BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE KETELADANAN DALAM PEMBELAJARAN AKHLAK DI MADRASAH DINIYAH AWWALIYAH MIFTAHUSSSALAFIYAH LANJI PATEBON KENDAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS APLIKASI METODE KETELADANAN DALAM PEMBELAJARAN AKHLAK DI MADRASAH DINIYAH AWWALIYAH RAUDLOTUL MUTA ALIMIN SUKOLILAN PATEBON KENDAL

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara/interview, observasi dan dokumentasi

1 Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan, 2008), hlm.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB IV ANALISIS TENTANG PELAKSANAAN METODE KETELADANAN DALAM PEMBINAAN AKHLAK ANAK DI RA NURUSSIBYAN RANDUGARUT TUGU SEMARANG

I. PENDAHULUAN. kehidupan tersebut maka seseorang harus banyak belajar. Proses belajar yang

A. Guru Aqidah Akhlak. Aqidah akhlak merupakan salah satu mata pelajaran agama yang bertujuan untuk mewujudkan pribadi peserta didik secara islami

BAB VI PENUTUP. Pada bab ini dipaparkan tentang kesimpulan yang ditarik dari temuan

BAB IV ANALISIS TERHADAP PERANAN MADRASAH DINIYAH AL HIKMAH DALAM MORALITAS REMAJA DI BOYONG SARI KELURAHAN PANJANG BARU PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1:

BAB IV ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH KELURAHAN SAMPANGAN KOTA PEKALONGAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LEMBAGA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta : Logos. Wacana Ilmu, 2009), hlm. 140.

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin. dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

DAFTAR RIWAYAT PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah sebagai fokus pendidikan nasional. sampai jenjang pendidikan tinggi. Dalam Peraturan Pemerintah No.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang giat-giatnya

BAB I PENDAHULUAN. dapat membawa perubahan ke arah lebih baik. Pendidikan di Indonesia harus

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V PEMBAHASAN. A. Upaya Pimpinan Madrasah dalam Penerapan Disiplin. Melihat data yang disajikan, tampak bahwa kepemimpinan kepala MTsN

BAB VI PENUTUP. Pada bab ini akan dikemukakan mengenai A) Kesimpulan; B) Implikasi; dan C) Saran.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. A. Analisis Kondisi Kecerdasan Interpersonal Santri Di Pondok. Pesantren Al- Utsmani Winong Gejlig Kajen

BAB V PEMBAHASAN. 1. Pembelajaran Intrakurikuler yang dilakukan Guru Pendidikan Agama

BAB I PENDAHULUAN. SD merupakan titik berat dari pembangunan masa kini dan masa mendatang.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

RPP PPKn Kurikulum 2013 Kelas VII

NUR ENDAH APRILIYANI,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan

2014 PENGGUNAAN ALAT PERAGA TULANG NAPIER DALAM PEMBELAJARAN OPERASI PERKALIAN BILANGAN CACAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

BAB I PENDAHULUAN. baik secara langsung atau tidak langsung dipersiapkan untuk menopang dan

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Proses tersebut sekaligus

BAB I PENDAHULUAN. dalam al-qur'an Surat al-mujadalah ayat 11, berikut ini yang berbunyi :

BAB I PENDAHULUAN. 1 Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008, Tentang Standar

BAB IV ANALISIS PERAN ULAMA DALAM MENDIDIK AKHLAK REMAJA. A. Analisis Akhlak Remaja di Desa Karanganom

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA

BAB V PENUTUP. penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: penguasaan dan pemahaman terhadap isi dan kandungan al-qur an

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENDIDIKAN DINIYAH DI KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang terjadi. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. nomor 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 disebutkan bahwa:

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PENDIDIKAN AKHLAK DI MI ISLAMIYAH KLUWIH KEC. BANDAR KAB. BATANG

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang

BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 308 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM NON FORMAL

K. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SDLB AUTIS

A. Analisis Tata Tertib Pondok Pesantren Al Masyhad Mamba ul. Fallah Sampangan Pekalongan. Dalam menyusun tata tertib pondok pesantren, secara asasi

SILABUS PEMBELAJARAN

BAB V SIMPULAN, SARAN, DAN DALIL

BAB I PENDAHULUAN. sikap dan keterampilan peserta didik. Pelaksanaannya bukanlah usaha mudah

BAB IV ANALISIS PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PEMBINAAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMP NEGERI 3 WARUNGASEM KABUPATEN BATANG

BAB IV ANALISIS TENTANG IMPLEMENTASI METODE CERITA DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK

BAB I PENDAHULUAN. mencetak santri/siswa yang berkualitas dalam belajar Pendidikan agama. dalam menguasai Ilmu Pendidikan Agama Islam.

BAB l PENDAHULUAN. kinerja guru. Dengan adanya setifikasi guru, kinerja guru menjadi lebih baik

BAB IV HASIL PENELITIAN LAPANGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KURIKULUM Kompetensi Dasar. Mata Pelajaran PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN. Untuk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2012

BAB IV HASIL PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. seorang guru itu belumlah terwujud dalam usaha mereka untuk. membelajarkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang seksama.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

IKLAN. File bisa dikirim Via ataupun Paket CD yang dikirim langsung ke alamat anda.

BAB I PENDAHULUAN. melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa

BAB I PENDAHULUAN. sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau

BAB I PENDAHULUAN. yang paling awal atau pra sekolah. Pendidikan anak usia dini merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu wahana untuk mengembangkan semua

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB IV ANALISIS KETERCAPAIAN STANDAR ISI MATA PELAJARAN AL-QUR AN HADITS DI MI

M. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA SMPLB TUNADAKSA

BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mutu lulusan pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berperan sebagai pendengar saja, ketika guru menerangkan mereka justru

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III PELAKSANAAN EVALUASI RANAH AFEKTIF DAN PROBLEMATIKANYA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA NASIMA SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB V ANALISIS PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP RAUDLATUL JANNAH WARU SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V PEMBAHASAN. yang ada dalam kenyataan sosial yang ada. Berkaitan dengan judul skripsi ini,

BAB I PENDAHULUAN. diakui oleh masyarakat. Dalam lembaga pendidikan formal, aktifitas pendidikan. terlaksana melalui kegiatan pembelajaran.

1. PENDAHULUAN. menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

BAB IV ANALISIS PERAN GURU PAI BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH YMI WONOPRINGGO KABUPATEN PEKALONGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian peranan menurut Soejono Soekanto (2002;234) adalah sebagai berikut:

(Penelitian PTK Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Nogosari) SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah dilaksanakan serta

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Cindra Dewi, Muchlis Djirimu, dan Lestari Alibasyah. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako

I. PENDAHULUAN. Tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam Undang-undang nomor 20 tahun

BAB.I. PENDAHULUAN. landasan moral, dan etika dalam proses pembentukan jati diri bangsa. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. menarik perhatian siswa. Selama ini pembelajaran sastra di sekolah-sekolah

H. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR BAHASA INDONESIA SMPLB TUNARUNGU

BAB I PENDAHULUAN Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 1.

Transkripsi:

BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE KETELADANAN DALAM PEMBELAJARAN AKHLAK DI MADRASAH DINIYAH AWWALIYAH MIFTAHUSSSALAFIYAH LANJI PATEBON KENDAL Data-data yang telah diperoleh akan penulis analisa dalam Bab ini dengan menggunakan teknik analisa kualitatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis non statistik, yaitu analisis yang diwujudkan bukan dalam bentuk angka, melainkan dalam bentuk lapangan dan uraian deskriptif. Selanjutnya data tentang penerapan metode keteladanan dalam Pembelajaran Akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahusssalafiyah Lanji Patebon Kendal tersebut penulis klasifikasikan ke dalam beberapa permasalahan dan akan penulis analisa satu persatu. A. Analisis Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di MDA Miftahussalafiyah Lanji. Tujuan diterapkannya metode keteladanan adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran akhlak di tingkat Madrasah. Persiapan kearah pelaksanaan pembelajaran akhlak telah dilaksanakan dengan berbagai cara melalui upaya guru dalam menerapkan metode keteladanan tersebut. Pelaksanan pembelajaran akhlak yang telah dilakukan oleh Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah selama ini dapat berjalan dengan efektif. Upaya yang dilakukan adalah meliputi metode, pendekatan, strategi dan media dalam pembelajaran akhlak. 1. Metode Pembelajaran Akhlak Dalam proses pembelajaran, seorang guru tidak terlepas dari metode yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran. Jika tidak ada metode maka kegiatan tersebut tidak bisa berjalan dengan baik dan untuk tujuan yang diharapkan serta berhasil tidaknya suatu pelajaran sering disorot dari penggunaan metodenya. Tetapi keberhasilan tersebut tidak hanya terfokuskan pada metode belaka melainkan tergantung pada beberapa faktor lainnya. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa setiap 46

47 metode dapat digunakan dengan baik di tangan seorang guru yang memiliki tehnik-tehnik mengajar dengan baik dan menarik. Sudah banyak metode dikenal oleh para guru, akan tetapi metode mana yang mampu menunjang anak didik di dalam belajar secara aktif dengan mengacu kepada kemampuan proses yang diharapkan. Metode merupakan salah satu sarana atau alat untuk mencapai suatu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Karenanya kemampuan seorang guru yang baik belum tentu bisa menjamin keberhasilan pengajarannya. Apabila tanpa memperhatikan penerapan metode pengajaran yang tepat. Diantara beberapa metode pengajaran yang digunakan, disini penulis mengikuti tentang penerapan metode keteladanan dalam pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Guru memilih metode ini dalam proses pembelajaran sebagai metode yang tepat untuk pembelajaran akhlak sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tidak membosankan, dengan penuh variasi serta dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Tujuan diterapkannya metode keteladanan adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran akhlak di tingkat Madrasah. Persiapan kearah pelaksanaan pembelajaran akhlak telah dilaksanakan dengan berbagai cara melalui upaya guru dalam menerapkan metode keteladanan tersebut. Pelaksanaan pembelajaran akhlak yang telah dilakukan oleh Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah selama ini dapat berjalan dengan efektif, karena didukung dengan adanya tenaga pengajar profesional yang sebagian besar dari mereka adalah tokoh masyarakat yang berbasic pembelajaran pesantren. Disamping itu juga dengan adanya tujuan pembelajaran yang merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran dan berfungsi sebagai indikator keberhasilan pembelajaran, juga dengan adanya metode yang tepat yang mana metode merupakan tehnik atau cara untuk mencapai tujuan tersebut.

48 Untuk mengembangkan sikap atau perilaku anak didik yang baik, guru tidak cukup hanya memberikan prinsip saja, karena yang lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut. Untuk itu Guru harus bisa memimpin anakanak, membawa mereka ke arah tujuan yang tegas dan harus menjadi model atau suri teladan bagi anak didik. Anak-anak mendapat rasa keamanan dengan adanya model itu dan rela menerima petunjuk maupun teguran bahkan hukuman. Hal-hal yang menjadi pertimbangan Guru dalam menggunakan metode keteladanan sebagai metode pembelajaran akhlak yaitu tentang apa, mengapa dan bagaimana penerapan metode keteladanan dalam pembelajaran akhlak. a. Apa itu metode keteladanan Metode keteladanan merupakan suatu cara atau jalan yang ditempuh oleh guru dengan cara memberikan teladan yang baik kepada siswa agar ditiru dan dilaksanakan. Metode keteladanan sebagai suatu metode pembelajaran akhlak digunakan untuk merealisasikan tujuan pembelajaran agar anak didik dapat berkembang baik secara fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Untuk mengembangkan sikap atau perilaku anak didik yang baik, guru tidak cukup hanya memberikan prinsip saja, karena yang lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut. Guru harus bisa memimpin anakanak, membawa mereka ke arah tujuan yang tegas dan harus menjadi model atau suri teladan bagi anak didik. Anak-anak mendapat rasa keamanan dengan adanya model itu dan rela menerima petunjuk maupun teguran bahkan hukuman. Hanya dengan cara demikian anak dapat belajar. b. Mengapa metode keteladanan Keteladanan merupakan bagian dari sejumlah metode yang paling efektif untuk mengembangkan sikap siswa. Alasan para guru

49 menggunakan keteladanan sebagai metode yang dianggap efektif karena pada dasarnya akhlak lebih cenderung pada pembentukan sikap dan perilaku anak didik, bukan hanya pada teori saja. Dengan kata lain penanaman nilai-nilai akhlak itu hendaknya bukan hanya pada ranah kognitif saja, yang berupa pengetahuan moral, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psokimotor yang berupa sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. c. Bagaimana penerapan keteladanan Pembelajaran akhlak dapat meliputi langkah orientasi, pemberian contoh, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut tidak harus selalu berurutan, melainkan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan proses seperti itu, diharapkan apa yang pada awalnya sebagai pengetahuan, kini menjadi sikap, dan kemudian berubah wujud menjelma menjadi perilaku yang dilaksanakan seharihari. Metode terbaik untuk mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh atau teladan. Teladan selalu menjadi guru yang paling baik. Sebab sesuatu yang diperbuat melalui keteladanan selalu berdampak lebih luas, lebih jelas, dan lebih berpengaruh dari pada yang dikatakan. Adapun bentuk keteladanan yang diberikan oleh guru adalah teladan akhlak yang mulia, misalnya keteladanan bermurah hati, berlaku jujur dan adil, kasih sayang, penampilan yang sopan, santun dalam bertutur kata, menciptakan hubungan yang harmonis antara seorang guru dengan guru lainnya dan hubungan guru dengan para siswanya, disiplin dalam mengajar dan sebagainya. Contoh keteladanan di atas merupakan modal dalam mendukung keberhasilan lembaga pembelajaran Madrasah Diniyah Awwaliyah, khususnya dalam pembelajaran akhlak. Dengan menjadikan guru sebagai modeling dalam tingkah laku maka akan tercipta kehidupan yang baik. Demi berhasilnya pembelajaran akhlak dan tersebarnya ideologi, maka harus ada contoh atau teladan yang baik, menarik perhatian, juga harus

50 ada akhlak utama yang dianut oleh siswa, dan meninggalkan untuk generasi berikutnya yang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah sudah sesuai dengan teori yang ada. Karena metode keteladanan di sana telah merepresentasikan teori tentang metode keteladanan yang ada. 2. Pendekatan Pembelajaran Dalam proses pembelajaran akhlak, guru tidak mungkin mengajarkan semua materi atau bahan pelajaran akhlak kepada siswa dalam pertemuan tatap muka di kelas. Jika dipaksakan, pembelajaran akan berlangsung secara informatif, yaitu guru berfungsi sebagai sumber informasi dan siswa pasif menerima. Pembelajaran akan berlangsung secara monoton, mengejar target, dan siswa akan segera merasa jenuh. Cara yang ditempuh oleh guru di Madrasah Diniyah Awwaliyah Mifthussalafiyah adalah dengan memilih konsep-konsep yang esensial dan mengajarkannya dengan pendekatan pembelajaran yang tepat sampai siswa memperoleh pemahaman secara bermakna. Selanjutnya pemahaman itu akan digunakan siswa untuk mempelajari konsep-konsep lainnya yang kurang esensial, dalam tugas terstruktur (pekerjaan rumah) ataupun tugas mandiri. Namun, guru harus memilih lagi karena tidak mungkin mengajarkan semua konsep yang kurang esensial kepada siswa. Dalam proses pembelajaran akhlak guru lebih mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Upaya guru dalam proses pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Mifthussalafiyah dengan mengajarkan siswa tentang cara bergaul, saling bertukar pengalaman, berkelakuan sopan santun, mengembangkan rasa percaya akan kemampuan diri dan konsep diri yang sehat dan sebagainya.

51 Selain itu biasanya guru dalam memberikan informasi dan penjelasan kepada siswa menggunakan alat bantu seperti gambar, bagan, grafik dan lain-lain, di samping memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan. Dengan pendekatan ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimilikinya melalui respon yang ia berikan pada saat diberikan pertanyaan oleh guru. Komunikasi yang digunakan guru dalam interaksinya dengan siswa menggunakan komunikasi dua arah, yaitu mendorong belajar aktif bukan pasif dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan, mendorong berkembangnya kreativitas. Oleh sebab itu kegiatan belajar siswa optimal, karena tidak terbatas kepada mendengarkan uraian guru, mencatat, dan sekali-kali bertanya kepada guru. berorientasi pada masalah yang berhubungan dengan minat siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah sudah sesuai dengan teori yang ada, karena secara substansial pendekatan tersebut telah merepresentasikan teori-teori tentang pendekatan pembelajaran. 3. Strategi Mengajar Strategi mengajar akhlak pada dasarnya adalah usaha guru atau praktek guru dalam melaksanakan pengajaran akhlak melalui cara tertentu, yang dipandang lebih efektif dan efisien. Usaha guru dalam strategi mengajar akhlak menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan, bahan, alat, metode dan alat serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Berdasarkan teori yang ada dan praktek di lembaga-lembaga pembelajaran formal terdapat tujuan-tujuan pembelajaran secara tertulis

52 yang berwujud tujuan umum pembelajaran, tujuan institusional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. Akan tetapi tidak demikian halnya dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah, yang terdapat di sana hanyalah komitmen dari para guru maupun pengajar lainnya untuk memberikan sumbangsih mereka berupa pembelajaran agama bagi anak di lingkungan setempat sebagai bekal untuk masa depannya. Meskipun secara prosedur belum sesuai dengan teori-teori yang ada, secara substansial merepresentasikan empat tujuan pembelajaran khususnya pembelajaran akhlak. Meskipun tanpa adanya tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas dan tertulis kenyataannya Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah masih mampu untuk eksis dan berjalan tanpa adanya tujuan-tujuan tertulis. Isi tujuan pembelajaran akhlak yang dipaparkan oleh kyai Muslihin Huda selaku Kepala Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah sudah merepresentasikan tujuan pembelajaran akhlak yang ada disana, karena beliau adalah ustadz senior sekaligus Kepala Madrasah sehingga penulis mengasumsikan beliau bahwa lebih paham kemana arah yang akan dituju Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah khususnya tujuan pembelajaran akhlak. Isi tujuan pembelajaran akhlak tersebut telah sesuai dengan teori tujuan pembelajaran akhlak secara umum yakni agar siswa tidak hanya bisa memahami namun bisa menerapkan sikap yang baik, tutur kata yang santun kepada guru, orang tua dan masyarakat dalam kehidupan seharihari. Beberapa hal yang diharapkan timbul setelah adanya pembelajaran akhlak adalah siswa dapat memahami bahan pengajaran yang diajarkan sehingga dapat timbul pengkhayatannya. Dengan demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran akhlak dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah sesuai dengan teori-teori yang ada, karena secara

53 substansial tujuan-tujuan pembelajaran akhlak yang ada disana telah merepresentasikan teori-teori pembelajaran akhlak yang ada. Meskipun secara substansial telah sesuai, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan tersebut dapat lebih jelas sehingga akan jelas dan dapat memantapkan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru bidang studi akhlak pada khususnya dan guru bidang studi lain pada umumnya. Setelah tujuan ditentukan maka guru harus menetapkan bahan atau materi pembelajaran. Karena merupakan sesuatu yang harus ada dan ditetapkan dengan sebaik-baiknya karena akan menjadi pengiring bagi tujuan pengajaran akhlak. Berdasarkan data yang ada, bahwa bahan pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak sesuai dengan kurikulum Madrasah Diniyah Awwaliyah Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan didukung dengan kitab-kitab akhlak klasik. Kitab-kitab yang digunakan adalah Kitab Tanbihul Muta allimin, kitab al-akhlakul Banin Juz I dan Kitab al-akhlakul Banin Juz II. Materi-materi didalamnya merupakan materi-materi yang tersusun secara berkesinambungan dan sesuai untuk diberikan kepada siswa di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Yang rata-rata dari mereka adalah usia 6-12 tahun. Karena pada jenjang usia ini mereka mulai tumbuh dan berinteraksi. Sehingga sangat wajar ketika diberikan materi seperti tata krama sebelum memasuki majlis, tata krama di tempat belajar, tata krama setelah selesai belajar, tata krama terhadap anggota badan (diri sendiri), tata krama terhadap kedua orang tua, tata krama terhadap guru, tata krama terhadap ilmu, kesempurnaan hikmah bagi guru dan siswa dan ilmu-ilmu yang diinginkan. Sebagian besar materi tersebut bersifat faktual dan sebagian lagi bersifat konseptual sebagaimana dalam teori, sehingga sangat mudah untuk diterima oleh siswa. Bahan yang faktual sifatnya konkrit dan mudah

54 diingat. Sedangkan bahan yang sifatnya konseptual berisikan konsepkonsep abstrak, dan memerlukan pemahaman. Langkah selanjutnya adalah guru memilih metode dan alat yang dipandang tepat dalam pembelajaran akhlak. Metode dan alat yang digunakan dalam pembelajaran dipilih atas dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode dan alat berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang ingin dicapai. Metode dan alat pembelajaran yang digunakan harus betul-betul efektif dan efisien. Untuk menetapkan apakah tujuan telah tercapai atau tidak maka penilaian yag harus memainkan peranannya. Evaluasi atau penilaian merupakan suatu komponen dapat dijadikan ukuran pencapaian tujuan pembelajaran akhlak. Sebagaimana telah dijelaskan pada Bab sebelumnya, bahwa penilaian telah ada dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Penilaian tertulis pada pembelajaran akhlak di sana diadakan pada tiap empat bulan sekali dan pada tiap akhir pelaksanaan pengajaran sehari-hari. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dari waktu pelaksanaan sudah sesuai dengan teori ataupun pelaksanaan pada lembaga pendidikan lain yakni telah dilaksanakan evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Selain itu penilaian juga diambil dari perilaku atau sikap siswa sehari-hari untuk melihat perkembangan sikap siswa dalam menerapkan akhlaknya. Jenis evaluasi yang digunakan adalah evaluasi tertulis dan praktek (perbuatan). Bentuk yang digunakan sudah sesuai dengan teori. Untuk tes tertulis digunakan bentuk obyektif pilihan ganda ternyata sudah cukup bagus. Sedangkan tes perbuatan tampaknya sudah cukup baik dengan menghafalkan dalil-dalil naqli tentang akhlak. Pelaksanaan tes praktek akan masih dalam kewajaran jika jumlah tes ini tidak terlalu banyak dan masih berada dalam tingkat pemahaman santri. Dengan demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa strategi mengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah telah sesuai

55 dengan teori yang ada, yaitu dengan memperhatikan beberapa variabel pembelajaran akhlak pada khususnya dan variabel pembelajaran pada umumnya.. 4. Media pembelajaran Sebagaimana dipaparkan pada Bab sebelumnya, bahwa media atau alat-alat pembelajaran yang digunakan di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah masih sederhana dan berupa alat-alat konvensional, yakni berupa peralatan tulis di kelas, buku pegangan guru sekaligus peralatan tulisnya, peralatan tulis santri, poster/gambar berisi doa-doa harian dan jadwal piket kebersihan. Alat-alat tersebut sudah merepresentasikan alat pengajaran klasikal, individual dan peraga. Meskipun sangat sederhana dan konvensional, namun di sana sudah cukup maksimal. Penggunaan alat pembelajaran tersebut secara umum telah disesuaikan dengan waktu, tempat dan situasi. Namun penulis memandang akan lebih baik lagi jika alat pembelajaran untuk siswa ditambah, seperti buku-buku teks pembelajaran akhlak seperti Kitab Tanbihul Muta allimin, kitab al-akhlakul Banin Juz I dan Kitab al- Akhlakul Banin Juz II yang selama ini hanya dimiliki oleh guru. Karena dengan memiliki buku pegangan pelaksanaan pembelajaran akan lebih berjalan dengan alncar karena mereka tidak harus menyalin bahan pengajaran di papan tulis, disamping itu mereka dapat lebih dahulu menjajagi terhadap bahan yagn akan diajarkan oleh guru karena mereka telah lebih dulu membacanya. Akan lebih baik lagi jika ditambah sarana perpustakaan atau lainnya. Karena bagaimanapun juga pelaksanaan pengajaran di dalam kelas juga tidak terlepas dari alat-alat pengajaran selain di dalam ruangan kelas itu sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alat-alat pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah sudah sesuai dengan teori yang ada, karena meskipun sangat sederhana dan masih konvensional namun penggunaannya sudah maksimal.

56 B. Analisis Faktor Penunjang dan Penghambat Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di MDA Miftahussalafiyah Berdasarkan data yang penulis peroleh, terdapat beberapa faktor yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penerapan metode keteladanan dalam pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Kemudian data-data tersebut akan penulis analisa dalam Bab ini. Adapun faktor-faktor yang menjadi penunjang dan penghambat penerapan metode keteladanan dalam pembelajaran akhlak secara garis besar adalah sebagai berikut : 1. Faktor Penunjang Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah a. Guru (ustadz ) Teladan, Profesional, dan Sukarela. Keteladanan seorang guru sebagai metode pembelajaran akhlak siswa di MDA Miftahussalafiyah adalah keteladanan yang diajarkan langsung oleh para guru dan keteladanan dalam bentuk aktifitas para guru sehari-hari. Keteladanan dilakukan dengan mentransformasikan sikap dan mentalitas guru yang selalu berperilaku baik, memiliki tutur kata yang lemah lembut dan santun, serta kearifan dalam mendidik. Pada dasarnya mudah bagi Pendidik mengajarkan beberapa teori pembelajaran kepada anak didik, namun hal tersebut akan sulit dilakukan oleh anak dalam mempraktekkan teori tersebut jika orang yang mengajar dan mendidiknya tidak pernah melakukannya atau perbuatannya berbeda dengan ucapannya Profesionalisme guru telah terbukti sebagaimana dalam Bab sebelumnya, dan kesukarelaan mereka dapat kita nilai dari kesediaan mereka menjadi tenaga pengajar yang tanpa dibayar. Dengan mengkesampingkan gengsi atas status sosial dan ekonomi, mereka bersedia mengajar anak-anak yang baru berusia 6-12 tahun. Hal ini jelas sangat menunjang bagi pelaksanaan pembelajaran akhlak pada khususnya dan pembelajaran lain pada umumnya. Dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak secara tidak langsung hal ini dapat menjadikan

57 mereka sebagai suri tauladan bagi para siswa. Pengajar yang profesional dan sukarela tidak mudah dijumpai, saat ini banyak pengajar yang mengajar hanya berorientasi pada gaji (materi), padahal belum tentu mereka profesional dalam mengajar anak didiknya. b. Kesadaran orang tua memasukkan anaknya ke Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah Pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah tidak mungkin dapat terlaksana apabila tidak ada siswa yang mengikutinya. Karena siswa merupakan salah satu unsur pembelajaran sebagaimana guru, alat pembelajaran, metode dan lingkungan pendidikan. Penulis memiliki asumsi bahwa adanya santri yang mau belajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah adalah berkat kesadaran dari para orang tua yang mendorong mereka. c. Bekal Pendidikan Taman Pendidikan Quran Latar belakang santri dari Taman Pembelajaran Quran (TPQ) sangat mendukung pelaksanaan pengajaran bidang studi akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Di Taman Pembelajaran Quran mereka telah diberikan dasar-dasar materi-materi pelajaran akhlak serta agama, dengan demikian pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah akan lebih mudah mereka terima. Selanjutnya guru Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah tinggal melanjutkan dan menyesuaikan bahan pengajaran dengan metode, alat dan evaluasi yang tepat guna. d. Pengaruh Lingkungan Religius. Adanya lingkungan religius tentu sangat berpengaruh pada pelaksanaan pembelajaran akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah. Dalam lingkungan religius, secara tidak langsung perilaku-perilaku siswa dapat terkontrol sehingga mereka terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik sebagaimana yang dilakukan

58 oleh anggota lingkungan religius. Dengan demikian pembelajaran akhlak menjadi sangat terbantu, mengingat tujuan utama dari pembelajaran akhlak itu sendiri adalah pengkhayatan atas akhlak yang diajarkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. 2. Faktor Penghambat Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahussalafiyah a. Minimnya alokasi waktu Pelaksanaan pembelajaran yang hanya 2 jam sangatlah kurang maksimal. Untuk itu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan musyawarah yang melibatkan semua pihak yakni guru, orang tua siswa dan penyelenggara sekolah formal. Dengan itu maka dapat menghasilkan solusi mungkin dengan penambahan waktu 1-2 jam sebelum atau sesudah jam pelajaran yang selama ini ada. Dalam musyawarah itu juga guru perlu untuk meminta orang tua siswa untuk lebih memperhatikan kepada anak-anaknya yang mungkin mulai terpengaruh belajarnya karena pengaruh luar. b. Kurangnya ruang kelas Kelas yang memadai jelas akan berpengaruh pada pelaksanaan pembelajaran akhlak atau pembelajaran lainnya, hal ini akan membantu konsentrasi yang maksimal ketika dilaksanakan. Jika dua hal tersebut tidak dapat dijangkau karena terbatasnya dana maka perlu dicari solusinya. Salah satunya adalah dengan menaikkan biaya syahriyah tiap siswa yang selama ini dirasa sangat murah, bisa juga dengan mencari donatur dari masyarakat atau pengusaha setempat dan bisa juga mengajukan permohonan pada pihak pemerintah yang dalam hal ini adalah Departemen Agama.