Oleh : Dian Astriani
Pemantauan Populasi Hama di lahan Aras Keputusan Pengendalian Tercapai Pengendalian secara ekonomik dapat dipertanggungjawabkan
Jumlah individu hama per satuan atau per unit sampel, exp : 5 ekor wereng / rumpun Prosentase atau intensitas serangan, exp : 10% kerusakan anakan sebelum berbunga karena PBP.
Perubahan fisiologis Kerusakan tanaman (Biologi) Penurunan hasil (Ekonomi) Aras Ekonomi dalam pengendalian menghubungkan parameter biologi dan ekonomi
Muncul dan berkembang karena adanya kecenderungan penggunaan pestisida berlebihan : - Sistem penyemprotan berjadwal - Tujuan preventif Tidak efisien (ekonomis) & beresiko terhadap kualitas lingkungan (ekologis).
Pada aras populasi berapakah serangan hama dianggap merusak? Pada aras populasi berapakah pengendalian dengan pestisida perlu dilakukan? Salah satu pendorong munculnya Konsep Aras Ekonomik
Dalam Konsep Aras Ekonomik terdapat : * Konsep Kerusakan Ekonomik (Economic Damage) * Konsep Aras Luka Ekonomik (Economic Injury Level) * Konsep Ambang Ekonomik (Economic Threshold)
Luka (Injury) : Setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan hama. Kerusakan (Damage) : Kehilangan yang dirasakan oleh tanaman akibat serangan hama, a.l. dalam bentuk penurunan kuantitas & kualitas.
Tingkatan kerusakan tanaman akibat serangan hama yang membenarkan adanya pengeluaran biaya untuk tindakan pengendalian secara buatan (pestisida). Biaya pengendalian yang dikeluarkan = Nilai kehilangan hasil potensial yang dapat diselamatkan oleh usaha pengendalian tersebut.
Kepadatan populasi hama terendah yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomik. Konsep ALE (Stern) menurut Numford & Norton (1982) : merupakan titik impas dalam pengendalian hama (Break - even Concept).
Diperoleh Keuntungan Penyemprotan pestisida ALE Titik Impas (tercapai Kerusakan ekonomik) Penyemprotan pestisida Diperoleh Kerugian
Berat kehilangan hasil potensial (Penurunan hasil akibat serangan hama) (dalam satuan berat) X Harga produksi (Rp / satuan berat)
Nilai Kehilangan Hasil (Rp) = Biaya Pengendalian (Rp / ha) Nilai kehilangan hasil potensial yang terjadi pada titik impas disebut Ambang Pendapatan (Gain Thershold)
Ambang Pendapatan (ton / ha) : Biaya Pengelolaan (Rp / ha) ------------------------------------------ Harga Produk (Rp / ton)
1. ALE berada pada aras populasi dimana nilai kehilangan hasil yang dapat diselamatkan (NKH) = Biaya pengendalian (B) 2. NKH = H x BKH H : Harga produksi (Rp/kg) BKH : Berat Kehilangan Hasil tanaman karena adanya populasi tersebut (kg/ha)
3. BKH = P x L x R P : Kepadatan populasi hama (populasi hama/ha) L : Besarnya luka tanaman per individu hama (% defoliasi) R : Berat kerusakan tanaman per unit luka tanaman (misal : pengurangan berat tanaman per % defoliasi)
Jadi NKH = H x P x L x R 4. ALE terjadi pada waktu NKH = B, Sehingga diperoleh persamaan : NKH = B = H x P x L x R ALE merupakan aras populasi sehingga ALE P.
Jadi dari persamaan tersebut dapat diperoleh nilai ALE sebagai berikut : B ALE = ---------------- H x L x R P pada titik impas adalah ALE
5. Apabila tindakan pengendalian hama yang dilakukan tidak dapat menekan kehilangan hasil sepenuhnya (100%) tetapi hanya 90% atau 0,9 dalam perhitungan perlu dimasukkan faktor koreksi (K) sehingga : B ALE = -------------------- H x L x R x K 6. Untuk beberapa jenis hama terutama yang mempunyai alat mulut penghisap tidak dapat dibedakan antara L (luka) dan R (kerusakan atau kehilangan hasil) karena kedua variabel ini untuk kelompok hama tersebut sulit untuk diukur.
Untuk menghitung besarnya penurunan hasil dapat digunakan metode regresi linier dengan menghubungkan jumlah serangga dan hasil. Y = a + bx Y = hasil per ha a = konstanta (intersep y) b = kehilangan hasil per serangga hama x = jumlah hama / daerah
Maka dapat diperoleh nilai kehilangan hasil per individu hama, rumus ALE berubah menjadi : B B ALE = P = ----------- atau --------------- H x b H x b x K Cara tersebut merupakan generalisasi perhitungan ALE.
Kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah terjadinya peningkatan populasi yang dapat mencapai ALE AE merupakan Aras Keputusan Tindakan Pengendalian, jadi : AE = Ambang Tindakan = Ambang Pengendalian Ambang Ekonomi (AE) letaknya di bawah Aras Luka Ekonomi (ALE) Pertimbangan ekonomik ALE Segi operasional AE Penetapan AE harus didasarkan pada penetapan ALE
Perkiraan letak AE di bawah ALE antara lain dipengaruhi oleh laju kecepatan peningkatan populasi hama Sehingga semakin cepat laju peningkatan populasi hama akan semakin jauh letak AE di bawah ALE
Nilai ALE bukan nilai yang statik atau tetap berlaku untuk semua tempat dan waktu tetapi bersifat dinamik sesuai dinamika pertumbuhan tanaman, pola tanam, keadaan cuaca, keadaan sosial ekonomi, dan lain-lain. Nilai ALE selalu dievaluasi dan dihitung kembali sesuai dengan perubahan yang terjadi.
B Ambang Pendapatan ALE = ------------- = ------------------------ H x b Hasil Hilang per Hama Jadi pada dasarnya perhitungan ALE hanya Meliputi 3 langkah pokok yaitu : 1. Menaksir besarnya kehilangan hasil per individu hama. 2. Menetapkan besarnya Ambang Pendapatan 3. Menghitung ALE
Perhitungan ALE hama wereng kentang Empoasca fabae yang menyerang tanaman kedelai di AS. 1. Menaksir besarnya kehilangan hasil per individu hama. Untuk menduga besarnya kerusakan tanaman kedelai per individu wereng dibuat petak-petak tanaman kedelai yang ditutupi dengan kasa kemudian pada setiap petak diinfestasikan dengan berbagai kepadatan populasi wereng.
Infestasi wereng dilakukan pada tiga tingkat tumbuh tanaman kedelai yaitu pada awal stadium vegetatif, pada awal pembungaan dan pada awal pengisian polong. Setelah panen, hasil pada setiap petak ditimbang. Diperoleh garis regresi yang menghubungkan antara kepadatan populasi wereng dan hasil kedelai.
Awal Stadium Vegetatif (Y=71.94-1.55X) 60 Hasil (bu/acre) 50 40 30 20 10 0 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman
Hasil Kedelai (bu/acre) 68 66 64 62 60 58 Awal Pembungaan 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman
Hasil Kedelai (bu/acre) 72 71,5 71 70,5 70 69,5 69 68,5 68 Awal Pengisian Polong 10 20 30 40 Populasi Wereng / Tanaman
Awal stadium vegetatif : Y = 71,94 1,55 X Awal pembungaan : Y = 69,17 0,17 X Awal pengisian polong : Y = 72,58 0,08 X Dari nilai konstanta b ketiga persamaan tersebut diperoleh taksiran kehilangan hasil kedelai per individu wereng, yaitu : Awal stadium vegetatif = 1,55 bushel/acre Awal pembungaan = 0,17 bushel/acre Awal pengisian polong = 0,08 bushel/acre
Diketahui Biaya pengendalian (B) menghabiskan satu pound malathion dengan penyemprotan udara, total biaya adalah $ 9,50/acre. Diperkirakan hasil kedelai pada masa panen nanti harganya adalah $ 4,15/bushel. Jadi Ambang Pendapatan : $ 9,50/acre $4,15/bushel : 2,29bushel/acre
Karena nilai b pada tiga stadium / fase tumbuh tanaman berlainan maka ada nilai ALE untuk masing-masing fase : ALE pada awal fase vegetatif : < > 2,29 / 1,55 = 1,48 ~ 2 wereng / tnm ALE pada awal pembungaan : < > 2,29 / 0,17 = 13,47 ~ 14 wereng/tnm ALE pada awal pengisian polong : < > 2,29 / 0,08 = 28,63 ~ 29 wereng/tnm
Dari perhitungan tersebut dapat ditetapkan nilai AE atau Ambang Ekonomi / Ambang Pengendalian yang nilainya dapat sebesar nilai ALE atau dapat menggunakan 75% dari nilai ALE yang ditentukan sebagai pendugaan konservatif terhadap pengaruh dinamika populasi wereng.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ALE : A. Faktor Primer : 1. Harga produksi 2. Biaya pengendalian hama Harga produksi Biaya pengendalian 600 400 200 0 50 0 10 20 30 40 50 ALE 0 20 30 40 ALE
3. Potensi Merusak * Berdasarkan bagian tanaman yang diserang, hama dapat dikelompokkan menjadi hama langsung dan hama tidak langsung. * Nilai ALE kelompok hama langsung lebih rendah daripada kelompok hama tidak langsung.
4. Tingkat kepekaan tanaman terhadap luka Kepekaan tanaman terhadap luka dan kerusakan oleh hama berbeda-beda dipengaruhi antara lain oleh : a. Tingkat tumbuh tanaman, sehingga ALE dan AE berbeda pada fase tumbuh yang beda. b. Bagian tanaman yang dilukai, bentuk luka dan intensitas pelukaan. Kepekaan terhadap hama bagian tanaman yang dipasarkan dikonsumsi lebih tinggi daripada bagian tanaman yang lain.
B. Faktor Sekunder Yang termasuk faktor sekunder adalah faktorfaktor yang langsung mempengaruhi ke empat faktor primer. Misalnya : kepadatan populasi hama yang mempengaruhi besarnya luka tanaman ; harga pestisida yang mempengaruhi biaya pengendalian hama, dll. C. Faktor Tersier Faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi faktor primer, seperti cuaca, keadaan tanah, keadaan sosial ekonomi masyarakat, dll.
Carilah contoh-contoh ambang ekonomi beberapa jenis hama pada komoditas tertentu, dan sejauh mana aplikasinya buatlah ulasannya. Setiap mahasiswa mencari 2 contoh AE Tulis ulasan saudara pada lembar folio dengan ditulis tangan dan jangan lupa mencantumkan sumber pustaka dan daftar pustakanya. Kumpulkan minggu depan saat perkuliahan berikutnya.