Oleh : Dian Astriani

dokumen-dokumen yang mirip
ILMU HAMA, PENYAKIT DAN GULMA. Pokok Bahasan Konsep Pengelolaan Hama

ILMU HAMA, PENYAKIT DAN GULMA. Pokok Bahasan. Konsep Hama

EVALUASI DAN ANALISIS KEHILANGAN HASIL AKIBAT SERANGAN PENGGEREK BUAH KAKAO, Conopomorpha cramerella (SNELLEN) DI SUBAK ABIAN TUNAS MEKAR

Ambang Ekonomi. Dr. Akhmad Rizali. Strategi pengendalian hama: keuntungan dan resiko Resiko aplikasi pestisida

POKOK BAHASAN KERUSAKAN AKIBAT HAMA

Tingkat Kerusakan Ekonomi Hama Kepik Coklat pada Kedelai

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tanaman akan tumbuh subur dengan seizin Allah SWT. Jika Allah tidak

Kepik punggung bergaris merupakan salah satu

doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

PRINSIP AGRONOMIK BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH. 15/04/2013

Pengertian dan Arti Penting Perlindungan Tanaman

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda

NOCTUIDAE) PADA BAWANG MERAH DI DATARAN TINGGI. Rudi Hartono, Novri Nelly, Reflinaldon

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober Januari 2014 di

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Seperti yang dijelaskan Sudaryanto dan Swastika (2007), bahwa

1) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan 2) Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor ABSTRAK

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah ( S. coarctata

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

MENGIDENTIFIKASI dan MENGENDALIAN HAMA WERENG PADA PADI. Oleh : M Mundir BP3KK Nglegok

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

PETUNJUK PENGAMATAN OPT PERKEBUNAN

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial

Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu

Peran Varietas Tahan dalam PHT. Stabilitas Agroekosistem

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang cukup strategis di. Indonesia. Komoditas kopi memberikan kontribusi untuk menopang

Memahami Konsep Perkembangan OPT

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PENANGKARAN BENIH PADI BERSERTIFIKAT PADA PETANI MITRA DAN NON MITRA

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

HASIL DAN PEMBAHASAN

EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2):

PENDAHULUAN. telah ditanam di Jepang, India dan China sejak dulu. Ratusan varietas telah

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Hama pada Pertanaman Edamame Hama Edamame pada Fase Vegetatif dan Generatif

TEKNIK PENGELOLAAN HAMA OLEH SUHARA JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOI FPMIPA UPI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terpadat di

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di

I. PENDAHULUAN. Padi sawah (Oryza sativa L.) merupakan salah satu komoditas andalan Provinsi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pengendalian hama tanaman merupakan salah satu faktor yang menentukan

I. TOLAK PIKIR PERLINDUNGAN TANAMAN

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

PROYEKSI PERMINTAAN KEDELAI DI KOTA SURAKARTA

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

Mengenal Tikus Sawah

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PENGARUH TANAMAN PENUTUP TANAH TERHADAP SERANGAN PENGGEREK POLONG

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indra Sukarno Putra, 2013

X. ANALISIS KELAYAKAN USAHA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

Jurnal Agrikultura Volume 19, Nomor 3, Tahun 2008 ISSN

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU

I. PENDAHULUAN. ketersediaan beras di suatu daerah. Salah satu hal yang mempengaruhi

III. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN

EKSISTENSI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI PADA TINGKAT PETANI DI SULAWESI TENGAH

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

(HEMIPTERA: MIRIDAE) TERHADAP HAMA WERENG BATANG COKELAT

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya

I. PENDAHULUAN. Kacang tanah diperkirakan masuk ke Indonesia antara tahun Namun

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1.

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... iii. ABSTRACT... iv RIWAYAT HIDUP... KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI...

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU BENIH. Faktor Genetik/ Faktor Lingkungan/ Eksternal

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN

BAB 1 PENDAHULUAN. Provinsi Daerah Tingkat (dati) I Sumatera Utara, terletak antara 1-4 Lintang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode peramalan adalah suatu cara memperkirakan atau memprediksikan apa yang

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA LEBAK

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

AGROEKOSISTEM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

BAB I PENDAHULUAN. diolah menjadi makanan seperti kue, camilan, dan minyak goreng. kacang tanah dari Negara lain (BPS, 2012).

Transkripsi:

Oleh : Dian Astriani

Pemantauan Populasi Hama di lahan Aras Keputusan Pengendalian Tercapai Pengendalian secara ekonomik dapat dipertanggungjawabkan

Jumlah individu hama per satuan atau per unit sampel, exp : 5 ekor wereng / rumpun Prosentase atau intensitas serangan, exp : 10% kerusakan anakan sebelum berbunga karena PBP.

Perubahan fisiologis Kerusakan tanaman (Biologi) Penurunan hasil (Ekonomi) Aras Ekonomi dalam pengendalian menghubungkan parameter biologi dan ekonomi

Muncul dan berkembang karena adanya kecenderungan penggunaan pestisida berlebihan : - Sistem penyemprotan berjadwal - Tujuan preventif Tidak efisien (ekonomis) & beresiko terhadap kualitas lingkungan (ekologis).

Pada aras populasi berapakah serangan hama dianggap merusak? Pada aras populasi berapakah pengendalian dengan pestisida perlu dilakukan? Salah satu pendorong munculnya Konsep Aras Ekonomik

Dalam Konsep Aras Ekonomik terdapat : * Konsep Kerusakan Ekonomik (Economic Damage) * Konsep Aras Luka Ekonomik (Economic Injury Level) * Konsep Ambang Ekonomik (Economic Threshold)

Luka (Injury) : Setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan hama. Kerusakan (Damage) : Kehilangan yang dirasakan oleh tanaman akibat serangan hama, a.l. dalam bentuk penurunan kuantitas & kualitas.

Tingkatan kerusakan tanaman akibat serangan hama yang membenarkan adanya pengeluaran biaya untuk tindakan pengendalian secara buatan (pestisida). Biaya pengendalian yang dikeluarkan = Nilai kehilangan hasil potensial yang dapat diselamatkan oleh usaha pengendalian tersebut.

Kepadatan populasi hama terendah yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomik. Konsep ALE (Stern) menurut Numford & Norton (1982) : merupakan titik impas dalam pengendalian hama (Break - even Concept).

Diperoleh Keuntungan Penyemprotan pestisida ALE Titik Impas (tercapai Kerusakan ekonomik) Penyemprotan pestisida Diperoleh Kerugian

Berat kehilangan hasil potensial (Penurunan hasil akibat serangan hama) (dalam satuan berat) X Harga produksi (Rp / satuan berat)

Nilai Kehilangan Hasil (Rp) = Biaya Pengendalian (Rp / ha) Nilai kehilangan hasil potensial yang terjadi pada titik impas disebut Ambang Pendapatan (Gain Thershold)

Ambang Pendapatan (ton / ha) : Biaya Pengelolaan (Rp / ha) ------------------------------------------ Harga Produk (Rp / ton)

1. ALE berada pada aras populasi dimana nilai kehilangan hasil yang dapat diselamatkan (NKH) = Biaya pengendalian (B) 2. NKH = H x BKH H : Harga produksi (Rp/kg) BKH : Berat Kehilangan Hasil tanaman karena adanya populasi tersebut (kg/ha)

3. BKH = P x L x R P : Kepadatan populasi hama (populasi hama/ha) L : Besarnya luka tanaman per individu hama (% defoliasi) R : Berat kerusakan tanaman per unit luka tanaman (misal : pengurangan berat tanaman per % defoliasi)

Jadi NKH = H x P x L x R 4. ALE terjadi pada waktu NKH = B, Sehingga diperoleh persamaan : NKH = B = H x P x L x R ALE merupakan aras populasi sehingga ALE P.

Jadi dari persamaan tersebut dapat diperoleh nilai ALE sebagai berikut : B ALE = ---------------- H x L x R P pada titik impas adalah ALE

5. Apabila tindakan pengendalian hama yang dilakukan tidak dapat menekan kehilangan hasil sepenuhnya (100%) tetapi hanya 90% atau 0,9 dalam perhitungan perlu dimasukkan faktor koreksi (K) sehingga : B ALE = -------------------- H x L x R x K 6. Untuk beberapa jenis hama terutama yang mempunyai alat mulut penghisap tidak dapat dibedakan antara L (luka) dan R (kerusakan atau kehilangan hasil) karena kedua variabel ini untuk kelompok hama tersebut sulit untuk diukur.

Untuk menghitung besarnya penurunan hasil dapat digunakan metode regresi linier dengan menghubungkan jumlah serangga dan hasil. Y = a + bx Y = hasil per ha a = konstanta (intersep y) b = kehilangan hasil per serangga hama x = jumlah hama / daerah

Maka dapat diperoleh nilai kehilangan hasil per individu hama, rumus ALE berubah menjadi : B B ALE = P = ----------- atau --------------- H x b H x b x K Cara tersebut merupakan generalisasi perhitungan ALE.

Kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah terjadinya peningkatan populasi yang dapat mencapai ALE AE merupakan Aras Keputusan Tindakan Pengendalian, jadi : AE = Ambang Tindakan = Ambang Pengendalian Ambang Ekonomi (AE) letaknya di bawah Aras Luka Ekonomi (ALE) Pertimbangan ekonomik ALE Segi operasional AE Penetapan AE harus didasarkan pada penetapan ALE

Perkiraan letak AE di bawah ALE antara lain dipengaruhi oleh laju kecepatan peningkatan populasi hama Sehingga semakin cepat laju peningkatan populasi hama akan semakin jauh letak AE di bawah ALE

Nilai ALE bukan nilai yang statik atau tetap berlaku untuk semua tempat dan waktu tetapi bersifat dinamik sesuai dinamika pertumbuhan tanaman, pola tanam, keadaan cuaca, keadaan sosial ekonomi, dan lain-lain. Nilai ALE selalu dievaluasi dan dihitung kembali sesuai dengan perubahan yang terjadi.

B Ambang Pendapatan ALE = ------------- = ------------------------ H x b Hasil Hilang per Hama Jadi pada dasarnya perhitungan ALE hanya Meliputi 3 langkah pokok yaitu : 1. Menaksir besarnya kehilangan hasil per individu hama. 2. Menetapkan besarnya Ambang Pendapatan 3. Menghitung ALE

Perhitungan ALE hama wereng kentang Empoasca fabae yang menyerang tanaman kedelai di AS. 1. Menaksir besarnya kehilangan hasil per individu hama. Untuk menduga besarnya kerusakan tanaman kedelai per individu wereng dibuat petak-petak tanaman kedelai yang ditutupi dengan kasa kemudian pada setiap petak diinfestasikan dengan berbagai kepadatan populasi wereng.

Infestasi wereng dilakukan pada tiga tingkat tumbuh tanaman kedelai yaitu pada awal stadium vegetatif, pada awal pembungaan dan pada awal pengisian polong. Setelah panen, hasil pada setiap petak ditimbang. Diperoleh garis regresi yang menghubungkan antara kepadatan populasi wereng dan hasil kedelai.

Awal Stadium Vegetatif (Y=71.94-1.55X) 60 Hasil (bu/acre) 50 40 30 20 10 0 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman

Hasil Kedelai (bu/acre) 68 66 64 62 60 58 Awal Pembungaan 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman

Hasil Kedelai (bu/acre) 72 71,5 71 70,5 70 69,5 69 68,5 68 Awal Pengisian Polong 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman

Awal stadium vegetatif : Y = 71,94 1,55 X Awal pembungaan : Y = 69,17 0,17 X Awal pengisian polong : Y = 72,58 0,08 X Dari nilai konstanta b ketiga persamaan tersebut diperoleh taksiran kehilangan hasil kedelai per individu wereng, yaitu : Awal stadium vegetatif = 1,55 bushel/acre Awal pembungaan = 0,17 bushel/acre Awal pengisian polong = 0,08 bushel/acre

Diketahui Biaya pengendalian (B) menghabiskan satu pound malathion dengan penyemprotan udara, total biaya adalah $ 9,50/acre. Diperkirakan hasil kedelai pada masa panen nanti harganya adalah $ 4,15/bushel. Jadi Ambang Pendapatan : $ 9,50/acre $4,15/bushel : 2,29bushel/acre

Karena nilai b pada tiga stadium / fase tumbuh tanaman berlainan maka ada nilai ALE untuk masing-masing fase : ALE pada awal fase vegetatif : < > 2,29 / 1,55 = 1,48 ~ 2 wereng / tnm ALE pada awal pembungaan : < > 2,29 / 0,17 = 13,47 ~ 14 wereng/tnm ALE pada awal pengisian polong : < > 2,29 / 0,08 = 28,63 ~ 29 wereng/tnm

Dari perhitungan tersebut dapat ditetapkan nilai AE atau Ambang Ekonomi / Ambang Pengendalian yang nilainya dapat sebesar nilai ALE atau dapat menggunakan 75% dari nilai ALE yang ditentukan sebagai pendugaan konservatif terhadap pengaruh dinamika populasi wereng.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ALE : A. Faktor Primer : 1. Harga produksi 2. Biaya pengendalian hama Harga produksi Biaya pengendalian 600 400 200 0 50 0 10 20 30 40 50 ALE 0 20 30 40 ALE

3. Potensi Merusak * Berdasarkan bagian tanaman yang diserang, hama dapat dikelompokkan menjadi hama langsung dan hama tidak langsung. * Nilai ALE kelompok hama langsung lebih rendah daripada kelompok hama tidak langsung.

4. Tingkat kepekaan tanaman terhadap luka Kepekaan tanaman terhadap luka dan kerusakan oleh hama berbeda-beda dipengaruhi antara lain oleh : a. Tingkat tumbuh tanaman, sehingga ALE dan AE berbeda pada fase tumbuh yang beda. b. Bagian tanaman yang dilukai, bentuk luka dan intensitas pelukaan. Kepekaan terhadap hama bagian tanaman yang dipasarkan dikonsumsi lebih tinggi daripada bagian tanaman yang lain.

B. Faktor Sekunder Yang termasuk faktor sekunder adalah faktorfaktor yang langsung mempengaruhi ke empat faktor primer. Misalnya : kepadatan populasi hama yang mempengaruhi besarnya luka tanaman ; harga pestisida yang mempengaruhi biaya pengendalian hama, dll. C. Faktor Tersier Faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi faktor primer, seperti cuaca, keadaan tanah, keadaan sosial ekonomi masyarakat, dll.

Carilah contoh-contoh ambang ekonomi beberapa jenis hama pada komoditas tertentu, dan sejauh mana aplikasinya buatlah ulasannya. Setiap mahasiswa mencari 2 contoh AE Tulis ulasan saudara pada lembar folio dengan ditulis tangan dan jangan lupa mencantumkan sumber pustaka dan daftar pustakanya. Kumpulkan minggu depan saat perkuliahan berikutnya.