ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PETANI TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN IRIGASI Studi Kasus Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah Oleh : FAHMA MINHA A14303054 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iv DAFTAR LAMPIRAN... vi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masalah... 5 1.3 Tujuan... 8 1.4 Kegunaan Penelitian... 9 1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian... 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 10 2.1 Pengertian dan Fungsi Irigasi... 10 2.2 Klasifikasi Sistem Irigasi... 11 2.3 Operasi dan Pemeliharaan (O&P) Irigasi... 12 2.4 Kelembagaan Petani Pemakai Air... 14 2.5 Pengenaan Iuran Pengelolaan Irigasi... 16 2.6 Penelitian Terdahulu... 16 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN... 20 3.1 Kerangka Teoritis... 20 3.1.1 Konsep Contingent Valuation Method (CVM)... 20 3.1.2 Organisasi dalam Pengoperasian Contingent Valuation Method (CVM)... 21 3.1.3 Kelebihan dan Kelemahan Contingent Valuation Method (CVM)... 22 3.1.4 Asumsi dalam Pendekatan Willingness to Pay (WTP) dari Petani... 24 3.1.5 Skenario dan Pertanyaan yang Relevan terhadap Skenario... 24 3.1.6 Hipotesis... 26 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional... 26
ii BAB IV METODE PENELITIAN... 29 4.1 Jenis Penelitian... 29 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 29 4.3 Metode Pengambilan Sampel... 29 4.4 Teknik Pengumpulan Data... 30 4.5 Metode Analisis Data... 31 4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani... 32 4.5.2 Nilai Kontribusi Air Irigasi (Water Value) Usahatani Padi... 32 4.5.3 Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi... 33 4.5.3.1 Pengujian Parameter... 34 4.5.3.2 Interpretasi Koefisien... 36 4.5.4 Willingness to Pay Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi... 36 4.5.4.1 Metode Pendugaan Besarnya Nilai WTP... 36 4.5.4.2 Teknis Penentuan WTP... 38 4.5.5 Analisis Fungsi WTP... 40 4.6 Definisi Operasional... 43 BAB V GAMBARAN UMUM... 45 5.1 Deskripsi Daerah irigasi Klambu Kanan Wilalung... 45 5.2 Keadaan Geografis Lokasi Penelitian... 47 5.3 Keadaan Sosial Ekonomi Lokasi Penelitian... 49 5.4 Pola Tanam dan Pelayanan Irigasi... 52 5.5 Produksi Usahatani... 53 5.6 Peran Perkumpulan Petani Pemakai Air... 54 5.7 Prosedur Pembayaran dan Penarikan Pengelolaan Irigasi... 56 5.8 Perkembangan Iuran Pengelolaan Irigasi... 56 BAB VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI... 58 6.1 Karakteristik Responden... 58 6.2 Analisis Pendapatan Usahatani... 62
iii 6.2.1 Pengeluaran Usahatani... 62 6.2.2 Penerimaan Usahatani... 63 6.2.3 Pendapatan Usahatani... 64 6.3 Kontribusi Air Irigasi terhadap Pendapatan Usahatani... 65 BAB VII KESEDIAAN DAN KEMAUAN PETANI MEMBAYAR IURAN PENGELOLAAN IRIGASI... 69 7.1 Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi... 69 7.2 Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi... 73 7.3 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP... 77 7.3.1 Karakteristik Responden... 77 7.3.2 Deskripsi Variabel Penelitian... 79 7.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi... 81 7.4 Nilai WTP... 84 7.5 Perbandingan antara Nilai Iuran Pengelolaan Irigasi, WTP, Dan Water Value... 87 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN... 90 8.1 Kesimpulan... 90 8.2 Saran... 91 DAFTAR PUSTAKA... 92 LAMPIRAN... 95
iv DAFTAR TABEL Nomor Halaman Teks 1. Luas Panen, Produksi dan Hasil Padi Per Hektar Tahun 2000-2005... 2 2. Luas Areal Sawah dan Luas Baku Sawah di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung (Ha) 3 3. Luas Lahan Sawah di Kecamatan Undaan Menurut Jenis Pengairan (Ha) Tahun 2006.. 46 4. Rencana Luas Areal dan Debit Air Saluran Sekunder Daerah Klambu Kanan Wilalung tahun 2006 47 5. Orbitasi Desa Ngemplak Tahun 2006... 48 6. Kondisi dan Panjang Jalan Desa Ngemplak.. 48 7. Data Curah Hujan Bulanan Kecamatan Undaan Tahun 2006 49 8. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Ngemplak Tahun 2006 50 9. Struktur Mata Pencaharian Penduduk Desa Ngemplak Tahun 2006. 51 10. Penyebar an Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Petani 58 11. Penyebar an Karakeristik Petani Responden.. 59 12. Analisis Pendapatan Usahatani Padi di Desa Ngemplak Berdasarkan Rata-rata Luas Lahan Tahun 2006/2007.... 65
v 13. Rata-rata Penerimaan, Biaya Produksi, dan Water Rent Usahatani Padi Berdasarkan Rata-rata Luas Lahan Tahun 2006/2007... 66 14. Hasil Perhitungan Statistik Variabel Kontinyu Analisis Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi.. 69 15. Deskripsi Variabel Penjelas yang Bersifat Dummy dalam Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi 71 16. Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi 74 17. Penyebar an Karakteristik Responden Bersedia Membayar Iuran. 78 18. Hasil Perhitungan Nilai Tengah WTP 80 19. Nilai Rata-rata Variabel Kontinyu Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP. 80 20. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Nilai WTP.. 82 21. Distribusi WTP Sampel di Atas Iuran Irigasi yang Berlaku Saat Ini. 85 22. WTP Agregat (TWTP) Petani Pemakai Air 86
vi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Teks Halaman 1. Hasil Analisis Kesediaan Petani terhadap Iuran Pengelolaan Irigasi. 97 2. Hasil Analisis WTP Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi. 98 3. Peta Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.. 99 4. Peta Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung. 100
vii
RINGKASAN FAHMA MINHA. Analisis Willingness To Pay Petani Terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi (Studi Kasus Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah). Di bawah bimbingan YUSMAN SYAUKAT. Kecamatan Undaan merupakan salah satu kecamatan yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan domestik beras di Kabupaten Kudus. Kecamatan ini setiap harinya mendapatkan pasokan air yang berasal dari Waduk Kedungombo. Dalam pelaksanaannya banyak sawah milik petani yang tidak mendapatkan air karena terdapat jaringan irigasi yang rusak. Berdasarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air pasal 78 ayat 3 menjelaskan bahwa pembiayaan pelaksanaan konstruksi, O&P sistem irigasi primer dan sekunder menjadi tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. Oleh karena itu, masyarakat petani yang tergabung dalam P3A menetapkan suatu kebijakan melalui penetapan iuran irigasi. Masalah ini terjadi karena adanya petani yang tidak bersedia membayar iuran tersebut. Hal ini disebabkan karena petani merasa bahwa air merupakan barang bebas (free goods) sehingga pemakaian air relatif boros. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani responden, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi, faktor-faktor apa yang mempengaruhi Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi, dan berapa besarnya nilai Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi. Hasil penelitian menggunakan analisis pendapatan usahatani menunjukkan bahwa usahatani padi menguntungkan bagi petani karena pandapatan yang dihasilkan relatif tinggi. Hasil analisis regresi logit menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan petani membayar iuran adalah tingkat pendidikan, tingkat pelayanan irigasi, dan peranserta petani dalam operasi dan pemeliharaan (O&P). Berdasarkan nilai tengah WTP masing-masing responden pada usahatani padi dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda, maka diperoleh bahwa faktorfaktor apa yang mempengaruhi WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi adalah umur, tingkat pendidikan petani, keuntungan bersih, dan luas lahan. Iuran pengelolaan irigasi ditentukan melalui pendekatan WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi yaitu sebesar 35.207/hektar pada MT I dan Rp 59.186/hektar pada MT II. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan terhadap masalah kondisi jaringan irigasi dan pelayanan irigasi yang baik agar petani bersedia untuk berpartisipasi dalam O&P irigasi dan P3A dapat menggunakan pendekatan Willingness To Pay (WTP) dalam menetapkan iuran pengelolaan irigasi agar iuran irigasi yang diberlakukan tidak memberatkan petani dalam pembayaran sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan O&P.
ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PETANI TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN IRIGASI Studi Kasus Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah Oleh : FAHMA MINHA A14303054 SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
Judul : ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PETANI TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN IRIGASI (Studi Kasus Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah) Nama : Fahma Minha NRP : A14303054 dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Yusman Syaukat, MEc NIP. 131 804 162 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr NIP. 131 124 019 Tanggal Lulus:
PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PETANI TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN IRIGASI (STUDI KASUS DAERAH IRIGASI KLAMBU KANAN WILALUNG, KECAMATAN UNDAAN, KABUPATEN KUDUS, JAWA TENGAH) BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MAUPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN SKRIPSI INI BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. Bogor, April 2008 Fahma Minha A14303054
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kudus pada tanggal 19 Desember 1985 dari pasangan Drs. Zaenal Hasan dan Dra. Noor Ayda (Alm.) Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis mengawali pendidikan di TK Tunas Pertiwi Kecamatan Kota (1990-1991), SDCN Inti Demaan 03 Kudus (1991-1997), SLTPN 2 Kudus (1997-2000),dan SMUN 1 Bae Kudus (2000-2003). Pada tahun 2003 penulis diterima untuk meneruskan kuliah pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama kuliah penulis aktif dalam kegiatan baik diluar maupun didalam kampus yaitu Organisasi Mahasiswa Daerah Keluarga Kudus Bogor Menara Kota (KKB MK), dan Rohis Departemen Keluarga Muslim Sosek (KMS) Staf Divisi Kewirausahaan.
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-nya, sehingga penelitian dan skripsi ini dapat diselesaikan. Semoga semua langkah dan usaha dalam pembuatan skripsi dapat bernilai ibadah, demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas. Penelitian yang berjudul Analisis Willingness to Pay Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi (Studi Kasus Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah) ini bertujuan untuk mengestimasi besarnya pendapatan usahatani terhadap kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi beserta identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi mulai dari awal hingga akhir. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan daran dan usulan untuk kesempurnaan skripsi. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Bogor, April 2008 Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas segala karunia dan hidayah-nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini, khususnya kepada: 1. Papa, Mama (Alm.), adik penulis (Yusi dan Irsa), serta keluarga besarku. Terima kasih atas doa, motivasi, perhatian, kasih sayang, canda dan tawanya selama ini. 2. Dr. Ir. Yusman Syaukat, MEc selaku dosen pembimbing skripsi, terima kasih atas bimbingan dan masukannya. 3. Dr. Ir. Ahyar Ismail, MAgr selaku dosen penguji utama ujian skripsi. 4. Adi Hadianto, SP selaku dosen penguji wakil departemen. 5. Seluruh pegawai di Balai Pengelolaan Sumberdaya Air, Dinas Pekerjaan Umum, Bapak-bapak petani dan Perangkat Desa Ngemplak atas informasiinformasi yang telah diberikan ke penulis untuk kelancaran penyusunan skripsi ini. 6. Sahabat-sahabatku Gonjrenk, Adis, Dyah, Dessy, Oka, Arum dan 2Tie. Terima kasih atas kasih sayang, kekeluargaan dan kebersamaannya. 7. Andi Aziz Hakim. Terima kasih untuk kasih sayang, perhatian, motivasi, canda dan tawanya selama ini. 8. All Sabriner s, Devi, Nenden, Ulya, Nur, Indar, Nurul, dan Okta. Terima kasih atas kebersamaan dan canda tawa kalian semuanya. 9. Omda KKB MK, mas Supre, mas Avi, dan mas Taufik. Terima kasih atas semua nasehat dan motivasinya. 10. Teman seperjuanganku dari Kudus angkatan 40, Nurul, Dewi, Oks, Erni, Heni, Itok, Puji, dan Lia. 11. Teman-teman EPS 40 semuanya atas kebersamaannya selama ini. 12. Semua pihak yang telah berkenan membantu demi kelancaran penelitian dan penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka semua. Amin.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini pembangunan pertanian di Indonesia tetap dianggap penting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, hal ini dapat dilihat saat sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar dibandingkan sektor-sektor yang lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia yaitu (1) potensi sumberdaya yang besar dan beragam, (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar, (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, serta (4) merupakan basis pertumbuhan di pedesaan. Adanya globalisasi di Indonesia menyebabkan sektor ini terancam tidak mampu bersaing. Hal ini bukan saja karena kualitas produk pertanian nasional yang belum memiliki dayasaing tinggi, melainkan juga karena negara-negara maju melakukan proteksi terhadap komoditi pertaniannya. 1 Pada tahun 1984, Indonesia telah mencapai swasembada beras yang telah menjadi salah satu keberhasilan pembangunan Indonesia, dimana saat itu program tersebut sangat membantu petani dalam peningkatan pendapatan. Sebagai propinsi yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas, peran serta Propinsi Jawa Tengah untuk mencukupi kebutuhan padi cukup diperhitungkan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1. 1 http://www.lipi.go.id.2004.pembangunan Sektor Pertanian Di Era Globalisasi.27 Februari 2007.
2 Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan Hasil Padi Per Hektar tahun 2000-2005 Padi 2001 2002 2003 2004 2005 Luas Panen (000 Ha) 1650,6 1653,4 1535,6 1635,9 1611,1 Produksi (000 Ton) 8289,9 8503,5 8123,8 8512,6 8424,1 Rata-rata (kw/hektar) 50,22 51,43 52,90 52,04 52,29 Sumber: Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, 2005 Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa produksi padi dari tahun 2001 sampai tahun 2005 mengalami peningkatan. Khususnya untuk tahun 2005, Propinsi Jawa Tengah yang memiliki luas panen 1,6 juta hektar dapat menghasilkan produksi padi sebesar 8,4 juta ton. Untuk harga gabah kering panen pada bulan Januari 2006 adalah Rp 2.072 dimana harga ini dibanding periode yang sama tahun lalu lebih tinggi sebesar Rp 364 (128,86 %). Sementara kebutuhan konsumsi penduduk Jawa Tengah tahun 2006 sejumlah 32.002.500 jiwa dari total penduduk 33.121.200 jiwa (Proyeksi 2005, Jateng dalam Angka) dengan tingkat konsumsi per orang 92,87 kg/kab/tahun, maka kebutuhan konsumsi beras Jawa Tengah bulan Januari 2006 sejumlah 3075,9 ribu ton beras. Dengan demikian, jumlah total konsumsi beras lebih kecil dibandingkan produksi padi. Berkaitan dengan hal diatas maka langkah yang perlu dipertimbangkan dalam rangka peningkatan produksi adalah sistem pengairan pada lahan sawah sehingga produksi padi yang akan datang dapat meningkat pesat dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Kabupaten Kudus merupakan kabupaten yang masih mempunyai lahan pertanian yang cukup luas. Luas wilayah Kabupaten Kudus sendiri adalah 425,150 km 2, dimana luas areal untuk lahan pertanian sekitar 21.857 hektar, sedangkan untuk luas areal untuk lahan bukan pertanian sekitar 20.657 hektar. Kabupaten Kudus terdiri dari 9 kecamatan yaitu Kaliwungu, Kota, Jati, Undaan,
3 Mejobo, Jekulo, Bae, Gebog, dan Dawe dimana dari masing-masing lahan pertanian yang tersebar di sembilan kecamatan tersebut Kudus mampu memenuhi kebutuhan pangan domestik. Dari sembilan kecamatan tersebut Kecamatan Undaan merupakan salah satu kecamatan yang banyak memberikan kontribusi terhadap sektor pertanian. Luas lahan sawah wilayah kecamatan ini sendiri sekitar 5.809 hektar dimana luas panen padi sawah pada tahun 2005 mencapai sekitar 9.642 hektar. Untuk luas areal sawah dan luas baku sawah yang ditanami dapat dilihat pada Tabel 2. Luas areal sawah dan luas baku sawah pada setiap tahunnya hampir sama yaitu 4.657 hektar sehingga dari Tabel 2 ini dapat dilihat bahwa setiap luas areal sawah yang ada selalu ditanami tanaman. Setiap tahunnya terdapat tiga musim tanam (MT), secara berurutan areal sawah tersebut ditanami padi, padi, dan palawija. Tabel 2. Luas Areal Sawah dan Luas Baku Sawah di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung (Ha) No. Kecamatan Desa Daerah Irigasi Luas Areal Sawah (Ha) Luas Baku Sawah (Ha) 1. Wonosoco 312,20 312,20 2. Lambangan 319,60 319,60 3. Kalirejo 218,50 218,50 4. Glagahwaru 351,99 351,99 5. Kutuk 171,80 171,80 6. Medini 192,80 192,80 7. Sambung 141,21 141,21 8. Undaan Kidul 455,50 455,50 9. Undaan Tengah 491,50 491,50 10. Undaan Lor 391,00 391,00 11. Wates 457,50 457,50 12. Ngemplak 380,00 380,00 13. Larikrejo 221,60 221,60 14. Karangrowo 552,70 552,70 Jumlah 4.657,90 4.657,90 Sumber: Ranting Dinas Pengairan Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, 2006
4 Adapun masalah pengelolaan sumberdaya air yang sering dijumpai dan dipergunakan untuk kegiatan pertanian dalam suatu tempat penampungan air seperti waduk yaitu berkaitan dengan volume air. Dalam hal ini masalah yang berkenaan dengan persediaan air terjadi pada Waduk Kedungombo. Waduk ini tidak saja sebagai pemasok untuk air irigasi tetapi juga sebagai bahan air baku yaitu air minum. Diketahui pada pertengahan tahun 2005 persediaan air Waduk Kedungombo sebesar 449,9 juta m 3, dengan adanya hujan buatan maka volume air pada awal tahun 2007 meningkat sebesar 53,44 juta m 3. Saat itu pelaksanaan hujan buatan di sekitar Waduk Kedungombo mencapai 135 mm atau permukaan air waduk naik 46 cm. Waduk ini mampu menampung air sekitar 750 juta m 3 sehingga mampu mengairi lahan seluas 63.170 hektar secara kontinu sepanjang tahun. Persediaan air untuk irigasi yang berasal dari Waduk Kedungombo habis karena setiap hari harus didistribusikan ke sawah petani yang tersebar di Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, dan Pati sebanyak 60 m 3 /detik selama 24 jam/hari. 2 Daerah yang mendapatkan pasokan air dari waduk Kedungombo antara lain Kabupaten Grobogan, Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati. Masalah yang berkaitan dengan waduk ini adalah sekitar kurang lebih 5.000 hektar sawah di Kecamatan Wedung dan Mijen, Kabupaten Demak; 700 hektar di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus dan di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati tidak mendapat air sehingga jadwal musim tanam mundur. Selain itu, kebocoran-kebocoran juga sering terjadi pada saat pendistribusian air irigasi. Air yang dialirkan dari Waduk Kedungombo lewat Daerah Irigasi Klambu Kanan 2 http://www.kompas.co.id.2006.air Irigasi Bakal Habis.17 Februari2007.
5 Wilalung sekitar 60 m 3 /detik dan 40 m 3 /detik (60 persen) di antaranya dicuri di tengah jalan. Caranya dengan memasang pompa berkekuatan tinggi, paralon air, dan penyudetan dengan bambu. Berdasarkan kondisi tersebut, pada dasarnya pelaksanaan operasi dan pemeliharaan (O&P) menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air pasal 77 ayat (1) bahwa pembiayaan pengelolaan sumberdaya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumberdaya air. Selain itu, dalam Undang-Undang yang sama pasal 78 ayat 3 menjelaskan bahwa pembiayaan pelaksanaan konstruksi, O&P sistem irigasi primer dan sekunder menjadi tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. Aktivitas jaringan irigasi menjadi sangat penting karena hal ini dapat menjamin pendistribusian air dalam menghindari kebocoran-kebocoran yang ada. Oleh karena itu, maka diperlukan pemeliharaan dan perawatan dalam sistem irigasi secara berkesinambungan. 1.2 Perumusan Masalah Propinsi Jawa Tengah memiliki areal sawah seluas 1,23 juta hektar yang terdiri dari lahan beririgasi teknis seluas 904.539 hektar dan tadah hujan 330.039 hektar. Dari jumlah areal beririgasi teknis tersebut yang mendapat distribusi air dari 38 waduk di seluruh Jawa Tengah hanya mencapai 253.421 hektar (28
6 persen). Sisanya mendapatkan dari bendungan-bendungan yang ketersediaan airnya tergantung dari debit air sungai. 3 Salah satu waduk yang mempunyai pengaruh adalah Kedungombo. Waduk ini sangat berpengaruh bagi pertanian di wilayah kabupaten sekitarnya, seperti Kabupaten Grobogan, Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Pati. Waduk yang menjadi sumber pasokan air irigasi ini persediaan airnya sangat mempengaruhi kinerja petani dalam hal ini adalah penentuan musim tanam. Petani akan menunda musim tanam mereka apabila air yang digunakan untuk mengairi sawah habis khususnya pada saat volume air yang terdapat di waduk kedungombo berkurang pada saat musim kemarau. Masalah yang terjadi juga timbul akibat adanya ketidakmerataan distribusi air ke sawah-sawah petani. Masalah irigasi tersebut dirasakan sekali di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung yang berada di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Kecamatan ini merupakan kecamatan yang menyangga pertanian sekaligus pemasok beras. Dengan luas wilayah sebesar 7.177 hektar yang terdiri dari luas lahan sawah sebesar 5.809 hektar dan lahan bukan sawah sebesar 1.368 hektar dengan kebutuhan air yang digunakan oleh kecamatan Undaan untuk mengairi sawah sebagian besar berasal dari Waduk Kedungombo. Untuk kebutuhan air di kecamatan ini setiap musim tanam berkisar 50 m 3/ detik. Air yang diberikan telah diatur secara adil sesuai dengan jadwal waktu dan kebutuhan air per petak sawah dengan ketentuan 1 hektar sawah mendapatkan 1,25 l/detik pada masa pengolahan dan 0,8 l/detik dalam masa pertumbuhan. Namun, dalam pelaksanaannya petani di daerah hulu blok tersier menggunakan air 3 Loc.it
7 melebihi dari jumlah yang telah dibagikan. Hal ini menyebabkan sawah yang berada di daerah hilir tidak mendapatkan irigasi yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Masalah juga terjadi dalam proses distribusinya air yang digunakan untuk irigasi mengalami kebocoran-kebocoran pada pipa penyalurannya, serta pencurian air ditengah pendistribusiannya. Akibatnya sawahsawah yang ada tidak mendapatkan air irigasi seperti yang telah terjadwalkan. Para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebenarnya telah memiliki ketegasan dalam penentuan biaya untuk setiap air irigasi yang digunakan untuk mengairi sawah mereka. Namun, pada kenyataannya petani sering kali tidak memiliki kesadaran dalam distribusi pengelolaan air. Hal ini disebabkan karena air masih dianggap sebagai barang bebas (free goods) walaupun mereka telah mempunyai kesepakatan dalam penentuan iuran setiap air yang digunakan. Pengenaan iuran irigasi di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung ini berkisar Rp 50.000 /orang/tahun. Pengenaan iuran irigasi ini berguna untuk pelaksanaan dan pembiayaan O&P. Namun, dalam perkembangannya tidak jarang petani yang enggan untuk membayar iuran tersebut. Oleh karena itu, banyak terjadi pemakaian air yang berlebihan pada petani yang merasa telah membayar iuran tersebut. Hal ini menyebabkan distribusi air tidak merata. Masalah pelayanan irigasi inilah yang akan berdampak pada produktivitas lahan sehingga dibutuhkan penetapan terhadap besarnya iuran pengelolaan irigasi yang diperoleh melalui kesepakatan anggota P3A berdasarkan kebutuhan riil biaya O&P yang bersangkutan. Selain itu, perlu memperhatikan berapa besar kontribusi sumberdaya air (water rent) mempengaruhi total pendapatan usahatani
8 sehingga melalui total pendapatan usahatani dalam penelitian ini kita dapat melihat kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi dan besarnya iuran yang ditetapkan tidak memberatkan petani yang mengakibatkan penurunan produksi pertanian. Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Seberapa besar pendapatan usahatani responden? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi? 3. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi? 4. Berapa besarnya nilai Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi? 1.3 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengestimasi besarnya pendapatan usahatani. 2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi. 4. Mengestimasi besarnya nilai Willingness to Pay (WTP) petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi.
9 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi : 1. Pemerintah Daerah dalam mengalokasikan dana APBD Kabupaten Kudus untuk pengelolaan irigasi. 2. Dinas Pengairan dalam menetukan kebijakan tarif iuran air irigasi. 3. Kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam penetapan iuran irigasi guna pembiayaan pengelolaan irigasi di wilayah setempat. 4. Peneliti sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya. 1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Penelitian yang dilakukan mempunyai ruang lingkup dan keterbatasanketerbatasan yaitu: 1. Peneliti hanya meneliti satu desa saja di Kecamatan Undaan yaitu Desa Ngemplak, Kudus-Jawa Tengah. 2. Sampel responden terdiri dari 45 petani Desa Ngemplak yang mengandalkan air irigasi untuk mengairi lahan pertanian mereka dari Waduk Kedungombo. 3. Willingness to Pay (WTP) adalah sejumlah uang yang ingin diberikan seseorang untuk memperoleh suatu peningkatan kondisi lingkungan dan sumberdaya serta akan lebih baik dari kondisi sebelumnya. 4. Contingent Valuation Methode (CVM) digunakan untuk menampung preferensi responden pada kondisi tertentu guna mengetahui kesediaan untuk membayar.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Fungsi Irigasi Menurut Soediro dalam Ambler (1992), istilah pengairan dapat diartikan sebagai suatu pembinaan atas air dan sumber-sumber air, termasuk kekayaan alam bukan hewani yang terkandung di dalamnya, baik yang alami maupun yang telah diusahakan oleh manusia. Pengairan juga dapat diartikan sebagai pemanfaatan serta pengaturan air dan sumber-sumber air yang meliputi: a. Irigasi, yakni usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, baik air permukaan maupun air tanah. b. Pengembangan daerah rawa, yakni pematangan tanah daerah-daerah rawa antara lain untuk pertanian. c. Pengendalian dan pengaturan banjir serta usaha untuk perbaikan sungai, waduk dan sebagainya. d. Pengaturan penyediaan air minum, air perkotaan, air industri dan pencegahan terhadap pencemaran atau pengotoran air dan sebagainya. Berdasarkan Undang Undang Nomor 7 tahun 2004, yang dimaksud irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumberdaya air di atas semua kebutuhan.
11 Fungsi irigasi yaitu untuk (1) menjamin keberhasilan produksi tanaman dalam menghadapi kekeringan jangka pendek, (2) mendinginkan tanah dan atmosfir sehingga akrab untuk pertumbuhan tanaman, (3) mengurangi bahaya kekeringan, (4) mencuci atau melarutkan garam dalam tanah, (5) mengurangi bahaya pemipaan tanah, (6) melunakkan lapisan olah dan gumpalan-gumpalan tanah, dan (7) menunda pertunasan dengan cara pendinginan lewat evaporasi (Pusposutardjo, 2001). 2.2 Klasifikasi Sistem Irigasi Menurut Tambunan dan Bachtiar dalam Pasandaran (1991), sistem jaringan irigasi di Indonesia pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu : 1. Irigasi teknis yaitu irigasi dengan struktur dan saluran yang permanen, pintu kontrol dan alat pengukur sampai unit tersier. 2. Irigasi semi teknis yaitu irigasi dengan struktur yang tidak semuanya permanen, dimana struktur kontrol hanya tersedia pada lokasi-lokasi pokok serta alat ukur umumnya tidak tersedia atau jika tersedia hanya pada beberapa lokasi. 3. Irigasi sederhana yaitu irigasi yang sering dibuat oleh petani sendiri, bangunan kontrolnya biasanya tidak permanen dan tidak ada fasilitas pengukur.
12 Menurut Gandakoesoemah (1975), pada umumnya syarat untuk daerah irigasi teknis yaitu: a. Semua sawah-sawah dan ladang-ladang dalam daerah irigasi teknis harus dapat diairi dari saluran induk menurut kebutuhannya dengan cara pemberian air yang mudah diperiksa, dapat diatur dan banyaknya aliran dapat diukur. b. Air yang tidak dibutuhkan untuk tanaman harus mudah dan dapat dibuang ke saluran pembuangan atau sungai. 2.3 Operasi dan Pemeliharaan (O&P) Irigasi Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumberdaya air terdiri dari pemeliharaan serta operasi dan pemeliharaan. Berdasarkan Undang-Undang nomor 7 tahun 2004, pelaksanaan dan pemeliharaan sistem irigasi ditetapkan menjadi 2, yaitu : 1. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. 2. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggungjawab masyarakat petani pemakai air. Pengembangan sistem irigasi dapat dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat. Pada pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dapat dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai air (P3A) atau pihak lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya karena kebutuhan dan atas pertimbangan/rekomendasi pemerintah secara berjenjang menurut skala
13 kewenangan dinilai mampu untuk mengembangkan sistem irigasi yang selaras dengan rencana tata ruang wilayah. Operasi dan Pemeliharaan (O&P) irigasi merupakan suatu pekerjaaan dalam pengelolaan irigasi yang bersifat lestari dan mandiri. Lestari berarti pekerjaan O&P yang dilaksanakan secara rutin, teratur, terus menerus dalam satuan waktu tertentu. Sedangkan bersifat mandiri karena pekerjaan O&P dilaksanakan oleh petugas-petugas O&P sendiri. Untuk biaya O&P dapat berasal dari petani dan pemerintah serta penerima manfaat air irigasi lainnya (Notoatmodjo, 1991). O&P jaringan irigasi merupakan salah satu siklus manajemen irigasi yang terdiri dari perencanaan, design, konstruksi dan O&P, tetapi dapat juga merupakan satu siklus manajemen yang tertutup sendiri yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi O&P. Pekerjaan O&P merupakan pekerjaan rutin bagi para petugas pengairan. Pekerjaan ini sudah menjadi tugas kewajiban dan tanggungjawab sehari-hari. Menurut Notoatmodjo (1991), masalah-masalah utama yang didapati dalam pelaksanaan O&P jaringan irigasi secara efisien antara lain, yaitu: a. Kekurangan tenaga O&P yang terampil, khususnya di tingkat pengamat pengairan ke bawah. b. Kekurangan biaya O&P. c. Cukup banyak peraturan O&P khususnya pengaturan tata tanam, rotasi tanaman, sistem golongan air, dan sebagainya yang kurang dapat dipatuhi oleh para petani.
14 d. Panitia irigasi yang kurang berfungsi dengan baik dan institusi P3A yang belum banyak berjalan. 2.4 Kelembagaan Petani Pemakai Air Air merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi berbagai kehidupan terutama untuk sistem irigasi, sehingga dapat dikatakan bahwa jika tidak ada air atau kurang tersedianya air di suatu daerah maka akan menimbulkan masalah pada berbagai kehidupan sehingga menyebabkan pertentangan dan persengketaan. Untuk mengatasi masalah tersebut yaitu yang berkaitan irigasi, dimana air merupakan salah satu sumberdaya alam yang harus ditangani secara bersama (menurut aturan dan hak yang telah dikembangkan secara bersama), petani telah menumbuhkan lembaga-lembaga yang dapat mewadahi kemampuan dan aspirasi petani mengenai pengelolaan air irigasi. Oleh sebab itu maka pemerintah membentuk suatu perkumpulan petani pemakai air yang formal yaitu P3A. Menurut Kartasapoetra dan Sutedjo (1994), Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) merupakan organisasi sosial dari para petani yang tidak berinduk atau bernaung pada golongan/partai politik. P3A merupakan organisasi yang bergerak di bidang pertanian, khususnya dalam kegiatan pengelolaan air pengairan sehubungan dengan kepentingan-kepentingan melangsungkan usahatani bersama. Maksud atau tujuan dari P3A itu sendiri, yaitu: a. Agar pengelolaan air pengairan bagi kepentingan bersama dapat dilakukan secara mantap, tertib dan teratur melalui perkumpulan, karena perkumpulan
15 dapat mengeluarkan ketentuan-ketentuan yang mengikat dan memuaskan para anggotanya. b. Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut (yang pada dasarnya disepakati bersama oleh para anggotanya), perkumpulan dengan didukung kewajibankewajiban para anggotanya akan dapat melaksanakan dan meningkatkan pemeliharaan jaringan pengairan dalam wilayah kerja yang menjadi tanggungjawabnya secara mantap dan teratur dan dengan penuh tanggungjawab. c. Agar dengan adanya perkumpulan, para petani anggotanya dapat dengan tenang dan bergairah melaksanakan usahataninya karena selain kebutuhan air pengairan tercukupi, juga dalam pelaksanaan usahataninya itu akan dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi pertanian dan pengairan. Adapun tugas pokok dari P3A, yaitu: a. Melakukan pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan jaringan pengairan tersier dan pedesaan. b. Membuat peraturan dan ketentuan pembagian air pengairan serta pengamanan jaringan-jaringan pengairan agar terhindar dari perusahaan si pembutuh air pengairan yang hanya mementingkan diri sendiri. c. Mengatasi dan menyelesaikan berbagai masalah yang timbul dan terjadi di antar para anggota petani pemakai air pengairan di dalam pengelolaan air pengairan. d. Mengumpulkan dan mengurus iuran pembiayaan bagi kegiatan eksploitasi dan pemeliharaan bangunan dan jaringan pengairan dari para anggota petani
16 pemakai air pengairan yang telah mereka sepakati bersama pada musyawarah di antara mereka. e. Mewujudkan peransertanya kepada pemerintah melaksanakan kewajibankewajiban pemerintah dalam rangka kegiatan yang menyangkut persoalanpersoalan pengairan dan pertanian. 2.5 Pengenaan Iuran Pengelolaan Irigasi Pengambilan keputusan untuk pengenaan iuran pengelolaan irigasi dilakukan berdasarkan musyawarah antar anggota P3A, dimana keputusan tersebut setelah mempertimbangkan dana yang dipergunakan untuk biaya O&P. Menurut Soediro dalam Ambler (1992), secara teknis pengawasan atau pengelolaan terhadap jaringan irigasi diatur sebagai berikut: a. Jaringan primer dan sekunder dilakukan oleh aparat Pemerintah Daerah tingkat I, dimana dahulu oleh Dinas Pengairan dengan perangkatnya. b. Jaringan tersier diserahkan kepada petani pemakai air. Apabila dalam suatu wilayah terdapat jaringan irigasi Desa atau Subak maka jaringan-jaringan ini juga diurus oleh Desa atau Subak petani pemakai air yang berasal dari wilayah jaringan irigasi yang bersangkutan. 2.6 Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya tentang air irigasi telah banyak dilakukan mulai dari penentuan tarif untuk peningkatan usahatani sampai kemampuan petani untuk membayar IPAIR. Besarnya tarif yang dikenakan untuk air irigasi yang digunakan
17 petani tergantung pada jumlah luas areal sawah yang dimiliki dan besarnya kemampuan petani dalam membayar iuran air tersebut. Penelitian Andriyani (2002) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan petani dalam membayar IPAIR adalah pendapatan usahatani, beban tanggungan, pendapatan non irigasi, pengeluaran keluarga petani, lama pendidikan dan umur. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani adalah luas lahan, produksi, pengalaman berusahatani dan komoditas yang diusahakan. Faktor pendapatan usahatani, pendapatan non irigasi dan pengeluaran keluarga berpengaruh sangat nyata teradap kemampuan petani membayar IPAIR pada taraf kepercayaan α=0,05 hingga α=0,01. Pengaruh koefisien regresi pendapatan usahatani dan pendapatan non irigasi sesuai dengan harapan, yaitu berpengaruh positif berarti semakin besar pendapatan usahatani dan pendapatan non irigasi maka semakin besar pula kemampuan petani dalam membayar IPAIR. Koefisien regresi pengeluaran keluarga berpengaruh negatif artinya semakin besar pengeluaran keluarga maka kemampuan petani membayar iuran semakin kecil. Faktor beban tanggungan berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan α = 0,05, koefisien ini berpengaruh negatif yang berarti bahwa jika beban tanggungan petani bertambah maka kemampuan petani membayar iuran semakin kecil. Peubah produksi penerimaan usahatani, pengeluaran usahatani dan komoditas yang diusahakan berpengaruh tidak langsung terhadap kemampuan petani untuk membayar iuran, karena peubah tersebut berpengaruh nyata pada pendapatan usahatani.
18 Dalam penelitian Aji (2005), menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan atau ketidaksediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi secara positif adalah tingkat pelayanan irigasi, peranserta petani dalam operasi dan pemeliharaan (O&P) irigasi, umur petani serta tingkat pendidikan petani. Berdasarkan empat variabel yang berpengaruh tersebut, variabel tingkat pelayanan irigasi yang memiliki peluang terbesar petani bersedia membayar iuran irigasi (dilihat dari odd rationya) dibandingkan dengan variabelvariabel lainnya, disamping mempunyai pengaruh kuat dalam petani mengambil keputusan (dilihat dari taraf nyatanya). Kondisi demikian wajar terjadi karena dengan adanya pelayanan irigasi yang baik, petani merasa aman terhadap perolehan input. Jaminan perolehan input akan berdampak pada tingkat produksi dan pendapatan petani. Berdasarkan nilai tengah WTP maka diperoleh bahwa faktor yang mempengaruhi WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi secara negatif adalah kepercayaan petani terhadap P3A dan pengalaman berusahatani, sedangkan secara posiif dipengaruhi oleh tanggungan keluarga, dan umur petani. Kepercayaan terhadap P3A yang tumbuh cenderung menyebabkan menurunnya nilai WTP petani. Kondisi ini terjadi karena menurut petani kinerja pengurus P3A semakin menurun dan ada sebagian petani yang belum merasakan transparasi dana dari iuran irigasi. Penelitian Siwi (2006) menyatakan pola tanam dan intensitas tanam berpengaruh pada tingkat produksi padi dimana pada daerah hulu dan tengah ratarata produksi padi dalam setahun lebih besar daripada daerah hilir. Hasil penelitian kontribusi penggunaan air irigasi (water rent) menggunakan analisis
19 usahatani menunjukkan bahwa kontribusi air irigasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi lebih tinggi di daerah hulu dibandingkan daerah lainnya. Berdasarkan perhitungan, jumlah air pada MT I sebanyak 14.585,2 m 3 /ha, MT II sebanyak 14.246,064 m 3 /ha dan MT II sebanyak 20.355,84 m 3 /ha. Dengan menggunakan metode RIA (Residual Imputation Approach) diperoleh rata-rata nlai air dalam setahun di daerah hulu sebesar Rp 44/m 3, didaerah tengah dan hilir sebesar Rp 32 m 3 /ha dan Rp 23 m 3 /ha. Hasil valuasi ini dijadikan acuan dalam implikasinya di lapangan untuk menentukan tarif maksimum air irigasi yang layak dibayar oleh petani berdasarkan jumlah air yang digunakan setiap musimnya.
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Konsep Contingent Valuation Method (CVM) Contingent Valuation Method (CVM) merupakan pendekatan yang pada dasarnya menanyakan secara langsung kepada masyarakat berapa besarnya maksimum Willingness to Pay (WTP) untuk manfaat tambahan dan/atau berapa besarnya maksimum Willingness to Accept (WTA) sebagai kompensasi dari kerusakan barang lingkungan (Hanley dan Spash (1993) dalam Aji, 2005). Dalam penelitian ini pendekatan yang akan dibahas adalah WTP. Fungsi dari CVM yaitu menghitung nilai atau penawaran yang mendekati pada hal tersebut jika pasar dari barang-barang tersebut benar-benar ada. Pasar hipotetik (kuesioner dan responden) oleh karena itu seharusnya sebisa mungkin dapat mendekati kondisi pasar yang sebenarnya. Responden harus mengenal dengan baik barang yang ditanyakan dalam kuesioner dan alat hipotetik yang digunakan untuk pembayaran, seperti pajak dan biaya masuk secara langsung. Kuesioner CVM dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) penulisan detail tentang benda yang dnilai, persepsi penilaian benda publik, jenis kesanggupan dan alat pembayaran, (2) pertanyaan tentang WTP yang diteliti, (3) pertanyaan tentang karakteristik sosial demografi responden, seperti usia, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan lain-lain. Hal yang perlu dilakukan sebelum menyusun kuesioner ini, terlebih dahulu dibuat skenario-skenario yang diperlukan dalam rangka membangun suatu pasar hipotetik benda publik yang menjadi obyek pengamatan.
21 Selanjutnya dilakukan pembuktian pasar hipotetik menyangkut pertanyaan perubahan kualitas lingkungan yang dijual atau dibeli. Pada kasus bidding game kuesioner menyarankan penawaran pertama (nilai awal dari penawaran) dan responden setuju atau tidak setuju jumlah yang akan mereka bayarkan. Prosedur lebih lanjut sebagai berikut: Nilai awal (starting point price) dinaikkan untuk melihat apakah responden masih mau membayar hal tersebut, dan seterusnya sampai responden menyatakan bahwa ia tidak mau membayar lagi (pada tingkat tambahan harga tertentu) dalam penawaran yang terus diajukan. Penawaran terakhir yang disetujui oleh responden merupakan nilai maksimum dari WTP mereka. 3.1.2 Organisasi dalam Pengoperasian Contingent Valuation Method (CVM) Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam organisasi pengoperasian CVM, yaitu (Hanley dan Spash (1993) dalam Aji, 2005): 1. Pasar hipotetik yang digunakan harus memiliki kredibilitas dan realistik. 2. Alat pembayaran yang digunakan dan/atau ukuran kesejahteraan (WTP) sebaiknya tidak kontroversial dengan ethics di masyarakat. 3. Responden sebaiknya disajikan informasi yang cukup mengenai sumberdaya yang dimaksud dalam kuesioner dan alat pembayaran untuk penawaran mereka. 4. Responden sebaiknya mengenal sumberdaya yang dimaksud dalam kuesioner dan mempunyai pengalaman di dalamnya. 5. Jika memungkinkan, ukuran WTP sebaiknya dicari karena responden sering kesulitan dengan penentuan nilai nominal yang ingin mereka berikan.
22 6. Ukuran contoh yang cukup besar sebaiknya dipilih untuk mempermudah perolehan selang kepercayaan dan reabilitas. 7. Pengujian kebiasan sebaiknya dilakukan dan pengadopsian strategi untuk memperkecil strategic bias secara khusus. 8. Penawaran sanggahan sebaiknya diidentifikasi. 9. Sebaiknya diketahui dengan pasti apakah contoh memiliki karakteristik yang sama dengan populasi dan penyesuaian dibuat jika diperlukan. 10. Tanda parameter sebaiknya dilihat kembali apakah mereka setuju dengan harapan sebelumnya. 3.1.3 Kelebihan dan Kelemahan Contingent Valuation Method (CVM) Teknik CVM dapat diaplikasikan pada semua kondisi dan memiliki dua hal penting, yaitu: 1. Seringkali menjadi hanya satu-satunya teknik untuk mengestimasi manfaat. 2. Dapat diaplikasikan pada kebanyakan konteks kebijakan lingkungan. Hal terpenting dalam CVM adalah penggunaannya dalam berbagai macam penilaian barang-barang lingkungan di sekitar masyarakat. Secara khusus, CVM menyarankan bahwa nilai keberadaan barang-barang lingkungan merupakan hal yang penting untuk diketahui. Kelebihan dari CVM dibandingkan dengan teknik penilaian lainnya adalah CVM memiliki kemampuan untuk mengestimasi nilai non pengguna. Melalui CVM seseorang mungkin dapat mengukur utilitasnya dari keberadaan barang lingkungan, bahkan jika mereka sendiri tidak menggunakannnya secara langsung (Hanley dan Spash (1993) dalam Aji, 2005).
23 Dalam mengumpulkan data, teknik ini memiliki kebiasan yang merupakan kelemahan dari CVM. Kelemahan tersebut antara lain: 1. Strategic bias yang muncul akibat dari ketidakjujuran responden, yang mencoba memanipulasi hasil analisis dan mempengaruhi kebijakan pemerintah di masa yang akan datang. Solusi: desain dari alat survei sehingga memperkecil kemungkinan hasil survei yang dilihat sebagai sumber kebijakan di masa yang akan datang. 2. Information bias yang muncul dari kurang lengkapnya informasi yang diberikan oleh pewawancara kepada responden. Informasi tentang kondisi yang dihadapi, perubahan-perubahan yang akan terjadi dan alternatif yang tersedia tidak dipahami oleh responden secara jelas, padahal hal ini penting untuk menimbulkan suatu hipotesis dalam teknik survei. Solusi: desain yang berhati-hati dan terperinci dari alat survei serta alat penjelas yang tepat. 3. Instrument bias yang muncul dari reaksi subyek survei pada alat pembayaran yang dipilih atau pilihan yang ditawarkan, seperti pajak, retribusi atau iuran. Solusi: desain dari alat sedemikian hingga alat pembayaran dan aspek yang lainnya dari kuesioner tidak mempengaruhi tanggapan subjek wawancara. 4. Starting point bias yang muncul pada kasus permainan penawaran (bidding game). Sebagai contoh, pilihan dari harga awal atau selang harga yang dipilih oleh pewawancara mungkin mempengaruhi hasil wawancara. Penawaran yang terlalu lama atau panjang akan membosankan responden. Solusi: desain dari alat survei sedemikian hingga pertanyaan open-ended memungkinkan dan strating points yang realistik.
24 5. Hypothetical bias yang muncul karena adanya masalah yang potensial terjadi pada kondisi pasar atau kenyataan yang tidak riil. Untuk memanfaatkan atau menikmati barang-barang publik, kesediaan membayar sering dipengaruhi oleh anggapan subyek bahwa mereka berhak menikmati barang-barang tersebut secara gratis karena merupakan anugerah Tuhan. Subyek mungkin tidak menanggapi proses survei dengan serius dan jawaban yang mereka berikan cenderung tidak memenuhi pernyataan yang diajukan. Solusi: desain dari alat survei sedemikian hingga memaksimisasi realitas dari situasi yang akan diuji dengan memberikan penjelasan kepada responden tentang pilihan-pilihan yang tersedia dengan berbagai konsekuensinya. 3.1.4 Asumsi dalam Pendekatan Willingness to Pay (WTP) dari Petani Dalam pelaksanaan pengumpulan nilai WTP dari masing-masing responden (petani) diperlukan asumsi sebagai berikut: 1. Responden mengenal dengan baik sistem irigasi yang ada di lokasi penelitian. 2. Pemerintah Daerah/Provinsi setempat memberikan perhatian pada operasi dan pemeliharan jaringan irigasi di lokasi penelitian. 3. Responden dipilih secara random dari petani yang relevan. 3.1.5 Skenario dan Pertanyaan yang Relevan terhadap Skenario Skenario Jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan suatu kebijakan dalam pengelolaan jaringan irigasi di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung dengan tujuan meningkatkan pelayanan irigasi agar air yang masuk ke sawah
25 sesuai dengan kebutuhan tanaman. Adapun kebijakan tersebut adalah rehabilitas terhadap jaringan irigasi yang rusak. Dengan demikian, diperlukan partisipasi masyarakat petani dalam menjaga dan memelihara jaringan irigasi tersebut, khususnya jaringan irigasi tersier. Selain itu, adanya keterbatasan dana yang ada di P3A dalam pemeliharaan jaringan irigasi, maka para petani pemakai air dikenakan iuran pengelolaan irigasi untuk membiayai pelaksaan operasi dan pemeliharaan (O&P) irigasi. Besarnya iuran yang pantas diberlakukan akan ditanyakan kepada responden mengenai WTP petani terhadap pelaksanaan O&P. Di sisi lain, responden ditanyakan pula tentang kesdiaan mereka untuk mengikuti kebijakan tersebut melalui kegiatan-kegiatan O&P jaringan irigasi yang telah dimusyawarahkan dalam P3A. Apakah mereka akan menjawab Ya/Tidak terhadap keputusan musyawarah P3A tersebut. Pertanyaan yang Menyangkut Skenario Seandainya kebijakan pemerintah provinsi mengenai rehabilitas jaringan irigasi benar-benar dilaksanakan, maka responden akan ditanyakan maksimum kesediaan mereka untuk membayar iuran pengelolaan irigasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan operasi dan pemeliharaan irigasi sebagai bentuk partisipasi mereka sebagaimana yang dirumuskan di bawah ini: Bersedia atau tidakkah Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berpartisipasi dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi di Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung khususnya jaringan irigasi tersier dengan cara membayar iuran pengelolaan irigasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan operasi dan pemeliharaan (O&P) irigasi?
26 3.1.6 Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran dan perumusan masalah penelitian, dapat dikembangkan hipotesis penelitian, yaitu: 1. Diduga pilihan masyarakat untuk bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi dipengaruhi secara positif oleh faktor umur, tingkat pendidikan, pengetahuan tentang iuran, tingkat pelayanan irigasi, peranserta dalam O&P irigasi, dan kepercayaan terhadap P3A. 2. Diduga tingkat WTP petani terhadap iuran pengelolaan irigasi dipengaruhi secara positif oleh faktor umur, tingkat pendidikan, pengetahuan tentang iuran, tingkat pelayanan irigasi, peranserta dalam O&P irigasi, kepercayaan terhadap P3A, pengalaman berusahatani, keuntungan bersih usahatani, dan luas lahan garapan, sedangkan secara negatif dipengaruhi oleh tanggungan keluarga. 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Dalam rangka meningkatkan hasil produksi pertanian khususnya tanaman padi, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara untuk mengupayakan agar jaringan irigasi yang telah dibangun tetap berfungsi dengan baik mengingat bahwa air irigasi sangat diperlukan dalam musim penanaman dan pertumbuhan tanaman padi itu sendiri sehingga air yang dialirkan masuk ke petak-petak sawah dapat lancar dan sesuai dengan kebutuhan tanaman tanpa adanya petak sawah yang mengalami kekurangan air. Pada kenyataannya, saat ini sebagian jaringan irigasi mengalami kerusakan, baik akibat faktor alam, usia bangunan, atau ulah manusia. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk merehabilitasi jaringan irigasi yang rusak tersebut. Upaya rehabilitasi tersebut tidak akan berhasil jika
27 tidak adanya pemeliharaan yang dilakukan oleh masyarakat petani. Oleh karena itu, melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), pengurus dan anggotanya melakukan operasi dan pemeliharaan (O&P) irigasi secara rutin guna memberikan pelayanan irigasi yang baik. Untuk kelancaran jalannya O&P irigasi diperlukan kesadaran dari petani pemakai air untuk membayar iuran pengelolaan irigasi. Dalam rapat Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), iuran pengelolaan tersebut telah disepakati tetapi pada kenyataannya banyak para petani yang enggan untuk membayar iuran tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dibahas mengenai pendapatan usahatani petani melalui analisis usahatani dan melihat kemampuan dalam kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi melalui metode analisis regresi logit serta penilaian tentang pelayanan irigasi dilihat berdasarkan nilai Willingness to Pay (WTP) dengan menggunakan Contingent Valuation Method (CVM) melalui pendapatan usahatani yang ada. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam menentukan iuran pengelolaan irigasi dan meningkatkan pelayanan terhadap irigasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Pelayanan Irigasi 28 Kerusakan Jaringan Irigasi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Pemerintah Daerah/Provinsi Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi P3A atau Petani Iuran Pengelolaan Irigasi Kesediaan Membayar Iuran Penilaian Ekonomi Pelayanan Irigasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesediaan Pendapatan Usahatani Willingness to Pay (WTP) Analisis Regresi Logit Analisis Usahatani Estimasi Nilai WTP Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi WTP Contingent Valluation Method (CVM) Analisis Regresi Linear Berganda Ket: = lingkup pelayanan irigasi Penentuan Iuran Pengelolaan Irigasi = berkaitan secara langsung = berkaitan secara tidak langsung Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Operasional
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, artinya penelitian ini merupakan penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Maxfield, 1930 dalam Nazir, 1988). Hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh dari jenis penelitian ini hanya berlaku pada lokasi penelitian dan lokasi atau kondisi yang tipikal dengan lokasi penelitian dan penelitian yang lain dengan asumsi-asumsi yang sama. 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah yang termasuk dalam Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) karena kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di kecamatan tersebut paling berkembang di Kabupaten Kudus sehingga dapat dijadikan sebagai P3A percontohan di Kabupaten Kudus. Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2007. 4.3 Metode Pengambilan Sampel Mengingat daerah irigasi ini mencakup areal baku yang cukup luas, maka dengan keterbatasan yang ada, baik dalam hal dana, waktu dan tenaga maka
30 penelitian ini dipusatkan pada tingkat saluran tersier. Hal ini diharapkan dapat mempermudah dalam penyeragaman iuran pengelolaan irigasi karena berada dalam wadah yang sama yaitu P3A. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara stratified random sampling, yaitu pengambilan responden secara random yang ditarik dari masing-masing kelompok yang homogen dari suatu populasi (Nazir, 1988). Populasi dalam penelitian ini adalah petani pemakai air di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang terdaftar dalam buku daftar anggota P3A. Populasi tersebut dikelompokkan menjadi tiga strata berdasarkan luas lahan irigasi, yaitu petani yang menggarap di lahan irigasi < 0,5 hektar; 0,5 1 hektar; dan >1 hektar masing-masing sejumlah 30 petani, sepuluh petani, dan lima petani, sehingga total responden sebanyak 45 petani. Penentuan jumlah tiap-tiap strata dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Nazir, 1988): n N i i = N n dimana: ni n Ni N = jumlah sampel yang diambil pada kelompok luas lahan ke-i = total jumlah sampel yang diambil dari seluruh kelompok luas lahan = jumlah populasi pada kelompok luas lahan ke-i = total jumlah populasi dari seluruh kelompok luas lahan 4.4 Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari karakteristik responden, data usahatani, respon
31 responden terhadap peningkatan pelayanan irigasi dan besarnya nilai WTP yang diperoleh melalui kuesioner maupun wawancara langsung dengan responden. Hasil dari kuesioner dan wawancara tersebut akan dimanfaatkan sebagai pendukung dari penggunaan Contingent Valuation Method (CVM) dan analisis Willingness to Pay (WTP). Sedangkan data sekunder meliputi: data jaringan irigasi Klambu Kanan Wilalung, luas areal baku dan debit air, potensi desa, dan literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini. 4.5 Metode Analisis Data Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu: (1) untuk mengestimasi besarnya pendapatan usahatani dapat dilihat dengan menghitung selisih antara total penerimaan usahatani dengan total pengeluaran usahatani yang merupakan nilai semua input yang dikeluarkan dalam proses produksi (Soekartawi, 1990) yang berguna untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan dan ketidaksediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi dengan menggunakan analisis regresi logit, (2) dalam penilaian ekonomi pelayanan irigasi dilihat dari nilai WTP dengan Contingent Valuation Method (CVM), dimana kemudian nilai WTP tersebut dianalisis dengan menggunakan regresi linear berganda teridentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi. Pengolahan data dilakukan menggunakan komputer dengan program Microsoft Office Excell dan Minitab for Window Release 14. Berdasarkan analisis kuantitatif dikembangkan menjadi analisis kualitatif.
32 Dalam penelitian diperlukan data untuk mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi petani yang menjadi responden di lokasi penelitian. Data tersebut meliputi data umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, luas lahan garapan, dan status usahatani, kemudian dianalisis secara deskriptif. Metode yang digunakan adalah wawancara dan penyajian kuesioner. 4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani Untuk melihat besarnya pendapatan usahatani diestimasi menggunakan rumus sebagai berikut (Soekartawi, 1990): π = P Y ( P. X +... + P. X ) ( P. X +... + P. X )...(1) y. Xi i xn n xki ki xkn kn dimana : π = Besarnya pendapatan petani (Rp) P y = Harga produksi Y (Rp) Y = Produksi (Kg) P xi...n = Harga input yang diperhitungkan (Rp) X i...n = Jumlah input yang diperhitungkan P xki...n = Harga input yang dibayar tunai (Rp) X ki...n = Jumlah input yang dibayar tunai (Rp) Pada dasarnya dalam penghitungan pendapatan usahatani, biaya dikategorikan kedalam biaya tunai dan diperhitungkan. Biaya tunai terdiri dari biaya sarana dan prasarana produksi, seperti benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja luar keluarga, sewa traktor, dan pajak lahan, sedangkan biaya penyusutan alat, tenaga kerja dalam keluarga, dan sewa lahan termasuk dalam biaya diperhitungkan. 4.5.2 Nilai Kontribusi Air Irigasi (Water Value) Usahatani Padi Nilai air irigasi (water value) menggambarkan kontribusi nilai ekonomi air irigasi dari produksi pertanian (Young, 1996). Water value ini merupakan salah
33 satu nilai dari sumberdaya alam yang dapat menandakan tingkat kemampuan petani dalam membayar iuran pengelolaan air irigasi. Penilaian terhadap air irigasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Product Exhaustion Theorem, yaitu dengan menilai kontribusi air irigasi dari selisih antara nilai output produksi dengan nilai input produksi non irigasi yang dihasilkan. Hal ini dinyatakan dalam persamaan rumus sebagai berikut:...(2) dimana: (P w x Q w ) = Nilai kontribusi air irigasi (water value) Y = Jumlah output produksi (kg) P y = Harga output produksi (Rp/kg) = Jumlah biaya produksi seluruh input yang digunakan, kecuali air irigasi (Rp) 4.5.3 Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi Analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama dari penelitian adalah menggunakan model regresi logit (Logistic Regression Model), dimana variabel respon bersifat dikotomi (Gujarati, 1978). Dengan menggunakan model logit ini diharapkan dapat menduga peluang responden untuk memilih bersedia atau tidak bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi. Berdasarkan penelitian terdahulu dan teori yang berkaitan dengan iuran irigasi, maka bentuk persamaan regresi logit adalah sebagai berikut: dimana: P i = Peluang petani bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi
34 dimana, 1 = jika petani bersedia membayar 0 = jika petani tidak bersedia membayar β o = Konstanta β 1, β 2, β 3, β 4, β 5, β 6 = Parameter hipotesis U = Umur petani (tahun) TP = Tingkat pendidikan petani (tahun) PTPI = Pengetahuan petani tentang iuran pengelolaan irigasi dimana, 1 = tahu dan 0 = tidak tahu PLYN = Tingkat pelayanan irigasi dimana, 1 = baik dan 0 = tidak baik PRST = Peranserta petani dalam pelaksanaan O&P dimana, 1 = aktif dan 0 = tidak aktif KPCY = Kepercayaan petani terhadap P3A dimana, 1 = percaya dan 0 = kurang/tidak percaya i = Responden ke-i (i = 1, 2,...,...) e = Galat 4.5.3.1 Pengujian Parameter Pengujian terhadap parameter model dilakukan untuk memeriksa kebaikan model. Uji statistik yang dilakukan adalah dengan menggunakan statistik uji G dan statistik uji Wald. Uji G The log-likelihood biasa dikenal sebagai 2LL (- two times the loglikelihood) dimana nilai tersebut dapat memperkirakan distribusi chi-square (χ 2 ) dan memungkinkan penentuan level signifikansi. Statistik uji G adalah uji rasio kemungkinan maksimum (likelihood ratio test) yang digunakan untuk menguji peranan variabel penjelas secara serentak. Rumus umum untuk uji G adalah (Hosmer & Lemeshow, 1989): dimana: L G = 2ln L 0 1
35 L 0 = nilai likelihood tanpa variabel penjelas L 1 = nilai likelihood model penuh Pengujian terhadap hipotesis pada uji G adalah sebagai berikut: H 0 = β 1 = β 2 =... = β 6 = 0 H 1 = minimal ada satu nilai β i tidak sama dengan nol, dimana i = 1, 2,..., 6 Statistik G akan mengikuti sebaran χ 2 dengan derajaat bebas p. Kriteria keputusan yang diambil adalah jika G > χ 2 p(α) maka hipotesis nol ditolak. Uji G juga dapat digunakan untuk memeriksa apakah nilai yang diduga dengan variabel di dalam model lebih baik jika dibandingkan dengan model tereduksi (Hosmer & Lemeshow, 1989). Uji Wald Uji Wald digunakan untuk uji nyata parsial bagi masing-masing koefisien variabel. Dalam pengujian hipotesa, jika koefisien dari variabel penjelas sama dengan nol, hal ini berarti variabel penjelas tidak berpengaruh pada variabel respon. Statistik uji Wald dapat didefinisikan sebagai berikut (Hosmer & Lemeshow, 1989): dimana: βˆ Sˆ E( ˆ β ) j = penduga β j W j ˆ β = SE ˆ ( ˆ β ) = penduga galat baku dari βˆ j Uji Wald melakukan pengujian terhadap hipotesis: H 0 : β j = 0 H 1 : β j 0, dimana j = 1, 2,..., n j
36 Uji Wald mengikuti sebaran normal baku dengan kaidah keputusan menolak H 0 jika W > Z α/2. 4.5.3.2 Interpretasi Koefisien Dalam kajian hubungan antar variabel kategori dikenal adanya ukuran asosiasi atau ukuran keeratan hubungan antar variabel kategori. Salah satu ukuran asosiasi yang dapat diperoleh melalui analisis regresi logit adalah odds ratio. Odds berarti rasio peluang kejadian sukses dengan kejadian tidak sukses dari variabel respon (Firdaus dan Afendi, 2005). Odds ratio mengindikasikan seberapa besar peluang muncul kejadian sukses pada suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok lainnya. Odds ratio merupakan interpretasi dari peluang. Koefisien yang bertanda negatif menunjukkan nilai odd ratio yang lebih kecil dari satu mengindikasikan bahwa peluang kejadian tidak sukses akan lebih besar dari peluang kejadian sukses, sedangkan koefisien yang bertanda positif akan menunjukkan nilai odd ratio yang lebih besar dari satu hal ini mengindikasikan bahwa peluang kejadian sukses akan lebih besar dari peluang kejadian tidak sukses. Jika nilai odd ratio sama dengan satu mengindikasikan kedua kelompok memiliki peluang yang sama besar berkaitan dengan munculnya kejadian sukses (Firdaus dan Afendi, 2005). 4.5.4 Willingness to Pay Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi 4.5.4.1 Metode Pendugaan Besarnya Nilai WTP Menurut Hufscmidt (1987) dalam Ayu (2004), pada dasarnya Contingent Valuation Method (CVM) menilai barang lingkungan melalui menanyakan dengan dua pertanyaan, yaitu:
37 1. Apakah anda bersedia membayar (Willingness to Pay/WTP) sejumlah Rp X tiap bulan/tiap tahun untuk memperoleh peningkatan kualitas lingkungan? 2. Apakah anda bersedia menerima (Wilingness to Accept) sejumlah RP X tiap bulan/tiap tahun sebagai kompensasi atas diterimanya kerusakan lingkungan? Dalam CVM dikenal empat macam cara untuk mengajukan pertanyaan kepada responden (Fauzi, 2004), yaitu: 1. Permainan lelang (Bidding Game). Responden diberi pertanyaan secara berulang-ulang tentang apakah mereka ingin membayar sejumlah tertentu. Nilai ini kemudian bisa dinaikkan atau diturunkan tergantung respons atas pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan dihentikan sampai nilai yang tetap diperoleh. 2. Pertanyaan terbuka. Responden diberikan kebebasan untuk menyatakan nilai moneter (rupiah yang ingin dibayar) untuk suatu proyek perbaikan lingkungan. 3. Payment Card. Nilai lelang dengan teknik ini diperoleh dengan cara menanyakan apakah responden mau membayar pada kisaran niali tertentu dari nilai yang sudah ditentukan sebelumnya. Nilai ini ditunjukkan kepada responden melalui kartu. 4. Model referendum atau discrete choice (dichotomous choice). Responden diberi suatu nilai rupiah, kemudian diberi pertanyaan setuju atau tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode referendum tertutup (dichotomous choice) karena menurut beberapa penelitian, metode ini terbukti lebih mudah dipahami oleh responden mengenai maksud dan tujuan dari penelitiannya dibandingkan dengan metode lainnya. Metode ini memudahkan
38 pengklasifikasian responden yang memiliki kecenderungan untuk mau membayar iuran pengelolaan irigasi dengan responden yang tidak memiliki kecenderungan untuk membayar iuran sehingga dari kemungkinan jawaban Ya untuk setiap nilai yang diberikan dapat diestimasi. 4.5.4.2 Teknis Penentuan WTP Tahap-tahap dalam melakukan penelitian untuk menentukan WTP dengan menggunakan CVM meliputi (Fauzi, 2004): 1. Membuat Hipotesis Pasar Pada awal proses kegiatan CVM, biasanya harus terlebih dahulu membuat hipotesis pasar terhadap sumberdaya yang akan dievaluasi. Dalam penelitian ini, pemerintah ingin memperbaiki kondisi jaringan irigasi yang sudah rusak. Dalam hal ini, hal yang perlu dilakukan adalah membuat suatu kuesioner yang berisi informasi lengkap mengenai kondisi jaringan irigasi yang baik, hal apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan pelayanan yang baik, serta menentukan besarnya dana yang diinginkan oleh petani melalui iuran pengelolaan irigasi. 2. Memperoleh Nilai Lelang (Bids) Nilai lelang dilakukan dengan melakukan survei, baik melalui survei langsung dengan kuesioner, wawancara melalui telepon, maupun lewat surat. Dari ketiga cara tersebut survei langsung akan memperoleh hasil yang lebih baik. Tujuan dari survei ini untuk memperoleh nilai maksimum keinginan membayar (WTP) dari responden terhadap suatu proyek. Dalam penelitian, petani akan memberikan beberapa nilai tawaran iuran pengelolaan irigasi saat ini dan meminta responden untuk memilih nilai tertinggi
39 yang bersedia ia bayarkan untuk peningkatan pelayanan irigasi. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa nilai WTP yang sebenarnya dari individu yang bersangkutan terletak dalam kelas atau interval antara nilai yang dipilih dengan nilai WTP berikutnya yang lebih tinggi. Disamping itu, responden dapat dengan mudah memilih nilai yang ditawarkan menggunakan interval tertentu. 3. Menghitung Rataan WTP (Expected WTP, EWTP) Nilai rataan WTP dihitung berdasarkan nilai lelang (bid) yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Perhitungan ini biasanya didasarkan pada nilai mean (rataan) dan nilai median (tengah). Pada tahap ini harus diperhatikan kemungkinan timbunya outlier (nilai yang sangat jauh menyimpang dari ratarata). Pada tahap ini biasanya diabaikan adanya penawaran sanggahan (protest bids). Penawaran sanggahan adalah respon dari responden yang bingung untuk menentukan jumlah yang mereka ingin bayarkan karena mereka tidak mempunyai keinginan untuk ikut serta dalam peningkatan pelayanan irigasi. Selanjutnya dugaan rataan WTP dihitung dengan rumus (Jordan & Elnagheeb (1993) dalam Arianti, 1999): EWTP = W P i fi 1 n i =...(3) dimana: EWTP = dugaan rataan WTP W i = batas bawah kelas WTP kelas ke-i P fi = frekuensi relatif kelas yang bersangkutan n = jumlah kelas (interval) i = kelas (interval) WTP; i= 1, 2, 3 4. Menentukan Total WTP (TWTP) Total WTP dapat digunakan untuk menduga WTP populasi secara keseluruhan dengan rumus (Pearce dan Turner (1989) dalam Arianti, 1999):
40 TWTP = n i= 1 ni WTPi P...(4) N dimana : TWTP = kesediaan populasi (anggota P3A) untuk membayar WTP i = kesediaan responden (sampel) untuk membayar n i = jumlah luas lahan sampel yang bersedia membayar sebesar WTP N = jumlah luas lahan sampel P = jumlah luas lahan populasi (anggota P3A) i = sampel; i = 1, 2,..., 35 5. Pengevaluasian CVM Hal ini memerlukan pendekatan seberapa besar tingkat keberhasilan dalam pengaplikasian CVM. Apakah hasil survei mengandung tingkat penawaran sanggahan yang tinggi? Apakah ada bukti bahwa responden benar-benar mengerti mengenai pasar hipotetik? Seberapa besar tingkat kesalahan responden dalam menjawab pertanyaan yang diajukan? Seberapa baik pasar hipotetik yang digunakan untuk menangkap setiap aspek dalam barang lingkungan? Asumsi apa yang digunakan untuk dapat menghasilkan nilai rata-rata dan bentuk pengumpulan penawaran? Seberapa baik penanganan permasalahan yang terjadi diasosiasikan dengan CVM? Untuk mengevaluasi pelaksanaan model CVM dapat dilihat dari tingkat keandalan (reability) fungsi WTP untuk mengetahui apakah CVM yang dilakukan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya dari ukuran penilaian anggota P3A. 4.5.5 Analisis Fungsi WTP Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi digunakan model regresi linear berganda. Berdasarkan penelitian terdahulu dan teori yang berkaitan dengan iuran irigasi, maka persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
41 midwtp= β + β U i i β PDPTN + β TTK + β LUAS + e 8 0 1 i + β TP + β PTPI + β PLYN 2 9 i i 3 10 i i 4 i i + β PRST 5 i + β KPCY + β PGLM 6 i 7 i + dimana: midwtp = Nilai tengah kelas WTP di atas iuran irigasi yang berlaku (Rp/kotak/tahun) β 0 = Konstanta β 1, β 2, β 3, β 4,..., β10 = Koefisien regresi U = Umur petani (tahun) TP = Tingkat pendidikan petani (tahun) PTPI = Pengetahuan petani tentang iuran pengelolaan irigasi dimana, 1 = tahu dan 0 = tidak tahu PLYN = Tingkat pelayanan irigasi dimana, 1 = baik dan 0 = tidak baik PRST = Peranserta petani dalam pelaksanaan O&P dimana, 1 = aktif dan 0 = tidak aktif KPCY = Kepercayaan petani terhadap P3A dimana, 1 = percaya dan 0 = kurang/tidak percaya PGLM = Pengalaman berusahatani (tahun) PDPTN = Pendapatan usahatani (rupiah) Luas = Luas lahan garapan (kotak) i = Responden ke-i (i = 1, 2,..., 35) e = Galat Untuk mendapatkan koefisien regresi parsial, maka digunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square-OLS). Metode OLS dilakukan dengan pemilihan parameter yang tidak diketahui sehingga jumlah kuadrat kesalahan pengganggu (Residual Sum of Square-RSS) yaitu e 2 i = minimum (terkecil). Pemilihan model ini didasarkan dengan pertimbangan metode ini mempunyai sifat-sifat karakteristik yang optimal, sederhana dalam perhitungan, dan umum digunakan. Beberapa asumsi yang dipergunakan dalam model regresi berganda adalah (Firdaus, 2004): 1. Nilai yang diharapkan bersyarat (conditional expected value) dari i tergantung pada Xi tertentu adalah nol.
42 2. Tidak ada korelasi berurutan atau tidak ada autokorelasi (nonautokorelasi) artinya dengan X i tertentu simpangan setiap Y yang manapun dari nilai rataratanya tidak menunjukkan adanya korelasi, baik secara positif atau negatif. 3. Varians bersyarat dari ( ) adalah konstan. Asumsi ini dikenal dengan nama asumsi homoskedastisitas. 4. Variabel bebas adalah nonstokastik yaitu tetap dalam penyampelan berulang. Jika stokastik didistribusikan secara independen dari gangguan. 5. Tidak ada multikolinearitas di antara variabel penjelas satu dengan yang lainnya. 6. didistribusikan secara normal dengan rata-rata dan varians yang diberikan oleh asumsi 1 dan 2. Apabila semua asumsi yang mendasari model tersebut terpenuhi maka suatu fungsi regresi yang diperoleh dari hasil perhitungan pendugaan dengan metode OLS dari koefisien regresi adalah penduga tak bias linear terbaik (best linear unbiased estimator-blue). Sebaliknya, jika ada asumsi dalam model regresi yang tidak dipenuhi oleh fungsi regresi yang diperoleh maka kebenaran pendugaan model tersebut dan/atau pengujian hipotesis untuk pengambilan keputusan dapat diragukan. Penyimpangan asumsi 2, 3, dan 5 memiliki pengaruh yang serius, sedangkan asumsi 1, 4, dan 6 tidak. Pengujian hipotesis regresi berganda dari hasil print out komputer dapat dilakukan dengan cara: 1. Dengan melihat nilai t hitung atau F hitung dan dibandingkan dengan nilai t tabel atau F tabel. Jika t hitung atau F hitung lebih besar daripada t tabel atau F tabel maka keputusannya adalah tolak hipotesis nol (H 0 ). Sebaliknya, jika nilai t hitung atau
43 F hitung lebih kecil daripada t tabel atau F tabel maka keputusannya adalah menerima hipotesis nol (H 0 ). 2. Dengan menggunakan nilai signifikansi (nilai-p). Jika nilai-p lebih kecil daripada taraf signifikansi yang disyaratkan maka H 0 ditolak dan jika nilai-p lebih besar daripada taraf signifikansi yang disyaratkan maka H 0 diterima. 4.6 Definisi Operasional 1. Kriteria petani yang bersedia membayar iuran adalah petani yang telah melunasi iuran irigasi darimusim tanam I sampai musim tanam II berakhir. 2. Luas lahan garapan merupakan luas areal produktif ditanami padi yang digarap oleh petani dan diukur dalam satuan hektar. Luas lahan garapan dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu lahan < 0,5 hektar; 0,5-1 hektar; dan > 1 hektar. 3. Umur petani adalah umur seorang petani responden pada saat penelitian berlangsung dan diukur dalam satuan tahun. 4. Tingkat pendidikan yaitu tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh petani responden dan diukur dalam satuan tahun. 5. Pengetahuan petani terhadap iuran adalah petani tersebut mengetahui tujuan dan manfaat diterapkannya iuran pengelolaan irigasi dan alokasi dananya. 6. Tingkat pelayanan irigasi adalah pelayanan dikatakan baik jika air yang diterima oleh petani sesuai jumlah dan waktu pada saat dibutuhkan serta terpeliharanya jaringan irigasi.
44 7. Peran serta petani dalam O&P irigasi adalah frekuensi waktu petani dalam mengikuti pertemuan/kegiatan P3A (minimal sebanyak tiga kali dalam setahun). 8. Kepercayaan petani terhadap P3A yaitu petani dapat mempercayai kepengurusan P3A dan mengetahui nama-nama pengurus dan orang yang menagih iuran. 9. Pendapatan usahatani padi adalah selisih antara penerimaan total usahatani padi (output yang dihasilkan dikalikan harga output tersebut) dalam satu tahun dengan total biaya variabel (jumlah input variabel dikalikan dengan harga input variabel tersebut). 10. Tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang belum bisa memenuhi kebutuhannya dan masih dibiayai oleh petani responden, termasuk petani itu sendiri. 11. Pengalaman berusahatani adalah seberapa lama petani telah mengusahakan tanaman padi (dihitung sejak mulai mengusahakan tanaman padi hingga penelitian ini berlangsung) dan diukur dengan satuan tahun.
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Deskripsi Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung Daerah Irigasi (DI) Klambu Kanan Wilalung merupakan pengembangan proyek pembangunan Bendungan Wilalung yang memanfaatkan air yang berasal dari Waduk Kedungombo. DI Klambu ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu DI Klambu Kanan Wilalung yang telah beroperasi dengan luas areal baku mencapai sekitar 7.300 hektar, DI Klambu Kiri Prawoto dengan luas areal baku mencapai 20.646 hektar serta DI Klambu Kanan Prawoto yang telah mengairi sawah dengan luas areal baku 10.354 hektar. DI Klambu Kanan Wilalung ini hanya memanfaatkan air yang berasal dari Waduk Kedungombo. DI Klambu Kanan Wilalung memiliki saluran primer dengan panjang 12.619 meter dan 13 saluran sekunder dengan total panjang Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung mencakup tiga kabupaten dan lima kecamatan, yaitu Kabupaten Kudus (tiga kecamatan) dengan luas areal baku 4953,1 hektar, Kabupaten Grobogan (satu kecamatan) dengan luas areal baku 774,7 hektar, dan Kabupaten Pati (satu kecamatan) dengan luas areal baku 487,9 hektar. Air dari Bendungan Wilalung yang mengalir di wilayah Kudus mencakup tiga kecamatan yaitu Kecamatan Undaan, Kecamatan Mejobo dan Kecamatan Jati melalui saluran sekunder beru, glagah, kutuk, gatet 1, gatet 2, kaliwaru, larik cilik, ngelo, karangrowo, dan undaan.
46 Desa-desa yang ada di Kecamatan Undaan mendapat aliran air dari Bendungan Wilalung terdiri dari irigasi teknis dan setengah teknis. Pada Tabel 3 disajikan data luas lahan sawah yang dialiri air dari Bendungan Wilalung dan sebagian sumber air yang ada dikelola oleh Gabungan P3A. Desa Ngemplak yang merupakan lokasi penelitian memiliki luas lahan sawah seluas 42 hektar yang memiliki pengairan teknis seluas 36 hektar dan 6 hektar untuk sawah pengairan setengah teknis. Tabel 3. Luas Lahan Sawah di Kecamatan Undaan Menurut Jenis Pengairan (Hektar) Tahun 2006 No. Desa Pengairan Tadah Jumlah Teknis Setengah Teknis Sederhana Hujan 1. Wonosoco 36,9670 - - - 36,9670 2. Lambangan 17,0036 5,4000 - - 22,4036 3. Kalirejo 24,1250 0,1050 - - 24,2300 4. Medini 19,6940 - - - 19,6940 5. Sambung 14,0100 - - - 14,0100 6. Glagahwaru 20,2300 - - - 20,2300 7. Kutuk 54,7740 - - - 54,7740 8. Undaan Kidul 53,1900 1,4400 - - 54,6300 9. Undaan 53,7700 - - - 53,7700 Tengah 10. Karangrowo 20,4280 57,7300 - - 78,1580 11. Larikrejo 2,2200 12,0300 - - 14,2500 12. Undaan Lor 45,3800 - - - 45,3800 13. Wates 37,0500 - - - 37,0500 14. Ngemplak 36,0000 6,0000 - - 42,0000 15. Terangmas 11,3700 - - - 11,3700 16. Berugenjang 20,9164 3,6000 - - 24,5164 Total 467,128 82,705 - - 553,433 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus diolah, 2006 Untuk Desa Ngemplak yang berada di Kecamatan Undaan sendiri mendapatkan air dari saluran sekunder Undaan yang biasa dikenal dengan nama
47 BU-12, BU-13, BU-14, BU-15, N3.2KAI, N3.3KAI, N3.4KAI, dan N3.5KAI. Data rencana luas areal saluran sekunder tersebut serta debit airnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rencana Luas Areal dan Debit Air Saluran Sekunder DI Klambu Kanan Wilalung Tahun 2006 Saluran Sekunder Luas Areal (ha) Debit Air (lt/detik) BU-12 43,8 72 BU-13 45,6 74 BU-14 37,8 64 BU-15 69,3 99 N3.2KAI 71,5 102 N3.3KAI 63,5 93 N3.4KAI 49,5 78 N3.5KAI 79,9 110 Sumber: Ranting Dinas Pengairan Klambu Wilalung, 2006 Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa luas areal saluran irigasi sekunder yang dikembangkan serta debit air yang banyak akan dapat mencukupi kebutuhan tanaman. Namun, saluran sekunder yang mengaliri sawah di Desa Ngemplak mencakup sebagian dari N3.2KAI, N3.3KAI, N3.4KAI, dan N3.5KAI dengan rencana luas areal mencapai 183,5 hektar dan memiliki 9 unit tersier. 5.2 Keadaan Geografis Lokasi Penelitian Luas desa adalah 521,9 hektar yang meliputi lahan pertanian sawah dengan luas 420 hektar. Batas wilayah desa sebelah Utara adalah Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Demak dan Kabupaten
48 Jepara. Jarak tempuh Desa Ngemplak ke ibu kota kecamatan tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau dengan sepeda motor, mobil atau bus mini, sehingga relatif singkat menuju ke pusat ekonomi, kesehatan, dan pemerintahan (lihat Tabel 5). Tabel 5. Orbitasi Desa Ngemplak Tahun 2006 No. Orbitasi Keterangan 1. Jarak ke ibu kota Kecamatan 5 km 2. Jarak ke ibu kota Kabupaten 9 km 3. Jarak ke ibu kota Provinsi 42 km 4. Waktu tempuh ke ibu kota Kecamatan 15 menit 5. Waktu tempuh ke ibu kota Kabupaten 30 menit 6. Waktu tempuh ke pusat fasilitas terdekat (pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain) 15 menit Sumber: Daftar Isian Potensi Desa Ngemplak, 2006 Kondisi jalan di Desa Ngemplak masih beragam, yaitu jalan beraspal, jalan diperkeras, dan jalan tanah (Tabel 6). Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa kondisi jalan aspal pendek, yaitu sekitar 1 km dibandingkan dengan jalan yang diperkeras. Dengan adanya jalan yang diperkeras maka memudahkan untuk alat transportasi melalui desa tersebut seperti sepeda, sepeda motor, mobil dan bus. Di sisi lain masih ada jalan tanah sepanjang 1 km dan beberapa jalan yang rusak/berlubang karena curah hujan maupun kualitas jalan aspal yang kurang baik, sehingga cepat rusak dan belum ada dana untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Tabel 6. Kondisi dan Panjang Jalan Desa Ngemplak Tahun 2006 No. Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) 1. Jalan aspal 1,00 2. Jalan diperkeras 8,00 3. Jalan tanah 1,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaen Kudus, 2006
49 Curah hujan yang terjadi pada setiap bulan sangat mempengaruhi volume air irigasi. Kecamatan Undaan hanya memiliki satu stasiun curah hujan, yaitu stasiun Wilalung. Kondisi curah hujan di daerah Undaan disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Data Curah Hujan Bulanan Kecamatan Undaan Tahun 2006 Bulan Jumlah Curah Hujan (mm) Jumlah Hari Hujan Januari 344 14 Februari 162 14 Maret 298 16 April 238 13 Mei 53 1 Juni - - Juli - - Agustus - - September - - Oktober 256 7 November 345 12 Desember 190 7 Total 1886 84 Sumber: Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Kabupaten Kudus, 2006 Berdasarkan Tabel 7 ditunjukkan bahwa pada tahun 2006 curah hujan tertinggi di daerah Undaan terjadi pada bulan November dan terendah terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Adanya curah hujan yang berfluktuatif setiap bulannya menyebabkan perubahan pada ketersediaan air irigasi. Data mengenai curah hujan ini diperlukan untuk pengaturan pola tanam yang berlangsung setiap tahunnya. 5.3 Keadaan Sosial Ekonomi Lokasi Penelitian Penduduk Desa Ngemplak berjumlah 3.794 orang dengan jumlah kepala keluarga 1.047 KK. Berdasarkan jenis kelamin, penduduk Desa Ngemplak terdiri dari laki-laki sebanyak 1.857 orang dan perempuan sebanyak 1.937 orang. Untuk
50 tingkat pendidikan penduduk dapat dilihat pada Tabel 8, dimana tingkat pendidikan penduduk Desa Ngemplak sebagian besar adalah tamatan SD (73,54%). Tabel 8. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Ngemplak Tahun 2006 No. Keterangan Jumlah Persentase (%) 1. Tidak sekolah 10 0,49 2. Tidak tamat SD 20 0,97 3. SD 1.512 73,54 4. SLTP 290 14,11 5. SLTA 180 8,75 6. D-2 10 0,49 7. D-3 14 0,68 8. S-1 18 0,88 9. S-2 2 0,09 Total 2.056 100,0 Sumber: Daftar Isian Potensi Desa dan Daftar Isian Tingkat Perkembangan Desa,2006 Pada Tabel 8 menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk Desa Ngemplak sangat timpang sekali. Dimana, penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi masih sangat sedikit dibandingkan penduduk yang hanya tamatan SD. Hal ini merupakan kemungkinan dari salah satu yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan, sehingga para orangtua hanya memperkenalkan usahatani kepada anaknya. Selain itu, adanya keterbatasan penghasilan keluarga petani menyebabkan tidak mampunya mereka membiayai anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah. Mereka yang telah lulus SD cenderung disuruh mencari pekerjaan agar dapat membantu menopang keuangan keluarga, seperti sebagai buruh industri.
51 Mata pencaharian penduduk Desa Ngemplak berdasarkan curahan kerja sebagian besar sebagai buruh industri yaitu 31,83 persen, namun pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan utama karena sebagian banyak waktu mereka guna untuk bekerja di bidang industri. Mata pencaharian mereka yang lain adalah sebagai petani tanaman pangan sebesar 30,69 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Struktur mata pencaharian penduduk Desa Ngemplak dapat dilihat pada Tabel 9. Tebel 9. Struktur Mata Pencaharian Penduduk Desa Ngemplak Tahun 2006 No. Mata Pencaharian Jumlah (orang) Presentase (%) 1. Petani sendiri 375 30,69 2. Buruh tani 125 10,23 3. Buruh industri 389 31,83 4. Buruh bangunan 302 24,71 5. Pedagang 10 0,82 6. Peternak 0 0,00 7. Nelayan 0 0,00 8. Montir 7 0,57 9. PNS/ABRI 14 1,15 Total 1222 100,0 Sumber: Daftar Isian Potensi Desa dan Daftar Isian Tingkat Perkembangan Desa,2006 Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara, mayoritas penduduk desa tersebut mampunyai dua mata pencaharian yaitu sebagai petani dan buruh industri. Tanaman yang mereka tanam berupa padi sawah sedangkan untuk industri mereka biasanya bekerja sebagai buruh di pabrik rokok yang tersebar wilayah Kabupaten Kudus. Di sisi lain, masyarakat Ngemplak tidak memiliki mata pencaharian di subsektor peternakan dan perikanan, sedangkan untuk para penduduk yang bekerja sebagai buruh tani sebesar 10,23 persen, buruh bangunan
52 24,71 persen, pedagang 0,82 persen, montir 0,57 persen dan PNS/ABRI 1,15 persen. Berkaitan dengan pertanian di lokasi penelitian, biasanya apabila musim panen tiba petani menjual gabah dengan dua cara yaitu pertama, penjual yang datang langsung ke sawah atau penjual tersebut sering disebut sebagai penebas dengan gabah dalam keadaan kering bukan dalam keadaan kering giling, sedangkan kedua, mereka menjual sendiri ke pasar setempat dalam keadaan gabah kering giling. 5.4 Pola Tanam dan Pelayanan Irigasi Pola tanam yang ada di Desa Ngemplak umumnya pada MT I dan II ditanami dengan padi, sedangkan untuk MT III sawah akan diberakan. Pada MT III ada juga petani yang menanami lahan sawah mereka dengan palawija atau semangka, tetapi tidak jarang bagi mereka yang menanami semangka dan palawija tidak dapat panen. Hal ini disebabkan karena banyaknya hama tanaman muncul pada musim tanam tersebut. Penentuan pola tanam apa yang akan dilaksanakan dan kapan dimulainya menanam biasanya dimusyawarahkan dalam rapat yang diadakan oleh pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Pelayanan untuk irigasi pada lahan sawah yang ada biasanya didapat dari waduk Kedungombo melalui saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier, saluran kuarter, hingga ke petak sawah petani. Oleh karena itu, ketersediaan air di sawah tergantung pada ketersediaan air dari waduk dan pengelolaan pada semua tingkat pelayanan irigasi.
53 Pada saat penelitian berlangsung, Musim Tanam (MT) I baru dimulai pada bulan Oktober 2007. Ketersediaan air pada saat itu sudah mencukupi untuk memulai musim tanam, sehingga tidak ada petak sawah yang kekurangan air. Hal ini juga didukung oleh pelayanan irigasi yang baik pada saat itu, karena sebelum MT I dimulai biasanya petani yang terkumpul dalam P3A melakukan gotongroyong untuk memperbaiki seluruh jaringan irigasi yang ada agar selama MT I dilaksanakan tidak ada petak sawah yang mengalami kekurangan air. Berdasarkan hasil wawancara petani, setiap tahunnya wilayah Undaan ini sering terjadi banjir antara bulan Oktober-Desember sehingga menyebabkan petani rugi. Selain akibat curah hujan yang tinggi, petani rugi karena adanya banyak hama dan penyakit pada tanaman. Hama dan penyakit tanaman ini seringkali ada pada saat MT III sehingga tidak jarang jika ada petani yang sengaja menanam palawija atau semangka tidak akan panen. Kerugian petani berasal dari biaya produksi yang sangat tinggi sementara hasil produksi buruk hingga tidak laku dijual. 5.5 Produksi Usahatani Pola tanam yang diterapkan oleh petani Desa Ngemplak adalah padi-padipalawija. Pada musim tanam (MT) III petani akan menanam palawija karena tanaman ini tidak banyak membutuhkan air, tetapi karena adanya hama dan penyakit maka petani tidak akan melakukan apa-apa, sehingga dalam setahun dilakukan dua kali tanam padi (padi-padi-bera). Padi yang biasanya ditanam petani adalah varietas IR-64. Produksi padi yang dapat dihasilkan lahan petani rata-rata cenderung sama yaitu pada MT I berkisar 40 kwintal hingga 70 kwintal
54 per hektar dan MT II berkisar 50 kwintal hingga 75 kwintal per hektar dalam bentuk gabah kering giling (GKG), dimana harga GKP di tingkat petani pada tahun 2006/2007 sebesar Rp 2000 per kilogram. Produksi padi pada MT I cenderung paling rendah dibandingkan dengan produksi MT II. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan air yang berasal dari air hujan sangat berlimpah sehingga menyebabkan banjir. Selain itu, serangan hama/penyakit yang sulit ditanggulangi mengakibatkan gagal panen. Apabila ada perbedaan produksi padi di setiap lahan itu karena perbedaan dalam penggunaan pupuk dan obat-obatan setiap petani. Dari hasil wawancara petani responden biasanya menggunakan pupuk urea, TSP dan Ponska. 5.6 Peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Pengelolaan dan pemeliharaan irigasi di tingkat tersier seluruhnya menjadi tanggungjawab P3A sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air. Organisasi P3A di Jawa Tengah terkenal dengan nama Dharma Tirta, untuk P3A yang berada di Desa Ngemplak Kecamatan Undaan dikenal dengan Dharma Tirta Karunia Tani. P3A Karunia Tani ini dibawahi oleh P3A Dharma Tirta Undaan Bangkit. P3A Karunia Tani merupakan organisasi formal yang mewadahi kemampuan dan aspirasi petani mengenai pengelolaan air irigasi. Kepengurusan P3A Karunia Tani terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Seksi Humas, Seksi Usaha dan Pengurus Blok. Pengurus blok tersebut meliputi blok Palwadak, Srigono, Kaliyah, Gedangrejo, Kaiman dan Kilego Mulyo dengan tiga pengurus di masing-masing blok.
55 Sesuai dengan AD/ART P3A Karunia Tani, ruang lingkup kegiatan P3A meliputi penguasaan, pengelolaan, penggunaan, dan pengamanan air beserta sumber-sumbernya pada jaringan irigasi. Hal ini bertujuan untuk mendayagunakan potensi air irigasi yang tersedia di saluran tersier untuk kesejahteraan masyarakat tani. Daerah kerja P3A Karunia Tani meliputi jaringan irigasi pada tingkat usahatani pada wilayah Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Daerah Irigasi Klambu Kanan Wilalung, dan Ranting Klambu Wilalung. Dalam pembiayaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sesuai kesepakatan rapat anggota P3A ditetapkan iuran anggota per kotak (satu kotak rata-rata 1400 m 2 ) sebesar Rp 50.000 pada MT I,dan MT II, sedangkan untuk MT III tidak ada iuran karena sawah sengaja diberakan. Penentuan iuran tersebut diperoleh dari tingkat kebutuhan air untuk tanaman dan kebutuhan operasional serta pemeliharaan saluran irigasi, dimana sekitar 60 persen digunakan untuk pembangunan fisik, 30 persen untuk honor pengurus serta 10 persen untuk lainlain. Kegiatan pemeliharaan saluran tersier dilakukan setiap musim tanam. Jadwal kegiatan gotong-royong ditetapkan pada saat pertemuan P3A yang dilakukan satu minggu sekali. Petani juga dihimbau agar memelihara dan membersihkan saluran kuarter yang dekat dengan lahan masing-masing. Kegiatan gotong-royong dilakukan saat menjelang musim tanam atau sebelum pengolahan tanah dan setelah musim tanam berakhir. Kegiatan tersebut meliputi pembuangan sampah-sampah dan pengambilan endapan lumpur. Dalam mengemban amanat dari anggota, pengurus P3A Karunia Tani melaksanakan tugas untuk mengendalikan opersional yang didukung oleh anggota
56 dan mendapat pembinaan dari tim Pembina dan instansi terkait. Sistem penarikan iuran setiap musim tanam diserahkan kepada pengurus blok masing-masing yaitu blok Palwadak, Srigono, Kaliyah, Gedangrejo, Kaiman dan Kilego Mulyo kemudian disetorkan ke bendahara. 5.7 Prosedur Pembayaran dan Penarikan Iuran Pengelolaan Irigasi Pengelolaan iuran irigasi sepenuhnya dilakukan oleh Gabungan P3A (GP3A) yang wilayah kerjanya meliputi satu saluran sekunder dan induk P3A (IP3A) yang wilayah kerjanya meliputi satu saluran primer. Prosedur pelaksanaan penarikan iuran pengelolaan irigasi oleh P3A sebagai berikut: 1. Pengurus P3A beserta pengurus masing-masing blok irigasi mengadakan musyawarah untuk menentukan besarnya iuran dari petani pemakai air. 2. Pengurus masing-masing blok melakukan penarikan iuran petani sebesar hasil musyawarah yang telah disepakati. 3. Pengurus blok wajib melakukan penyetoran iuran tersebut kepada bendahara P3A, kemudian iuran tersebut dikelola untuk pelaksanaan O&P. 5.8 Perkembangan Iuran Pengelolaan Irigasi Sebelum tahun 2000, pengumpulan dana untuk memenuhi kebutuhan air dilakukan melalui penarikan hasil produksi padi berupa gabah kering giling (GKP) sebanyak seperenam belas dari hasil panen pada masing-masing lahan sawah. Pengurus P3A Dharma Tirta Karunia Tani sendiri yang mengumpulkan gabah tersebut dengan cara mengambil langsung ke sawah masing-masing petani
57 yang sedang melakukan panen. Sejalan dengan perkembangan, maka untuk mengefisienkan waktu dilakukan perubahan pola penarikan gabah menjadi penarikan iuran irigasi berupa uang yang besarnya disepakati dari rapat anggota. Oleh karena itu, pada tahun 2000 penarikan iuran mulai diterapkan di Desa Ngemplak dengan kesepakatan tarif air per kotak sebesar Rp 50.000 untuk semua luas lahan sawah pada dua musim tanam yaitu MT I (padi) dan MT II (padi), sedangkan pada MT III tidak dilakukan karena lahan sawah yang ada sengaja tidak ditanami apa-apa (bera).
BAB VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1 Karakteristik Responden Identifikasi pilihan petani terhadap pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui efisiensi petani dalam mengusahakan usahatani padi. Responden yang diwawancarai untuk memperoleh tujuan penelitian ini adalah para petani pemakai air yang termasuk dalam anggota Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang diklasifikasikan menurut luas garapan. Penyebaran responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Penyebaran Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Petani Klasifikasi Luas Luas Ratarata Responden Lahan Garapan (ha) (ha) Jumlah Persentase (%) < 0,5 0,3 30 66,7 0,5-1,0 0,6 10 22,2 > 1,0 1,6 5 11,1 Rata-rata 0,5 Total 45 100,0 Berdasarkan klasifikasi luas lahan garapan petani, maka dari 45 responden diperoleh responden untuk luas lahan < 0,5 hektar sebannyak 30 orang (66,7 persen), luas 0,5 1,0 hektar sebanyak 10 orang (22,2 persen), dan luas > 1,0 hektar sebanyak 5 orang (11,1 persen). Penggolongan lahan tersebut diharapkan dapat menggambarkan kondisi ekonomi petani dengan tujuan untuk mengidentifikasi kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi.
59 Karakteristik responden dapat dilihat dari beberapa variabel yaitu umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, dan status usahatani. Berikut penjelasan karakteristik petani responden dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Penyebaran Karakteristik Petani Responden Keterangan 1. Berdasarkan Umur: < 40 40 55 >55 Total Responden: 2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan: Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat Akademi/PT Total Responden: 3. Berdasarkan Pengalaman Berusahatani: 10 11 20 21 30 31 40 40 Total Responden: 2 28 15 45 4 15 20 2 4 0 45 18 8 6 6 7 45 Jumlah Responden (orang) Persentase (%) 4,5 62,2 33,3 100 8,9 33,3 44,5 4,4 8,9 0,0 100 40,0 17,8 13,3 13,3 15,6 100 1. Umur Petani responden berumur rata-rata 52,1 tahun dengan umur terendah 28 tahun dan umur tertinggi 70 tahun. Umur seseorang merupakan karakteristik individu yang dapat mempengaruhi fungsi biologis dan psikologi individu tersebut. Semakin tua umur petani akan mempengaruhi kemauan dan pengalaman petani dalam berusahatani. Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat bahwa petani di Desa Ngemplak cenderung masuk ke dalam generasi tua, hal ini ditunjukkan oleh persentase
60 terbesar yaitu 62,2 persen berumur 40-55 tahun dan 33,3 persen berumur lebih dari 55 tahun. Sementara generasi muda yang ada cenderung tidak berkecimpung dalam bidang pertanian di lahan sawah, mereka lebih tertarik untuk memilih jenis pekerjaan di bidang perdagangan, industri, jasa dan sebagainya. Kondisi demikian terlihat pada kelompok umur < 40 tahun hanya 4,5 persen dari seluruh jumlah responden. 2. Tingkat Pendidikan Menurut tingkat pendidikan, dari 45 responden sebagian besar hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu 20 orang (44,5 persen), sedangkan yang paling sedikit adalah tingkat SLTP sebanyak 2 orang (4,4 persen), bahkan untuk tingkat Akademi/PT tidak ada. Berdasarkan Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian besar responden petani dapat dikatakan berpendidikan rendah bahkan terdapat petani yang tidak mendapatkan pendidikan sebanyak 8,9 persen dan yang tidak tamat SD sebanyak 33,3 persen. Alasan mereka tidak melanjutkan sekolah karena para orangtua mereka yang sebagian besar petani cenderung mendidik anak-anaknya berusahatani di sawah serta kurangnya kesadaran orangtua zaman dahulu akan pentingnya pendidikan bagi generasi berikutnya serta didorongnya keadaan ekonomi mereka yang kurang. 3. Pengalaman Berusahatani Rata-rata pengalaman berusahatani petani responden adalah 22 tahun. Oleh karena itu, sebagian besar petani responden telah mengenal seluk beluk pertanian yang ada di Desa Ngemplak. Penyebaran petani responden menurut pengalaman berusahatani dapat dilihat pada Tabel 11. Berdasarkan Tabel 11
61 menunjukkan bahwa petani yang paling banyak pengalaman dalam berusahatani padi ( 10 tahun) yaitu sebesar 4,0 persen (18 orang), sedangkan yang paling sedikit pengalamannya (21-30 tahun dan 31-40 tahun) masing-masing sebesar 13,3 persen (6 orang). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani responden belum lama dalam mengusahakan tanaman padi, sehingga permasalahan yang terjadi di sawah, khususnya masalah air masih kurang dapat diatasi. 4. Status Usahatani Berdasarkan total responden sebanyak 45 orang menunjukkan bahwa sebagian besar petani mengusahakan padi sebagai pekerjaan pokok yaitu sebesar 33 responden (73,3 persen), sedangkan 12 responden lain (26,7 persen) bertani merupakan pekerjaan sampingan. Artinya bahwa dari waktu kerja dan sumber penghasilan, bertani merupakan sumber yang utama. Tetapi, hanya sebagian kecil petani yang menjadikan usahatani sebagai pekerjaan sampingan karena memiliki profesi lainnya, yaitu sebagai PNS atau buruh industri. Sehubungan dengan status usahatani, hubungan kerja di daerah penelitian yaitu pola pemilik lahan. Pemilik lahan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap jalannya kegiatan usahatani yang dilakukan serta keuangan usahatani seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk lahan pertanian. Apabila lahan pertaniaannya digarap oleh orang lain maka pemilik lahan dan penggarap sama-sama mendapatkan penerimaan yang berasal dari hasil produksi padi (maro) pada tiap musim tanam.
62 6.2 Analisis Pendapatan Usahatani Dalam analisis usahatani ini terdapat dua pendapatan usahatani, yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan usahatani berupa uang atau berupa barang yang bisa dikonsumsi, namun di Desa Ngemplak semua hasil panen di jual untuk mendapatkan pendapatan tunai yang berupa uang. Perhitungan usahatani ini dilakukan pada MT I dan MT II yaitu usahatani yang diusahakan adalah padi-padi, sedangkan untuk MT III tidak dihitung karena lahan sawah yang ada tidak ditanami apa-apa (bera). 6.2.1 Pengeluaran Usahatani Pengeluaran usahatani terdiri dari pengeluaran atas biaya tunai dan pengeluaran atas biaya yang diperhitungkan. Biaya yang diperhitungkan merupakan biaya yang tidak dikeluarkan tetapi tetap diperhitungkan sebagai biaya produksi, dan biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang ataupun jasa dalam kegiatan usahatani. Komponen biaya tunai dalam usahatani padi di Desa Ngemplak terdiri dari biaya sarana produksi yaitu benih, pupuk urea, TSP, Ponska, dan obat-obatan cair. Biaya lainnya yaitu upah tenaga kerja luar keluarga, sewa traktor, pajak atas lahan dan iuran pengairan. Biaya diperhitungkan terdiri dari tenaga kerja dalam keluarga, biaya penyusutan peralatan dan sewa lahan. Penggunaan sarana produksi dalam usahatani padi di Desa Ngemplak, pengeluaran untuk pupuk merupakan pengeluaran yang paling besar dari total biaya yaitu mencapai 15,76 persen pada rata-rata luas lahan 0,3 hektar; 16,86 persen pada rata-rata luas lahan 0,6 hektar; dan 17,93 persen pada rata-rata luas
63 lahan 1,6 hektar. Pengeluaran untuk pupuk merupakan pengeluaran yang paling besar, karena harga eceran tertinggi di Desa Ngemplak lebih besar dari harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah. Pengeluaran untuk benih dalam usahatani padi sebesar Rp 48.330, Rp 101.250, Rp 252.072 dengan benih padi masing-masing sebesar 8,95 kg untuk rata-rata luas lahan 0,3 hektar; 18,75 kg untuk rata-rata luas lahan 0,6 hektar; dan 46,68 kg untuk rata-rata luas lahan 1,6 hektar. Obat yang digunakan dalam usahatani padi adalah obat-obatan berjenis cair. Kebanyakan penggunaan obat ini bertujuan untuk membasmi hama dan penyakit yang dimulai setelah tanam dilakukan dengan menggunakan sprayer. Penggunaan obat dalam usahatani padi sebesar Rp 93.000, Rp 166.500 dan Rp 189.000 untuk masing-masing rata-rata luas lahan 0,3 hektar; 0,6 hektar serta 1,6 hektar. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga dalam usahatani padi mencapai Rp 26.667, Rp 60.000, serta Rp 224.000 dengan masing-masing rata-rata luas lahan 0,3 hektar; 0,6 hektar dan 1,6 hektar. Penggunaan tenaga kerja ini diperlukan pada saat kegiatan panen. Kegiatan yang melibatkan tenaga kerja luar keluarga biasanya dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 setiap harinya, sedangkan tenaga kerja dalam keluarga tidak diperhitungkan. 6.2.2 Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani merupakan hasil kali antara jumlah produksi padi keseluruhan dengan harga gabah. Total produksi padi hasil panen di Desa Ngemplak yaitu sebesar 1.491,7 kg untuk luas lahan rata-rata 0,3 hektar, 3.125 kg untuk luas lahan rata-rata 0,6 hektar, dan 7.780 kg untuk luas lahan rata-rata 1,6
64 hektar dengan tingkat harga pasar yang berlaku di lokasi penelitian sebesar Rp 2.000 per kilogram. Penerimaan yang didapatkan petani sebesar Rp 2.983.400, Rp 6.250.000, dan Rp 15.560.000 yang dapat dilihat pada Tabel 12. Hal ini disebabkan jumlah hasil produksinya berbeda. 6.2.3 Pendapatan Usahatani Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan usahatani dengan pengeluaran usahatani. Pendapatan ini terdiri dari pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan usahatani ini dihitung berdasarkan pendapatan riil dan pendapatan per hektar. Besarnya pendapatan pada masing-masing luas lahan cukup signifikan karena analisis ini dikategorikan berdasarkan luas lahan. Hasil analisis pendapatan usahatani di atas menunjukkan bahwa usahatani padi menguntungkan untuk diusahakan karena besarnya output produksi lebih besar dibandingkan total biaya yang dikeluarkan. Besarnya pendapatan per hektar lebih besar daripada pendapatan riil, hal ini karena luas lahan riil lebih kecil dibandingkan kategori terhadap luas lahan untuk per hektarnya. Tetapi untuk luas lahan riil 1,6 hektar, pendapatan riil lebih kecil dibandingkan pendapatan per hektar karena jumlah luas lahan riil lebih besar dibandingkan kategori luas lahan, dimana luas lahan riil mencapai 1,05 hektar sampai 2 hektar. Untuk dapat melihat tingkat efisiensi usahatani padi dapat dilihat pada tingkat pendapatan yang ditunjukkan pada Tabel 12.
65 Tabel 12. Analisis Pendapatan Usahatani Padi di Desa Ngemplak Berdasarkan Rata-rata Luas Lahan Tahun 2006/2007 Komponen Biaya Golongan Luas Lahan < 0,5 Ha 0,5-1 Ha > 1 Ha Rata-rata Penguasaan Lahan (Ha) 0,3 0,6 1,6 Produksi padi dalam bentuk GKP (kg) 1.491,7 kg 3.125 kg 7.780 kg Produktivitas (ton/rata-rata luas lahan) 5 5,2 4,9 Penerimaan (Rp/rata-rata luas lahan) 2.983.400 6.250.000 15.560.000 1. Biaya Tunai (Rp) a. Benih 48.330 101.250 252.072 b. Pupuk Urea TSP Ponska 179.000 89.500 9.860 375.000 187.500 6.800 933.600 466.800 25.500 c. Obat-obatan: Cair 93.000 166.500 189.000 d. TKLK 26.667 60.000 224.000 e. Sewa traktor 426.667 894.000 2.224.000 f. Pajak Lahan 20.000 20.000 20.000 g. Iuran Pengairan 50.000 50.000 50.000 Total Biaya Tunai 943.024 1.861.050 4.384.972 2. Biaya Diperhitungkan (Rp) a. Sewa lahan 477.333 1.000.000 2.489.600 b. Penyusutan peralatan 56.667 50.000 50.000 c. TKDK - - - Total Biaya Diperhitungkan 534.000 1.050.000 2.539.600 Total Biaya (Rp/rata-rata luas lahan/tahun) 1.477.024 2.911.050 6.924.572 Pendapatan atas biaya tunai (Rp/rata-rata luas lahan/tahun) 2.040.376 4.388.950 11.175.028 Pendapatan atas biaya total (Rp/rata-rata luas lahan/tahun) 1.506.376 3.338.950 8.635.428 Pendapatan per hektar atas biaya tunai (Rp/Ha/tahun) 6.801.253 7.314.917 6.984.393 Pendapatan per hektar atas biaya total (Rp/Ha/tahun) 5.021.253 5.564.917 5.397.143 6.3 Kontribusi Air Irigasi terhadap Pendapatan Usahatani Kontribusi air irigasi (water rent) dihitung untuk dibandingkan dengan besarnya iuran pengelolaan irigasi yang bersedia dibayarkan oleh petani pemakai air di Desa Ngemplak. Analisis ini bertujuan agar penentuan besarnya iuran pengelolaan irigasi sesuai dengan kemampuan petani. Penentuan iuran tersebut didasarkan pada luas lahan yang digarap oleh petani, bukan didasarkan pada
66 banyaknya volume air yang masuk ke petak sawah, karena dalam perhitungan water rent tidak dapat mengukur besarnya air yang digunakan oleh masingmasing petani. Dalam menghitung water rent, pendapatan usahatani dihitung tanpa memasukkan biaya pengairan. Water rent merupakan perbedaan antara penerimaan usahatani dan biaya produksi usahatani, kecuali penggunaan air irigasi. Besarnya water rent mengindikasikan seberapa besar air irigasi yang digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan tanaman pada lahan sawah. Pada tabel 13 dapat dilihat bahwa secara keseluruhan, besarnya rata-rata penerimaan usahatani padi menurut luas lahan riil petani adalah Rp 2.755.621/luas lahan/tahun. Namun, penerimaan ini tidak merata berkisar antara Rp 700.000 hingga Rp 20.000.000/luas lahan/tahun. Rata-rata penerimaan usahatani di setiap tingkat luas lahan garapan cukup berbeda. Hal ini disebabkan jumlah hasil produksinya berbeda, sedangkan rata-rata total penerimaan per hektar dalam musim tanam padi mencapai Rp 5.511.242. Tabel 13. Rata-rata Penerimaan, Biaya Produksi, dan Water Rent Usahatani Padi Berdasarkan Rata-rata Luas Lahan Tahun 2006/2007 Kategori Satuan Luas Lahan Golongan Luas Lahan Rata-rata Luas Lahan (Ha) Rata-Rata Penerimaan Rata-rata Biaya Produksi Total Water Value Luas Lahan Riil (Rp/luas lahan/tahun) Luas Lahan per Hektar (Rp/Ha/tahun) (Ha) < 0,5 ha 0,3 2.983.400 1.427.024 1.556.376 0,5-1 ha 0,6 6.250.000 2.861.050 3.388.950 > 1 ha 1,6 15.560.000 6.874.572 8.685.428 Rata-rata 0,5 5.106.600 2.350.979 2.755.621 < 0,5 ha 0,3 9.944.667 4.756.747 5.187.920 0,5-1 ha 0,6 10.416.667 4.768.417 5.648.250 > 1 ha 1,6 9.725.000 4.296.608 5.428.392 Rata-rata 0,5 10.213.200 4.701.958 5.511.242
67 Selain penerimaan, biaya usahatani juga akan mempengaruhi kontribusi air irigasi terhadap total pendapatan usahatani. Seperti yang sudah dijelaskan dalan analisis pendapatan usahatani, biaya usahatani padi merupakan pengeluaran yang harus dibayar untuk memenuhi kebutuhan produksi usahatani. Namun, didalam biaya produksi dalam water value, biaya pengairan tidak dimasukkan sehingga diperoleh rata-rata biaya produksi seperti yang disajikan pada Tabel 13. Secara keseluruhan, rata-rata dari biaya produksi menurut luas lahan riil yang dikeluarkan setiap petani adalah Rp 2.350.979/luas lahan/tahun. Biaya produksi ini tidak merata berkisar antara Rp 451.340 hingga Rp 8.976.500, sedangkan rata-rata total biaya per hektar mencapai Rp 4.701.958. Rata-rata biaya produksi untuk usahatani tersebut cenderung berbeda pada setiap tingkat luas lahan garapan. Kondisi ini terjadi karena dengan luas lahan yang berbeda petani di Desa Ngemplak memberikan porsi yang berbeda untuk biaya sarana produksi, seperti benih, pupuk, dan obat-obatan disesuaikan dengan keadaan. Setelah diperoleh besarnya penerimaan dan biaya produksi usahatani menurut luas lahan riil dan per hektar, maka pada table 13 dapat dilihat besarnya water value terhadap pendapatan usahatani menurut lahan riil dan per hektar di setiap tingkat luas lahan garapan. Diatas ditunjukkan bahwa water value petani responden di Desa Ngemplak sebesar Rp 2.755.621/luas lahan/tahun, sedangkan nilai water value per hektar sebesar Rp 5.511.242/tahun. Hal ini berarti rata-rata water value pada usahatani padi akan cenderung meningkat dengan semakin meningkatnya rata-rata luas lahan petani. Besarnya nilai water value tersebut bersifat objektif jika diterapkan pada penentuan iuran pengelolaan irigasi karena
68 water value bernilai positif dan petani layak untuk dikenakan iuran pengelolaan irigasi pada saat musim tanam padi. Secara keseluruhan nilai water value tidak dipakai semua sebagai biaya pengairan yang seharusnya dibayar petani, nilai tersebut juga menunjukkan kontribusi air irigasi terhadap hasil produksi pertanian. Oleh karena itu, nilai ratarata water value pada setiap luas lahan tersebut akan dibandingkan dengan nilai WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi, agar iuran yang ditetapkan tidak memberatkan petani.
BAB VII KESEDIAAN DAN KEMAUAN PETANI MEMBAYAR IURAN PENGELOLAAN IRIGASI 7.1 Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi Kesediaan petani diambil berdasarkan respon dalam bentuk pilihan petani terhadap iuran pengelolaan irigasi yaitu untuk petani yang bersedia membayar iuran dan untuk petani yang tidak membayar iuran. Berdasarkan 45 responden terdapat 35 orang yang menyatakan bersedia membayar iuran karena jaringan irigasi yang ada dapat berfungsi dengan baik dengan adanya iuran untuk kebutuhan O&P dan 10 orang menyatakan tidak bersedia untuk membayar iuran dengan beberapa alasan diantaranya karena air merupakan barang bebas sehingga tidak perlu membayar, pelayanan yang diterima kurang baik, ketidakpercayaan mereka terhadap pengurus P3A serta petani lebih menyukai langsung meminta air langsung kepada pengurus waduk untuk mengalirkan air ke sawah mereka. Untuk variabel penjelas terdiri dari dua variabel kontinyu dan empat variabel dummy dengan nilai rata-rata dan standar deviasi seperti pada Tabel 14. Tabel 14. Hasil Perhitungan Statistik Variabel Kontinyu Analisis Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi Variabel Nilai Ratarata Std. Deviasi Petani yang Bersedia Membayar Iuran: Umur (tahun) Tingkat Pendidikan 51,4 5,1 9,5 2,9 Petani yang Tidak Bersedia Membayar Iuran: Umur (tahun) Tingkat Pendidikan 54,4 6,4 8,3 2,4
70 Berdasarkan Tabel di atas rata-rata umur petani responden yang bersedia membayar iuran adalah 51,4 tahun dengan umur terendah 28 tahun dan umur tertinggi 70 tahun, sedangkan untuk petani yang tidak bersedia membayar iuran adalah 54,4 tahun dengan umur terendah 40 tahun dan umur tertinggi 68 tahun. Untuk variabel tingkat pendidikan berkisar dari tingkat tidak tamat SD sampai dengan tamat SLTA. Rata-rata responden dalam menempuh pendidikan formal yaitu selama 5,1 tahun untuk petani responden yang bersedia membayar iuran dan 6,4 tahun untuk petani yang tidak bersedia membayar iuran, hal ini berarti sebagian besar petani responden tidak tamat SD. Mengenai deskripsi variabel penjelas yang bersifat dummy yaitu pengetahuan petani terhadap iuran irigasi (1 : tahu dan 0 : tidak tahu), tingkat pelayanan irigasi (1 : baik dan 0 : tidak baik), peranserta petani dalam operasi dan pemeliharaan irigasi (1 : aktif dan 0 : tidak aktif), serta kepercayaan petani terhadap P3A (1 : percaya dan 0 : tidak percaya) dijelaskan sebagai berikut : 1. Pengetahuan Iuran Irigasi Pada umumnya petani responden telah mengetahui informasi iuran irigasi yang meliputi tujuan diterapkannya iuran pengelolaan irigasi pada setiap musim tanam padi dan bagaimana alokasi dana yang telah terkumpul. Namun, ada sebagian kecil yang tidak mengetahui, mereka langsung membayar tanpa mengetahui prosesnya. Informasi iuran tersebut biasanya disampaikan sebelum awal musim tanam dan besarnya berdasarkan kesepakatan. Pada Tabel 15 terlihat bahwa dari total responden, 40 orang (89 persen) mengetahui tentang informasi iuran pengelolaan irigasi dan hanya lima orang (11 persen) yang tidak mengetahuinya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
71 informasi iuran irigasi yang telah sampai kepada petani sedapat mungkin dapat menghindari kesalahpahaman dari petani mengenai iuran irigasi, sehingga diharapkan tidak muncul kecurigaan dan keraguan. Petani akan paham mengenai tentang iuran irigasi pada saat akan diminta untuk membayar iuran. Tabel 15. Deskripsi Variabel Penjelas yang Bersifat Dummy dalam Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi No. Variabel Penjelas 1. Pengetahuan Iuran Irigasi Tidak Tahu Tahu 2. Tingkat Pelayanan Tidak Baik Baik 3. Peranserta dalam O&P Tidak Aktif Aktif 4. Kepercayaan Terhadap P3A Tidak Percaya Percaya Respon terhadap Iuran Irigasi Bersedia Tidak Bersedia 5 30 8 27 5 30 9 26 0 10 1 9 4 6 1 9 Jumlah (orang) 5 40 9 36 9 36 10 35 Persentase (%) 11 89 20 80 20 80 22 78 2. Tingkat Pelayanan Pelayanan sering dijadikan masalah apabila kondisinya tidak adil. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa petani, dijelaskan bahwa terdapat sekelompok petani yang tidak mendapatkan air sehingga muncul konflik di antara mereka yang menyebabkan kecurangan dalam pengambilan air oleh petani. Oleh karena itu, pihak P3A mencoba bersikap tegas dalam pengelolaan distribusi air irigasi. Dalam penelitian ini tidak semua responden menyatakan baik terhadap tingkat pelayanan irigasi yang telah diterimanya. Indikator dari tingkat pelayanan
72 irigasi yang baik adalah apabila kebutuhan tanaman padi yang digarap oleh masing-masing petani telah mendapatkan air sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan dan waktu yang tepat, serta adanya pemeliharaan terhadap saluransaluran irigasi. Berdasarkan Tabel 15 terlihat bahwa terdapat 9 petani responden (20 persen) menyatakan pelayanan saat ini tidak baik, dimana masih banyak saluran tersier atau kuarter yang belum permanen, sehingga kualitas bangunan yang rendah menyebabkan aliran air tidak lancar serta tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kondisi lain yang dirasakan terhadap pelayanan irigasi adalah apabila terjadi banjir maka tanggul-tanggul menjadi rusak sehingga dapat menggenai seluruh wilayah persawahan. Selain itu, distribusi air yang tidak merata ke lahan sawah petani, sehingga menyebabkan produktivitas padi menurun. 3. Peranserta dalam O&P Peranserta petani yang aktif ditunjukkan dengan adanya keikutsertaan petani dalam pertemuan/rapat yang diadakan oleh P3A sebanyak minimal satu bulan sekali, rutin mengikuti gotong-royong dalam pemeliharaan saluran air dan ikurserta dalam pembayaran iuran. Pertemuan P3A biasanya diselenggarakan sebanyak satu kali dalam seminggu. Untuk kegiatan gotong-royong membersihkan saluran irigasi di sawah dilakukan apabila terjadi kerusakan. Berdasarkan Tabel 15 terlihat bahwa 9 petani responden (20 persen) menyatakan tidak aktif dalam pelaksanaan O&P rigasi. Hal ini dikarenakan petani tersebut mempunyai pekerjaan diluar usahatani yang sering membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan P3A secara rutin. Selain itu,
73 ada juga karena faktor usia sehingga tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan gotong-royong. 4. Kepercayaan terhadap P3A Kepercayaan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Secara logika, bila petani sudah tidak percaya terhadap pengelolaan irigasi yang dilakukan oleh pengurus P3A, maka mereka cenderung tidak mau membayar iuran irigasi. Tingkat kepercayaan dalam penelitian ini didasarkan pada kinerja anggota P3A dalam memberikan pelayanan irigasi. Dengan pertanyaan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila petani tidak mendapatkan pelayanan yang baik, maka petani akan enggan untuk membayar. Pada Tabel 15 terlihat bahwa 10 petani responden (22 persen) tidak percaya terhadap pengelolaan irigasi yang dilakukan oleh P3A. Beberapa alasan yang melatarbelakangi petani tidak percaya terhadap P3A adalah adanya ketidakpuasan petani terhadap pembagian air, kerusakan bangunan yang tidak segera diperbaiki, dan tidak ada keterbukaan terhadap penggunaan dana iuran irigasi kepada anggota. Kondisi demikian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi P3A untuk meningkatkan pelayanan irigasi. 7.2 Hasil Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar Iuran Pengelolaan Irigasi Untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel penjelas terhadap peluang petani tentang kesediaan membayar iuran pengelolaan irigasi dalam model penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis Logistic Regression Model atau fungsi logit. Analisis tersebut menggunakan enam variabel yang menerangkan diperoleh hasil bahwa ternyata ada empat variabel berpengaruh
74 nyata terhadap kesediaan petani membayar iuran dengan taraf nyata (α) 10 persen. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 16. Tabel 16. Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani membayar Iuran Pengelolaan Irigasi No. Parameter Koefisien P-Value Odds Ratio 1. Konstanta 8,66345 0,090-2. Umur (tahun) -0.0975844 0,177 0,91 3. Tingkat Pendidikan (tahun) -0,478116 0,044* 0,62 4. Pengetahuan Iuran Irigasi Tahu -1,83654 0,308 0,16 5. Tingkat Pelayanan Irigasi Baik 3,01058 0,028* 20,30 6. Peranserta dalam O&P Aktif 2,48954 0,035* 12,06 7. Kepercayaan terhadap P3A Percaya -2,01462 0,196 0,13 Log-Likelihood = -14,663 Test that all slopes are zero: G = 18,347; DF = 6; P-Value = 0,005 Goodness-of-Fit Tests Method Chi-Square DF P Pearson 30,6109 32 0,537 Deviance 26,5538 32 0,739 Hosmer-Lemeshow 10,8864 8 0,208 Ket : * = taraf nyata (α) 10 persen Berdasarkan hasil log-likelihood sebesar -14,663 menghasilkan statistik G sebesar 18,347 dengan nilai P sebesar 0,005 yang berarti secara serentak variabel penjelas yang dimasukkan ke dalam model berpengaruh nyata terhadap peluang petani bersedia atau tidak membayar iuran pelayanan irigasi. Selain itu, dengan melihat pada statistik Pearson, Deviance, Hosmer-Lemeshow sebesar 0,537; 0,739; dan 0,208 dimana nilai P tersebut lebih besar dari α = 10 persen, maka model regresi yang dihasilkan cukup layak.
75 Variabel tingkat pendidikan berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah negatif yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin kecil kesadaran petani untuk membayar iuran. Nilai odds ratio tingkat pendidikan petani sebesar 0,62 artinya petani yang mempunyai tingkat pendidikan lebih rendah cenderung untuk bersedia membayar iuran irigasi dibandingkan petani yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi. Dengan kata lain, pada kondisi variabel konstan, petani yang mempunyai pendidikan lebih rendah akan memiliki peluang sebesar 0,62 kali dalam membayar iuran irigasi dari petani yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena sebagian besar petani responden mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, sehingga mereka cenderung untuk setuju dengan iuran irigasi yang telah ditetapkan. Variabel tingkat pelayanan irigasi berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah positif yang berarti bahwa adanya tingkat pelayanan irigasi yang baik maka petani cenderung bersedia untuk membayar iuran. Berkaitan dengan masalah tingkat pelayanan irigasi tidak hanya menyangkut tentang pembagian air yang merata dan tepat waktu tetapi juga fungsi dari jaringan irigasi yang ada. Responden mengganggap pelayanan irigasi yang diterimanya tidak baik apabila telah membayar iuran irigasi tetapi jaringan irigasi yang ada kurang berfungsi dan alokasi air yang tidak tepat waktu. Jika dilihat dari koefisien dari variabel pelayanan sebesar 3,01 dan nilai odds ratio tingkat pelayanan petani sebesar 20,30 artinya petani yang mendapatkan pelayanan irigasi yang baik mempunyai kecenderungan bersedia untuk membayar iuran irigasi secara lunas dibandingkan dengan petani yang pelayanan irigasinya tidak baik. Dengan kata lain, pada kondisi variabel konstan,
76 petani yang mendapatkan pelayanan irigasi yang baik memiliki peluang sebesar 20,30 kali dalam membayar iuran irigasi dari petani yang mendapatkan pelayanan tidak baik. Nilai odds ratio tersebut adalah sangat besar apabila dibandingkan dengan variabel lainnya yang berpengaruh. Sesuai dengan masalah yang telah dikemukakan bahwa tingkat pelayanan irigasi memegang peranan yang penting dalam faktor irigasi, sehingga hasil ini memperkuat bahwa tingkat pelayanan irigasi perlu mendapat perhatian yang lebih besar dengan disertai peningkatan kualitas jaringan. Variabel peranserta petani dalam kegiatan O&P irigasi berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah positif yang berarti keaktifan petani dalam mengikuti pertemuan/rapat yang diadakan oleh P3A dan kegiatan O&P irigasi sehingga mendorong petani untuk bersedia membayar iuran. Berdasarkan nilai koefisien sebesar 2,49 dan nilai odds ratio peranserta petani sebesar 12,06 artinya petani yang aktif dalam mengikuti O&P irigasi memiliki peluang untuk membayar iuran irigasi sebesar 12,06 kali dari petani yang tidak aktif. Besarnya nilai tersebut mengindikasikan bahwa pengalaman petani dalam mengikuti kegiatan gotongroyong membersihkan dan memperbaiki saluran akan berdampak pada pengetahuan dan pemikiran mereka bahwa pemeliharaan jaringan irigasi sangat penting untuk diperhatikan dan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, peranserta mereka sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan petani untuk membayar iuran pengelolaan irigasi. Variabel umur tidak berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah negatif yang berarti semakin bertambahnya umur petani maka tidak mempengaruhi petani dalam kesediaannya membayar iuran. Berdasarkan logika
77 bahwa berapapun umur petani baik secara fisik seseorang berkurang kemampuannya dalam mengikuti gotong-royong atau kegiatan O&P irigasi maka petani akan cenderung akan membayar iuran sebagai ganti atas ketidakhadirannya dalam kegiatan O&P. Tetapi pada kenyataannya variabel tersebut tidak berpengaruh. Variabel lain yang tidak berpengaruh nyata adalah pengetahuan petani tentang iuran pengelolaan irigasi dan kepercayaan petani terhadap P3A. Fenomena yang menarik berkaitan tentang pengetahuan petani tentang iuran irigasi diharapkan petani mengetahui dan memahami tujuan dari diterapkannya iuran irigasi dan transparan terhadap alokasi dana yang telah terkumpul, sehingga akan mendorong untuk membayar iuran. Begitu pula dengan kepercayaan petani terhadap P3A diharapkan pengelolaan irigasi yang telah dilakukan oleh P3A dapat dipercaya petani sehingga dengan kesadaran petani bersedia dalam membayar iuran yang telah disepakati namun ternyata kedua variabel tersebut tidak berpengaruh. 7.3 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP 7.3.1 Karakteristik Responden Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi WTP petani digunakan sampel petani yang bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi sebanyak 35 orang seperti pada metode CVM. Karakteristik responden dapat dilihat dari umur dan tingkat pendidikan petani. Penyebaran karakteristik responden bersedia membayar iuran disajikan pada Tabel 17.
78 Tabel 17. Penyebaran Karakteristik Responden Bersedia Membayar Iuran Keterangan 1. Berdasarkan Umur: < 40 40 55 >55 Total Responden: 2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan: Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Responden: 3. Berdasarkan Pengalaman Berusahatani: 10 11 20 21 30 31 40 40 Total Responden: 2 22 11 35 16 15 1 3 35 14 5 5 5 6 35 Jumlah Responden (orang) Persentase (%) 5,7 62,9 31,4 100 45,7 42,8 2,9 8,6 100 40 14,29 14,29 14,28 17,14 100 Berdasarkan Tabel 17 dapat dilihat bahwa responden memiliki karakteristik yang sama dengan total responden yaitu sebagian besar termasuk ke dalam generasi tua, hal ini ditunjukkan oleh persentase terbesar yaitu 62,9 persen berumur 40-55 tahun dan 31,4 persen berumur lebih dari 55 tahun. Apabila jumlah responden tersebut dibandingkan total responden, maka dapat disimpulkan bahwa banyaknya petani yang tidak bersedia membayar iuran irigasi pada selang umur 40-55 tahun terdapat 6 orang dan berumur lebih dari 55 tahun terdapat 4 orang. Karakteristik responden dapat diketahui melalui tingkat pendidikan petani yang cenderung sama dengan karakteristik total responden yaitu sebagian besar berpendidikan rendah. Berdasarkan Tabel 17 terlihat bahwa petani yang tidak tamat SD sebanyak 16 orang atau 45,7 persen dari jumlah responden. Namun, jika
79 dihitung dari total petani responden yang tidak tamat SD yaitu 19 orang, maka ternyata sebanyak 84,2 persen menyatakan bersedia membayar iuran irigasi. Selain umur dan tingkat pendidikan, karakteristik responden dapat dilihat pada pengalaman berusahatani yang sama dengan total responden, dimana sebagian besar mempunyai pengalaman berusahatani kurang dari 10 tahun. Berdasarkan Tabel 17 terlihat bahwa petani yang mempunyai pengalaman usahatani kurang dari 10 tahun sebanyak 14 orang atau 40 persen, namun jika dihitung dari total petani yang berpengalaman usahatani yaitu 18 orang, maka ternyata 40 persen menyatakan bersedia membayar iuran irigasi. 7.3.2 Deskripsi Variabel Penelitian Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat WTP digunakan persamaan regresi dengan nilai tengah WTP dalam satu tahun sebagai variabel respon dengan sepuluh variabel penjelas yang terdiri dari enam variabel kontinyu dan empat variabel bersifat dummy. Perhitungan nilai tengah WTP diambil dari nilai tengah masing-masing kelas WTP dalam satu tahun yang dipilih oleh responden yang bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi. Nilai tersebut merupakan nilai yang akan digunakan untuk mendapatkan peningkatan pelayanan irigasi. Interval nilai WTP yang dipilih oleh responden adalah pada MT I dari Rp 2.500 dan tertinggi Rp 10.000 (dengan nilai tengah kelas WTP Rp 6.250), sedangkan pada MT II dari Rp 5.000 dan tertinggi Rp 20.000 (dengan nilai tengah kelas WTP Rp 12.500).
80 Tabel 18. Hasil Perhitungan Nilai Tengah WTP Uraian Minimum Maksimum Nilai Tengah WTP Musim Tanam I 2.500 10.000 6.250 Musim Tanam II 5.000 20.000 12.500 Hasil perhitungan statistik mengenai rata-rata, minimum dan maksimum dari variabel penjelas yang bersifat kontinyu adalah sebagai berikut : Tabel 19. Nilai Rata-rata Variabel Kontinyu Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP Variabel Rata-rata Minimum Maksimum Nilai Tengah WTP (Rp/kotak/tahun) 16.964 11.250 23.750 Umur (Tahun) 51,4 28 70 Tingkat Pendidikan (Tahun) 5,1 0 12 Pengalaman Berusahatani (Tahun) 24,1 1 60 Pendapatan (Rp/Tahun) 2.559.777 238.330 10.421.750 Tanggungan Keluarga (orang) 3,9 2 10 Luas Lahan Garapan (Ha) 0,5 0,07 2 Jumlah responden yang bersedia membayar 35 orang dari 45 responden Sumber: Data Primer Diolah Untuk variabel umur dan tingkat pendidikan telah dijelaskan pada bagian karakteristik responden sebelumnya, sedangkan untuk variabel pengalaman berusahatani menunjukkan rata-rata responden memiliki pengalaman dalam berusahatani selama 24,1 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa petani cenderung telah mandiri dalam berusahatani dan banyak pengalaman yang terjadi di sawah. Mengingat umur responden rata-rata 51,4 tahun, maka dapat diperhitungkan responden yang bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi rata-rata bisa mandiri dalam berusahatani mulai umur 28 tahun. Variabel pendapatan diduga dapat mempengaruhi petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi. Dalam satu tahun responden yang mau membayar
81 memiliki rata-rata pendapatan sebesar Rp 2.559.777 dengan rata-rata luas lahan yang digarap sebesar 0,5 hektar. Range pendapatan tersebut berkisar dari Rp 238.330 sampai dengan Rp 10.421.750 per tahun. Selain melihat seberapa besar pendapatan dan luas lahan garapan, perlu pula mengetahui tingkat tanggungan keluarga. Dalam penelitian ini, pengertian tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang belum bisa menenuhi kebutuhannya dan masih dibiayai oleh petani responden, termasuk petani itu sendiri. Rata-rata tanggungan keluarga responden yang bersedia membayar iuran sebanyak 3,9 orang. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa responden cenderung memiliki jumlah anggota keluarga yang tidak banyak, sehingga cenderung bersedia membayar iuran irigasi, apalagi terdapat 14 responden (40 persen) dari total responden memiliki sumber penghasilan lain. 7.3.3 Faktor-faktor yang Memepengaruhi WTP Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi Pada Tabel 20 menunjukkan hasil analisis fungsi WTP responden yang bersedia untuk membayar iuran pengelolaan irigasi dengan nilai tengah WTP responden dalam satu tahun sebagai variabel respon. Model yang dihasilkan dalam penelitian ini cukup baik. Hal ini ditunjukkan oleh R 2 yang diperoleh sebesar 47,4 persen yang berarti 47,4 persen keragaman WTP petani terhadap iuran irigasi dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel penjelas yang terdapat dalam model, sedangkan sisanya sebesar 52,6 persen diterangkan oleh faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Nilai F hitung sebesar 2,16 dengan nilai-p sebesar 0,059 menunjukkan bahwa variabel-
82 variabel penjelas dalam model secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap nilai WTP petani terhadap iuran pengelolaan irigasi pada α = 10 persen. Pada Tabel 20 terlihat bahwa dari sepuluh variabel penjelas dalam fungsi, empat variabel berpengaruh nyata terhadap besarnya WTP petani pada selang kepercayaan 95 persen dan 90 persen. Variabel umur berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah negatif yang berarti bahwa semakin tua umur petani maka petani cenderung memperkecil tingkat WTPnya. Artinya, jika umur petani bertambah satu satuan tahun, maka tingkat WTP berkurang sebesar Rp 456,7. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal. Tabel 20. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai WTP No. Parameter Koefisien P-Value VIF 1. Konstanta 82132 0,000 2. Umur (tahun) -456,7 0,088* 3,0 3. Tingkat Pendidikan (tahun) -1683,6 0,021* 2,1 4. Pengetahuan Iuran Irigasi -2647 0,539 1,1 5. Tingkat Pelayanan Irigasi 12862 0,169 7,4 6. Peranserta dalam O&P -2499 0,569 1,2 7. Kepercayaan terhadap P3A -3775 0,662 7,1 8. Pengalaman Berusahatani (tahun) -166,1 0,173 2,2 9. Pendapatan (Rp/tahun) -31,24 0,008* 2,0 10. Tanggungan Keluarga -378,9 0,666 1,3 11. Luas Lahan Garapan (kotak) 23335 0,007* 2,1 S = 8269,39 R-Sq = 47,4% R-Sq(adj) = 25,4% Analysis of Variance Source DF F P Regression 10 2,16 0,059 Residual Error 24 Total 34 Ket : * = taraf nyata (α) 10 persen Variabel tingkat pendidikan berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah negatif. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin rendah tingkat WTPnya, dimana setiap kenaikan satu satuan tingkat
83 pendidikan maka tingkat WTP petani turun sebesar Rp 1683,6. Ini terjadi karena petani yang mempunyai pendidikan lebih rendah cenderung untuk setuju dengan iuran irigasi yang telah ditetapkan. Hal ini berbeda dengan petani yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi, karena mereka akan mempunyai pola berpikir yang lebih baik dalam meningkatkan produksi padi sehingga mereka lebih mengetahui bagaimana cara mengatur air agar mencukupi kebutuhan tanaman dan jaringan yang ada harus berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan tanaman dan agar jaringan yang ada dapat berfungsi dengan baik maka petani yang mempunyai pendidikan lebih rendah membayar iuran pengelolaan irigasi untuk meningkatkan produksi dibandingkan petani yang mempunyai pendidikan tinggi. Variabel pendapatan berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah negatif, berarti semakin besar keuntungan yang diperoleh petani maka petani akan memperkecil tingkat WTPnya sebesar Rp 31,24. Ini terjadi karena petani yang mempunyai pendapatan lebih rendah lebih mempunyai kesadaran untuk membayar iuran pengelolaan irigasi untuk meningkatkan produksi dibandingkan petani yang mempunyai pendapatan tinggi. Variabel lain yang berpengaruh nyata adalah variabel luas lahan garapan berpengaruh nyata pada α = 10 persen dengan arah positif. Hal ini berarti semakin besar luas lahan petani maka petani cenderung memperbesar tingkat WTPnya. Artinya, jika luas lahan garapan petani meningkat satu satuan kotak, maka tingkat WTP meningkat sebesar Rp 23.335.
84 7.4 Nilai WTP Sampel yang digunakan untuk tujuan analisis kesediaan membayar (WTP) adalah responden yang memilih bersedia membayar iuran pengelolaan irigasi yaitu sebanyak 35 petani (77,78 persen) dari total responden 45 petani. Untuk menganalisis WTP dalam penelitian ini digunakan Contingent Valuation Method (CVM). Hasil pelaksanaan lima langkah CVM adalah sebagai berikut: 1. Membuat Hipotesis Pasar Berdasarkan pernyataan tentang kondisi jaringan irigasi saat ini serta dibandingkan dengan tingkat pelayanan bila dilakukan peningkatan kualitas jaringan irigasi oleh P3A Karunia Tani, maka responden memperoleh gambaran tentang situasi pasar hipotetik pelayanan irigasi. 2. Memperoleh Nilai Lelang (Bids) Berdasarkan pertanyaan dan interval harga yang ditawarkan dalam kuesioner, maka diperoleh pilihan responden terhadap tawaran nilai berupa sejumlah uang yang bersedia dibayarkan (WTP) petani terhadap iuran pengelolaan irigasi di atas iuran irigasi yang berlaku saat ini. Menurut hasil perhitungan statistik, diperoleh rata-rata nilai tengah WTP sampel per kotak lahan adalah Rp 6.179/kotak atau setara dengan Rp 44.136/hektar untuk MT I dan Rp 10.786/kotak atau setara dengan Rp 77.043/hektar untuk MT II. Nilai ini menjelaskan bahwa petani mampu membayar iuran maksimum sebesar Rp 6.179/kotak atau setara dengan Rp 44.136/hektar untuk MT I sedangkan MT II sebesar Rp 10.786/kotak atau setara dengan Rp 77.043/hektar, dimana pada musim tanam tersebut petani menanam padi dan
85 membutuhkan banyak air. Nilai-nilai tersebut berada di atas iuran pengelolaan irigasi yang berlaku saat ini. 3. Menghitung Rataan WTP Rataan WTP (EWTP) dihitung dengan rumus (3) berdasarkan data distribusi WTP sampel seperti pada Tabel 21. Tabel 21. Distribusi WTP Sampel di Atas Iuran Irigasi yang Berlaku Saat Ini No. Kelas WTP (Rp/kotak) Frekuensi (orang) Persentase (%) EWTP (Rp/kotak) Musim Tanam I 1. 2.500 4.999 4 11,43 286 2. 5.000 7.499 28 80 4.000 3. 7.500 10.000 3 8,57 643 Jumlah Sampel 35 100,0 4.929 Musim Tanam II 1. 5.000 9.999 13 37,14 1.857 2. 10.000 14.999 21 60 6.000 3. 15.000 20.000 1 2,86 429 Jumlah Sampel 35 100,0 8.286 Total Satu Tahun 13.215 Ket : EWTP = persentase x kelas bawah nilai WTP Satu kotak = 1.400 m 2 Berdasarkan Tabel 21, maka dapat diketahui bahwa persentase terbesar WTP responden berada pada kelas Rp 5.000 Rp 7.499 untuk per kotaknya pada MT I, sedangkan pada MT II berada pada kelas WTP Rp 10.000 Rp 14.999 per kotak. Berdasarkan hasil olahan Tabel 23, maka diperoleh dugaan rataan WTP (EWTP) sampel sebesar Rp 4.929/kotak atau Rp 35.207/hektar untuk musim tanam padi MT I (September-Januari), sedangkan Rp 8.286/kotak atau Rp 59.186/hektar untuk musim tanam padi MT II (Februari-Juni) sehingga total EWTP dalam satu tahun sebesar Rp 13.215/kotak/tahun atau Rp 94.393/hektar/tahun. Nilai tersebut ternyata berada di atas nilai iuran pengelolaan
86 irigasi yang diterapkan pada saat ini, dimana untuk MT I dan MT II dikenakan iuran sebesar Rp 50.000/orang/tahun. 4. Total WTP WTP agregat atau total WTP (TWTP) petani pemakai air untuk setiap hektar lahan sawah ditentukan dengan menggunakan rumus (4). Tabel 22. WTP Agregat (TWTP) Petani Pemakai Air No. Kelas WTP (Rp/kotak) Sampel (orang) Luas Lahan Petani Sampel a) (kotak) Luas Lahan Populasi b) (kotak) Jumlah c) (Rp/MT) Musim Tanam I 1. 2.500 4.999 4 6 10,8 40.500 2. 5.000 7.499 28 112,2 202,2 1.263.750 3. 7.500 10.000 3 11,5 20,7 181.125 Total MT I 35 129,7 233,7 1.485.375 Musim Tanam II 1. 5.000 9.999 13 48,9 88,1 660.750 2. 10.000 14.999 21 68,3 123,1 1.538.750 3. 15.000 20.000 1 12,5 22,5 393.750 Total MT II 35 129,7 233,7 2.593.250 Total Satu Tahun 4.078.625 Ket: a) Jumlah sampel dari petani pemakai air b) Jumlah luas lahan populasi petani pemakai air (P3A) Rumus: c) Luas lahan populasi x titik tengah WTP Berdasarkan Tabel 22 ditunjukkan bahwa hasil perhitungan WTP total populasi petani pemakai air dengan menggunakan rumus (4) sebesar Rp 1.485.375 pada MT I, dan Rp 2.593.250 pada MT II, sedangkan WTP total dalam satu tahun senilai Rp 4.078.625. Total WTP petani pemakai air di atas iuran irigasi yang berlaku saat ini atau surplus konsumen ini sebenarnya merupakan potensi pembiayaan yang masih dapat digali untuk peningkatan pelayanan irigasi.
87 5. Evaluasi Pelaksanaan CVM Menurut Whittington et al. (1993) dalam Arianti (1999) isu yang paling penting dalam CVM adalah apakah respon responden atas pertanyaanpertanyaan teknik survei CVM secara akurat menggambarkan preferensi yang sesungguhnya dari responden yang bersangkutan. Uji yang dapat dilakukan adalah Uji Keandalan (Reliability Test) atas penawaran-penawaran WTP yang ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R 2 ) dari model OLS (Ordinary Least Square) WTP. Nilai R 2 untuk data cross section dari survei WTP seringkali tidak tinggi sebagaimana yang diberikan model-model data cross section hasil penelitian dengan menggunakan metode selain CVM. Pelaksanaan CVM dianggap gagal apabila nilai R 2 hasil analisis kurang dari 15 persen (Hanley&Spash, 1993). Berdasarkan hasil analisis fungsi WTP diperoleh nilai R 2 sebesar 47,4 persen (Tabel 20). Nilai R 2 tersebut menunjukkan bahwa hasil pelaksanaan CVM dalam penelitian dapat diyakini kebenarannya atau keandalannya (reliable). 7.5 Perbandingan antara Nilai Iuran Pengelolaan Irigasi, WTP, dan Water Value Berdasarkan pembahasan pada bab lima, bahwa iuran pengelolaan irigasi pada saat ini yang diberlakukan di Desa Ngemplak sebesar Rp 50.000/orang/tahun. Iuran tersebut dikenakan berdasarkan musyawarah bersama, tetapi pada kenyataannya terjadi banyak ketimpangan karena baik petani yang mempunyai lahan yang luas maupun tidak akan membayar dalam jumlah yang sama. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan mengestimasi besarnya iuran pengelolaan irigasi dalam satuan per luas lahan (per kotak) melalui pendekatan
88 Willingness to Pay (WTP) petani agar penentuan besarnya iuran pengelolaan irigasi dapat ditetapkan sesuai dengan keinginan petani dengan asumsi adanya peningkatan pelayanan irigasi dan kondisi jaringan irigasi. Sebelum ditentukannya iuran pengelolaan irigasi melalui pendekatan WTP, penelitian ini membahas mengenai besarnya nilai kontribusi air irigasi (water value) pada usahatani padi yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Nilai ini dihitung untuk dibandingkan dengan besarnya iuran pengelolaan irigasi yang bersedia dibayar oleh petani pemakai air sehingga tidak memberatkan petani. Berdasarkan proses hasil perhitungan maka diperoleh water value pada usahatani padi di Desa Ngemplak sebesar Rp 5.511.242/hektar/tahun. Nilai tersebut menunjukkan besarnya kontribusi air irigasi untuk menghasilkan produk pertanian tetapi besarnya nilai tersebut tidak digunakan oleh petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi. Dalam menentukan besarnya iuran pengelolaan irigasi diestimasi dengan menggunakan pendekatan WTP. Berdasarkan proses hasil perhitungan diperoleh nilai WTP petani pada usahatani padi sebesar Rp 94.393/hektar/tahun. Berdasarkan hal diatas maka dapat di perbandingkan bahwa besarnya iuran air irigasi yang ditetapkan saat ini tidak seimbang dengan besarnya penguasaan lahan yang dimiliki oleh petani, dimana Rp 50.000/orang/tahun tidak adil bagi petani yang memiliki luas lahan kurang dari 1 hektar sama dengan petani yang mempunyai luas lahan lebih dari 1 hektar. Oleh karena itu, menurut penelitian ini penetapan iuran pengelolaan irigasi yang sesuai dengan keinginan petani dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan WTP sehingga petani tidak merasa
89 keberatan dan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan irigasi dan perbaikan kondisi jaringan irigasi yang ada.
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis dari hasil penelitian, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil analisis pendapatan usahatani padi menghasilkan penerimaan yang dihasilkan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan, hal ini menunjukkan bahwa usahatani padi menguntungkan karena pendapatan yang dihasilkan relatif tinggi. 2. Berdasarkan hasil analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi adalah faktor tingkat pendidikan, tingkat pelayanan irigasi, dan peranserta petani dalam operasi dan pemeliharaan (O&P), sedangkan variabel lainnya tidak berpengaruh nyata. 3. Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi WTP petani terhadap peningkatan pelayanan irigasi adalah umur, tingkat pendidikan petani, keuntungan bersih, dan luas lahan, sedangkan variabel lainnya tidak berpengaruh. 4. Nilai kontribusi air irigasi (water value) usahatani padi cenderung meningkat dengan semakin meningkatnya rata-rata luas lahan petani. Nilai kontribusi air irigasi tersebut menunjukkan bahwa kontribusi air irigasi dalam menghasilkan produk pertanian. Besarnya nilai water value tersebut bersifat objektif jika diterapkan pada penentuan iuran pengelolaan irigasi karena water value
91 bernilai positif dan petani layak untuk dikenakan iuran pengelolaan irigasi pada saat musim tanam padi. 5. Kesediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi untuk peningkatan pelayanan irigasi dilihat dari nilai dugaan rataan Willingness to Pay (WTP) di atas iuran irigasi yang berlaku saat ini yaitu sebesar Rp 94.393/hektar/tahun. Nilai tersebut ternyata berada di atas iuran pengelolaan irigasi yang diterapkan pada saat ini, dimana untuk MT I dan MT II dikenakan iuran sebesar Rp 50.000/orang/tahun. 8.2 Saran 1. Pemerintah Daerah atau instansi yang terkait sebaiknya segera memperbaiki jaringan irigasi yang sudah mulai rusak (tingkat primer dan sekunder) agar distribusi air irigasi tidak terhambat, sehingga petani tidak perlu menunda musim tanam dan distribusi air dapat merata serta tepat waktu. 2. P3A dapat menggunakan pendekatan Willingness To Pay (WTP) dalam menetapkan iuran pengelolaan irigasi agar iuran irigasi yang diberlakukan tidak memberatkan petani dalam pembayaran sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan O&P. 3. Faktor yang perlu mendapat perhatian yang besar agar petani bersedia membayar iuran irigasi yaitu tingkat pelayanan irigasi. Hal ini dikarenakan peluang faktor tingkat pelayanan irigasi lebih besar dibandingkan dengan faktor lainnya. Besarnya peluang tersebut adalah 20,30 kali artinya petani akan mempunyai peluang 20,30 kali lebih besar dalam membayar iuran irigasi apabila pelayanan irigasi yang mereka terima baik.
DAFTAR PUSTAKA Aji. E. R. 2005. Analisis Willingness to Pay Petani terhadap Peningkatan Pelayanan Irigasi. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ambler, J. S. (Ed). 1992. Irigasi di Indonesia: Dinamika Kelembagaan Petani. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Jakarta. Andriyani. 2002. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan Petani DAlam Membayar IPAIR. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Anonim. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumberdaya Air. Penerbit Citra Umbara. Bandung. Arianti, N. N. 1999. Analisis Pilihan Sumber Air Bersih dan Kesediaan Membayar bagi Perbaikan Kualitas dan Kuantitas Air PDAM di Kodya Bengkulu. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ayu, E. R. 2004. Willingness to pay Masyarakat terhadap Perbaikan Ekosistem Hutan Mangrove melalui Pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) dengan Analisis Regresi Logit (Studi Kasus: Hutan Mangrove di Muara Angke, Jakarta Utara). Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Badan Pusat Statistik 2005. Kudus dalam Angka Tahun 2005. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus. Kudus. --------------------------- 2006. Kudus dalam Angka Tahun2006. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus. Kudus. ---------------------------- 2006. Jawa Tengah dalam Angka Tahun 2006. Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. Jawa Tengah. Fauzi, Akhmad. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Teori dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
93 Febrianti, T. 2000. Analisis Sistem Pengelolaan Irigasi, Keragaan Usahatani dan Efisiensi Pemberian Air Irigasi Pada Blok Tersier Jaringan Irigasi Teknis. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikatif. Bumi Aksara. Jakarta. Firdaus, M. dan F. M. Afendi. 2005. Modul Pelatihan Analisis Kuantitatif untuk Bidang Manajemen. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Gandakoesoemah, R. 1975. Irigasi. Penerbit Sumur Bandung. Bandung. Gujarati, D. 1978. Ekonometrika Dasar. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hanley, N. and C.L Spash. 1993. Cost Benefit Analysis and The Environment. Departement of Economics University of Stirling Scotland. Hosmer, D.W. and S. Lemeshow L. 1989. Applied Logistic Regression. John Wiley And Sons Inc. New York. Kartasapoetra, A. G. dan Sutedjo, M. 1994. Teknologi Pengairan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta. Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Nuraini, T. 2007. Analisis Keunggulan Komparatif Dan Kompetitif Usahatani Bawang Putih Di Desa Kalikuning Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nuryartono, N. 1998. Keragaan Sistem Irigasi dan Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Petani Membayar IPAIR (Kasus Wilayah Tarum Timur Kabupaten Subang). Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pusposutardjo, S. 2001. Pengembangan Irigasi, Usahatani Berkelanjutan dan Gerakan Hemat Air. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Pasandaran, E. (Ed). 1991. Irigasi di Indonesia: Strategi dan Pengembangan. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Jakarta.
94 Pasandaran, E. dan Taylor, D. C. 1988. Irigasi Perencanaan dan Pengelolaan. Penerbit PT Gramedia. Jakarta. Jilid 1. Qomariah, S. 2004. Analisis Willingness to Pay dan Willingness to Accept Masyarakat terhadap Pengelolaan Sampah (Studi Kasus: TPA Galuga, Cibungbulang, Bogor). Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Siwi, A. A. N. 2006. Penentuan Tarif Air Irigasi Sebagai Upaya Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Pada Usahatani Padi Sawah. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Soekartawi, dan Soeharjo, John L. Dillon, J. Brian Hardaker. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. UI Press. Jakarta. Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi. CV Rajawali Pers. Jakarta. Wahyuni, E. S. 2004. Pedoman Teknis Menulis Skripsi. Departemean Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Young, Robert A. 1996. Measuring Economic Benefits for Water Investments and Polices. World Bank Technical Paper No. 338.
96 Lampiran 1 HASIL ANALISIS KESEDIAAN PETANI TERHADAP IURAN PENGELOLAAN IRIGASI Link Function: Logit Response Information Variable Value Count Y 1 35 (Event) 0 10 Total 45 Logistic Regression Table Odds 95% CI Predictor Coef SE Coef Z P Ratio Lower Upper Constant 8,62917 5,09574 1,69 0,090 U -0,0966775 0,0718771-1,35 0,179 0,91 0,79 1,05 TP -0,475040 0,236090-2,01 0,044 0,62 0,39 0,99 PTPI 1-1,84734 1,79516-1,03 0,303 0,16 0,00 5,32 PLYN 1 3,00449 1,36462 2,20 0,028 20,18 1,39 292,70 PRST 1 2,46809 1,17450 2,10 0,036 11,80 1,18 117,93 KPCY 1-2,04105 1,54126-1,32 0,185 0,13 0,01 2,66 Log-Likelihood = -14,598 Test that all slopes are zero: G = 18,477, DF = 6, P-Value = 0,005 Goodness-of-Fit Tests Method Chi-Square DF P Pearson 30,1262 33 0,611 Deviance 26,4235 33 0,784 Hosmer-Lemeshow 10,5939 8 0,226 Table of Observed and Expected Frequencies: (See Hosmer-Lemeshow Test for the Pearson Chi-Square Statistic) Group Value 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total 1 Obs 1 1 4 4 2 6 4 4 4 5 35 Exp 0,5 2,0 2,7 4,3 3,6 5,5 3,7 3,8 3,9 5,0 0 Obs 3 4 0 1 2 0 0 0 0 0 10 Exp 3,5 3,0 1,3 0,7 0,4 0,5 0,3 0,2 0,1 0,0 Total 4 5 4 5 4 6 4 4 4 5 45 Measures of Association: (Between the Response Variable and Predicted Probabilities) Pairs Number Percent Summary Measures Concordant 317 90,6 Somers' D 0,81 Discordant 32 9,1 Goodman-Kruskal Gamma 0,82 Ties 1 0,3 Kendall's Tau-a 0,29 Total 350 100,0
97 Lampiran 2 HASIL ANALISIS WTP PETANI Regression Analysis: WTP versus U; TP;... The regression equation is WTP = 82132-457 U - 1684 TP - 2647 PTPI + 12862 PLYN - 2499 PRST 3775 KPCY - 166 PGLM + 23335 LUAS - 31,2 PDPTN - 379 TTK Predictor Coef SE Coef T P VIF Constant 82132 15084 5,45 0,000 U -456,7 257,0-1,78 0,088 3,0 TP -1683,6 682,6-2,47 0,021 2,1 PTPI -2647 4244-0,62 0,539 1,1 PLYN 12862 9069 1,42 0,169 7,4 PRST -2499 4332-0,58 0,569 1,2 KPCY -3775 8531-0,44 0,662 7,1 PGLM -166,1 118,2-1,41 0,173 2,2 LUAS 23335 7884 2,96 0,007 2,1 PDPTN -31,24 10,70-2,92 0,008 2,0 TTK -378,9 867,5-0,44 0,666 1,3 S = 8269,39 R-Sq = 47,4% R-Sq(adj) = 25,4% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 10 1477384261 147738426 2,16 0,059 Residual Error 24 1641187167 68382799 Total 34 3118571429 Source DF Seq SS U 1 90551709 TP 1 136870371 PTPI 1 34927828 PLYN 1 391936968 PRST 1 6351192 KPCY 1 22895125 PGLM 1 151436731 LUAS 1 27344630 KB 1 602025051 TTK 1 13044657 Unusual Observations Obs U WTP Fit SE Fit Residual St Resid 1 45,0 42500 59865 2654-17365 -2,22R 9 65,0 72500 57044 6390 15456 2,94R 31 50,0 57500 57500 8269 0 * X R denotes an observation with a large standardized residual. X denotes an observation whose X value gives it large influence. Durbin-Watson statistic = 2,27384