanah. Ini berarti bahan organik tanah akan semakin rendah. Hal ini sesuai dengan Kohnke (1989) bahwa, tanah bertekstur kasar (pasir) mempunyai kandungan bahan organik dan kapasitas menahan air sangat rendah. Foth (1998) menyatakan bahwa fraksi pasir dan debu menampilkan ikatan negatif yang tidak begitu baik karena luas permukaan spesifiknya yang rendah sehinga debu dan pasir mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah. Tanah dengan kapasitas tukar kation yang rendah akan mudah mengalami pencucian unsur hara. Badan Kerjasama Ilmu Tanah (1991) menyatakan bahwa besarnya kehilangan kalium sangat tergantung

4 pada tekstur tanah. Tanah-tanah berpasir kehilangan kalium jauh lebih besar dari pada tanah bertekstur liat. Hasil penelitian pada tanah lempung berdebu di Illinois kehilangan kalium rata-rata 15 kg/ha/th, sedangkan pada tanah pasir kasar Florida kehilangan ini dapat mencapai 126 kg/ha/th. Kapasitas tukar kation (KTK) suatu tanah didefinisikan sebagai suatu kemampuan koloid tanah menjerap dan mempertukarkan kation. Besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah seperti : reaksi tanah (ph), Tekstur tanah dan jumlah liat, jenis mineral liat, bahan organik, pengapuran dan pemupukan (Sutedjo dan. Kartasapoetra, 2002) Selanjutnya Tan (1991) juga menjelaskan bahwa kapasitas tukar kation tanah dipengaruhi oleh jumlah bahan organik, kadar liat dan macam liat. Liat mempunyai permukaan jenis paling besar (800 m 2 /g) yang selanjutnya berpengaruh terhadap sifat fisika maupun kimia tanah. Beberapa diantaranya adalah terhadap kapasitas tukar kation tanah, kadar air tanah dan kadar bahan organik tanah. Makin halus tekstur tanah, makin besar kadar air tanah dan kapasitas tukar kation tanah (Rosmarkam dan Yuwono, 2006). Erodibilitas tanah adalah kepekaan tanah terhadap erosi atau mudah tidaknya suatu tanah mengalami erosi. Erodibilitas tanah menunjukkan tingkat kepekaan tanah terhadap daya rusak hujan. Semakin tinggi nilai erodibilitas maka semakin mudah tanah tersebut mengalami erosi. Kepekaan atau ketahanan tanah terhadap erosi berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah (Arsyad, 1989) Kepekaan erosi tanah (erodibilitas tanah) adalah fungsi berbagai interaksi sifat fisik dan kimia tanah. Semakin tinggi nilai erodibilitas maka semakin mudah tanah tersebut mengalami erosi. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi tanah adalah : pertama, sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas, dan kapasitas menahan air. Kedua adalah sifat sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan (Arsyad, 1989). Beberapa sifat fisik tanah yang berpengaruh terhadap erodibilitas tanah adalah: tekstur tanah (pasir sangat halus, debu dan liat), struktur tanah, permeabilitas tanah dan kandungan bahan organik (Wischmeier et al., 1971). Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi pasir, debu dan liat pada suatu massa tanah. Menurut sistem Departemen Pertanian Amerika Serikat, diameter fraksi pasir berukuran 2,0 mm 0,05 mm, fraksi debu 0,05 mm 0,002 mm dan fraksi liat <

5 0,002 mm (Foth, 1998). Masing-masing fraksi ini mempunyai kepekaan yang berbeda terhadap erosi. Tanah yang mempunyai kandungan liat yang tinggi umumnya kurang peka terhadap erosi jika dibandingkan dengan tanah yang mempunyai kandungan liat yang rendah. Tanah-tanah yang banyak mengandung debu paling mudah tererosi karena debu berukuran 0,002 0,05 mm sangat mudah dihanyutkan oleh air, cepat penurunan kapasitas infiltrasinya, dan rendah kemantapan strukturnya. Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) menyebutkan bahwa kepekaan suatu tanah terhadap erosi atau nilai erodibilitas suatu tanah ditentukan oleh ketahanan tanah terhadap daya rusak dari luar dan kemampuan tanah untuk menyerap air (infiltrasi dan perkolasi). Ketahanan tanah menentukan mudah tidaknya massa tanah dihancurkan oleh daya dari luar, sedangkan infiltrasi dan perkolasi menentukan besarnya limpasan permukaan yang mengikis dan mengangkut massa tanah. Kemudahan massa tanah untuk dihancurkan ditentukan oleh tekstur tanah, kemantapan agregat dan kandungan bahan organik serta bahan semen. Sedangkan kemampuan tanah untuk menyerap serta meneruskan air dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi, permeabilitas tanah, tekstur tanah, kemantapan agregat dan ruang pori (Utomo, 1987). Kapasitas infiltrasi dipengaruhi oleh distribusi ukuran pori, kemantapan pori dan kedalaman efektif tanah. Distribusi ukuran pori sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel praksi tanah. Semakin kasar ukuran partikel maka semakin didominasi oleh pori makro. Adanya mineral liat yang mempunyai kemampuan mengembang ( swelling) besar juga sangat menurunkan kapasitas infiltrasi. Oleh karena itu tanah dengan mineral liat montmorillonit akan mempunyai nilai erodibilitas yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan tanah yang didominasi oleh mineral liat kaolinit ( Utomo, 1994) Sifat tanah yang penting dan berpengaruh terhadap ketahanan terhadap daya rusak dan kemampuannya menyerap air adalah : struktur tanah, permeabilitas tanah, kadar bahan organik tanah, kadar pasir halus, debu, liat dan pasir kasar. Pengaruh kadar bahan organik tanah terhadap nilai erodibilitas adalah secara tidak langsung karena bahan organik berpengaruh terhadap kemantapan agregat (struktur tanah), aerasi tanah, sebaran pori tanah yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap permeabilitas tanah (Foth, 1998). Suripin (2002) mengemukakan bahwa erodibilitas tanah merupakan sifat tanah yang dinamis, yang bervariasi terhadap waktu, suhu tanah, pengolahan tanah, dan gangguan manusia atau binatang. Dalam menentukan tingkat erodibilitas suatu tanah,

6 beberapa metode atau cara telah dikemukakan oleh para ahli. Bouyoucus ( dalam Arsyad, 1989) mengusulkan nisbah kandungan pasir dan debu terhadap kandungan liat sebagai indeks erodibilitas suatu tanah. Nisbah tersebut merupakan kreteria yang penting dalam menduga kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang mempunyai kandungan liat yang tinggi umumnya kurang peka terhadap erosi jika dibandingkan dengan tanah yang mempunyai kandungan liat yang rendah. Tanah-tanah yang banyak mengandung debu paling mudah tererosi karena debu berukuran 0,002 0,05 mm sangat mudah dihanyutkan oleh air, cepat penurunan kapasitas infiltrasinya, dan rendah kemantapan strukturnya karena daya kohesi antara partikelnya sangat lemah. Sedangkan tanah pasir akan lebih tahan terhadap erosi, karena tanah pasir kaya akan pori-pori yang besar sehingga mempunyai kapasitas infiltrasi yang tinggi, pasir dengan ukuran yang lebih besar akan lebih sukar dihanyutkan, tapi tanah pasir mempunyai kemantapan struktur yang rendah karena antara partikel yang satu dengan yang lainnya tidak memiliki daya ikat yang besar. Diantara ketiga jenis tanah yang paling tahan terhadap erosi adalah tanah liat. Hal ini disebabkan karena tanah liat mempunyai kemantapan struktur yang tinggi dan kapasitas penampungan air yang tinggi pula (Suripin, 2002). Wischmeier dan Mannering (dalam Arsyad, 1989) mengatakan bahwa debu dan pasir mempunyai peranan positif dan liat mempunyai peranan negatif terhadap erosi. Ahli lain yaitu Meddleton (1965, dalam Arsyad, 1989) menggunakan nisbah dispersi sebagai indeks erodibilitas tanah. Di lain pihak Yorder (dalam Utomo, 1987) tertarik pada kemantapan agregat terhadap air sebagai indeks erodibilitas. Namun demikian cara yang paling baik adalah dengan menghitung langsung kehilangan tanah di lapangan pada kemiringan dan panjang lereng yang standard. Selanjutnya Utomo (1987) menjelaskan bahwa penentuan nilai erodibilitas yang sesungguhnya di lapangan banyak menemui kesulitan seperti biaya yang tinggi, waktu yang sangat lama dan selalu tergantung pada iklim. Oleh karena itu, untuk mempercepat penentuan nilai erodibilitas Wischmeier et al. 1971 (dalam Utomo, 1994) menghubungkan sifat fisik tanah dengan kehilangan tanah dalam menghitung indeks erodibilitas tanah dengan persamaan : 100 K = 1,292 {2,1 M 1,14 (10-4 ) (12 a) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c 3)}

7 dimana M adalah adalah persentase pasir halus dan debu (diameter 0,1 0,05 dan 0,05 0,02 mm) x (100 - % liat), a adalah persentase bahan organik tanah, b adalah kelas struktur tanah, dan c adalah kelas permeabilitas profil tanah. Selanjutnya Dangler dan El-Swaify (dalam Utomo 1994) mengklasifikasikan nilai erodibilitas (K) menjadi enam yaitu : sangat rendah (K=0,00 0,10), rendah (K = 0,11-0,20); sedang (K = 0,21-0,32); agak tinggi(k = 0,33 0,43); tinggi (K = 0,44 0,55) dan sangat tinggi (K = >0,56

8 III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tujuh fraksi partikel tanah dengan sifat tanah yaitu : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Selanjutnya sifat tanah berupa : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah dapat diprediksi. Kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu penelitian ini juga bertujuan ingin mengetahui seberapa erat hubungan 7 fraksi partikel tanah dengan sifat tanah, dan fraksi mana yang paling berpengaruh terhadap : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. 3.2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah dengan mengetahui hubungan fraksi partikel tanah dengan sifat sifat tanah, maka sifat tanah berupa : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah dapat diprediksi. Kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Kedua, penelitian ini juga bermanfaat untuk menambah wawasan seberapa erat hubungan fraksi partikel tanah dengan sifat-sifat tanah khususnya kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Di samping itu, penelitian ini juga menambah wawasan tentang fraksi yang paling berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah seperti : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation.

9 IV. METODE PENELITIAN Contoh tanah sebanyak 32 sampel diambil dari beberapa lokasi di Bali. Setelah contoh tanah diambil, kemudian dikeringudarakan dan diayak dengan ayakan lolos 2 mm. Selanjutnya dianalisis di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Sejumlah sampel yang diambil dari lokasi yang berbeda diharapkan terdapat perbedaan dalam distribusi ukuran partikel tanah khususnya komposisi 7 fraksi yaitu pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, debu dan liat, sehingga bisa dikorelasikan dengan sifat tanah (kadar air, erodibilitas tanah dan KTK tanah). Analisis tekstur tanah untuk mendapatkan 7 fraksi tanah menggunakan metode pipet dan metode ayakan. Analisis kadar air tanah dengan metode Gravimetri, dan analisis kapasitas tukar kation tanah menggunakan metode Penjenuhan dengan NH4OAc. Analisis kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah) dengan menggunakan metode Wischmeier 1976. Wischmeier (1976) menghubungkan sifat - sifat tanah dengan kehilangan tanah dalam menghitung indeks erodibilitas tanah (K) dengan persamaan : 100 K = 1,292 {2,1 M 1,14 (10-4 ) (12 - a) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c - 3)} dimana : M adalah persentase pasir halus dan debu, a adalah persentase bahan organik, b adalah kode struktur tanah, dan c adalah kelas permeabilitas profil tanah. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi antara ketujuh fraksi tanah dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Metode yang digunakan dalam analisis data ini adalah Pearson Correlation mengingat data analisis laboratorium adalah data parametrik. Kisaran nilai korelasi dari metode ini adalah -1 sampai +1. Dalam nilai absolut, semakin besar nilai r maka keeratan hubungan antar variabel makin besar dan sebaliknya. Nilai positif (+) atau nilai negatif ( -) dari hasil korelasi tersebut menandakan arah hubungan antar fraksi tanah dengan sifat tanah (kadar air tanah, erodibilitas tanah atau kapasitas tukar kation tanah) yang berbanding lurus atau berlawanan. Nilai signifikansi (nilai p) menyatakan bahwa hubungan fraksi dengan sifat tanah sangat linier. Apabila nilai p < 0,05 maka tingkat kesalahan dari korelasi fraksi tanah dengan sifat tanah tersebut kecil, atau peluang kebenarannya besar yang menunjukkan bahwa benar-benar berkorelasi secara lenier. Di samping itu, juga dilakukan analisis Step Wise untuk mengetahui fraksi mana yang paling berpengaruh

10 terhadap suatu sifat tanah seperti : kadar air tanah, erodibilitas tanah dan kapasitas tukar kation tanah

11 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Hasil analisis laboratorium dari 32 sampel tanah yang berasal dari beberapa kabupaten di Bali yang meliputi : pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, debu dan liat, kadar air, erodibilitas tanah dan KTK tanah disajikan pada Tabel 1. No. Lab Tabel 1. Hasil analisis 7 fraksi tanah, kadar air, erodibilitas dan KTK tanah Sangat Kasar Kasar sedang Halus sangat Halus Debu Liat Kadar air Tanah Erodibilitas tanah KTK Tanah 1 2.186 41.060 26.061 4.972 1.313 21.552 2.856 5.166 0.091 5.693 2 1.348 29.172 18.199 7.802 2.984 30.371 10.124 8.31 0.189 22.095 3 5.873 18.943 15.054 13.461 2.987 33.021 10.66 9.56 0.169 30.239 4 1.791 26.573 18.064 8.372 1.574 27.527 16.101 7.176 0.120 32.908 5 4.021 7.788 9.526 10.315 2.454 55.518 10.377 3.92 0.426 12.886 6 19.643 22.959 18.650 18.829 3.300 12.725 3.895 3.439 0.059 9.130 7 3.428 17.413 22.077 18.126 2.556 35.1 1.3 6.935 0.164 5.610 8 25.118 24.270 8.538 5.317 2.357 28.45 5.949 5.42 0.210 5.693 9 2.293 9.692 20.022 21.783 4.390 25.456 16.364 5.105 0.168 20.180 10 27.873 26.305 15.218 11.479 2.246 10.387 6.492 3.92 0.014 12.886 11 4.037 11.912 17.678 18.932 3.015 34.035 10.392 6.457 0.193 24.728 12 4.849 11.858 14.931 15.173 2.509 29.688 21.094 8.422 0.199 37.514 13 3.572 11.112 11.960 13.804 1.818 32.248 25.486 9.171 0.189 23.149 14 5.871 12.280 11.415 14.185 3.753 11.175 41.32 15.123 0.118 35.097 15 12.002 12.341 9.476 11.793 3.434 38.476 12.479 11.946 0.215 22.389 16 16.135 16.382 12.357 14.257 3.761 29.583 7.525 9.223 0.049 19.879 17 1.538 3.203 5.245 9.603 2.846 49.289 28.276 6.176 0.263 24.845 18 3.451 13.552 17.501 20.523 3.671 32.99 8.313 3.745 0.165 9.13 19 1.061 2.076 4.834 6.752 1.818 56.159 27.3 9.004 0.234 34.657 20 5.319 6.942 10.522 9.638 3.131 43.659 20.79 9.705 0.245 19.705 21 1.663 3.467 5.666 10.688 4.471 55.079 18.966 11.138 0.395 34.541 22 0.395 1.299 3.319 8.097 2.400 46.795 37.696 12.412 0.211 31.251 23 0.820 8.653 14.210 15.109 4.620 50.877 5.711 8.128 0.332 10.929 24 0.830 3.907 8.894 14.865 4.151 52.01 15.343 11.785 0.318 37.746 25 5.224 9.855 9.634 13.332 3.551 38.158 20.247 12.697 0.280 25.207 26 7.301 7.061 6.565 9.238 2.224 45.767 21.843 12.412 0.244 31.251 27 5.596 10.839 10.076 15.320 4.427 34.01 19.731 12.319 0.220 26.283 28 3.407 9.168 13.364 17.835 4.228 41.08 10.92 7.335 0.030 28.955

12 No. Lab Sangat Kasar Kasar sedang Halus sangat Halus Debu Liat Kadar air Tanah Erodibilitas tanah KTK Tanah 29 0.775 1.882 5.326 13.056 2.673 55.53 20.759 11.657 0.242 27.181 30 0.209 2.270 7.807 11.403 2.522 53.468 22.321 10.248 0.324 36.112 31 5.359 7.223 7.738 12.706 4.146 41.279 21.548 6.176 0.247 24.845 32 6.298 13.413 13.703 15.459 3.383 28.489 19.256 10.705 0.116 19.705 Berdasarkan analisis tanah (Tabel 1) ditemukan bahwa kadar air tanah berkisar mulai 3,349 % sampai 15,123 %. Secara visual tampak bahwa semakin tinggi kadar liat atau semakin halus fraksi tanah maka semakin tinggi kadar air tanah. Sebaliknya semakin tinggi fraksi kasar (pasir sangat kasar, pasir kasar pasir sedang) maka semakin rendah kadar air tanah. Nilai erodibilitas tanah berdasarkan hasil analisis tanah dan selanjutnya dilakukan perhitungan dengan rumus erodibilitas Wischmeier et al. 1971 (dalam Utomo, 1994), nilai K berkisar dari 0,014 sampai 0,426. Jika dihubungkan dengan klasifikasi Dangler dan El-Swaify nilai erodibilitas (K) menjadi enam yaitu : sangat rendah (K=0,00 0,10), rendah (K = 0,11-0,20); sedang (K = 0,21-0,32); agak tinggi(k = 0,33 0,43); tinggi (K = 0,44 0,55) dan sangat tinggi (K = >0,56 maka ditemukan 15,6 % sample tanah mempunyai nilai K sangat rendah, 34,4 % rendah, 40,6 % sedang dan 9,4 % agak tinggi. Kapasitas tukar tanah (KTK) berkisar dari 5,61 sampai 37,75. Berdasarkan klasifikasi nilai KTK, maka ditemukan 25 % sampel tanah nilai KTK tanahnya tergolong rendah, 25 % sampel tergolong sedang, dan 50 % sampel tergolong tinggi. Analisis matriks korelasi merupakan metode digunakan untuk menilai keeratan hubungan antar variabel. Keeratan hubungan menunjukkan adanya saling ketergantungan antar variabel yang satu dengan variabel yang lain. Hasil analisis matrik korelasi 7 fraksi tanah (pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat lus, debu dan liat), kadar air tanah, erodibilitas tanah, dan KTK tanah disajikan pada Tabel 2.

13 Tabel 2. Matrik koefisien korelasi 7 fraksi tanah dengan kadar air, erodibilitas dan KTK tanah S. Kasar Kasar sedang Halus S. Halus Debu Sangat Kasar 1.000 0.431* 0.014 0.083 0.652-0.044 0.810-0.078 0.672-0.571** 0.001 Kasar 1.000 0.763** 0.000-0.180 0.324-0.354* 0.047-0.740** 0.000 sedang 1.000 0.360* 0.043-0.098 0.592-0.654** 0.000 Halus 1.000 0.582** 0.000-0.224 0.018 sangat Halus 1.000 0.093 0.614 Debu 1.000 Liat Kadar air Erodibilitas tanah KTK Tanah Liat -0.384* 0.030-0.600** 0.000-0.638** 0.000-0.200 0.271-0.027 0.885 0.235 0.195 1.000 Kadar air -0.305 0.089-0.447* 0.010-0.524** 0.002-0.141 0.441 0.193 0.291 0.271 0.33 0.632** 0.000 1.000 Erodibilitas tanah KTK Tanah -0.464** 0.007 --0.442* 0.011-0.597** 0.000-0.542** 0.001-0.546** 0.001-0.523** 0.002-0.224 0218-0.095 0.606 0.151 0.408 0.083 0.652 0.792** 0.000 0.354* 0.047 0.236 0.193 0.699** 0.000 0.246 0.174 0.654** 0.000 1.000 0.248 0.171 1.000 Keterangan : Angka pada baris pertama pada setiap kolom menunjukkan r (keeratan hubungan) dan angka pada baris kedua menunjukkan nilai p (probability) 5.2 Pembahasan Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa fraksi pasir yaitu pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus berkorelasi negatif dengan kadar air tanah, koefisien korelasi (r) masing-masing-masing -0.305,. -0.447 *, -0.524**. dan -0,141. Antara pasir halus dengan kadar air tanah, koefisien korelasinya r- -0.141 (tidak nyata). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin meningkat kadar pasir, baik pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang maupun pasir halus, maka kadar air tanah semakin menurun. Hal ini disebabkan karena ukuran partikel pasir yang cukup besar akan membentuk pori pori yang berkuran makro. Kohnke (1989) mengatakan bahwa partikel pasir tidak bisa saling mengunci sehingga akan terbentuk pori makro. Pori makro berfungsi sebagai lalu

14 lintas air dan udara sehingga akan segera meloloskan air. Dengan demikian semakin tinggi fraksi pasir baik pasir sangat kasar, pasir kasar, pasir sedang maupun pasir halus, maka kadar air tanah semakin rendah. Hal ini disebabkan karena fraksi pasir berfungsi sebagai kerangka tanah dengan luas permukaan jenis pasir yang kecil, sehingga proses kimia maupun fisika khususnya adsorsi air sangat rendah. Di samping itu, pori mikro yang berfungsi memegang air pada tanah yang didominasi oleh fraksi pasir persentasenya sangat rendah. Sehubungan dengan sifat pori terhadap tata udara dan air Sarief (1985) menyebutkan makin kasar tekstur tanah makin besar distribusi pori makro sehingga tanah menjadi porus, kemampuan tanah menahan air semakin kecil. Narka ( 1997) mendapatkan bahwa pori penyimpan air (pori mikro) pada tanah bertekstur pasir adalah 11,70 % sedangkan pada tanah bertekstur liat meningkat menjadi 46,78 %. Sebaliknya pori aerase pada tanah bertekstur pasir 25,62 % menurun menjadi 9,20 % pada tanah bertekstur liat. Selanjutnya mulai fraksi pasir sangat halus (0,01-0,05 mm) debu (0,05 0,002) dan liat (<0,002) ditemukan korelasi pos itif dengan kadar air tanah. Korelasi pasir sangat halus dengan kadar air tanah terlihat adanya korelasi positif namun tidak nyata. Korelasi positif yang sangat nyata terlihat antara partikel liat dengan kadar air ( r = 0,632 **), sementara antara debu dengan kadar air korelasi positif tidak nyata ( r = 0,271). Berdasarkan koefisien korelasi ini tampak bahwa semakin kecil ukuran partikel tanah maka semakin besar koefisien korelasinya, yang berarti semakin kecil ukuran partikel tanah maka semakin kuat hubungannya dengan kadar air. Korelasi positif sangat nyata ditemukan pada fraksi tanah yang paling kecil yaitu liat. Semakin tinggi kadar liat maka semakin besar kadar air tanah. Hal ini disebabkan karena air berada pada partiktel liat. Molekul air teradsorpsi dan mengelilingi partikel liat (Foth, 1998). Makin halus tekstur tanah makin banyak mempunyai pori-pori kapiler dan sedikit mempunyai pori-pori non kapiler. Pada keadaan basah akan banyak mengandung air dan sedikit mengandung udara. Oleh karena itu, tanah-tanah yang didominasi oleh liat mempunyai sifat-sifat : daya pegang air tinggi, aerasi kurang baik, porositas total tinggi (Sarief, 1985; Hakim et al., 1986) Semakin tinggi jumlah fraksi liat, maka kadar air tanah semakin tinggi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa liat mempunyai permukaan jenis paling besar (800 m 2 /g) yang selanjutnya berpengaruh terhadap sifat fisika maupun kimia tanah. Luas permukaan jenis yang besar sangat aktif dalam adsorpsi air. Oleh karena itu, tanah yang didominasi

15 oleh fraksi liat mempunyai daya pegang air yang besar dan pori aerase yang rendah Makin halus tekstur tanah, makin besar persentase pori mikro yang berfungsi untuk menyimpan air. Fraksi liat sangat berpengaruh terhadap kadar air tanah karena fraksi liat mempunyai luas permukaan jenis paling besar yaitu mencapai 800 m2/g (Darmawijaya, 1990) yang sangat aktif dalam adsorpsi air. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa terdapat korelasi negatif yang sangat nyata antara pasir sangat kasar, dengan erodibilitas tanah (r = -0,524 **). Demikian pula antara fraksi pasir kasar dengan erodibilitas tanah ( r = -0,597 **) antara pasir sedang dengan erodibilitas tanah (r = -0,546 **), sementara antara pasir halus dengan erodibilitas tanah ditemukan korelasi negatif tidak nyata (r = -0,224 ). Semakin tinggi partikel pasir, baik pasir sangat kasar, pasir kasar maupun pasir sedang berarti semakin rendah nilai erodibilitas tanah yang berarti tanah semakin tidak peka erosi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa fraksi pasir sangat kasar (2,00 1,00 mm) pasir kasar (1,00 0,50 mm), pasir sedang (0,50 0,25 mm) akan menyebabkan dominannya pori makro. Pori makro berperanan meloloskan air sehingga sebagian besar air akan terinfiltrasi masuk ke dalam tanah dan aliran permukaan menjadi rendah. Rendahnya aliran permukaan dan ditambah pula ukuran pasir relatif besar, akan menyebabkan sulitnya pasir terangkut oleh air. Kohnke (1989) menyebutkan bahwa fraksi pasir tidak akan membentuk struktur saling mengunci, sehingga tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi pasir akan mudah meloloskan air. Tingginya pori aerase pada tanah yang didominasi oleh fraksi pasir menyebabkan lancarnya lalu lintas air dan udara. Sehubungan dengan peranan pasir dalam meningkatkan daya hantar air dan udara, Narka dan Wiyanti (1999) menemukan bahwa penambahan fraksi pasir pada tanah Vertisol sebanyak 50 % dari berat tanah Vertisol (tekstur liat) dapat meningkatkan daya hantar air dan udara (permeabilitas tanah) dari 0,11 cm/jam menjadi 129,20 cm/jam. Hasil penelitian nilai erodibilitas tanah pada bekas hutan jati di Bali Barat dalam hubungannya dengan sifat fisik tanah juga menunjukkan bahwa semakin tinggi fraksi pasir terdapat kecenderungan erodibilitas semakin rendah, walaupun secara statistik tidak nyata. Hal ini disebabkan karena pasir kasar berukuran lebih besar sehingga sulit diangkut oleh aliran permukaan. Selain itu, fraksi pasir kasar akan menyebabkan permabilitas tanah menjadi cepat, aliran permukaan rendah sehingga tidak cukup energi untuk mengangkut pasir kasar. Semakin cepat permeabilitas tanah maka aliran permukaan ( run off) akan semakin kecil. Aliran permukaan yang kecil tidak dapat

16 mengangkut fraksi pasir kasar yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kepekaan tanah terhadap erosi (Narka, 2006). Korelasi positif (tidak nyata) mulai ditemukan pada fraksi pasir sangat halus dan selanjutnya pada fraksi debu dan liat. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa semakin kasar fraksi tanah yaitu mulai pasir halus, pasir sedang, pasir kasar, dan pasir sangat kasar koefisien korelasi bertanda negatif, tetapi sebaliknya semakin halus fraksi tanah yaitu mulai fraksi pasir sangat halus (0,10 0.05 mm) selanjutnya debu (0,05-0,002 mm) dan liat (<0,002mm) koefisien korelasi bertanda positif, hanya saja pada fraki liat dengan erodibilitas tanah tidak nyata (r = 0,236) dan fraksi pasir sangat halus dengan erodibilitas (r = 0,151). Korelasi positif sangat nyata ditemukan pada fraksi debu dengan erodibilitas tanah (r = 0,792 **). Semakin tinggi fraksi debu maka semakin tinggi nilai erodibilitas yang berarti semakin peka terhadap erosi. Debu sulit membentuk agregat yang mantap dan berukuran relative kecil sehingga mudah dihanyutkan oleh aliran permukaan. Tanah-tanah yang banyak mengandung debu paling mudah tererosi karena debu berukuran 0,002 0,05 mm sangat mudah dihanyutkan oleh air, cepat penurunan kapasitas infiltrasinya, dan rendah kemantapan strukturnya karena daya kohesi antara partikelnya sangat lemah. Sedangkan tanah pasir akan lebih tahan terhadap erosi, karena tanah pasir kaya akan pori-pori yang besar sehingga mempunyai kapasitas infiltrasi yang tinggi, pasir dengan ukuran yang lebih besar akan lebih sukar dihanyutkan, tapi tanah pasir mempunyai kemantapan struktur yang rendah karena antara partikel yang satu dengan yang lainnya tidak memiliki daya ikat yang besar. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa terdapat korelasi negatif yang sangat nyata antara fraksi pasir kasar dengan KTK tanah ( r = -0,542 **), antara fraksi pasir sedang dengan KTK tanah (r= -0,523**) dan korelasi negative nyata antara pasir sangat kasar dengan KTK tanah (r= -0,442*). Semakin tinggi fraksi pasir, baik fraksi pasir sangat kasar, pasir kasar maupun pasir sedang, maka KTK tanah semakin rendah. Hal ini terjadi karena fraksi pasir mempunyai luas permukaan spesifik yang rendah sehingga tidak mampu mengadsorpsi kation-kation Foth (1998) menyatakan bahwa fraksi pasir dan debu menampilkan ikatan negatif yang tidak begitu baik karena luas permukaan spesifiknya yang rendah sehingga pasir mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah. Selanjutnya Darmawijaya (1990) mengemukakan bahwa, fraksi pasir merupakan kerangka tanah atau penyokong tanah dalam terbentuknya struktur tanah sedangkan debu dan liat sebagai bahan pengisi diantara partikel pasir. mempunyai luas

17 permukaan jenis antara 11 227 cm 2 /g, sehingga fraksi pasir tidak banyak menentukan sifat kimia tanah Korelasi positif yang sangat nyata ditemukan antara fraksi liat dengan nilai KTK tanah ( r = 0,699 **), dan korelasi positif nyata antara fraksi debu dengan KTK tanah (r=0,354 *). Ini berarti semakin tinggi persentase liat, makin tinggi pula nilai KTK tanah. Hal ini dapat dijelaskan karena liat sebagian besar bermuatan negatif, luas permukaan spesifiknya paling besar (800 m 2 /g) sehingga mampu mengadsobsi kationkation seperti Ca ++, Mg ++, K + yang merupakan elemen-elemen esensial. Kation-kation yang diadsorbsi bergerak dekat permukaan liat dan bertukar tempat satu dengan yang lainnya dan dengan kation-kation dalam larutan tanah. Kapasitas tanah untuk mengadsorbsi kation-kation yang dapat ditukar disebut kapasitas tukar kation KTK). Kation-kation dapat ditukar yang diadsorbsi tidak dapat tercuci dari tanah dan tersedia untuk dapat digunakan oleh tanaman (Suripin, 2002). Jadi tanah -tanah dengan kandungan liat tinggi cenderung mempunyai kapasitas tukar kation tinggi untuk menahan air maupun unsur hara sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Tan (1991) bahwa makin halus tekstur tanah, makin besar nilai KTK tanah.

18 VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Fraksi pasir sangat kasar berkorelasi negatif sangat nyata dengan erodibilitas tanah (r = -0,464 **) dan berkorelasi nyata dengan KTK tanah (r = -0,442 *). 2. Fraksi pasir kasar maupun pasir sedang berkorelasi negatif sangat nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. 3. Fraksi pasir halus berkorelasi negatif tidak nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. 4. Fraksi pasir sangat halus menunjukkan korelasi positif tidak nyata dengan kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. Semakin kecil ukuran partikel tanah semakin mengarah kepada korelasi positif pada kadar air tanah, erodibilitas tanah dan KTK tanah. 5. Fraksi debu berkorelasi positif sangat nyata dengan eroibilitas tanah ( r = 0,792 **) dan berkorelasi positif nyata dengan KTK tanah ( r = 0,354 *). 6. Fraksi liat berkorelasi positif sangat nyata dengan kadar air tanah dan KTK tanah dengan koefisien korelasi masing-masing 0,632 ** dan 0,699 ** 6.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melalukan penelitian lanjutan mengenai korelasi fraksi tanah dengan sifat-sifat tanah lainnya seperti kadar P tanah, kadar nitrogen tanah dan kadar kalium tanah.

19 DAFTAR PUSTAKA Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB Bogor. 290 p Badan Kerjasama Ilmu Tanah. 1991. Kesuburan Tanah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 245 p. Darmawijaya, M.I. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 411 p. Foth, H.D. 1998. Dasar-dasar Ilmu tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 782 p. Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.A. Diha, Go Ban Hong, H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. 488 p. Kohnke, H. 1989. Fisika Tanah. Terjemahan B.D. Kertonegoro. Jurusan Tanah Fak. Pertanian UGM. Yogyakarta. 264 p. Narka, I W. 1997. Karakteristik air tanah pada tanah bertekstur pasir, lempung dan liat. Majalah Ilmiah Unud. 49. (23) : 111 115. Narka, I W. dan Wiyanti. 1999. Pengaruh pemberian pasir terhadap sifat fisik tanah Vertisol. Agritrop Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian. 18 (1) : 11 15 Narka, I W. 2006. Nilai Erodibilitas Tanah pada Lahan Bekas Hutan Jati di Bali Barat dan Hubungannya dengan Beberapa Sifat Fisik Tanah. Agritrop Jurnal Ilmuilmu Pertanian. 25 (4) : 134-139 Rosmarkam, A. Dan N. W. Yuwono. 2006. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius Jakarta. 224 p. Penerbit PT Sarief, E.S. 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. 157 p Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Ed. I. Penerbit Andi Yogyakarta. 210 p. Sutedjo, M.M., A.G. Kartasapoetra, R.D.S. Sastroatmodjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. Pt. Rineka Cipta. Jakarta. 447 p. Sutedjo, M.M., A.G. Kartasapoetra. 2002. Pengantar Ilmu Tanah. Pt. Rineka Cipta. Jakarta. 152 p. Tan, K.H. 1991. Dasar-dasar Kimia Tanah. Terjemahan D.H. Goenadi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 295 p. Wischmeier, W.H., C.B.Johnson, and B.V. Cross. (1971). A Soil Erodibility, Monograph for farmland and Construction Siles. J. Soil & Water Conservation. p. 189-193

20 No. Lab. Asal Tanah Lampiran 1. Hasil Analisis Fraksi Partikel Tanah sangat Kasar Kasar Sedang Halus sangat Halus Debu Liat 1 Karangasem 2.186 41.060 26.061 4.972 1.313 21.552 2.856 2 Bangli 1.348 29.172 18.199 7.802 2.984 30.371 10.124 3 Gianyar 5.873 18.943 15.054 13.461 2.987 33.021 10.66 4 Bangli 1.791 26.573 18.064 8.372 1.574 27.527 16.101 5 Jembrana 4.021 7.788 9.526 10.315 2.454 55.518 10.377 6 karangasem 19.643 22.959 18.650 18.829 3.300 12.725 3.895 7 Jembrana 3.428 17.413 22.077 18.126 2.556 35.1 1.3 8 Jembrana 25.118 24.270 8.538 5.317 2.357 28.45 5.949 9 Bangli 2.293 9.692 20.022 21.783 4.390 25.456 16.364 10 Karangasem 27.873 26.305 15.218 11.479 2.246 10.387 6.492 11 Karangasem 4.037 11.912 17.678 18.932 3.015 34.035 10.392 12 Singaraja 4.849 11.858 14.931 15.173 2.509 29.688 21.094 13 Badung 3.572 11.112 11.960 13.804 1.818 32.248 25.486 14 Badung 5.871 12.280 11.415 14.185 3.753 11.175 41.32 15 Klungkung 12.002 12.341 9.476 11.793 3.434 38.476 12.479 16 Klungkung 16.135 16.382 12.357 14.257 3.761 29.583 7.525 17 Tabanan 1.538 3.203 5.245 9.603 2.846 49.289 28.276

21 No. Lab. Asal Tanah Lampiran 1. (lanjutan) sangat Kasar Kasar Sedang Halus sangat Halus Debu Liat 18 Klungkung 3.451 13.552 17.501 20.523 3.671 32.99 8.313 19 Tabanan 1.061 2.076 4.834 6.752 1.818 56.159 27.3 20 Gianyar 5.319 6.942 10.522 9.638 3.131 43.659 20.79 21 Gianyar 1.663 3.467 5.666 10.688 4.471 55.079 18.966 22 Tabanan 0.395 1.299 3.319 8.097 2.400 46.795 37.696 23 Bangli 0.820 8.653 14.210 15.109 4.620 50.877 5.711 24 Denpasar 0.830 3.907 8.894 14.865 4.151 52.01 15.343 25 Badung 5.224 9.855 9.634 13.332 3.551 38.158 20.247 26 Jembrana 7.301 7.061 6.565 9.238 2.224 45.767 21.843 27 Singaraja 5.596 10.839 10.076 15.320 4.427 34.01 19.731 28 Klungkung 3.407 9.168 13.364 17.835 4.228 41.08 10.92 29 Denpasar 0.775 1.882 5.326 13.056 2.673 55.53 20.759 30 Badung 0.209 2.270 7.807 11.403 2.522 53.468 22.321 31 Badung 5.359 7.223 7.738 12.706 4.146 41.279 21.548 32 Jembrana 6.298 13.413 13.703 15.459 3.383 28.489 19.256

22 No Lab Klas tekstur tanah 1 berlempung 2 Lempung berpasir 3 Lempung berpasir 4 Lempung berpasir 5 Lempung berdebu 6 berlempung 7 Lempung berpasir 8 Lempung berpasir 9 Lempung berpasir 10 berlempung 11 Lempung berpasir 12 13 14 Lampiran 2. Analisis Sifat Fisik Tanah Kadar air Kadar C- Organik Kapasitas tukar kation 5.166 1.819 5.693 8.31 2.688 22.095 9.56 3.415 30.239 7.176 3.588 32.908 3.92 2.62 12.886 3.439 0.806 9.130 6.935 2.698 5.610 5.42 2.054 5.693 5.105 3.243 20.180 3.92 1.62 12.886 6.457 3.063 24.728 Lempung 8.422 3.599 37.514 Lempung 9.171 3.882 23.149 Lempung 15.123 3.588 35.097 15 Lempung 11.946 3.053 22.389 16 Lempung berpasir 17 berlempung 9.223 4.255 19.879 6.176 3.599 24.845 Kelas Struktur Granuler halus (2) Granuler kasar (3) Granuler kasar (3) Granuler kasar (3) angular blocky (4) Granuler halus (2) Granuler halus (2) Granuler kasar (3) Granuler kasar (3) Granuler halus (2) Granuler kasar (3) angular blocky (4) angular blocky (4) angular blocky (4) Granuler kasar (3) Granuler halus (2) angular blocky (4) Permeabilitas tanah (cm/jam) 30.24 (SC) Kelas Permeabilitas 1 8.96 (AC) 2 10.58 (AC) 2 12.34 (AC) 2 4.89 (S) 3 28.51 (SC) 1 25.98 (SC) 1 11.70 (AC) 2 5.10 (S) 3 20.48 (C) 1 9.86 (AC) 2 4.26 (S) 3 3.80 (S) 3 2.95 (S) 3 9.26 (AC) 2 15.67 (C) 1 4.72 (S) 3 Keterangan : AC = Agak Cepat, SC = Sangat Cepat, S = Sedang,

23 Lampiran 2. (lanjutan) No Lab Klas tekstur tanah 18 Lempung berliat 19 Lempung berpasir 20 Lempung liat berdebu 21 Kadar air Kadar C- Organik (%( Kapasitas tukar kation 3.745 2.829 9.13 9.004 4.442 34.657 9.705 3.882 19.705 Lempung 11.138 2.243 34.541 22 Lempung berdebu 23 Lempung liat berdebu 24 Lempung berdebu 25 Lempung berdebu 26 27 12.412 3.942 31.251 8.128 2.882 10.929 11.785 3.063 37.746 12.697 2.819 25.207 Lempung 12.412 3.942 31.251 Lempung 12.319 3.063 26.283 28 Lempung 7.335 6.400 28.955 29 Lempung 11.657 4.545 27.181 30 Lempung berdebu 31 Lempung berdebu 10.248 3.198 36.112 6.176 3.723 24.845 32 Lempung 10.705 3.882 19.705 Keterangan : AC = Agak Cepat S = Sedang Kelas Struktur Granuler halus (2) angular blocky (4) angular blocky (4) angular blocky (4) angular blocky (4) Granuler kasar (3) Granuler kasar (3) angular blocky (4) angular blocky (4) angular blocky (4) Granuler kasar (3) angular blocky (4) angular blocky (4) angular blocky (4) Granuler kasar (3) Permeabilitas tanah (cm/jam) Kelas Permeabilitas 10.29 (AC) 2 4.58 (S) 5.11 (S) 7.62 (AC) 3.84 (S) 8.96 (AC) 3 3 2 3 2 4.59 (S) 3 3.86 (S) 5.20 (S) 11.82 (AC) 3 3 2 9.56 (AC) 2 3.80 (S) 4.58 (S) 3.41 (S) 3 3 3 9.46 (AC) 2

24 No Lab Lampiran 3. Perhitungan Erodibilitas Tanah Persentase liat M Kadar C- Organik Tanah (a) Klas Struktur Tanah (b) Permeabilitas tanah (c) Erodibilitas Tanah (K) 1 2.856 2221.183 1.819 2 1 0.091 2 10.124 2997.843 2.688 3 2 0.189 3 10.660 3216.936 3.415 3 2 0.169 4 16.101 2441.544 3.588 3 2 0.120 5 10.377 5195.645 2.62 4 3 0.426 6 3.895 1540.085 0.806 2 1 0.059 7 1.300 3716.672 2.698 2 1 0.164 8 5.949 2897.446 2.054 3 2 0.210 9 16.364 2496.221 3.243 3 3 0.168 10 6.492 1181.279 1.62 2 1 0.014 11 10.392 3319.956 3.063 3 2 0.193 12 21.094 2540.508 3.599 4 3 0.199 13 25.486 2538.365 3.882 4 3 0.189 14 41.320 875.998 3.588 4 3 0.118 15 12.479 3667.969 3.053 3 2 0.215 16 7.525 3083.525 4.255 2 1 0.049 17 28.276 3739.302 3.599 4 3 0.263

25 No Lab Persentase liat Lampiran 3. (lanjutan) M Kadar C- Organik Tanah (a) Klas Struktur Tanah (b) Permeabilitas tanah (c) Erodibilitas Tanah (K) 18 91.687 3361.298 2.829 2 2 0.165 19 72.700 4214.931 4.442 4 3 0.234 20 79.210 3706.199 3.882 4 3 0.245 21 81.034 4825.536 2.243 4 2 0.395 22 62.304 3065.028 3.942 4 3 0.211 23 94.289 5232.766 2.882 3 2 0.332 24 84.657 4754.455 3.063 3 3 0.318 25 79.753 3326.386 2.819 4 3 0.280 26 78.157 3750.836 3.942 4 3 0.244 27 80.269 3085.337 3.063 4 2 0.220 28 89.080 4036.005 6.400 3 2 0.030 29 79.241 4612.09 4.545 4 3 0.242 30 77.679 4349.246 3.198 4 3 0.324 31 78.452 3563.661 3.723 4 3 0.247 32 80.744 2573.45 3.882 3 2 0.116