HAYAT AL RAKHA

dokumen-dokumen yang mirip
STRUKTUR KURIKULUM SMK/MAK (GENERIK)

PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH

BAB V PEMBAHASAN. A. Pemberlakuan Sistem Kredit Semester (SKS) di SMA Negeri 3 Sidoarjo. Alokasi waktu yang diperlukan perminggu persatu satuan kredit

I. PENDAHULUAN. setiap jenis dan jenjang pendidikan. Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional

SOSIALISASI PANDUAN AKADEMIK PROGRAM STUDI AKUNTANSI FE - UST TAHUN AKADEMIK 2015/2016

II. TINJAUAN PUSTAKA

RINTISAN SEKOLAH KATEGORI MANDIRI (SMA) Oleh : H. Karso Lektor Kepala FPMIPA UPI

Halimatus Sa diyah Universitas Negeri Malang

BIDANG AKADEMIK. Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Koperasi. Tahun Disampaikan dalam Sosialisasi Pedoman Perilaku dan Sistem Perkuliahan

KTSP KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

BAB II SISTEM PENDIDIKAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS MODEL KONTINYU PADA PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

STANDARD OPERATING PROCEDURE PEMBIMBINGAN AKADEMIK

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Sosialisasi KTSP

SOSIALISASI AKADEMIK PRODI MANAJEMEN FE-UST

BAB II SISTEM PENDIDIKAN

BAB III ANALISIS KURIKULUM SMK

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE

Penyelenggaraan Pendidikan Berdasarkan. Sistem Kredit

Standar Kompetensi Lulusan Acuan Standar Lain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PERATURAN AKADEMIK STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB I KETENTUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam era informasi saat

SURAT KEPUTUSAN KEPALA SMK NEGERI 1 BLITAR Nomor : 420 / 631.a / / 2017

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

BAB III METODE PENELITIAN

Matriks Perubahan Pasal-Pasal dalam Permendikbud No. 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR MONITORING PELAKSANAAN PERKULIAHAAN DAN PRAKTIKUM

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang

STANDAR ISI PENDIDIKAN TINGGI BSNP

SISTEM BELAJAR DI PT SKS KRS LHS PA KURIKULUM PERKULIAHAN PRAKTIKUM / LABORATORIUM BEASISWA PUSTAKA

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SARJANA FARMASI & PROFESI APOTEKER

SOSIALISASI VISI-MISI & AKADEMIK PRODI MANAJEMEN FE-UST

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR: 01 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN AKADEMIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

RANCANGAN PERATURAN AKADEMIK FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA PERATURAN AKADEMIK BAB I KETENTUAN UMUM

KEPUTUSAN DEKAN FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA Nomor 1 Tahun 2006 Tentang ADENDUM PERATURAN AKADEMIK

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158 TAHUN 2014 TENTANG

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Sosialisasi KTSP

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PRAKTIKUM

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

OPERASIONAL PROSEDUR PERATIKUM

PERATURAN SEKOLAH TINGGI INFORMATIKA & KOMPUTER INDONESIA No. 283/ BAAK.31/ STIKI/ P/ VI/ tentang PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

BIDANG KURIKULUM ( Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) /

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara yang berkembang Indonesia sangat membutuhkan

KURIKULUM SMA NEGERI 1 KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKOHARJO SMA NEGERI 1 KARTASURA

4. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII 1. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA, Program IPS, Pro-

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN UMUM AKADEMIK

PROSEDUR SISTEM PENJAMINAN MUTU SOP PELAYANAN PEMBIMBING AKADEMIK

FIL PENGANTAR ILMU KOMPUTER. SISTEM AKADEMIK di FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii

STANDARD OPERATING PROCEDURE PERKULIAHAN

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PRAKTIKUM

Panduan Pembimbingan Akademik

Pengertian Dasar Sistem Kredit Semester a. Program Studi. b. Kurikulum. c. Sistem Kredit Semester. d. Semester. e. Satuan Kredit Semester

PROSEDUR PROSES PERKULIAHAN SPMI - UBD

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Sosialisasi KTSP

BAGIAN II GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKAN, DAN PELATIHAN KURIKULUM SMK EDISI 2004 PROGRAM KEAHLIAN: SENI MUSIK NON KLASIK (DRUM)

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014

Introduction. Nursyamsuddin

STANDAR ISI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN

IMPLIKASI UU DAN PP THD PENGEMBANGAN KURIKULUM PUSAT KURIKULUM - BALITBANG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL. Puskur Balitbang 1

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA Nomor : 478/SK/R/UI/2004 TENTANG EVALUASI KEBERHASILAN STUDI MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

Farida Nurhasanah. Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011

Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Kurikulum Kurikulum Mahasiswa Angkatan 2015 dan sebelumnya. Mahasiswa angkatan 2016 dan setelahnya

PANDUAN LAYANAN KELAS INTERNASIONAL

M E M U T U S K A N: Menetapkan : KEPUTUSAN REKTOR TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PEROLEHAN KREDIT AKADEMIK DI UNIVERSITAS INDONESIA.

IV. PERATURAN AKADEMIK

STANDAR ISI PEMBELAJARAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Pedoman Bimbingan Akademik 2013

2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP.

Standar Nasional Pendidikan Tinggi

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR : 612/SK/R/UI/2005 TENTANG

REKTOR UNIVERSITAS HASANUDDIN

BUKU PANDUAN BIMBINGAN AKADEMIK

Standar Nasional Pendidikan Tinggi

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PERATURAN AKADEMIK KTSP G-78. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di SMA Negeri 78 Jakarta dengan Menerapkan Sistem Paket dan Rintisan SKS

PANDUAN MAGANG PROFESI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA REKTOR UNIVERSITAS SEBELAS MARET :

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI Berdasarkan Permendikbud no. 49/2014

OPERASIONAL PROSEDUR PERKULIAHAN

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 3 BATAM TAHUN PELAJARAN 2018/2019

PROSEDUR MUTU PENILAIAN UNIVERSITAS NGUDI WALUYO. Ungaran, Februari 2015 LEMBAGA PENJAMIN MUTU UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

STANDAR ISI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS DIPONEGORO SPMI-UNDIP SM 04.

1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Nomor 41 Tahun 2007 STANDAR PROSES

PEDOMAN STANDAR AKADEMIK STMIK SUMEDANG

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU

Pendidikan Profesi Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016

RAMBU RAMBU PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH KEJURUAN

Transkripsi:

PROPOSAL PENELITIAN PENERAPAN SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DAN KELULUSAN PESERTA DIDIK HAYAT AL RAKHA 5215062168 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini di semua satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan sistem paket, di mana semua peserta didik menempuh pembelajaran yang sama dalam menyelesaikan program belajarnya. Hal ini dianggap kurang demokratis karena peserta didik tidak mendapatkan haknya untuk belajar sesuai dengan kemampuan, bakat, maupun minatnya. Peserta didik yang pandai akan terhambat untuk menyelesaikan program studinya. Sebaliknya peserta didik yang lemah merasa dipaksa untuk mengikuti peserta didik berkemampuan tinggi. Untuk memenuhi pelayanan pendidikan yang demokratis dan adil bagi peserta didik sesuai dengan ketentuan di atas, dapat ditempuh dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana diatur lebih lanjut pada Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada pasal 11 ayat (2) dinyatakan Beban belajar untuk SMA/ MA/SMLB,SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester ; Ayat (3) Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB,SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester. Penerapan SKS sebenarnya bukan isu baru dalam dunia pendidikan menengah Indonesia. Isu ini kembali menguat ditengah-tengah berbagai

persoalan pendidikan menengah saat ini. Diantara persoalan tersebut adalah banyaknya mata pelajaran yang dibebankan kepada siswa setiap minggunya, bahkan ada yang mencapai 16 mata pelajaran. Banyaknya mata pelajaran yang dibebankan tersebut menyebabkan siswa mengikuti pelajaran dengan terpaksa. Perasaan terpaksa tersebut muncul karena tuntutan dari banyak pihak seperti guru, kepala sekolah dan orang tua agar siswa dapat mencapai hasil maksimal. Sehingga, agar tuntutan tersebut terpenuhi, siswa berusaha melakukan berbagai cara seperti mencontek dan hal lain yang dapat mewujudkan keinginan banyak pihak tersebut. Selain itu, dengan banyaknya mata pelajaran yang harus mereka pelajari, ditambah lagi dengan tugas dan pekerjaan rumah (PR), maka akan menimbulkan sifat malas bagi sebagian siswa yang apatis. Sistem Kredit Semester (SKS), oleh sebagian pihak diyakini sebagai sebuah solusi yang dapat mengatasi persoalan diatas. SKS akan membuat kehidupan sekolah lebih dinamis dan tidak kaku seperti saat ini. Saat ini siswa tidak diberi pilihan tentang pelajaran yang akan dipelajari di tiap semester. SKS akan membuat siswa dapat merencanakan studinya sendiri. Guru pun akan lebih mandiri dalam mempersiapkan dirinya. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah-masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Bagaimana Sistem Kredit Semester (SKS) ini dapat diterapkan dalam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)?

2. Bagaimana pembebanan dan penilaian setiap mata pelajaran dengan model Sistem Kredit Semester (SKS)? 3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)? 1.3 Pembatasan Masalah Masalah hanya dibatasi pada implementasi Sistem Kredit Semester (SKS) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan kelulusan peserta didik. 1.4 Tujuan Penelitian 1) Sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan kejenuhan akibat beban belajar yang semakin menumpuk. 2) Agar peserta didik mendapatkan haknya untuk belajar sesuai dengan kemampuan, bakat, maupun minatnya 3) Untuk memberikan peluang kepada peserta didik memilih program pembelajaran menuju pada suatu jenjang profesi tertentu. 4) Memberikan kesempatan kepada para peserta didik agar dapat menyelesaikan studi dalam waktu sesingkat mungkin. 5) Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kelulusan peserta didik. 1.5 Manfaat Penelitian 1) Bagi masyarakat a) Untuk memberi informasi tentang keunggulan sistem kredit semester dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan kelulusan.

b) Memberikan kesempatan bagi orang tua agar juga dapat lebih proaktif membimbing dan memantau rencana studi anak-anaknya. 2) Bagi Sekolah Menengah Kejuruan a) Untuk memberi informasi tentang penerapan _ystem kredit semester dalam rangka pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. b) Guru akan lebih mandiri dalam mempersiapkan dirinya. c) Tingkat kelulusan peserta didik lebih cepat dan meningkat signifikan. 3) Bagi peserta didik a) Meningkatkan kemandirian peserta didik dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar. b) Peserta didik dapat mengembangkan potensi diri sesuai dengan kemampuannya. c) Mempersingkat waktu penyelesaian studi bagi peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi.

BAB II KERANGKA TEORIS DAN KERANGKA BERPIKIR 2.1 Kerangka Teoritis 2.1.1 Sistem Kredit Semester (SKS) Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti untuk setiap semester pada satuan pendidikan. Satuan kredit semester (sks) adalah takaran penghargaan terhadap pengalaman belajar yang diperoleh selama satu semester melalui kegiatan terjadwal tatap muka per minggu sebanyak 1 jam teori atau 2 jam praktikum sekolah, atau 4 jam kerja lapangan/praktek industri. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. 2.1.2 Beban belajar Beban belajar adalah rumusan satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk mencapai standar kompetensi lulusan serta kemampuan lainnya dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

2.1.3 Semester Semester adalah satuan waktu kegiatan belajar efektif, terdiri atas 17 sampai 19 minggu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada satuan pendidikan termasuk kegiatan penilaian. Semester reguler adalah semester yang dilaksanakan antara bulan Juli-Desember (semester gasal) dan Januari-Mei (semestar genap) tiap tahun. Semester pendek adalah semester di antara dua semester reguler, yaitu antara bulan Juni-Agustus. 2.1.4 Kegiatan tatap muka Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan lingkungan. 2.1.5 Penugasan terstruktur Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi dan atau kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan, dan percepatan.

2.1.6 Kegiatan mandiri tidak terstruktur Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas mata pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik. 2.1.7 Mata pelajaran wajib Mata pelajaran wajib adalah semua mata pelajaran normatif dan adaptif, mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran dasar kejuruan, dan mata pelajaran dalam kelompok spesialisasi dari Bidang Keahlian yang terkait. Mata pelajaran pilihan adalah mata pelajaran yang disediakan bagi peserta didik bagi pengembangan karir ke depan berdasarkan minat dan spesialisasi. Kurikulum dengan SKS perlu menyediakan sejumlah mata pelajaran pilihan bagi peserta didik dengan sejumlah sks tertentu.

BAB III PELAKSANAAN SISTEM KREDIT SEMESTER A. Pelaksanaan SKS Alokasi waktu yang diperlukan per minggu per satu sks sebagai berikut: 1. Untuk mata pelajaran teori (TMT = Tatap Muka Teori): a. Bagi peserta didik berarti: 1) 45 menit melaksanakan proses pembelajaran tatap muka. 2) 45 menit penugasan terstruktur. 3) 45 menit kegiatan mandiri. b. Bagi guru berarti: 1) 45 menit melaksanakan proses pembelajaran tatap muka. 2) 45 menit perencanaan dan penilaian hasil belajar. 3) 45 menit pengembangan materi pembelajaran. 2. Untuk pelajaran praktik sekolah (PS): a. Bagi peserta didik berarti: 1) 90 menit kegiatan praktik di laboratorium atau praktik di bengkel atau studio atau di tempat olah raga di lapangan. 2) 45 menit kerja mandiri. b. Bagi guru berarti: 1) 90 menit kegiatan pembelajaran dan penilaian di laboratorium/bengkel/studio. 2) 45 menit pengembangan materi dan persiapan mengajar. 3. Untuk pelajaran praktik lapangan/industri (PI): a. Bagi peserta didik berarti: 1) 180 menit kegiatan praktik lapangan/industri.

2) 45 menit penugasan terstruktur. 3) 45 menit kerja mandiri. Tiap semester peserta didik mempunyai kesempatan memilih mata pelajaran yang akan diambil berdasarkan mata pelajaran yang ditawarkan oleh sekolah. Penawaran mata pelajaran dibagi menjadi tiga yaitu semester gasal, semester genap, dan semester pendek. Mata pelajaran yang akan diambil dikonsultasikan dengan guru pembimbing akademik. Pengurangan mata pelajaran yang sudah diambil atau penambahan mata pelajaran yang diinginkan hanya dapat dilakukan pada saat menambahmengurangi dalam semester yang sedang berjalan. Program produktif untuk masing-masing kompetensi keahlian dikelompokkan dalam mata pelajaran inti dan mata pelajaran pilihan. Satu tahun akademik dilaksanakan sebanyak 38 minggu. Satuan pendidikan atau sekolah wajib mensosialisasikan penerapan SKS yang akan dilaksanakan kepada stakeholders. Sekolah yang telah memutuskan untuk melaksanakan SKS harus melakukannya secara taat azas atau konsisten. Sekolah wajib melaksanakan 1 sks dalam pengertian yang benar seperti yang dituangkan dalam jadwal pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran melalui tatap muka (TM), tugas terstruktur (TT), dan kegiatan mandiri (KM). Peserta didik didorong untuk belajar secara mandiri. Oleh karena itu program pembelajaran untuk tugas terstruktur, kegiatan mandiri wajib disusun oleh guru pemangku mata pelajaran. Jumlah sks maksimal yang dapat diambil oleh peserta didik ditentukan berdasarkan hasil prestasi pada semester sebelumnya.

B. Penilaian dalam SKS 1. Penentuan kemampuan kompetensi seorang peserta didik mempertimbangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. 2. Penilaian kompetensi menggunakan berbagai pendekatan secara komplementatif, mencakup semua unsur hasil belajar. 3. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) setiap mata pelajaran ditetapkan sesuai fungsi dan kedudukan mata pelajaran dalam proses pembentukan standar kompetensi lulusan (SKL). 4. Nilai suatu mata pelajaran ditentukan dengan standar sebelas yaitu nilai 0 sampai dengan 10 atau standar 101 dengan nilai 0 sampai dengan 100. Penilaian dalam sistem kredit semester dilakukan dengan menggunakan kriteria nilai (grade) sebagai berikut. A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D+, D, D-, dan E dengan makna sebagai berikut: A : baik sekali A-: kurang dari baik sekali B+: lebih dari baik B : baik C+: lebih dari cukup C :cukup C-: kurang dari cukup D : kurang D-: kurang dari kurang E : gagal 5. Skala nilai dari masing-masing nilai ditentukan sebagai berikut: Tabel 1. Konversi Nilai Standar Nilai Nilai 11 101 Huruf Bobot 8,6-10 86-100 A 4,00

8,0-8,5 80-85 A- 3,75 7,5-7,9 75-79 B+ 3,25 7,1-7,4 71-74 B 3,00 6,6-7,0 66-70 B- 2,75 6,4-6,5 64-65 C+ 2,25 6,0-6,3 60-63 C 2,00 5,6-5,9 56-59 C- 1,75 5,1-5,5 51-55 D+ 1,25 4,6-5,0 46-50 D 1,00 4,0-4,5 40-45 D- 0,75 0-3,9 0-39 E 0,00 6. Berdasarkan kriteria penilaian di atas ditentukan batas ambang ketuntasan minimal untuk seluruh mata pelajaran. Untuk kelompok normatif dan adaptif ditentukan nilai C+ dan untuk kelompok produktif nilai B. Peserta didik yang belum mencapai nilai batas ambang ketuntasan minimal dinyatakan tidak lulus. 7. Indeks Prestasi (IP) adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir, menggambarkan kadar kompetensi suatu hasil belajar. Untuk menentukan IP digunakan rumus jumlah nilai huruf ditransfer ke nilai bobot x sks, dibagi jumlah sks.

Tabel 2. Contoh Perhitungan Indeks Prestasi No Mata Pelajaran sks Nilai Huruf Bobot sks x bobot 1. Pendidikan Agama 1 A 4 1 x 4= 4 2. Pendidikan Kewarganegaraan 1 A- 3,75 1 x 3,75= 3,75 3. Bahasa Indonesia 2 B 3 2 x 3= 6 4. Seni Budaya 1 B+ 3,25 1 x 3,25= 3,25 5. Bahasa Inggris 2 A 4 2 x 4= 8 6. Matematika 2 A 4 2 x 4= 8 7. Fisika 8. KKPI 2 B+ 3,25 1 A- 3,75 2 x 3,25= 6,50 1 x 3,75= 3,75 9. Teori Dasar Elektronika 4 A 4 4 x 4= 16 JUMLAH 16 61,25

61,25 Indeks Prestasi = ----------- = 3,83 16 Catatan: 1) Apabila nilai belum masuk, bobot kredit mata pelajaran tersebut tidak diperhitungkan sebagai perhitungan IP. 2) Apabila nilai tidak ada karena peserta didik tidak menempuh ujian, bobot kredit mata pelajaran tersebut tetap diperhitungkan untuk menentukan IP. 8. Nilai IPK semester sebelumnya akan menentukan jumlah sks maksimal yang dapat diambil oleh peserta didik yang bersangkutan pada semester berikutnya, dengan ketentuan sebagai berikut: Indeks Prestasi (semester) Beban Studi maksimal Lebih dari 2,99 22 2,50-2,99 19 2,00 2,49 16 1,50-1,99 13 Kurang dari 1,50 10 9. Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal, harus diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai pada semester pendek.

C. Penyetaraan Sistem Paket kedalam SKS 1. Beban Belajar SKS Satu sks dalam sistem kredit semester setara dengan: a. Untuk TMT sama dengan 45 menit proses pembelajaran tatap muka, 45 menit penugasan terstruktur, dan 45 menit kegiatan mandiri. b. Untuk PS sama dengan 2x45=90 menit kegiatan praktik di laboratorium atau praktik di bengkel atau studio atau di tempat olah raga di lapangan dan 45 menit kerja mandiri. c. Untuk PI sama dengan 4x45=180 menit kegiatan praktik lapangan/praktik industri, 45 menit penugasan terstruktur, dan 45 menit kerja mandiri. d. Dalam sistem paket alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur 0%-60% dari waktu kegiatan tatap muka 2. Perhitungan Konversi Konversi dari Sistem Paket ke dalam SKS menggunakan rumusan jumlah jam sebagai berikut: a. Untuk Mata Pelajaran Normatif dan Adaptif 1 jam pelajaran Teori=TM+ 60%TM = 1,6 TM =1,6x45 = 72 menit 1 sks TMT = TM + TT + KM = 45 + 45 + 45 = 135 menit 1 sks PS= 2 TM + KM = 90 + 45 = 135 menit Indeks penyetaraan jam pelajaran TMT ke sks = 72 : 135 = 0,533. Indeks penyetaraan jam pelajaran PS ke sks = 72 : 135 = 0,533. Artinya: 1 jam pelajaran TMT sama dengan 0,533 sks 1 jam pelajaran PS sama dengan 0,533 sks Contoh:

1. Mata pelajaran Pendidikan Agama, jam pelajaran total adalah 192 jam. Maka jumlah sks mata pelajaran Pendidikan Agama untuk kebulatan studi tiga tahun sama dengan 192x0,533 = 102,33 sks. Jika mata pelajaran Pendidikan Agama dilaksanakan dalam 6 semester dan satu semester dilaksanakan dalam 19 minggu, maka sks tiap semesternya adalah 102,33: (6x19)= 0,88 dibulatkan 1 sks dan dilaksanakan dalam enam semester dengan rincian Pendidikan Agama 1 = 1 sks, Pendidikan Agama 2=1 sks, Pendidikan Agama 3=1 sks, Pendidikan Agama 4=1 sks, Pendidikan Agama 5=1 sks, Pendidikan Agama 6=1 sks. 2. Mata pelajaran Bahasa Inggris, jam pelajaran total adalah 440 jam. Maka jumlah sks mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kebulatan studi tiga tahun sama dengan 440x0,533 = 234,52 sks. Jika mata pelajaran Bahasa Inggris dilaksanakan dalam 6 semester dan satu semester dilaksanakan dalam 19 minggu, maka sks tiap semesternya adalah 234,52: (6x19)= 2,05 dibulatkan 2 sks dan dilaksanakan dalam enam semester dengan rincian Bahasa Inggris 1 = 2 sks, Bahasa Inggris 2 = 2sks, Bahasa Inggris 3 = 2 sks, Bahasa Inggris 4 = 2 sks Bahasa Inggris 5 = 2 sks, Bahasa Inggris 6 = 2 sks. b. Untuk Mata Pelajaran Produktif 1 jam pelajaran Teori= TM + 0,6 TM = 1,6 TM = 72 menit 1 sks Teori = TM + TT + KM = 45 + 45 + 45 = 135 menit 1 sks PS= 2 TM + KM = 90 + 45 = 135 menit

1 sks PI = 4 TM + TT + KM = 180 + 45 + 45 = 270 menit Indeks penyetaraan jam pelajaran TMT ke sks = 72 : 135 = 0,533. Indeks penyetaraan jam pelajaran PS ke sks = 72 : 135 = 0,533. Indeks penyetaraan jam pelajaran PI ke sks = 72 : 270 = 0,266 Artinya: a. 1 jam pelajaran TMT sama dengan 0,533 sks b. 1 jam pelajaran PS sama dengan 0,533 sks c. 1 jam pelajaran PI sama dengan 0,266 sks

BAB V PENUTUP Pola penyelenggaraan pendidikan dengan SKS dapat dilakukan untuk kurikulum berbasis kompetensi dengan melakukan beberapa penyesuain penetapan konversi dari jam pelajaran ke sks. Penilaian dalam kurikulum berbasis kompetensi tetap mengacu pada kriteria lulus dan tidak lulus kompetensi. Namun untuk lulus kompetensi ada gradasi nilai (grade) yaitu dari paling rendah C, C+, B-, B, B+, A-, dan A. Untuk status tidak lulus hanya dinyatakan dengan nilai D, D-, dan E. Pembulatan besarnya sks hasil konversi bisa dilakukan dengan ketentuan hasil pecahan >0,5 dibulatkan ke atas dan yang < 0, 5 dibulatkan ke bawah. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi satuan pendidikan yang berupaya menerapkan sistem kredit semester karena sistem ini dapat mengakomodasikan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Dengan diberlakukan sistem ini maka satuan pendidikan tidak perlu mengadakan program pengayaan karena sudah tercakup dalam sistem. Pemerintah mendorong dan mengharuskan menerapkan sistem SKS bagi SMK/MAK atau yang sederajad pada sekolah kategori mandiri.

DAFTAR PUSTAKA http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:4jggghaqu5aj:www.d isdikgunungkidul.org/tot_ktsp/materi%2520pokok%2520tot%2520kts P/SKS/Sistem%2520Kredit%2520Semester%25201.ppt+smk+sistem+sks&cd=3 &hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a http://gurupembaharu.com/home/?p=175 http://suaidinmath.wordpress.com/2010/05/09/implementasi/ http://www.puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_undangan/herry%20w_m akalah%20sks.pdf http://download.smkdki.net/view.php?file=kumpulan_materi_bimtek_p ELATIHAN/01_KTSP.ppt