BAB VII ANALISIS LEVERAGE

dokumen-dokumen yang mirip
Analisa Leverage. Hand Out Manajemen Keuangan I Disusun oleh Nila Firdausi Nuzula Digunakan untuk melengkapi buku wajib

ANALISIS LEVERAGE NURAENI, M.AB

Mata Kuliah Keuangan Bisnis I. Analisis Leverage. Nur Imamah. Department of Business Administration

Struktur Modal (Capital Structure)

Bab 10 Analisa Financial Leverage dan Operating Leverage

Efek dari berbagai perimbangan pembelanjaan terhadap EPS.

ANALISA BREAK EVEN POINT

Masalah Finansial Leverage

Penggunaan Leverage: Struktur Keuangan dan Struktur Modal 1 BAB 6 PENGGUNAAN LEVERAGE : STRUKTUR KEUANGAN DAN STRUKTUR MODAL

Operating leverage: hubungan sales revenue dengan EBIT

ANALISIS LEVERAGE DAN BEP

PT. XYZ LAPORAN RUGI LABA PER 31 DESEMBER

Analisis Leverage (Bab 9) ANALISIS LEVERAGE

ANALISIS LEVERAGE PADA PERUSAHAAN ROKOK PT. GUDANG GARAM Tbk PERIODE SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. melakukan kebijakan financial coorporate. Dalam kebijakan ini perusahaan. modal pinjaman atau kombinasi di antaranya.

MANFAAT LEVERAGE BAGI PERUSAHAAN. Ana Mufidah 1. Abstrak

KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL

ANALISA FINANCIAL LEVERAGE DAN OPERASIONAL LEVERAGE

ANALISIS LEVERAGE ROSANNA WULANDARI, SE,MM ANALISIS LEVERAGE. Pengertian dan pentingnya leverage

KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN (BAB 16 LEVERAGE OPERASIONAL DAN LEVERAGE KEUANGAN)

Leverage dapat diartikan penggunaan sumber dana oleh

LEVERAGE AND CAPITAL STRUCTURE

ANALISIS LEVERAGE LATAR BELAKANG II. RUMUSAN MASALAH III. PEMBAHASAN A. Leverage Operasi

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya pasti membutuhkan dana

Analisis dan Dampak Leverage

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Maharani Ritonga, Kertahadi dan Sri Mangesti Rahayu (2014)

BAB I PENDAHULUAN. imbalan dari investasinya tersebut. Investasi yang akan dilakukan oleh investor

(Manajemen Keuangan)

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. keuangan, diperlukan kemampuan untuk membaca, menganalisa, dan menafsirkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN. peralatan lainnya yan mempunyai masa manfaat jangka panjang atau lebih dari satu

Struktur Pemodalan Yang Baik Bagi Perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Profit dalam kegiatan operasional perusahaan merupakan elemen penting

LOGO ANALISIS LEVERAGE PERTEMUAN 8 MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN ANDRI HELMI M, S.E., M.M.

BAB II URAIAN TEORITIS. Manutu (2004) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Financial

BAB II LANDASAN TEORI

BIAYA MODAL (COST OF CAPITAL)

Manajemen Keuangan. Struktur Modal Perusahaan. Basharat Ahmad, SE, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen

Saskia Febriani EA01

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nilai perusahaan. Menurut IAI dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. aktiva, baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. dipakai oleh perusahaan-perusahaan di negara lain.

Sudarmono Program Studi Manajemen STIE Widya Dharma Pontianak

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

PENGARUH FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP RETURN ON EQUITY DAN EARNING PER SHARE PADA PT PAKUWON JATI, Tbk. DAN ENTITAS ANAK

Analisa Laporan keuangan

BAB I PENDAHULUAN. mencari keuntungan sebesar-besarnya demi menyejahterakan karyawan dan

BAB I PENDAHULUAN. Bursa Efek Indonesia merupakan Self Regulatory Organization (SRO)

Analisis Laporan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. memahami faktor-faktor yang mempengaruhi risiko dan return yang mungkin timbul.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempengaruhinya adalah kebijakan penentuan kombinasi atau bauran (mix) atas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ang (1997: 24), Price earning ratio merupakan perbandingan antara harga

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. biasanya mereka akan mendasarkan keputusannya pada beberapa informasi yang

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

ANALISIS RASIO KEUANGAN

Analisis Laporan Keuangan

PENGARUH FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP EARNING PER SHARE PADA PT BUMI SERPONG DAMAI, Tbk DAN ENTITAS ANAK

BAB I PENDAHULUAN. yaitu perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ), dan koperasi. Agar

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pasar modal Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dari periode ke

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN KEUANGAN DEPRESIASI

daya yang dimiliki perusahaan sehingga perusahaan memilki motivasi untuk sangat penting, karena modal sangat dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Lingkungan dunia usaha saat ini ditandai oleh perkembangan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. pasang surut. Untuk dapat bertahan terhadap pesaing-pesaing, maka setiap

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaannya memerlukan

Teori Struktur Modal 1 BAB 8. TeorTETTTETR TEORI STRUKTUR MODAL TEORI STRUKTUR MODAL

ANALISIS PENERAPAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP PENINGKATAN EARNING PER SHARE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Rasio Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. Menurut Harjito dan Martono (2011:4) menyatakan:

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana yang sangat efektif untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tetap (fixed cost assets or funds) untuk memperbesar tingkat penghasilan (return) bagi

BAB I PENDAHULUAN. nilai investasi di masa yang akan datang. (Jones, 2004). Tujuan kegiatan investasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Dengan perkembangan ekonomi yang mulai tumbuh dan teknologi yang pesat

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Dalam kenyataannya ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan

Transkripsi:

BAB VII ANALISIS LEVERAGE A. Tujuan Kompetensi Khusus Setelah mengikuti perkuliahan, diharapkan mahasiswa mampu: Memahami Degree of Operational Leverage (DOL) Memahami Degree of Financial Leverage (DFL) Memahami Degree of Total Leverage (DTL) B. Tugas Latihan Mahasiswa menyelesaikan soal-soal yang terdapat di akhir bab. 45

BAB VII ANALISIS LEVERAGE Alasan utama perlunya melakukan analisa leverage adalah karena adanya biaya tetap, baik biaya tetap operasional maupun finansial. Dengan demikian analisa leverage juga dikategorikan dalam analisa leverage operasional dan analisa leverage finansial. A. Degree of Operational Leverage (DOL) Operational leverage menganalisa penggunaan biaya tetap operasional, yaitu setiap biaya tetap yang terkait dengan kegiatan produksi. Pengertian leverage operational terkait dengan harapan akan diperolehnya kenaikan EBIT yang cukup besar dengan adanya sedikit kenaikan sales. Misalnya berikut adalah kondisi yang diharapkan oleh PT ADZIRAH (kolom II Tabel 1). Tabel 1. Kondisi I Kondisi II Kondisi III Sales (unit) 500 1.000 1.500 Price/unit $2 $2 $2 Sales ($) $1.000 $2.000 $3.000 TVC $500 $1.000 $1.500 CM $500 $1.000 $1.500 FC $500 $500 $500 EBIT 0 $500 $1.500 Dari gambaran di atas, diketahui terdapat kenaikan EBIT sebesar 100% dengan adanya kenaikan sales sebesar 50%. Jadi terdapat degree of operating leverage (DOL) sebesar : DOL %kenaikan EBIT %kenaikan Sales 100% 50% 2x Hal ini berarti bahwa dengan DOL sebesar 2 artinya jika sales naik 50% maka EBIT akan naik 2 x 50% yaitu sama dengan 100%. Dengan kata lain, besarnya kenaikan EBIT adalah $500(1+100%) = $1.000. DOL dapat pula diketahui dari rasio: DOL CM EBIT 1000 2x 500 46

Implikasinya, dengan menggunakan analisa operating leverage pada tahap perencanaan, perusahaan memperkirakan dapat memperbesar EBIT dari kenaikan volume sales meskipun price per unit diturunkan. Oleh karenanya, perusahaan dengan DOL tinggi dapat menerapkan kebijakan harga agresif. EFEK DARI KENAIKAN FC Kenaikan nilai FC mempengaruhi besarnya nilai DOL. Dibandingkan dengan kondisi saat FC belum naik (Tabel 1) DOL meningkat karena EBIT makin kecil karena porsi dari CM lebih banyak diserap untuk menutup FC. Dengan demikian, makin tinggi DOL bermakna sebagai peningkatan risiko operasional. Tabel 2. Kondisi I Kondisi II Kondisi III Sales (unit) 500 1.000 1.500 Price/unit $2 $2 $2 Sales ($) $1.000 $2.000 $3.000 TVC $500 $1.000 $1.500 CM $500 $1.000 $1.500 FC $750 $750 $750 EBIT ($250) $250 $750 CM 1000 Kondisi II pada Tabel II di atas menunjukkan nilai DOL 4x EBIT 250 Hal ini bermakna bahwa dengan DOL sebesar 4x maka kenaikan sales sebesar 50% dari kondisi II ke kondisi III akan diikuti dengan kenaikan EBIT sebesar 4x sehingga menjadi 4x50%=200%. Dengan demikian, besarnya EBIT pada kondisi III menjadi $500(1+200%)=$750. Bandingkan dengan kondisi pada saat FC belum mengalami kenaikan, yaitu DOL = 2 yang menunjukkan besarnya kenaikan EBIT yang hanya 2 kali besar semula. Ini berimplikasi bahwa dengan kenaikan FC, maka DOL makin besar (sehingga makin besar pula risiko akibat tidak tertutupinya FC), akan mengungkit kenaikan EBIT yang makin besar pula. B. Degree of Financial Leverage (DFL) Untuk mendanai kegiatan operasional dibutuhkan dana, sehingga perusahaan perlu menganalisa besarnya biaya tetap finansial berupa beban bunga atau interest dan Preferred Deviden. Hal inilah yang mendasari adanya leverage finansial, yaitu menganalisa sejauh mana diharapkan dapat terjadi kenaikan EPS sejalan dengan kenaikan EBIT mengingat 47

perusahaan mempunyai beban tetap finansial. Biaya tetap finansial ini sifatnya tidak berubah & harus dibayar berapapun tingkat EBIT yang dicapai perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan perlu menghitung Degree of Financial Leverage (DFL) untuk mengetahui sejauh mana dapat terjadi kenaikan EPS dari kenaikan EBIT. DFL DFL dapat diketahui juga dengan menggunakan rumus berikut. DFL %kenaikan EPS %kenaikan EBIT EBIT - I - EBIT Pref. Dev. (1- t) Berikut ini adalah gambaran perhitungan DFL dengan adanya beban tetap finansial yaitu berupa interest dan deviden untuk saham preferen. Untuk itu, perhitungan DFL, dalam konteks perencanaan finansial, bermakna upaya memperkirakan besarnya laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (Earning Available for Common Stockholder) setelah pembayaran atas bunga dan deviden untuk saham preferen. Tabel 3 Kondisi I Kondisi II Kondisi III Sales (unit) 500 1.000 1.500 Price/unit $2 $2 $2 Sales ($) $1.000 $2.000 $3.000 TVC $500 $1.000 $1.500 CM $500 $1.000 $1.500 FC $750 $750 $750 EBIT ($250) $250 $750 Interest $25 $25 $25 EBT ($275) $225 $725 Tax 20% $55 $45 $145 EAT ($330) $180 $580 Pref. Deviden $30 $30 $30 EAC ($360) $150 $550 Jlh saham 1.000 lbr EPS $0,15 $0,55 Untuk kondisi II pada Tabel 3 di atas, perhitungan DFL adalah berikut. 250 DFL 1,3333 30 250-25 - (1-0,2) Dengan DFL = 1,333 bermakna bahwa dengan kenaikan EBIT sebesar 200% akan diikuti oleh kenaikan EPS sebesar 200%x1,333 atau sebesar 2,666 kali, yaitu dari $0,15 pada 48

kondisi II menjadi $,55 pada kondisi III. Di satu sisi, penurunan EBIT mengakibatkan penurunan yang lebih besar (yaitu sebesar 2,66 kali) EPS. Jadi, semakin tinggi beban tetap finansial (finansial leverage) dapat memperbesar return (EPS), dan sebaliknya makin besar pula risikonya. Analisa DFL bermanfaat pula untuk memutuskan untuk memilih alternatif komposisi pendanaan (financing plan) yang paling menguntungkan. Perhatikan contoh berikut ini. Alternatif Pola Produksi I Alternatif Pola Produksi II Price /unit = Rp 5.000,00 Price /unit = Rp 5.000,00 VC /unit = Rp 2.000,00 VC /unit = Rp 3.000,00 FC = Rp 500.000.000,00 FC = Rp 450.000.000,00 Alternatif Pendanaan A Pendanaan menggunakan: Obligasi 6% senilai Rp 50.000.000,00 3.500 lbr saham preferen @ Rp 10.000,00 coupon rate Rp 250,00/lbr 15.000 lbr saham biasa @ Rp 1.000,00 Alternatif Pendanaan B Pendanaan menggunakan: Obligasi 7% senilai Rp 30.000.000,00 5.000 lbr saham preferen @ Rp 10.000,00 coupon rate Rp 400,00/lbr 20.000 lbr saham biasa @ Rp 1.000,00 Perhitungan : Pola Produksi I Sales 300.000 unit x Rp 5.000 = Rp 1.500.000.000,00 VC 300.000 unit x Rp 2.000 = 600.000.000,00 CM = 900.000.000,00 FC = 500.000.000,00 EBIT = 400.000.000,00 Pola Produksi II Sales 300.000 unit x Rp 5.000 = Rp 1.500.000.000,00 VC 300.000 unit x Rp 2.000 = 825.000.000,00 CM = 675.000.000,00 FC = 450.000.000,00 EBIT = 225.000.000,00 Dari perhitungan EBIT pada dua alternatif di atas, dan dengan tidak memperhatikan faktor biaya tetap finansial, lebih baik perusahaan memilih Alternatif I karena menghasilkan EBIT yang lebih besar. Perhitungan terhadap biaya tetap finansial masing-masing alternatif adalah: Pendanaan A: Bunga Obligasi = 50.000.000,00 x 6% = 3.000.000,00 Saham Preferen = 3.500 lbr x Rp 350 = 1.225.000,00 Total biaya tetap finansial = 4.225.000,00 49

Pendanaan B : Bunga Obligasi = 30.000.000,00 x 7% = 2.100.000,00 Saham Preferen = 5.000 lbr x Rp 400 = 2.000.000,00 Total biaya tetap finansial = 4.100.000,00 Perhitungan untuk memilih alternatif adalah : Pendanaan A Pendanaan B Pola Produksi I Pola Produksi II EBIT = Rp 400.000.000,00 EBIT = Rp 225.000.000,00 I = 3.000.000,00 I = 3.000.000,00 EBT = 397.000.000,00 EBT = 222.000.000,00 Tax = 158.000.000,00 Tax = 88.800.000,00 EAT = 238.000.000,00 EAT = 133.200.000,00 Dev.Pref = 1.225.000,00 Dev.Pref = 1.225.000,00 EAC = 236.957.000,00 EAC = 131.975.000,00 EPS = 15.798,33 EPS = 8.798,33 EBIT = 400.000.000,00 EBIT = 225.000.000,00 I = 2.100.000,00 I = 2.100.000,00 EBT = 397.000.000,00 EBT = 222.900.000,00 Tax = 159.160.000,00 Tax = 89.160.000,00 EAT = 238.740.000,00 EAT = 133.740.000,00 Dev.Pref = 2.000.000,00 Dev.Pref = 2.000.000,00 EAC = 236.740.000,00 EAC = 131.740.000,00 EPS = 11.873,00 EPS = 6.587,00 Perhitungan DFL terkait dengan pertimbangan risiko finansial, yaitu tingkat kemampuan perusahaan menutup biaya tetap finansial. Dengan meningkatnya finansial leverage, risiko finansial juga semakin besar karena kenaikan biaya tetap finansial tersebut akan memaksa perusahaan mencapai EBIT yang lebih besar pula. Jika tingkat EBIT lebih besar dari pada jumlah yang diperlukan untuk membayar kewajiban finansial tetap, maka keuntungan dari finansial leverage dapat dinikmati perusahaan. C. Degree of Total Leverage (DTL) Total leverage menggambarkan pengaruh gabungan antara operational dan financial leverage. Oleh karenanya, DTL dimaknai sebagai sejauh mana kemampuan perusahaan untuk mendapatkan kenaikan EPS dari kenaikan Sales, dari penggunaan seluruh biaya tetap baik operasional maupun financial. DTL %kenaikan EPS %kenaikan Sales DTL dapat diketahui juga dengan menggunakan rumus : 50

CM DTL Prev. Dev CM - FC operating - I - (1- t) Atau menggunakan rumus DTL = DOL x DFL, karena sebenarnya merupakan kombinasi antara Operating Leverage dan Financial Leverage. SOAL-SOAL LATIHAN: 1. Buktikan dengan kasus di atas, bahwa dengan DOL=2, maka jika sales naik 60%, maka akan terjadi kenaikan EBIT sebesar 120%. 2. Hitunglah jika dalam kondisi III dalam Tabel 1 di atas, price turun menjadi $1,9. Tunjukkan bahwa tetap terjadi kenaikan sales (dibandingkan dengan sales pada kondisi II) meskipun harga produk per unit diturunkan. 3. Dari kasus kondisi II dan III pada Tabel 2 di atas, berapakah Sales BEP operasional? Berapakah DOL pada kondisi Sales BEP? 51