REGENERASI EKSPLAN MELALUI ORGANOGENESIS DAN EMBRIOGENESIS SOMATIK

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. Kacang tanah (Arachis hipogea L.) merupakan salah satu komoditas pertanian

KULIAH DASAR BIOTEKNOLOGI

Kombinasi Embriogenesis Langsung dan Tak Langsung pada Perbanyakan Kopi Robusta. Reny Fauziah Oetami 1)

TINJAUAN PUSTAKA Kultur Jaringan Tanaman Eksplan

I. PENDAHULUAN. Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis (L.) Blume) merupakan jenis. pesona, bahkan menjadi penyumbang devisa bagi negara.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Regenerasi Tanaman secara In Vitro dan Faktor-Faktor Yang Mempenaruhi

I. PENDAHULUAN. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) memiliki peran strategis dalam pangan

I. PENDAHULUAN. Masalah mengenai tebu yang hingga kini sering dihadapi adalah rendahnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan kacang tanah dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan

PENGARUH UMUR FISIOLOGIS KECAMBAH BENIH SUMBER EKSPLAN

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Melon (Cucumis melo L.)

TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN PERBANYAKAN TANAMAN SELAIN BENIH. Oleh : Nur Fatimah, S.TP PBT Pertama BBP2TP Surabaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BIOTEKNOLOGI TERMINOLOGI DAN MACAM KULTUR JARINGAN

Isi Materi Kuliah. Pengertian Kalus. Aplikasi Kultur Kalus. Kultur Kalus 6/30/2011

Regenerasi Tanaman melalui Embriogenesis Somatik dan Beberapa Gen yang Mengendalikannya

PELATIHAN KULTUR JARINGAN ANGGREK TAHUN 2013 MATERI 4 BAHAN TANAM (EKSPLAN) DALAM METODE KULTUR JARINGAN. Oleh: Paramita Cahyaningrum Kuswandi, M.Sc.

I. PENDAHULUAN. menggunakan satu eksplan yang ditanam pada medium tertentu dapat

I. PENDAHULUAN. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija yang

TINJAUAN PUSTAKA. dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari

Teknik Kultur In Vitro Tanaman. Bab I : Pendahuluan 9/16/2012

13/10/2012 PENDAHULUAN. REVIEW KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album L.)

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TANAMAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) tergolong dalam famili Graminae yaitu

KULTUR JARINGAN TANAMAN

I. PENDAHULUAN. Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas buah tropis

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L] Merr.) adalah salah satu komoditas utama kacangkacangan

TINJAUAN PUSTAKA Botani, Penyebaran dan Manfaat Tanaman Jarak Pagar ( Jatropha curcas L.) Kultur Jaringan Tanaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum) Anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) merupakan anggrek yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan komoditas pangan sebagai sumber

SKRIPSI. Oleh : RATRIANA RINDA FITRISWARI NPM :

Regenerasi Tanaman Sedap Malam Melalui Organogenesis dan Embriogenesis Somatik

REGENERASI TANAMAN SENGON (Albizia falcataria) MELALUI MULTIPLIKASI TUNAS AKSILAR DENGAN PENGGUNAAN KOMBINASI ZPT DAN AIR KELAPA SKRIPSI.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Pisang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. zat pengatur tumbuh memperlihatkan pertumbuhan yang baik. Hal tersebut sesuai

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Pembentukan Kalus Pada Media MS Kombinasi ZPT BAP dan 2,4-D.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

GAHARU. Dr. Joko Prayitno MSc. Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Suhadirman (1997) menyebutkan bahwa Musa acuminata ini berdasarkan. klasifikasi tumbuhan ini sebagai berikut : Kingdom : Plantae;

TEKNOLOGI PERBANYAKAN BIBIT PISANG ABAKA DENGAN KULTUR JARINGAN DR IR WENNY TILAAR,MS

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian pendahuluan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Melon

BAHAN DAN METODE. Histodifferensiasi Embrio Somatik

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk

TINJAUAN PUSTAKA. Mansur (2006) menyebutkan bahwa Nepenthes ini berbeda dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah the Queen of fruits ratu dari buah- buahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sandang dan papan. Allah Subhanahu Wa Ta ala berfirman dalam surat Ali-Imran

Inovasi Kultur Jaringan Kelapa Sawit

RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN ANGGREK (Dendrobium sp.) TERHADAP PEMBERIAN BAP DAN NAA SECARA IN VITRO

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan jenis tanaman polong-polongan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KONSENTRASI NAA DAN KINETIN TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS PISANG (Musa paradisiaca L. cv. Raja Bulu ) SECARA IN VITRO

3 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat

TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan krisan dalam sistematika tumbuhan (Holmes,1983)

tekanan 17,5 psi. Setelah itu, media disimpan selama 3 hari pada suhu ruangan, untuk memastikan ada tidaknya kontaminasi pada media tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan di Indonesia merupakan sumber plasma nutfah yang sangat potensial

TINJAUAN PUSTAKA. Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stevia (Stevia rebaudiana) merupakan salah satu jenis tanaman obat di

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) merupakan tumbuhan obat asli

TEKNOLOGI PERBANYAKAN BENIH PISANG dan STRAWBERI

PENDAHULUAN. stroberi modern (komersial) dengan nama ilmiah Frageria x ananasa var

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Kultur Sel. Eksplan Kultur Sel

Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tanaman karet merupakan komoditi perkebunan yang penting dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Sejarah, Morfologi dan Sistematika Anggrek Bulan. (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga padma raksasa (Rafflesia

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi

Tentang Kultur Jaringan

BAB III BAHAN DAN TATA KERJA. kotiledon dari kecambah sengon berumur 6 hari. Kecambah berasal dari biji yang

I. PENDAHULUAN. sebutan lain seruni atau bunga emas (Golden Flower) yang berasal dari

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

PERTUMBUHAN EMBRIO KELAPA KOPYOR (Cocos nucifera L.) PADA BERBAGAI MODIFIKASI MEDIA KULTUR IN-VITRO SKRIPSI

Kultur Jaringan Menjadi Teknologi yang Potensial untuk Perbanyakan Vegetatif Tanaman Jambu Mete Di Masa Mendatang

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi,

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Induksi Kalus dan Embrio Somatik Tanaman Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.) Callus and Somatic Embryo Induction of Guava (Psidium guajava L.

LAPORAN BIOTEKNOLOGI KULTUR ORGAN_by. Fitman_006 LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PERTANIAN. Kultur Organ OLEH : FITMAN D1B

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

Embriogenesis somatik pada kultur in vitro daun kopi robusta (coffea canephora var. Robusta chev.)

I. PENDAHULUAN. energi utama umat manusia diperoleh dari bahan bakar fosil. Masalahnya

I. PENDAHULUAN. Sansevieria (Sansevieria sp.) atau lidah mertua adalah tanaman hias daun sukulen

BAB I PENDAHULUAN. Stevia rebaudiana Bertoni termasuk tanaman famili Asteraceae

TINJAUAN PUSTAKA. Buah apel memiliki nama latin Malus sylvestris Mill. Apel pertama kali

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

Transkripsi:

MODUL - 3 DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN REGENERASI EKSPLAN MELALUI ORGANOGENESIS DAN EMBRIOGENESIS SOMATIK Oleh: Pangesti Nugrahani Sukendah Makziah RECOGNITION AND MENTORING PROGRAM PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR 2011 0

KATA PENGANTAR Dasar Bioteknologi Tanaman adalah mata kuliah wajib yang diberikan kepada mahasiswa semester V pada Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UPN Veteran Jawa Timur. Mata kuliah ini dikembangkan melalui penguatan materi technopreneurship dengan dukungan Recognition and Mentoring (RAM) Program Indonesia 2011. Modul ini merupakan kelanjutan dari materi 2 yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Materi 3 yang berisi tentang Regenerasi eksplan melalui organogenesis dan embriogenesis somatik ini, dibahas pada tatap muka minggu ke 3 perkuliahan selama 110 menit. Berbekal pengertian dasar tentang miropropagasi in vitro yang telah diberikan sebelumnya, diharapkan mahasiswa lebih mudah membaca modul 3 ini serta lebih lancer dalam mengikuti perkuliahannya. Disadari bahwa Modul ini belum sempurna, sehingga pada waktu yang akan datang akan senantiasa diperbaharui dengan materi yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga bermanfaat. Surabaya, September 2011 Penyusun 1

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL 1. Modul ini tersedia pada E-Learning situs http://www.upn.ac.id 2. Bacalah materi pada modul sebelum perkuliahan dimulai 3. Buatlah catatan kecil tentang hal-hal yang ingin didiskusikan 4. Buatlah ringkasan materi sendiri 5. Jawablah pertanyaan atau kerjakan soal-soal pada bagian Uji Kemampuan Diri 6. Selamat belajar, jangan lupa berdoa 2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 1 PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL.. 2 TUJUAN INSTRUKSIONAL 4 I. PENDAHULUAN. 5 II. REGENERASI EKSPLAN MELALUI ORGANOGENESIS DAN EMBRIOGENESIS SOMATIK. 6 a. PENGERTIAN SOMATIK DAN ZYGOTIK EMBRIOGENESIS... 6 b. PROSES MEMBENTUK SOMATIK EMBRIO... 6 III. UJI KEMAMPUAN DIRI... 10 DAFTAR PUSTAKA.. 11 3

TUJUAN INSTRUKSIONAL Tujuan Mata Kuliah Dasar Bioteknologi Tanaman: Memberikan pemahaman dan wawasan tentang perkembangan bioteknologi modern serta teknik dan aplikasinya dalam perspektif teknopreneurship untuk peningkatan produksi dan perbaikan tanaman serta pengembangan produk komersial Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa memahami dan mampu: a. Menjelaskan pengertian somatik embriogenesis b. Membedakan antara somatik dan zygotik embriogenesis c. Menjelaskan proses somatik embriogenesis 4

I. PENDAHULUAN Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui tahap pembentukan kalus. Jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan, dapat berupa jaringan meristem maupun jaringan parenkim. Jaringan meristem adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, dan kambium batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Eksplan atau bahan tanaman pada perbanyakan tanaman secara in vitro ini akan mengalami perubahan, tumbuh dan berkembang (regenerasi). Perkembangan selanjutnya akan melalui tahapan tertentu yang sangat tergantung dari tipe eksplan dan media tanam yang dipergunakan. Ingat kembali tahapan dalam kultur in vitro pada Modul 1 5

II. REGENERASI EKSPLAN MELALUI ORGANOGENESIS DAN EMBRIOGENESIS SOMATIK 2.1. PENGERTIAN Perkembangbiakan atau regenerasi dalam kultur in vitro dapat dilakukan melalui jalur organogenesis dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun tidak langsung malalui tahap kalus. Embriogenesis somatik adalah menumbuhkan embrio (calon tanaman) dari sel somatik atau sel tanpa dibuahi. Dapat juga didefinisikan sebagai proses regenerasi eksplan melalui pembentukan struktur menyerupai embrio (embrioid) dari sel somatik yang telah memiliki calon akar dan tunas. Sedangkan embriogenesis zygotik merupakan suatu proses dimana sel somatik berkembang membentuk tumbuhan baru melalui fusi gamet (pembuahan). Organogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan tunas dari jaringan meristem. Proses organogenik dimulai dengan perubahan sel parenkim tunggal atau sekelompok kecil sel, dimana selanjutnya membelah menghasilkan suatu masa sel globuler atau meristemoid, besifat kenyal dan berkembang menjadi primordium pucuk atau akar. Kejadian ini dapat terjadi langsung pada eksplan atau tidak langsung melalui pembentukan kalus. 2.2. PROSES PEMBENTUKAN EMBRIO SOMATIK Embrio somatik dapat terbentuk melalui dua jalur, yaitu secara langsung maupun tidak langsung (melewati fase kalus). Keberhasilan akan tercapai apabila kalus atau sel yang digunakan bersifat embriogenik yang dicirikan oleh sel yang berukuran kecil, sitoplasma padat, inti besar, vakuola kecil-kecil dan mengandung butir pati. Embrio somatik dapat dihasilkan dalam jumlah besar dari kultur kalus, namun untuk tujuan perbanyakan dalam skala besar, jumlahnya dapat lebih ditingkatkan 6

melalui inisisasi sel embrionik dari kultur suspensi yang berasal dari kalus primer Embrio somatic dapat dicirikan dari strukturnya yang bipolar, yaitu mempunyai dua calon meristem, yaitu meristem akar dan meristem tunas. Dengan memiliki struktur tersebut maka perbanyakan melalui embrio somatik lebih menguntungkan daripada pembentukan tunas adventif yang unipolar. Di samping strukturnya, tahap perkembangan embrio somatik menyerupai embrio zigotik. Pembentukan embrio somatik dapat digambarkan melalui beberapa tahap, yaitu: Tahap globular (A), Tahap hati, Tahap torpedo (B), Tahap kotiledon (C), Tahap kecambah, dan Tahap planlet Gambar 1. Tahap perkembangan embrio somatik Sumber: Purnamaningsih (2003) 7

2.1. TEKNIK REGENERASI EKSPLAN MELALUI ORGANOGENESIS Organogenesis langsung untuk perbanyakan tunas dapat diinisiasi langsung dari tunas adventif. Pembentukan tunas secara langsung ini tergantung pada bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan dan jenis tanaman yang dikulturkan. Pada beberapa jenis tanaman tunas adventif dapat terbentuk dari berbagai organ tanaman seperti daun, batang, akar atau petal, sementara jenis tanaman lainnya hanya dari organ tertentu seperti potongan umbi, embrio atau kecambah. Perbanyakan tanaman melalui pembentukan tunas langsung dapat dilakukan dengan tahap inisiasi yang dilanjutkan dengan multiplikasi tunas. Ke dua tahap ini dapat terjadi pada medium yang sama tanpa melalui pemindahan ke medium baru. Tahap multiplikasi juga merupakan tahap pembentukan tunas adventif dan tunas aksiler yang tumbuh dari mata tunas adventif bersama-sama. Organogenesis tidak langsung untuk inisiasi tunas melalui kalus. Di sini tunas adventif maupun akar akan terbentuk dengan diawali terjadinya kalus. Kultur kalus memiliki potensial morfogenetik bervariasi. Kalus dari beberapa jenis tanaman atau dari beberapa eksplan, sering gagal beregenerasi membentuk tunas atau hanya membentuk akar. Perbanyakan tanaman melalui kalus akan menghasilkan tanaman dengan genetik yang bervariasi, dan ini sangat dikehendaki oleh pemulia tanaman sebagai sumber keragaman genetic. Regenerasi eksplan melalui organogenesis secara garis besar dilakukan dalam dua tahap, yaitu induksi tunas dan multiplikasi tunas. Pada saat induksi tunas, eksplan ditanam pada media induksi tunas. Jenis media dan komposisi media untuk induksi tunas, disesuaikan dengan jenis tanaman. Sebagai contoh, media induski tunas yang sesuai untuk tanaman Puring adalah media dasar MS + BAP 1 mg/l, untuk tanaman Sedap Malam berupa media dasar MS + BA 3 mg/l, sedangkan untuk tanaman Sansivera adalah media dasar MS + BA 2 mg/l. 8

Untuk memacu multiplikasi tunas, maka eksplan harus dipindahkan berulang-ulang (subkultur) pada media baru dengan kandungan sitokinin yang tinggi. Diantara jenis sitokinin, BA merupakan sitokinin yang mempunyai aktivitas yang paling kuat dengan tingkat persistensi yang paling lama. Komposisi untuk multiplikasi tunas, juga sangat tergantung dari jenis eksplan atau jenis tanamannya. Multiplikasi tunas sansivera dapat dipacu dengan media MS + BA 2 mg/l, tanaman Puring dengan media MS + BAP 3 mg/l, tanaman anturium media MS + BA 0.2 ppm, dan tanaman sedap malam dengan media MS + BA 7 mg/l + glutamine 100 ppm. 2.2. TEKNIK REGENERASI EKSPLAN EMBRIOGENESIS SOMATIK Sebagai eksplan umumnya digunakan jaringan atau organ yang bersifat embriogenik seperti embrio zigotik, kotiledon, mata tunas, dan hipo/epikotil Embriogenesis somatik pada tanaman kehutanan mempunyai beberapa tahapan perkembangan yang spesifik, seperti induksi kalus embriogenik atau embrio somatik (pembentukan langsung), pemeliharaan, pendewasaan, perkecambahan, dan aklimatisasi. Pembentukan embrio somatik secara langsung lebih disukai karena dapat menekan masalah sulitnya pembentukan benih somatik pada tahap perkecambahan. Keberhasilan regenerasi melalui embryogenesis somatik dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain formulasi media yang berbeda pada setiap tahap perkembangan embrio somatik serta jenis eksplan yang digunakan. Pada tahap pembentukan struktur globular dan hati sering digunakan zat pengatur tumbuh sitokinin seperti benzyladenin (BA) atau yang mempunyai peran fisiologis yang sama yaitu thidiazuron atau 2,4-D, dan NAA apabila embrio somatik melalui fase kalus. Untuk tahap pendewasaan, konsentrasi sitokinin diturunkan dan untuk tahap perkecambahan sering ditambahkan GA3 Embriogenesis mempunyai beberapa tahap spesifik, yaitu (1) induksi sel dan kalus embriogenik, (2) pendewasan, (3) perkecambahan, 9

dan (4) hardening. Pada tahap induksi kalus embriogenik dilakukan isolasi eksplan dan penanaman pada media tumbuh. Untuk induksi kalus embriogenik kultur umumnya ditumbuhkan pada media yang mengandung auksin yang mempunyai daya aktivitas kuat atau dengan konsentrasi tinggi. Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa 2,4-D merupakan auksin yang efektif untuk induksi kalus embriogenik. Zat pengatur tumbuh tersebut merupakan auksin sintetis yang cukup kuat dan tahan terhadap degradasi karena reaksi enzimatik dan fotooksidasi. Di samping auksin, sering pula diberikan sitokinin seperti benzil adenin (BA) atau kinetin secara bersamaan. Tahap pendewasaan adalah tahap perkembangan dari struktur globular membentuk kotiledon dan primordia akar. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pendewasaan adalah tahap yang paling sulit. Pada tahap ini sering digunakan auksin dengan konsentrasi rendah. Tahap perkecambahan adalah fase di mana embrio somatic membentuk tunas dan akar. Pada media perkecambahan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan sangat rendah atau bahkan tidak diberikan sama sekali.tahap hardening, yaitu tahap aklimatisasi bibit embrio somatic dari kondisi in vitro ke lingkungan baru di rumah kaca dengan penurunan kelembaban dan peningkatan intensitas cahaya Regenerasi melalui embriogenesis somatik memberikan banyak keuntungan, antara lain: (1) waktu perbanyakan lebih cepat; (2) pencapaian hasil dalam mendukung program perbaikan tanaman lebih cepat; dan (3) jumlah bibit yang dihasilkan tidak terbatas jumlahnya. III. UJI KEMAMPUAN DIRI 1. Jelaskan dengan singkat: a) Pengertian Organogenesis b) Pengertian Embriogenesis somatik c) Tahap perkembangan embrio somatik d) Perbedaan tahapan pertumbuhan eksplan melalui organogenesis dengan embryogenesis somatic. 10

DAFTAR PUSTAKA Kurnianingsih R, Marfuah, Matondang I. 2009. Pengaruh Pemberian BAP (6-Benzyl Amino Purine) pada Media Multiplikasi Tunas Anthurium Hookerii Kunth. Enum. secara in Vitro. Vis Vitalis 02 (2): 23-30 Purnamaningsih R. 2003. Regenerasi Tanaman Melalui Embriogenesis Somatik Dan Beberapa Gen Yang Mengendalikannya. Buletin Agrobio 5(2):51-58 Roostika I, Mariska I, Purnamaningsih R. 2005. Regenerasi Tanaman Sedap Malam melalui Organogenesisi dan Embriogenesis Somatik. J.Hort. 15(4):233-241. Sarmast MK, Salehi M, Salehi H. 2009. The Potential of Different Parts of Sansevieria Trifasciata L. Leaf for Meristemoids Production. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 3(3): 2506-2509 Yusnita, Pungkastiani W, Hapsoro D. 2011. In Vitro Organogenesis of Two Sansevieria Cultivars on Different Concentrations of Benzyladenine (BA). Agrivita 33 (2):147-153 11