Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

dokumen-dokumen yang mirip
Tanggung Jawab Sosial. dan Etika Manajemen. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Pengertian Perencanaan

3/30/2012 nts/mu/fti UAJM

BAB VI FUNGSI PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB VI FUNGSI PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB V TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN ETIKA MANAJEMEN

Tanggung Jawab Sosial dan Etika Manajemen. Manajemen Proyek

Tri Suswanto Saptadi Tujuan

Pertemuan ke-5 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Disarikan dari Ashur, Julius, Wiwik dan Berbagai Sumber Yang Relevan

PERENCANAAN (planning)

BAB I PENDAHULUAN. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah salah satu kegiatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. saham atau pihak-pihak yang mempunyai kepentingan keuangan tetapi juga

Corporate Social Responsibility (CSR) Bidang Pertanian

Bussiness Ethic and Good Governence Corporate Social Responsibility ( CSR )

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan dimana merupakan

PEDOMAN PERILAKU Code of Conduct KEBIJAKAN

Bab 1. Pendahuluan. dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) dan merupakan bagian dari

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan keadaan gejala sosial budaya yang ada disekitarnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (2009 : 67) mencoba memberikan definisi dari kinerja, antara lain sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan sebuah komunitas negaranegara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

Perencanaan dan Pengendalian Proyek. Pertemuan V

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu dari beberapa tanggung jawab perusahaan kepada

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility mungkin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Kecenderungan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial

PEDOMAN KEBIJAKAN CODE OF CONDUCT PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari kegiatan atau tindakan ekonomi perusahaan. Kegiatan produksi yang

PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI INTERNASIONAL LAN (2009)

MAKALAH PENGANTAR MANAJEMEN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN ETIKA MANAJEMEN

BUSINESS ETHIC AND GOOD GOVERNANCE Corporate Social Responsbility (E-LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN. besar terhadap keadaan perekonomian. Keberadaan perusahaan menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. untuk fokus pada pengembangan hubungan sosialnya kepada stakeholders

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan (sustainable) dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam dunia industri yang sangat menuntut perbaikan berkelanjutan

BAB I PENDAHULUAN. semakin maraknya komitmen untuk melaksanakan good governance. Pelaksanaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Good Corporate Governance. Corporate Governance, antara lain oleh Forum for Corporate

BAB 1 PENDAHULUAN. jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility-csr) dimana perusahaan

Pengertian dan Urgensi Perencanaan Tujuan dan Rencana Menetapkan Tujuan dan Mengembangkan Rencana Masalah Kontemporer dalam Perencanaan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan yang terjadi menjadikan masyarakat sebagai stakeholder semakin. kegiatan bisnisnya terhadap lingkungan dan sekitarnya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

B. Latar Belakang Penyusunan Pedoman Perilaku Perusahaan (Code of Conduct)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu

BAB I PENDAHULUAN. yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin

BAB I PENDAHULUAN. social responsibility (CSR) bukanlah hal yang baru, karena CSR telah

BAB I PENDAHULUAN. publik eksternalnya adalah mereka yang berada di luar bagian dari organisasi atau

BAB 1 PENDAHULUAN. kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN STAKEHOLDERS

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAGIAN I. PENDAHULUAN

KEWRAUSAHAAN, ETIKA PROFESI dan HUKUM BISNIS

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan semata (single bottom line), melainkan juga beberapa aspek penting

BAB I PENDAHULUAN. kepada stakeholders dan bondholders, yang secara langsung memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. kontribusinya dalam kehidupan komunitas lokal sebagai rekanan dalam kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. dipisahkan dengan masyarakat sebagai lingkungan eksternalnya. Kontribusi dan

PT HD CAPITAL TBK ( PERSEROAN ) KODE ETIK ( CODE OF CONDUCT )

KEPUTUSAN DIREKSI PT. ABM INVESTAMA TBK TENTANG Good Corporate Governance Charter No.002/ABM-BOC-CIR/I/2013

Pedoman Perilaku. Nilai & Standar Kita. Dasar Keberhasilan Kita. Edisi IV

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun terakhir Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi ditandai dengan perkembangan industri pada. umumnya. Perkembangan industri merupakan hasil dari perkembangan

09Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

BAB I PENDAHULUAN. akan mendapat perhatian besar dari pihak - pihak yang berkepentingan melalui

WALIKOTA SEMARANG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dan pertumbuhan ekonomi lingkungan sekitar perusahaan yang sehat dengan

BAB IV PEMAHAMAN KARYAWAN TERHADAP SITEM MANAJEMEN SYARIAH DI KJKS BMT WALISONGO SEMARANG

BAB1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. bergeraknya kegiatan bisnis yang dilakukan. Penunjang tersebut berguna

BAB 1 PENDAHULUAN. tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba yang sebesar besarnya, masalah sosial

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi situasi ekonomi pasar bebas. Perkembangan bisnis dalam

BAB I PENDAHULUAN. sebagai bagian dari perekonomian nasional mempunyai andil yang besar dalam

BAB IV PENUTUP. Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah asing Good Corporate Governance (GCG) tidak dapat

STIE DEWANTARA GCG Bank

BAB I PENDAHULUAN. diterima lagi. Perkembangan dunia usaha saat ini menuntut perusahaan

Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

pemerintah melalui peraturan daerah. Contoh kerugian jangka panjang adalah menurunnya tingkat kepercayaan perusahaan di mata masyarakat, menurunnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. di Inggris dan mulai sangat populer hingga dekade ke 20. Definisi Humas menurut Denny Griswold dalam buku Dasar- Dasar Public

Transkripsi:

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka penjagaan lingkungan, norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta berbagai bentuk tanggung jawab sosial lainnya.

Reaktif Cenderung Menolak tanggung Jawab Sosial Akomodatif Melakukan tanggung jawab sosial untuk menghindari tekanan dari masyarakat Rendah ----------------Tingkat Tanggung Jawab Sosial-------------- Tinggi Defensif Cenderung membela diri dalam menghindari tanggung jawab sosial Proaktif Mengambil inisiatif dalam tanggung jawab sosial; Membentuk model industri yang bertanggung jawab sosial Sumber: Management, Robert Kreitner, 5th edition, Houghton Mifflin Company, 1992

No Pandangan Kelompok yang Pro terhadap tanggung jawab sosial dari Organisasi Bisnis 1 Kegiatan bisnis seringkali menimbulkan masalah, oleh karena itu sudah semestinyalah perusahaan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya 2 Perusahaan adalah bagian dari lingkungan sosial masyarakat, oleh karena itu sudah semestinya ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masyarakat 3 Perusahaan biasanya memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah di lingkungan sosial masyarakat 4 Perusahaan adalah partner dari lingkungan sosial kemasyarakatan, sebagaimana halnya juga pemerintah dan masyarakat lain pada umumnya No Pandangan Kelompok yang Kontra terhadap tanggung jawab sosial dari Organisasi Bisnis 1 Perusahaan tidak memiliki ahli yang mengkhususkan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, oleh karena itu sulit bagi perusahaan untuk ikut bertanggung jawab 2 Perusahaan yang ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam lingkungan sosial masyarakat justru akan memiliki kekuatan untuk mengontrol masyarakat, dan itu indikasi yang kurang baik secara Sosial 3 Akan banyak terdapat konflik kepentingan di masyarakat jika perusahaan terlibat dalam aktifitas sosial 4 Tujuan perusahaan bukan untuk motif sosial, akan tetapi untuk memperoleh profit dan mencapai tujuan yang diharapkan oleh para pemilik perusahaan Sumber: Fundamentals of Managemenet, Ricky W Griffin, Houghton Mifflin Company, 2000, p.41

Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Strategi Reaktif Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab sosial cenderung menolak atau menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial Strategi Defensif Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau menolak tanggung jawab sosial. Strategi Akomodatif Strategi Akomidatif merupakan tanggung jawab sosial yang dijalankan perusahaan dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan sekitar akan hal tersebut Strategi Proaktif Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian dari tanggung jawab untuk memuaskan stakeholders. Jika stakeholders terpuaskan, maka citra positif terhadap perusahaan akan terbangun.

Manfaat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Manfaat bagi Perusahaan Citra Positif Perusahaan di mata masyarakat dan pemerintah Manfaat bagi Masyarakat Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dengan perusahaan akan lebih erat dalam situasi win-win solution. Manfaat bagi Pemerintah Memiliki partner dalam menjalankan misi sosial dari pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial.

Dimensi Etika dalam Manajemen Etika adakah pandangan, keyakinan dan nilai akan sesuatu yang baik dan buruk, benar dan salah (Griffin) Etika Manajemen adalah standar kelayakan pengelolaan organisasi yang memenuhi kriteria etika.

Nilai Personal sebagai standar Etika Nilai (Values) sendiri pada dasarnya merupakan pandangan ideal yang mempengaruhi cara pandang, cara berfikir dan perilaku dari seseorang. Nilai Personal atau Personal Values pada dasarnya merupakan cara pandang, cara pikir, dan keyakinan yang dipegang oleh seseorangsehubungan dengan segala kegiatan yang dilakukannya Nilai Personal terdiri dari nilai terminal dan nilai instrumental. Nilai terminal pada dasarnya merupakan pandangan dan cara berfikir seseorang yang terwujud melalui perilakunya, yang didorong oleh motif dirinya dalam meraih sesuatu. Nilai instrumental adalah pandangan dan cara berfikir seseorang yang berlaku untuk segala keadaan dan diterima oleh semua pihak sebagai sesuatu yang memang harus diperhatikan dan dijalankan.

Penelitian Empiris mengenai Nilai Terminal dan Nilai Instrumental (Kreitner,1992) Responden dari 220 manajer beranggapan bahwa nilai-nilai terminal yang perlu untuk dimiliki adalah (1) kejujuran (2) tanggung jawab (3) kapabilitas (4) ambisi dan (5) independensi Responden dari 220 manajer beranggapan bahwa nilai-nilai instrumental yang perlu dimiliki adalah (1) penghargaan terhadap pribadi (2) keamanan dan kesejahteraan keluarga pekerja (3) kebebasan dan kemerdekaan (4) dorongan untuk meraih sesuatu dan (5) kebahagiaan

Konflik intrapersonal pada dasarnya terjadi umumnya di dalam individu dan antar individu. Konflik individu-organisasi pada dasarnya merupakan konflik yang terjadi pada saat nilai yang dianut oleh individu berbenturan dengan nilai yang harus ditanamkan oleh perusahaan Konflik antar Budaya pada dasarnya merupakan konflik antar individu maupun antara individu dengan organisasi yang disebabkan oleh adanya perbedaan budaya diantara individu yang bersangkutan atau juga organisasi yang bersangkutan

Penggunaan obat-obatan terlarang Pencurian oleh Para Pekerja atau Korupsi Konflik Kepentingan Pengawasan Kualitas atau Quality Control Penyalahgunaan informasi yang bersifat rahasia Penyelewengan dalam pencatatan keuangan Penyalahgunaan penggunaan asset perusahaan Pemecatan tenaga kerja Polusi Lingkungan Cara bersaing dari Perusahaan yang dianggap tidak etis Penggunaan pekerja atau tenaga kerja di bawah umur Pemberian hadiah kepada pihak-pihak tertentu yang terkait dengan pemegang kebijakan. dan lain sebagainya

Data Gathering Analysis Model Penilaian Etika (Griffin,2002) Pengumpulan Data mengenai tindakan atau kegiatan yang dilakukan Apakah tindakan atau kegiatan yang dilakukan memenuhi 4 kriteria dalam etika : Manfaat : Apakah tindakan tersebut memberikan manfaat dan kepuasan bagi semua pihak? Pemenuhan Hak : Apakah tindakan yang dilakukan menjamin terpenuhinya dan terpeliharanya hak-hak dari semua pihak? Keadilan : Apakah tindakan yang dilakukan adil bagi semua pihak? Pemeliharaan : Apakah tindakan yang dilakukan konsisten dengan tanggung jawab pemeliharaan dalam berbagai hal? Tidak dalam seluruh kriteria Tidak dalam satu atau beberapa kriteria Ya, dalam seluruh kriteria -Apakah ada faktor yang menyebabkan kriteria tidak terpenuhi sehingga dapat dimaklumi? -Apakah kriteria yang terpenuhi lebih penting dibandingkan kriteria lain? -Apakah ada faktor diluar kemampuan organisasi yang menyebabkan sebagian kriteria tidak terpenuhi? Penilaian Tidak Tidak Etis Ya Etis

Upaya perwujudan dan peningkatan etika manajemen Pelatihan etika Advokasi etika Kode Etik Keterlibatan Publik dalam Etika Manajemen Perusahaan

Fungsi Perencanaan dan Pengambilan Keputusan

Pengertian Perencanaan Perencanaan atau Planning adalah sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengkordinasikan seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi (Robbins dan Coulter,2002) Perencanaan dapat dilihat dari 3 hal, yaitu proses, fungsi manajemen, dan pengambilan keputusan. (Ernie&Kurniawan,2005) Dari sisi proses, fungsi perencanaan adalah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan bagaimana tujuan tersebut akan dicapai. Dari sisi fungsi manajemen, perencanaan adalah fungsi dimana pimpinan menggunakan pengaruh atas wewenangnya untuk menentukan atau merubah tujuan dan kegiatan organisasi. Dari sisi pengambilan keputusan, perencanaan merupakan pengambilan keputusan untuk jangka waktu yang panjang atau yang akan datang mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, bilamana dan siapa yang akan melakukannya, dimana keputusan yang diambil belum tentu sesuai hingga implementasi perencaan tersebut dibuktikan di kemudian hari.

Fungsi atau Manfaat dari Perencanaan Pengarah Organisasi Minimalisasi Ketidakpastian Minimalisasi inefisiensi sumber daya Penetapan Standar dalam Pengawasan Kualitas

Persyaratan Perencanaan (Planning Requirements) Faktual dan Realistis Logis dan Rasional Fleksibel Komitmen Komprehensif atau menyeluruh

Peran Tujuan dan Rencana dalam Proses Perencanaan Tujuan (Goals) pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat diraih atau dicapai oleh individu, kelompok atau seluruh organisasi. Rencana (Plans) adalah segala bentuk konsep dan dokumentasi yang menggambarkan bagaimana tujuan akan dicapai dan bagaimana sumber daya perusahaan akan dialokasikan, penjadualan dari proses pencapaian tujuan, hingga segala hal yang terkait dengan pencapaian tujuan

Jenis-jenis Tujuan Berdasarkan jumlah Tujuan tunggal (single goals) dan Tujuan yang banyak (multiple goals) Berdasarkan Kejelasan Tujuan yang dinyatakan (stated goals) dan rujuan yang aktual atau nyata (real goals) Berdasarkan Keluasan dan Waktu Pencapaian Tujuan Strategis (strategic goals), Tujuan Taktis (tactical goals), dan Tujuan Operasional (operational goals)

Jenis-jenis Rencana Berdasarkan Keluasan dan Waktu Pencapaian Rencana Strategis (Jangka Panjang), Rencana Taktis (jangka Menengah) dan Rencana Operasional (Jangka Pendek) Berdasarkan Kejelasan Rencana Spesifik (Specific Plans) Rencana Direktif (Directive Plans) Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Rencana Sekali Pakai (single-use plans), dan Rencana yang dipergunakan secara terus-menerus (standing plans)

Hubungan antara Rencana dan Tujuan Tujuan Organisasi Tujuan Strategis (Jangka Panjang) Rencana Strategis Tujuan Taktis (Jangka Menengah) Rencana Taktis Tujuan Operasional (Jangka Pendek) Rencana Operasional

Pendekatan dalam Penetapan Tujuan Pendekatan Tradisional (Traditional Goal Setting) Pendekatan Manajemen Berdasarkan Sasaran/Tujuan (Management by Objectives)

Pendekatan Tradisional dalam Penetapan Tujuan Tujuan Manajemen Puncak Tujuan Manajemen Divisi Tujuan Manajemen Departemen Tujuan Pekerja secara Individual Kita memerlukan peningkatan kinerja perusahaan Kami ingin melihat peningkatan signifikan pada keuntungan dalam divisi kami Tingkatkan Keuntungan bagaimanapun caranya Jangan khawatirkan kualitas, bekerjalah dengan cepat

Pendekatan MBO Pimpinan dan Bawahan Perencanaan Bersama Penentua n Tujuan Penentuan Standar Pemilihan Kegiatan Pelaksanaan pada setiap Pihak Bawahan Menunjukkan kinerja terbaik Pimpinan memberikan pengarahan Evaluasi Bersama Analisa Hasil yang dicapai Mendiskusikan akibat dari hasil yang dicapai Memperbaharui siklus MBO

Kekuatan dan Kelemahan MBO Kekuatan Kelemahan MBO melakukan integrasi fungsi perencanaan dan pengawasan ke dalam suatu sistem yang rasional dalam manajemen MBO mendorong organisasi untuk menentukan tujuan dari tingkatan atas hingga tingkatan bawah dari manajemen MBO memfokuskan pada hasil akhir daripada niat yang baik maupun faktor personal. MBO mendorong adanya manajemen diri dan komitmen dari setiap orang melalui partisipasi pada setiap tingkatan manajemen dalam penentuan tujuan MBO dianggap terlalu menyederhanakan kegiatan dengan berusaha untuk menyelesaikan segala sesuatu. MBO secara cepat akan ditolak oleh manajer yang memiliki gaya otoriter (yang bisa saja disebabkan karena orang-orang yang bertipe X dari McGregor) dan oleh mereka yang menerapkan birokrasi yang tidak fleksibel dan ketat. MBO memerlukan banyak waktu dan usaha dalam implementasinya MBO dapat menjadi tantangan bagi manajer yang kurang memiliki kualifikasi yang baik.

Beberapa Alat Bantu perencanaan Bagan Arus (Flow Chart) Bagan Gantt (Gantt Chart) Jaringan PERT (PERT Network) dll

Contoh Bagan Arus (Flow Chart) Mulai Perlu Buku Bacaan? Tidak Berhenti Ya Beli Buku Bacaan? Ya Tidak Pinjam Membeli Buku Bacaan yang diinginkan Membaca Buku Yang diinginkan Selesai

Contoh Bagan Gantt Pekerjaan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 1. Pembelian Bahan Baku 2. Proses Produksi 3. Pergudangan 4. Pengiriman Keterangan : Bagian yang diarsir menunjukkan waktu pengerjaan

Contoh Jaringan PERT 2 C 5 F 8 Te=6 Te=2 Te=2 A 1 B 3 D 6 9 10 G H I Te=4 ¼ Te=7 ¼ Te=1 Te=5 ¼ Te=2¼ 4 E 7 Te=3 Te=1 = Kegiatan-kegiatan(Activites) dalam kerangka PERT, dimana pada contoh diatas dapat memerlukan waktu pengerjaan antara 1 hari hingga 7 ¼ hari. = Kejadian-kegiatan (Events) yang menjadi indikator sebelum kegiatan dilaksanakan. Misalnya, setelah kejadian A terjadi, maka pengerjaan kegiatan 1 dapat dilaksanakan, dan seterusnya. Te = Waktu Pengerjaan Kegiatan berdasarkan Te. Dari contoh diatas terdapat waktu pengerjaan berdasarkan Te yang berbeda-beda, dari mulai 1 hari hingga paling lama 7 ¼ hari. Secara keseluruhan contoh pengerjaan berdasarkan Jaringan PERT diatas akan membutuhkan waktu selama 21 ¾ hari yaitu dengan menjumlahkan salah satu jalur jaringan untuk waktu yang terpanjang, yaitu Te 1 =4 ¼ + Te 2 =6 + Te 5 =2 + Te 8 =2 + Te 9 =5 ¼ + Te 10 =2 ¼ sehingga total keseluruhannya adalah 21 ¾ hari.

Penyelesaian Masalah dan Pengambilan Keputusan Masalah vs Gejala if we fail to identify the problem, we will fail to solve the problem Penentuan faktor Penyebab Pendekatan dalam Penyelesaian Masalah Pengambilan Keputusan atas alternatif penyelesaian Masalah

Lingkungan dan Pengambilan Keputusan Keputusan pada saat Keadaan yang pasti (certainty) Keputusan pada saat Keadaan yang tidak pasti (uncertainty) Keputusan pada saat Keadaan mengandung resiko (risky condition)

Proses Pengambilan Keputusan INVESTIGASI SITUASI Identifikasi Masalah Diagnosa Penyebab Identifikasi Tujuan dari Keputusan yang akan diambil PENENTUAN ALTERNATIF Identifikasi berbagai altenatif keputusan Evaluasi belum dilakukan pada tahap ini 1 2 4 IMPLEMENTASI DAN PENGAWASAN Rencana Implementasi Impelementasi dari Rencana yang telah dibuat Pengawasan terhadap langkah implementasi PENILAIAN ALTERNATIF DAN PENENTUAN KEPUTUSAN Evaluasi dan Penilaian alternatif yang ada Penentuan Alternatif yang terbaik 3

Tahapan Evaluasi Alternatif TIDAK Batalkan alternatif TIDAK Batalkan alternatif Apakah alternatif yang ada memungkinkan? YA TIDAK Batalkan alternatif YA Apakah alternatif yang ada memuaskan? Apakah alternatif yang ada memberikan kemungkinan hasil yang positif atau netral? YA Lakukan Evaluasi Lanjutan

Keterbatasan dalam Pengambilan Keputusan Keterbatsan Dalam Pengambilan Keputusan yang rasional Keterbatsan Dalam Pengambilan Keputusan Keterbatsan Dalam Pengambilan Keputusan Keterbatsan Dalam Pengambilan Keputusan Keterbatasan Sumber Daya Kelebihan Informasi Keterbatasan Ingatan Masalah Keahlian

Memperbaiki Keputusan Penggunaan Aturan terhadap Alternatif Keputusan Kriteria Prioritas, Kriteria Minimum Pengujian Terhadap Berbagai Alternatif Keputusan Pengambilan Keputusan secara berkelompok Teknik Curah Ide, Teknik Kelompok Nominal, Teknik Delphi,dll

C. S.R Referensi: Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR Corporate Social Responsibility. Fascho Publishing, Gresik

Corporate Social Responsibility (CSR) Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah sekedar soal bertetangga, hubungan ini lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial organisasi atau perusahaan atau dalam istilah populernya saat ini disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). A. Pengertian CSR CSR merupakan bentuk perhatian suatu perusahaan atau organisasi terhadap kepentingan-kepentingan masyarakat dengan bertanggung jawab pada dampak yang ditimbulkan dari aktifitas operasional perusahaan.

The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR adalah: komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karywan dan keluarganya, sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas sedangkan Yusuf Wibisono mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab perusahan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

B. Perkembangan Konsep CSR Wujud tanggung jawab sosial organisasi berkembang di awal tahun 60-an, sebagai respon terhadap nilai-nilai sosial yang berubah, dengan munculnya perdebatan tentang isu-isu sosial yang mengharuskan organisasi untuk mematuhi tanggung jawab hukum yang baru. Isu-isu bisa berupa kesempatan kerja, lingkungan hidup atau keamanan produk dan sebagainya. Dengan tanggung jawab sosial berarti organisasi dapat dipandang dari 2 sisi yaitu : Sebagai lembaga bisnis yang mencari keuntungan, disisi lain dipandang juga sebagai lembaga sosial lantaran memikul beban tanggung jawab bagi masyarakat.

Create Profit Inc. menggambarkan 3 tahapan perkembangan konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam konteks community relations : 1. Th 1960-1970-an, pemberian sumbangan sebagai respon atas kebutuhan lokal dan manajemen CEO 2. Th.1980-1990-an, berkembang model kewarga negaraan korporat 3. Th.1999 berkembang konsep aliansi strategis yang terkait dengan tujuan organisasi. Konsep CSR (Corporate Social Responsibility) seringkali dikaitkan dengan isu GCG (good corporate governance) dan Triple Bottom Line.

C. Hubungan CSR dengan GCG Good corporate governance (GCG), dalam arti sempit dipahami sebagai suatu sistem dan seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan, terutama antara pemegang saham dan dewan komisaris serta dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Sedangkan dalam arti luas, GCG digunakan untuk mengatur hubungan seluruh kepentingan stakeholders secara proporsional dan mencegah terjadinya keslahan-kesalahan yang signifikan dalam strategi perusahaan sekaligus memastikan bahwa kesalahan yang terjadi bisa diperbaiki dengan segera.

Dalam tataran praktis, GCG merupakan tatakelola perusahaan yang baik agar perilaku para pelaku bisnis mempunyai arahan yang bisa dirujuk. Terdapat lima prinsip GCG yang dijadikan pedoman bagi pelaku bisnis, yaitu: 1. Transparency (keterbukaan informasi 2. Accountability (Akuntabilitas) 3. Responsibility (Tanggung Jawab) 4. Independency (kemandirian) 5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)

Berdasarkan prinsip-prinsip GCG tersebut, terutama prinsip responsibility, dapat ditarik benang merah keterkaitan antara CSR dan GCG. Penerapan prinsip responsibility tersebut, perusahaan memperhatikan kepentingan stakeholdernya sebagai bentuk konsekuensi dari operasional perusahaannya. Penerapan CSR adalah salah satu bentuk implementasi dari konsep Good Corporate Governance (GCG). Konsep CSR juga sering dikaitkan dengan konsep Triple Bottom Line, yaitu bahwa perusahaan tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi saja, tetapi juga aspek sosial dan lingkungannya

D. Konsep Triple Bottom Line John Elkington mengembangkan konsep triple bottom line dalam istilah economic prosperity, environmental quality dan social justice. Menurut Elkington, perusahaan yang ingin berkelanjutan harus memperhatikan 3P (Profit, People, Planet), yaitu bahwa selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkonstribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet)

Semakin disadari bahwa kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial. Dengan demikian, CSR adalah salah satu bentuk investasi masa depan. Karena melalui hubungan yang harmonis dan citra baik, timbal baliknya, masyarakat juga ikut menjaga eksistensi perusahaan.

E. Prinsip-prinsip CSR Prof. Alyson Warhurst mengajukan prinsip-prinsip CSR adalah sebagai berikut: 1. Prioritas Korporat 2. Manajemen Terpadu 3. Proses Perbaikan berkesinambungan 4. Pendidikan Karyawan 5. Pengkajian Dampak Sosial 6. Produk dan Jasa 7. Informasi Publik 8. Fasilitas dan Operasi

9. Penelitian 10. Prinsip Pencegahan 11. Kontraktor dan Pemasok 12. Siaga Menghadapi darurat 13. Transfer best practice 14. Memberi Sumbangan 15. Keterbukaan 16. Pencapaian dan Pelaporan

SIGNIFIKANSI PROGRAM COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

Referensi : Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR Corporate Social Responsibility. Fascho Publishing, Gresik

Ketiga, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah. Semakin kondusif regulasi dan semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkonstribusi kepada masyarakat. Implementasi CSR di perusahaan pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Pertama, terkait dengan komitmen pimpinannya. Perusahaan dengan pemimpin yang memiliki sensitifitas dan kepedulian sosial yang tinggi akan memiliki komitmen tinggi terhadap CSR, begitu pula sebaliknya. Kedua, terkait dengan ukuran dan kematangan perusahaan. Perusahaan yang besar dan stabil lebih berpotensi untuk melaksanakan CSR.

A. Arti Penting CSR Ada tiga alasan penting mengapa perusahaan harus mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya. 1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat sehingga harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Kegiatah sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya timbal balik atas penguasaan sumber daya alam dan sumber adaya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif atau eksploratif. 2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan simbiosa mutualisme. Hal tersebut penting untuk mewujudkan harmonisasi hubungan dan erat kaitannya dengan citra dan performa perusahaan.

3. Kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial. Potensi konflik itu bisa akibat dari operasional perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen perusahaan.

B. Beberapa Alasan Implementasi CSR oleh Perusahaan Ada tiga kategori alasan perusahaan melaksanakan CSR, yaitu: Pertama, karena alasan keterpaksaan, maksudnya CSR dipraktekan karena adanya dorongan eksternal. Misalnya, tanggung jawab PT. Lapindo Brantas kepada para korban lumpur di Sidoarjo terjadi karena adanya faktor lingkungan dan faktor sosial. Selain itu, CSR yang diterapkan untuk dorongan membangun citra perusahaan (faktor reputasi). Misalnya berbagai bentuk program CSR yang diarahkan untuk membentuk citra atau opini publik yang positif.

Kedua, karena alasan pemenuhan kewajiban, maksudnya CSR dipraktekan karena adanya regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang terjadi pada perusahaanperusahaan di Amerika. Selain itu, CSR yang diterapkan karena adanya penghargaan atau reward yang diberikan oleh segenap institusi atau lembaga. Misalnya CSR award. Ketiga, karena alasan tanggung jawab sosial yang tulus. Maksudnya CSR diaplikasikan dengan kesadaran perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.

B. Benefit Implementasi CSR Ada beberapa keuntungan yang bisa diraih perusahaan dari penerapan program CSR, yaitu: 1. Mempertahankan atau mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan 2. Layak mendapatkan social license to operate 3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan 4. Melebarkan akses sumber daya 5. Membentangkan akses menuju market 6. Mereduksi biaya 7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholder

8. Memperbaiki hubungan dengan regulator 9. Meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan 10. Peluang mendapatkan penghargaan

Rogovsky menyusun manfaat keterlibatan komunitasperusahaan adalah sebagai berikut: Reputasi dan citra lebih baik Komunitas pada Perusahaan Lisensi untuk beroperasi secara sosial Bisa memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja lokal Keamanan yang lebih besar Infrastruktur dan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik Menarik dan menjaga personel yang kompeten untuk memiliki komitmen yang tinggi Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa, dan pelangan lokal yang bermutu Laboratorium pembelajaran untuk inovasi organisasi

Perusahaan pada Komunitas Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman kerja dan pelatihan Pendanaan investasi komunitas pengembangan infrastruktur Keahlian komersial Kompetisi teknis dan personal individual pekerja yang terlibat. Representatif bisnis sebagai jurus promosi bagi prakarsa-prakarsa komunitas.

Rogovsky menunjukan profil organisasi yang menjalankan konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut: 1. Pendekatan yang menggabungkan nilai dan strategi Organisasi yang mampu memadukan antara etika korporat yang ada, yang berkenaan dengan keterlibatan komuniatas yang besar dengan strategi baru. 2. Yakin bahwa keberhasilan korporat hanya bisa dicapai bila komunitasnya pun berhasil. Tingginya kinerja perusahaanperusahaan ditunjukan dengan adanya hubungan simbiotis antara keberhasilan organisasi dan kesejahteraan komunitas. 3. Derajat intensitas tinggi.memprioritaskan intensitas keterlibatan komunitas organisasi dan menyelaraskan tindakan-tindakan yang menunjang komitmen keterlibatan komunitas itu.

4. Derajat Integrasi Tinggi Integrasi berarti communty relations dan kontribusi dijalankan secara bersama-sama dengan tujuan komplementer dan tanggung jawab komunitas dijalankan semua divisi opersional. 5. Program yang responsif terhadap stakeholder komunitas Organisasi bersikap proaktif dan para manajer menjalankan kegiatan yang berempati pada komunitas. 6. Pendekatan kesatuan dalam perencanaan program Mengakui bahwa setiap lokasi dan kelompok bisnis mungkin saja membutuhkan serangkaian program yang tepat untuk setiap lokasi dan kelompok bisnis.

7. Kemampuan dalam manajemen perubahan Manajer corporate community relations adalah agen perubahan yang trampil dan membuat organisasi bisa menerima perubahan yang terjadi pd komunitas dan masyarakat. 8. Mendukung beberapa kegiatan Perusahaan menyadari bahwa akan muncul dampak yang lebih besar bila perusahaan mendukung beberapa isu yang sedang berkembang. 9. Secara aktif bermitra dengan organisasi non profit Perusahaan bekerjasama dengan organisasi pendukung untuk bersama-sama merumuskan tujuan, bukan hanya sekedar memberikan uang pada organisasi itu.

BENTUK PROGRAM COMMUNITY RELATIONS

Referensi: Yosal Iriantara, 2004, Community Relations, Simbiosa Rekatama Media, Bandung. Hal 161-179

Semenjak diberlakukan otonomi daerah di Indonesai, tuntutan komunitas lokal pada organisasi bisnis meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan, seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan bantuan pada komunitas lokal atau menuntut pembangunan fasilitas sosial. Adapun harapan komunitas yang harus dipahami perusahaan adalah 1. Income atau pendapatan, 2. Kontribusi perusahaan 3. Kebanggaan

A. Kemitraan Bisnis-Komunitas Kemitraan dikembangkan sebagai wujud keterlibatan komunitas organisasi bisnis dan organisasi bisnis memandang dirinya bukan sekedar mesin ekonomi yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan tapi juga memandang dirinya sebagai institusi sosial yang bisa memberikan manfaat secara sosial. Ada tiga bentuk pola kemitraan, yaitu: 1. Pola kemitraan Kontra Produktif 2. Pola kemitraan Semi produktif 3. Pola kemitraan Produktif

Pola kemitraan kontra produktif Pola ini terjadi jika perusahaan masih berpijak pada pola konvensional yang hanya mengutamakan kepentingan shareholders (pemegang saham). Fokus perusahaan bertumpu pada usaha meraih keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga hubungan perusahaan, pemerintah dan masyarakat hanya sekedarnya. Perusahaan berjalan dengan targetnya sendiri, pemerintah tidak peduli dan masyarakat tidak mempunyai akses kepada perusahaan.

Pola kemitraan semi produktif Pola kemitraan perusahaan dan komunitas ini masih mengacu pada kepentingan jangka pendek. Pemerintah dan masyarakat dianggap sebagai objek. Kemitraan masih belum strategis dan masih mengedepankan kepentingan diri perusahaan, bukan kepentingan bersama anatara perusahaan dengan mitranya. Pola kemitraan produktif pola kemitraan ini menempatkan mitra sebagai objek dan dalam paradigma simbiosa mutualisme.

Dengan mengutip Criss Gribben, Rogovsky menunjukan tahapan-tahapan dalam pengembangan model kemitraan antara bisnis dan komunitas seperti berikut ini: Tahap I a) Pihak- pihak bermitra berkumpul untuk merumuskan kebutuhan bersama. b) Bila pihak yang bermitra belum pernah bekerjamasama maka pihak-pihak bermitra itu mengawali dengan proses mengatasi perbedaan. c) Mungkin ada kebutuhan pelatihan untuk membangun pihak-pihak yang bermitra bisa beroperasi secara efektif

Tahap II a. Lewat proses dialog dan diskusi, pihak-pihak yang bermitra membentuk landasan bersama dan berupaya menemukan visi dan misi yang disepakati bersama. b. Kelompok inti awal dari pihak-pihak bermitra menyepakati perlunya melibatkan lebih banyak orang dan lebih banyak organisasi. c. Pihak-pihak yang bermitra mengembangkan mekanisme untuk mengkaji kebutuhan dan ukuran tindakan yang diusulkan untuk dilaksanakan d. Pihak-pihak bermitra memadukan informasi yang diperoleh dari kajian kebutuhan dengan visi dan misi untuk menyusun agenda kegiatan

Tahap III a. Merancang dan menjalankan kerangka kerja formal dan struktur organisasi kemitraan b. Pihak-pihak yang bermitra menyusun tujuan, sasaran, dan objektif tertentu terkait dengan agenda kegiatan. c. Bila memadai, eksekutif kemitraan menunjuk atau memilih tim manajemen (meski hanya seorang) untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

Tahap IV a. Kemitraan menyampaikan rencana aksi, baik berupa pemberian layanan maupun beberapa fungsi lain. b. Eksekutif kemitraan berupaya untuk menjaga keterlibatanpihak-pihak yang bermitra, merumuskan kebijakan dan menjamin berjalannya akuntabilitas kemitraan c. Ada proses yang terus berlangsung untuk menilai mengevaluasi dan menyempurnakan operasi kemitraan

Tahap V: 1. Bila diperlukan, para pihak yang bermitra hendak menyusun strategi penghentian kemitraan (exit stratgy). Strategy ini mencakup penyusunan sejumlah tujuan baru untuk mempertahankan dan melanjukan tugas kemitraan 2. Pihak-pihak yang bermitra sebaiknya menciptakan hidup sesudah mati dengan mengalihkan kembali aset-aset kemitraan pada komunitas tempt kemitraan dijalankan

B. Pengembangan Masyarakat Bentuk lain kegiatan community relations yang dilakukan organisasi bisnis adalah pengembangan masyarakat (community development). Dimana masyarakat adalah partisipan sekaligus pemetik manfaat (beneficiaries) dari pembangunan. Kindervatter menyatakan komponen dari pengembangan masyarakat adalah : a. Berorientasi pada kebutuhan baik material maupun non material. b. Memanfaatkan kesejatian (endogenous) masyarakat setempat termasuk visi dan misi tentang masa depan c. Mandiri yang berarti mendasarkan pada kekuatan dan sumber daya yang dimiliki.

d. Bersifat ekologis yang memanfaatkan sumber daya secara rasional dan penuh kesadaran. e. Didasarkan pada transformasi struktural yang berarti adanya perubahan dalam relasi sosial, kegiatan ekonomi dan struktur kekuasaan. Metode yang digunakan untuk pengembangan masyarakat ini adalah PRA ( Participatory Rural Appraisal) PRA adalah pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri agar mereka membuat rencana dan tindakan(robert Chambers).

PRA dijalankan dengan berpegang pada prinsip-prinsip dasar berikut ini: 1. Mengutamakan mereka yang terabaikan 2. Pemberdayaan (penguatan) masyarakat 3. Masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator 4. Saling belajar dan menghargai perbedaan 5. Santai dan informal 6. Triangulasi 7. Mengoptimalkan hasil 8. Orientasi praktis 9. Keberlanjutan dan selang waktu 10. Belajar dari kesalahan 11. Terbuka pada perubahan

Bahwa praktik community relations yang bernuansa kegiatan amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersamasama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga. Wujud tanggung jawab sosial korporat itu akhirnya memang bermuara pada pembuatan laporan sosial untuk mencerminkan transparansi dan akuntabilittas. Namun apa yang dilaporkan tentu saja merupakan kegiatan nyata yang dikembangkan dan dijalankan oleh organisasi bisnis bersamasama dengan komunitas sekitarnya.

PROSES COMMUNITY RELATIONS

Referensi : Yosal Iriantara, 2004.Community relations, Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Hal 73-91

Proses PR dalam Community Relations Community relations pada dasarnya adalah kegiatan PR maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah daam community relations Fokus kegiatan community relations adalah permasalahan yang dihadapi komunitas, bukan permasalahan yang dihadapi organisasi. Namun dampak dari penyelasaian permasalahan yang dihadapi komunitas itu akan dirasakan juga oleh organisasi.

Proses kegiatan community relations bisa dipandang berdasarkan dua pendekatan : Pertama, dalam konsep PR lama yang memposisikan organisasi sebagai pemberi donasi, maka program community relations hanyalah bagian dari aksi dan komunikasi dalam proses PR. Kedua,pendekatan dengan memposisikan komunitas sebagai mitra dan konsep komunitasnya bukan sekedar kumpulan orang yang berdiam disuatu wilayah operasi organisasi. Disini organisasi menampilkan sisi dirinya sebagai satu lembaga sosial yang bersama-sama dengan komunitas berusaha memecahkan permasalahan yang dihadapi komunitas. Baik organisasi dan komunitas bersama-sama mengerahkan sumber daya yang dimilikinya untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan bersama.

Dengan pendekatan yang kedua maka tahapan dalam proses kegiatan community relations organisasi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Pengumpulan fakta Pengumpulan fakta permasalahan sosial yang ada dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti media massa, data statistik, obrolan warga masyarakat, keluhan langsung dari warga masyarakat atau hasil penelitian dan laporan dari lembaga sosial masyarakat (LSM/NGO). 2. Perumusan Masalah Masalah adalah adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan yang dialami, yang untuk menyelesaikannya diperlukan kemampuan menggunkan pikiran dan ketrampilan secara tepat. Dalam merumuskan masalah itu kita mulai memfokuskan pada komunitas organisasi apakah komunitasnya berdasarkan lokasi atau dipandang sebagai struktur interaksi maka komunitas lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih pada pertimbangan kesamaan kepentingan.

3. Perencanaan dan Pemrograman Perencanaan adalah suatu perkiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti. Untuk bisa mewujudkan apa yang diperkirakan maka dibuatlah suatu program. Program merupakan cara cara untuk mecapai tujuan tersebut. Setiap program biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian dari program merupakan langkah-langkah yangditempuh untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

4. Aksi dan Komunikasi Aspek aksi dan komunikasi inilah yang menjadi watak yang membedakan kegiatan community relations dalam konteks PR dan bukan PR. Watak PR-nya ditampilkan lewat kegiatan komunikasi. Dalam community relations selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada komunitas serta melalui media apa dan dengan cara bagaimana. Sedangkan aksi sebagai implementasi program yang sudah direncanakan pada dasarnya sama saja dengan implementasi program apapun.

5. Evaluasi Evaluasi merupakan keharusan dalam konteks community relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelengaraan program atau kegiatannya belaka, melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi, Evaluasi sikap publik itu diperlukan karena pada dasarnya community relations ini meski merupakan tanggung kawab sosial organisasi tetap merupakan kegiatan PR.

C. Langkah-Langkah Community Relations. Kegiatan community relations saat ini tidaklah lagi dimaknai sebagai kegiatan filantropis yang memosisikan organisasi seolah-olah seorang dermawan yang membagi-bagi uang dan barang pada komunitas, sehingga komunitas merasakan ada manfaat kehadiran organisasi ditengah lingkungannya hanya melalui pemberian dari organisasi itu. Menurut Waddock dan Boyle, kini pendekatan yang digunakan dituntut untuk bersifat strategis. Program community relations organisasi kini bukan lagi sekedar penyangga antara organisasi dan lingkungannya melainkan menjalankan fungsi yang mesti mengintegrasikan kepentingan-kepentingan stake holder, khususnya karyawan dan komunitas kedalam kepentingan organisasi.

Dengan perubahan pendekatan yang ada maka membutuh kan staff PR yang menangani community relations adalah orang yang memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai komunitas lokal, kebutuhan-kebutuhan komunitas itu, memiliki keahlian menangani organisasi serta sifat bisnis dan teknologi orgnisasi komunitas lokal yang sangat beragam. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana organisasi dipandang oleh komunitasnya, karena hal ini akan sangat menentukan langkah-langkah membangun hubungan dengan komunitas tersebut.

Robert DeMartinis menjelaskan langkahlangkah dalam community relations bagi organisasi non profit sebagai berikut : 1. Merumuskan komunitas organisasi dan berbagai kelompok yang ada didalamnya. 2. Menentukan tujuan program community relations organisasi apa yang ingin dicapai organisasi pada masing-masing kelompok dalam komunitas tersebut. 3. Menyusun pesan yang hendak disampaikan 4. Memilih metode yang paling baik dalam penyampaian pesan. 5. Melaksanakan Program community relations 6. Menganalisis hasil

Liz Brown, selanjutnya menguraikan langkah-langkah community relations untuk organisasi bisnis yaitu; 1. Segmentasi Dimana publik sasaran komunitas dibagi dan diidentifikasi berdasarkan, demografi ataupun psikografi. 2. Skala prioritas Didasarkan pada komunitas yang paling memiliki kekuatan untuk mendukung atau menghambat pencapaian tujuan bisnis organisasi. 3. Penelitian Untuk mengetahui bidang perhatian utama dikalangan komunitas yang menjadi sasaran diperlukan adanya suatu penelitan.

4. Pemuka Pendapat pada kelompok sasaran Cara lain mengetahui dan memahami permasalahan komunitas adalah dengan berbicara pada pemuka pendapatnya. 5. Penyelarasan Perlunya penyelarasan terhadap permasalahan yang dihadapi dan harapan yang dirasakan komunitas terhadap organisasi, begitu juga sebaliknya tujuan organisasi dengan permasalahan komunitas.

Perbedaan Langkah CR organisasi profit dan non profit Organisasi Non Profit Organisasi Bisnis Fokus utama Melalui kegiatan komunikasi untuk Dukungan komunitas untuk mencapai tujuan organisasi mendapatkan dukungan dari komunitas untuk menjalankan roda organisasi agar mampu menjalankan tugsanya memberikan pelayanan kepada publik yang menjadi sasaran kegiatan Kegiatannya Kampanye komunikasi Tidak hanya kampanye komunikasi, tetapi juga memberikan bantuan modal, bantuan manajemen, fasilitas kesehatan, pendidikan dll

Dengan demikian untuk melakukan kegiatan cummnity relations harus dipahami terlebih dahulu waktak organisasi ; apakah organisasi non profit ataukah organisasi bisnis yang berorientasi pada pencarian keuntungan. Perbedaan watak akan membawa pada perbedaan dalam jenis kegiatan yang akan dilakukan organisasi. Dikembalikan proses PR sebagai induk program maka pada dasarnya langkah-langkah community relations baik untuk organisasi nonprofit maupun organisasi bisnis sama saja. Langkahlangkah yang berbeda pada kedua jenis orgnisasi pada dasarnya lebih disebabkan perbedaan watak organisasi.

D. Kebijakan Community Relations Community relations merupakan sebuah program yang dilandasi kebijakan (policy) organisasi. Dengan memandang community relations sebagai kebijakan maka bisa tampak seberapa besar dan seberapa jauh komitmen organisasi terhadap komunitas. Menurut Wheelen dan Hunge, kebijakan merupakan pedoman umum untuk mengambil keputusan pada seluruh organisasi. McLaughlin menyatakan kebijakan memiliki makna ganda. Kebijakan bisa berupa kerangka kerja yang menjadi pedoman pengambilan keputusan dalam hal tertentu dan menunjukan maksud-maksud yang lebih besar dan bisa pula berupa rencana umum tindakan.

Bila program community relations organisasi dijalankan sebagai satu kebijakan organisasi maka program tersebut akan memiliki landasan yang kokoh untuk dijalankan. Karena kebijakn tersebut merupakan penjabaran dari strategi umum yang dijalankan satu organisasi untuk mencapai tujuannya.kalaupun ada perubahan tapi bukan hal yang mendasar melainkan lebih merupakan penyesuaian. Kecuali terjadi tekanan eksternal atau internal yang selanjutnya memaksa organisasi merubah kebijakan strategi organisasinya otomatis juga akan merubah kebijakan organisasi termasuk didalamya program community relations.

Lubna Forzley menyatakan, ada lima hal penting yang dalam pelaksanaan program Community Relations dengan pendekatan strategis, yaitu bahwa: 1. Tanpa keterlibatan semua pihak, tidak akan ada yang tercapai. 2. Keterlibatan komunitas secara strategis selalu memberikan hasil yang terbaik bagi semua pihak. 3. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan visibilitas yang baik. 4. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan peningkatan pengembangan kapasitas. 5. Keterlibatan komunitas secara strategis mempersyaratkan adanya proses dan sistem pengukuran