ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

HASIL DAN PEMBAHASAN

INFORMASI YANG BISA DIAMBIL DARI BIPLOT

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

C UN MURNI Tahun

HASIL DAN PEMBAHASAN

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

HASIL DAN PEMBAHASAN

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 13 Peubah Ganda

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Diagram kotak garis

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Gerombol

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

Λ = DATA DAN METODE. Persamaan Indeks XB dinyatakan sebagai berikut. XB(c) = ( ) ( )

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

KESEHATAN ANAK. Website:

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

x j dan HASIL DAN PEMBAHASAN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

INDONESIA Percentage below / above median

ALOKASI ANGGARAN. No Kode Satuan Kerja/Program/Kegiatan Anggaran (Ribuan Rp) (1) (2) (3) (4) 01 Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017

Disabilitas. Website:

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH

DRAF APK-APM PENDIDIKAN TAHUN 2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PERBANDINGAN ANALISIS BIPLOT KLASIK DAN ROBUST BIPLOT PADA PEMETAAN PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA TIMUR

Assalamu alaikum Wr. Wb.

PELAKSANAAN DAN USULAN PENYEMPURNAAN PROGRAM PRO-RAKYAT

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan

BIPLOT DENGAN DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR BIASA DAN KEKAR UNTUK PEMETAAN PROVINSI BERDASARKAN PRESTASI MAHASISWA IPB WARSITO

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012

PENGGEROMBOLAN DAN POSISI RELATIF KECAMATAN DI KABUPATEN PURWAKARTA TERHADAP BEBERAPA INDIKATOR PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS

Didin Astriani P, Oki Dwipurwani, Dian Cahyawati (Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya)

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kemiskinan menjadi persoalan serius yang di hadapi oleh banyak

BAB III PEMBAHASAN. survei yang dilakukan BPS pada 31 Oktober Langkah selanjutnya yang

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2016

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan

Transformasi Biplot Simetri Pada Pemetaan Karakteristik Kemiskinan

LAPORAN MINGGUAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN PERIODE 18 MEI 2018

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

POTRET KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro)

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

U r a i a n. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Pendidikan Nonformal dan Informal

OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA PENGUMUMAN SELEKSI/PENDAFTARAN KEPALA PERWAKILAN DAN CALON ASISTEN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

ANALISIS DISKRIMINAN KUADRATIK KEKAR (Studi Kasus : Divisi Regional Perum BULOG Tahun 2009) MAYA WULAN ARINI

KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN. Website:

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

Analisis Pengelompokan dengan Metode K-Rataan

ANALISIS DAN EVALUASI PELAYANAN KELUARGA BERENCANA BAGI KELUARGA PRA SEJAHTERA DAN KELUARGA SEJAHTERA I DATA TAHUN 2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

KAJIAN TERHADAP TINGKAT PEMERATAAN PENDIDIKAN MENGGUNAKAN ANALISIS BIPLOT KLASIK DAN BIPLOT KEKAR

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

B. SUMBER PENDANAAN (10) PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN (PPSDMK) (Juta Rupiah) Prakiraan Kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran, sehingga sasaran untuk supervisi akademik adalah guru.

6. Tanggung jawab terhadap kebenaran alokasi yang tertuang dalam DIPA Induk sepenuhnya berada pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

CEDERA. Website:

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.

Analisis Biplot terhadap Pemetaan Kebutuhan Guru SMP di Kabupaten Kepulauan Sangihe Berdasarkan Rasio Guru per Mata Pelajaran

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

Pertumbuhan Simpanan BPR Dan BPRS

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Transkripsi:

ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

RINGKASAN WENNY INDRIYART PUTRI. Analisis Terhadap Indikator Indikator yang Mencirikan Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Indonesia. Dibimbing oleh BUDI SUSETYO dan SITI SOFIAH. Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bahkan di tahun 2009 ini pemerintah menaikkan alokasi dana APBN utuk pendidikan menjadi sebesar 20%. Selain itu pemerintah juga menetapkan suatu standar yaitu Standar Nasional Pendidikan yang bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Bervariasinya Standar Nasional Pendidikan yang dapat dipenuhi tentu saja dapat mempengaruhi output yang dihasilkan oleh propinsi-propinsi tersebut, misalkan saja Nilai Ujian Nasional. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui peta antar propinsi dan gambaran umum propinsi-propinsi tersebut berdasarkan indikator - indikator Standar Nasional Pendidikan. Dari hasil analisis gerombol dapat dilihat masih tidak meratanya pembangunan dalam bidang pendidikan, yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan nilai rataan masing-masing peubah pada gerombol yang secara geografis dekat dengan ibukota negara dengan gerombol yang jauh dengan ibukota negara. Hasil analisis biplot berdasarkan beberapa indikator pendidikan menunjukan ada beberapa provinsi yang mempunyai karakteristik yang sama dan mempunyai nilai besar maupun kecil pada peubah tertentu.

ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Statistika DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Wenny Indriyarti Putri lahir pada tanggal 21 Agustus 1986 di Jakarta. Penulis adalah putri pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Dadang Sudiyarto dan Diah Indrajati. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Anyelir 1 Depok pada tahun 1998. Kemudian menyelesaikan pendidikan menengah di SMPN 2 Depok pada tahun 2001 dan di SMA Perguruan CIKINI Jakarta pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima di Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif dalam Kegiatan Himpunan Keprofesian Gamma Sigma Beta. Selain itu, penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan seperti Matematika Ria dan Statistika Ria. Penulis juga pernah menjadi Asisten Dosen mata kuliah Analisis Data Kategorik dan Pada bulan Februari April 2009, penulis melaksanakan kegiatan Praktek Lapang di Pusat Data dan Informasi Pertanian (PUSDATIN), Departemen Pertanian RI.

KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Karya ilmiah ini berjudul Analisis Terhadap Indikator Indikator yang Mencirikan Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Indonesia. Karya ilmiah ini adalah salah satu syarat kelulusan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains pada Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang berperan serta dalam penyusunan karya ilmiah ini, antara lain: 1. Bapak Dr. Ir. Budi Susetyo, MS dan Ibu Ir. Siti Sofiah, M.Sc selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan memberikan arahan, saran yang sangat bermanfaat bagi penulis serta perhatiannya kepada penulis. 2. Seluruh dosen Departemen Statistika IPB atas segala ilmu yang bermanfaat. 3. Karya ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku, suamiku dan anakku atas segala motivasi, dukungan dan doanya. 4. Irene, Wiwik, Fisca, dan Irfan Bebek atas dukungan, motivasi dan kontribusi yang tak terhingga yaitu pertemanan yang indah...makasih ya guys... 5. teman teman seluruh STK 41 dan adik adik kelas STK 42 dan STK 43. 6. Serta semua pihak yang tidak tertuliskan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Semoga semua amal baik dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT dan semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Depok, Januari 2010 Penulis

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... viii DAFTAR LAMPIRAN... viii PENDAHULUAN Latar Belakang... 1 Tujuan... 1 TINJAUAN PUSTAKA Sekolah Menengah Pertama... 1 Ujian Nasional... 1 Standar Nasional Pendidikan... 2 Analisis Gerombol... 2 Analisis Biplot... 3 METODOLOGI Sumber Data... 4 Metode... 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskripsi Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan... 5 Analisis Gerombol Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan... 6 Analisis Biplot Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan... 8 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan... 9 Saran... 9 DAFTAR PUSTAKA... 10 LAMPIRAN... 11

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Indikator Standar Nasional Pendidikan Beserta Kodenya... 4 Tabel 2. Daftar Anggota Masing Masing Gerombol... 6 Tabel 3. Nilai Rataan Masing Masing Peubah pada Tiap Gerombol... 6 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Indikator Standar Nasional Pendidikan Tahun Ajaran 2007/2008... 12 2. Boxplot Indikator Standar Nasional Pendidikan... 13 3. Matriks Korelasi Antar Peubah... 14 4. Dendogram Hasil Analisis Gerombol Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan... 14 5. Peta Wilayah Hasil Analisis Gerombol... 15 6. Hasil Analisis Biplot Berdasarkan Mata Pelajaran yang Diujiankan... 16 7. Hasil Analisis Biplot Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan... 17

PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bahkan di tahun 2009 ini Pemerintah menaikkan alokasi dana APBN untuk pendidikan menjadi sebesar 20%. Tentunya hal ini ditujukan untuk lebih meningkatkan kembali kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Pendidikan di Indonesia dibagi menjadi beberapa jalur dan jenjang, menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, terdapat tiga yaitu jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, jalur pendidikan nonformal, dan jalur pendidikan informal. Jalur Pendidikan Formal terbagi menjadi tiga jenjang, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah jalur pendidikan formal dengan jenjang pendidikan dasar. Standar Nasional Pendidikan di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005. Di dalam PP tersebut, disebutkan bahwa lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Pra Sarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan sesuai dengan PP tersebut mempunyai fungsi dan tujuan. Fungsi dari Standar Nasional Pendidikan adalah sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sedangkan tujuan dari Standar Nasional Pendidikan adalah menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Standar Nasional Pendidikan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah ternyata masih belum dapat diterapkan sepenuhnya oleh seluruh wilayah di Indonesia. Hal ini ditandai dengan masih bervariasinya terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan antar propinsi di Indonesia. Hal ini bisa jadi dikarenakan oleh keadaan dan kesiapan dari masing-masing propinsi yang berbeda-beda. Bervariasinya Standar Nasional Pendidikan yang dapat dipenuhi tentu saja dapat mempengaruhi output yang dihasilkan oleh propinsi-propinsi tersebut, misalkan saja Nilai Ujian Nasional. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis untuk mengetahui peta antar propinsi dan gambaran umum propinsi-propinsi tersebut berdasarkan indikator - indikator Standar Nasional Pendidikan. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Penggerombolan propinsi-propinsi di Indonesia berdasarkan indikator Standar Nasional Pendidikan. 2. Melihat posisi relatif propinsi-propinsi di Indonesia berdasarkan nilai rataan mata pelajaran yang diujiankan dalam UN dan berdasarkan Indikator Standar Pendidikan Nasional. 3. Mengevaluasi hasil analisis sehingga dapat dijadikan rekomendasi tentang pendidikan di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sekolah Menengah Pertama (SMP), menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia. SMP merupakan pendidikan minimal yang wajib diikuti oleh masyarakat Indonesia, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan wajib belajar pada jalur formal dilaksanakan minimal pada jenjang pendidikan dasar yang meliputi SD, MI, SMP, MTs, dan bentuk lain yang sederajat. Ujian Nasional (UN) Berdasarkan Keputusan Menteri, Nomor 78 Tahun 2008 Pasal 1 Tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah/ Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009, Ujian Nasiolan (UN) adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Standar Nasional Pendidikan Berdasarkan PP No. 19 Tahun 2005, ruang lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi : 1. Standar Isi, yaitu standar nasional yang berkaitan dengan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006. 2. Standar Proses, yaitu standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar Proses diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 41 Tahun 2007. 3. Standar Kompetensi Lulusan, yaitu satndar yang berisi tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006 4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, yaitu standar yang berisi tentang kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikkan diatur lebih lanjut dlaam Permendiknas No. 18 Tahun 2007. 5. Standar Sarana dan Prasarana, yaitu standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal sarana dan prasarana yang mencakup ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar Sarana dan Prasarana diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 24 Tahun 2007. 6. Standar Pengelolaan, yaitu standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar Pengelolaan diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 19 Tahun 2007 7. Standar Pembiayaan, adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. 8. Standar penilaian pendidikan, adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Standar Penilaian Pendidikan diatur lebih lanjut dalam Permendiknas No. 20 Tahun 2007. Analisis Gerombol Tujuan utama dari analisis gerombol adalah untuk menemukan gerombol alamiah dari sekumpulan unit pengamatan dengan harapan keragaman antar unit pengamatan dalam gerombol lebih homogen dibandingkan keragaman antar unit pengamatan yang berbeda gerombol (Jollife 2002). Prinsip dari analisis grombol didasarkan pada ukuran kemiripan (similarities) atau jarak (dissimilarities/ distance) antar unit pengamatan (Johnson & Winchern 2002). Salah satu ukuran jarak yang paling umum dipakai dalam analisis gerombol adalah ukuran jarak euclid yang didefinisikan sebagai berikut : 1/2 2 p d ij = ( X ik X jk )... (1) k= 1 dengan : d ij = jarak antara objek ke-i dan objek ke-j X ik = nilai objek ke-i pada peubah ke-k X jk = nilai objek ke-j pada peubah ke-k p = banyaknya peubah yang diamati Jika satuan pengukuran data tidak sama, maka perlu dilakukan transformasi data awal ke bentuk baku (Z) sebelum jarak antar objek dihitung (Jolliffe, 2002). Pembakuan tersebut berguna untuk mengurangi keragaman akibat perbedaan satuan pengukuran. Jika terjadi korelasi antar peubah yang diamati, maka dapat dilakukan transformasi terhadap data awal dengan melakukan Analisis Komponen Utama (AKU) (Jolliffe, 2002). Akan tetapi, menurut Jolliffe (2002) jarak euclid antara dua pengamatan dengan

atau tanpa transformasi komponen utama akan sama bila seluruh komponen utama digunakan, oleh karena itu AKU tidak digunakan dalam penelitian ini. Cara lain yang dapat ditempuh jika terdapat korelasi antar peubah adalah menggunakan ukuran jarak mahalanobis sebagai ukuran kedekatan, yaitu: d ' 1 ( x, y ) = ( x y ) S ( x y ) i i i i...(2) di mana S adalah matriks ragam peragam contoh. Namun tanpa pengetahuan awal dari gerombol yang ada maka nilai S tidak dapat ditentukan (Johnson & Wichern, 2002). Oleh karena itu maka penggunaan jarak euclid lebih disukai dalam analisis gerombol (Johnson & Wichern, 2002). Menurut Johnson & Winchern (2002) ada dua metode penggerombolan, yaitu: 1. Metode gerombol berhirarki Metode gerombol berhirarki digunakan bila banyaknya gerombol yang akan dibentuk tidak diketahui sebelumnya dan banyaknya amatan tidak besar. 2. Metode gerombol tak-berhirarki. Metode gerombol tak-berhirarki umumnya digunakan bila banyaknya gerombol yang akan dibentuk telah ditentukan jumlahnya dan banyaknya amatan relatif besar. Dalam metode gerombol berhirarki terdapat beberapa metode perbaikan jarak yang dapat digunakan, antara lain metode pautan tunggal, metode pautan lengkap, dan metode pautan rataan (Johnson & Winchern, 2002). Hasil dari metode gerombol dapat digambarkan dalam bentuk diagram pohon yang disebut dendogram (Johnson & Winchern, 2002). Jumlah gerombol yang dihasilkan didapat dari pemotongan dendogram pada saat terjadi lompatan terjauh antar jarak pengabungan atau jarak yang dianggap menghasilkan gerombol yang lebih bermakna. Analisis Biplot Analisis Biplot diperkenalkan oleh Gabriel pada tahun 1971. Pada dasarnya analisis ini merupakan suatu alat statistika yang menyajikan posisi relatif n objek pengamatan dengan p peubah secara simultan dalam dua dimensi. Jollife (2002) mengemukakan dengan analisis biplot dapat dikaji hubungan antara pengamatan dan peubah. Selain itu juga menunjukkan hubungan antar peubah dan kesamaan antar pengamatan. Serta dapat dilihat juga penciri masing masing objek. Konsep Analisis Biplot berdasarkan pada SVD (Singular Value Decomposition). Misalnya data yang digunakan untuk dianalisis berupa matriks X berpangkat r, berukuran nxp (n banyaknya objek dan p banyaknya peubah) yang terkoreksi terhadap rataanya, maka penerapan SVD terhadap matiks X sebagai berikut : X = U L A... (3) Keterangan : U dan A masing masing berukuran nxr dan pxr serta U U = A A = I (Ir = matriks identitas berdimensi r). L adalah matriks diagonal berukuran rxr dengan unsur unsur diagonalnya adalah akar kuadrat dari akar ciri X X sehingga λ1 λ2... λr. Kolom matriks A adalah vektor ciri dari matrik X X Sedangkan lajur lajur matriks U dapat dihitung melalui persamaan : 1 Ui = Χai λi Dengan λ i adalah akar cirri ke-i dari matriks X X dan a i adalah lajur ke-i matriks A (Jollife 2002). Dengan penjabaran persamaan (3) menjadi: X= U L α L 1-α A. (4) untuk 0 α 1. Misalkan G=U L serta H =L 1- A. Hal ini berarti unsur ke-(i,j) matriks X dapat dituliskan sebagai berikut: X ij = g i h j (5) i = 1,2,3,...,n j = 1,2,3,...,p dengan g i dan h j masing-masing merupakan baris-baris matriks G dan H (Jolliffe 2002). Nilai α yang digunakan dapat merupakan nilai sembarang (0 α 1), tetapi pengambilan nilai-nilai ekstrem α=0 dan α=1 akan berguna dalam interpretasi biplot (Jolliffe, 2002). Jika α=0, maka G=U dan H =LA atau H=AL, sehingga diperoleh: X X = (GH ) (GH ) = HG GH = HU UH =HH...(6) (Jolliffe, 2002).

Jarak euclid antara objek pengamatan ke-h dan ke-i dalam biplot akan sebanding dengan jarak mahalanobis antara pengamatan ke-h dan ke-i. Karena X X=HH maka h k h k menggambarkan keragaman peubah ke-k. Karena itu, korelasi antara peubah ke-j dan ke-k ditunjukan oleh nilai kosinus antara vektor h j dan h k (Jolliffe 2002). Pada α=0 menerangkan pereduksian dimensi yang mempertahankan keragaman. Jika α=1, maka G=UL dan H =A atau H=A sehingga diperoleh: XX = (GH )(GH ) = GH HG = GA AG =GG...(7) (Jolliffe 2002). Pada α=1 menerangkan jarak antar objek pengamatan. METODOLOGI Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Nilai Ujian Nasional Tahun Ajaran 2007/2008 dan data Statistik Persekolahan SMP Tahun Ajaran 2007/2008 dengan unit analisisnya adalah seluruh propinsi di Indonesia. Indikator Standar Nasional Pendidikan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. pemilihan indikator didasarkan pada ketersediaan dan kemudahan dalam mencari data tersebut. Tabel 1. Indikator Standar Nasional Pendidikan beserta kodenya Standar Kode Nama Peubah Kompetensi Lulusan Proses Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ujian Nasional : X1 Bahasa Indonesia X2 Bahasa Inggris X3 Matematika X4 IPA X5 Rataan UN X6 Rasio Peserta Didik Per Kelas X7 Rasio Peserta Didik per Guru X8 Persentase Guru Minimal S1 X9 Persentase Kepala Sekolah dengan Masa Kerja 5 tahun Standar Kode Nama Peubah X10 Persentase Ruang Kelas Kondisi Baik Sarana dan Prasarana X11 Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA X12 Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan X13 Persentase Sekolah yang Memiliki Ruang Konseling X14 Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa X15 Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Komputer. Metode Analisis yang akan digunakan pada penilitian ini adalah Analisis Deskriptif, Analisis Gerombol, dan Analisis Biplot. Pada tahap awal dilakukan analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran umum pendidikan di Indonesia. Selanjutnya dilakukan analisis gerombol. Metode yang digunakan adalah metode analisis gerombol berhirarki karena jumlah amatan atau objek yang digunakan relatif kecil (Johnson & Winchern, 2002). Jarak yang digunakan menggunakan jarak euclid dan metode memperbaiki matriks jaraknya adalah metode pautan rataan. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis biplot untuk mengetahui posisi relatif propinsi terhadap peubah yang diamati. Tahapan pembentukkan biplot adalah sebagai berikut : 1) persiapan gugus data yang digunakan (data berukuran nxp). 2) pembentukan matriks data X (gugus data yang dikoreksi terhadap rataan masing-masing peubah). 3) perhitungan akar ciri dan vektor ciri dari matriks X X 4) penjabaran matriks X menjadi X = U L A 5) perhitungan matriks U, L dan A 6) penjabaran matriks X pada langkah 4 menjadi: X = U L α L 1-α A 7) pemisalan G=U L α dan H =L 1-α A 8) perhitungan matriks G dan H, dengan menggunakan α=0 dan α=1.

9) pengambilan 2 kolom pertama dari matriks G sebagai koordinat objek pengamatan dan 2 baris pertama matriks H sebagai koordinat peubah pada hasil perhitungan dengan menggunakan α=0, karena biplot lebih menekankan pada posisi relatif objek atau pengamatan terhadap peubah dan dapat mempertahankan keragaman data. 10) penghitungan keragaman yang dapat diterangkan oleh biplot. Semua tahapan metode yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis menggunakan software Microsoft Excell 2003 dan MINITAB 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskripsi Terhadap Indiktor Standar Nasional Pendidikan Pada tahap awal analisis dilakukan analisis deskripsi untuk mengetahui gambaran umum pendidikan di Indonesia dengan cara membuat tabel dan diagram kotak garis untuk tiap indikator Standar Nasional Pendidikan sehingga memudahkan dalam interpretasinya. Penampilan diagram kotak garis dibedakan berdasarkan lingkup Standar Nasional Pendidikan agar lebih jelas dalam membandingkan antar peubah (Lampiran 2). Tampilan diagram kotak garis yang pertama adalah mengenai peubah dari Standar Kompetensi Lulusan yaitu nilai rataan dari masing-masing mata pelajaran yang diujikan dan juga nilai rataan keseluruhannya. Nilai rataan UN yang paling kecil adalah Propinsi NTT yaitu sebesar 5.00 dengan nilai rataan untuk masing-masing mata pelajaran sebesar 5.93 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, 4.59 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, 4.47 untuk mata pelajaran Matematika, dan 5.03 untuk mata pelajaran IPA (Lampiran 2). Berdasarkan nilai simpangan baku yang diperoleh, yaitu sebesar 0.54, dapat diartikan bahwa keragaman nilai rataan UN antar propinsi di Indonesia kecil atau nilai rataan antar propinsi yang satu dengan yang lainnya tidak berbeda jauh (Lampiran 1). Pada peubah nilai rasio siswa per kelas, didapat nilai rataan yang cukup besar yaitu 35.47. Berdasarkan Permendiknas No.24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana, pemerintah menetapkan bahwa jumlah siswa per kelas maksimum 32 siswa. Standar tersebut di atas adalah standar baru yang ditetapkan oleh pemerintah yang sebelumnya menetapkan jumlah maksimal siswa per kelas adalah 40 orang. Penetapan standar yang baru ini dibarengi dengan pembangunan gedung gedung SMP baru yang masih berlangsung hingga sekarang. Maka nilai rataan yang didapat pada penelitian ini seiring berjalanya waktu akan terus berkurang dengan bertambahnya gedung gedung sekolah baru. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah kurangnya minat masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang SMP sehingga membuat jumlah kelas akan lebih besar dibandingkan dengan jumlah siswanya. Sebaliknya pada peubah nilai rasio siswa per guru yang cukup kecil yaitu sebesar 12.88. hal ini berarti kurang lebih 12 orang siswa ditangani oleh satu guru. Nilai ini juga menunjukkan bahwa di Indonesia memiliki jumlah guru yang cukup memadai. Namun jika dilihat dari nilai simpangan baku yang didapat yaitu sebesar 2.25 maka dapat diartikan bahwa keragaman nilai rasio siswa per guru antar propinsi besar. Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, bahwa kualifikasi guru untuk tingkat SMP minimal S1 dan kualifikasi yang berhak menjadi kepala sekolah adalah yang mempunyai masa kerja sebagai guru 5 tahun. Nilai rataan pada peubah pesentase guru dengan ijazah terakhir minimal S1 cukup besar. Dari total guru di Indonesia yaitu sebesar 595.741 orang, 71.27% diantaranya berpendidikan S1 ke atas. Nilai ini tentu saja belum dapat dikatakan cukup baik karena jika mengacu pada standar yang telah ditetapkan maka seharusnya seluruh guru SMP di Indonesia berpendidikan S1. Berdasarkan nilai simpangan baku yang diperoleh, yaitu sebesar 9.37, dapat diartikan bahwa keragaman nilai peubah X8 antar propinsi besar. Begitu pula dengan nilai rataan peubah persentase kepala sekolah yang masa kerjanya 5 tahun yang hampir mencapai 100%. Dari total kepala sekolah di Indonesia yaitu sebesar 26.137 orang, 98.07% diantaranya memiliki masa kerja 5 tahun. Pada peubah yang mencirikan Standar Sarana dan Prasarana, nilai rataan peubah persentase ruang kelas kondisi baik adalah sebesar 79% (Lampiran 1). Namun nilai ini belum bisa dikatakan baik karena ruang kelas dalam kondisi baik adalah syarat standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Maka dari itu masih diperlukannya peningkatan pembangunan ataupun renovasi di beberapa propinsi yang belum seluruh ruang kelasnya dalam kondisi baik. Sama halnya dengan peubah yang mencirikan Standar Sarana dan Prasarana lainnya (X11- X15), nilai rataan yang dihasilkan masih tergolong kecil. Hal ini dapat dilihat pula dari tampilan diagram kotak garis yang dihasilkan dimana sebagian besar peubahpeubah ini memiliki pencilan atas (Lampiran 3). Nilai simpangan baku yang dihasilkan pada peubah X11 sampai dengan peubah X15 sangat besar. Hal ini menandakan keragam nilai yang besar antar propinsi pada peubah peubah tersebut Analisis Gerombol Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Analisis gerombol yang digunakan pada penilitian ini menggunakan metode berhierarki dengan menggunakan ukuran jarak euclid dan metode perbaikan jaraknya adalah metode pautan rataan. Lampiran 3 menampilkan matrik korelasi antar peubah, antara lain : Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (X1) berkorelasi dengan Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Inggris (X2) (0.391), Peubah Nilai Rataan UN (X5) (0.542), dan peubah Nilai Rataan Rasio Siswa per Guru (X7) (0.356). Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Inggris (X2) berkorelasi dengan Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Matematika (X3) (0.905), Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran IPA (X4) (0.850), Peubah Nilai Rataan UN (X5) (0.945) dan Peubah Persentase Guru dengan Ijazah Terakhir Minimal S1 (X8) (0.382). Peubah Rasio Siswa per Kelas (X6) berkorelasi dengan Peubah Rasio Siswa per Guru (X7( (0.578) dan berkorelasi negatif dengan Peubah Persentase Kepala Sekolah yang Masa Kerjanya 5 tahun (X9) (-0.461). Nilai korelasi antar peubah lainnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Tampilan dendogram yang dapat dilihat pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa propinsi propinsi di Indonesia terbagi menjadi 5 gerombol berdasarkan indikator indikator dari Standar Nasional Pendidikan. Pemotongan dendogram dilakukan secara subjektif berdasarkan kepentingan penelitian. Tabel 2. Daftar Anggota Masing Masing Gerombol. Gerombol No Propinsi 1 DKI Jakarta 1 2 Jawa Barat 6 Jawa Timur 4 Jawa Tengah 2 5 DI Yogyakarta 3 Banten 8 Sumatera Utara 16 Lampung 10 Riau 17 Kalimantan Barat 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 3 4 5 7 Nanggroe Aceh Darussalam 15 Bengkulu 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 20 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Selatan 26 Sulawesi Tenggara 18 Kalimantan Tengah 29 Bali 9 Sumatera Barat 11 Kepulauan Riau 14 Bangka Belitung 23 Sulawesi Tengah 25 Sulawesi Barat 19 Kalimantan Selatan 27 Maluku 28 Maluku Utara 33 Papupa Barat 31 Nusa Tenggara Timur 32 Papua 30 Nusa Tenggara Barat Hasil Analisis Gerombol juga dapat dilihat dalam bentuk peta wilayah pada Lampiran 5. Nilai Rataan masing masing peubah pada tiap gerombol dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Nilai Rataan Masing Masing Peubah pada Tiap Gerombol. Gerombol Peubah 1 2 3 4 5 X1 7.47 7.86 6.58 6.17 6.07 X2 7.00 6.56 6.83 5.85 5.90 X3 6.91 6.18 6.59 5.88 5.86 X4 7.19 6.30 7.06 6.55 6.10 X5 7.14 6.72 6.77 6.12 5.98 X6 37.41 36.10 36.60 33.16 33.36 X7 15.66 12.09 12.60 13.26 12.55 X8 80.61 75.51 75.70 76.48 64.87 X9 95.71 99.02 97.54 99.03 98.81 X10 82.85 82.00 78.42 70.80 77.68 X11 57.94 77.83 45.22 75.50 17.99

X12 74.82 97.11 59.21 40.69 40.98 X13 50.50 89.40 24.75 11.33 13.95 X14 12.98 6.02 4.28 12.12 2.72 X15 56.50 52.29 17.34 14.04 5.07 Gerombol 1 Gerombol 1 terdiri dari empat Propinsi (Tabel 3). Jika dilihat secara geografis, anggota gerombol ini semuanya berada di Pulau Jawa. Karakteristik pertama dari gerombol ini adalah Nilai Rataan UN (X5) yang paling tinggi dibandingkan dengan gerombol lain, yaitu sebesar 7.14 dan nilai rataan pada masing masing mata pelajaran pun tergolong tinggi dibandingkan dengan gerombol lain kecuali untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakteristik lain dari gerombol ini adalah nilai rataan pada Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11) yang menempati urutan kedua terbawah. Nilai ini justru berbanding terbalik dengan tingginya nilai rataan UN yang didapat oleh gerombol ini. Hal ini berarti keberadaan Lab. IPA tidak berpengaruh langsung terhadap dengan nilai UN yang dihasilkan para siswa. Salah satu peubah yang mungkin berpengaruh langsung terhadap tingginya nilai UN yang didapat oleh gerombol ini adalah jumlah guru yang memiliki pendidikan terakhir minimal S1. Nilai rataan yang diperoleh gerombol 1 pada peubah X8 ini adalah sebesar 80.61%. Nilai ini juga merupakan nilai yang paling tinggi di antara gerombol yang lainnya. Nilai rataan pada Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa (X14) juga sangat kecil yaitu sebesar 12.98% (Tabel 4). Walaupun nilai ini adalah yang paling besar dibandingkan dengan gerombol lain, tetap saja harus diberikan perhatian khusus pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang diujiankan dalam Ujian Nasional. Maka dari itu ketersediaan Lab. Bahasa menjadi penting untuk dapat membantu para siswa lebih memahami pelajaran. Gerombol 2 Gerombol 2 hanya terdiri dari satu propinsi yaitu Propinsi DI. Yogyakarta. Secara keseluruhan nilai rataan UN (X5) di Propinsi DI. Yogyakarta menempati urutan ketiga dibandingkan dengan gerombol lain, namun yang membuatnya berbeda adalah nilai rataan mata pelajaran Bahasa Indonesaia (X1) yang paling tinggi dibandingkan gerombol lain yaitu sebesar 7.85 (Tabel 4). Ciri lain dari gerombol ini adalah besarnya nilai rataan pada Pada Peubah Persentase Kepala Sekolah yang Masa Kerjanya 5 tahun (X9). Walaupun gerombol lain juga memiliki persentase sampai dengan 90%, tetapi masih lebih kecil dibandingkan dengan Propinsi DI. Yogyakarta yang memiliki persentase sebesar 99.02% (Tabel 4). Ciri lainnya dari gerombol ini adalah nilai rataan pada peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11), Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan (X12), dan Persentase Sekolah yang Memiliki Ruang BP/BK (X13) yang paling besar dibandingkan dengan gerombol yang lainnya. Nilai yang diperoleh oleh gerombol 2 ini secara berurutan adalah sebesar 77.83%, 97.11%, dan 89.40%. Gerombol 3 Gerombol 3 memiliki jumlah anggota yang paling banyak yaitu 19 Propinsi (Tabel 3). Jika dilihat secara geografis, anggota gerombol ini terdiri dari Propinsi di seluruh Pulau Sumatera, sebagian Pulau Jawa (Banten), sebagian Pulau Kalimantan dan Sebagian Pulau Sulawesi. Ciri pertama dari gerombol ini adalah nilai rataan pada Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa (X14) yang terkecil kedua yaitu sebesar 4.28% (Tabel 4). Sama halnya dengan gerombol 1 bahwa hal ini perlu menjadi perhatian khusus dalam meningkatkan fasilitas sekolah di Indonesia. Ciri lain dari gerombol ini adalah rendahnya nilai pada peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11) (45.22) dan Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa (X14) (4.28). namun hal ini dapat dilihat tidak mempengaruhi proses belajar mengajar terbukti dengan gerombol ini memiliki nilai yang terbesar kedua setelah gerombol 1 pada Peubah Nilai Rataan Pelajaran Bahasa Inggris (X2) (6.83), Nilai Rataan Pelajaran Matematika (X3) (6.59), Nilai Rataan Pelajaran IPA (X4) (7.06), dan Nilai Rataan UN (X5) (6.77). Gerombol 4 Gerombol 4 terdiri dari dua propinsi yang keduanya berada di Pulau Sulawesi yaitu Propinsi Sulawesi Tengah dan Propinsi Sulawesi Barat (Tabel 3).

Ciri dari gerombol ini antara lain adalah kecilnya nilai rataan pada Peubah Mata Pelajaran Bahasa Inggris (X2) dibandingkan gerombol yang lain, yaitu sebesar 5.85. ciri lain adalah nilai rataan pada Peubah Rasio Siswa per Kelas (X6) yang juga paling kecil dibandingkan dengan gerombol lain yaitu sebesar 33.16. nilai rataan ini justru menandakan hal yang cukup baik karena sudah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah yaitu maksimum 32 siswa per kelas. Namun hal ini tetap harus dikaji ulang apakah di Propinsi tersebut memang mempunyai jumlah ruang kelas yang memadai atau tingkat partisipasi masyarakatnya yang rendah. Ciri lain dari gerombol ini adalah memiliki nilai yang terbesar kedua pada peubah Persentase Guru dengan Ijazah Terakhir Minimal S1 (X8) (76.48) dan pada peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11) (75.50). Hal ini cukup menarik perhatian mengingat nilai Rataan UN yang diperoleh gerombol ini merupakan yang terendah kedua. Hal ini membuktikan bahwa ketersediaan fasilitas yang lengkap pun tidak menjamin 100% perubahan nilai pada UN. Sedangkan faktor yang cukup peting adalah kualitas guru tersebut. Jika guru yang tersedia tidak dapat mengoperasikan atau menggunakan fasilitas yang sudah disediakan, maka adanya fasilitas tersebut akan menjadi percuma. Gerombol 5 Gerombol 5 terdiri dari tujuh propinsi yang semuanya berada di bagian timur Indonesia (Tabel 3). Karakteristik yang terlihat dari gerombol ini adalah hampir seluruh nilai rataan pada masing masing peubahnya merupakan nilai yang paling kecil dibandingkan dengan gerombol lain, antara lain pada Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (X1), Peubah Nilai Rataan Pelajaran Matematika (X3), Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran IPA (X4), Peubah Nilai Rataan UN (X5), Peubah Persentase Guru dengan Ijazah Terakhir Minimal S1 (X8), Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11), Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab Bahasa (X14) dan Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Komputer (X15). Analisis Biplot Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Analisis Biplot yang dilakukan pada penelitian ini dipisahkan menjadi dua bagian yaitu analisis Biplot berdasarkan mata pelajaran yang diujiankan dalam UN dan analisis Biplot berdasarkan indikator Standar Nasional Pendidikan lainnya (selain mata pelajaran). Hal ini dilakukan supaya hasil yang didapat lebih spesifik dan lebih jelas dalam menginterpretasikan. Hasil analisis Biplot berdasarkan mata pelajaran yang diujiankan dalam UN dapat dilihat pada Lampiran 6. Keragaman data yang mampu dijelaskan oleh Biplot pada Lampiran 6 adalah sebesar 93%. Informasi yang dapat diambil dari Biplot ini adalah kesamaan karakteristik antar propinsi berdasarkan mata pelajaran, sebagai berikut: 1. Propinsi Bali, Sulawesi Barat dan Banten mempunyai kesamaan karakteristikin yaitu mempunyai nilai rataan yang besar pada Pelajaran IPA. Hal ini dilihat dari posisi propinsi propinsi tersebut yang berdekatan dan searah dengan Peubah Mata Pelajaran IPA. Sedangkan Propinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta dan Kepulauan Riau memiliki nilai rataan yang kecil pada Pelajaran IPA. Hal ini dilihat dari posisi propinsi propinsi tersebut yang berjauhan dan berlawanan arah dengan Peubah Mata Pelajaran IPA. 2. Propinsi Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, dan NTT memiliki nilai rataan yang besar pada Pelajaran Bahasa Indonesia. 3. Propinsi Gorontalo, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Riau dan Kalimantan Timur mempunyai nilai yang besar pada Pelajaran Bahasa Inggris. 4. Propinsi NAD, Jambi dan Maluku memiliki nilai yang tinggi pada Pelajaran Matematika. Hasil Analisis Biplot berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 7. Keragaman yang dapat dijelaskan oleh Biplot pada Lampiran 7 ini adalah sebesar 72%. Informasi yang didapat dari hasil Biplot ini adalah sebagai berikut : 1. Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bangka Belitung, dan DKI Jakarta memiliki nilai yang tinggi pada Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Ruang BP/BK (X13) dan pada Peubah

Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Komputer (X15). Hal ini dilihat dari posisi propinsi propinsi tersebut yag berdekatan dan searah dengan peubah X13 dan X15. Namun sebaliknya, propinsi propinsi ini memiliki nilai yang kecil pada Peubah Persentase Guru dengan Ijazah Minimal S1 (X8), Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa dan Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Hal ini dilihat dari posisi propinsi propinsi tersebut yang berjauhan dan berlawanan arah dengan peubah X8, X14 dan X2. 2. Propinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Sumatera Selatan memiliki nilai yang tinggi pada Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan (X12) dan dengan Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11). Sebaliknya, propinsi propinsi ini memiliki nilai yang kecil pada Peubah Persentase Ruang Kelas Kondisi Baik (X10), Peubah Nilai Rasio Siswa per Kelas (X6) dan Peubah Nilai Rasio Siswa per Guru (X7). 3. Propinsi Papua, NTT, NTB, Maluku Utara dan Papua Barat memiliki nilai yang tinggi pada Peubah Persentase Ruang Kelas Kondisi Baik (X10) dan Peubah Nilai Rasio Siswa per Kelas (X6) 4. Propinsi Kalimantan Barat, Bengkulu, Gorontalo, Maluku, Lampung, dan Sulawesi Utara memiliki nilai yang tinggi pada Peubah Nilai Rasio Siswa per Guru (X7), Peubah Rataan Ujian Nasional (X5). Peubah Persentase Kepala Sekolah yang Masa Kerjanya 5 tahun (X9), Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Komputer (X14) dan Peubah Persentase Guru dengan Ijazah Terakhir Minimal S1 (X8). Informasi lain yang dapat kita peroleh dari hasil analisis Biplot adalah adanya korelasi antar peubah. Hal ini dapat dilihat dari sudut yang terbentuk oleh vektor vektor peubah tersebut, antara lain : 1. Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (X1) berkorelasi dengan Peubah Nilai Rataan Bahasa Inggris (X2). 2. Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11) berkorelasi dengan Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan (X12) dan dengan Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Ruang BP/BK (X13). 3. Peubah Persentase Kepala Sekolah yang Masa Kerjanya 5 tahun (X9) berkorelasi dengan Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Komputer (X15). Panjang vektor yang terbentuk juga dapat memberikan informasi mengenai keragaman di dalam peubah tersebut. Semakin panjang vektor yang terbentuk maka semakin besar pula nilai keragaman pada peubah tersebut. Dalam hal ini berarti Peubah Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA (X11) dan Peubah Nilai Rataan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (X1) memiliki nilai keragam yang paling besar dibandingkan dengan peubah yang lainnya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Pendidikan di Indonesia masih memerlukan perhatian khusus berkaitan dengan masih belum meratanya pembangunan pendidikan, khususnya dalam peningkatan kualitas guru serta dalam hal penyediaan prasarana. Dalam peningkatan kualitas guru, perlu memberikan kesempatan kepada semua guru atau calon guru agar minimal berpendidikan S1. Dari hasil analisis gerombol dapat dilihat bahwa propinsi propinsi di Indonesia terbagi menjadi 5 gerombol. Masing masing gerombol memiliki karakteristik yang berbeda beda terutama dalam hal masih tidak meratanya pembangunan dalam bidang pendidikan, yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan nilai rataan masing-masing peubah pada gerombol yang secara geografis berada di wilayah barat, tengah dan timur Indonesia. Hasil analisis biplot berdasarkan beberapa indikator pendidikan menunjukan ada beberapa provinsi yang mempunyai karakteristik yang sama dan mempunyai nilai besar maupun kecil pada peubah tertentu. Saran Pemerintah pusat masih perlu mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan komitmen dan kinerjanya dalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan, khususnya di daerah yang masih jauh tertinggal. Kenaikan anggaran

pemerintah daerah untuk bidang pendidikan perlu dibarengi dengan penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan proses belajar mengajar yang diharapkan. Penelitian ini hanya menggunakan sedikit dari banyak indikator yang dapat mencirikan pendidikan di Indonesia, sehingga untuk memberikan gambaran yang lebih akurat dan hasilnya dapat ditindaklanjuti, perlu adanya penambahan indikator indikator lain. Selain itu untuk mendapatkan hasil yang lebih spesifik akan sangat berguna jika unit analisis yang digunakan lebih mikro, misal pada tingkat kecamatan atau bahkan tingkat sekolah. DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. 2008. Perkembangan Nilai Ujian Nasional Tahun Ajaran 2004/2005 sampai dengan 2007/2008. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Depdiknas, Jakarta. -------------. 2008. Statistik Persekolahan SMP 2007/2008. Pusat Statistik Pendidikan Depdiknas, Jakarta. Johnson, R. A. & D. W. Wichern. 2002. Applied Multivariate Statistical Analysis. Fifth Edition. Prentice Hall, New Jersey. Jolliffe, I. T. 2002. Principal Component Analysis. Second Edition. Springer- Verlag, New York. Indonesia. 2003. Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. ------------. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta. Indonesia. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta. ------------. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta. ------------. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2007 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jakarta. ------------. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana. Jakarta. ------------. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan. Jakarta. ------------. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta. Sartono, Bagus, dkk. 2003. Modul Teori Analisis Peubah Ganda. Bogor : Departemen Statistika, Institut Pertanian Bogor. ------------. 2005. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. ------------. 2008. Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Jakarta. ------------. 2008. Keputusan Menteri No. 78 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah/ Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/ SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009. Jakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 2. Boxplot Indikator Standar Nasional Pendidikan Rataan Rasio Boxplot Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (Ujian Nasional) 9 8 7 6 5 Nilai Rataan B.Indonesia Nilai Rataan B. Inggris Nilai Rataan MTK Nilai Rataan IPA Nilai Rataan UN 4 45 40 35 30 25 20 15 10 Boxplot Berdasarkan Standar Proses Rasio Siswa per Kelas Rasio Siswa per Guru % Sekolah Memiliki Lab IPA % Ruang Kelas Kondisi Baik % Sekolah Memiliki Lab. Kompute % Sekolah Memiliki Lab. Bahasa % Sekolah Memiliki Ruang BP % Sekolah Memiliki Perpus 100 90 80 70 Persentase Persentase Boxplot Berdasarkan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 60 50 % Guru dgn Ijazah Min. S1 % KepSek Yg Masa Kerja >= 5 thn Boxplot Berdasarkan Standar Sarana dan Pra Sarana 100 80 60 40 20 0

Lampiran 3. Matriks Korelasi Antar Peubah X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X2 0.391 X3 0.254 0.905 X4 0.337 0.850 0.907 X5 0.542 0.945 0.933 0.933 X6 0.313-0.067-0.168-0.045-0.014 X7 0.371-0.126-0.233-0.189-0.082 0.578 X8 0.356 0.382 0.333 0.383 0.424 0.057 0.076 X9-0.394-0.061 0.160 0.088-0.033-0.461-0.626-0.086 X10 0.476 0.371 0.181 0.093 0.313 0.039 0.073 0.158-0.332 X11 0.455 0.134-0.008 0.078 0.170 0.023 0.273 0.357-0.255 0.151 X12 0.639 0.308 0.171 0.144 0.346 0.161 0.304 0.360-0.270 0.403 0.647 X13 0.769 0.143 0.022 0.081 0.259 0.370 0.372 0.332-0.435 0.311 0.495 0.701 X14 0.449 0.194 0.172 0.196 0.282 0.086 0.392 0.475-0.307 0.119 0.508 0.287 0.374 X15 0.800 0.236 0.113 0.124 0.338 0.292 0.583 0.374-0.575 0.420 0.574 0.682 0.788 0.664 Lampiran 4. Dendogram Hasil Analisis Gerombol Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Dendrogram with Average Linkage and Euclidean Distance 77.60 Distance 51.74 25.87 0.00 1 2 6 4 5 3 8 16 10 17 21 22 7 15 12 13 20 24 26 18 29 9 11 14 23 25 19 27 28 33 31 32 30 Observations

Lampiran 5. Peta Wilayah Hasil Analisis Gerombol

Lampiran 6. Hasil Analisis Biplot Berdasarkan Mata Pelajatan yang Diujikan 1 X4 0.8 0.6 Keterangan : X1 = Nilai Rataan Pelajaran Bahasa Indonesia X2 = Nilai Rataan Pelajaran Bahasa Inggris X3 = Nilai Rataan Pelajaran Matematika X4 = Nilai Rataan Pelajaran IPA Bali 0.4 Sulbar Kalsel Sulteng Sumbar 0.2 Lampung NTT Jateng Jatim Maluku Papua Sulut Bengkulu Jambi Banten X1 0 Balbel Kalbar -1 Papua Barat X3-0.5 NAD Sumut Jabar 0Kalteng 0.5 1 1.5 2 Sutra Maluku Sulsel Utara NTB Kaltim DKI -0.2 Sumsel Riau DIY Gorontalo -0.4-0.6 Kep.Riau X2-0.8-1

Lampiran 7. Hasil Analisis Biplot Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan 6 X13 4 Keterangan : X5 = Rataan Ujian Nasional X6 = Nilai Rasio Siswa per Kelas X7 = Nilai Rasio Siswa per Guru X8 = Persentase Guru Dengan Ijazah Terakhir Minimal S1 X9 = Persentase Kepala Sekolah yang Masa Kerjanya >= 5 Tahun X15 NTB Kalsel 2 Jateng Jabar Balbel Bali NTT Papua DIY Jatim Banten Papua Maluku Barat Utara X10 X6-8 -6 DKI Sumut X7 Bengkulu Kalbar 0 X5 Gorontalo X14 X9-4 -2 Sumsel 0 Lampung Sulut KaltimRiau Maluku X82 4 X12 Kalteng Kep.RiauJambi 6 NAD Sumbar -2 Sutra Sulsel Sulbar -4 Sulteng X11-6 -8 Keterangan : X10 = Persentase Ruang Kelas Kondisi Baik X11 = Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. IPA X12 = Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan X13 = Persentase Sekolah yang memiliki Ruang BP/BK X14 = Persentase Sekolah yang Memiliki Lab. Bahasa X15 = Persentase Sekolah yang memiliki Lab Komputer